Title: The Sequel of Sorry, Sorry

Cast:

Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Choi Minho as Jung Minho

And other

Desclaimer: Semua cast milik Tuhan YME, but this story is mine

Genre: Family, angst, friendship, brothership

Rating: T

Warning: Just fanfic, don't like don't read, death chara, typos, OOC, alur membosankan, cerita pasaran.

Summary: Hanya selembar kisah yang tertulis setelah bertahun-tahun berlalu

.

.

Sorry, Sorry

Sequel

Pemuda dengan surai coklat ikal itu tersenyum mengingat percakapannya dengan seseorang. Saat itu, saat mereka baru masuk ke universitas bersama, delapan tahun lalu.

"Hyung tak membenciku?"

"Untuk apa aku membencimu?"

"Sungguh?! "Hyung, kau tidak berbohong kan?"

"Uhm.. Aku tidak bohong."

"Tapi.. kenapa kau tidak membenciku?

"Eh?"

"Aku terlalu jahat padamu selama ini. Kau sudah menderita sejak lama. Kalau kau memang membenciku... tidak! Aku memang pantas kau benci. Selama ini aku seolah menutup mata jika Changmin hyung pergi bukan karenamu. Aku tau jika aku salah, tapi tetap saja, aku bersikeras jika kau bersalah. Mana mungkin ada manusia macam diriku? Aku salah. Aku salah, hyung. Benci aku, hyung! Bencilah aku sebanyak yang kau mau! Benci aku... Maafkan aku.."

"Minho-ya... Tuhan tidak menciptakan manusia untuk saling membenci pada sesamanya. Jika seseorang membenci kita, maka balaslah mereka dengan kebaikan, bukan dengan kebencian."

"Tapi aku salah.."

"Salah atau tidak, bukan kau yang menentukan. Biarkan waktu berjalan sebagai mana mestinya. Hidupmu di masa depan adalah hidupmu di hari ini. Biarkan masa lalu menjadi cerminan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik."

"H-hyung..."

"Aku bukan tidak membencimu. Aku memang tidak bisa membencimu, walau sedikitpun. Aku selalu teringat bagaimana Changmin menyayangimu. Bahkan di saat terakhirnya, ia masih sempat menitipkanmu padaku."

"Kyu hyung..."

"Kau adik Changmin, berarti kau juga adikku. Aku begitu menyayangimu, Minho-ya.."

"Kyuhyun hyung.. aku juga menyayangimu."

"Sudah, jangan menangis. Kau sudah tujuhbelas tahun."

"Hyung! Aku lagi-lagi menangis karena dirimu."

"Hahaha! Maafkan aku... Sini, biarkan hyung memelukmu."

Kyuhyun tak dapat menahan senyumnya lagi. Ia terus tersenyum saat berjalan dari kamar menuju ruang tamu.

"Hyung, kenapa tersenyum sendiri?"

Kyuhyun tersentak. Seingatnya, ia sudah tinggal sendiri di apartemen miliknya sejak lima tahun lalu. Otomatis hanya ada ia di apartemennya -kecuali saat orangtuanya berkunjung dan...

"Min! Bagaimana kau bisa masuk?" Serunya pada pria yang sedang -tersenyum lebar- duduk santai di sofa.

Minho hanya mengerjap. "Rahasia. Kau harus hati-hati saat memilih password apartemenmu, hyung." Ucapnya saat Kyuhyun duduk disampingnya.

Kyuhyun menghela napas. Sepertinya ia harus mengganti password apartemen miliknya -lagi. Kekanakan sekali. Minho membobol apartemennya dengan cara yang licik. Jangan katakan jika Kyuhyun tidak tau darimana Minho bisa tau. Pasti Minho memohon pada ibunya untuk diberi tau soal password apartemennya.

"Satu dua tiga empat lima enam..."

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Minho sedang menggodanya saat ini dengan melafalkan enam digit password apartemennya.

Kadang, Kyuhyun tidak percaya jika Minho yang sekarang duduk disampingnya ini adalah mantan atlet basket nasional yang sekarang aktif di dunia musikal. Sedikit melenceng memang.

Tepatnya dua tahun lalu. Minho saat itu mengundurkan diri dari dunia basket karena faktor cidera pada bahunya yang tidak mungkin digunakan untuk bermain basket. Sangat disayangkan, padahal Minho masih sangat muda waktu itu. Selama tiga bulan, Minho hanya berdiam di rumah dan Kyuhyun merasa frustasi melihatnya.

Namun, pada suatu pagi, Minho datang ke apartemennya dan bilang jika ia akan membuka toko peralatan olahraga. Kyuhyun hanya bisa mengiyakan saat itu.

Selama setahun, toko yang semula sederhana berkembang menjadi gerai peralatan olahraga dengan skala yang lebih besar. Dan tujuh bulan lalu, saat keluarga mereka sedang makan malam bersama, Minho tiba-tiba berkata jika dirinya sudah tergabung dalam judul musikal yang akan pentas sebulan yang akan datang.

Kaget, tentu saja. Kyuhyun pikir Minho sedang bercanda. Tapi, jawaban Minho membuat Kyuhyun dan keluarganya, termasuk orang tua Minho tutup mulut

"Aku bosan berurusan dengan angka dan managemen penjualan. Lagipula aku harus menyalurkan bakat terpendamku selain berolahraga."

Kira-kira seperti itulah jawaban dari Minho. Sejak saat itu, urusan gerai milik Minho diambil alih oleh Jaejoong ahjumma dan sesekali Minho datang untuk melihat.

"Bajumu rapi sekali. Kau ada rapat dengan klien malam ini?" Tanya Minho sembari menegakkan tubuhnya.

Kyuhyun kembali ke dunia nyata. Ia tidak sadar telah melamun sejak tadi. Ia merapikan jas yang dipakainya. "Teman kerjaku menikah hari ini. Aku di undang kesana." Jawabnya disambut anggukan dari Minho. Berbeda dengan Minho yang sempat berganti profesi, Kyuhyun tetap dalam lingkar perusahaan sejak lulus kuliah.

"Mwo?! Berarti kau tidak ikut ke panti asuhan bersamaku hari ini?" Kyuhyun mengusap dadanya karena kaget. Minho mengucapkan kalimatnya dengan keras, padahal jarak duduknya hanya dua jengkal dari Minho.

"Dengan menyesal, aku berkata ya. Aku tidak bisa datang kesana hari ini." Kyuhyun melempar pandangan meminta maaf.

Minho menghela napas. Mau bagaimana lagi? "Huh, baiklah."

.

.

.

"Dan akhirnya sang putri hidup bahagia bersama pangeran untuk selamanya. Yeah! Selesai." Tepuk tangan menyudahi cerita pria bermata kodok itu. Belasan anak kecil yang duduk di depannya tersenyum dengan ceria.

Seorang wanita paruh baya menghampiri pria itu. "Anak-anak, ucapkan terima kasih pada Minho-ssi." Ucapnya dengan nada lembut khas seorang ibu pada anak-anak di ruangan itu.

"Terima kasih, Minho-ssi." Seru mereka membuat Minho tersenyum. "Ne, sama-sama." Balasnya.

Wanita yang berstatus sebagai kepala panti asuhan itu kemudian mengarahkan anak-anak untuk tidur, mengingat jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Saat Minho beranjak dari tempat duduknya, ia mendapati seorang bocah perempuan berumur tujuh tahun yang ia ketahui bernama So Hee menghampirinya.

"Minho oppa..." Minho menyamakan tingginya dengan So Hee. Ia tersenyum pada bocah perempuan itu.

"Ne, ada apa, So Hee-ya?" Balasnya, membuat bocah kecil itu tersenyum lebar. Tangan kecil So Hee memeluk leher Minho dengan erat. Minho tersentak, namun kemudian membalas pelukan So Hee.

"Oppa sangat tampan. So Hee akan menikah dengan oppa jika sudah besar nanti."

Wanita yang baru kembali dari kamar anak-anak panti itu tersenyum saat mendapati So Hee ternyata berada di ruangan ini bersama Minho. Ia kembali ke ruangan ini memang untuk mencari So Hee yang belum masuk kamar.

"Tapi saat So Hee sudah besar nanti, oppa sudah tua." Ucap Minho lalu melepas pelukan.

So Hee merengut. "Tak apa. Oppa tetap tampan." Ucapnya membuat Minho tertawa.

"So Hee-ya, ayo ke kamar. Sudah waktunya tidur. Kau bisa mengobrol dengan Minho oppa di lain waktu."

"Uhm, eomma."

Bocah kecil itu melayangkan kecupan di pipi Minho sebelum pergi. Minho terkekeh lalu melambaikan tangannya pada So Hee. Saat siluet keduanya menghilang di lorong kamar, Minho membereskan beberapa buku cerita yang terpakai olehnya.

Setelah selesai merapikan buku dan beberapa peralatan yang ia pakai, Minho duduk di kursi yang terletak di beranda panti asuhan. Ia merenggangkan tubuhnya yang sejak pagi tadi beraktifitas lebih.

"Minho-ah..." Minho berdiri dari duduknya. Wanita kepala panti asuhan bermarga Oh itu tengah tersenyum padanya. "Kenapa kau datang sendiri hari ini?" Tanya Ahjumma Oh setelah keduanya duduk kembali di kursi.

"Kyuhyun hyung sedang menghadiri pernikahan rekan kerjanya. Ia menitipkan salam untuk ahjumma. Ah, hyung juga meminta maaf karena tidak bisa datang hari ini."

Ahjumma Oh hanya mengangguk pelan. "Tak apa. Sampaikan padanya untuk tidak sungkan. Ahjumma sangat berterima kasih karena kalian berdua mau datang rutin ke panti asuhan kami. Itu sangat membantu, Minho-ah. Padahal ahjumma tau, kalian termasuk orang yang sibuk."

Minho menggeleng perlahan. "Aniya, jangan membicarakan soal itu. Sudah menjadi kewajibanku untuk membantu anak-anak di panti asuhan ini." Ujarnya membuat Ahjumma Oh tak bisa membantah.

Pria disampingnya ini rutin membantu anak-anak di panti asuhan ini sejak tujuh tahun lalu. Tentunya tidak sendiri. Minho selalu datang bersama Kyuhyun, pria yang selalu Minho panggil dengan sebutan 'hyung'. Namun, kadang Minho maupun Kyuhyun membawa beberapa teman ataupun rekan kerjanya. Wanita paruh baya itu bersyukur karena dua pria itu sangat membantu dalam segala hal.

"Sudah malam, aku pamit pulang, ahjumma."

.

.

.

Kyuhyun memasuki apartemennya. Ia melepas sepatu pantofelnya dengan sandal biasa. Ia memasuki kamar lalu melepas jas yang dipakainya. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian, Kyuhyun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Ia mendudukkan diri di pinggiran tempat tidur. Ia mengambil ponsel lalu mengecek apakah ada pesan atau email dari rekan kerjanya. Setelah membalas beberapa pesan dan email yang masuk, ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.

Kyuhyun membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Tubuhnya sangat lelah dan ia butuh tidur. Namun, ia belum mematikan lampu kamar. Dengan terpaksa Kyuhyun beranjak dari tempat dengan gaya gravitasi paling besar baginya saat ini lalu mematikan lampu kamar.

Gelap

Dan Kyuhyun menghela napas karena sebelum mematikan lampu kamar, ia lupa menyalakan lampu tidur. Sebenarnya tidak masalah, karena bukan sekali ini saja Kyuhyun lupa menyalakan lampu tidur terlebih dulu. Sebut saja itu sebagai kebiasaan Kyuhyun.

Ctek

Cahaya redup menerangi kamar saat Kyuhyun berhasil menyalakan lampu tidur. Ia berniat merebah di tempat tidur lagi kala kedua maniknya tidak sengaja bertabrakan dengan kalender di samping lampu kamar.

"Apakah.." Kyuhyun segera mengecek tanggal pada ponselnya lalu kembali menatap lingkaran pada kalender di tangannya.

.

.

.

"Hyung, kau mendengarku dari sana?" Minho memandangi selembar foto di tangannya. Potretnya bersama sang kakak dan juga Kyuhyun saat masih kecil.

"Kau bahagia kan?"

"Apa aku mengecewakanmu?"

"Kau tidak boleh sedih disana.."

"Aku menyayangimu.."

Tes

Tes

Tes

Bulir bening mendesak keluar dari kedua maniknya. Mengalir lewat pipi lalu jatuh ke lantai di bawah kakinya. Tidak peduli dengan dirinya yang sudah duapuluhlima tahun, ia tetap menangis saat teringat akan Changmin.

Minho mendekap foto itu di depan dada. Biarkan ia menangis walau hanya sebentar. Karena besok, ia tidak ingin menangis.

.

.

.

Tap

Langkah kaki jenjang itu terhenti diantara rerumputan yang tumbuh samar. Jejeran batu nisan yang tertata rapi menghampar dari sisi kanan ke sisi kiri. Pohon kamboja tumbuh di sela-sela nisan. Wangi bunga menyeruak di indera pencium pria duapuluhenam tahun itu.

Di ujung sana, beberapa orang tengah menabur bunga di salah satu nisan. Kakinya kembali melangkah. Semakin dekat dan akhirnya berhenti kala sampai di dekat mereka.

Kyuhyun menundukkan kepalanya samar saat mereka memandangnya.

"Kami sudah selesai. Minho, Kyuhyun, kami pergi dulu."

"Ne" itu jawaban dari Minho yang berdiri disisi paling kanan. Kyuhyun menyahut setelahnya.

"Appa dan eomma juga pergi dulu, Kyu. Jangan lupa mampir ke rumah hari ini." Itu suara Hangeng. Kyuhyun mengangguk, "Ne, appa," balasnya.

Setelah pasangan suami istri itu berlalu, Kyuhyun melempar senyum samar pada Minho. Senyum di bibir Minho menjadi balasan.

Kyuhyun mengalihkan fokusnya pada batu nisan di hadapannya. Ia berjongkok, mengelus pelan nama yang tertera di sana. Lapisan tipis menghalangi penglihatan pria yang tahun depan akan diangkat sebagai direktur utama di perusahaan tempatnya bernaung.

Aku datang lagi

Tangannya meraih keranjang bunga di samping tubuhnya lalu menaburkan isinya ke atas makam.

Ada jeda cukup panjang sampai Kyuhyun kembali menegakkan tubuhnya. Pria berambut coklat itu mengamati Minho yang masih menatap ke arah makam dengan tatapan sayu.

"Kita mulai sekarang, hyung." Minho berucap tanpa menatap wajah Kyuhyun. "Uhm, ne." Balas Kyuhyun.

Hening. Hanya terdengar tarikan napas dari kedua orang yang masih terdiam.

"Halo, Changmin hyung. Aku datang lagi. Kedatanganku ke seratus tiga belas di tahun ini. Tidak sesering tahun kemarin ya, hyung. Maaf, hyung, tahun ini aku tidak lagi duduk di kursi untuk mengurusi kertas dengan label harga lagi. Aku sekarang menjadi pemain musikal, hyung. Bayangkan, adikmu ini adalah seorang aktor. Ah, aku teringat ucapanmu dulu. Kau bilang ingin menjadi aktor jika sudah besar nanti."

"Tapi... ternyata Tuhan lebih menyayangimu..." Suara bass milik Minho semakin bergetar di setiap kalimat. Kyuhyun memjamkan matanya. Tak ada yang boleh menangis di depan makam Changmin. Bahkan Minho telah mengikrarkan hal itu sejak beberapa tahun lalu.

"Kau tidak perlu khawatir, hyung. Aku beralih menjadi aktor karena untuk mewujudkan impianmu. Kau bahagia kan, hyung?" Tanya Minho pada makam Changmin. Walau hanya hembusan angin yang menjadi jawaban, Minho tersenyum.

"Kau harus bahagia disana. Aku dan semuanya.. selalu mendoakan hyung dari sini. Changmin hyung... aku menyayangimu..." Minho mengakhiri kalimatnya dengan suara parau.

Kyuhyun membuka matanya beberapa detik setelah Minho berhenti bicara. Ia menghirup napas dalam lalu menghembuskan perlahan. Sebuah senyum terulas di bibirnya.

"Chang, aku datang lagi. Maaf karena aku jarang menemuimu tahun ini. Pekerjaan di perusahaan sangat menyita waktu, mengingat aku akan diangkat sebagai direktur utama tahun depan. Bukankah itu hebat, Chang?"

"Ah, aku sangat kesal karena adikmu ini kembali membobol password apartemenku lagi kemarin. Sudah ke empat puluh sembilan kali, terhitung sejak terakhir aku menceritakannya padamu. Itu menyebalkan, Chang. Aku sangat ingin menendangnya.. tapi aku tak tega. Aku terlalu menyayangi Minho."

Minho menoleh pada Kyuhyun. Mati-matian ia menahan laju airmata yang hampir jatuh dari kedua maniknya. Padahal hal ini telah mereka lakukan sejak delapan tahun lalu. Tapi, entah lah. Minho masih merasa jika ia melakukannya untuk pertama kali.

"Ya! Itu bukan salahku, hyung. Kau terlalu simpel memilih password sehingga aku bisa menebaknya." Dengan suara yang parau, Minho menyela ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun memasang wajah tidak percayanya. "Dia bohong, Chang. Jelas sekali dia bohong. Aku tau jika Minho menanyakan soal password pada ibuku." Balasnya.

Minho terbelalak. "M-mwo? I-itu.." ucapnya tergagap.

Kyuhyun mengukir senyum melihatnya. "Lihatkan, dia ketahuan bohong." Ucapnya seolah tengah berbicara dengan Changmin.

"Jadi, selama ini kau tau, hyung? Kenapa tidak mengatakannya?"

"Kenapa...

Obrolan itu terus berlanjut. Bahkan hampir menyentuh tiga jam. Obrolan hanya antara Kyuhyun dan Minho yang menceritakan soal hidup mereka selama setahun ini kepada Changmin.

.

.

.

Srek srek srek

Bunyi dedaunan yang saling bergesekan terdengar samar. Kyuhyun membuka matanya perlahan. Ia menoleh pada Minho yang duduk disampingnya. Adiknya itu -Kyuhyun suka saat menggunakan panggilan ini- masih memejamkan mata.

"Kurasa Tuhan begitu adil." Ucap Minho tanpa membuka mata. Kyuhyun menggumam setuju dengan ucapan Minho.

"Changmin hyung memang pergi. Tapi, Kyuhyun hyung ada sebagai penggantinya."

"Pengganti ya?"

"Uhm.. pengganti. Kyuhyun hyung menempati posisi Changmin hyung yang kosong. Bukan mengambil alih, tapi hanya sebagai pengganti."

Kyuhyun tersenyum. "Kau benar. Tak ada yang bisa mengambil alih posisi Changmin. Changmin tetap pada posisinya, namun aku, aku berada sejajar di samping kakakmu. Begitukan?"

"Ya, hyung."

Jeda.

Kyuhyun mendongak menatap langit. Lautan biru cerah terhampar di langit. Cerah dan indah. Tiba-tiba ia tersenyum. Ia seolah melihat Changmin tengah tersenyum padanya.

Minho yang memperhatikan Kyuhyun ikut mendongak. Ia ikut tersenyum melihat senyum imajiner di langit.

Srek srek

Daun yang jatuh di tanah ikut berterbangan karena hembusan angin yang kuat.

Wush wush

Kyuhyun membenarkan rambutnya yang tertiup angin.

Tap

"Ayo pulang. Kau harus sudah berada di rumah jam sepuluh nanti. Dan sekarang sudah pukul sembilan lebih tigapuluhlima menit."

Kyuhyun beranjak dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya pada Minho. Tak menerima uluran tangan Kyuhyun, justru Minho hanya memandanginya lekat.

Tangan ini yang dulu menggenggam tangan Chang hyung

Tangan ini yang mati-matian menyelamatkan Chang hyung

"Min.." panggil Kyuhyun dengan menggoyangkan tangannya pelan.

"Ya" Minho tersenyum lalu menerima uluran tangan Kyuhyun. Mereka kemudian berjalan beriringan. Sesekali Minho merangkul bahu Kyuhyun yang lebih pendek darinya.

.

.

.

.

.

.

"Hyung.."

"Hn"

"Hyung..."

"Ne"

"Kyu hyung..."

"Wae?"

"Maaf.."

"Mwo? Untuk apa meminta maaf?"

"Untuk semuanya.."

"Eh?"

"Aku menyayangimu.."

"Aku.. aku juga sayang padamu, Minho-ya.."

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

October 8, 2016

With Love,

.

Jung Je Ah