Naruto punya Masashi Kishimoto

Kenyataan yang Gak bisa di ubah

Haru no aoibara – 2014

Untuk hubungan Sasu-Saku-Hina-Sai bakal di buka saat di klimaks atau anti klimaks mungkin. Yang jelas Sekarang akan fokus ke kehidupan Sakura kecil dulu.

Hikari sombong? Bener banget

Sasuke pedofil? Rasa sayang Sasuke ke sakura kecil sebatas ayah dan anak kok.

Kenapa Sakura di buat meninggal? Karena semua berpusat di masalalu Sasu-saku-hina

Well langsung aja

silahkan membaca


Sakura POV

Ini hari pertamaku di sini.

Aku terbiasa bangun pagi. Ada yang aneh dengan selimutku. Harusnya tidak rapi seperti ini karena aku selalu tidur dengan berantakan. Apa mungkin gara-gara kasur yang nyaman ini? Aku jadi berfikir, apa semua kasur mahal membuat yang menggunakannya tidur dengan sangat nyenyak?

Aku ingat semalam Tousan memperkenalkan semua anggota keluarganya padaku. Hinata kaasan yang cantik Itachi jiisan juga anaknya Hikari. Aku senang punya keluarga. Setelah itu dia membawaku ke sebuah ruangan yang besar. Ada kasur yang sangat besar berkali-kali lebih lebar dari futon yang sering kupakai. Jendela besar dengan tirai berhias bunga-bunga sakura. Tapi dari barang barangnya terlihat ini bekas kamar orang dewasa atau kamar tidur tamu mungkin. Kemudian aku memutuskan untuk tidur. Perjalanan dari Suna kemarin masih membuatku lelah. Setelah mengganti baju dengan piyama yang ku bawa di tas segera aku membenamkan diriku di bawah selimut.

Lalu...

'Bau ini...'

Bau ini mirip dengan bau beruang biruku. Aku meloncat dari kasur dan segera mencari boneka itu. 'ah ketemu!' kuhirup dalam dalam bau khas ini. Lalu aku mencium permukaan bantal yang aku tempati tadi. Sama. Baunya sama. Mungkin Papa memang tidak berbohong. Ini memang bau kaasan. Bau yang menyenangkan. Kurasa bau ini membuatku betah berlama-lama di tempat tidur dan membaawaku ke ujung alam mimpi.

Karena hari ini hari minggu jadi aku ingin tahu apa yang bisa ku lakukan hari ini. Aku keluar dari kamar menuju ke lantai bawah. Tercium aroma-aroma yang menggoda menghampiriku. Aku melihat jam dinding besar di sana menunjukan jam lima pagi. Saaat aku menuju ke dapur aku melihat beberapa orang memakai pakaian hitam putih disini. Sepertinya mereka pembantu. Tapi kenapa aku tidak melihat mereka ya semalam. Aneh. Lalu tiba-tiba saja seorang pembantu menyapaku dengan hormat. "Sakura-sama perkenalkan saya Kepala pelayan di sini, Saya biasa di panggil chiyo baasan " Lalu setelah beberapa percakapan dia memintaku untuk membersihkan diri. Chiyo baasan juga merapikan kamarku yang sebenarnya sudah kucoba rapikan saat bangun tidur tadi. Dia mengajariku menyalakan shower, tentang bathub dan bahkan pengatur suhu ruangan. Aku baru sadar kamar ini seperti kamar hotel yang mewah. Baru setelah aku mandi Chiyo Baasan membawakanku sebuah baju terusan putih dengan pita merah di pinggannya.

Aku yang sudah bersiap dengan baju tadi langsung keluar dari kamar mandi. Chiyo baasan sudah pergi. Ah pasti karena aku terlalu lama tadi. Sayang pikiranku salah karena setelah itu Chiyo basaan datang lagi membawa trolley penuh dengan makanan. Aku mencicipi makanannya tidak lupa berterimakasih. Rasanya sangat lezat.

Setelah sarapan aku diantar Chiyo baasan ke ruang tengah. Dan saat aku tiba Ruangan ini masih sepi hanya aku yang ada di sini. Ku kira yang lain sudah bersiap.

Chiyo basaan yang sepertinya mengerti bahwa aku bingung memberitahuku bahwa Hinata Kaasan sedang membangunkan Hikari yang memang tidak suka dibangunkan pagi di hari minggu. Itachi jii-san juga masih belum bangun. Tapi katanya Tousan sudah bangun dari tadi akan segera kemari. Sambil menunggu Tousan mataku terpaku menuju halaman yang luas dari balik kaca. Semalam gelap jadi aku tak menyangka ada begitu banyak bunga di sini. Rumputnya juga sangat hijau. Pasti tempat ini sangat cocok untuk piknik.

Saat pikiranku mulai melayang aku mendengar suara langkah kaki. Itu pasti Tousan. Saat aku berbalik kudapati Tousan berjalan duduk ke sofa putih. Dia memannggilku untuk mendekat "Kemarilah" Lalu aku duduk di sampinya. Dia menanyakan semua tentang kehidupanku. Dimana aku sekolah atau bagaimana perkembanganku. Tentu saja aku menjawab dengan jujur bahwa aku tak pernah sekolah. Aku melihat mata Tousan sedikit berkilat entahlah seperti marah dan kecewa. Ah sepertinya di hari pertama Sakura sudah mengecewakan Tousan

POV Sakura end

Sakura kecil menunduk merasa bersalah. Sasuke yang melihatnya menegakan kepala sakura dengan tangan berada di dagu mungilnya. "Sekarang kau sudah disini. Kau bisa minta apasaja yang kau mau. Jadi kau mau apa?" Sakura masih enggan untuk menjawab. Dia masih berfikir. Setelah itu dia memandang Taousannya dengan mantap ia berkata "Sekolah, aku ingin sekolah" Sasuke tertohok, sebenarnya tanpa diminta pun sasuke akan melakukannya. Yang sasuke tanyakan adalah mungkin sakura menginginkan mainan yang bagus atau semacamnya untuk seukuran Sakura. Tapi nyatanya Sakura di depannya ini sederhana. Sama seperti Sakuranya dulu. Tak pernah menuntut apapun. Seharusnya sasuke merasa bahagia. Tapi kenapa ia merasa sesak jika harus belama-lama menatap wajah Sakura anaknya ini. Sepertinya dia harus segera pergi. "Baiklah, senin nanti kita cari sekolah untukmu" setelah mengatakan itu sasuke cepat cepat pergi dari ruangan itu tanpa tahu Itachi bersandar di belakang tembok, menguping sedari tadi.

Setelah memastikan Sasuke menjauh barulah Itachi menghampiri sakura yang masih berada di sofa.

"Selamat pagi sakura, kau cantik hari ini" Sakura memandang aneh Itachi. Tadi saja Tousannya sudah wangi dan rapi tapi kenapa Jii-sannya seperti orang baru bangun tidur? "Sakura chan boleh aku bertanya?" Tanpa basa-basi dan agar Itachi segera menuntaskan rasa penasarannya maka Ia segera bertanya pada keponakan merah mudanya itu. Setelah sakura menyetujuinya barulah Itachi bertanya "Apa Sai memperlakukanmu dengan buruk?" Sakura mengeleng cepat, Ia tidak suka ada yang berpikiran buruk pada Papanya yang sudah merawatnya sejak kecil. Papa yang dia sayangi

"Papa sangat baik. Aku lahir prematur. aku masuk rumah sakit berkali kali. Papa tidak pernah meninggalkanku. Semua uang dan tabungannya digunakan untukku. Jadi Jiisan jangan berpikiran buruk tentang Papa "

Manangkup kedua pipi chaby Sakura. Menatap lekat-lekat mata yang tengah menahan tangis. "Maafkan Jiisan ya" Dengan sebuahpermintaan maaf yang tulus membuat Sakura menganggukan kepalannya pelan. Tiba-tiba saja tangan itachi yang menangkup pipi sakura berubah menjadi cubitan keci di kedua pipi Sakura. Membuat sakura meringis "Hei hei hei jika kau cemberut terus di rumah ini bisa-bisa wajahmu berubah seperti Chiyo Basaan, mau?" Sakura kaget bukan main "I..itu enggak mungkin" Itachi terkikik melan melihat Sakura yang meraba-raba pipi chabynya sendiri .Kelihatan sekali jika Sakura memikirkan perkataan Itachi. Pada dasarnya Sakura itu masih polos. Sangat polos malah. Dan bisa saja kepolosan anak tidak berdosa ini dimanfaatkan itachi untuk kepentingannya sendiri. Lagi pula Hikari sudah kebal dengan segala bujuk rayunya, Ingat Konan sensei kan?

Hari minggu dijalani sakura. Meski belum terbiasa. Sakura akan mencoba membiasakan diri. Sayang Hikari masih belum mau bicara dengannya. Sakura sendiri tidak tau alasan apa yang yang membuat Hikari begitu.

Sakura POV

Saat ini kami semua sedang berada di ruang makan. Aku duduk di Sebelah Hinata kaasan dan di depanku ada Hikari. Aku tahu dari Hinata Kaasan jika kami seumur, hanya beda beberapa bulan saja. Seharusnya dia memanggilku nee-san karena aku lahir dua bulan lebih dahulu. Tapi Hikari bersikeras memanggilku imouto. Dengan alasan aku baru akan masuk di tahun pertama di sekolah. Entahlah aku hanya merasa Hikari tidak menyukaiku. Atau mungkin malu punya saudara sepertiku. Buktinya saja ia tak pernah menganggapku ada. Padahal menurutku dia adalah Otuto yang manis. Apalagi saat merajuk pada kasaannya.

Sakura POV end

"Itachi-nii kali ini , aku yang akan mengantar Hikari ke sekolah"

Hikari langsung menghentikan acara makannya. Matanya berbinar cerah. Baru kali ini Tousannya mau mengantarkan dia ke sekolah. "Asyiiik!" serunya

"Yah sayang sekali" Timpal itachi, padahal rencananya dia akan sekalian bertemu dengan pujaan hatinya dengan alasan menitipkan sakura tentunya. Modus. Tapi toh sisi baiknya mungkin adiknya ini mulai menjalankan fungsi sebagai ayah? ya hanya sasuke sendiri yang tahu.

"iya Hikari tau, paman sayang dengan Konan sensei"

Brussss

Secangkir kopi tersembur dari mulut Itachi. "maksud paman bukan itu Hikari"

.

.

.

Hikari yang turun dari mobil memasang wajah cemberut. Memang dia senang Tousannya mengantarnya. Tapi masalahnya kenapa harus mengajak anak kampung itu sih. 'Menyebalkan'. Hikari langsung melesat masuk kedalam bangunan sekolah. Sebenarnya tujuan Sasuke membawa Sakura adalah untuk mengikuti tes ujian masuk. Berhubung tahun pelajaran baru sudah di mulai. Sasuke juga ingin tahu seberapa jauh perkembangan anaknya yang di asuh Sai ini. Jadi Sasuke membawa sakura ke ruang kepala sekolah. Seorang uciha harus mendapatkan yang terbaik bukan?

Setelah Sakura selesai mengerjakan tes , seorang guru cantik menarik atensinya. Dengan warna rambut bitu dan mata orange cantik. Oh jangan lupa dengan bunga yang tersemat di rambutnya. "Halo anak manis. Jadi kau saudaranya Hikari ya?"

Sakura mengangguk "Hai" Tatapan konan beralih ke sasuke. "Jadi dia akan bersekolah di sini juga ya Sasuke?"

"Hn. Hasil tesnya keluar sebentar lagi, jika kau tak keberatan maukah kau mengajaknya berkeliling" Konan tersenyum dengan lembut. Ternyata Apa yang dikabarkan oleh Itachi semalam benar. Akan ada anak kecil yang imut berambur gulali masuk ke sekolah ini. Karena semalam Konan sudah taruhan bahwa tidak mungkin ada anak berambut pink, maka ia harus berkencan malam minggu besok dengan Itachi. Haaah itachi kau benar-benar orang yang suka memanfaatkan anak kecil. Dengan senyum mengembang konan memperkenalkan dirinya pada Sakura. "Aku adalah guru di sini, kau bisa memanggilku Konan-sensei" 'Jadi ini yang namanya konan sensei' pikir Sakura kecil

"Aku Sakura"

Selanjutnya sakura mengikuti langkah Konan yang dengan cerianya menunjukan ruangan ruangan yang ada. Meninggalkan tatapan penuh arti dari Sasuke. Sampai akhirnya mereka berada di halaman sekolah. Terlihat di sana Hikari sedang bermain dengan teman-teman seusiannya.

"Hikari-kun bisa kemari sebentar"

Hikari yang mendengar Konansensei memanggillnya segera menoleh. Lalu memincingkan mata mendapati orang yang dia benci ada disana. Sedikit mendengus dan dengan enggan dia meninggalkan teman-temannya yang sedang asyik membahas entah apa. Urusan anak-anak. Hikari akhirnya mendekati Senseinya itu

"Ne Hikari-kun kau mau memperkenalkan Sakura ke teman-temanmu kan dan ajak dia bermain, aku titip dia ya. Aku akan ke kantor sebentar. Aku segera kembali" Tanpa menunggu persetujuan Konan berlalu meninggalkan dua bocah itu. Langsung saja Hikari menatap garang pada Sakura. Sakura yang ditatap merasa sangat tidak nyaman akhirnya mengeluarkan suaranya. "Nii-san kenapa menatapku seperti itu" Hikari yang ditanya semakin cemberut dan menekuk wajahnya.

"Jangan panggil aku nii-san! Kenapa kau masih disini!"

Sakura menundukan kepalanya lalu menjawab "Tousan bilang aku akan bersekolah di sini, nii-san" Hikari benar benar sebal kali ini. Sakura itu sudah tiba-tiba datang ke rumahnya. Memanggil tousan dengan sebutan Tousan juga lalu sekolah disini juga Astaga. Hikari akan benar-benar protes pada kaasannya di rumah nanti.

"Jangan panggil aku nii-san! pokoknya panggil aku Hikari-sama kalau di sekolah!"

"ta..tapi"

"Diam! Dasar menyebalkan!" Hikari berlari menuju ke ruang kelasnya meninggalkan Sakura dengan raut sedih di mukannya. Lihat sepertinya Hikari benar benar membenci Sakura. Sakura sepertinya akan melewati banyak rintangan di sekolah barunya ini

Masih di tempat yang sama di bagian Hikari saat kembali ke teman-temannya."Hikari kun, dia tadi siapa. Apa dia temanmu?" Seorang gadis berambut coklat terang mendekati Hikari

"Bukan" ucap hikari cuek tanpa minat.

.

.

.

Beralih ke sebuah ruangan bertuliskan ruang kepala sekolah. Ada dua orang sedang duduk berhadapan. "maaf Uciha-san, apakah Sakura pernah mengikuti home schooling atau sejenisnya?" Sasuke sedikit tidak yakin untuk menjawab pertanyaan ini karena menurut penuturan Sakura, sakura sama sekali belum pernah Sekolah "Kurasa tidak"

"Kalau begitu ini menabjubkan Uciha-san. Menurut hasil tes kami Sakura bisa mengerjakan semua dengan sempurna bahkan untuk materi di tingkat tiga dia sudah menguasainya"

"Tapi bagaimana bisa" Lagi-lagi sasuke dibuat terkejut dengan ini. Bagaimana bisa sakura yang tidak pernah masuk ke sekolah dasar bisa mengerjakan semua tes yang diberikan. Dan apalagi ini. Langsung ke tingkat dua bahkan tingkat tiga? Setara dengan Hikari, melampaui malah. Sakura memang penuh kejutan

"Kami menyarankan agar Sakura-san bisa langsung masuk ke tingkat dua atau mungkin tiga. Dia anak yang jenius"

Tanpa pikir panjang Sasuke segera berpendapat "Kurasa lebih baik dia masuk di tingkat yang sama dengan Hikari" Mungkin menurut Sasuke Sakura akan merasa sedikit nyaman bila ada yang menemaninya di kelas. Toh apalagi dia adalah Hikari yang merupakan saudara Sakura. Sayang sekali kau mengambil langkah yang salah Sasuke, karena dengan ini Hikari akan semakin membenci Sakura.

"Baik lah kalau begitu, untuk administrasi bisa segera anda selesaikan beserta seragam bisa anda ambil ,Uciha san"

Sakura yang semenjak tadi ditinggalkan Hikari tengah kebingungan dengan semua bangunan yang adda. Semua ruangan terlihat sama untuknya. Sampai akhiranya dia bertemu Yoko.

"Hei sakura "

"Sedang apa disini?"

"aku sedang bingung"

"Astaga maksudku kenapa kau berada di sekolah ini?" Yoko sedikit menahan tawanya. Setiap kali dia berbincang dengan sakura selalu saja membuat tawanya lepas.

"Ah Tousan mendaftarkanku di sini"

"oh jadi begitu, ayo ke tempat niisan" Kalau begini sakura hanya bisa pasrah. Sebenarnya dia sedang mencari ruang bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah' tempat dimana Tousannya berada. Tak ia sangka ternyata si kembar Yoko dan Yukio juga satu sekolah di sini.

"Nii-san! Lihat orang yang ku bawa." Melihat kembaranya yang nyaris tersedak dengan tidak kerennya Yoko hanya meringis. 'Aduh nii-san memang payah' "titip sakura ya, dia butuh bantuanmu, aku mau main ya , bye.." Dengan kecepatan kilat Yoko segera angkat kaki dari sana.

"hei hei hei, Yoko kau ini!" Yoko itu datang tiba-tiba pergi juga tiba-tiba. Kenapa dia punya tenaga yang selalu full dan tak habis-habis begitu? Sungguh perpaduan gen ekstrim dari Tenten dan Neji yang unik.

"A ano yukio-kun bisa kau antar aku keruang kepala sekolah"

Yukio mengaruk pipinya yang tidak gatal. Tatapannya yang semula memandang ke koridor tempat Yoko pergi beralih ke sakura. Sedikit memalingkan tatapanya Yukio bertanya "Jadi kau tersesat ya?" Sakura kecil memerah dalam diam. "Ayo ku antar"

Begitu membuka pintu Sasuke mendapati sakura kecil tengah menunggunya. Sakura yang melihat sasuke membawa kantung sedikit penasaran, karena Sasuke juga tiba-tiba menyodorkan kantung itu padanya. "Seragamu" Sakura cepat-cepat menerimanya dan membukanya. Seragam yang sama seperti yang Hikari pakai. Hanya bedanya yang Sakura punya saat ini adalah Rok dan bukan celana yang seperti punya hikari. Mendapati sakura yang tersenyum senang Sasuke mengukir senyum tipis. Sepertinya sakura sudah bisa menerimanya sebagai Tousannya. "Ayo pulang" Setelah mengacak rambut sakura gemas Sasuke segera mengandeng sakura menuju rumah. Hari ini biarlah Itachi yang menggantikannya untuk rapat.

.

.

.


Terima kasih untuk yang Riview di Chap dua

Maaf jika Chap ini mengecewakan, Kemarin adek aoi sakit semua mood nulis berkurang deh.

Buat yang mau Riview monggo