KHR © Amano Akira
—
Our True Fate
—The Truth is...—
G27, A18, U80, 0259, 7933, Dae69 ( Family ) Family / Adventure
Warning: OOC, semi-AU, Maybe Shonen Ai
—
About Gokudera Hayato | 3
—
Gokudera sedang berada dikamarnya ketika itu—menunggu Tsuna yang sedang berada di ruangan Giotto. Mencorat-coret kertas yang ada didepannya dengan tulisan G-writing, ia tampak sedang bosan mengingat 'ayahnya' yang sedang pergi sebentar dan juga Tsuna yang sedang bersama dengan Giotto.
"Tch—apakah tidak ada cara untuk kembali, disini terlalu membosankan dengan adanya kakek tua itu yang selalu menganggapku anak kecil—" masih menulis beberapa kata sebelum terhenti dan hanya menghela nafas, menatap kearah luar. Memutuskan untuk berjalan-jalan di manshion mengingat dinamitnya sukses di sita oleh G. Sebagai seorang tangan kanan yang baik, tentu saja Gokudera menghafal semua seluk beluk dari semua tentang Vongola—markas dan manshion. Jadi, ia tidak kesulitan untuk mencari kembali kamarnya, yang secara kebetulan letaknya sama dengan kamarnya juga di markas Vongola.
"Tidak ada yang berubah sejak dulu—hanya beberapa interior yang diubah," Gokudera menatap beberapa lukisan yang sama dengan lukisan di zaman mereka tetapi tampak lebih baru daripada terakhir kali ia melihatnya. Menatap ujung lorong didepannya, menyadari sesuatu yang berubah dari tempat itu. Diujung lorong terdapat satu ruangan yang tidak ada di markas mereka.
"Kira-kira ruangan apa ini?" Berjalan perlahan, membuka pintu besar yang ada didepannya itu. Menatap isi ruangan—sebuah piano hitam yang berada ditengah ruangan, "piano? Siapa yang memainkannya?"
BLAM!
Terkejut melihat pintu yang ada didepannya itu tampak tertutup dengan segera, Gokudera menatap kearah G yang menatapnya tajam.
"Ada apa kakek tua—"
"Jangan berkeliaran ke sembarang tempat bocah," G menghela nafas dan menatap kearah pintu yang tertutup didepannya—menguncinya dengan segera sebelum ia berjalan menjauhinya. Gokudera yang melihat itu hanya bisa menatap heran padanya dan memutuskan untuk mengikuti G.
"Tunggu kakek tua! Piano itu—siapa yang memainkannya?" Gokudera mengejar hingga akhirnya berjalan disebelah G, menatap pemuda berambut merah itu dan menunggu jawaban. Tetapi—tidak ada yang meluncur dari mulutnya, "—hei!"
"Kau tidak perlu tahu, yang pasti jangan pergi ketempat itu lagi—itu adalah tempat privasiku," G menghisap dalam-dalam rokok yang ada disela mulutnya, menghela nafas dan mengacak rambutnya.
"Aku hanya ingin tahu, memangnya aku tidak boleh tahu apapun mengenaimu? Bukankah aku anakmu?" G menatap kearah Gokudera yang tampak cemberut karena mendengar perkataan G. Sosok Gokudera tiba-tiba tertimpa oleh sosok lain yang tampak tersenyum kearahnya—membuat G hanya menggelengkan kepalanya dan menutup matanya.
"Belum saatnya—jangan berisik Hayato, aku lelah..."
"Tetapi—"
"G! Knuckle—aku butuh bantuan!" Suara Giotto yang terdengar dari salah satu sisi dari markas. Dengan segera G dan juga Gokudera berlari untuk menemukan Giotto. Bertemu saat ada didepan pintu ruangan Giotto, menemukan Giotto yang menggendong Tsuna—dan keadaannya tampak tidak baik.
"Juudaime!"
"Ada apa dengan Tsuna Giotto?" G menaruh punggung tangannya diatas dahi Tsuna, untuk merasakan bahwa suhu tubuhnya meninggi, "badannya panas sekali..."
"Aku tidak mengerti—saat ia melihat foto Cellesta, aku tiba-tiba saja ia tampak aneh dan pada akhirnya malah pingsan—" Giotto tampak panik dan mencoba untuk berjalan cepat menuju ke kamarnya, "—dimana Knuckle?"
"Ia menjalankan misi setelah berolahraga pagi bersama Ryouhei—"
"Lalu bagaimana dengan Tsuna!" Giotto membaringkan Tsuna diatas tempat tidur dan mencoba memanggil maid untuk mengambilkan air dingin untuk mengompres Tsuna.
"Untuk sementara kita akan merawatnya sebisa kita—tenanglah Giotto, badannya hanya demam," G mencoba untuk menenangkan Giotto yang panik melihat keadaan Tsuna. Gokudera melompat kearah tempat tidur dan menatap sang Vongola Decimo sebelum G menggendongnya, "jangan mengganggu Tsuna dulu—ia harus beristirahat..."
"Turunkan aku kakek tua—aku ingin menjaga Juudaime!"
"Tidak sekarang, Giotto—aku akan mengantarkan Hayato ke kamarnya dulu," Giotto hanya mengangguk dan mengompres kepala Tsuna setelah maid membawakan handuk kecil dan air dingin untuk Tsuna.
—
"Lepaskan aku, Juudaime sedang sakit!" Gokudera mencoba memberontak di gendongan G, tetapi karena saat ini tubuhnya tampak kecil dan memang dari tinggi tubuhnya yang memang kalah tinggi dari G. G yang hanya menghela nafas tampak akhirnya melepaskan tangannya, dalam keadaan berdiri, membuat Gokudera terkejut dan melingkarkan tangannya di leher G.
"Katamu ingin melepaskanmu—"
"Ja—jangan tiba-tiba! Kau ingin membunuhku?" Gokudera tampak menatap kebawah, dimana jarak antara tubuhnya dan lantai cukup tinggi. G hanya bisa menghela nafas dan tertawa kecil sebelum memeluk tubuh Gokudera agar tidak jatuh—membuat wajah Gokudera tampak memerah karena itu. Karena bagaimanapun, ayahnya terlalu dingin untuk menggendong dan memeluknya seperti itu—sehangat itu.
"Makanya jangan memberontak seperti itu—" Gokudera tampak cemberut dan menaruh kepalanya diatas bahu G. Matanya tampak melembut ketika itu, karena ia tidak pernah merasakan kehangatan itu.
'Rasanya—aku pernah merasakannya...'
"Kau tampak manis kalau diam seperti itu bukan," G tampak menyeringai lebar dan menatap Gokudera dari balik bahunya. Mendengar perkataan G, wajah Gokudera mungkin sudah pink seperti rambut G.
"A—aku tidak manis!"
—
Reborn masih dalam perjalanan menuju kearah markas CEDEF—hanya diam dan tidak mengatakan apapun, sementara Spanner dan Shouchi juga seperti itu. Mereka tahu ada yang tidak beres hingga Reborn memutuskan untuk pergi ke markas CEDEF.
'Kalau memang dame-Tsuna adalah anak kandung dari Giotto Vongola, lalu kenapa ia bisa berada di zaman 400 tahun lebih setelah masa Giotto—' Menatap kearah luar dibalik bayangan topi fedoranya, '—siapa yang bisa mengirim mereka kemasa ini dan apa alasannya...'
"Spanner—kita ketempat Bianchi dulu," Reborn tidak menatap Spanner yang mengendarai mobil itu. Dan beberapa menit kemudian mereka sampai ditempat Bianchi yang sedang berada di markas Vongola. Reborn segera turun dan mencari Bianchi, menemukannya di aula utama bersama dengan I-Pin.
"Reborn! Aku mencarimu kemana-mana, kudengar Tsuna dan juga Hayato ditangkap oleh Vendice, bagaimana keadaannya?"
...
"Reborn?"
"Bianchi—" tidak menatap perempuan itu dan menurunkan topi fedoranya hingga menutupi mata, "—aku ingin menanyakan sesuatu padamu..."
"Ada apa?"
"Gokudera Hayato—" menatap Bianchi dengan tatapan dingin, "—apakah ia benar-benar anak dari ayahmu?"
—
G menggendong Gokudera sampai dikamarnya. Ketika sampai, G melihat Gokudera yang tampak tertidur di gendongannya, membuatnya menghela nafas panjang dan akan membaringkannya ditempat tidur sebelum sadar kalau Gokudera memegang erat pakaiannya hingga susah untuk melepaskannya. Menggerutu kecil—menatap Gokudera yang ada didekatnya.
"Benar-benar—" membuka sebuah liontin kalung yang ada ditangannya, menunjukkan sebuah foto yang ada di sana, seorang perempuan berambut perak dengan mata hijau tosca yang tersenyum lebar sambil memegang tangan anak kecil berambut perak yang menggenggam erat pakaian perempuan itu, "—ia benar-benar mirip dengan anak itu..."
Menatap kearah jendela yang ada disampingnya.
"Lavina—"
—
"Ayah bertemu dengan ibu Hayato saat ibunya berusia 23 tahun saat ia sedang bermain piano disebuah pesta kolega dari ayah," Bianchi sedang bersama dengan Reborn sambil meminum minuman miliknya dan juga esspreso untuk Reborn, "saat itu—ayah langsung jatuh cinta padanya dan mencoba untuk mendekatinya. Tetapi, ibu Hayato tidak pernah membuka hatinya pada ayah, mengingat kalau ayah sudah memiliki ibu."
...
"Pada akhirnya, ayah mengikutinya hingga rumah—dan menemukan kalau Lavina-san memiliki seorang anak laki-laki berumur kurang dari satu tahun saat itu," pergerakan Reborn berhenti ketika Bianchi mengatakan hal itu.
"Jadi—saat berhubungan dengan ayahmu, Lavina sudah memiliki Hayato?"
Bianchi hanya mengangguk—
"Disana ia juga menemukan kalau ibu Hayato memiliki penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan. Ayah ingin membantunya, mengajaknya untuk tinggal bersamanya, begitu juga dengan Hayato. Tetapi Lavina-san malah mengatakan kalau lebih baik Hayato yang ikut dengan ayah," menghela nafas panjang dan meminum kembali kopi didepannya, "ia berkata kalau ia tidak ingin membuat Hayato melihatnya sakit. Dan ia menerima cinta ayah karena ayah setuju merawat Hayato..."
...
"Ayah juga mengizinkan Lavina-san untuk menjadi guru piano Hayato, karena merasa kalau Hayato harus mengenal walaupun tidak tahu kalau Lavina-san adalah ibunya. Dan yah—selain yang aku ceritakan tadi, semuanya berjalan seperti cerita ayah, dan tentu saja sebenarnya ayah memang sengaja membiarkan Hayato mendengar jika Lavina-san adalah ibunya..."
"Begitu rupanya—" Reborn hanya menghela nafas dan berdiri dari tempatnya duduk, "—aku menitipkan markas padamu Bianchi..."
"Tunggu Reborn," Bianchi menatap punggung Reborn yang semakin menjauh, dan langkah Rebornpun terhenti, "dimana Hayato sekarang..."
...
"Kemungkinan—ia bersama dengan ayah kandungnya saat ini..."
—
Suara alunan piano terdengar mengalun didalam fikirannya. Lagu yang pernah ia dengar—ketika ia bersedih, menjadi pengantar tidur, dan selalu diiringi dengan suara lembut dari ibunya. Itu sudah cukup membuatnya tenang—sudah cukup membuatnya bisa tertidur dengan nyaman.
Tetapi—bagaimana bisa sekarang ini ia mendengar alunan piano yang hanya ada dimimpinya itu, alunan yang tidak akan pernah didengar olehnya lagi itu bisa terdengar begitu jelas dan nyata sekarang. Matanya terbuka, untuk melihat kesekitarnya—kamarnya yang tidak banyak berubah, dan ia bangkit dari tempat itu.
'Mimpi—' Gokudera mengucek matanya, 'sepertinya aku tertidur...'
Saat ia masih dalam keadaan setengah sadar saat lagi-lagi lagu itu terdengar—terdiam sejenak, sebelum tiba-tiba ia berlari dan mencoba mencari asal suara itu.
"Tidak mungkin—hanya dia yang mengetahuinya, tidak mungkin lagu itu bisa terdengar bukan," Gokudera tampak berlari disepanjang lorong. Sementara disebuah tempat tampak sebuah kotak musik yang terbuka dan membunyikan lagu yang sama dengan yang Gokudera dengar. G—tampak duduk di bingkai jendela menatap kearah luar, sebelum menutupnya dan musik itupun berhenti bersamaan dengan Gokudera yang membuka pintu itu—pintu dimana piano hitam tampak berada disana.
"Sudah bangun Hayato?"
"Kenapa—" G menatap kearah Gokudera dengan tatapan bingung, "—kenapa lagu itu bisa mengalun disini..."
—
"Apa yang sebenarnya terjadi Reborn-san," Shouichi yang menyusul Reborn dan sedang berjalan berdua menuju keluar untuk melanjutkan perjalanan mereka ke markas CEDEF.
"Aku belum bisa menjelaskan apapun—yang pasti aku harus bertemu dengan Basil dan juga yang lainnya," Reborn masuk kedalam mobil dan Spanner langsung bangkit untuk mengemudikan mobilnya, "ini semua bisa mengubah semua yang terjadi selama ini..."
"Apakah separah itu?"
...
"Spanner—" Spanner mendengar Reborn berbicara dan menatapnya dari kaca spion mobil yang mereka kendarai, "—apakah kau pernah berfikir untuk membuat mesin waktu ke masa lalu?"
—
"Musik?" G menaikkan sebelah alisnya dan menatap Gokudera dengan tatapan bingung, "apa yang kau katakan?"
"Jangan berpura-pura—aku mendengar suara musik dari arah kamar ini!"
"Buktinya aku tidak menyentuh piano itu sama sekali bukan," G menunjuk piano yang masih tertutup dan tidak terbuka sama sekali. Gokudera berjalan kearah piano itu dan menatapnya dengan seksama—tetapi tidak ada tanda-tanda piano itu disentuh. Apakah bunyi itu hanya khayalannya lagi? Tetapi—tampak seperti nyata saat itu, "—Hayato?"
"Kalau begitu maaf mengganggumu, aku akan ketempat Juudaime—" Gokudera tampak hanya menundukkan kepalanya dan berjalan keluar dari tempat itu—meninggalkan G yang sendiri dan tampak bingung dengan sikap Gokudera, "—apa-apaan dia..."
—
"Cih, aku jadi tampak memalukan didepan kakek tua itu," Gokudera tampak memalingkan wajahnya dan berjalan kearah taman serta duduk di taman. Ia tidak jadi ketempat Tsuna karena masih memikirkan lagu yang didengarnya tadi. Menutup matanya, merasakan angin yang berhembus saat itu.
'Tidak pernah merasakan kehangatan yang diberikan kakek tua itu—tetapi dilain sisi, aku pernah merasakannya dulu...'
Sementara Gokudera yang berada dibawah pohon itu tampak bersantai, bebeapa orang tampak berada didekatnya dan tampak asing terdengar.
"Malam ini bukan—" salah seorang dari mereka tampak adalah pemimpin mereka. Gokudera terbangun mendengar suara mereka dan mencoba untuk mendengar lebih jauh lagi karena merasa mereka bukan orang yang baik, "—kita sudah merencanakan ini jauh sebelum penyerangan pertama dilakukan bukan?"
'Penyerangan?'
"Penyerangan pertama kita berhasil menculik dan membawa anak-anak dari Vongola kepada boss—tidak disangka mereka masih memiliki anak yang lain," Gokudera yang mendengar hal itu tampak terkejut mendengarnya.
'Anak—? Penyerangan?' Mundur perlahan, mencoba untuk masuk dan memberitahu Giotto maupun G. Tetapi sialnya, ia terinjak ranting dan menimbulkan suara yang membuat dua orang itu menoleh kearahnya.
"Siapa itu!"
"Tch—" Gokudera bersiap mengambil dinamit yang ada di kantungnya. Tetapi ia baru sadar akan sesuatu ketika dinamitnya tampak tidak ada—dan ia ingat ketika itu G mengambil semua dinamitnya, "—sial!"
"Kau mendengar semua yang kami katakan? Sepertinya kami akan menculikmu terlebih dahulu," beberapa orang mengepung Gokudera dan akan menangkapnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ia tahu flame yang ia miliki tidak akan cukup untuk memanggil Uri. Salah seorang dari mereka mengacungkan pistolnya kearah Gokudera—menembak kakinya untuk melumpuhkan Gokudera.
"Argh!" Terjatuh begitu saja, pandangannya semakin kabur saat itu. Hanya bisa diam saat beberapa orang mendekat dan akan menangkapnya, '—sial...'
'Juudaime—ayah...' Matanya tertutup dan kesadarannya menghilang saat ia berbisik, dan beberapa orang membawanya menjauh dari markas Vongola.
—
...
"Hayato?" Sedang mengerjakan laporannya didalam ruangannya, tiba-tiba perasaannya tampak tidak enak seakan sesuatu terjadi pada Gokudera. Ia pernah merasakan hal ini—sama seperti hyper intuition Giotto, saat anaknya diculik dan menghilang. Tidak mungkin ia melupakan perasaan tidak enak itu.
Dengan segera berdiri dari kursinya dan berlari keluar untuk mencari sosok anak angkatnya itu. Ia mengatakan akan pergi ketempat Tsuna dan juga Giotto—dan dengan segera ia berlari kearah sana dan menemukan Giotto yang bersama dengan Tsuna yang masih tertidur.
"Giotto—"
"G? Ada apa?" Giotto menatap sahabatnya itu—yang tampak pucat dan berkeringat dingin. Tampak sangat cemas dan juga tidak tenang, ia tidak pernah melihat G seperti itu sebelumnya.
"—dimana Hayato..."
"Hayato-kun? Bukankah ia bersama denganmu?" Giotto menatap kearah G dengan tatapan bingung dan cemas. G mengeratkan giginya, mengepalkan tangannya dengan kuat, "—ada apa dengan Hayato G?"
"Firasatku tidak enak—seperti pada saat malam itu," G menundukkan kepalanya tampak kesal dan juga marah, "aku tidak bisa diam saja disini..."
"Aku akan mencoba menghubungi Alaude dan juga yang lainnya," Giotto segera berdiri dan menghampiri G untuk segera mencari Gokudera. Mengumpulkan semua guardian dan anak buah mereka untuk mencari Gokudera, termasuk kedua musuh yang menyamar menjadi anak buah Vongola itu.
"Apapun yang terjadi kalian harus mencarinya hingga menemukannya!" G tampak menatap mereka dingin dan tajam.
"Yare-yare—apakah Hayato hanya berjalan-jalan disekitar manshion saja?" Lampo masih tampak santai meskipun ia juga sedikit cemas dengan keadaan Hayato. Biasanya G akan langsung memukul kepala Lampo dan memarahinya. Tetapi, yang membuat Lampo terkejut adalah ketika melihat G yang tidak menatapnya langsung dan hanya meliriknya dengan tatapan tajam.
"Aku memang tidak memiliki intuisi seperti Giotto—tetapi aku yakin ada yang tidak beres dengan Hayato," G kembali menatap kearah semua anak buahnya, sementara Lampo menjadi pucat pasi melihat sifat G, "lakukan sekarang dan temukan secepatnya!"
Dengan segera semua anak buahnya langsung bubar. Alaude, Ugetsu, Giotto, Lampo, Knuckle, dan juga Spade hanya diam menatap kearah G.
"G, tenanglah Hayato pasti baik-baik saja—" Giotto menepuk pundak G dan tersenyum kearahnya.
"Aku akan meminta CEDEF untuk membantu mencarinya..."
"Tsunayoshi, kenapa kau bangun?" Knuckle menoleh kearah Tsuna yang masih lemas dan nafasnya belum teratur tetapi berjalan mendekati Giotto dan juga yang lainnya. Terkejut melihatnya, Giotto dengan segera menghampiri Tsuna dan menangkapnya ketika tubuh kecil itu hampir roboh.
"Tsuna, kau masih demam—kenapa keluar dari kamarmu?"
"Hayato-kun—ada penghianat..." Kepalanya berdengung hebat ketika itu. Hyper Intuitionnya menekan fikirannya, membuat kepalanya semakin pusing dan juga mual. Giotto menaikkan alisnya mendengar perkataan Tsuna, sebelum tiba-tiba lagi-lagi kesadaran Tsuna menghilang dan pingsan di tangan Giotto.
"Tsuna!"
"Giotto-dono, apakah menurutmu—" Ugetsu menatap Giotto yang hanya mengangguk merespon perkataan Ugetsu.
"G—sepertinya memang ada—" Giotto menoleh untuk menemukan G yang sudah tidak ada ditempatnya, "—dimana dia..."
—
'Hayato—suatu saat, kalau kau bisa mendengar seseorang memainkan musik ini—' suara ibunya tampak menggema dikepalanya saat itu. Sebelum bayangan itu semakin jelas dan perkataannya selesai, kesadarannya kembali dan yang dilihatnya adalah kegelapan dan juga tubuhnya yang penuh luka.
Luka paling parah adalah kakinya yang pertama tertembak. Menyerengit sakit dan mencoba bergerak untuk tahu bahwa tangan dan kakinya diikat oleh orang-orang yang tadi menangkapnya.
"Sial—aku benar-benar menjadi bocah yang lemah," menutup sebelah matanya dan mencoba melepaskan ikatan, yang tentu saja tidak bisa karena kekuatannya hanyalah kekuatan anak kecil dan luka ditubuhnya sudah cukup membuatnya lemah.
"Sudah sadar?"
...
"Kalian brengsek—" menatap kedepannya, dimana beberapa orang sudah menunggunya sadar. Matanya tampak semakin berat, dan ia merasakan sesak yang membuatnya susah untuk bernafas.
"Sepertinya racunnya mulai bekerja padamu..."
'Racun—' bahkan ia tidak sempat untuk berbicara sebelum cairan hangat berwarna merah itu tampak memenuhi kerongkongannya dan dengan segera terbatuk dan keluar dari mulutnya.
"Beginikah, kekuatan seorang Storm Guardian Vongola Decimo—Gokudera Hayato?" Mendengar perkataan orang dihadapannya itu membuatnya terkejut. Tidak ada yang tahu siapa dia—siapa mereka. Bagaimanapun mereka bukan orang dari masa ini, dan bahkan orang tua angkat mereka—para guardian Primo tidak ada yang mengetahui tentang hal itu, "kau kaget karena aku mengetahuinya? Aku mengetahui bahkan satu hal yang tidak diketahui olehmu, bahwa kau adalah—"
"Boss, ada telpon dari anak buah yang menyelinap di markas Vongola..."
"Ah—mengganggu saja, sebaiknya kau diam—atau racun itu akan menyebar lebih cepat dalam tubuhmu—" mengangkat telpon yang dibawakan oleh pelayan itu dan berbincang dengan seseorang di telpon itu, "—bagaimana keadaan disana?"
Gokudera menatap orang itu—bagaimanapun ia harus memberitahukan semua ini pada Giotto, Tsuna dan juga yang lainnya. Ia harus bisa mengeluarkan Uri apapun kompensasinya—walaupun ia harus memakai semua flame yang bisa ia keluarkan.
Menutup matanya, mencoba mengeluarkan flame yang tampak kacau karena luka dan juga karena racun yang semakin menjalar ditubuhnya. Terbatuk parah—lagi-lagi mengeluarkan darah kembali. Tetapi ia harus—karena bagaimanapun, semuanya hanya bisa mengandalkan Uri saat ini. Hingga pada akhirnya, flame yang dikeluarkannya cukup dan Uri keluar dari Vongola Gear miliknya.
...
"Cari—kakek tua itu—hh..."
—
"Semua berjalan sesuatu rencana," salah satu orang yang menyamar menjadi anak buah Vongola itu tampak menghubungi seseorang yang bersama dengan Gokudera. Memastikan semuanya tidak melihat apa yang ia lakukan sebelum melanjutkan pembicaraannya, "setelah malam tiba, kita bisa menangkap sisanya—"
"Dimana dia—" pistol sudah teracungkan dibelakang kepala orang itu saat G tiba-tiba sudah berada dibelakangnya dengan pistol ditangannya.
"Sejak kapan—"
"Dimana Hayato," G mengulangi kata-katanya lagi dan menatapnya dengan tatapan dingin. Melihat handphone yang dipegang olehnya, dengan segera G memukul tengkuk leher pria itu hingga pingsan dan mendengarkan suara di seberang.
"Sepertinya kau tahu ada yang menyamar menjadi anak buahkmu?"
"Dimana Hayato brengsek!"
"Ia bersama denganku sekarang. Tenang saja, aku tidak akan melukainya—tidak sekarang..."
"Kalau sampai terjadi sesuatu padanya—kupastikan tidak akan ada yang tersisa darimu selain nama..." G mengeratkan kepalan tangannya mendengar perkataan orang itu.
"Bagaimana kalau kau berbicara saja dulu pada anak itu?"
...
"Hayato?" G tidak mendengar apapun saat itu, hanya suara nafas yang terdengar memburu yang terdengar dari sana, "Hayato—hei, jawab aku!"
"Ada apa kakek tua—jangan berisik..."
"Kau tidak apa-apa?" Tidak mendengar ejekan Gokudera, G tampak cemas—sangat cemas terjadi sesuatu pada Gokudera.
"Untuk sementara ini—lumayan..."
...
"Terdengar bodoh mungkin—tetapi sepertinya kau sangat menghawatirkanku saat ini," pandangan Gokudera tampak semakin kabur saat itu, tenaganya sudah banyak terkuras habis karena racun, pemanggilan Uri dan juga luka yang ada ditubuhnya.
"Tentu saja karena kau tanggung jawabku sekarang!"
"Bahkan—ayah kandungku tidak pernah perduli padaku," G baru saja akan berbicara lagi ketika Gokudera berkata seperti itu membuatnya terdiam mematung, "untuk apa—kau menghawatirkanku..."
...
BUGH!
Suara benda yang terjatuh terdengar di ujung sambungan.
"Hayato? Hei, kau tidak apa! Jawab aku Hayato!"
"Ah, sepertinya ia pingsan—sebaiknya kau berharap saja kau menemukannya, karena kalau tidak—kau akan merasakan kehilangan untuk yang ketiga kalinya," senyuman yang tidak bisa dilihat G tampak terlihat diwajah orang itu, "Ciao—Tempesta Vongola..."
"Tunggu!" Ketika itu saluran telpon terputus begitu saja. G hanya bisa menatap telpon itu dengan tatapan kesal sebelum membantingnya didepannya.
"Apa yang harus kulakukan—"
Nyraa~
Tiba-tiba mendengar dan merasakan sesuatu yang mengusap kakinya, menoleh kebawah untuk menemukan anak kucing—anak harimau yang ada dibawahnya. Mengangkat sebelah alisnya, menggendong anak harimau itu.
"Darimana anak kucing ini?"
Nyraa~
Uri yang notabe menyukai G tampak senang melihat pemuda berambut merah itu. Ia mengusap pipi G yang hanya bisa diam dan bingung menatap Uri.
"Aku harus menemukan Hayato, maaf aku tidak bisa bermain—" G akan menurunkan Uri ketika itu.
"Eh bukankah itu Uri?" Suara yang terdengar disampingnya itu membuat G menoleh untuk menemukan Ryouhei dan juga Yamamoto yang berjalan terburu-buru.
"Uri?"
"Itu adalah anak harimau milik Hayato, kenapa ada disini?" Yamamoto menghampiri dan melihat Uri dari dekat untuk memastikannya, "hei—apakah kau tahu dimana Hayato?"
Nyaaa~
Uri tampak mengangguk dan menatap kearah G. Tetapi, tiba-tiba flame yang ada ditelinganya mengecil dan akan menghilang.
"Ini—flame storm?"
"Senpai, gunakan saja sun flamemu!"
"AH IDEMU BAGUS TAKESHI!" Ryouhei menatap Uri yang tampak melemah ditangan G, dengan segera menurunkannya dan mengalirkan sun flame kearahnya. Tidak menghiraukan G yang menatap mereka dengan tatapan terkejut. Tetapi, ia lebih terkejut lagi ketika Uri semakin membesar dan berubah menjadi seorang Leopard dewasa.
"Uri, kau bisa menunjukkan dimana Hayato?"
Uri tampak mengangguk—versi dewasanya memang lebih kalem daripada kecilnya.
"Sebaiknya cepat, karena aku tidak bisa mengeluarkan sun flame yang bisa menahannya lama," Ryouhei menatap kearah G yang tahu maksud mereka. Tidak ada waktu untuk memanggil Giotto dan juga yang lainnya.
"Takeshi, Ryouhei, sebaiknya kau memberitahukan hal ini pada yang lain. Aku akan mengikuti Uri sampai tempat Hayato," G segera berlari sementara Uri tampak menunjukkan jalannya. Yamamoto serta Ryouhei segera berlari dan mencari Giotto dan juga yang lainnya.
—
"Hayato!"
G membuka pintu yang ada didepannya, mencari sosok musuh yang menculik anak angkatnya itu. Tetapi yang ia lihat hanyalah Gokudera yang terjatuh diatas lantai dan Uri segera bergerak mengelilinginya. Menyadari ada sesuatu yang aneh dengan masternya.
"Hayato? Hei—Hayato, sadarlah!" G mencoba menggoyangkan tubuh Gokudera, mencoba untuk menyadarkan anak itu. Melihat Gokudera tidak sadar dan nafasnya memburu, dengan segera G membawanya pergi dari sana, menatap kearah Uri yang tampak tidak memiliki tenaga lagi untuk pergi.
'Apa yang harus kulakukan...'
Berfikir, melihat kearah flame yang ada di telinganya—terdiam sejenak, benar-benar ia sedaritadi bisa melakukan sesuatu untuk mmebantu Leopard itu kalau saja fikirannya tidak dipenuhi oleh Gokudera. Dengan segera mendekat, memunculkan flame storm miliknya dan menyentuh tubuh Uri untuk menyalurkan flame itu. Perlahan, flame sun yang tadi menyinari tubuhnya menghilang—tubuhnya semakin mengecil hingga seukuran kucing.
"Maaf Uri—aku lupa memakai kekuatanku," menepuk kepala Uri yang tampak lebih baik dan segera melompat kearah bahu G. G tampak tersenyum sebelum senyumannya kembali pudar saat melihat Gokudera yang tampak pucat. Dengan segera berlari dan membawanya kembali ke markas, tidak tahu seseorang tampak berada ditengah kegelapan itu.
"Tidak apa membiarkannya kabur?"
"Bukankah ini menarik—aku gagal memisahkan mereka saat beberapa bulan yang lalu, sekarang—biarkan mereka bersama. Dan aku akan memanfaatkan kebersamaan mereka itu," senyuman dinginnya tampak mengiasi wajah pucat itu.
—
"Apa katamu?"
Lal tampak menatap kearah Reborn yang baru saja datang saat itu. Semenjak tewasnya Sawada Iemitsu, yang menjadi pemimpin CEDEF menggantikannya adalah Lal—dibantu oleh Basil.
"Temukan beberapa famiglia yang mengembangkan senjata untuk ke masa depan ataupun masa lalu selain Bovino Famiglia," Reborn menatap Lal dengan tatapan serius dan juga dingin.
"Kau ke Vendice—dan kemari setelah itu tiba-tiba menyuruh kami mencari sesuatu yang cukup susah Reborn. Bagaimana keadaan Sawada dan juga yang lainnya?"
"Itulah sebabnya aku harus mencari tahu hal itu Lal, satu rahasia yang mungkin akan membuat semua jelas akan terungkap kalau sampai aku bisa menemukan famiglia itu," Lal menatap kearah Reborn yang menatapnya dengan tatapan serius, "dan berikan aku file dari pendiri CEDEF itu..."
"Kau serius! Mengambil file Alaude itu terlalu beresiko!"
"Lal—aku hanya ingin melihat, kau tahu—sudah dua rahasia dari dame-Tsuna dan guardiannya yang harus kubuktikan lebih dalam," Lal menatap Reborn dengan tatapan bingung.
"Apa maksudmu?"
—
"Kondisinya sudah stabil, kau sudah bisa tenang G," Knuckle yang baru saja memeriksa Gokudera setelah G membawanya ke markas dan membuat semua orang terkejut menghampiri G untuk memberitahukan berita itu. G hanya menghela nafas lega, dan menatap Hayato yang tampak tertidur disana, "tetapi—aku tidak mengerti..."
"Ada apa?"
"Aku merasakan ada sesuatu yang aneh didalam tubuh Hayato. Seperti racun—tetapi, tidak bisa jelas kuprediksi," menatap kearah Gokudera yang ada diatas tempat tidur itu, "tetapi itu tidak mempengaruhi tubuhnya..."
"Aku akan mengawasinya—" G berjalan kearah kamar Gokudera dan akan membuka pintunya lebih lebar sebelum Knuckle menghentikannya.
"Kau menganggap dia adalah anak itu?"
...
"Bagaimanapun—tidak akan ada yang menggantikan posisinya Knuckle, tidak akan ada..." G hanya tersenyum tipis dan berjalan kedalam kamar sebelum menutup pintunya.
—
"Kau bercanda—" Lal menatap dengan tatapan terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Reborn. Semua yang dikatakannya tidak bisa diterima dengan nalar yang sehat. Tetapi, melihat Reborn yang menatapnya dengan tatapan serius, membuatnya mau tidak mau harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh Reborn, "—kau tahu bahkan pada tahun itu belum dikembangkan handphone dan teknologi lainnya. Bagaimana mungkin bisa mengirimkan seseorang ke masa depan? Bahkan hingga 20 tahun lebih lamanya..."
"Aku juga tidak mengerti—tetapi, yang aku tahu adalah kenyataan yang harus kubuktikan lebih dalam lagi," Reborn menyesap untuk kesekian kalinya secangkir espresso didepannya, "kalau dame-Tsuna adalah anak kandung dari Giotto Vongola dan Gokudera Hayato adalah anak dari G, ada kemungkinan jika—guardian lainnya yang menghilang juga seperti itu..."
...
"Aku sudah menyuruh Spanner, Shouichi, dan Gianni untuk mengembangkan mesin waktu untuk pergi ke masa lalu—tetapi, aku tidak tahu akan membutuhkan waktu sampai kapan..."
"Aku akan mengecek semua file mengenai Alaude, dan Basil sedang mencari data famiglia itu," Lal berdiri dan berjalan menuju kedalam ruangan, sementara Reborn hanya menurunkan topinya dan hanya berjalan keluar dari tempat itu.
—
Gokudera yang tampak tidak merasakan apapun saat itu. Hanya kegelapan—dan juga keheningan yang berada didalam fikirannya. Tiba-tiba, suara musik yang selalu dimainkan oleh ibunya itu tampak mengalun sekali lagi. Walaupun kegelapan itu masih memenuhinya, bayangan itu semakin jelas. Ibunya yang tersenyum kearahnya—berdiri dihadapannya dengan seorang pria disampingnya.
Tidak—itu bukan ayahnya...
Bukan ayah yang selama ini merawatnya, siapa—ia tidak mengenalnya, tetapi ia tahu. Ia pernah melihat senyuman itu, senyuman pria itu dan juga ibunya yang tersenyum kearahnya, tampak bahagia bersama dengannya.
Kesadarannya terus kembali—dan lagu itu terus mengalun didalam fikirannya, hingga ia melihat sosok yang menatapnya dengan tatapan khawatir. G—orang yang ia hormati, orang yang ia jadikan panutan, ayah angkatnya saat ini.
"Kau sudah sadar," tatapan G saat itu melembut dan hanya tersenyum lega melihat Gokudera sudah tersadar dari pingsannya. Sementara Gokudera sendiri tampak langsung bangkit ketika lagu itu masih mengalun didekatnya. Dan menemukan sebuah kotak musik disamping ia tertidur, mengalunkan musik yang selalu ibunya mainkan.
"Kotak musik?"
"Katamu kau pernah mendengar lagu ini kan—dan ingin mendengarnya lagi," G meletakkan kotak musik itu diatas pangkuan Gokudera, "walaupun aku tidak tahu bagaimana kau bisa mendengarnya, karena yang mengetahuinya hanya aku..."
"Bagaimana kau bisa mendapatkan lagu ini—" Gokudera masih mendengarkan lagu yang mengalun itu, tidak menatap kearah G yang menaikkan sebelah alisnya. Ia ingat satu kata yang pernah keluar dari mulut ibunya, yang masih ia ingat sampai sekarang.
—Flash Back—
"Lavina-san, lagu apa yang selalu kau mainkan ini?" Gokudera yang sedang bersama dengan ibunya tampak berada didepan piano besar yang selalu ia gunakan untuk berlatih. Lavina, menatap Gokudera kecil yang saat itu berusia 3 tahun dan tersenyum kearahnya.
"Kau menyukainya?"
"Ya! Lagu itu sangat merdu, aku tidak pernah mendengar lagu seperti itu," mengangguk cepat, tersenyum lebar kearah ibunya itu.
"Karena aku yang membuatnya..."
"Benarkah?"
"Ya—dan kau adalah orang kedua yang mendengarkan lagu ini," menggendong dan meletakkannya dipangkuan Lavina, Lavina memeluk Gokudera dari belakang, membuat anak itu merasa senang.
"Lalu siapa orang pertama yang mendengar lagu itu?"
...
"Seseorang yang paling istimewa—sama sepertimu," Gokudera hanya menatap Lavina dengan tatapan bingung, "dia adalah ayahmu..."
"Ayah?"
—
'Aku pernah menanyakan pada ayah setelah itu—dan ia berkata tidak pernah mendengar lagu itu,' Gokudera masih menatap G yang balas menatapnya dengan tatapan bingung, 'kenapa—'
"Bagaimana—kau bisa mengetahui lagu ini?"
...
"Karena kekasihku yang membuatkannya untukku—Lavina..."
Gokudera seketika menatap kearah mata merah milik G, terkejut dengan apa yang ia dengar. Memang tidak salah kalau ibunya mengenal pria lain selain ayahnya, tetapi—itu akan menjadi aneh jika yang dikenal olehnya adalah—orang yang berada dimasa 400 tahun sebelum masa dimana ia tinggal. Dan terlebih lagi—
'Orang yang mendengar lagu itu, adalah orang yang paling istimewa—dia adalah ayahmu...'
—kenyataan bahwa ia adalah orang yang mengetahui tentang lagu itu, yang dikatakan ibunya sebagai ayahnya...
—To Be Continue—
Cio : dan Hayato langsung dapet clue kalau papanya itu G xD
Kou : entah kenapa aku merasa cerita ini semakin tidak masuk akal...
Kiri : sama disini...
Cio : yaaa D: soalnya masalah Hayato itu, yang paling masuk ya kaya gini D:
Kozu : kenapa ga dijadiin anak adopsi?
Cio : bosen kalau kaya gitu terus =3=
Kou : ...ya sudahlah, bacakan saja reviewnya...
King of Tuna Kozu : kalau sensei mah ga bakal mempan dednot...
Rion : setelah ini bakal ada Alaude + Kyouya :)
Cio : eh! Takeshi Ugetsu Dx
All : Alaude Kyouya!
Cio : /pundung iya deh...
Kiri : maaf kalau lama~
Yukiyuki del tempest
Cio : untuk bakat piano gokun ntar, dan untuk Lavina sudah :D
Mamitsu27
Kiri : silahkan tunggu chapter setelah ini...
Authorjelek
Cio : As you wish madam :'D dan ga gitu juga kok ^/_/^)7
Andreas Mycheal
Cio : semoga me bisa ganti genrenya :D Hibari Alaude chapter 4 :3
Yukira Mirabelle
Cio : Su-sudah update kok :D
