Alpha x Beta

.

.

.

CASTS © SMENT

.

.

.

See the end of the story for author's note

.

.

.

.

Setelah selesai mengantarkan eommanya pulang, Jeno langsung meminta izin untuk langsung pergi ke rumah Renjun, meskipun janjinya ia akan ke rumah Renjun nanti sore, tapi Jeno akhirnya memutuskan untuk datang lebih awal. Ia hanya ingin melihat calon matenya itu lebih awal.

Sebelum berangkat, ia memanaskan motornya dan menyiapkan dua helmet, tak lupa ia berkaca sebentar untuk memeriksa apakah dirinya sudah pantas dan cukup tampan untuk dilihat Renjun.

Yah meskipun Renjun tidak akan begitu peduli, tapi tak ada salahnya untuk selalu terlihat menarik di depannya. Pikirnya.

.

.

.

Ideal

Adalah kata yang sempurna untuk mendeskripsikan remaja muda yang sedang berdiri di depan kaca itu.

"Jaemin, kau sudah selesai membungkus semua puding dan buah yang eomma beli untuk nanti malam?" tanya suara seorang wanita tengah baya yang nampak rempong dan mondar-mandir di ruang tamu.

"Iya eomma, semuanya sudah ku siapkan, eomma tenang saja, dandanlah yang cantik." jawabnya sembari melemparkan senyum yang sangat menawan.

Ia Na Jaemin.

Anak laki-laki dari kerabat appanya Jeno, dan dalam kondisi kali ini, keluarga yang baru saja pindah itu nampak kerepotan, mereka harus segera siap-siap untuk acara makan malam tapi di saat yang bersamaan mereka belum sama sekali membereskan rumah. Banyak sekali kardus-kardus besar berisi peralatan rumah tangga atau benda-benda lainnya yang masih berserakan dimana-mana. sambil menunggu kedua orangnya bersiap, atau lebih tepatnya menunggu eommanya bersiap, Jaemin mendudukkan dirinya santai di sofa ruang tengah sambil meneguk segelas air dingin. Mulai besok, ia akan menjadi murid baru di salah satu SMA lokal, eomma dan appanya sangat panik bahwa nantinya Jaemin akan sulit untuk beradaptasi, apalagi mereka pindah ke daerah yang benar-benar asing.

Sebenarnya, acara makan malam ini dispesialkan untuk Jaemin, appanya tau bahwa anak dari kerabatnya, Jeno, bersekolah di tempat yang sama dengan calon sekolah Jaemin, maka dari itu appanya berharap bahwa sebelum masuk sekolahpun Jaemin sudah memiliki teman untuk berbicara.

Menurut Jaemin, kedua orangnya terlalu berlebihan, dan mungkin terlalu meremehkan keterampilan bergaulnya. Jaemin itu anak yang populer, sangat populer malah. Ia ingat pertama kali ia masuk SMA nya yang dulu, hanya butuh waktu dua menit saja untuknya mendapatnya banyak teman. Jaemin punya aura menenangkan dan ramah tamah yang membuat orang-orang tak segan untuk mendekatinya dan berteman dengannya, ditambah lagi sifat aslinya memang tipe yang easy going. Jadi menurutnya, tak harus bertemu Jeno pun dia akan tetap bisa bertahan di SMA barunya ini.

Terdengar cukup narsis memang, tapi memang itulah kenyataannya.

Bicara soal Jaemin, statusnya adalah alpha, tapi dulu ia adalah beta. Aneh bukan? tidak untuk jaman sekarang. Beberapa penelitian membuktikan bahwa status beta dan omega bisa berubah-ubah. Beta bisa berubah menjadi omega atau alpha, sementara omega dapat berubah menjadi beta, tak lebih dari itu, omega tidak bisa berubah jadi alpha. Tapi anehnya, alpha akan selalu menjadi alpha, selemah apapun seorang alpha ia tidak akan pernah turun statusnya menjadi beta. Itulah keistimewaan terlahir sebagai alpha murni.

Pertama kali Jaemin melakukan test status adalah pada umur enam tahun, dan hasilnya adalah beta. Tapi pada masa pubertasnya, ia merasakan hal yang aneh di sekitarnya, semuanya dimulai saat ia berusia sebelas tahun dimana ia pertama kali mencium bau omega, sangat harum dan asing di indra penciumannya. Ia bahkan sampai mengikuti sumber wangi itu berasal dan mendapati salah satu temannya sedang menahan heat di kamar mandi, bahkan parahnya ia hampir menyerang temannya sendiri. Untung pada saat itu ada guru yang kebetulan lewat dan memisahkan mereka berdua, pasca kejadian tersebut, Jaemin mengonsultasikan keanehan yang terjadi dalam tubuhnya dan dokter pun menyarankannya untuk melakukan test ulang. Positif, ia adalah seorang alpha baru. Dan sejak saat itu pula ia belajar untuk mengontrol dirinya dan lebih berhati-hati di sekitar omega. Menjadi alpha bukan hal yang mudah ternyata.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore saat Jeno sampai di depan rumah Renjun, ia menekan bel beberapa kali namun nihil, tidak ada jawaban. Ia mengintip sedikit ke arah garasi rumah Renjun dan ia tidak menemukan mobil yang biasa terparkir disana. Renjun hanya bilang bahwa orangtuanya akan pergi kencan hari ini, dan tentunya Renjun tidak diizinkan untuk ikut. Tapi mengapa ia tidak kunjung juga keluar saat Jeno menekan bel rumahnya beberapa kali?

Penasaran akhirnya Jeno merogoh sakunya dan mengeluarkan handphonenya, baru saja ia akan menelepon Renjun, namun sosok yang dicari muncul dari balkon lantai dua dengan handuk yang melingkar di lehernya juga rambut yang sedikit basah.

"Wow, pemandangan yang indah." batin Jeno.

"Tunggu sebentar, aku akan turun!" katanya sambil tergesa-gesa menuju lantai bawah.

Sambil menunggu Renjun datang, Jeno membersihkan tenggorokkanya dan mengecek pelan kondisi suaranya.

"Sempurna." ucapnya.

beberapa detik kemudian Renjun muncul dibalik pagar kayu yang cukup tinggi, masih dengan handuk dan rambutnya yang sedikit basah.

"Maaf, aku barusan mandi, jadi aku tidak terlalu mendengar suara bel. Lagian bukannya kau bilang kau akan datang sore hari, kenapa jam segini sudah datang?"

"Ah ya, tidak masalah. Yah, aku hanya ingin mengecek saja apakah kau heboh memilih pakaian untuk nanti malam, haha."

"Eh? kau bilang ini bukan acara makan formal, memangnya aku harus berpakaian seperti apa? aku berencana memakai pakaian biasa…. apa ada dress code?"

"Tidak tidak, aku hanya ingin datang lebih awal saja, memangnya tidak boleh? Lagian aku baru saja mengantar eomma untuk belanja, lalu setelahnya eomma mengusirku untuk buru-buru menjemputmu, jadi ya sudah aku langsung pergi kesini." bohongnya.

"Aha! bicara soal makan malam, sebelum datang ke rumahmu, temani aku ke toko kue sebentar ya, aku ingin membeli sesuatu."

"Sesuatu apa? kau tidak perlu membeli yang aneh-aneh, semua sudah disiapkan oleh eommmaku, jangan khawatir."

"Aih, bukan begitu… tidak sopan kalau bertamu tapi tidak membawa apa-apa."

Jeno hanya mengangguk pelan, dan Renjun menyuruh Jeno untuk masuk ke dalam rumahnya.

Seperti biasa, keadaan rumah sangatlah rapi dan ada wangi-wangi aroma terapi yang sangat disukai eomma Renjun, ah bahkan Jeno sampai tau hal-hal yang disukai orangtua Renjun. Jeno merebahkan diri di ruang tengah dan mulai menyalakan televisi, ada beberapa kue kecil di dalam toples tepat di atas meja di depannya, tanpa disuruh Jeno mengambil toples terdekat dan mulai menikmati kue itu.

"Sudah seperti rumah sendiri eh?" sindir Renjun geli.

"Lagipula pasti eomma mu akan menyuruhku untuk menghabiskan stock kue di toples itu kalau ia di rumah." Balasnya santai.

"Terserahlah, haha. Oh ya, ngomong-ngomong kau mau minum apa? aku baru saja membeli jus semangka dan mangga."

"Uhm…. kau ada susu kedelai?"

"Ada tapi yang rasanya coklat, tak apa?"

"Ah ya, tak apa. Terima kasih by the way."

Renjun hanya tersenyum tipis dan berjalan ke arah dapur, disana ia membuka beberapa rak yang berisikan gelas dan mengambil satu cangkir dan satu gelas besar. Kemudian ia membuka kulkas dan meraih susu kedelai kaleng juga jus mangga. Sambil menuang minumannya, ia menoleh ke arah Jeno yang sedang asik mengganti-ganti acara tv, ia terkekeh kecil. Ia sangat ingat pertama kali Jeno berkunjung ke rumahnya, sangat canggung dan kaku, apalagi saat kedua orangtuanya di rumah, ia seperti mati kutu. Padahal biasanya ia cukup cerewet. Sekarang lihatlah dia! sudah terlalu nyaman saat berkunjung ke rumahnya, bahkan benar-benar menganggap rumahnya adalah rumah sendiri.

Selesai berkutat dengan memori masa lalunya, Renjun membawa minuman itu ke ruang tengah dan menyuguhkannya di depan muka Jeno.

"Eh, kenapa milikku di gelas besar?"

"Berisik, terima saja apa yang sudah disediakan."

Setelahnya Jeno hanya menggerutu kecil, tapi tetap saja ia menghabiskan minuman satu gelas besar itu.

"Renjun, aku bosan. Ayo kita main game sebentar."

"Tidak-tidak! kita selalu lupa waktu kalau soal main game…."

"Lalu bagaimana? Acara tv tidak ada yang menarik, semua membosankan, produser jaman sekarang tidak kreatif." Komentarnya. Renjun hanya merespon dengan deheman kecil.

"Bagaimana kalau aku ganti baju dulu, habis itu kita langsung ke rumahmu. Tapi jangan lupa untuk mampir sebentar ke toko kue."

"Ide bagus!"

Dengan cepat Renjun langsung naik ke atas dan bergegas mengganti pakaiannya, simple saja. Ia hanya memakai hoodie berwarna netral ditambah jaket jeans berwarna hitam dan jeans biru tua. Hanya memakan waktu lima menit untuknya bersiap.

"Ayo." ajak Renjun sembari ia menuruni tangga.

Jeno pun mengangkat badannya dari sofa dan menyimpan bekas minumannya di dapur, membiarkannya begitu saja di tempat cucian sampai nanti ada orang yang mau mencucinya. Ia berjalan berdampingan dengan Renjun keluar dari rumahnya, tak lupa mengambil helmetnya yang sempat ia simpan di meja kecil dekat pintu masuk utama.

"Ah ngomong-ngomong aku tidak punya helmet….." ujar Renjun.

"Tenang, aku bawa dua, ku simpan di bagasi motorku." balas Jeno santai.

Setibanya di samping motor, Jeno segera membuka bagasi kecil motornya dan memberikan helmet yang barusan sempat ia simpan sebelum berangkat ke rumah Renjun. Mereka pun langsung memakai helmet tersebut dan bergegas.

"Pegangan yang erat, kalau takut kau bisa melingkarkan tanganmu di pinggangku." tutur Jeno.

"Heh, yang benar saja, kau kira aku perempuan." kekeh Renjun, ia tak sadar bahwa ada sirat kegagalan modus di wajah Jeno.

.
.

Setibanya di toko kue, mereka berdua langsung masuk dan sibuk dengan kegiatan masing-masing, Renjun sibuk memilih kue apa yang akan ia beli, sementara Jeno sibuk melihat semua kue yang dipajang di toko itu, semua terlihat sangat menarik dan menggiurkan bagi Jeno, rasanya ia ingin memakan semuanya. Saat sedang sibuk melihat-lihat, ada satu kue yang sangat menarik perhatiannya, carrot cake. Melihat deskripsi yang menggantung di kue itu membuat Jeno berpikir keras. Bagaimana caranya membuat kue dengan wortel…..

Tanpa pikir panjang, Jeno langsung menarik Renjun ke depan kue tersebut dan mengoceh panjang.

"Renjun, lihat-lihat!" serunya sambil menunjuk kue wortel. "Ada kue dengan bahan dasar wortel, kita beli yang ini saja ya, aku belum pernah mencobanya."

"Apa? tidak tidak! Aku mau membeli fruit cake."

Wajah Jeno langsung berubah menjadi murung, dan ia mulai memasang puppy eyes andalannya untuk membujuk Renjun.

"Ayolah Renjun…. please….."

"Tidak."

"Jebal…" rajuknya masih dengan puppy eyes andalannya.

"Ck! baiklah-baiklah! tapi kalau nanti yang lain tidak suka, aku akan menyalahkanmu dan kau sendiri yang harus menghabiskannya."

"Ok deal!" serunya. Sementara penjaga toko yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum geli melihat kelakuan mereka berdua.

Setelah Renjun selesai membayar belanjaan mereka, keduanya langsung bergegas menuju rumah Jeno.

.

.

Di depan rumah Jeno, sudah ada mobil hitam yang terparkir, jelasnya itu bukan milik keluarga Jeno.

"Kita terlambat, ayo cepat cepat!" panik Renjun sambil menarik tangan Jeno. Di dalam, mereka berdua langsung disambut hangat oleh tamu, tapi tidak tentunya oleh eomma Jeno yang langsung melihat Jeno sinis.

"Berani-beraninya kau telat, habis apa kau dengan Renjun?" kurang lebih itulah arti dari tatapan sinis eomma Jeno ke Jeno.

"Maaf semuanya, kami terlambat." kata Renjun sambil membungkukkan badannya. Melihat hal itu, eomma Jeno makin menatap sinis ke arah Jeno.

"Renjun pula yang minta maaf?!" begitulah arti kedua dari tatapan super sinis eomma Jeno. Melihat tatapan itu, Jeno hanya bisa meneguk salivanya dan menggaruk bagian belakang lehernya.

"Ah tak apa, jangan khawatir, kami juga baru sampai." respon seorang wanita tengah baya yang sedang berdiri dekat eomma Jeno."

"Agar tidak menunggu lagi, mari kita ke ruang makan, aku sudah menyiapkan semuanya."

Renjun dan Jeno sudah memperhatikan seorang laki-laki yang seumuran dengan mereka yang akan berpotensi sebagai teman baru mereka, dan pengganggu hubungannya dengan Renjun (khusus untuk Jeno).

"Sial, tampan juga dia!" cibir Jeno dalam hati.

Meja makan rumah Jeno tampak sangat mewah bak restoran bintang lima malam ini, semua makanan terlihat sangat enak dan penampilannya pun terlihat sangat mahal. Tumben sekali eomma Jeno menunjukkan skill asli memasaknya, biasanya setiap malam ia dan appanya hanya dikasih telur dadar dan nasi saja.

"Silahkan dinikmati hidangannya, mohon maaf kalau rasanya tidak terlalu enak, masak bukan terlalu bidangku." tutur eomma Jeno sambil memasang senyum manisnya. Cih! rasanya Jeno ingin menjerit dan mengatai eommanya, tapi dia tau dia tidak akan selamat sampai surga kalau ia benar-benar melakukan itu.

"Ah, tapi ada baiknya kalau kita saling memperkenalkan diri satu sama lain sebelum memulai makan malam ini, ditambah Jaemin akan mulai berteman dengan Jeno dan….." eomma Jaemin terdiam sambil menatap Renjun canggung, begitupun Renjun.

"Renjun, namaku Huang Renjun, ahjumma." katanya sambil mengenalkan diri dan melempar senyuman termanis di dunia menurut diary Jeno.

"Eh…. manisnya."

"Jaemin, aku Na Jaemin." balas Jaemin sambil tersenyum sopan ke arah Renjun.

"Jeno, Lee Jeno." balas Jeno sambil memasang wajah sebal ke arah Jaemin, yang kemudian disambut tatapan sinis oleh eomma Jeno yang duduk tak jauh darinya.

Ketika makan malam berlangsung, topik pembicaraan dibagi menjadi dua, para orang dewasa berbicara dengan omongan mereka sendiri, sementara Renjun, Jeno, dan Jaemin juga tenggelam dalam topik sendiri, tepatnya lebih mengarah pada keseharian sekolah Renjun dan Jeno yang nantinya akan menjadi sekolah Jaemin juga.

"Kalian terlihat sangat dekat." sahut Jaemin tiba-tiba.

"Ah ya, kami-"

"Benar, kami sangatlah dekat, sudah cukup lama, sekitar tiga tahunan mungkin, dan kami juga sudah sangat mengenal satu sama lain, ditambah lagi, kami- AH!" Jeno merasakan cubitan panas di pahanya, pelakunya tak lain adalah Renjun.

"Kau aneh sekali malam ini, nada bicaramu sinis dan wajahmu menyebalkan. Kau ingin membuat Jaemin takut, ha?" tegur Renjun. Jeno hanya menatap Renjun datar, dan saat ia melirik ke arah Jaemin, ia melihat senyum kemenangan tergambar jelas di wajahnya.

"SIAL!" rutuk Jeno dalam hati.

"Jaemin-ah, bisa tolong bantu eomma ambilkan puding yang barusan kita bawa di dapur?" tanya eomma Jaemin.

"Baik eomma." sahutnya sambil bergegas ke dapur.

"Ah, aku juga membawa sesuatu untuk kita makan bersama, biar ku siapkan juga." sahut Renjun dan langsung bergegas menuju dapur menyusul Jaemin.

"Aku akan bantu-"

"Tidak Jeno, kau disini saja, jangan menghancurkan dapur." balas eomma Jeno. Sementara lawan bicaranya tidak bisa berkutik apa-apa.

Di dapur, Jaemin dan Renjun mulai mempersiapkan makanan penutup yang mereka bawa, Renjun dengan kue wortelnya dan Jaemin dengan mangkuk-mangkuk kecil pudingnya.

"Temanmu cukup salty juga ya." celetuk Jaemin.

"Ah maaf, biasanya ia tidak seperti itu…. sungguh…. Biasanya ia ramah, tapi entahlah malam ini dia jadi seperti itu. Mungkin ia lelah."

"Atau mungkin dia hanya menjadi posesif." balas Jaemin sambil memasang wajah penuh arti.

"Posesif bagaimana, jangan bercanda." balas Renjun sambil tertawa kecil.

"Ah ya Tuhan…. kalau aku di posisi Jenopun aku pasti akan melakukan hal yang sama."

"Ah! atau mungkin dia hanya takut." balas Renjun lagi.

"Takut bagaimana?"

"Kau tau, kau punya aura yang mirip dengan Jeno, easy going, ramah, mudah bergaul, good looking, dan bedanya kau punya paras orang pintar dibanding Jeno." kekehnya pelan.

"Benarkah?" Jaemin tersenyum lebar mendengar semua pujian dari Renjun, rasanya gemas sekali.

"Sungguh, aku tidak sedang bercanda." balasnya tersenyum kecil.

Sementara Jeno yang melihat dari ruang makan hanya bisa merutuk kesal karena tidak mendapat izin untuk pergi ke dapur. Malam ini malam yang sial untuk Jeno.

"Uh, kalau boleh aku bertanya kurang sopan… boleh aku tau, apa statusmu?" tanya Jaemin. Sementara Renjun nampak sibuk dengan kuenya. "Ah, tapi jika itu mengganggumu, kau tidak usah menjawabnya." timpal Jaemin lagi.

"Tak masalah, kau tidak perlu nampak tidak nyaman seperti itu. Aku seorang beta." balasnya halus.

"Beta? Ah, aku dulu-"

"Jaemin, apa kau sudah selesai?" suara eomma Jaemin dari ruang makan terpaksa memotong percakapan privat mereka berdua, yang merupakan hal yang sungguh melegakan bagi Jeno. Ia tidak suka melihat Jaemin berduaan dengan Renjun.

"Barusan kau mau bilang apa?" tanya Renjun.

"Nanti saja kita lanjutkan obrolan kita di sekolah. Sekarang ayo kita bawa makanan-makanan manis ini ke ruang makan." katanya sambil menepuk bahu Renjun halus. Melihat kejadian itu, rasanya jantung Jeno hampir keluar,

"IA MENYENTUH RENJUN!" jeritnya dalam hati.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, dan sudah saatnya mereka menyudahi acara bertamu mereka, sebelum pulang, Jeno, Renjun dan Jaemin menyuci piring dan yang lainnya membersihkan meja makan. Seperti biasa, sebelum pulang, keluarga Jaemin berbasa basi sedikit dengan keluarga Jeno, setelahnya barulah mereka benar-benar bergegas ke mobil yang mereka parkirkan di depan rumah Jeno. Sementara ketiga remaja tersebut berdiri berdekatan, Jeno terlihat enggan untuk berbicara dengan Jaemin, Jaemin pun terlihat enggan memulai pembicaraan dengan Jeno, maka dari itu sedari tadi ia terus menarik perhatian Renjun.

"Renjun-ah, aku pulang dulu. Sampai bertemu hari senin." tuturnya sambil melambaikan tangannya ke arah Renjun. Yang diajak bicara hanya memberi senyum kecil dan membalas melambaikan tangan pelan. Melihat hal tersebut, Jeno membelalakkan matanya kaget dan memasang wajah tidak terima. Sontak ia langsung melempar tatapan tersinis yang ia punya ke arah Jaemin dan berharap ia sadar apa yang dimaksud perlakuan Jeno selama ini padanya, melihat reaksi Jeno, Jaemin malah melempar senyum sinis yang tak kalah menyebalkannya di mata Jeno.

"Oh….. nampaknya seseorang telah mendeklarasikan perang." ujar Jeno dalam hati.

Beberapa menit setelah kepergian keluarga Jaemin, kini Renjun yang pamit, awalnya Jeno bersikeras untuk mengantarkan Renjun sampai ke rumah, namun Renjun menolak dan mengatakan bahwa eomma dan appanya sudah pulang dari kencan dan akan menjemputnya di persimpangan perumahan Jeno. Jadi yang Jeno lakukan hanya mengantarkan Renjun sampai gerbang rumahnya. Dan setelah semuanya beres, Jeno mengunci pintu gerbangnya dan terduduk diam di teras rumahnya, banyak hal yang ia pikirkan malam ini, ia merasa keberadaan Jaemin sangat mengancam hubungannya dengan Renjun.

"Apa yang kau lakukan melamun disini? cepat masuk." ujar eomma Jeno.

"Eomma, aku tidak suka dengan Jaemin."

"Eomma tau, sangat terlihat jelas paras kecemburuanmu selama makan malam tadi."

"Ck, padahal ia baru pertama kali bertemu dengan Renjun, tapi ia sudah berlaga seolah ia sudah mengenal Renjun lama."

"Hentikan ocehanmu, daripada menggerutu, lebih baik pikirkan cara sehat agar Renjun tidak berpaling- maksud eomma, menjauh darimu."

"Kenapa eomma mengganti kata berpaling?" tanya Jeno kesal.

"Tentu saja, status Renjun hanya sahabatmu, bukan kekasihmu." katanya sambil menekankan dua kata terakhir. Jeno hanya berdecak kesal.

"Tapi harus eomma akui juga…. Jaemin dan Renjun tampak serasi, kalau mereka memang mate, kurasa rumah tangga mereka akan sangat sempurna, ditambah perilaku keduanya sangatlah idaman bagi setiap orangtua. Tidak sepertimu yang kekanak-kanakan." kekehnya pelan.

"EOMMA!" rengek Jeno sebal.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Hai… apa kabar kalian semua, sudah sangaat lama sekali semenjak author terakhir update, ugh…. dan author juga sangat berterima kasih karena beberapa dari kalian ada yang masih setia nungguin fanfic super lama ini. Semoga kalian enjoy ceritanya, dan author akan sebisa mungkin untuk update chapter selanjutnya. So, see you next chapter! jangan lupa like dan reviewnya! :D