Disclaimer: Secret Fire belong to Johanna Lindsey. Since I'm falling in love with the story, I decided to remake it into a fiction. No profits taken.
Firelight; Particle One
The First Encounter
Chapter 2
warn(s): Contain a lot of typos, Mature Content! Historical!AU; Eastern-Europe's view; YAOI, MPreg!
"Apa yang harus kulakukan, Marushia?" tanya Vladimir kepada istrinya. "Pangeran menginginkan pria kecil itu, tapi pria itu menolak. Aku tidak pernah menemui dilema seperti ini."
"Cari saja orang lain untuknya," sahut Marushia enteng, berpikir bahwa solusinya akan semudah itu.
"Kau tahu apa yang akan terjadi kalau dia kecewa malam ini. Tidak akan ada yang membuatnya senang selama perjalanan pulang. Dia belum mendapat pelampiasan sejak kita berlabuh, waktu yang luar biasa panjang bagi Pangeran untuk mengabaikan kebutuhannya dengan sukarela. Dia harus melampiaskannya malam ini sebelum kita kembali berlayar ke Rusia, atau seluruh awak kapal akan menghadapi rasa frustasinya," Vladimir menghela nafas. "Dan aku menjamin bahwa hal itu sepuluh kali lebih buruk daripada perjalanan kita kemari ketika Putri Tatiana yang bodoh itu menolak untuk memenuhi ajakannya berlayar."
Vladimir tahu semua itu. Masalahnya, selain ia belum pernah mengecewakan Pangeran, ia juga harus menjamin perjalanan yang menyenangkan untuk semua dan bukannya berminggu-minggu menghadapi Chanyeol dalam salah satu suasana hatinya yang buruk. Bukan berarti Pangeran tidak bisa hidup tanpa pelampiasan, ia tentu saja bisa menahannya dalam keadaan terpaksa. Namun, kasus kali ini berbeda, ia sudah mengatakan perintahnya, entah apa yang terjadi kalau dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, karena kalau Chanyeol tidak gembira, tak seorangpun dirumahnya akan gembira.
"Bagaimana, kau sudah temukan solusinya?" tanya Marushia lagi yang kemudian hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Vladimir. Pria itu menekuri gelas kosongnya dengan muram dan mulai mengisinya lagi dengan vodka. "Aku tidak pernah menghadapi yang seperti ini. Pangeran tidak mengatakan padaku 'Aku ingin seseorang, carikan untukku.' Dia menunjuk langsung pria mungil ini kepadaku lalu berkata 'Aku mau dia diranjangku malam ini. Kau atur saja.' Lelaki itu bahkan tidak sesuai seleranya, Marushia. Kecuali matanya, sangat indah."
Marushia mulai menatap suaminya. "Sekarang kau membuatku merasa cemas. Kau ingin aku berbicara dengannya? Mungkin aku bisa mencari tahu apa yang membuatnya merasa keberatan."
"Kau bisa mencobanya." Jawab Vladimir singkat. Ia sudah cukup frustasi.
"Baiklah, sekarang kau temui Bulavin. Beberapa hari yang lalu, ia sesumbar padaku bahwa ia memiliki ramuan yang bisa membuat siapapun memohon-mohon untuk bercinta dengannya."
"Omong kosong."
"Kau tidak akan pernah tahu, Sayangku." Marushia tersenyum. Vladimir yang sudah terlampau putus asa hanya bisa menggerutu lalu menghilang untuk menemui Bulavin.
-Firelight-
Baekhyun tidak betah duduk diam. Ia berjalan mengeilingi kamar itu. Setiap menit melotot ke arah lemari pakaian besar yang didorong oleh pelayan untuk menutupi jendela kamarnya. Tubuh kecil Baekhyun tidak bisa menggerakkan lemari itu, walaupun kosong. Ia sudah mencoba selama setengah jam tanpa hasil.
Luhan, yang terakhir kali terlihat sedang menunggu sendirian di sudut jalan, pasti sedang merencanakan pernikahannya dengan pria yang tidak diketahui asal-usulnya itu. Bodoh, kau memang bodoh Baekhyun. Penyamaran bodoh ini, kesulitan mengerikan ini semuanya sia-sia. Luhan pasti sudah menikah dengan pria pemburu harta itu. Pikiran itu saja sudah membuat Baekhyun berang pada orang-orang Rusia ini. Orang barbar, idiot, berkepala batu yang membawanya kemari—gara-gara pria itu masa depan Luhan sekarng mungkin sudah hancur. Tidak, bukan karena pria itu, tapi karena Pangerannya-lah yang menyuruh pelayan itu untuk mengejarnya demi alasan yang kotor sekali.
Aku akan memarahinya habis-habisan. Seharusnya aku melemparnya ke penjara. Pasti dia itu Chanyeol Alexandrov—atau Alexandrov Chanyeol? Terserahlah. Memangnya berapa banyak Pangeran Rusia yang bisa melakukan pelayaran sejauh ini?
"Aku membawakan makan siang untukmu, Mister, dan satu lampu lagi. Kamar ini begitu gelap karena jendela yang tertutup." Kata-kata itu meluncur bersamaan dengan datangnya seorang wanita yang bergegas melintasi kamar dengan nampan terisi penuh dengan makanan dan menjatuhkannya di meja bulat rendah di sudut ruangan. Wanita itu memindahkan barang-barang ke atas meja lalu memindahkan lampu ke perapian marmer.
"Katushki," jelasnya, menunjuk sepiring bakso ikan dalam saus anggur putih. "Aku kokinya, jadi aku pastikan kau akan suka. Namaku Marushia."
"Terima kasih, Marushia, tapi kau bisa menyingkirkannya. Aku tidak menerima apapun dari rumah ini, terutama makanan."
"Tidak baik kalau kau tidak makan. Kau terlalu kecil." Marushia mengatakannya dengan heran.
"Aku kecil karena.., karena aku kecil," kata Baekhyun kaku. "Hal itu tidak ada hubungannya dengan makanan."
"Tapi Pangeran, dia sangat besar. Coba kau lihat." Marushia menjejalkan foto Pangeran Alexandrov ke hadapan Baekhyun yang tentu saja mustahil untuk tidak terlihat olehnya. Baekhyun tercengang; sepanjang dua puluh lima tahun hidupnya, baru sekali ia melihat orang yang seperti itu.
"Sangat menarik." Jawabnya sambil menjauhkan tangan Marushia dari hadapannya. "Dan meskipun itu adalah benar-benar Pangeran Alexandrov, jawabanku tetaplah tidak."
"Baiklah," Marushia tidak menyerah. "Jadi katakan padaku, apa yang membuatmu menolak pangeran kami? Ia adalah pria yang penuh semangat, dan pesona. Pangeran juga sangat dermawan. Dan mengenai ukuran tubuhnya, dia lembut dengan wanita—"
"Hentikan!" Ia sudah jengah. Suaranya meninggi—lagi. "Kalian sudah membuat kesalahan. Aku bukan tipe orang yang akan sembarangan naik ke ranjang orang asing. Aku tidak tertarik."
Marushia mengeluarkan sederetan kata-kata dalam bahasa Rusia yang berisi umpatan dan celaan untuk Baekhyun. Di koridor ketika ia bertemu dengan Vladimir, Marushia mencurahkan semua yang dialaminya dengan Baekhyun.
"Campurkan sedikit ke dalam makan malamnya." Vladimir menjejejalkan botol kaca berwarna hijau dengan ukiran-ukiran khas Turki ke tangan Marushia. "Apa ini?" tanyanya.
"Ramuan ajaib Bulavin. Dari apa yang dikatakannya, Pangeran akan sangat senang."
-Firelight-
Meskipun tidak ada jam di kamar itu, Baekhyun yang selalu membawa jam kecil di sakunya tahu bahwa hari sudah semakin malam. Pelayan wanita sudah sejak dari tadi keluar-masuk kamarnya mengisi bak mandi porselen dengan air hangat dan minyak dari botol kecil yang membuat seluruh ruangan beraroma mawar. Baekhyun menatap dengan was was, sementara tidak ada yang bertanya padanya apakah ia ingin mandi. Baekhyun jelas tidak mau mandi. Tidak satu helai pakaian pun akan dilepaskannya di rumah ini.
Tetapi Vladimir Kirov masuk ke kamarnya, mengetes airnya dan tersenyum. Baekhyun berusaha sejauh mungkin untuk mengabaikannya. Ia duduk di ranjang, jemari indahnya mengetuk-ngetuk pahanya dengan marah. Vladimir berdiri dihadapannya, sikapnya sama berkuasanya seperti nada suaranya. "Kau harus mandi."
Baekhyun mendongak, menatapnya perlahan, lalu dengan cara yang sangat merendahkan, mengalihkan tatapannya lagi. "Seharusnya kau bertanya terlebih dahulu sebelum repot-repot begini. Aku tidak pernah mandi di rumah orang yang tidak ku kenal."
Vladimir sudah muak dengan kesombongan pria mungil dihadapannya ini. "Itu bukan permintaan, Nak, tapi perintah. Kau harus mandi, atau pria di luar kamar ini akan membantumu. Walaupun mereka mungkin akan menyukainya, kurasa kau tidak akan menganggap hal itu sebagai pengalaman yang menyenangkan."
Baekhyun tidak punya pilihan, ia segera menyingkirkan pakaian pelayan yang lusuh itu dari tubuhnya. Warnanya yang gelap menyuramkan warna kulit pria mungil itu, membuat wajahnya terlihat pucat. Baekhyun punya kulit yang bagus, halus dan tak bernoda, nyaris tembus pandang. Matanya yang indah menambahkan kesan lugu, serta rona merah di pipi saat kulitnya menyentuh air hangat menambah kecantikan alami yang dimilikinya. Mungkinkah ini yang membuat Chanyeol tertarik? Ah, tidak mungkin. Saat itu Chanyeol hanya melihatnya dari kejauhan, bukan?
"Aku akan menyuruh pelayan kemari untuk membantumu, dan makan malammu akan segera tiba, tapi kali ini kau harus makan. Kami tidak bermaksud membuatmu kelaparan selama kau disini."
"Jadi berapa lama lagi aku harus disini?" tanya Baekhyun dengan gigi menggertak.
"Begitu Pangeran selesai denganmu, aku akan mengantarmu kemanapun kau mau. Pangeran akan selesai denganmu sekitar dua atau tiga jam."
"Kapan dia akan datang?"
"Kalau dia sudah siap untuk beristirahat malam ini." Rona merah kembali menjalari pipinya. Selama dua puluh lima tahun hidupnya, ia tidak pernah diperlakukan se-vulgar ini. Para pelayan Alexandrov pasti sudah terbiasa melakukan hal ini sehingga mereka tak perlu malu lagi membicarakan hal ini dan semacamnya. Seolah tanpa rasa bersalah menculik pria tak berdosa dari jalanan dan mempersembahkannya kepada majikan mereka.
"Kau sadar bukan, bahwa yang kau lakukan ini adalah kejahatan?" tanya Baekhyun lirih.
"Tapi itu hanya pelanggaran kecil, karena kau akan menerima ganti rugi." Baekhyun tercengang mendengar jawaban Vladimir. Ia baru saja mau mendebat, tapi Vladimir sudah pergi.
Seorang pelayan muda masuk untuk membantunya mandi. Baekhyun jelas tidak butuh bantuan, tapi pelayan itu hanya bisa berbahasa Rusia, karena ia mengabaikan semua protes Baekhyun dan mengobrol sendiri sementara ia melipat setiap helai kain yang dijatuhkan Baekhyun ke lantai karena terburu-buru menyelesaikan mandinya. Baekhyun baru saja melangkah keluar bak mandi, pelayan itu sudah keluar dari kamarnya membawa serta seluruh pakaian dan sepatunya.
Brengsek! Orang-orang Rusia itu sudah memikirkan semuanya! Tidak ada apapun di kamar itu, kecuali seprei untuk menutupi tubuhnya. Hanya itulah pilihan terakhir! Baekhyun harus tenang. Ia mencoba sebisanya untuk mengabaikan segala perilaku buruk dan memandang kejadian ini hanya sebagai kesalahpahaman biasa. Pada akhirnya ia akan bersikap sopan kepada Pangeran ketika menjelaskan tindakan pelayannya. Tetapi tidak sekarang! Tidak. Demi Tuhan, sekarang pria itu akan menerima amarah Baekhyun.
Pintu kamarnya terbuka lagi, menampilkan Marushia yang membawa makan malamnya. "Kembalikan pakaianku!" tuntut Baekhyun cepat sebelum Marushia sempat meletakkan nampan.
"Semua ada waktunya," sahut Marushia dengan tenang.
"Aku menginginkannya sekarang!"
"Kuperingatkan padamu untuk tidak berteriak-teriak seperti itu, Pria Mungil. Para pengawal sudah diperintahkan—"
"Persetan dengan mereka! Persetan denganmu!"
Marushia sangat terkejut. Pria kecil itu benar-benar marah. Tubuhnya kemerahan sehabis mandi. Amarah membuat matanya berkilat-kilat, pipinya merona, dan tubuhnya benar-benar kesempurnaan yang tersembunyi di balik pakaian pelayan lusuh yang dikenakannya tadi. Sang Pangeran tidak akan menemukan cacat disana.
"Makanlah dulu, lalu mungkin kau bisa tidur sebentar sebelum—"
"Tidak usah bicara lagi!" sela Baekhyun kasar. "Tinggalkan aku. Aku tidak akan bicara kepada siapapun kecuali Alexandrov."
Marushia pergi dengan bijak. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap adanya sedikit kebenaran dari ramuan Bulavin. Baekhyun yang sudah jengah menarik seprai dengan kasar, tetapi usahanya tidak berguna karena benda itu terlalu berat. Akhirnya ia memutuskan untuk menarik selimut bagian atas, menyampirkannya di bahu seperti jubah. Satin hijau itu dengan cepat menyerap air dari kulitnya.
Bayangan pengawal bertubuh besar yang menahan dan menjejalkan makanan ke mulutnya memaksa Baekhyun berjalan ke meja. Kenyataan bahwa ia sudah kelaparan sejak tiga jam terakhir membuatnya tidak bisa menolak makanan yang berada diatas meja. Ayam dalam saus kental, kentang dan wortel rebus, kue-kue madu kecil, dan anggur putih. Ia terlalu haus untuk menikmatinya, dan menghabiskan dua gelas penuh anggur putih sebelum pelayan muda tadi kembali dengan nampan lain. Kali ini ia membawa sekendi air es, juga sebotol brendi dan dua gelas.
Jadi akhirnya sudah tiba waktunya bagi sang pangeran untuk menunjukkan diri? Bagus, biar dia datang sementara Baekhyun masih berada dipuncak amarahnya. Tetapi pria itu tidak segera datang, dan waktu terus berlalu seperti siang tadi. Baekhyun memutuskan untuk menghabiskan makanannya, lalu mulai berjalan mondar-mandir. Tetapi setelah beberapa putaran, saat ia mulai berharap pintu terbuka menampilkan pangeran yang suka menghindar itu, ia merasa kulitnya tergelitik oleh kain satin yang menggesek kulitnya. Gugup. Ia yang selalu sekokoh batu, merasa gugup.
Baekhyun berhenti disamping brendi dan menuangkan isinya segelas penuh untuk ditenggaknya sendiri, dengan tidak senonoh. Pria itu bisa datang kapan saja, dan Baekhyun harus santai dan terkendali. Ia duduk, memaksa dirinya tenang. Metodenya tidak berhasil. Gelitikan itu terus ada, malah semakin parah. Ia mulai berjalan lagi, tetapi kain satin, seprai sialan itu, begitu mengganggu ketika menggesek kakinya. Ia tidak mungkin menyingkirkannya, walaupun ia ingin melakukannya. Ia harus berusaha untuk terlihat pantas.
Ia berhenti bergerak di tengah ruangan, berdiri diam. Itu juga tidak membantu. Rasanya seolah setiap saraf ditubuhnya menjerit penuh semangat, mendorongnya bergerak, melakukan sesuatu. Baekhyun mulai resah, meregangkan tubuh—Ya Tuhan, ia tidak pernah merasa seresah ini sebelumnya. Ia benar-benar bisa merasakan darah mengalir di pembuluh darahnya. Mustahil, tetapi ia merasa begitu aneh dan—hangat. Ia duduk di tempat tidur, lalu mendengar dirinya mengerang. Matanya terbelalak mendengar suara itu. Apa yang salah dengan dirinya? Ini pasti gara-gara seprai sialan itu. Ia harus menyingkirkannya, walaupun hanya sebentar.
Baekhyun membiarkan seprai itu jatuh, lalu menggigil ketika seprai itu meluncur menuruni lengan dan punggungnya dan berkumpul di sekitar pinggulnya. Secara refleks ia menyilangkan tangan di depan dadanya yang telanjang, lalu merasakan kejutan menjalari dirinya sampai ke kaki-kakinya. Baekhyun kaget. Nipples-nya tidak pernah sesensitif ini. Tetapi kejutan itu terasa menyenangkan. Ia juga belum pernah merasa seperti ini.
Ketika ia menunduk dan menatap dirinya sendiri, ia heran melihat kulitnya merona sesuai dengan kehangatan yang dirasakannya. Dan puncak nipples-nya berubah menjadi keras, menggelitik, dan sekujur tubuhnya menggelenyar. Ia menggosok-gosok lengannya, lalu mengerang lagi. Seluruh tubuhnya juga sensitif. Ada sesuatu yang benar-benar salah. Ia kesakitan, tidak, tidak kesakitan—ia tidak tahu apa, tapi perasaan itu menerjangnya seperti ombak dan berkumpul di pangkal pahanya.
Ia meringkuk diatas ranjang sejenak karena takut. Seprainya terasa dingin di kulitnya yang terbakar. Ia meregangkan perutnya, dan sejenak merasakan kelegaan. Perasaan lemas yang menyelubungi dirinya, dan ia berharap hal itu sudah berakhir—tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ia bisa merasakan desakan panas sensasi itu dimulai lagi, semakin kuat, dan berdenyut nyeri di pangkal pahanya lagi. Oh, Tuhan!
Baekhyun berputar telentang di tengah-tengah ranjang, lengannya terentang di kedua sisi tubunya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, napasnya tersengal. Ia kehilangan kendali sepenuhnya, tubuhnya melengkung, mendesak, dan ia bahkan tidak sadar ia melakukannya. Ia tidak mengenal waktu. Tubuhnya yang telanjang, situasinya, semuanya terlupakan dalam demam hebat yang melandanya.
Dua puluh menit kemudian, ketika Pangeran Alexandrov memasuki kamarnya, Baekhyun sudah tidak bisa memikirkan apapun kecuali rasa panas yang membakar tubuhnya. Ia tidak mendengar pria itu masuk. Ia tidak tahu pria itu berdiri mengamatinya, matanya yang gelap seperti beludru dengan takjub mengamati setiap gerakan Baekhyun.
-Firelight-
Chanyeol terpaku melihat gambaran erotis yang ditampilkan Baekhyun. Tubuh pria mungil itu, mendesak dan melengkung, terangkat dari ranjang, sepertinya sedang diserbu gairah seksual. Chanyeol selalu menyadari gerakan-gerakan ini dalam diri teman tidurnya yang lebih bergairah, pernah merasakan sendiri gerakan-gerakan itu, merasa senang karenanya, tetapi belum pernah mengamati dari kejauhan seperti kali ini. Adegan itu sangat konfrontatif. Ia bisa merasakan hasratnya bangkit di bawah jubah longgar—satu-satunya pakaian yang dikenakannya.
Apa yang sudah dilakukan oleh mawar Inggris—begitulah Chanyeol menyebutnya hingga membuat dirinya tiba di puncak kenikmatan? Pria kecil ini begitu mengejutkan! Dan, disinilah Chanyeol, berdiri di kaki tempat tidur, menyaksikan adegan yang membuatnya bergairah.
"T-tolong aku. Aku-aku butuh—" tenggorokan Baekhyun tercekat karena rasa panas yang begitu menjalari tubuhnya hampir-hampir tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan benar. Ia menjilat bibirnya perlahan. "Dokter."
Dahi Chanyeol berubah dipenuhi oleh kerutan muram. Sialan! Pria mungil ini sakit setelah membuatnya begitu menginginkannya. Amarah aneh menjalarinya. Chanyeol berjalan menuju pintu. Rasanya ia ingin sekali menghukum Vladimir untuk ini. Ia berteriak memanggi Vladimir yang langsung muncul seketika.
"Pangeran?"
"Sialan kau, Vladimir! Pria mungil itu sakit! Bagaimana kau sampai tidak tahu?" Vladimir yang sudah mengantisipasi hal ini, ia sudah tahu bahwa ia harus menjelaskan.
"Pria itu tidak sakit," sahutnya cepat. "Makanannya dibubuhi cantharides[1], Yang Mulia." Seketika itu Chanyeol mundur saking terkejut. Sialan obat itu! Pria itu tidak akan terpuaskan. Lima belas prajurut tidak akan cukup untuk memuaskan hasratnya. Pria itu pasti menuntut lebih, dan pengaruhnya akan berlangsung berjam-jam. Chanyeol merasa jijik tidak mampu mengatasi pria itu seorang diri, bahwa ia harus memanggil pengawal-pengawalnya untuk membantu meredakan penderitaan pria itu.
"Kenapa, Vladimir? Aku menginginkan malam yang santai, bukan marathon seks." Kedua alisnya masih bertaut.
"Dia sulit dibujuk, My Lord. Dia tidak bisa dibeli, dan berkeras bahwa ia tidak mau tidur dengan orang asing."
"Maksudmu dia benar-benar menolakku?" Chanyeol merasa geli memikirkannya. "Apa kau tidak memberitahunya siapa aku?"
"Tentu saja, My Lord. Tapi orang Inggris biasa ini sangat sombong. Sudah kujelaskan tidak ada waktu untuk itu." Tambah Vladimir dengan sedikit rasa jijik. "Maafkan saya, Pangeran Chanyeol, tapi saya tidak bisa memikirkan cara lain."
"Baiklah," Chanyeol mengela nafas. "Jadi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau sepanjang malam?"
"Selama Anda ingin bersenang-senang, My Lord." Jawab Vladimir santai. Chanyeol menggerutu dan melambai menyuruh Vladimir pergi. Ia kembali memasuki kamar, agak terkejut mendapati dirinya sendiri sangat ingin melihat pria itu lagi, dan lebih terkejut lagi akan perasaan tak ingin berbagi dengan pengawal-pengawalnya soal pria ini. Pria itu masih menggeliat-geliat diatas ranjang dan mengerang keras.
"Dokter?" suaranya sedikit parau.
"Bukan, Sayangku, kurasa dokter tidak bisa menyembuhkan penyakitmu."
"Kalau begitu, aku sekarat?" Chanyeol tersenyum lembut. Pria ini benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, bahwa hanya ada satu obat yang bisa menyembuhkannya, dan Chanyeol akan memberikan obat penawar itu dengan senang hati.
"Aku tidak mengharapkan ini akan terjadi pada siapapun, tapi ini sudah terjadi, dan aku bisa membantumu jika kau mengizinkanku."
"Bagaimana caranya?" Pria itu mencurigainya, Chanyeol bisa melihat itu melalui tatapan matanya. Vladimir benar, pria itu benar-benar tidak ingin berurusan dengan Chanyeol. Kalau bukan karena obat itu, Chanyeol sudah pasti gagal, sama seperti pria di jalanan tadi yang dihalau oleh pria mungil ini. Menarik sekali, batinnya.
Chanyeol tidak menjawab pertanyaannya. Ia terus membelai pipi pria itu yang merona seperti mawar halus, seperti sisa tubuhnya yang indah.
"Siapa namamu, Manis?"
"Baek—bukan, Baek—maksudku, namaku Baekhyun."
"Jadi, Baek adalah kependekan dari Baekhyun." Chanyeol tersenyum. "Nama yang agung. Jadi kau ini setengah Korean ya? Senang sekali menghabiskan malam dengan orang berdarah sama." Chanyeol terkekeh menggoda. Posisinya sudah berada di atas Baekhyun, mengecupi dan menjilati lehernya yang luar biasa sensual. "Dan kau tidak punya nama keluarga?" bisiknya di telinga Baekhyun.
Baekhyun memalingkan wajah, memberikan akses lebih untuk Chanyeol mengerjai lehernya meskipun ia tidak suka tetapi sensasi yang dirasakannya benar-benar menyenangkan. "Tidak."
"Rahasia?" Chanyeol terkekeh. "Ah, Baekkie kecil, aku tahu kau akan membuatku terhibur. Tapi nama keluarga itu tidak penting. Bagaimanapun juga kita akan terlalu intim untuk nama keluarga." Sambil bicara, tangannya yang bebas turun ke nipples Baekhyun. Teriakan Baekhyun terdengar melengking dan menderita. "Terlalu sensitif, Manis? Butuh pelampiasan segera, bukan?" Chanyeol menggerakkan tangannya menuju pusat gairah Baekhyun.
"Jangan! Oh, tidak! Kau tidak boleh melakukannya!" Tetapi walaupun ia memprotes, pinggul Baekhyun terangkat menyambut jemari Chanyeol.
"Ini satu-satunya cara, Baekkie," suara Chanyeol yang dalam menenangkannya. "Kau hanya belum menyadarinya." Baekhyun mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring sentuhan Chanyeol. Otaknya menolak pada apa yang dilakukan dengan jari-jarinya, tetapi Baekhyun tidak kuasa menghentikan diri.
"Oh, Ya Tuhan!" Baekhyun menjerit sementara kenikmatan dalam gelombang menggetarkan, denyutan yang terus berlanjut membanjiri indranya, menyapu rasa panas yang tak tertahankan itu. Baekhyun melayang-layang di lautan kenikmatan yang melemahkan. Ketegangan itu akhirnya berlalu, meninggalkannya dalam keadaan puas dan rileks.
Baekhyun bangkit duduk, memandang sekelilingnya, dengan panik mencari seprei, tetapi seprei itu sudah meluncur ke lantai sejak lama dan jauh dari jangkauan. Ia bergerak ke arah seprei di kaki tempat tidur, tetapi lengan besar Chanyeol mengahalanginya, menahan Baekhyun agar tetap di sampingnya.
"Kau menghabiskan tenaga dengan sia-sia, sementara kau hanya punya beberapa menit lagi untuk beristirahat. Semuanya akan terulang lagi, Mungil. Simpan tenagamu dan bersantailah selagi kau bisa."
"Kau bohong!" sahut Baekhyun ngeri "I-itu tidak mungkin terulang lagi. Oh, tolong, biarkan aku pergi! Kau tidak berhak menahanku disini!"
"Kau bebas untuk pergi," kata Chanyeol murah hati. "Tidak akan ada yang bisa menghentikanmu."
"Mereka melakukannya!" Baekhyun teringat amarahnya, membuncah dan meledak. "Si—si barbar Kirov itu menculikku dan mengurungku di kamar ini sepanjang hari!"
Baekhyun tampak manis meskipun sedang marah. Chanyeol merasakan desakan hebat untuk mencium pria itu, dicampur gairah untuk memeluknya. Dia kuat, permata kecil yang mengejutkan, dan tubuh Chanyeol sendiri terbakar karena menginginkan pria itu setelah melihatnya klimaks. Tetapi ia harus sabar, tidak perlu mengambil apapun dari Baekhyun ketika pria itu akan memberikan padanya dengan sukarela.
"Aku minta maaf, Baekkie. Anak buahku kadang melewati batas dalam usaha mereka untuk membuatku senang. Apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan mereka?"
"Hanya—hanya—oh, tidak!" Demam itu mulai lagi, kehangatan mengalir di pembuluh darahnya, dengan cepat berubah panas. Baekhyun menatap Chanyeol sejenak dengan tatapan menderita lalu memalingkan wajah dan mengerang. Rasa sakitnya kembali begitu cepat. Chanyeol tidak berbohong, dan sekarang Baekhyun tahu apa yang dibutuhkannya, apa yang didambakan tubuhnya. Moral, rasa malu, harga diri, semuanya hilang seperti hujan menyapu debu jalanan.
"Tolong!" Baekhyun menggeliat, mencari-cari mata Chanyeol yang seperti beludru. "Tolong aku!"
"Bagaimana caranya, Baekkie?"
"Sentuh aku.. seperti tadi." Seringaian akhirnya muncul di bibir Chanyeol.
-To Be Continue-
cantharides[1]obat perangsang yang digunakan oleh Kesultanan Turki saat bermasalah dengan selir-selirnya yang membangkang. Dapat membuat orang yang meminumnya menginginkan seks berlebih dan selalu merasa ingin meski tubuhnya sudah tidak sanggup.
Halo, Huhf. Saya nggak tau kalo FF saya ini mirip sama FF KaiHun yang pernah kamu baca. Karena saya nggak suka crack!pair, jadinya saya nggak pernah baca FF KaiHun yang kamu maksud. Seperti disclimer diatas, FF ini murni dari novel Secret Fire karangan Johanna Lindsey yang saya remake, silahkan boleh di cek. Jika pun ada kemiripan disana-sini dengan FF KaiHun itu, saya yakin itu cuma kebetulan belaka. Terima kasih sudah diingatkan, ya.
Untuk readers yang lain yang tak tersebut,
Ini fast update kan ya? Hehe. Terima kasih banyak atas review, opini dan masukan yang ditulis untuk saya. Seru banget baca komenan kalian di kotak review saya. Buat yang ngga punya akun FFn juga boleh komen kok. I assure you, komenan kalian pasti masuk di kotak review kok :)
What the hell, 3,266 words and I just can't stop yet, so I think I need to stop the mature scene hahaha. Bersambung dengan jahatnya. Semoga kalian nggak pengen bunuh saya ya, hehe. Since I'm not good with explicit mature content, I'll just write implicit mature content, okay? Hehe.
Chapter depan mau diisi apa? Hehe. We'll see~
