My Teacher My Husband

III

By

Arisa Adachi

a.k.a

U-Know Boo

Pairing :: YunJae, and many more

Disclaimer :: They are not mine, tapi Changmin forever mine!

Warning :: YAOI, OOC, gaje, typo(s)

Sebelumnya saia mau ngucapin makasih banyak buat readers yang meripiu epep ni. Saia bener2 nggak nyangka kalau epep ini banyak yang sukaaa~… jeongmal gomawoyooo~

This fic dedicated for YOU

xxx

"Jae… Jae…"

Jaejoong membuka matanya perlahan ketika merasa ada yang menepuk pipinya. Yang pertama dilihatnya adalah sosok Yunho yang sepertinya baru mandi. Terlihat dari handuk putih yang melingkar di lehernya dan rambut cokelatnya yang basah.

"Sudah pagi, sana mandi" perintah Yunho sambil mengeringkan rambutnya.

Jaejoong menggeliat. Tangannya memeluk erat guling dan membenamkan wajahnya disana. Jaejoong memang punya masalah tentang bangun pagi.

"Jae…"

"Aku masih ngantuk, biarkan aku tidur sebentar lagi" rengek Jaejoong sambil mempererat pelukannya ke guling.

Yunho menghela napas, namja itu memutuskan untuk membiarkan Jaejoong tidur sebentar lagi. Toh, jam sekolah mulai sekitar satu setengah jam lagi. Yunho kemudian memasuki kamar di depannya. Kamar Changmin.

Tidak beda dengan ibunya bocah kecil itu masih bergulung nyaman dengan selimutnya. Yunho lalu menyibakkan gorden jendela, membiarkan sejumlah cahaya hangat matahari menyinari kamar berwarna baby blue itu.

"Changmin, ayo bangun. Kau harus sekolah kan?" gumam Yunho sambil menggoyangkan bahu kecil Changmin.

"Emm~ cebental lagi tou-chan~~ Min ngantuuukk~"

Yunho hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang tidak beda jauh dengan istrinya. Namja bermata sipit itu kemudian berjalan ke kamar mandi yang masih satu ruangan dengan kamar tidur Changmin. Setelah mempersiapkan air hangat pada bak mandinya Yunho kembali ke kasur Changmin.

"Changmin…" panggilnya. Namun masih tidak membuahkan hasil. Yunho lalu membuka selimut Changmin, ia tersenyum ketika melihat raut wajah Changmin yang berkerut karena terganggu tidurnya. Yunho kemudian menarik celana piyama Changmin dan melepas kancing baju piyamanya.

Setelah selesai menelanjangi Changmin *author merinding sendiri pas ngetik ini* Yunho lalu menggendong tubuh mungil anaknya dan dengan perlahan meletakkan Changmin ke bak mandi yang berisi air mendidih *plakk* bak mandi yang berisi air hangat.

"Euumm~ tou-chaaa~nn" gumam Changmin ketika kulitnya menyentuh air hangat. Mau tidak mau namja kecil itu membuka matanya ketika Yunho mengusapkan air hangat ke muka bulat Changmin.

"Nah, sekarang Changmin mandi sendiri ya? Bajunya tou-chan letakkan di kasur"

Changmin mengangguk sambil meraih mainan karetnya. Merasa Changmin sudah bisa ditinggal Yunho lalu berjalan menuju kamarnya. Huft, bayi kecil sudah selesai, sekarang tinggal mengurus si bayi besar.

Yunho menghela napas ketika melihat Jaejoong yang masih asyik bermesraan dengan kekasihnya alias guling. Namja itu merasa kalau memanggil Jaejoong hanya akan membuang waktu. Oleh karena itu Yunho mencoba membangunkan Jaejoong dengan cara dia membangunkan Changmin. Untungnya ia sudah mempersiapkan air di bak mandi di kamar mereka.

Yunho menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuh Jaejoong. Lalu dengan perlahan menarik celana piyama Jaejoong. Dan celana itu sukses terlepas, membuat Yunho menelan ludah karena menyaksikan sepasang paha mulus Jaejoong yang terpampang. Saat itu Jaejoong mengenakan boxer hitam super pendek di balik celana piyamanya. Nah, bagian bawah selesai. Yunho merangkak naik dan menelentangkan tubuh Jaejoong. Kelihatannya sang putri masih belum terbangun dari tidurnya. Yunho kemudian mengulurkan tangannya dan melepas kancing Jaejoong satu persatu.

Baru sampai di kancing ketiga, mata bening nan cantik itu terbuka dan melebar sempurna menyaksikan apa yang berada di depannya. Cepat dia mendorong tubuh Yunho dan mendudukkan badannya di kasur. Namja cantik itu memasang wajah horror ketika menemukan celana piyamanya teronggok di lantai.

"Ya! Jung Yunho! Kau mau memperkosaku, hah?" teriak Jaejoong.

"Aish, bicara apa kau ini, aku hanya ingin membangunkanmu tahu"

"Tapi 'kan tidak perlu sampai menelanjangiku begini!"

"Bagaimana lagi? Kau susah sekali dibangunkan. Aish sudahlah, sekarang cepat mandi dan turun ke bawah untuk sarapan" ujar Yunho lalu melangkah ke luar kamar.

Jaejoong hanya menggerutu. Namja cantik itu kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Begitu sampai dikamar mandi Jaejoong melepas pakaiannya hingga benar-benar tidak ada yang melapisi badannya lagi *readers jangan mimisan dulu ya?*.

Mata bening Jaejoong kemudian tertuju pada ember putih di sudut kamar mandi. Jaejoong beranggapan kalau ember itu tempat untuk meletakkan kain kotor. Dan benar saja, ember itu memang tempat untuk meletakkan kain kotor. Jaejoong baru akan meletakkan pakaian kotornya di ember itu ketika mata beningnya menangkap pemandangan sepotong kain berwarna putih yang familiar bagi Jaejoong di dalam ember tersebut. Seketika rona merah padam memenuhi wajah cantiknya. Jaejoong tahu betul kain itu adalah sebuah celana dalam. Tepatnya… *author tarik napas dulu* celana dalam Yunho.

Jaejoong menghela napas. Kehidupannya yang sekarang memberi begitu banyak kejutan.

.

Jaejoong mendudukkan dirinya di salah satu kursi di ruang makan. Terlihat penggorengan berisi telur ceplok yang sedang dimasak. Sementara yang memasak alias Yunho terlihat sibuk memakaikan dasi Changmin. Changmin saat ini sekolah di sebuah TK favorit di Seoul.

"Jae, tolong angkat telurnya, sepertinya sudah matang" perintah Yunho. Namun Jaejoong hanya melirik sekilas lalu memainkan ponselnya.

"Ya Jae! Tolong aku sebentar!"

"Aniyo, itu masakanmu 'kan?"

"Tapi Jae-" perkataan Yunho terpotong oleh Jaejoong yang dengan cueknya menempelkan headset di telinganya.

Melihat itu Yunho hanya menghela napas. Namja itu meninggalkan Changmin sejenak untuk mengangkat masakannya yang nyaris hangus.

Changmin kemudian berjalan menghampiri kursi dan berusaha menaiki kursi itu. Namun rupanya kursi itu cukup tinggi hingga Changmin merasa kesulitan untuk menaikinya. Jaejoong yang melihat itu lantas bangkit dari kursinya, namja itu melingkarkan tangannya pada pinggang Changmin dan membantu bocah kecil itu duduk di kursi.

"Minumlah susu yang banyak, kau ini pendek sekali" ketus Jaejoong.

"Ya! Kaa-chan jahat!"

"Eh?" Jaejoong menoleh ke Changmin. Dia bilang apa tadi? Kaa-chan? Oh yeah tentu saja, bukankah dia sudah menjadi istri sah Jung Yunho. Wajar kalau Changmin memanggilnya dengan sebutan 'kaa-chan', namun tetap saja masih terasa asing buat Jaejoong.

Sejenak suasana di dapur yang juga merangkap sebagai ruang makan itu hening. Jaejoong masih menggenggam ponselnya namun mata besarnya menatap punggung Yunho yang kali ini tengah membuat telur dadar. Jaejoong lalu menolehkan pandangannya ke Changmin yang tengah memakai dasinya yang tadi ditinggalkan oleh Yunho.

"Bukan begitu caranya" gumam Jaejoong sambil mengambil alih dasi Changmin. Namja bermata indah itu membetulkan dasi Changmin sambil menerangkan caranya.

"Nah, sudah rapi. Cobalah belajar untuk mengenakan dasi sendiri, supaya tidak merepotkan orang lain"

"Eumm~" Changmin manggut-manggut.

'ting nong'

Terdengar suara bel pintu depan. Mulanya Jaejoong mengacuhkan suara bel itu, tapi lama-lama jadi mengganggu juga karena entah-siapa-itu menekan belnya berulang kali.

"Oi soensaengnim, kau tidak dengar suara bel?"

"Kau tidak lihat aku sedang apa?" jawab Yunho yang sedang memasak dengan cuek.

"Kaa-chan, kenapa kaa-chan manggil tou-chan coencaengnim?"

Jaejoong memutar bola matanya, "memangnya kau berharap aku memanggil appa-mu dengan sebutan apa? Chagiya? Jangan harap!" gumamnya ketus lalu beranjak untuk membuka pintu.

Jaejoong agak tertegun melihat namja berambut pirang yang kini berdiri di depannya. Namja itu terlihat sangat cantik, terutama dengan lesung pipitnya.

"Anneyong haseo, Leeteuk imnida… eumm… kau?" namja cantik itu memiringkan kepalanya bingung.

"Eumm, aku K- maksudku… J-jung Jaejoong"

"Jung Jaejoong? Kau kerabat Yunho-sshi?" tanya Leeteuk.

"Emmm… yah semacam itulah…" gumam Jaejoong akhirnya. Bagaimana pun dia belum siap untuk memperkenalkan dirinya sebagai istri Yunho.

"Ah, kalau begitu seperti biasa aku ingin menitipkan Kyu… tolong ya"

Jaejoong menundukkan kepalanya dan mendapati seorang bocah berwajah manis seperti yeojya. Bocah itu berkulit putih bersih dan rambutnya coklat ikal. Bocah manis itu mengenakan seragam yang sama dengan Changmin.

"Eh, oh ya…"

Leeteuk menundukkan badannya dan mengecup puncak kepala anaknya, "ne Kyu, eomma berangkat kerja dulu ya? Baik-baiklah bersama Jae ahjumma, arra?"

Jaejoong membelalakkan matanya terkejut, 'mwo? Ahjumma? Aiish…'. Leeteuk lalu berjalan meninggalkan kediaman keluarga Jung.

"Nah, ayo masuk… eh?" gumam Jaejoong terkejut ketika mendapati bocah berambut ikal itu sudah memasuki rumah terlebih dahulu.

Bocah pendek seumuran Changmin itu menarik kursi dekat Changmin. Dan seperti Changmin tadi, bocah itu pun kesulitan menaiki kursinya. Kembali Jaejoong memutuskan untuk membantunya naik ke kursi.

"Ne, celamat pagi ahjucci, pagi Changminnie, pagi eumm…~ ah, Jae ahjumma!" ujar bocah itu memberi salam ke semua yang berada di ruang makan.

"Selamat pagi juga Kyu" jawab Yunho sambil meletakkan telur yang sudah masak ke piringnya, Jaejoong, Changmin dan Kyu.

"Ini siapa?" tanya Jaejoong.

"Namanya Kim Kyuhyun, anaknya Leeteuk ahjumma dan Kangin ahjussi. Tetangga sebelah. Kedua orang tuanya bekerja, karena itu Kyu sering dititipkan kemari. Dan lagi kebetulan dia dan Changmin satu sekolah"

"Ne, ne kaa-chan, celain itu Kyu juga calon ictli Min lho?" tambah Changmin sambil memeluk leher Kyuhyun.

"Kaa-chan?" Kyuhyun membeo bingung.

"Eum! Ini kaa-chan Min yang balu Kyuuu~"

Kyuhyun memandang Jaejoong lekat-lekat, "milip cama kaa-chan Min yang di poto ya?"

"Iya 'kan? Ini kaa-chan Min tapi edici laki-laki"

"Mwo? Belalti eomma Kyu ada juga dong yang edici pelempuan"

Jaejoong memutar bola matanya bosan. Dasar anak-anak sok tahu, pikirnya.

.

.

.

"Bye tou-chan! Bye kaa-chan!" teriak Changmin sambil melambaikan tangannya begitu sampai di TK.

"Bye ahjucci! Bye ahjumma!" yang ini Kyu yang berteriak.

Yunho balas melambaikan tangan sementara Jaejoong hanya diam. Setelah mengantar Changmin dan Kyuhyun ke TK, itu artinya di mobil hanya mereka berdua sekarang. Kini Yunho dan Jaejoong sedang dalam perjalanan menuju Dong Bang High School.

"Soal pernikahan ini lebih baik dirahasiakan saja" gumam Jaejoong, "aku tidak mau kalau nantinya aku diserang sama fans-mu yang brutal itu"

"Aku juga tidak mau orang lain mengetahui kalau aku menikah dengan orang sepertimu" sahut Yunho cuek.

Jaejoong memalingkan wajahnya ke Yunho, "apa maksudmu bicara begitu? Kalau sejak awal memang tidak mau menikah seharusnya kau bilang!"

"Terus kau sendiri kenapa setuju saja menikah denganku, hah?"

Jaejoong bungkam.

"Dengar Jae, aku menikah denganmu itu karena orang tua kita sudah menjodohkan kita, mengerti?"

"Terus kenapa kau menyetujui perjodohan itu?"

"Karena aku anak penurut, bukan sepertimu!" ketus Yunho, "lagipula Changmin masih kecil, anak sekecil itu pasti masih sangat membutuhkan sosok seorang umma"

Jaejoong menghela napas, "aku tidak pandai mengurus anak"

"Aku tahu, mengurus diri sendiri saja kau tidak becus"

Jaejoong memandang kesal pada Yunho yang masih santai menyetir.

"Oh ya, ada beberapa orang yang sudah mengetahui pernikahan kita"

"Siapa?" tanya Jaejoong.

"Kepala sekolah dan temanku Yoochun, dan kurasa sahabatmu Junsu juga sudah tahu"

"Ah, benar juga. Kurasa aku harus memperingatkan Junsu sebelum dia bicara ke yang lain"

.

.

.

Tidak sampai 15 menit kemudian mobil yang Yunho bawa sudah sampai di depan gerbang sekolah. Namun hanya Yunho yang berada dalam mobil itu, sedangkan Jaejoong turun sekitar lima meter dari sekolah. Dia tidak mau kalau ada yang melihatnya turun dari mobil Yunho.

Begitu sampai di sekolah Jaejoong langsung menuju kelasnya. Huft, beruntung waktu berjalan di koridor tadi tidak ada yang menanyainya yang aneh-aneh. Berarti memang tidak ada yang mengetahui tentang pernikahannya dengan Yunho.

Namun begitu sampai di kelas ia merasakan aura yang berbeda. Bangku tempatnya dan Junsu duduk terlihat dikerumuni oleh siswa lainnya yang kebanyakan adalah yeojya.

"Ah Jaejoong! Ayo lihat ini!" ujar Junsu yang sedari tadi di kerumuni.

Jaejoong mulai merasa tidak enak. Apalagi ketika kerumunan yeojya di bangku Junsu tadi kini menatap tajam padanya. Dengan perlahan Jaejoong mendekati Junsu.

"Lihat apa Su?" tanyanya.

Junsu tersenyum lebar, "ini lho, photo pernikahanmu dengan Yunho soensaengnim kemarin. Bagus-bagus lho! Apalagi yang ini!" tunjuk Junsu pada satu photo yang sukses membuat Jaejoong membulatkan matanya ketika melihat photo itu. itu photo ketika dirinya berciuman dengan Yunho. Aish, siapa yang memotret ini?

"Junsu pabbo! Kenapa kau bilang ke yang lain?" bisik Jaejoong.

"Lho? Memangnya tidak boleh ya?"

"Kim Jaejoong"

Jaejoong membalikkan badannya dan mendapati barisan yeojya berdiri di depannya. Dengan Taeyeon berdiri paling depan serta anggota 'Love YunYun club' lainnya. Tidak hanya yeojya dari kelasnya, tapi juga ada yeojya dari kelas lain.

"APA BENAR KAU MENIKAH DENGAN YUNHO SOENSAENGNIM HAH?" teriak Taeyeon tepat di wajahnya.

"Kalau iya kenapa?" balas Jaejoong tidak mau kalah. Memang awalnya dia tidak ingin menyebarkan berita ini, tapi semua sudah terlanjur. Photo-photo yang ditunjukkan Junsu barusan menjadi bukti paling nyata.

Jaejoong hanya diam menatap kerumunan yeojya yang seolah siap untuk membunuhnya saat ini. Mungkin setelah ini Jaejoong harus siap dibenci oleh seluruh yeojya di sekolah ini.

"Bagaimana ini ketua?" tanya Yoona ke Taeyeon, "kita tidak bisa lagi mempertahankan club kita karena Yunho soensaengnim sudah ada yang punya"

Taeyeon berpikir keras. Namun kemudian namja itu menghela napas, "dengan sangat terpaksa kita harus membubarkan klub kita" ujarnya dengan nada sangat menyesal dan disambut oleh desahan kecewa dari ratusan yeojya yang kini memenuhi kelas Jaejoong.

Tentu saja kecewa, sebab di sekolah ini klub Taeyeon dan kawan-kawan adalah klub dimana kau bisa mengetahui semua hal tentang Jung Yunho. Anggotanya tidak lain adalah seluruh siswi di sekolah ini dengan sembilan yeojya sebagai anggota inti. Well, sebenarnya ada juga namja yang menyukai Yunho, namun jumlahnya tidak sampai 20 orang.

"Tapi Taeyeon-ah, kalau klub ini dibubarkan, bagaimana kami bisa mengetahui kabar terbaru tentang Yunho soensaengnim?" tanya seorang yeojya yang diiyakan oleh yeojya lainnya.

Taeyeon kembali berpikir keras. Sebagai ketua 'Love YunYun Club' yeojya cantik itu tidak mau kalau harus mengecewakan anggotanya.

"Aku tahu!" seru Taeyeon yang membuat yeojya-yeojya memandangnya penuh tanya.

"Jadi bagaimana ketua?" tanya Sooyoung.

Taeyeon tersenyum lebar. Yeojya itu kemudian berpindah ke samping Jaejoong dan menghadap ke kerumunan yeojya lainnya, "tenang saja! 'Love YunYun Club' tidak akan bubar!" serunya, "kita hanya perlu mengganti nama klub-nya saja"

"Menggantinya? Jadi nama klub kita apa?" tanya Hyoyeon bingung.

Taeyeon terkekeh pelan, "hohoho… mulai sekarang 'Love YunYun Club' berganti nama menjadi 'LOVE YUNJAE CLUB'!"

"MWO?" tidak hanya para yeojya pecinta Yunho itu saja yang terkejut, Jaejoong sendiri terkejut luar biasa. YunJae? Aiiish…

"Kalian setuju 'kan?"

Para yeojya terlihat berpikir.

"Aku setuju" celetuk Sunny, "bukankah lebih baik kalau Yunho soensaengnim itu sama Jaejoong saja? Supaya Ara soensaengnim yang kecentilan itu berhenti mendekati Yunho soensaengnim, ya 'kan?"

Kini para yeojya terlihat setuju dengan ide barusan. Well, daripada Yunho digrepe-grepe sama Ara, lebih bagus kalau Jaejoong saja yang menggrepe-grepe Yunho 'kan?

"Nah, mulai sekarang kita adalah anggota 'Love YunJae Club'! HIDUP YUNJAE!"

"HIDUP YUNJAE!"

"HIDUP YUNJAE!"

"YUNJAE IS REAL!" *khusus yang ini author yang teriak*

Jaejoong mendesah pelan mendengar teriakan para yeojya yang terkesan seperti rakyat yang baru mendapat kemerdekaan.

"Hidup YunJae!"

"Kenapa kau ikut-ikutan Su?" Jaejoong mendelik kesal pada sahabatnya.

"Hehehe… aku 'kan temanmu, jadi aku akan selalu mendukungmu, Jae"

Jaejoong hanya memutar bola matanya bosan.

.

.

.

"Selamat pagi, pengantin baru" sapa Yoochun sambil menyeringai ketika melihat sahabatnya baru tiba.

Yunho memutar bola matanya, "yeah, selamat pagi" jawabnya pelan.

"Jadi bagaimana?" tanya Yoochun lagi.

"Apanya yang bagaimana?"

"Tentu saja istrimu"

"Memang kenapa dengan Jaejoong?"

Yoochun menepuk jidat lebarnya, "aigooo, maksudku bagaimana dengan istrimu? Sempitkah?" kali ini Yoochun menambahkan seringai pada kata terakhirnya.

Yunho memasang wajah berpikir. Namun kemudian semburat merah memenuhi wajahnya, "Ya! Bicara apa kau Park Yoochun!"

"Hei santai saja kawan! Jadi bagaimana?"

Yunho mendudukkan dirinya di kursi lalu membuka-buka buku absen, "kami tidak melakukan apa-apa semalam"

"Mwo? Benarkah? Kenapa?"

"Jaejoong masih kecil, aku tidak mau melakukan yang seperti itu dengan anak kecil" jawab Yunho singkat.

"Aish, jangan berbohong Yun"

Yunho hanya mendengus kesal, "untuk apa aku berbohong? Daripada itu, kau sendiri kapan menikah, huh?"

"Aku? Aniyo, kurasa aku tidak ingin menikah, aku ingin hidup bebas"

"Dasar" desis Yunho.

Hening sejenak. Ruang guru perlahan mulai ramai didatangi oleh guru lain.

"Oppa," Yunho mengangkat kepalanya ketika mendengar ada yang memanggilnya.

"Ada apa Ara-ah?" tanya Yunho.

"Oppa, kudengar oppa menikah dengan Jaejoong-sshi, benarkah?"

"Mwo?" Yunho membulatkan matanya. Bagaimana Ara bisa tahu? "bagaimana kau bisa tahu?"

"Jadi benar ya?" Ara memasang tampang mewek plus kecewa setengah mati, "aku tahu dari obrolan siswi"

"Mwo?" kalau sudah menjadi obrolan para siswi, berarti kabar pernikahannya dengan Jaejoong sudah meluaskan di seluruh sekolah kan?

"Yoochun! Kau yang menyebarkan berita itu ya?" tuduh Yunho ke Yoochun.

"Aniyo! Aku tidak mengatakan itu pada siapapun"

Yunho hanya menghela napas. Apa boleh buat kalau sudah ketahuan begini. Dengan langkah gontai namja itu berjalan keluar dari ruang guru begitu mendengar bel berbunyi. Jam pertama di kelas Jaejoong. Yunho hanya bisa menghela napas.

Dan disinilah Yunho kini berada. Di dalam kelas, di depan siswanya yang delapan puluh persennya adalah yeojya. Rata-rata yeojya itu tersenyum penuh arti ke arahnya. Yunho melirik Jaejoong dan mendapati namja itu menopang wajahnya sambil menghadap keluar jendela.

"Ehem" Taeyeon sang ketua kelas sekaligus Leader of Love YunJae Club bangkit dari kursinya, "saya mewakili seluruh kelas ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan Yunho soensaengnim dengan Jaejoong-ah"

Sekejap kelas penuh dengan tepuk tangan serta ucapan semacam 'selamat' memenuhi ruang kelas. Yunho hanya bisa tersenyum ramah menanggapi semua itu. Sedangkan Jaejoong memanyunkan bibirnya kesal.

"Terima kasih" gumam Yunho masih dengan senyum ramahnya.

"Ne, soensaengnim, apa Jaejoong-ah istri yang baik?"

Jaejoong mendelik pada yeojya yang bertanya tadi.

"Ne, ne… Jae istri yang sangat baik" jawab Yunho tenang.

"Kalian dengar itu?" celetuk Tiffany, "Yunho soensaengnim menyebut Jaejoong-ah dengan Jae, kyaaaa~"

"Imutnyaaaa~"

"Kyaaaa~ manis~"

"Hyaaaa~"

Jaejoong memutar bola matanya bosan. Apa yang manis dari panggilan itu? ckckck…

"Soensaengnim," kali ini Soehyun yang bertanya, "kira-kira soensaengnim ingin punya anak berapa?"

Pertanyaan dari Soehyun sontak membuat yeojya seisi kelas itu blushing parah dan senyum-senyum gaje. Kata 'anak' secara tak langsung membuat adegan NC-21 YunJae tergambar jelas di otak mereka.

"Kami belum memikirkan untuk punya anak, mungkin nanti setelah Jae tamat sekolah" jawab Yunho dan kembali membuat para yeojya itu ber-kyaa-kyaa ria.

"Nah, sekarang buka bukua halaman…"

"Soensaengnim!" lagi-lagi seorang yeojya mengangkat tangannya.

"Ya Jessica-sshi?"

"Ceritakan bagaimana malam pertama soensaengnim dengan Jaejoong-ah!"

"Mwo?" Jaejoong membelalakkan matanya terkejut, begitu pula dengan Yunho. Sementara yang lain memasang wajah mesum. Kecuali Junsu, namja imut super innocent itu hanya memiringkan kepalanya bingung.

"Heh! Dengar ya! Aku dan Yunho sama sekali tidak melakukan apa-apa! Jadi berhenti bertanya yang aneh-aneh!" ujar Jaejoong frustasi. Namja cantik itu benar-benar merasa kesabarannya diuji.

Mendengar jawaban Jaejoong, kembali para yeojya ber-kya-kya ria. Ckckck… dasar yeojya-yeojya aneh.

.

.

.

Jaejoong merebahkan badannya di kasur. Hari ini adalah hari paling melelahkan sedunia. Betapa tidak, kemana pun Jaejoong pergi para yeojya selalu mengerubunginya. Tentu saja mereka semua menanyakan tentang bagaimana Yunho di rumah. Belum lagi waktu jam pelajaran bahasa Inggris tadi, Ara soensaengnim si guru bahasa Inggris selalu menyuruhnya mengerjakan soal ini-itu dan tidak jarang memarahinya ketika Jaejoong melakukan kesalahan. Jelas Ara cemburu padanya. Walau begitu para yeojya di kelasnya senantiasa membelanya.

*Flasback*

"Ya Jaejoong-sshi! Jawaban macam apa itu?" seru Ara kesal melihat jawaban Jaejoong di papan tulis.

"Jawaban macam apa? Lihat saja sendiri jawaban macam apa itu" balas Jaejoong tidak mau kalah.

"Jaejoong-sshi, banyak-banyak belajar di rumah! Bahasa Inggrismu sangat payah! Kalau begini bagaimana kau bisa lulus sekolah, hah?"

"Aiish… Ara soensaengnim ini bagaimana sih? Soensaengnim tahu kan kalau Jaejoong-ah sudah menikah dengan Yunho soensaengnim?" celetuk Jessica.

"Hoo~ terus? Apa hubungannya dengan pelajaran, hm?" balas Ara ketus. Baginya seluruh yeojya di sekolah ini adalah musuh beratnya.

"Tentu saja ada soensaengnim, Jaejoong-ah tidak punya waktu untuk belajar, sebab Jaejoong-ah harus mengurus Yunho soensaengnim" jawab Jessica yang mengundang tawa seluruh kelas. Jaejoong sendiri juga nyaris tertawa melihat raut wajah Ara yang seperti mau makan orang itu.

*flashback end*

Jaejoong bangkit dari tidurnya. Saat ini di rumah hanya ada dia sendiri. Changmin sedang main dengan Kyuhyun di rumah Leeteuk, sedangkan Yunho sedang mengecek keadaan Changmin.

Dengan malas-malasan Jaejoong melepas dasinya dan kancing baju-bajunya satu persatu. Begitu terlepas Jaejoong meraih sebuah kaus lengan panjang berwarna pink. Selesai dengan baju, namja itu agak menunduk dan melepas celana seragamnya. Tepat ketika celana itu lepas dari tempatnya tiba-tiba saja pintu terbuka.

"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu!" seru Jaejoong kesal ketika mendapati bahwa Yunho-lah yang membuka pintu.

"Memang kenapa? Ini kamarku 'kan?" balas Yunho.

"Tapi aku sedang ganti baju!"

"Lalu?"

Jaejoong mengerut kesal. Cepat-cepat namja itu mengacak lemari untuk mencari celana santai. Sesekali gerutuan meluncur dari bibir merahnya. Sangat berbanding terbalik dengan Yunho yang kini tertegun memandangi sosok Jaejoong.

Namja cantik itu mengenakan kaus panjang berwarna pink dengan bawahan masih berupa sebuah boxer pendek berwarna hitam. Memamerkan sepasang kaki jenjang Jaejoong yang putih mulus. Belum lagi pose Jaejoong yang agak menungging. Jaejoong sedang mencari celana pendek, namun di mata Yunho, Jaejoong terlihat seperti sedang memamerkan bagian belakang tubuhnya.

Sebelum terjadi sesuatu yang diinginkan oleh author nan berotak mesum, Yunho memutuskan untuk keluar kamar.

Jaejoong telah mendapatkan celananya dan memakainya. Namja cantik itu agak heran ketika mendapati Yunho tidak lagi berada di kamar. Tapi apa peduli Jaejoong? Bukankah itu bagus kalau Yunho tidak berada di dekatnya?

Tidak sengaja mata bening namja itu tertuju pada sebuah album yang terletak di bawah meja. Tertarik dengan itu, Jaejoong lalu meraih album itu dan membukanya. Namja itu duduk di lantai dengan menyenderkan tubuhnya pada kasur.

Yang pertama adalah foto Yunho sewaktu kelulusan SMA, namja itu terlihat masih begitu muda. Rambutnya agak panjang dan berwarna hitam *bayangin Yunho di MV Hug yaa?*. Lalu foto kedua dan sangat menarik perhatian Jaejoong adalah foto Yunho dengan seorang yeojya yang begitu cantik. Seorang yeojya yang begitu mirip dengannya.

Yeojya itu memiliki rambut coklat lembut dan bergelombang. Wajahnya putih merona, bola matanya bening dan indah, serta bibirnya berwarna merah cherry. Secara keseluruhan sangat mirip dengan fisik Jaejoong. Bedanya Jaejoong seorang namja.

Jaejoong jadi teringat waktu pertama bertemu Changmin, bocah kecil itu sempat memanggilnya dengan sebutan 'kaa-chan'. Berarti yeojya cantik di foto ini adalah ibu kandung Changmin atau dengan kata lain, istrinya Yunho.

Jaejoong menggigit bibirnya pelan. Ia tidak mengerti kenapa, namun sebersit perasaan tidak nyaman memenuhi rongga dadanya. Cemburukah ia?

Kembali Jaejoong membolak-balik album foto itu. Ada foto Changmin waktu masih bayi. Foto Changmin dengan Kyuhyun. Foto Yunho dengan yeojya itu.

Namun ada yang aneh dengan foto-foto itu. Kenapa tidak ada foto pernikahan Yunho dengan yeojya itu? Atau foto yeojya itu dengan Changmin. Padahal disitu ada foto Changmin yang masih bayi berada dalam dekapan Yunho, tapi mana foto Changmin dengan ibunya?

"Sedang lihat apa?" sebuah suara membuyarkan lamunan Jaejoong. Yunho lalu berjalan mendekati Jaejoong dan duduk di samping Jaejoong.

"Oi, kenapa tidak ada foto pernikahanmu dengan istri pertamamu?" tanya Jaejoong.

Yunho tidak langsung menjawab. Namja itu memandang Jaejoong dengan tatapan ragu.

"Lalu kenapa tidak ada foto Changmin dengan ibunya?" tanya Jaejoong lagi.

Kembali Yunho tidak langsung menjawab dan itu membuat Jaejoong kesal, "hei!" gerutu namja cantik itu.

Yunho menghela napas panjang, "ada yang ingin kukatakan padamu" gumamnya.

Jaejoong memandang Yunho bingung. Raut wajah guru sekaligus suaminya itu terlihat serius, "tentang apa?" tanya Jaejoong.

"Tentang Changmin"

Jaejoong memiringkan kepalanya bingung, "kenapa dengan Changmin?"

Kembali Yunho menghela napas, "Changmin bukan anakku dan yeojya di foto itu juga bukan istriku"

==tbc==

a/n :: hyaaaaaaaaaa~~ 85 reviews untuk dua chapter~~~~ jeongmal gomawoyooooo~~ gak nyangka banget fic begini banyak yang seneng… hahahaha~

ne, sebenernya saia gak tega bikin Changmin bukan anak kandungnya Yunho, tapi saia lebih gak tega lagi kalau bikin Yunho udah nikah ama yeojyaaaa~ jadi mohon maaf kalau ada readers yang kecewa ya?

Untuk M-preg kemungkinan besar akan saia munculkan, tapi kalau NC belum tau deh… saia gak sanggup bikin NC *plakkk!* *PENIPU!*

Ne, sekali lagi mohon ripiu-nyaaa yaaaa~?