Sakit Rasanya
.
.
.
.
Disclaimer : Vampire Knight © Matsuri Hino
Satu, dua, tiga, action.
Rasa sakit bukanlah suatu hal tidak dapat dianggap sepele, malahan rasa ini bisa membuat orang menjadi pribadi yang kuat atau malah membunuh secara perlahan seperti virus yang menyakitkan yang menggerogotimu perlahan..
Bagaimana kisah Zero yang sedang mengalami kendala masalah ini?
Apakah ia masih bertahan menghadapi banyak cobaan yang sedang menimpanya ini?
Kita langsung saja guys scroll yuk ke bawah
.
.
Good Reading
.
.
.
Pagi yang dingin dan berkabut, aku memandang jalan dengan tatapan kosong, setelah ancaman dari Ketua Osis itu, membuatku semakin bingung dan stress. Bahkan di dalam bis ini, aku tidak bisa mendengarkan apaapun selain perkataan Kaname tersebut
Banyak pertanyaan dan ketakutan menyelimuti diriku, sebelum aku singgah di panggung sandiwara yang kusebut sekolah itu nanti. Aku memang sengaja menghabiskan uangku untuk naik bus ke sekolahku, padahal jarak rumahku dari sekolah tidak terlalu jauh.
Rasa kesal dan cemas ini membuat aku malas untuk melakukan sesuatu salah satunya adalah berjalan kaki ke sekolah.
Sampai di sekolah, aku akan mencoba bersikap seperti biasanya meskipun hatiku ini masih bingung dan sakit. Apalagi di depan gadis yang kucintai
"Aku harus tenang, aku harus tenang.." ucapku beberapa kali pada diriku sendiri
"Haloooo Zero-kun, selamat pagii"
"Huaaaaaaa" saat aku sedang melamun tiba tiba gadis yang kucintai namun tidak ingin kutemui menampar punggungku dengan keras membuatku hampir kehilangan keseimbangan
"Yuki-chan..." jawabku dengan suara kecil dan lirih, aku memalihkan mukaku
"Zero ayoo kita jalan bareng ke kelas yuk" ucapnya semangat tanpa dosa dan ia sangat maniss sekali
"Eeeh...,' batinku kaget krn tiba tiba menarik tanganku
Biasanya aku mengomel dan tersenyum padanya saat Yuki menarik tanganku, namun kucuman diam dengan wajah muram di wajahku. Bahkan aku berjalan lesu mengikutinya.
Sesampai di kelas, aku memperhatikan pelajaran sambil melamun dengan kondisi bimbangku saat ini, Yuki tidak berhenti menyapa dan tersenyum padaku saat pelajaran. Namun, dengan perasaan yg sakit aku mengacuhkannya sambil memandang ke lainnya.
Apa yang telah kulakukan adalah sesuatu yang belom pernah kulakukan pada Yuki sebelumnya. Kutakutkan dia sakit hati kuperlakukan seperti ini.
Aku mengalihkan pikiranku ini dengan tidur di meja kelas...
.
.
Bel Istirahat berbunyi, cepat cepat aku pergi meninggalkan kelas, menghindari Yuki yang saat ini masih serius mengerjakan matematika bersama teman temannya yang lain.
Aku mencari tempat yang sepi dan bersih supaya aku bisa makan dengan tenang tanpa ketahuan Yuki, dengan bekal roti dan susu dari rumah ini. Aku terlintas teringat gudang olahraga tenis yang biasanya sepi.
Akupun berlari kecil menuju kesana, aku tidak berani lari cepat karena akan mempengaruhi kesehatanku.
Sampai disana, aku merasakan angin semilir besar dari lapangan yang terbuka ini...aku menghirup udara segar ini sambil menutup mataku.
Aku membuka pintu gudang namun sayangnya terkunci
"Sial terkunci, biasanya gudang ini jarang terkunci" batinku kesal
Sambil menoleh ke kanan ke kiri, aku menemukan sebuah gang sempit samping gudang, tempatnya lumayan bersih dan juga sepi. Aku memutuskan untuk makan siang di tempat itu.
Mau tidak mau akan harus makan siang demi kesehatanku meskipun hari ini aku sangat tidak mood untuk makan apapun.
Namun, saat aku mau memakan sandwichku...
"Baaaaaaa, Zero-kun" seru Yuki yang sekali lagi muncul di hadapanku tanpa kusadari, tentu saja aku hampir tersedak karena kaget.
Aku langsung meminum susu cokelatku
"Huk...hukk..." aku masih terbatuk batuk meski aku sudah minum
"Kau tidak apa apa Zero-kun?" tanya Yuki lembut
Siaal... kenapa Yuki bisa tau aku disini, aku sudah berusaha pergi sembunyi darinya dan makan di tempat sepi seperti ini.
Aku mendiamkannya, lalu segera aku mengambil sandwich dan minumanku lalu pergi meninggalkan tanpa berbicara apapun.
"Sialan apa yg sudah kulakukan, kenapa aku berlagak seperti orang jahat disini" batinku kesal dan kecewa sendiri
Aku mencoba menoleh sedikit ke Yuki, gadis itu cuman terdiam sambil menganga lebar, melihat sifatku yang aneh ini.
"Zero-kun tunggu" Yuki mengejarku dan tangannya yang lembut menyentuh punggungku
"Ayoo temani aku ke kantin yuk" ajak Yuki sambil tersenyum
Haaah? Setelah aku memperlakukannya seperti itu, dia masih berlagak biasa saja bahkan tanpa emosi sedikitpun ia malah mengajakku ke kantin?
Bagaimana aku bisa menghindarinya Kaname, Gadis ini sangat ingin dekat denganku dan ia benar benar seorang malaikat yang sangat polos
.
.
Meskipun aku terus menghindar dari Yuki, namun selalu saja gadis itu mengikutiku terus di sekolah. Bahkan kadang berkata pedas bahkan mengacuhkannya, ia tetap menempel pada diriku.
Tentu saja aku kuatir sekali, jika Kaname melihat ini, ia akan membeberkan rahasia terbesarku ini pada Yuki. Aku tidak mau hal itu terjadi. Cukup aku yang merasakan sakit ini. Aku tidak ingin melihat senyum Yuki luntur melihat keadaanku yang seperti ini.
Apalagi dia sudah bertunangan, aku tidak tau apakah Yuki tau soal ini, dia terlihat biasa saja dan enjoy berada di dekatku seakan ia tidak punya siapapun yang ia dekati selain diriku.
Hari ini pelajaran olahraga, kami hari ini bermain bulu tangkis di lapangan terbuka. Tentu saja bukan hal menyenangkan bagiku yang tidak terlalu menyukai terik matahari yang panas dan menyengat.
Namun aku berusaha untuk tetap bertahan minimal setelah selesai penilaian bulu tangkis. Ooh ya soal olahraga aku tidak terlalu jelek banget meskipun kondisi tubuhku seperti ini, bahkan dokter pribadiku sering menyuruhku untuk tidak memaksakan diri saat pelajaran olahraga.
Setelah pertandingan satu lawan satu, aku menang dan mendapatkan skor hampir tipis 26-24
Yuki beberapa berteriak dan menyemangatiku, ia sangat senang aku menang bulu tangkis. Aku hanya tersenyum kecil tanpa menyahutnya meski Yuki sudah memujiku beberapa kali.
Tetapi tak lama kemudian Kepalaku mulai merasa pusing, aku memutuskan untuk istrihat di UKS, saat pelajaran olahraga sedang berlangsung tepatnya saat Yuki mendapat giliran bertanding.
"Kurasa ia tidak akan sempat mengejarku, saat ia sedang serius bertanding disana" batinku sambil diam diam izin ke guru olahraga, lalu pergi ke UKS sekolah
Aku pusing karena aku sudah terkena sinar matahari terlalu lama dan apalagi pikiranku sedang terbebani sekarang. Yaa kurasa benar kata Dokter jika pikiran kita penuh dengan beban masalah maka akan berpengaruh pada kesehatan juga.
Sesampai di UKS, aku langsung merebahkan diriku di kasur untuk beristirahat sejenak. Namun, aku teringat obat khususku tertinggal di kelas. Mau tak mau aku harus mengambilnya apalagi jam ini waktuku untuk minum obat..
"Aaah...mau tak mau aku harus mengambilnya di kelas, abis itu, aku akan langsung tidur"
Dengan kepala yang masih pusing, tubuhku yang sempoyongan berjalan menuju ruang kelas. Rasanya ingin segera istihat. Sampai aku dengan mata yang berkunang kunang aku melihat Kaname dan Yuki sedang berdua bersama di lorong sepi
.
.
.
.
Bersambung
Yaah lumayan pendek yak wkwkwkk
Gomen gomen, kebetulan aku membuat fanfic ini pas kerja PKL ini :v jadi yaa saat aku luang, aku membuat fanfic ini. Jadi yaa kadang kalimatnya tidak sebanyak sebelumnya. Jadi harap maklum yak
Yaa inti dari chapter 3 hari ini adalah tentang Zero yang berusaha menghindar dari Yuki namun gadis itu tidak seakan tidak mau lepas dan terus mengikuti Zero kemanapun. Sampai lelaki itu tidak tau harus berbuat apa lagi.
Lalu di ending Yuki bersama si Kaname, di lorong..
Ehmm, penasaran?
Tunggu chapter 4 yak
Itu saja sih salam dari Yuka-chan, jangan lupa favorite, follow, review fanfic ini yak. Arigatou Minna
