peblish
presents
a krisho fanfict
.
When Kris is Sick
.
cast :
- suho
- kris
- other casts
KRISHO chibi series ^^
enjoy, happy reading, and dont forget to leave review! ^^
.
.
.
"Heh? Kris nggak masuk..?"
Namja berambut cokelat kemerahan dengan kedua mata rusa itu mengangguk. "He-eh. Tadi pagi, sih, dia sms aku, katanya lagi sakit." Gumamnya sedikit mengulangi perkataannya yang tadi. "Yah, walaupun seisi kelas juga nggak ada yang percaya dia sakit beneran, sih, hihihi... Paling juga dia bangun kesiangan terus bolos, deh. Huahahaha." Lanjutnya sambil cengengesan.
Suho nyengir mendengar kata-kata namja itu. "Oh... Ya udah, deh." Suho menghela nafas. Ia melirik sejenak sebuah wrist-band hitam yang masih melingkar di pergelangan tangan kirinya itu. Kemarin lusa, Kris meminjamkan wrist-band hitam ini padanya karena kemarin Suho akan praktek lari maraton. Kris bilang, wrist-band hitamnya itu bisa menjadi jimat yang membawa keberuntungan bagi Suho. Yah, walaupun ia hanya mendapat nilai B+, sih... Tapi Suho senang-senang saja karena selama ini nilai terbaik untuk praktek olahraganya hanyalah C+ =_= Tadinya Suho mau mengembalikan wrist-band ini ke kelas Kris saat jam istirahat makan siang ini, tapi siapa juga yang menyangka Kris tidak masuk sekolah karena sedang... Uhm, sakit..? Suho sendiri juga tidak cukup yakin bahwa Kris sedang benar-benar sakit =_= punya badan tinggi, tegap dan cukup atletis hasil berlatih basket, bisa segampang itu jatuh sakit..? =_=
Namja ituㅡsebut saja Luhanㅡtersenyum-senyum penuh arti memandangi Suho yang masih bengong di depan pintu kelasnya itu. Jadi ini incerannya Kris? Seleranya gini juga, ya, batin Luhan sambil kembali terkikik geli. "Ngomong-ngomong, namamu Suho, kan?" Tembak Luhan. "Kris sering ngomongin kamu, loh, kalau di kelas..."
"Heh?" Suho melotot kaget dan malu. "Ya-yang bener?"
"Belok ke sini... Teruuusss... Nnnggg..." Tangan kanan Suho menggaruk-garuk kepalanya sementara tangannya yang lain sibuk mengarahkan stang sepedanya menyusuri jalan aspal mulus daerah perumahan elite itu. Akhirnya, sepulang sekolah, Suho berniat mengembalikan wrist-band itu ke rumah Kris sekaligus menjenguk dan melihat keadaan namja itu. Berangkatlah ia dari sekolah ke rumah Kris berbekal ingatannya yang rada-rada blank tentang arah ke rumah Kris dari sekolah =_=
"Nah! Itu dia! Akhirnya ketemu jugaaaa!" Suho menghela nafas senang seraya mengayuh sepedanya lebih kencang setelah melihat plang besar 'Dentist Wu' dari kejauhan. Suho menghentikan dan menuntun sepedanya sambil mendongak memandangi rumah itu. Ya, benar. Ini dia rumah Kris.
"Eng..." Suho celingukan kesana-kemari. Mirip seperti maling yang sedang mencari jalan masuk ke dalam rumah yang akan dirampoknya. "Ah, itu dia belnya." Suho berjalan menghampiri sebuah tombol putih di pagar rumah Kris yang cukup tinggi itu. Ting tong...
Seorang perempuan muda berpakaian pelayan keluar dari dalam rumah kemudian membukakan pintu pagar seraya tersenyum pada Suho. "Selamat siang. Cari siapa?"
"Ah..." Suho tersenyum sembari sedikit membungkukkan tubuhnya. "Kris-nya ada..?"
"Oh, cari Tuan Kris?" Pelayan itu mempersilahkan Suho masuk. "Silahkan masuk."
"Tuan Kris demam sejak tadi malam." Cerita pelayan itu selagi ia berjalan mengantar Suho masuk ke dalam. "Waktu saya mengetuk pintu kamarnya untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Selang beberapa detik setelah saya mengetuk pintunya, terdengar suara benda yang pecah dari dalam yang cukup keras. Karena saya takut ada apa-apa, saya langsung masuk ke dalam dan menemukan cermin besar yang ada di dalam kamar Tuan Kris sudah pecah berkeping-keping. Sepertinya Tuan Kris terlalu pusing dan ia menabrak cermin itu saat sedang berjalan ke kamar mandi."
Suho meringis ngeri. "Udah dibawa ke dokter?"
Pelayan itu tersenyum kecil seraya menggeleng pelan. "Saya sudah menanyakan apa perlu saya memanggil dokter, tapi Tuan Kris menolak mentah-mentah. Tuan Kris cuma bilang kalau ia akan segera sembuh kalau sudah istirahat semalaman. Tapi nyatanya pagi-pagi tadi demamnya malah makin tinggi."
"Ya ampuuuun." Suho geleng-geleng tak habis pikir. "Paman Wu juga nggak nawarin Kris ke dokter?"
"Tuan Kris juga melarang saya untuk melapor ke Tuan Besar kalau dia sedang sakit." Keluh pelayan itu. "Tapi karena saya rasa kalau Tuan Besar harus tahu ini, akhirnya saya mengatakan juga ke Tuan Besar kalau Tuan Kris sedang sakit."
"Terus?"
"Yah... Tuan Besar ternyata sama cueknya. Beliau hanya menyuruh saya membeli obat penurun demam di apotik dan memberikannya pada Tuan Kris." Pelayan itu menunduk seraya menggaruk-garuk kepalanya. Mungkin merasa sedikit tidak enak membocorkan masalah keluarga majikannya pada tamu kecil yang merupakan teman Kris ini. "Oh iya, tadi pagi Tuan Besar juga memerintah tukang kebun untuk melepas kunci kamar Tuan Kris supaya para pelayan mudah mengantarkan makanan ke kamar Tuan Kris."
Suho menghela nafas. "Kris sudah makan siang?" Ia melirik jam tangannya sejenak. Pukul 14.00.
Pelayan itu kembali menggeleng. "Tadi pagi sup ayam yang saya berikan padanya tidak disentuh sama sekali, ia cuma minum teh panas yang saya berikan juga. Setelah ini rencananya saya juga mau menghidangkan makan siangnya, tapiㅡ"
Senyum kecil tersungging di bibir Suho. "Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang bawakan makan siangnya."
Tok tok tok... "Kris..?"
Tok tok tok... "Ini aku, Suho..."
Tok tok tok... "Kriiiissss..?"
Tok tok tok... "Bukain pintunya, dong... Udah jauh-jauh dari sekolah, nih, cuma buat jenguk kamu... Hehehe..." Jauh-jauh apanya? Rumah Kris dari sekolah bisa ditembuh dalam waktu 5 menit kalau berjalan kaki =_=
Tok tok tok... "Iiiiihhh... Kamu nakal, deh, pura-pura budek, ya, sekarang..."
Tok tok tok... "Aku masuk, ya... Kamu nggak lagi telanjang, kan..? Hehehe..." #PLAK!=_=
Krek...
Suho melongo begitu membuka pintu. Yah, gimana mau sembuh kalau kamar isinya kayak begini? Tirai jendelanya ditutup rapat-rapat sehingga tidak ada cahaya yang masuk sama sekali. Lampunya padam, rak-rak yang berisi ratusan komik dan buku begitu berantakan, lemari pakaiannya berserakan dan isinya tersebar ke seluruh penjuru lantai kamar Kris. Suho meringis melihat sebuah boxer Batman dan kaus kaki yang hanya sebelah tergantung di lampu tidur Kris.
Dan yang terakhir, sang empu kamar yang tidur di sudut ranjang berbalut selimut tebal dan ear-muffs... Warna pink =_= di kedua telinganya.
"Ya ampuuuunnn..." Suho menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia meletakkan nampan makan siang Kris di atas meja belajarnya, kemudian bersungut-sungut meyingkap tirai jendela lebar-lebar. Sekarang, kamar yang sudah berantakan itu semakin terlihat berantakan setelah terkena cahaya dari luar jendela.
POW! "Adaaaawww!" Suho meringis saat sebuah bantal kucel dilemparkan mengenai kepalanya.
"Shudah khubhilangh, jhanghan mhashuk khamharkhu shembharanghan!" Suara baritone Kris yang begitu berat terdengar makin mengerikan. Kalau ia sadar bahwa ia sedang tidak berada di kamar Kris, Suho bisa ngibrit ketakutan mendengar suara yang begitu mirip dengan suara zombie yang ia tonton di film barat bersama kakaknya beberapa hari yang lalu.
POW! POW! Kris makin gencar melemparkan bantal-bantalnya ke arah Suho. "Khelhuuuaaaarrrh!" Usirnya ganas.
"Ya ampun, Kris! Kris! Ini akuuuuu!" Suho menghampiri Kris seraya bersusah-payah menangkis serangan bantal kucel dari seorang Kris Wu, sang penembak bantal.
"Hoh..?" Kris melongo dengan wajah bloon, kemudian ia refleks melepas dan melempar ear-muffs pink-nya jauh-jauh dari telinganya. Hihihi! Jangan-jangan dia malu kalau harus tampil dengan ear-muffs pink di depan Suho. "Su... Suho...h..?" Gumamnya lirih.
Suho memutar kedua bola matanya jengah. "Apa kalau ada pelayanmu yang masuk ke kamar, kamu bakal ngelemparin mereka pake bantal kayak gini, ya?" Jeder. Terungkap sudah kebiasaan brutal seorang Kris Wu.
"Ngh..." Kris menggaruk-garuk kepalanya serba salah. "Habhisnyah khamu ngaphain mashuk kamharku shembaranganh..?"
*tunggu, tunggu. ini kalau nulis dialognya Kris kayak gini terus, bisa-bisa jari author keseleo semua =_= mulai sekarang, author nulisnya biasa aja, ya XD tapi kalian bacanya sambil bayangin suara Kris yang serek-serek becek getoooh XD*
Suho beranjak menuju ke meja belajar Kris, mengambil nampan makan siang itu kemudian menyodorkannya pada Kris. "Nih. Makan."
Kris terbatuk pelan, kemudian ia menarik selimutnya lagi dan kembali tidur membelakangi Suho. "Ogah. Uhuk uhuk..."
Suho menghela nafas gemas. "Ih, Kriiiisss! Kamu harus makan, tahu! Kalau gini terus, gimana bisa sembuuuuhhh?!" Cicit Suho kesal sambil menyingkap selimut Kris, membuangnya jauh-jauh kemudian mencubit-cubiti lengan Kris dengan brutal.
"Ah! AAAAHHH!" Kris menjerit murka sekaligus kesakitan saat Suho mencubiti lengannya. "Bawel! Iya, iya! Aku makan!"
Suho nyengir kuda. "Nih, cepetan!" Serunya sok galak sambil kembali menyodorkan makan siang Kris.
"Uh..." Kris mendumel pelan. Ia membuka tutup mangkuknya dan menatap semangkuk sup jagung itu.
"Aku suapin, deh." Suho mengambil sendok sup yang ada di nampan itu kemudian mulai menyuap sesuap sup itu, lalu menyodorkannya pada Kris. "Ayo, makan."
Kris menghela nafas, kemudian malas-malasan ia membuka mulutnya dan membiarkan Suho menyuapkan sup itu padanya.
"Mmmh..."
"Ditelen, dooong! Jangan diemut!" Semprot Suho lagi saat ia sama sekali tidak mendapati tanda-tanda Kris sudah menelan makanannya. Suho juga pernah merasakan sakit demam, dan memang untuk makan saat sedang demam itu rasanya nggak enak banget. Apalagi kalau harus merasakan sakit saat sedang menelan makanannya. Tapi mau gimana lagi? Kalau mau sembuh, ya harus makan.
Kris menghela nafas lega saat ia menyadari bahwa sup jagungnya sudah habis ditelan (paksa =_=) olehnya. "Kalo kamu udah besar, jangan jadi perawat." Gumam Kris sedikit tidak jelas selagi meneguk teh panasnya.
"Heh?" Suho mengerutkan keningnya mendengar perkataan Kris.
"Ya iyalah jangan jadi perawat! Gimana betah pasiennya kalau kamu jadi perawatnya, terus kalau nyuapin makan brutal banget kayak gitu? Belum lagi dicubit-cubitin pakai cubitan maut kalau nggak mau makan." Dumel Kris asal dan jengkel. Mungkin masih dendam gara-gara dicubitin kayak tadi =_=
Suho tertawa ngakak. "Yaelah... Gitu aja ngambek." Godanya.
"Kamu ke sini cuma mau maksa aku makan?" Tanya Kris sambil menempel-nempelkan punggung tangannya ke dahinya. Sepertinya demamnya sudah sedikit turun.
Tiba-tiba Suho bangkit dari duduknya, meletakkan kedua tangannya di kanan-kiri tubuh Kris, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kris.
Kris mendadak gelagapan saat wajah Suho semakin dekat dengan wajahnya. "He-hei! Ka-kamu mau ngapaㅡ"
Tuk. Suho menempelkan keningnya dengan kening Kris, kemudian memejamkan matanya sejenak. "Hmm... Kayaknya demammu udah turun." Gumamnya kemudian ia membuka matanya dan kembali duduk di tepi ranjang Kris seperti semula.
Kris buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah. Huh, syukurlah tadi Suho menutup matanya. Setidaknya Suho tidak mengetahui bagaimana merahnya wajah Kris saat kening mereka bersentuhan tadi.
Suho meraih tasnya, kemudian mengeluarkan beberapa buku catatan dari dalam tasnya lalu menggoyangkannya pada Kris. "Ya nggak, lah. Ini, tadi temenmu juga nitip catatan pelajaran hari ini buatmu." Suho menyodorkan buku-buku catatan itu. "Nih."
Kris diam sejenak membaca sepenggal nama di buku catatan itu. Milik Luhan. "Temenku?" Ulang Kris. "Kamu tadi ke kelasku?"
"He-eh. Oh iya." Suho mendadak ingat sesuatu yang menjadi alasannya pergi ke kelas Kris saat istirahat makan siang tadi. "Nih, wrist-band-mu. Tadi aku ke kelasmu soalnya mau ngembaliin ini. Eh, kata temenmu kamu nggak masuk. Ya udah, deh, niatnya sih aku cuma mau ke rumahmu buat balikin wrist-band ini, terus temenmu nitip catatan ini juga sekalian."
Kris diam sejenak. "Oh." Gumamnya singkat. "Ya udah. Thanks, ya."
Suho tersenyum kemudian mengangguk. "Yeol welkkam!"
Air teh yang hendak masuk ke kerongkongannya nyaris keluar lagi lewat lubang hidung Kris mendengar bad english Suho yang benar-benar mengundang tawa itu. "You're welcome, kali!"
"Eh, salah, ya?" Suho meringis malu. "Ehehehe... Iya, iya. Youl wellcome!" Aduh Suho sayang, itu masih salah =_= tapi sepertinya Kris nggak protes lagi, tuh, hehehe...
"Oh ya, kamu nggak minum obat?" Suho celingak-celinguk, mencari-cari obat Kris di nakas. "Habis makan, kan, harus minum obat."
Kris diam. Kemudian ia menunjuk kolong tempat tidurnya. "Tuh, di bawah,"
"Ya ampun! Kurang kerjaan banget kamu nyimpen obat di bawah kolong." Suho kembali bersungut-sungut seraya mengambil sebotol obat sirup dan sebungkus obat tablet di bawah kolong tempat tidur Suho.
"Habisnya pelayan-pelayan itu bawel banget." Gumam Kris sinis. "Masuk ke kamarku terus dan maksa-maksa aku minum obat. Ya udah, deh, aku sembunyiin di bawah kolong. Pas mereka masuk, aku pura-pura tidur dan mereka kebingungan nyariin obatku." Kris menyeringai kecil mengingat perbuatannya pagi tadi.
Suho menghela nafas. "Bandel banget, sih, kamu." Dumel Suho sambil membuka tutup botol obat sirup itu. "Mereka bawel, kan, buat kesehatan kamu juga. Kamu nggak mikir gimana kalau mereka dimarahin ayahmu gara-gara nggak minumin kamu obat?"
Kris menyeringai kecil memandangi wajah imut Suho yang sedang memarahinya itu.
"...Terus, gimana kalau mereka dipecat gara-gara dikira nggak becus nanganin anak kelas 6 SD yang lagi demam? Hah? Hah? Kamu mau pelayanmu dipecat semua? Terus kamu harus ngepel-ngepel sendiri, cuci-cuci baju sendiri, nyiramin kebun sendiri, ngejemur pakaian dalem sendiri, hah? Hah?"
Tawa Kris meledak. "Hahaha, enggak, lah. Iya, iya. Maaf, deeehh. Abisnya kepalaku pusing banget. Dipaksa-paksa gitu, kan, bikin naik darah juga. Ya gimana nggak kesel."
"Makanya, minum obat biar sembuh. Biar nggak sakit kepala lagi." Suho menyuapkan tiga sendok obat kepada Kris. Kemudian ia meraih bungkus obat tablet dan membaca sebaris aturan minum obatnya. "Hm... Tiga kali separuh tablet sehari." Suho mengeluarkan sebutir obat tablet itu, membaginya menjadi setengah, kemudian menyodorkannya pada Kris beserta dengan tehnya. "Nih, minum pakai teh. Biar gampang nelennya."
"Langsung aja. Aku bukan anak kecil, kok." Tolak Kris sambil mengambil separuh obat tablet itu kemudian menelannya langsung tanpa teh. Suho sampai terpesona(?) sendiri. Bagaimana bisa menelan obat tablet itu tanpa teh? Suho aja masih nggak bisa T_T
"Kamu kenapa nggak mau ke dokter, sih?" Tanya Suho penasaran seraya kembali meletakkan obat-obatan Kris di nakas di samping tempat tidur Kris. "Ayahmu juga nggak tahu, ya, kalau kamu lagi sakit?" Pancing Suho.
"Ribet. Males. Lagian demam gini aja, kok. Ngapain pake dokter segala." Gumam Kris cuek sambil menarik selimutnya.
"Orang tua itu juga nggak bakal peduli, mau aku sakit atau nggak." Lanjutnya dengan nada muram.
Suho diam. Apa memang seburuk ini hubungan Kris dengan ayahnya? Ah, tapi... Mana mungkin. Nggak mungkin, kan, Ayah Kris menyuruh pelayan untuk membelikan obat penurun demam untuk Kris kalau ayahnya nggak pernah mempedulikannya? "Tapi buktinya dia beliin obat buat kamu, kan?" Sangkal Suho. Hubungan dingin ayah dengan anaknya ini harus dihangatkan! "Kalau dia nggak peduli, mana mungkin dia mau ngeluarin uang buat beli obat anaknya."
"Kalau dia benar peduli, harusnya dia panggilkan dokter buatku."
Kata-kata Kris membuat Suho terdiam dengan sukses.
.
Kris menyamankan posisi berbaringnya sembari memejamkan matanya. Alisnya sedikit berkerut, tanda ia mencoba memejamkan kedua matanya rapat-rapat. "Bisanya cuma nyuruh pelayan beliin obat aja, terus udah. Nggak ngapa-ngapain lagi."
Suho diam.
Ternyata jauh di dalam sosoknya yang terlihat dewasa, sedikit cuek dan aktif itu, Kris masih memiliki sifat kekanakannya. Di mana ia begitu ingin diperhatikan oleh ayahnya, dipanggilkan dokter oleh ayahnya, atau bahkan dirawat dengan baik oleh ayahnya sampai ia sembuh.
"Ngomong-ngomong, praktek lari maratonmu jadi dapet berapa?" Sahut Kris mengalihkan pembicaraan. Suho diam sejenak menatap wajah Kris yang sudah sedikit lebih segar dari sebelumnya.
"Dapet B+." Jawab Suho sambil menggerakkan tangannya menyingkap rambut yang jatuh di kening Kris. "Lumayan, kan? Biasanya aku cuma dapet C+, loh... Ehehehe..."
Kris nyengir.
"Aku pulang dulu, ya, Kris!" Seru Suho sambil mulai menuntun sepedanya berjalan ke luar pagar.
Kris merapatkan cerdigan putih yang dikenakannya, kemudian tersenyum seraya melambaikan tangannya. "Hm. Hati-hati di jalan."
Suho mengacungkan jempolnya. "Siiiip!" Balasnya riang. "Cepet sembuh, yaaa!"
Kris menyeringai kecil. "He-eh."
.
"Makasih, ya, Ho. Udah jenguk aku hari ini."
.
"Heh?" Suho tersenyum mendengar ucapan terimakasih Kris yang begitu tulus dan lembut, kemudian ia tersenyum begitu lebar seraya mengangguk. "Iya. You're welcome, Kris!"
Kris tertawa renyah. Ah, akhirnya Suho bisa mengucapkan 'you're welcome' dengan benar. Hihihi...
THE END!
