Hari ini adalah hari interview yang menyebalkan itu. Baekhyun pikir ini masih ganjil karena dihari ketiga ia bekerja, ia sudah diminta melakukan interview untuk penerimaan karyawan baru. Sama sekali tidak masuk akal baginya.
Tapi ia juga tak bisa menolak apapun. Bagaimanapun ia hanya anak baru.
Pagi ini, Baekhyun menunggu Chanyeol. Semalam Chanyeol mengantarkan mobilnya dan mereka bekerja hingga larut malam untuk menyelesaikan tugas-tugas Baekhyun yang terbengkalai. Chanyeol tidak mungkin mendapatkan taksi dengan mudah, sehingga Baekhyun membiarkan pria itu membawa mobilnya lagi.
Sama seperti kemarin-kemarin, Kyungsoo dan Jongin belum kembali. Baekhyun pikir memang kedua makhluk itu menginginkan Baekhyun menghabiskan waktu bersama Chanyeol, ia juga tak tahu.
Tapi bukannya Baekhyun merasa semakin dekat dengan Chanyeol, ia hanya semakin merasa canggung saat bersama pria itu.
Mobil Baekhyun tampak menikung di depan apartemennya, membuat Baekhyun berlari. Ia melirik jam tangannya sekilas, mungkin ia akan terlambat hari ini. Baekhyun membuka pintu mobilnya dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya ke dalam. Chanyeol meliriknya sekilas dengan bingung, kemudian kembali menekan pedal gas.
"Selamat pagi," ucap Chanyeol, sangat terlambat dan dengan nada yang datar. Mungkin karena Baekhyun tidak mengatakan apa-apa dan Chanyeol ingin memastikan bahwa itu benar-benar Baekhyun.
Baekhyun meliriknya sekilas tanpa senyum, ia masih berkutat dengan berkas-berkas di tangannya. "Kalau kau tidak keberatan, kita hampir terlambat," bisik Baekhyun tanpa melihat ke arah Chanyeol.
Seperti sadar, Chanyeol mengemudi lebih cepat. "Kau kenapa sih?"
"Ada apa sih?" balas Baekhyun cepat, ia masih membuka kertas-kertasnya.
Chanyeol mendengus. "Kau sangat cerewet semalam dan sekarang kau sangat diam,"
"Kau menyebalkan semalam dan sekarang kau sangat menyebalkan," Baekhyun terkekeh ringan.
Chanyeol hanya mendengus, tapi tak menghiraukan tingkah laku Baekhyun lagi. Chanyeol pikir Baekhyun punya kepribadian ganda, atau Baekhyun sedang melakukan tarik ulur padanya.
Chanyeol juga tak mengerti.
.
.
Hari yang panjang untuk Baekhyun berakhir. Selama seharian ia melakukan interview kepada lebih dari seratus orang, dengan Chanyeol yang mengomel di sampingnya.
"Kau lelah?" tanya Chanyeol saat mereka keluar dari lift, menuju pintu keluar dan tempat parkir.
Baekhyun mendengus, melirik Chanyeol kesal. "Apa kau harus menanyakan itu?" sindirnya.
Chanyeol tertawa. "Kau akan mengantarkanku pulang, kan?"
"Tentu Chan. Kau pikir aku akan menelantarkanmu?" dengus Baekhyun kesal.
Lagi-lagi Chanyeol tertawa, membuat Baekhyun sedikit asing dengan hal itu. Sepertinya hari ini Chanyeol sedang bahagia, tapi Baekhyun memilih untuk tak peduli. "Kau ada acara setelah ini?"
"Tidak," balas Baekhyun, ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah Kyungsoo ada disana, tapi ia tidak menemukan apapun.
"Sepertinya aku ingin mengajakmu makan. Kau suka makanan Jepang?" tanya Chanyeol, ia mulai menjalankan mobil Baekhyun. Baekhyun memutar tubuhnya untuk menatap Chanyeol, ia menatap pria yang sedang fokus mengemudi itu lekat-lekat. Sadar dipandangi, Chanyeol melihat Baekhyun sekilas. "Ada apa?" tanyanya, bingung.
"Apa kau baru saja mengajakku berkencan?" selidik Baekhyun.
Chanyeol melirik gadis itu dengan dahi berkerut. "Tidak. Aku hanya mengajakmu makan,"
Baekhyun mendesah ringan, masih menatap Chanyeol. "Biar kutanya satu hal padamu," ia berhenti sebentar. "Apa kau benar-benar seorang gay?"
"Apa maksudmu?" balas Chanyeol. "Memangnya kenapa?
Baekhyun mengangkat bahu ringan. "Kupikir kau bukan seorang gay. Apa ini pertama kalinya kau mengajak wanita makan malam?"
"Aku tidak mengajakmu makan malam," Chanyeol mendebat dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Kau mengajakku makan. Dan sekarang malam. Apa ini bukan makan malam?" protes Baekhyun tidak mau kalah.
Chanyeol menggeleng beberapa kali dengan kesal. "Aku hanya ingin memberimu makan agar kau tidak sakit lagi. Aku tidak menyiapkan candlelight dinner untukmu. Aku bersumpah," Baekhyun merengut. "Jadi kau mau makan atau tidak?" tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun mengangguk ringan. "Baiklah. Aku mau," ucapnya ringan.
"Kau memang benar-benar menyebalkan seperti ini ya?" tanya Chanyeol, ia berbelok ke sebuah kawasan yang asing bagi Baekhyun.
"Tidak. Aku wanita yang menyenangkan kok," Baekhyun mengedipkan sebelah mata pada Chanyeol, membuat pria itu mencibir. "Aku masih penasaran. Mengapa sih kau jadi gay?"
Chanyeol mendengus. "Apa aku pernah mengatakan padamu kalau aku gay?"
Baekhyun menggeleng. "Tapi kau bilang kau benci wanita,"
"Apa jika aku mengatakan aku benci wanita, maka aku menjadi gay?" balas Chanyeol.
"Satu kantor membicarakan itu. Kau seorang gay," Baekhyun berkata dengan polos.
Chanyeol menepikan mobilnya di depan sebuah rumah makan yang tak Baekyun kenali, setelah parkir dan mematikan mesin, Chanyeol memutar tubuhnya untuk menatap Baekhyun. Chanyeol menatap gadis mungil itu dengan pandangan sungguh-sungguh, mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun, membuat Baekhyun menarik kepalanya ke belakang, menghindari ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Chanyeol.
"Aku memang membenci wanita tapi aku bukan pecinta sesama jenis," ucapnya tegas, membuat Baekhyun menelan ludah gugup.
Kenapa ia jadi serius sekarang? –pikir Baekhyun.
.
.
Malamnya Baekhyun terlambat, setelah Chanyeol membelikannya makan, ia harus mengantarkan pria itu pulang. Saat Baekhyun membuka pintu apartemennya, Kyungsoo sudah berdiri disana, menyambut Baekhyun dengan senyuman mengembang. Baekhyun melemparkan sepatunya asal, kemudian melihat kesekeliling ruangan untuk menemukan Jongin.
"Kencanmu menyenangkan?" tanya Kyungsoo antusias.
Baekhyun mendengus. "Dia hanya membelikanku makan agar aku tidak mati, kau pikir kami sedang melakukan kencan romantis?" Kyungsoo mengangkat bahu acuh, membiarkan Baekhyun untuk lewat dan berjalan menuju kamarnya. "Dimana Jongin?" tanya Baekhyun, menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Dia bilang pergi menemui orang tuanya," balas Kyungsoo ringan. Baekhyun mengangguk beberapa kali. "Jadi bagaimana dengan Chanyeol?"
"Bagaimana apanya?" balas Baekhyun.
Kyungsoo mendesah ringan, perlahan menempatkan diri untuk berbaring di samping Baekhyun. "Kau dan Chanyeol?" ulangnya lagi.
"Dia masih menyebalkan dan aku masih tak peduli," dengus Baekhyun.
"Kupikir dia tertarik padamu," tambah Kyungsoo.
"Kupikir kau terlalu berambisi," Baekhyun mendebat.
Kyungsoo terkekeh. "Dia masih peduli padamu, Baek. Baru pertama kali Chanyeol melakukan itu selain padaku,"
Baekhyun menggeser tubuhnya agar berhadapan dengan Kyungsoo dan menatap gadis itu. "Chanyeol melihatku layaknya seorang anjing terlantar. Dia hanya kasihan, Kyung. Kasihan," Baekhyun menegaskan.
Kyungsoo tertawa ringan. "Benarkah? Kupikir ia peduli padamu,"
"Terserahlah, Kyung," balas Baekhyun acuh.
Kyungsoo masih memandangi Baekhyun yang memejamkan mata. "Kau masih benci Chanyeol ya?" tanyanya.
Baekhyun diam. Sebenarnya ia tidak membenci Chanyeol. Bagaimana ya, ia hanya kesal dengan tingkah menyebalkan pria itu. Baekhyun mendengus ringan. "Aku hanya kesal padanya,"
"Kau harus sedikit lebih bersabar," bisik Kyungsoo.
Baekhyun menggangguk ringan. "Aku akan mencoba. Bukannya aku bilang akan membantumu?"
Kyungsoo tertawa renyah. "Aku hanya ingin Chanyeol benar-benar melupakanku, Baek. Ia harus lepas dari bayang-bayangku. Hidupnya sudah terlalu menyedihkan,"
Baekhyun mendesah ringan. "Kau sudah mengenal Chanyeol lama?"
Kyungsoo tampak berpikir. "Kupikir lebih dari seperempat usia hidupku,"
Baekhyun bangkit untuk menatap Kyungsoo. "Wow bagaimana aku bisa menggantikanmu,"
"Kau pasti bisa," Kyungsoo meyakinkan dan Baekhyun hanya diam.
.
.
Sudah satu minggu lebih Baekhyun bekerja di kantor barunya. Selama itu pula ia dan Chanyeol sering menghabiskan waktu bersama. Karena pekerjaan, tentu saja. Pekerjaan mereka menuntut keduanya selalu bersama.
Baekhyun tak tau mengapa ada banyak tugas bersama Chanyeol.
Sore ini pun, hari terakhir ia bekerja minggu ini, Baekhyun melangkahkan kakinya dengan ringan keluar dari ruangannya. Ia terlalu bersemangat menjemput hari liburnya besok. Ia akan pulang ke rumah orang tuanya dan bersenang-senang.
Benar. Baekhyun harus bersenang-senang. Ia sudah terlalu gila dengan semua penyiksaan dalam seminggu ini.
Baekhyun melewati ruangan Chanyeol saat akan menuju lift. Ruangan pria itu kosong, Baekhyun melirik jam tangannya sekilas. Ini masih belum terlalu terlambat, tidak biasanya Chanyeol sudah pulang. Pria itu biasanya akan pulang agak larut menghabiskan seluruh pekerjaannya. Bahkan sekarang berkas-berkas di mejanya masih ada dan layar komputernya sudah tidak menyala.
Baekhyun mengangkat bahu acuh, terlalu malas untuk peduli.
Dengan langkah ringan dan bibir yang bersenandung kecil, Baekhyun menuju tempat parkir yang sepi. Ia pikir semua orang masih sibuk merencanakan liburan singkat mereka besok. Baekhyun bersyukur karena tidak perlu mengantri untuk keluar dari gedung.
Saat Baekhyun memasuki mobilnya, ia nyaris memekik. Kyungsoo berada di sebelahnya, dengan wajah berlumuran darah dan tubuh yang nyaris hancur. Baekhyun melirik Kyungsoo yang menggerakan bibirnya tapi ia tak bisa mendengar apapun. Ia menarik napas berkali-kali, membuat dirinya tenang dan bisa mendengar ucapan Kyungsoo.
Perlahan wajah Kyungsoo kembali normal, suara gadis itu samar terdengar. Memanggil-manggil Baekhyun beberapa kali dengan gugup. Ia juga mendengar Kyungsoo menyebut nama Chanyeol dan namanya bergantian.
"Baekhyun, kau bisa mendengarku?" Kyungsoo nyaris memekik. Gadis hantu itu tampak terengah-engah dan wajahnya diliputi ketakutan.
"Ada apa?" desak Baekhyun.
"Kau harus menemui Chanyeol sekarang," lagi-lagi teriakan Kyungsoo membuat Baekhyun mengernyit. Suara gadis itu menggema diseluruh ruangan mobilnya yang sempit.
"Kenapa?" tanyanya lagi, ia masih memikirkan tentang liburannya besok. Jadi ia tak punya waktu memikirkan Chanyeol.
"Cepat Baek, nanti kujelaskan," desak Kyungsoo, menarik tangan Baekhyun agar menyalakan mesin.
Baekhyun mendengus ringan, tapi ia menuruti kemauan gadis itu.
"Memangnya ada apa?" tanya Baekhyun, membelokkan mobilnya menuju apartemen Chanyeol.
"Chanyeol bertengkar dengan orang tuanya. Aku tidak tau apa yang mereka debatkan. Mereka berteriak dan aku akan menghilang saat mendekati mereka," Kyungsoo menjelaskan dengan suara parau dan Baekhyun tidak mengerti.
"Kenapa?" tanya Baekhyun lagi.
"Ibu Chanyeol bisa merasakan kehadiranku. Dan aku akan menghilang begitu saja saat mendekati mereka. Kupikir aku masih trauma," Kyungsoo menjelaskan lagi.
"Memangnya mereka mendebatkan apa?"
Kyungsoo menggeleng ringan. "Aku tak tau, mereka memaki Chanyeol. Ada namaku dalam teriakan mereka. Chanyeol berteriak. Pikirannya pasti sedang kacau. Aku takut ia melakukan hal bodoh lagi,"
Baekhyun tidak menjawab. Tapi dengan pasti gadis itu menekan pedal gas lebih dalam, membuat mobilnya melaju dengan cepat di jalanan ibukota.
.
.
Baekhyun setengah berlari menuju kamar apartemen Chanyeol, saat sampai, ia menekan tombol-tombol password seperti yang dikatakan Kyungsoo. Sekarang ia sama gugupnya dengan Kyungsoo.
Pintu itu terbuka dan Baekhyun terbelalak. Ia melihat apartemen Chanyeol yang nyaris hancur. Dengan barang-barang pecah berserakan di seluruh ruangan itu. Baekhyun menelan ludah gugup. Ia melangkah dengan ragu dan memanggil nama Chanyeol beberapa kali.
"Dia di kamarnya," ucap Kyungsoo. Dengan cepat Baekhyun menaiki tangga menuju kamar di atas.
Baekhyun menemukan Chanyeol duduk di ranjangnya, menatap dinding di hadapannya dengan pandangan kosong. Di sekitar pria itu, Baekhyun melihat beberapa vas bunga yang pecah, juga kaca meja Chanyeol yang pecah.
Ia melirik Kyungsoo dan Kyungsoo menangguk ringan.
"Chan," bisik Baekhyun. Chanyeol tidak menjawab, bahkan ia tidak menoleh. Pria itu masih mematung dengan pandangan kosong.
Baekhyun mendekat ke arah pria itu, dengan takut dan hati-hati. Ia melihat darah menggenang dan itu berasal dari tangan Chanyeol. Baekhyun memekik. Ia meraih tangan Chanyeol yang berdarah, kemudian bersyukur karena itu bukan berasal dari pergelangan tangannya.
Baekhyun pikir Chanyeol memukul sesuatu dengan kepalan tangannya.
"Cerminnya," bisik Kyungsoo. Baekhyun melirik cermin Chanyeol dan melihat itu pecah, dengan bercak darah tertinggal disana.
"Chanyeol. Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun. Ia masih ragu untuk menyentuh Chanyeol, tapi gadis itu mengguncang bahunya pelan. Chanyeol tidak menyahut, ia masih memandangi dinding kosong dihadapannya.
"Chanyeol. Apa yang terjadi denganmu?" Baekhyun mengguncang tubuh Chanyeol dengan kuat sekarang, berusaha membuat pria itu sadar. "Apa yang terjadi padamu?" ulang Baekhyun, masih berteriak dan mengguncang tubuh Chanyeol.
Chanyeol masih tidak bergerak, sedangkan Kyungsoo mulai terisak.
Baekhyun berusaha untuk tidak histeris melihat temannya yang tampak seperti orang gila. "Chanyeol," ia berteriak lagi, menepuk pipi Chanyeol beberapa kali, masih berusaha menyadarkan pria itu dari lamunan bodohnya. "Kumohon katakan sesuatu, Chanyeol," jeritnya, kali ini mulai merasa takut.
Baekhyun merasakan air matanya perlahan turun tapi ia juga tak tau kenapa ia menangisi Chanyeol. Ia benci pria itu, tapi melihatnya seperti ini membuat hatinya teriris.
"Chan, apa yang terjadi padamu. Kau kenapa?" Ia memukul dada Chanyeol beberapa kali, dengan suara yang nyaris hilang karena isakan. "Chanyeol," teriaknya.
Dengan satu tarikan napas, Baekhyun menampar pria itu. Cukup kuat hingga membuat tubuh Chanyeol terjatuh ke samping ranjangnya.
Chanyeol memejamkan mata dan Baekhyun sedikit lega pria itu sudah sadar.
Baekhyun menarik Chanyeol untuk duduk lagi. "Ada apa? Apa yang terjadi denganmu, Chanyeol?" teriaknya, masih mengguncang tubuh Chanyeol dengan kuat. "Katakan padaku, ada apa, Chan?" jeritnya, nyaris histeris.
Ia melirik Kyungsoo yang berdiri jauh di belakang Chanyeol dengan tangisan.
Chanyeol memandang Baekhyun dengan tatapan kosong. "Baekhyun," ucapnya, suaranya parau. Nyaris tak terdengar, nyaris habis.
"Aku disini. Ada apa?" Baekhyun memelankan suaranya.
"Baekhyun," ulang Chanyeol lagi. Beberapa kali dengan nada suara yang sama.
Air mata Baekhyun runtuh sudah. Ia tak tau Chanyeol memiliki masalah sebesar ini, ia sedikit menyesal selalu berdebat dengan pria itu. Ia menyesal selalu mengatakan Chanyeol pria yang menyebalkan tanpa tau apa yang sebenarnya dihadapi pria itu.
Baekhyun merengkuh Chanyeol dalam pelukannya, mendekap pria itu kuat-kuat. Chanyeol meringkuk dalam pelukan Baekhyun seperti anak kucing, bibirnya masih memanggil nama Baekhyun berulang kali.
"Aku disini, Chan. Aku disini," ucap Baekhyun ringan, menepuk-nepuk punggung Chanyeol. Air mata Baekhyun masih tidak berhenti mengalir. Ia dengar Kyungsoo mengucapkan terima kasih dan perlahan gadis itu menghilang.
Baekhyun tak tau kenapa Kyungsoo pergi meninggalkannya, tapi Baekhyun pikir melihat keadaan Chanyeol sekarang hanya membuat gadis hantu itu semakin sakit.
Chanyeol mulai terisak dalam pelukan Baekhyun dan itu membuat Baekhyun mendesah lega. Ia masih menepuk-nepuk punggung Chanyeol, sedangkan pria itu masih menyebut namanya. "Semua akan baik-baik saja, Chan. Aku disini," bisiknya.
.
.
Hampir setengah jam Chanyeol terisak dan sekarang Baekhyun tak mendengar namanya dalam suara pria itu. Dengan ragu, gadis itu menarik tubuh Chanyeol yang berat dari pelukannya. Chanyeol memejamkan mata, masih dengan mata yang basah, dan dahi berkerut.
Ia pikir Chanyeol tidur karena lelah menangis.
Perlahan, Baekhyun meletakkan tubuh Chanyeol ke atas ranjangnya. Chanyeol masih menggumamkan nama Baekhyun dengan mata terpejam. Baekhyun mengambil kotak obat dan juga air. Sebenarnya ia takut darah, tapi mau bagaimana lagi. Luka Chanyeol harus diobati.
Saat Baekhyun membasuh tangan Chanyeol dengn alkohol, pria itu mengerang. Baekhyun meringis, berhenti sebentar untuk melihat Chanyeol. Pria itu membuka mata, memanggil nama Baekhyun sekali dan menoleh ke arah gadis itu.
"Aku hanya mengobati lukamu," Baekhyun memaksakan diri untuk tersenyum ringan, masih ragu, setengah takut.
Chanyeol bangkit duduk dan bersandar pada bantalan ranjangnya. "Mengapa kau ada disini, Baekhyun?" ucapnya parau. Suaranya terdengar mengerikan.
Sebenarnya Baekhyun takut, tapi ia mencoba tenang. Perlahan ia menarik tangan Chanyeol untuk memberikan obat merah dan juga membungkusnya dengan perban. Ia bersyukur Chanyeol tidak menolak.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Baekhyun, ia mengusap dahi Chanyeol yang berkeringat dan tersenyum.
"Apa yang kau lakukan?" balas Chanyeol lagi, kali ini suaranya terdengar gamang.
Baekhyun tersenyum ringan. Ia merengkuh Chanyeol dalam pelukannya lagi dan menepuk punggung pria itu perlahan. "Kau akan baik-baik saja, Chan. Lukamu tidak parah kok," Baekhyun sendiri tak tau mengapa ia mengatakannya.
Chanyeol menarik diri dan Baekhyun melepaskan pelukannya. "Apa bajumu basah karenaku?" tanyanya.
Baekhyun sebenarnya tidak mengerti, ia melirik bajunya yang basah karena air mata Chanyeol, kemudian tersenyum. "Aku senang mendengar ceritamu," ucapnya ringan, ia menyentuh wajah Chanyeol dengan kedua tangannya.
"Mengapa kau melakukan ini, Baek?" ucap Chanyeol lagi.
Baekhyun tersenyum. "Aku hanya ingin membantu temanku,"
"Teman?" ulang Chanyeol dan Baekhyun mengangguk dengan bingung. "Aku benar-benar menyedihkan," bisiknya ringan.
Baekhyun menyentuh wajah Chanyeol lagi. "Tidak. Kau benar-benar pria yang kuat," Chanyeol menarik tangan Baekhyun dari wajahnya, ia menggenggam tangan gadis itu beberapa saat. Kemudian Baekhyun membelalakkan mata saat Chanyeol mengecupi tangannya dengan lembut dan berulang-ulang, bibir pria itu mengucapkan kata terima kasih. Untuk beberapa saat Baekhyun merasa dunianya berhenti dan ia merasa bodoh.
Mengapa Chanyeol mengecupi jemarinya seperti ini.
"Terima kasih," bisik Chanyeol lagi.
Dengan kaku, Baekhyun tersenyum. Ia menarik tangannya perlahan. "Kau harus tidur, Chan. Ini sudah malam," bisiknya.
Baekhyun melepas blazernya yang basah, menyisahkan hanya kemeja putih ketatnya. Ia mendorong tubuh Chanyeol untuk berbaring dan Chanyeol menahan tangannya, Baekhyun memandangi pria itu dengan bingung.
"Kau akan pergi?" tanyanya.
Baekhyun menggeleng ringan. "Aku akan tetap disini,"
Chanyeol tidak menjawab, ia menarik tubuh Baekhyun agar berbaring di sebelahnya, kemudian membenamkan wajahnya ke leher Baekhyun dan meringkuk dalam pelukan gadis itu. Baekhyun bisa merasakan napas Chanyeol yang hangat menyentuh perpotongan lehernya. Dengan ragu, ia balas memeluk Chanyeol, menepuk-nepuk punggung pria itu perlahan.
Dalam hati memohon, semoga Chanyeol tidak mendengar jantungnya yang berdetak sangat cepat.
.
.
Paginya Baekhyun sudah menyibukkan diri membersihkan apartemen Chanyeol yang berantakan. Kyungsoo datang pagi ini dan menanyakan tentang keadaan Chanyeol. Baekhyun harus berbisik-bisik agar Chanyeol tidak mendengar percakapannya dengan Kyungsoo.
Baekhyun sudah selesai dengan semua pekerjaannya saat Chanyeol bangun. Ia tersenyum ringan saat Chanyeol turun dan melirik Kyungsoo yang masih memandangi Chanyeol dengan bodoh. Baekhyun ingin menanyakan apa yang terjadi pada gadis itu tapi ia tak bisa.
"Selamat pagi, Chan," ucap Baekhyun ringan. Chanyeol hanya tersenyum, duduk di kursi meja makan dihadapan Baekhyun dan membiarkan Baekhyun menyiapkan makanannya. "Kau sudah lebih baik?" tanya gadis itu sambil mengoleskan selai ke atas roti panggang Chanyeol.
Chanyeol mengangguk ringan, ia memakan roti panggangnya perlahan. Kyungsoo menggumamkan terima kasih pada Baekhyun dan ia perlahan menghilang lagi. Baekhyun masih ingin mencegahnya, tapi ia terlambat.
Sial.
Chanyeol mengikuti pandangan Baekhyun dan menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menggeleng. "Tidak ada. Oh ya, aku tadi mengambil sikat gigi baru di toiletmu, kuharap kau tidak keberatan," Baekhyun nyengir dan Chanyeol hanya tersenyum.
"Bukan masalah. Kau bahkan membersihkan semua ini," ucapnya ringan, kembali memakan roti panggangnya. "Terima kasih," gumamnya.
"Kau sudah baik-baik saja?" tanya Baekhyun.
Chanyeol mendesah ringan. "Kau pasti menganggapku gila ya?"
Baekhyun tersenyum dan menggeleng. "Tidak, Chan. Itu wajar. Kehilangan orang yang kau cintai bukan perkara mudah. Aku pernah sepertimu saat kehilangan Jongin. Adikku," bisik Baekhyun. "Itu wajar,"
Chanyeol mengangguk beberapa kali, tapi detik selanjutnya ia seperti teringat sesuatu. "Oh ya, bagaimana kau tau ceritaku?"
Baekhyun mematung, dalam hati merutuki kebodohannya sendiri. Baekhyun berdeham sedikit, kemudian ia tersenyum ringan. "Bukannya kau bercerita padaku semalam,"
Chanyeol mengernyit. "Aku menceritakannya padamu?"
Baekhyun mengangguk kaku, berharap Chanyeol tidak mengingatnya. "Kau tidak ingat?"
Chanyeol menggeleng ringan, pandangannya masih penuh pertanyaan. "Sepertinya aku tidak sadar lagi," ucapnya gamang.
Baekhyun berdeham untuk memecah kecanggungan. "Kau tak perlu mengingatnya,"
"Lalu bagaimana kau bisa masuk dalam apartemenku?"
Dan Baekhyun diam.
.
.
TBC
.
.
Hallo~ Author kembali~
Maafkan Author yang kelamaan hilang. Author terjebak dalam tugas UAS. Sebenarnya tugasnya masih numpuk, tapi ini mendadak ada ide lewat akhirnya ditulis dulu.
Maaf jika ceritanya tidak memuaskan. Author juga mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.
Author ucapkan terima kasih untuk readers yang masih mau membaca dan juga Author tunggu reviewnya. Silahkan komentar, kritik, saran, dan lain sebagainya. Author berharap readers semuanya mereview /hehe/
Akhir kata, terima kasih dan sampai jumpa dichapter depan.
