Hahahahaha.
Kdramon sedang stress, minnasan.

Just kidding, malah saya lagi goodmood abis nih, gara-gara sekolah diliburin #eh

Anyway, to the point, ini ada 3 lagi chapter- up to chapter 4- yang saya post, karena ternyata si dewa PerseusHood sudah ngetik dengan kecepatan dewa. Saya baru off sehari udah langsung 3 dokumen ada.. Mungkin gara-gara dia tinggal ngejiplak dari buku, atau dia emang dewa *sembah dewa* #loh

Dan, ternyata, the chapter terakhir yang kita tulis handwrited itu chapter 5.. Selanjutnya, harus dibikin via cara tradisional saya- mikirin ide terus ketik ditempat secepatnya tanpa buang waktu (?)

Just enjoy these chapters then~


Lost Saga Online

A LostSaga Fanfiction
by Kdramon and Percyhood


Chapter 2 : Grim Templar

"I-ini.. apa?"

"Darkstar Timegate Scroll. Cuma satu orang dalam sejarah Lost Saga yang dapat memiliki scroll itu. Scroll yang sangat – SANGAT langka."

"Tapi, kenapa ini rare? Dan apa fungsi scroll ini?"

"Butuh banyak waktu untuk menjelaskan. Ayolah, sekarang kita harus pergi dari tempat ini dahulu!"

Chrono tidak dapat mengerti sedikitpun tentang dunia ini. Dia baru masuk kedalam dunia ini, melihat pertarungan antara dua penghuni padang gurun, dan sekarang dia dipaksa untuk kabur dengan seorang Veteran yang baru bertemu dengannya, tepatnya, yang baru saja menyelamatkannya.

Aku mau menikmati dunia ini, bukan terlibat dalam sesuatu yang aneh, pikirnya dalam hati.

Namun Chrono tidak memiliki pilihan. Di sisi lain, dia penasaran mati untuk mengetahui setiap detil tentang item aneh yang ada di inventorinya, Darkstar Timegate Scroll. Mungkin ia akan melakukan apapun untuk mengetahuinya.

"B-baiklah, tapi bagaimana caranya..."

PRANG! Dari sudut kapal lain, terlihat sesosok orang yang terlontar di udara, memecahkan jendela kapal.

Sosok-sosok lain mulai bermunculan, mengepung Chrono, sang gadis veteran, serta sang Desert Blader yang terkapar tak sadarkan diri.

"Pasukan Legiun..."

Dengan reflek Chrono mengangkat wolf swordnya, namun palu raksasa menghalangi langkahnya.

"Mundur, bawa pria ini, biarkan aku melakukan ini seorang diri."

Grand Templar itu mengambil langkah maju.

"Kalian membantai orang-orang yang berada di fraksiku, hal itu, aku tak dapat memaafkannya."

Para Hawkeye mengepung dan langsung menyerang.

"Windmill." Gadis itu berteriak. Dengan gerakan yang indah dia memutar palu raksasanya, menghantam sekelilingnya, ketika para Hawkeye tengah memutar-mutar sabit mereka. Gerakan memutar yang mereka buat menciptakan badai angin besar. Chrono hanya dapat mendengar dentingan besi beradu.

Badai berhenti, menyisakan asap debu disekitarnya. Satu bayangan terlihat oleh Chrono. Awalnya samar-samar, namun ia melihat sang gadis dengan palu raksasanya, berdiri tegak diantara para Hawkeye yang terkapar tak berdaya.

"K-kau... mereka..." Chrono tergagap.

"Menang? Iya. Mati? Iya. Sekarang ikut aku, kita gak punya waktu untuk bersenang-senang merayakan kemenangan sembari berbincang. Kita masih terjebak dalam perang bandit disini."

Bahkan untuk seorang yang talkative dalam game, tak sepatah katapun keluar dari mulut Chrono. Benar-benar kekuatan mengerikan yang ditunjukkan seorang dengan pangkat Colonel.

Gadis itu menarik lengan Chrono sembari mencari jalan keluar dari kapal kargo tersebut.

"Bagaimana caranya..."

"Itu namanya skill, gerakan spesial yang dimiliki setiap hero, berbeda antara satu hero dengan yang lain."

"Bagaimana kau bisa menebak setiap pertanyaanku?!"

"Emm, tebakan beruntung?"

"Tapi..."

SRING! Cakram besi menancap tepat didepan kaki Chrono.

"Jadi kita bertemu lagi, Alph." Dari atas tumpukan kotak kargo, sesosok bayangan Hawkeye abu-abu sedang memutar-mutar sabit besinya dengan jari telunjuknya.

"Saber..." Mata Alph menyala-nyala, menunjukkan aura kebencian.

"Ini siapa? Teman barumu? Tak apa, akan kulenyapkan juga dirinya dari dunia ini seperti... siapa namanya? Hakua ya? HAHAHAHAHAHAHA!" Saber memberikan tawa liciknya.

BAM! Palu Alph menghantam lantai dengan keras, memberikan goncangan yang cukup dahsyat di dek kapal. Muka Alph sangat merah seakan-akan ia dapat meledak kapanpun.

"Kau membunuh sahabatku, dan sekarang kau mencoba untuk membunuh orang yang dapat menamatkan game ini? Sungguh, aku takkan pernah memaafkanmu!"

"Tenanglah Alph, aku akan melenyapkanmu, serta temanmu itu dengan cepat. Seperti yang sudah kulakukan kepada si Reaper Hakua itu."

Chrono semakin kebingungan akan hal yang terjadi di hadapannya. Namun mendengar kata-kata Saber, dia tau dia tak mungkin tinggal diam.

"Mundur, aku akan menyelesaikan ini secepatnya." Alph memberi instruksi.

Chrono mengangguk, namun dia tetap menjaga posisi siaga.

TRING! Sabit-sabit Saber beradu dengan palu raksasa Alph.

"S-sial..." Kalah jumlah senjata, Alph mulai kewalahan dalam menghadapi Saber. Sedikit demi sedikit, bar HP diatas kepala Alph mulai menipis.

"Flying Glaives!" Sabit-sabit saber dilempar dengan kecepatan super, memaksa Alph untuk bertekuk lutut akibat serangannya.

"Spincutter!" Saber melakukan gerakan berputar yang melempar Alph ke udara.

BRUK! Alph terjatuh dari ketinggian, menyisakan nyawa yang tinggal seperempat bar.

Chrono tau dia harus melakukan sesuatu. Saat ia hendak menolong Alph, tatapan langsung diberikan oleh Alph kepadanya. Ekspresinya penuh amarah meskipun air mata mengalir di pipinya. Seolah mengerti maksud Alph, Chrono kembali ke posisinya, berharap apa yang dilakukannya itu benar.

Saber menyerang kearah Alph dengan sabitnya yang berputar. Alph menepisnya dengan palunya. Namun sabit lain datang dari tangan Saber yang lain.

TRANG! Sabit Saber yang lain membentur keras besi padat. Alph mengeluarkan Scythe bercahaya ungu dari tangan kirinya.

"I-ini... Tidak mungkin!" Saber yang menyadari munculnya benda tersebut, mengambil langkah mundur. Senjata tersebut memberikan aura mencekam bagi siapapun yang melihatnya.

"Scythe itu milik..."

"Hakua." Alph berdiri dan langsung melancarkan serangan bailk. Saber yang tidak siap menerima serangan, akhirnya tak dapat mempertahankan dirinya dari serangan-serangan Alph yang agresif dan cepat.

"Kau lengah." Palu raksasa Alph menghantam Saber dan mengangkatnya ke udara.

"Reap" Scythe ungu Alph menyayat-nyayat tubuh Saber di udara dan menghantamnya kembali ke kapal.

BRAK! Saber menghantam dek kapal dengan keras. Bar HP Saber menunjukkan setitik darah tersisa, takkan sanggup untuk menerima satu serangan lagi.

"Kau menang kali ini, Alph. Namun kupastikan kau akan mati saat kita bertemu kembali." Dengan mengatakan itu, Saber melarikan diri dari kapal kargo.

"Tunggu, aku belum selesai!" Alph mencoba untuk mengejarnya, namun Chrono menahan Alph.

"Jangan lupa aku ada disini. Aku tak tau masalah apa yang terjadi antara kalian berdua, namun aku yakin kau tidak akan selamat dengan sisa nyawa yang sekarat itu." Chrono menunjuk bar HP Alph. Menyadari nyawanya sudah terkuras banyak, Alph menghentikan usahanya untuk mengejar Saber.

Satu hal yang benar-benar membuat Chrono berpikir keras. Bar HP Alph berkurang terus menerus meskipun ia tak menerima serangan apapun.

"Sebenarnya, kau ini Grand Templar atau Grim Reaper?"

"Kau rabun yah? Jelas-jelas Grand Templar, bodoh! Lihat penampilanku."

"Tapi... Scythe itu?"

"Ini milik sahabatku, Hakua."

"Tunggu, di LSO ada fitur pinjam senjata?"

"Bodoh! Aku mengambil senjatanya tau. Dia sudah tidak ada di dunia ini!" Mata Alph memandang Scythe tersebut dengan ekspresi sedih. Dia menyimpan scythenya kembali kedalam inventorynya.

Chrono menyadari hal lain, bar HP Alph berhenti berkurang.

"Jadi daritadi HPmu menurun karena..."

"Ya, Scythe ini memakan HPku."

Chrono benar-benar bingung. Namun mengingat-ingat perkataan Alph tadi, Chrono memutuskan untuk menanyakan sesuatu yang benar-benar mengusiknya.

"Apa maksudmu dengan satu-satunya orang yang dapat menamatkan game ini?"

-Chapter 2, End-


Saya ampir yakin sih, sedikit yang mau baca fanfiction dari LostSaga.

Tapi, karena seru, ya masa bodo ah mau berapa yang baca (?) Buat yang gak suka LS tapi baca, makasih banget loh! Honto ni arigatou from K-mon and Percy!

Hakua: And from me, Hakua! xD

Saber: Kau seharusnya sudah mati! Dan kenapa saya dikasih nama cewek yang di Fate series, hah? Harga diri saya sebagai cowok hancur sehancur-hancur-

Alph: *sumpel mulut Saber pake tisu sekotak* Dia.. emang bacot sih. Rate and Review highly appreciated!

Kdramon: Kdramon, out!~