Chapter 3! yes cerita ini udah mau habis :( karena itulah saya agak gak tega, jadi saya post lebih sedikit-sedikit :|. Kali ini dua segmen aja dulu. Kali ini ada Mr Jibo(?) yang ngasih wejangan dan petunjuk baru untuk Pe. Ceritanya karakter bijak-bijak gitu deh :v. Sampai pada misi penjebakan yang mendadak dangdut.. But wait a sec.. swt banget author mana ini ngasih judul segmen 'Pesta Sabu'? sungguh terlalu. Kalau pembaca yang cuma baca judul doang kan bisa salah pahmi, bisa2 mencoreng nama baik ini.. kckc. Tapi ya emang sementara ini gak ada judul lain yang lebih sesuai sih. Tinggal pegimana pemabaca aja deh urusan nanti :v. OK3 selamat membaca :D Oh yes, jangan lupa review ya kalau sempat :v!


Chapter 3 : Mengelabui Pelanda

Segmen 3.1 : Aku Lebih Berpengalaman

"Wah Kak Pe luar biasa! ", Komentar Nay yang langsung menghampiri Pe setelah hi-touch. Ternyata dia menonton teater tadi.

"Kak Pe emang selalu luar biasa Dek. Jangan sampai kamu bilang dia biasa aja, nanti bisa-bisa... " Sahut Jenab sok senior begitu melihat ada adik kelas, padahal secara umur dia lebih muda dari Nay.

"bisa-bisa apa?" Potong Pe, dengan sorot mata tenang tapi menukik tajam. Jenab tidak jadi melanjutkan, cemas kalau cuaca besok pagi jadi tidak bersahabat.

"Kak Jenab juga hebat! Tapi kemampuan Teh Mely pasti jauh lebih tinggi ya, sampai harus ditandingi oleh kalian bertiga.. " Kata Nay memuji lagi. Tapi kali ini ibarat dijunjung tinggi lalu dibanting ke tanah, Jenab yang paling merasa sedih dengan pujian pedas ini.

"Awalnya muji tapi akhirnya ko gak enak ya?.. Okey untuk saat ini aku terima Kak Mely emang imba. Tapi lihat aja nanti, karena tak selamanya... jagung itu dibakar.. lalala yeyey :v" Jenab lanjut berlalu meninggalkan mereka. Tapi baru beberapa langkah, dia harus minggir karena dari lorong terlihat Mely bersama manajer mereka menuju ke arahnya. Di belakangnya Achay mengikuti sambil tersenyum lutju melihat Jenab dan Pe. Sedangkan keduanya belum mengetahui apa yang sedang terjadi.

"Chay, kamu yang aduin ke Kak Boby?" Tanya Pe memastikan.

"Iya Kak aku tunjukin video ini sebagai bukti dan Kak Boby percaya, trus Ka Mely langsung dipanggil. Aku juga gak nyangka, padahal aku belum ngejelasin apa-apa baru ngasih liat video doang. Kenapa Kak, salah ya? yahh maap deh.." Jawab Achay.

"Gak kok, tadinya aku yang mau bilang. Tapi kalo udah ya baguslah. Btw persiapkan diri kalian, mungkin sebentar lagi kita ikut dipanggil.."

Benar saja, saat itu terlihat sang manajer berbicara dengan the Godfather, Mr. Jibo. Beliau tampak sedikit terpukul dengan kejadian ini. Mungkin reaksinya akan lebih ringan jika saja bukan Mely yang berada di sana. Maklumlah Mely sudah menjadi kesayangan karena menjadi front face dari grup aidel ini. Jekeiti identik dengan Mely, dan Mely adalah Jekeiti. Tidak ada yang menyangka dia pelaku semua kekacauan yang membuat bingung semua orang akhir-akhir ini. Meskipun sekarang Jenab juga tidak kalah popular dibandingkan dengan Mely, tetapi Mely dianggap bisa menjangkau segmen pasar yang lebih lebar daripada Jenab. Fans Mely berasal dari hampir semua usia, sedangkan Jenab masih sebagian besar pada rentang usia remaja saja.

"Pe, Jaenab, Achay, kalian dipanggil ke ruangan bos.." Kata sang manajer, Kak Boby, terlihat sangat serius.

"Ingat satu hal, jangan sok pintar, okey? Bicara seperlunya. Semua akan baik-baik aja. Jangan merasa diri kalian lebih benar daripada Mely. Dia anak emas bos, kalian harus maklum." Lanjut Kak Boby sambil memberi semangat. Selanjutnya mereka bertiga masuk ke ruangan Mr. Jibo berbaris rapi dengan Pe ditunjuk sebagai yang paling depan(?).

"Hanya kalian yang tahu soal ini? Coba saya lihat videonya.." Tanya Mr. Jibo setelah keempat member berbaris rapi di hadapannya.

"Iya mister, yang saya tahu cuma kami.." Jenab menjawab singkat, ia ingat pesan Kak Boby. Mr. Jibo menerima smartphone yang langsung diberikan oleh Achay di mana rekaman video itu disimpan. Rambutnya yang sudah beruban hampir semua ikut bergerak-gerak ketika kulit dahinya mengerut melihat rekaman itu.

"Kalian ada yang punya salinan video ini?" Tanya Mr. Jibo kembali setelah selesai mengamati. Tak ada yang menjawab. Sebenarnya Pe sempat meng-copy untuk dirinya sendiri tapi ia memilih untuk tidak menjawab.

"Tidak mister.." mereka menjawab serentak kecuali Pe. Mr. Jibo menyadari hal itu, tapi ia mendiamkannya.

"Saya akan hapus video ini dan menganggap masalah ini selesai sampai di sini. Jangan sampai ada orang lain yang tahu soal ini. Member, fans, pers, bahkan keluarga kalian sendiri. Kalau sampai saya tahu, kalian yang akan saya panggil. Untuk Mely, dia akan saya beri hukuman supaya kalian merasa adil. Saya tidak mau masalah seperti ini mengganggu pikiran kalian. Kalian sudah disibukkan dengan jadwal yang padat, teater, school, latihan, shooting, concert,.. apalagi? *Untungnya kalian mau mem-putussementara-kan pacar kalian, jadi setidaknya satu masalah besar sudah kalian singkirkan (anggapcumaiklanlewat #abaikan :v)*. Semakin besar grup ini kita akan semakin sibuk dan gangguan bisa datang darimana pun, termasuk dari dalam. Semoga ini bisa menjadi pelajaran supaya kita bisa lebih baik untuk ke depannya. Paham? "

"Paham mister.." Lagi-lagi mereka menjawab mantap, kecuali Pe. Dia merasa ingin menyampaikan sesuatu tetapi dia ingat pesan Kak Boby. Kalau ia bicara dan tampak sok pintar, bisa tamat gasik riwayatnya. Mr. Jibo menyadari hal ini tapi masih membiarkannya.

"Satu lagi. Setelah keluar dari ruangan ini, kalian berempat saya tugaskan untuk bersih-bersih area teater, dari ujung depan sampai ujung belakang."

"Hah?" Kali ini keempatnya kompak terkesima dengan perintah mendadak itu.

"Ini sebagai tanggung jawab karena kalian berempat yang membuat kekacauan di teater tadi." Jelas Mr. Jibo. Mereka pun paham dan membenarkan meski mereka tahu perintah ini sebenarnya untuk mengkompakkan mereka kembali.

"Sepertinya sudah cukup dari saya. Ada yang mau ditanyakan? " Tanya Mr. Jibo seperti menangkap masih ada ganjalan pada ekspresi muka mereka berempat.

"Ada Mister. Ee.. kalau boleh tahu hukuman buat Mpok Mely apa ya?" Jaenab seperti biasa tidak bisa menahan rasa penasarannya. Sedangkan Mely tampak tak bereaksi, seperti tak ambil pusing biarpun mereka tahu hukuman yang diterimanya.

"Kita akan mematahkan sebelah sayapnya. Lalu kita lihat apakah dia masih bisa terbang dengan sayap yang tertinggal.." Jawab Mr. Jibo sambil mengamati Mely yang masih memasang muka tanpa ekspresi sedikitpun. Kata-kata itu agaknya susah dimengerti oleh Jaenab. Tapi ia mengangguk-angguk saja daripada dianggap banyak tanya, nanti bisalah ia tanya kepada Pe tentang artinya.

"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kalian boleh keluar. " Mr. Jibo memperhatikan wajah mereka satu persatu. Dia tampak lelah menghadapi kenakalan bocah-bocah remaji ini. Mungkin tidak sering kejadian sebesar ini terjadi, tetapi hampir setiap hari ada saja konflik di antara mereka. Ada yang bisa diselesaikan baik-baik, ada pula yang akhirnya memilih mundur. Tapi Jibo-san sudah berpengalaman dengan dunia seperti ini. Banyak yang mengatakan dia terlalu keras kepada member, tapi pada kenyataannya dia hanya mendisipinkan dan mengkompakkan mereka. Berlianpun harus diasah dengan intan supaya menjadi indah dan bernilai tinggi kan?(?).

Mely, Achay, Jenab segera meninggalkan ruangan bos. Hanya Pe yang masih tinggal. "Ada apa lagi Pe? Apa kamu mau minta izin gak bisa ikut bersih-bersih? " Tanya Mr. Jibo.

"Eh, gak Mister, saya bisa. Tapi.. sebelumnya ada yang ingin saya sampaikan. Sebenarnya saya masih menyimpan salinan video itu.." Pe menunduk, takut diomeli. Mr. Jibo diam sejenak, ternyata dugaannya tadi benar. "Saya masih menyimpan video itu karena suatu saat mungkin saya membutuhkannya." Mr. Jibo dibuat sedikit bingung dengan pernyataan Pe kali ini. Tapi sebentar kemudian dia agaknya sudah memahami maksudnya.

"Saya tahu kamu adalah orang yang bisa dipercaya. Saya justru senang kamu mengatakan ini, tandanya kamu tertarik dengan kasus ini. Tapi sebenarnya video itu tidak membuktikan apapun kan?" Pe tidak mengira ternyata Mr. Bos sudah bisa menyimpulkan dengan sekali lihat tadi. Tapi dia ingin lebih tahu lagi sampai mana beliau tahu tentang kasus ini.

"Orang di video itu memang tampak seperti Mely, tapi saya tahu itu bukan dia. Apalagi kita tidak tahu pasti apa yang dilakukannya, karena pandangan kita terhalang. Hanya satu hal yang saya kira bisa dijadikan petunjuk penting dari video itu, yaitu tinggi badan orang itu lebih tinggi dari Mely tapi masih sekitar seratus enam puluh ke bawah. Bagaimana, apa perhitungan saya sama dengan kamu?" Sekali lagi Pe terkejut, ternyata Mr. Jibo juga tahu kalau itu bukan Mely, persis dengan yang ia pikirkan.

"Mister tahu kalau itu bukan Mely, tapi kenapa mister menghukumnya?"

"Mely memang bukan yang melakukan itu. Tapi dia juga bersalah karena melindungi tersangka sebenarnya." Pe ikut merasa sedih di sini. Tapi dia paham alasan Mr. Jibo memang ada benarnya. "Sebenarnya ini bukan masalah yang terlalu serius. Tapi dampaknya bisa lebih parah kalau tidak segera dihentikan. Pe, saya minta kamu yang membawa orang itu ke sini. Katakan saja, kalau dia masih mau bertahan di grup ini supaya menghadap saya dalam dua hari atau jika tidak maka saya persilakan angkat kaki.." Pe langsung mengerti. Sepertinya Mr. Jibo tidak mau menyia-nyiakan hasil pemikiran Pe untuk mengungkap kasus ini.

"Woy Kak Pe, jaker-jaker! Ngapain si? :v" Bisik Jenab melongok dari luar ruangan pintu yang terbuka. Agaknya dia penasaran apa yang menahan Pe di sini. Tapi yang dipanggil hanya menengok sebentar lalu memberikan kode dengan tangannya mengisyaratkan sebentar lagi.

"Maaf mister kalau saya lancang, tapi saya ingin menyampaikan satu hal lagi.." Lanjut Pe.

"Katakan saja. Manajer itu pasti mengatakan sesuatu supaya kalian tidak banyak bicara ya? Hahha.. sebenarnya saya tidak sekaku itu. Hanya kepada orang-orang tertentu yang kurang disiplin. So, please be honest.."

"Oh, saya kira juga begitu. Masih tentang Mely, apakah tidak sebaiknya kita menjelaskan semuanya kepada publik sehingga tidak beredar informasi yang tidak benar atau setengah-setengah saja? Saya kira jujur kepada publik akan lebih baik, daripada mereka menerka-nerka.." Pe menunduk, takut ada yang salah dengan kata-katanya. Mr. Jibo tidak langsung menjawab, beliau berusaha mencerna maksud Pe dan membandingkannya dengan pikirannya sendiri supaya tidak terjadi kesalahpahaman.

Kemudian tangannya mendarat hangat di bahu Pe, sambil berkata, "Saya menghargai pendapat kamu Pe, tapi saya masih lebih berpengalaman. Tidak semua hal publik harus tahu. Dan informasi yang setengah-setengah itu lebih mudah dibantah daripada jika mereka tahu keutuhannya. Hahhaha.. sudahlah, silakan bergabung dengan teman-teman kamu, mereka sudah menunggu." Mr. Jibo menepukkan telapak tangannya dua kali di pundaknya seperti ayah berbicara kepada anaknya sendiri. Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Pe mengundurkan diri dari ruangan Mr. Jibo. Ia lalu bergabung dengan yang lain yang sudah mulai dari tadi melaksanakan hukuman.


Segmen 3.2 : Pesta Sabu

"Kak, tadi maksudnya Mr. Jibo apa ya? yang hukuman buat Mpok Mely.." Tanya Jaenab sembari kedua tangannya mengendalikan batang pel sampai terbentuk lukisan bajay di lantai.

"Kalau aku bilang, mungkin.. mungkin nih ya, Ka Mely bakal lebih dikurangi waktu tampilnya bersama Jekeiti. Ya kurang lebih kayak kamu dihukum guru di sekolah gak boleh ikut pelajaran selama beberapa waktu.." Jawab Pe masih dengan tenang dan penuh kasih sayang membersihkan jendela.

"Trus apa hubungannya sama sayap yang patah sama sayap yang tertinggal?" Lanjut Jenab.

"Hmm, aku juga ragu-ragu sih. Kalau boleh aku simpulin, patah yang dimaksud bukan berarti lepas, tadi Mr. Jibo bilang patah bukan lepas atau potong kan? Jadi mungkin patah itu maksudnya cidera dan gak bisa digerakkan untuk jangka waktu tertentu. Dan sayap yang tertinggal artinya ... "

"Jangan sok tau deh.. Kebiasaan!" Potong Mely dengan sedikit kesal karena dirinya dibuat bahan pembicaraan. Ia baru datang membawa pel dan embernya sendiri. Jaenab dengan cepat mengevakuasi semua peralatan pelnya ke sudut lain sehingga membuat jarak yang cukup aman dengan Mely.

"Heh sini dideketin malah pergi. Jaeee..!" kata Mely setengah berteriak.

"Ampun Kak saya jangan diapa-apain, saya masih kecil masih anak esempe, besok baru mau UN. Daripada dimarahin mending dido'ain, ye kan?.."

"Apaan sih, kalo kerja tuh yang bener. Itu apaan malah gambar-gambar gak jelas! Biar cepet selese nih aku kasih tau kamu pel setengah situ aku setengah sini, kita gerak mundur sampai mentok ke sana jadi bagi tugas biar cepet! Oke?!" Kata Mely menjelaskan sambil nunjuk-nunjuk. Nabilah akhirnya mengambil napas lega ternyata Mely bukan mau memarahinya. Ia pun setuja dengan perintah Mely karena juga ingin cepat-cepat menyelesaikan hukuman ini.

Sekitar satu jam kemudian mereka terlihat sudah hampir beres semua. Theater yang sebelumnya terlihat terlalu luas, ternyata bisa diselesaikan lebih cepat bersama-sama dan dengan organisasi yang baik terutama Mely yang sering memberi arahan. Ternyata sikapnya yang suka marah-marah itu hanya pendapat orang yang belum mengerti saja. Karena memang begitulah cara khas-nya untuk mengatur orang lain dalam suatu pekerjaan. Mereka jadi paham kenapa Mely bisa menjadi member favorit Mr. Jibo, mungkin karena sifat mereka yang mirip itu(?).

"Ka Mely boleh minta tissue? Kebetulan punya aku habis tadi lupa mau beli lagi..." Pinta Pe ketika mereka mengobrol di backstage sembari membersihkan diri.

"Harusnya disediain tissue free buat member di sini. Kalo gak ada aku apa kamu bakal pake tissue toilet Pe?" Kata Mely sambil menyodorkan sebungkus tissue miliknya.

"Hah? ee.. Yaaa.. emm.. mungkin.. Kalau emang bersih kenapa enggak? Heheh" Jawab Pe sambil tersenyum kecut menjawab pertanyaan yang sedikit aneh dari Kakak tertua kedua di Jeketi itu. Ia meraih tissue itu dan mengambil beberapa helai lalu mengembalikannya.

"Ya ampun udah jam sepuluh lebih, aku pergi duluan ya.." Kata Mely dengan tergesa-gesa meraih sepatunya dan memakainya dengan cepat.

"Ohya besok pagi ada pemotretan, Kak Mely ikut juga ya?"

"Aku ada kuliah pagi besok. Mungkin lain kali. Kalian juga jangan pulang terlalu larut ya.. bye!" Ucap Mely terakhir kalinya dan langsung beranjak meninggalkan Pe sendirian. Achay dan Jae sedang pergi mencari Bang Edy Supano atau sering disingkat Bang Ano, security teater yang jaga hari itu untuk melaporkan bahwa mereka sudah selesai. Tapi ternyata cukup susah mencari orang ini sehingga mereka belum kembali sampai sekitar sepuluh menitan.

"Lama amat, ketemu gak Bang Ano nya?" Tanya Pe langsung begitu Nab dan Achay muncul.

"Iye, ketemu lah dia lagi ngecengin cewe waitress di lante dua. Buset pantesan betah banget. Katanya oke nanti nyusul, ya udah kita balik duluan aje ngapain nungguin orang pacaran? Oh iya.. kita juga liat Eska barusan, kayaknya dia mau ke sini" Jawab Jenab datar.

"Hah Eska? Dia liat kalian gak?" Pe langsung berdiri dari duduknya.

"Enggak sih, lah Kak Mels mana?" Kata Achay.

"Udah cabut. Ayo kita sembunyi, jangan sampe Eska tau kita masih di sini!" Kata Pe sambil buru2 membawa barang2nya dan menyembunyikan yang tidak perlu.

"Eh? Tungguin. emang ada apa sih Kak? Sembunyi di mana?" Tanya Jae dan Achay bergantian. Mereka tidak mengerti apa yang akan dilakukan Pe.

"Udah nanti aku jelasin. Sekarang nurut aja! Kita ngumpet di...FOH aja cepet2!"

Selang beberapa lama pintu belakang luar terbuka. Pasti itu Eska, karena kalau bang Ano harusnya lewat depan. Terdengar Eska lalu bertemu dan terlibat pembicaraan dengan bang Ano. Tapi karena cukup jauh mereka bertiga tidak jelas menangkap isi pembicaraan itu. Kemudian Eska pergi lagi dan bang Ano melanjutkan tugasnya, memeriksa daleman teater. Terdengar suara langkah kaki mendekat, kadang berhenti sebentar, lalu berjalan lagi. Begitu dirasa cukup dekat, Pe dengan cepat menarik bang Ano ke persembunyian mereka.

"Apa-apan ini? heh ini awewe2 lagi ngapain di sini, hayo pesta sabu ya?" Tanya Bang Ano begitu tahu yang di situ adalah member.

"Anjay.. kang bajay baek2 begini dituduh pesta gituan. Haram bang haram! Astaghfirulloh.." Sahut Jenab yang paling gak terima dibilang begitu.

"Kita lagi ada misi rahasia Bang, ntar saya jelasin. Bang Ano, tadi sama Eska ngomongin apa?"Tanya Pe.

"Katanya dia mau jemput kakaknya, Neng Mely. Saya bilang aja gak liat. Trus saya bilang lagi nyari Jaenab sama Achay. Tadi manggil ke sini tapi begitu saya sampai sini malah ga ada orang.. Udah gitu doang trus dia pergi lagi" Jawab Bang Ano dengan jelas dan lugas.

"Bang Ano, kita lagi mau nangkep basah pelaku yang naroh racun di minuman member. Aku punya rencana, Bang Ano nanti keluar sama Achay dan Nab. Terus jalan aja pura-pura mau pulang. Kalau jebakan kita berhasil, pelakunya bakal ke sini begitu ia kira udah gak ada orang. Tapi kalian jangan pulang beneran, nanti balik lagi begitu aku hubungi. Untuk sekarang jangan banyak nanya dulu, yang penting itu dulu, oke?" Kata Pe menjelaskan dengan suara pelan. Ia tak mau membuang waktu karena takut sasarannya curiga.

"Oke. PErintah dimengerti! lets do it!" jawab bang Ano, Achay dan Nab serentak. Mereka langsung berangkat melaksanakan misi dari Pe.

"Aku mengandalkan kalian.." Kata Pe terakhir kali sebelum melepas mereka.

"Percayakan pada kami, kami pasti kembali. Namun, jika kami tidak kembali dalam satu jam, maka ... " Mata Bang Ano mulai berkaca-kaca, lalu menarik napas panjang..

"Udah cepetan! ... " Ujar Jaenab menarik Bang Ano pergi sebelum terjadi adegan berpelukan yang tidak diinginkan.

Pe kembali terduduk di tempat persembunyiannya, sedangkan mereka bertiga langsung berangkat pergi. Ia memasang telinga dan matanya baik-baik. Menunggu orang itu masuk ke dalam perangkap. Di luar terlihat dari sela tirai-tirai hitam, rembulan masih menampakkan sinar yang penuh. Keindahan yang menatap keindahan, terekam dalam siluet malam. Seakan ingin mengabadikan keajaiban ciptaan Tuhan.

Bersambung lagi...