Nila – Ice
"Nila adalah warna langit malam. Menyimbolkan penguasaan diri dan realisasi spiritual. Nila juga menggambarkan kesederhanaan, kepasrahan, berserah diri, dan menerima apa pun yang terjadi."
"Ice mana?" tanya Gempa yang sedang menyajikan seloyang casserole buatannya di atas meja.
Kelima anak kembar itu langsung melempar pandangan ke satu sama lain.
"Di kamarnya tadi sudah kucek tapi ga ada, jadi kupikir sudah di bawah," jawab si polos Thorn.
"Blaze, bukannya dia biasanya pulang sama kamu?" tanya Taufan.
"Iya sih memang... Tapi tadi aku remedial, jadinya aku suruh dia pulang duluan," jawab Blaze dengan bingung.
Kemudian Gempa menepuk jidat dan langsung melepaskan celemeknya. Halilintar yang melihat wajah khawatir Gempa pun langsung tersadarkan dan bangkit dari kursinya. Tanpa basa-basi, yang lain langsung ikut beranjak dari kursi dan berlarian ke luar rumah. Mereka tahu, tidak ada yang boleh makan malam sebelum mereka menemukan Ice. Solar mencari ke seluruh rumah dan tidak menemukannya, jadi dia bilang akan menunggu di rumah dan menelepon yang lain kalau saja tiba-tiba si tukang tidur itu pulang.
Mereka berpencar. Halilintar memutuskan untuk mencari adiknya itu ke arah sekolah. Dari semua saudara-saudaranya, anak yang satu ini memang paling mengkhawatirkan. Bukan karena dia nakal seperti Taufan atau polos seperti Thorn, tapi anak yang satu ini tukang tidur. Memang sih bukan salahnya dia seperti itu. Ice mengidap penyakit Narkolepsi, yang menyebabkan pengidapnya sering mengantuk tak tertahankan dan tidur secara tiba-tiba tanpa kenal waktu dan tempat.
Ini mengapa Ice tidak boleh terlalu beremosi. Sebab emosi seperti marah, senang, terkejut, atau tertawa bisa membuat otot-otonya melemas. Maka dari itulah, Ice yang paling tenang dan diam di antara saudara-saudaranya yang lain. Tidur di jalan adalah hal yang sering dilakukannya, dan menghilang di saat makan malam bukanlah kali pertama ini terjadi. Terakhir kali Ice menghilang, ia tertidur di samping sungai dan hampir saja tercebur.
Rasa cemas mengalir di sekujur tubuh Halilintar. Ia berlari. Matanya tidak lepas dari sekelilingnya, memperhatikan apakah adiknya jatuh tertidur di suatu tempat. Di sekitar sekolah tidak ada, begitu pula di sungai tempat terakhir kali ia tertidur. Halilintar mengeluarkan ponselnya dari saku dan mengetik pesan di group chat untuk mereka bertujuh. Sayangnya belum ada yang menemukan Ice.
Halilintar berpikir untuk mencarinya lebih jauh. Akhirnya ia melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah pertokoan yang ramai. Kemungkinan Ice untuk jalan ke tempat ini memang kecil – karena tempat ini terlalu bising dan ramai – tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, kan? Halilintar mengelilingi perkotaan dan kemudian sudut matanya melihat sebuah kerumunan di depan toko buku. Penasaran, ia pun mendekati kerumunan itu untuk melihat apa yang terjadi.
"Anak ini sudah dari jam 5 sore tadi belum bangun."
"Apa mati ya?"
"Hush! Apa tidak seharusnya dibangunkan saja?"
"Sudah. Tapi memang sepertinya anak ini susah bangun."
Mendengar bisikan-bisikan dari kerumunan itu tanpa basa-basi Halilintar langsung menerobos kerumunannya. Di bangku itu terdapat Ice yang sedang tidur dengan kantung plastik yang berisi sebagai bantalnya. Halilintar berlutut di samping Ice dan menepuk halus pipinya.
"Mas saudaranya, ya?" tanya seseorang yang sepertinya pemilik toko buku tersebut.
Halilintar mengangguk, "iya ini adik saya. Maaf ya, Pak. Adik saya punya kelainan cepat tertidur."
"Oh tidak apa-apa. Saya pikir anak ini pingsan atau sesuatu. Habis beli buku dia tiba-tiba selonjoran di bangku, terus tidur..." jawab bapak pemilik toko buku.
Halilintar kemudian langsung mengabarkan saudara-saudaranya yang lain bahwa ia menemukan si tukang tidur. Ia kemudian menggendong Ice di punggungnya. Tak lupa ia juga membawa bungkusan berisi buku yang Ice beli tadi. Ia lalu mengucapkan terima kasihnya kepada pemilik toko dan melangkah pulang.
Malam itu dingin, tapi tidak terlalu dingin bagi Halilintar. Ada seseorang yang memancarkan kehangatan di punggungnya. Walaupun rumah mereka masih jauh, Halilintar tidak keberatan. Yang terpenting adalah Ice sudah selamat, tertidur pulas di punggungnya.
"Nnggh... Hali...?" tanya suara di balik punggungnya.
"Ice? Sudah bangun? Kau tidak apa-apa? Kau ini bikin orang khawatir saja... Seluruh rumah nyariin kamu, tahu" omel Hali tanpa menghentikan langkahnya.
"Maaf... Tadi aku terlalu heboh... Baca manga sampai tertawa terbahak-bahak, alhasil aku jadi lemas... Maaf, ya" jawabnya penuh rasa bersalah.
Halilintar menghela nafas, "tidak apa-apa, bukan salahmu. Lagi pula, kamu ngapain pulang sekolah pakai pergi sejauh ini segala? Ga bareng Blaze pula. Mau beli apa?"
"Di kantung plastik yang Hali pegang... Ingat tidak dulu papa dan mama sering bacain kita buku dongeng sebelum tidur... Aku beli itu, biar tidurku enak."
Mendengar jawaban Ice, Halilintar terkekeh kecil, "kamu kayak bocah saja."
"Hali... Memang ga berat? Apa aku turun saja ya?"
"Kurasa kau belum bisa berjalan dengan benar. Tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai kubangunkan, paling bentar lagi. Oh, di rumah Gempa masak casserole."
Ice tidak menjawab.
"Kau sudah tertidur lagi?" tanya Halilintar sembari menengok sedikit ke belakang.
"Boleh nyanyikan aku lagu? Lagu yang dulu papa-mama sering nyanyikan," pinta Ice.
Halilintar agak sedikit kaget dengan permintaan adiknya itu. Tapi ia mengalah dan mulai bernyanyi.
Dengan itu, Ice pun kembali terlelap dengan tenang sepanjang perjalanan pulang mereka.
