Grep
"Heh?" Keterkejutan menghampiri siswi blonde itu. Tanda tanya sumbang sebagai balasannya. Ingin bergerak, tapi pemuda di depannya begitu erat memeluknya. Tubuhnya bisa remuk. Sungguh … ia pun mulai kehabisan nafas.
"Maaf, tuan. Ta―"
Hik
Sebelah tangan mungil itu mendadak menggantung di udara. Apa ini semacam ilusi? Baru beberapa hari siswi blonde ini menginjakkan kaki di kota, namun ia sudah dikejutkan dengan tingkah seorang asing yang tiba-tiba memeluknya.
Entah ada dorongan apa, tangan siswi tersebut bergerak sendiri, balas merengkuh Sasuke. Dimulai dengan mengusap punggung lebar si orang asing, sampai sesuatu berupa cairan hangat menetes tepat di atas pundak sang gadis.
Dia menangis?
Sasuke benar telihat kacau. Kedua bahu yang selalu terlihat tegap itu kini tak ubah terlihat ringkih. Bergetar, begitu rapuh. Terisak tertahan pasti menyakitkan. Air mata yang semula dianggap aib, sekarang entah pergi kemana prinsip itu. Kemana kau dengan dagu angkuhmu itu, Wahai Uchiha? Kemanakah dirimu beserta segala harkat martabat yang engkau junjung tinggi? Segalanya terlampau sulit diungkapkan. Biar hati yang berbicara. Biar lewat kedua tangan besar itu semuanya tersampaikan. Lewat setiap desir darahmu, pada setiap ujung jemarimu menekan tubuhnya, lewat semua sentuhan ini … biarkan semuanya tersampaikan. Berteriaklah, wahai Kau yang mencinta. Sampaikan rasa rindu tak tertahankan ini. Sampaikan bahwa kau tak sanggup membendungnya.
"Semua akan baik-baik saja. Apapun masalahmu, semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja, pasti akan baik-baik saja." Begitulah lagu yang baru saja disenandungkan siswi berambut blonde itu. Sesungguhnya, siswi itu pun tak tahu apa yang tengah ia lakukan. Seperti ada dorongan, seakan ada perintah, ia diminta untuk menghibur pemuda di hadapannya.
"Semua akan baik-baik saja―" Ia masih setia mengusap pelan surai biru tua pemuda di hadapannya. Begitu perlahan, begitu lembut.
"―pasti baik-baik saja. Percayalah." Dan sebuah senyum tulus diberikannya, meski ia tahu pemuda itu tak melihat. Meski ia tak tahu apa masalah yang sedang dihadapi pemuda itu. Tapi satu hal yang pasti, setidaknya pemuda itu sudah lebih baik.
"Lagu itu sepertinya pernah kunyanyikan untuk seseorang juga. Seseorang yang mirip denganmu." Untuk kesekian kalinya, gadis blonde itu tersenyum. Senyum penuh pengertian.
Sasuke kini mengangkat wajahnya. Ia tahu orang-orang di stasiun pasti memandang heran mereka. Tapi semua perkataan yang diucapkan gadis di depannya sulit untuk dihiraukan.
"Shion?"
"Eh, Oro-senpai?" Belum sempat Sasuke mencerna kalimat yang dilontarkan sang gadis, sekoyong-koyong gadis yang dipikir Sasuke adalah 'Ino'-nya berlari kecil dan menghambur ke pelukan seorang pemuda yang lebih muda darinya. Ada sesuatu yang salah di sini. Ada sesuatu yang salah.
"Wah, kalau sudah dengan senpai, sisi manja Shion muncul. Betul 'kan apa yang kubilang? Pasti Shion-chan ada hubungan dengan senpai. Ayo, mengakulah." Begitulah godaan yang dilancarkan teman-teman Shion. "Ah, ada apa dengan kalian? Tidak ada yang berbeda."
Jelas sekali, ada rona kemerahan di kedua pipi Ino-nya. Memang ada yang salah di sini. Shion adalah Ino, bukankah seharusnya begitu?
"Shion, dia siapa?" Mungkin karena Sasuke yang sedari tadi memerhatikan Shion, membuat pemuda berambut panjang di sana bertanya. Sasuke seketika tersentak bersamaan dengan Shion yang baru tersadar juga.
Tatapan Shion merendah. Dengan perlahan, Shion melangkahkan kakinya mendekat pada Sasuke. Sementara Sasuke—pria bermarga Uchiha itu—diam terpaku. Tepat saat Shion berhenti, tiba-tiba saja semua indera Sasuke tak berfungsi. Mati rasa.
" … Aku mencintaimu―"
Jleb
Mata Sasuke seketika melebar. Ia tidak salah dengar. Hanya saja Sasuke terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"—Cobalah katakan itu padanya," lanjut Shion seraya tersenyum. Kejutan beruntun. Gadis itu lalu membalikkan badannya dan mendapati seorang yang dipanggil 'Oro-senpai' tersenyum, seakan menyuruh untuk segera pergi.
'Cobalah katakan itu padanya.'
"AKU MENCINTAIMU!"
Tap
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Ino."
Dibalik punggung itu, Shion sempat tersentak namun tak lama, karena selanjutnya ia tersenyum penuh arti. "Itu lebih baik. Seperti itu nanti caranya, ya." Shion menoleh sejenak sebelum gadis itu benar-benar pergi.
Memang ada yang salah di sini ataukah ini yang dianggap Kami-sama sudah benar?
—OWARI―
A/N :
Untuk semua reader baik yang login maupun yang tidak login tak terkecuali silent reader, thanks sudah mau menyempatkan waktu untuk membaca fic sederhana ini. Thanks juga untuk yang mau menginjak(?) fav atau follownya. Maaf untuk yang review beberapa gak sempat dibalas. Maaf sekali lagi ya.
