6 April Tahun Lalu

Suasana tampak tegang. Malam yang menyelimuti dengan hiasan bulan penuh di tengahnya tanpa adanya kerlipan bintang menambah kesan suram. Namun, dua pasang kaki seperti enggan memperdulikan hal itu. Dengan kaki menjijit mereka berjalan perlahan ke sebuah kamar di ujung lorong. Saling menatap memberi kode lewat tatapan mata tatkala langkah mereka telah sampai tepat di depan pintu.

Yang muda diantara mereka mengambil korek dari dalam sakunya. Dengan intruksi dari yang tua, ia mulai menyalakan korek tersebut dan menyematkannya pada lilin dihadapannya. Seketika cahaya memendar disekitar mereka. Ruang yang awalnya gelap gulita mulai dengan samar dapat terlihat isinya. Seringai langsung mencuat dari bibir mereka. Menghitung waktu mundur secara bersamaan sambil melihat arloji mereka.

Tiga...

Dua...

Satu...

Tepat pukul 00.00.

Waktu telah berganti sekarang. Tanggalan telah berputar menuju angka selanjutnya, membuat seringai mereka makin mencuat. Dengan gerakan pelan, yang lebih muda mulai mengetuk pintu dihadapannya, sedangkan yang lebih tua memilih untuk menjaga pencahayaan yang ia bawa.

Butuh waktu lama dan belasan ketukan yang membuat tangan sedikit pegal hingga akhirnya bunyi kunci diputar terdengar. Hah, andai saja pintunya tidak dikunci, mungkin mereka akan langsung menerobos masuk dan tidak akan menghabiskan waktu untuk menunggu pintu dibuka.

Suara engsel yang diputar terdengar diteruskan dengan suara gesekan pintu dengan lantai, tanda pintu mulai terbuka. Kedua orang itu mulai bersiaga dengan senjata masing-masing. Dan tepat saat pintu terbuka sepenuhnya —menampilkan sesosok orang yang mereka tunggu-tunggu muncul dengan wajah berantakannya, ciri khas orang yang baru bangun tidur— mereka semua berteriak gembira.

"SELAMAT ULANG TAHUN SIWON HYUNG!" Di susul dengan bunyi terompet yang ditimbulkan dari sang magnae.

Wajah berantakan itu untuk sesaat mematung bingung —masih dalam masa transisinya. Namun beberapa detik kemudian, dirinya mulai menyadari semua yang terjadi. Rautnya kini berubah cerah. Dengan sisa-sisa penampilan kusut bangun tidur, wajahnya tetap rupawan dengan lesung pipi yang kini nampak dikedua belah pipinya. Menampilkan kharisma yang begitu memikat diwajah pria yang kini telah berusia 18 tahun itu —menurut penanggalan korea tentunya.

"Tiup lilinnya, Hyung!" Yang Tua menyodorkan kumpulan lilin yang menyala dengan alas sebuah kue besar yang di hias begitu cantik.

"Make a wish dulu!" Sela sang magnae mereka yang telah selesai dengan acara meniup terompetnya.

Siwon —sang pria yang disodori kue menoleh sekilas pada magnae mereka dan tersenyum manis lalu mengangguk. Memejamkan matanya sesaat tanda bahwa ia tengah khusyu berdo'a. Setelah selesai dengan ritualnya, Siwon membuka matanya dan meniup semua api yang menyala di atas lilin-lilin itu. Membuat ruang kembali gelap dalam seketika. Tapi tidak dengan kegiatan mereka setelah ini, karena dengan suara riang tiba-tiba sang magnae berseru.

"Untuk merayakannya, ayo kita main games sepuasnya!"

Dan dalam seketika meruntuhkan kesan suka cita dihati kedua hyungnya itu. Siapapun tahu, tidak ada yang bisa menghentikan kegilaan magnae mereka setelah ini, dan dengan beribu sayang, di ulang tahunnya ini Siwon harus menghadapi kegilaan adiknya ini.

Helaan nafas pasrah terdengar berhembus dari kedua orang itu.

.

.

.

Kyuhyun menerima lembar kertas itu dengan malas. Tak jauh beda dengan tatapan yang ia layangkan pada wali kelasnya yang tengah duduk dihadapannya kini.

Masih ia ingat perasaan was-wasnya kala Kim Jongwoon —wali kelasnya itu menyuruhnya untuk datang ke ruang guru —tepatnya ke meja wali kelasnya itu. Dirinya sungguh takut mendapat masalah dengan sekolah mengingat bagaimana kerasnya Tn. Choi mendidik anak-anaknya dan dapat dipastikan jika ia akan langsung kena hukuman jika sampai dirinya terlibat masalah dengan pihak sekolah. Tapi untung saja bukan hal seperti itu yang membuatnya dipanggil ke ruangan ini.

"Ini sudah lewat tiga minggu, Kyuhyun-ssi. Kuharap kau segera mengambil keputusan, kegiatan ekstrakulikuler mana yang akan kau ambil."

Kyuhyun menimbang sejenak. "Tak bisakah jika saya tak mengikuti ekskul manapun Soesangnim?"

Jongwoon menggeleng pelan. "Sudah jadi peraturan sekolah bahwa setiap siswanya harus mengambil kegiatan ekstra kulikuler, Kyuhyun-ssi."

Kyuhyun menghela nafas berat. "Baiklah, Soesangnim." Kyuhyun membungkuk pelan ke arah Jongwoon lalu melangkah dengan gontai ke luar ruang guru tersebut.

"Kyuhyun-ssi!"

Langkah Kyuhyun langsung terhenti ketika ia mendengar Jongwoon kembali memanggilnya.

"Ne?"

"Aku guru pembina di Ekskul Musik."

Kyuhyun mengernyit, maksudnya?

Jongwoon tersenyum sekilas ketika melihat reaksi Kyuhyun. "Yah, mungkin saja dengan suara indahmu itu, kau mau mengikuti ekskul musikku."

Kyuhyun terdiam mendengar itu. "Mianhe Soesangnim, saya sudah berhenti menyanyi. Saya pamit." Kyuhyun kembali membungkuk lalu keluar dari ruang itu. Benar-benar keluar. Namun pikirannya masih tetap berkecambuk. Haruskah kali ini pun ia mengorbankan minatnya dalam bidang musik?

.

.

.

Jam istirahat telah berlalu selama lima menit, namun Kyuhyun tampak enggan untuk menggerakkan tubuhnya beranjak dari bangkunya. Tatapannya masih tertuju pada formulir yang belum terisi. Terus menimbang ekstrakulikuler apa yang akan ia ambil.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang sulit. Hanya menentukan ekstrakulikuler tidaklah serumit ini. Tapi bagi Kyuhyun inipun tidak sesederhana itu. Entah kenapa pikirannya kembali kepada Ayahnya.

Helaan nafas berat kembali terdengar entah untuk keberapa kalinya hari ini.

Ekskul olahraga? Disana ada Siwon sebagai ketuanya dan dapat dijanjikan bahwa ia akan bisa masuk ekskul itu dengan mudah tapi tidak akan mudah untuknya. Tentu saja. Salahkan saja tubuhnya yang kelewat tidak berstamina dan gampang terserang penyakit. Kyuhyun menggeleng, sepertinya masuk ekskul itu bukan pilihan tepat.

Ekskul ilmiah? Kali ini Kibum yang menggawangi ekskul tersebut. Tapi kembali ia menggelengkan kepalanya. Kyuhyun hanya suka matematika, tidak semua cabang ilmu sains. Meski tak bisa dipungkiri nilai sains di buku raportnya melambung tinggi. Tapi Kyuhyun sungguh enggan bergaul dengan orang-orang semacam Kakaknya itu —para kutu buku yang kelewat kaku. Tentunya pengecualian untuk kakaknya.

Ekskul matematika? Matanya cukup berbinar cerah. Setidaknya ini adalah hal yang disukainya selain bermusik. Tangan pucat itu mulai bergerak meraih pena dan hendak menorehkan tinta tersebut pada kolom yang sedari tadi masih kosong. Namun kembali, Kyuhyun terdiam. Bahkan sebelum benda tersebut menciptakan titik pada kertas. Ia menghela nafas. Bukan ide baik. Itu yang ia pikirkan.

Pandangannya kini beralih pada meja yang berada jauh didepannya. Sebuah meja yang langsung berhadapan dengan meja guru. Seorang remaja dengan mata sipit tengah duduk di sana bersama temannya. Memakan bekal makan siang mereka. Kyuhyun tidak tahu siapa nama teman remaja sipit tersebut dan tak pernah mau tahu, yang ia pedulikan adalah remaja bermata sipit itu sendiri yang semenjak Kyuhyun melihatnya sudah ia cap sebagai saingannya —Lee Jinki.

Entahlah, tapi sungguh Kyuhyun ingin sekali mengalahkan remaja itu tapi sama sekali tak ingin terlibat hubungan dengannya. Tentunya yang dimaksud hubungan yaitu hubungan baik maupun buruk —teman atau musuh. Kyuhyun lebih senang memperhatikannya diam-diam, tak ingin terang-terangan terlibat dengannya. Sejauh mana kemampuannya dalam mengalahkan remaja bermarga Lee tersebut. Maka dari itu, masuk dalam ekskul matematika bukanlah hal yang baik menurut Kyuhyun. Karena ia tahu, ia akan menemukan Lee Jinki di sana dan daerah kekuasaannya.

Siapapun tahu, popularitas Jinki begitu membungbung karena prestasinya dalam masuk ke sekolah ini. Sebagai sang nomer satu. Tapi perlu digaris bawahi juga bahwa dirinya, Choi Kyuhyun juga terkenal di sekolahnya namun dalam konteks yang berbeda. Terkenal sebagai adik dari seorang Choi Siwon dan Choi Kibum —sang bintang sekolah yang sama sekali tak diharapkan olehnya.

Kyuhyun kembali meletakkan penanya. Kenapa hal yang begitu sederhana ini menjadi begitu sulit untuknya.

Hembusan nafas lagi yang terdengar.

Kyuhyun menarik tangan kanannya dan mulai menopang dagunya. Menatap halaman luar lewat jendela di sebelah kirinya. Pikirannya kembali menerawang.

.

.

.

Rintikan hujan terdengar menembus gedung sekolahnya. Musim semi masih memayungi Seoul, memasuki bulan-bulan terkahirnya. Kyuhyun memandang jendela sekilas. Menatap hujan itu dengan tatapan kosong. Dalam pikirannya kembali bercabang segala macam pemikiran.

Bisakah dirinya seperti hujan?

Yang memberikan kehidupan di atas bumi yang ia pijak kini?

Kyuhyun tersenyum miris. Entah kenapa pemikiran tersebut selalu hinggap dalam otaknya. Pemikiran dengan penuh pengharapan bahwa dirinya mampu berguna untuk lingkungan disekitarnya. Atau pemikiran yang merupakan bentuk pelarian dari ketidakberdayaannya dalam menyuguhkan senyum untuk ayahnya? Menjadikan lingkungan sebagai tempat pengakuan akan eksistensi dirinya dibandingkan ayahnya yang serasa sangat sulit untuk disentuh olehnya.

Entahlah.

Kyuhyun mengedikkan bahunya. Berhenti berpikir hal-hal semacam itu. Kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda. Memantapkan hatinya mendekati sebuah ruangan yang terdengar begitu ramai dari jaraknya berdiri. Memandang formulir itu dengan tatapan yakin tapi setengah takut.

Tangan putih pucatnya meraih engsel pintu ruangan yang ia tuju kala langkahnya telah menapak tepat di depannya. Degub jantungnya sedari tadi terasa menggila. Sial! Dia hanya ingin mengumpulkan formulir ini, tapi kenapa rasanya ia akan berperang.

Tapi sedetik kemudian, dirinya menyadari alasan deguban jantungnya tersebut. Ia kembali menghela nafas. Entah untuk keberapa kalinya. Tapi ia yakin kali ini dengan pilihannya. Setidaknya, biarkan ia menorehkan senyum pada ayah dan ibunya lewat mimpinya.

Senyum sedikit terulas dan akhirnya pintu ruangan itu pun terbuka. Menampilkan beberapa siswa yang tengah bergelut dengan bakat mereka. Menampilkan senyum Jongwoon yang menyambutnya dengan antusias. Dan akhirnya Kyuhyun melebarkan senyumnya. Tempatnya mungkin memang di sini, di ruangan ini. Bukan hanya sebagai tempat pengumpulan formulir, tapi sebagai tempatnya untuk menghabiskan waktu kala jam sekolahnya telah berakhir. Yah, di ruangan ini —

—Ruang Musik.

.

.

.

Riuh suasana pesta terdengar menggema bahkan sampai ke kamar Kyuhyun. Bocah berumur 16 tahun itu sedikit menengok keadaan halaman rumahnya yang kini telah disulap menjadi tempat pesta Ulang Tahun —pesta kakaknya Choi Siwon. Senyumnya sedikit terulas bercampur dengan senyum hambarnya. Jika pesta seperti ini, ia tahu apa yang kurang.

Kyuhyun berjalan perlahan keluar kamarnya, bermaksud menyusul kakaknya —Choi Siwon yang tengah menikmati pesta bersama teman-teman dan rekan bisnis ayahnya. Anak sulung keluarga Choi itu mulai diperkenalkan kepada publik oleh sang ayah, tentunya sebagai pewaris sah perusahaan besar Tn. Choi. Maka tidak heran jika tidak hanya teman-teman kakaknya itu yang hadir dalam acara ulang tahun ini, tapi juga semua rekan bisnis ayahnya. Pesta yang dijadikan perluasan hubungan bisnis, hm? Entahlah, Kyuhyun sendiri kadang tak yakin bahwa ayahnya itu lebih mementingkan anaknya dibanding perusahaan besar yang tengah ia kelola.

Ditengah langkahnya menuju tangga rumah, Kyuhyun terhenti. Ia terdiam sejenak didepan kamar kakak keduanya, Choi Kibum. Ia belum nampak diluar tadi, dan ia yakin kakaknya tersebut tidak akan pernah keluar dari kamarnya selama pesta berlangsung. Dan inilah yang selalu kurang dalam setiap pesta yang diadakan oleh keluarga Choi, yaitu Choi Kibum.

Tapi harusnya ia ada di pesta itu bukan?

Langkah Kyuhyun mendekat ke arah kamar Kibum, mencoba mengajak kakaknya itu untuk bergabung di pesta, namun sebuah suara yang sangat ia kenal menghentikan langkahnya.

"Mau apa kau?" Itu suara ibunya —Ny. Choi.

Kyuhyun berbalik menatap Ny. Choi yang kini berjalan menghampirinya. "Eomma... Kyu mau mengajak Kibum Hyung untuk turun ke bawah."

"Jangan pernah mengajak anak itu!"

"Tapi Eomma..."

"Choi Kyuhyun!" Teriakan dari Ny. Choi tersebut langsung membungkam mulut Kyuhyun.

Kyuhyun kini hanya bisa menunduk diam. Ia sungguh tak berani menatap wajah Ny. Choi yang tengah memerah menahan marah.

"Eomma..."

Tangan Ny. Choi langsung mencengkram lengan Kyuhyun dan menyeretnya menuruni tangga, meninggalkan tempat itu. Membawa anak bungsunya ke tempat pesta tampa menghiraukan Kibum yang kini tengah menangis di dalam kamarnya.

.

.

.

Different

.

.

.

==by Terunobozu==

.

.

.

All Cast is God's, Their self, and Their Parents

.

.

.

05 Februari, 08.00

Ruang ICU tampak lenggang. Hanya beberapa suster dan Dokter yang terlihat beberapa kali melewati koridor ruang isolasi tersebut. Entah apa yang mereka perbuat, Kibum sama sekali tidak peduli. Dirinya masih mematung menatap magnae mereka yang belum sadarkan diri di dalam salah satu ruangan isolasi tersebut. Tidak ada yang diperkenankan memasuki ruangan tersebut termasuk keluarganya sekalipun, hanya para dokter dan suster yang diperkenankan masuk ke sana. Alhasil, dirinya beserta keluarga Choi dan kerabat Kyuhyun yang lainnya hanya bisa melihat sang magnae tersebut lewat kaca yang sengaja dipasang sebagai pemisah antara ruangan isolasi tersebut dengan ruangan luar.

Tangan Kibum bergerak menyentuh permukaan kaca, berharap dirinya dapat menembus benda bening tersebut dan mengusap tubuh Kyuhyun yang kini terbaring, penuh dengan alat-alat kedokteran yang sebagian tidak Kibum pahami kenapa bisa dipakai adiknya. Air matanya kembali menyeruak. Matanya yang sembab seolah tak menjadi penghalang cairan bening itu untuk menuruni pipi putih Kibum yang kini memucat karena lelah.

Dirinya tertinggal sendirian kini diruangan itu. Siwon baru saja pergi ke kantin untuk membelikan keluarganya sarapan, setidaknya ia masih berpikiran realistis untuk tetap mengisi perut mereka yang kosong meski nafsu makan itu telah hilang sama sekali. Sedangkan Tn. Choi sedang menemani Ny. Choi beristirahat di ruang rawat di rumah sakit ini. Kondisi Ny. Choi sungguh memprihatinkan saat ia mengetahui keadaan magnae mereka. Ia menangis histeris dan akhirnya jatuh pingsan, membuatnya harus terpaksa ikut di rawat di rumah sakit ini.

"Kyu... bangunlah... bangunlah... aku mohon..." Kibum menunduk dan kembali terisak dengan hebat. Tangannya terkepal dengan kuat dan dalam seketika kepalan itu melayang pada tembok samping kaca ruang ICU tersebut. Tangannya yang lain berusaha menutupi suara isakannya yang semakin terdengar jelas.

Kibum masih berkosentrasi dengan isakannya ketika ia merasakan tubuh adiknya bergerak. Dengan antusias, ia layangkan pandangannya pada tubuh Kyuhyun yang bergerak-gerak. Sedetik kemudian Kibum menyadari bahwa pergerakan tersebut terlihat ganjil. Kibum memfokuskan penglihatannya dan mencoba berkosentrasi dengan tubuh adiknya.

Tubuh itu bergerak semakin cepat, dan Kibum akhirnya menyadari bahwa pergerakan ganjil adiknya itu lebih menyerupai dengan kejang. Dapat ia lihat juga secara perlahan dari mulut Kyuhyun keluar cairan kental berwarna merah.

Darah.

Mata Kibum membulat sempurna. Dengan langkah tergesah ia berteriak memanggil Dokter.

.

.

.

Dua jam berlalu dan akhirnya tim medis keluar dari ruangan Kyuhyun. Dokter Tan yang diketahui dokter yang menangani Kyuhyun menghampiri keluarga Choi. Wajahnya terlihat begitu serius, membuat Tn dan Ny. Choi beserta kedua anak mereka tegang dalam seketika. Terjadi sesuatu lagikah pada magnae mereka?

"Terjadi komplikasi, kita harus segera melakukan operasi." Ucap Dokter Tan yang langsung disambut anggukan dari Tn. Choi.

"Lakukanlah Dokter. Selamatkanlah putraku." Ucap Tn. Choi dengan nada memohon. Sungguh sesuatu yang diluar kebiasaan Tn. Choi, ia tidak pernah sama sekali memohon pada orang lain dan kali ini demi anaknya, dirinya mampu melakukan hal itu.

Dokter Tan mengangguk lalu kembali memasuki ruangan Kyuhyun. Beberapa saat kemudian, tubuh Kyuhyun terlihat keluar dari ruang isolasi dengan didampingi oleh tim medis.

Tn. Choi dan Siwon yang melihat itu berniat mengikuti sampai ruang operasi namun suara tamparan keras menghentikan langkah mereka. Diurungkannya niat untuk mengikuti tim medis yang membawa Kyuhyun dan lebih memilih melihat ke arah sumber suara tamparan tersebut.

Ny. Choi dan Kibum.

Tampak jelas pipi kiri Kibum yang kini memerah dan tampak jelas pula jejak tangan di sana. Sedangkan Ny. Choi terlihat mengatur nafasnya yang memburu.

"Apa yang kau lakukan?" Hardik Tn. Choi ketika sang istri hampir melayangkan tamparan yang kedua kalinya pada Kibum. Tangannya dengan sekuat tenaga menahan tangan Ny. Choi yang hendak menampar anak kedua mereka.

"Lepaskan tanganku, Choi Kiho!" Teriak Ny. Choi dengan emosi yang membuncah. Wajahnya sudah memerah dengan sempurna.

Siwon yang melihat itu segera menghampiri Kibum dan berniat membawanya pergi dari tempat itu.

"Kau mau membawa kemana anak itu, Choi Siwon!" Teriak Ny. Choi membuat langkah Siwon terhenti.

"Eomma kumohon..."

"APA? KALIAN INGIN MEMBELA ANAK ITU?"

"CUKUP HANA-YA!" Suara tamparan kembali terdengar. Namun kali ini dengan subjek dan objek yang berbeda. Bukan lagi Ny. Choi yang menampar Kibum melainkan Tn. Choi lah yang menampar Ny. Choi. Membuat ruangan itu membisu dalam seketika. Hanya deru nafas tak terkontrol milik Tn dan Ny Choi yang terdengar. Sedangkan Siwon dan Kibum hanya bisa membulatkan matanya tak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapan mereka.

"Hentikan semua ini. Semua bukan salah Kibum." Suara Tn. Choi terdengar lirih dan pelan. Didalam nada suaranya tersirat permohonan yang sangat.

Ny. Choi tampak tertawa sinis. "Bagaimana bisa kau bilang seperti itu?" Suaranya terdengar pelan namun beberapa saat kemudian Ny. Choi menatap tajam Tn. Choi. "JELAS-JELAS INI SEMUA SALAH ANAK HARAMMU! KYUHYUN BUNUH DIRI KARENA ANAK SIALAN YANG KAU BAWA KE RUMAH, B#####T!"

.

.

.

==Chapter 2 End==

.

.

.

"Jagalah dan utuhkanlah keluarga kami, Tuhan. Seperti apa yang orang lain lihat tentang keluarga kami. Amin."

Special Thanks To:

|| Pixie909 || runashine88 || Evilkyu Vee || MilMilk2034071 || Kim Changbo || ainizzamani ||luisa-chan || Someone || Kyu. Kwang || SmiLeND || qyukey || Fitri MY || Ecca. Augest || Kmaknae || Rolly Polly KyUke || RuCho D'Evil || Gyurievil || Hankyuni || Yolyol || meyminim || kyukyu712 || KyuELF15 || frosyita || Blackyuline || loveiskyu || Lee minjielf ||

Dan "Guest" yang tidak menyertakan nama. Arigatou semuanya *bow*

[mohon maaf untuk nama yang salah atau yang tidak tersebut *bow*]

Konbanwa! [o^^o]

Hohoho... banyak typo dan penulisan hancur? Mohon maaf, saya tidak sempat mengedit #alibi *bow*

Semoga minasan suka. Dan teruntuk reviewers, terimakasih banyak, salah satu alasan saya menulis adalah karena kalian *Hug*. Maaf tak bisa balas review satu-satu *lagi*. Tapi yang pasti review kalian selalu saya baca dan menjadi alasan tersendiri saya menulis di sini

Bagi yang bertanya kenapa FF saya selalu berisi dengan Kyu yang menderita? Alasannya karena saya suka jika sang magnae menderita *tertawa evil sambil bawa boneka vodoo [?] dengan foto telur ungu* dan juga terimakasih bagi yang udah baca makna tersirat dari FF saya. Disetiap tulisan pasti selalu ada makna dan pesan yang ingin di sampaikan penulis kepada pembaca, maka dari itu semoga FF ini bukan hanya sebagai hiburan tapi juga semoga *lagi* ada hal yang bisa di ambil dari sini. Hehehe...

Tapi yang pasti, kritik dan saran senantiasa dinanti oleh penulis abal ini ^^V *monggo-monggo*

Oh, ya! Selamat menjalankan ibadah puasa (bagi yang menjalankan). Semoga semuanya mendapat hikmah tersendiri. Amin...

Akhir kata, sampai jumpa ^^/

==terunobozu==