Maaf baru bisa update! Aku mengalami buntu, dan tugas segede gunung. Padahal chapter 2 update dengan kecepatan cahaya, sekarang chapter 3-nya jadi secepat siput merangkak =w=;;

Disclaimer: Si Baka ini bukan pemilik Vocaloid. Vocaloid adalah milik Crypton dan semua yang berhubungan.

Warning: Typo, diksi abal, masih belajar.

Happy Reading ya, nanti saya usahakan diupdate lebih cepat~ OwO)/


CHAPTER 3

Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul 6 pagi. Hari ini adalah pertamaku untuk pergi ke sekolah di tempat yang tak kukenal ini (walau pun aku merasa hal ini terlalu tiba tiba). Dan di hari yang (sepertinya) penting ini, aku bahkan belum tidur sampai saat ini.

"Uuuuugh! Kok aku sama sekali tidak bisa tidur sih?!" Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aku mulai berfikir, pasti ini semua karena aku masih belum mengerti apa yang terjadi padaku saat ini.

Terlalu banyak pertanyaan yang terlintas di kepalaku. Sebenarnya dimana ini? Dimana aku? Kenapa aku disini? Bagaimana bisa aku ke sini? Benda apa sebenarnya pita hitam yang diberikan padaku itu? Kenapa harus aku? Kenapa Len begitu mirip denganku? Kenapa ayah di tempat asalku terlihat seperi Rinka dan ibu di dunia asalku terlihat seperti Leon? Kenapa Rinka terlihat tidak terkejut dengan keberadaanku? Bahkan dia terlihat senang saat bertemu denganku. Apa mereka itu kerabatku? Tapi kok aku bisa tiba tiba ada di sini? Dan siapa yang-

BRAK!

Bagus, siapa sih yang mengganggu acara berfikirku

"Rinny~ Aku sudah menyiapkan pancake untuk sarapan... Ayo bangun".

Ternyata Leon. Haaah... Dengan cerianya dia mendobrak pintu kamarku. Dia memakai celemek dan memegang panci dan spatula di kedua tangannya.

. . . . Aneh.

"Ah, eh, iya, aku akan bersiap lalu turun kebawah".

"Ok~ Ah, kamar yang berantakan... Padahal baru satu malam kau menempati kamar ini, kalau begitu boleh aku ber- AUUUW!"

Entah datang dari mana, Len sekarang sudah ada di belakang Leon. Memukulnya. Dia sudah memakai seragam lengkap. Rajin juga ya dia.

"Ayah bodoh, jangan seenaknya masuk ke kamar cewek dong. Ga sopan tau".

"Uh... Len kejam, jangan pake mukul dong! Aku kan hanya berniat membantu membersihkan kamarnya".

"Tetap saja tidak boleh. Sudah sana turun kebawah".

"Iya iya... Ah, Rinny cepat ya siap siapnya~ aku tunggu di bawah.."

Lalu badai pun menghilang. Aku dan Len hanya memandangin orang itu sampai dia tidak terlihat lagi.

Hening.

"Ano, Len, terimaka-"

"Aku tidak bermaksud menolongmu. Aku hanya mengajarkan orang itu untuk bersikap lebih sopan, cuma itu."

Setelah mengatakan itu dia pergi dan menutup pintu kamarku. Tanpa sadar aku melempar bantal yang aku pegang ke arah pintu.

'. . . . . APA-APAAN COWOK ITU?! Kukira dia sebenarnya orang baik, tapi ternyata dia itu mamang IBLIS paling jahat di muka bum ini! Sama sekali tidak mirip denganku!' gumamku.

Ckrek!

Tiba tiba pintu kamarku kembali terbuka. Lagi? Dari cara membuka pintu ini pasti Rinka.

"Rin chan, baju seragammu ibu letakan di sini ya". Tuh kan.

Dia meletakan baju seragam untukku di sebuah gantungan kecil dekat pintu kamar. Tunggu, kenapa dia sudah menyiapkan baju seragam untukku? Ukurannya?

"Ah,terima kasih. Tapi-"

"Ibu turun ya, cepatlah ganti baju..." Setelah itu dia kembali menutup pintu, tanpa memberikanku kesempatan untuk bertanya.

. . . . Ah, sudahlah. Suatu saat aku pasti akan tahu jawabannya, sekarang lebih baik aku jalani saja kehidupanku di dunia aneh ini.

-~oOo~-

"Len, ingat, Jaga Rin ya. Jangan biarkan dia sendiri, kan dia baru sampai di dunia ini"

"Kan Ibu sendiri yang bilang kalau dunianya hampir sama dengan dunia kita, jadi buat apa kujaga?"

"Hush! Kamu kok dingin gitu sih, ga kayak biasanya. Pokoknya awas kalau terjadi apa apa dengan Rin, soalnya dia itu berharga"

". . . . ."

"Ah, sudah jam segini. Rin kemana ya? Kenapa belum keluar kamar?".

.

.

.

.

.

.

.

"Semoga... Saja... Aku... Dapat... Nah, selesai" Aku menutup buku diary-ku. Menulis diary adalah rutinitas harianku. Hah? Dari mana aku mendapatkan diary-ku ini? Sepertinya sih terbawa dari tempat asalku. Jangan tanya kenapa, karena aku juga tidak tahu apa apa.

Oh iya, sekarang jam... Uwah, gawat! Aku harus segera turun kebawah!

"Rin chan, kau sudah siap? Nanti terlambat loh" Ucap Rinka sambil mengetuk pintu kamarku.

"Iya, aku segera turun"

-~oOo~-

Seragam, buku, tas, sepatu, entah kenapa lengkap semua. Bahkan seragam dan sepatunya sesuai ukuranku. Aku sih senang senang saja, ga perlu mempersiapkannya sendiri. Tapi rasanya kedatanganku disini memang direncanakan. Ah, lupakan.

Saat ini aku memakai pita hitam yang membawaku ke tempat ini karena aku tidak punya pita lain dan aku tidak nyaman pergi ke luar tanpa sesuatu yang menempel di kepalaku. Nanti aku minta Rinka membelikan pita putih untukku deh.

"Ri- maksudku, Ibu... Kami pergi dulu ya~"

"Iya, hati hati dijalan.. Len jangan lupa jagain Rin ya.."

". . . ."

Dengan Len sebagai penunju jalan, kami pun berangkat ke sekolah. Walaupun rasanya aku mengenal jalan ini, tapi aku masih belum berani untuk pergi sendiri. Takutnya aku salah menganggap bahwa tempat ini hampir mirip dengan tempatku.

Selama perjalanan menuju sekolah kami berdua membicarakan... Tak ada.

Yah, kami tak membicarakan apa apa. Dia diam, aku juga diam. Aku agak benci berdiam diri tanpa sepatah kata pun jadi aku mengajaknya berbicara.

"Tempat ini hampir mirip dengan tempatku berasal loh.."

". . . ."

"... Ngomong ngomong Len kelas berapa sih?"

". . . ."

Ga direspon? Sudah cukup!

"Eh, Len. Kenapa sih kamu kayaknya benci banget sama aku?" Tanyaku padanya.

Dia berhenti berjalan. Lalu berbalik ke arahku. Akhirnya ada respon.

"Aku tidak-"

"LEEEEEEEN!"

Kami berdua kaget mendengar suara teriakan yang sangat keras itu dan refleks menengok ke arah suara itu berasal.

Seorang cewek berambut biru pendek, terlihat seperti si Bakaito versi cewek untukku. Dan... hah? Mikuo?

"Len, kau jahat sekali! Kenapa ngga nungguin kami berdua? Kan biasanya kita pergi bareng?! Jaha- Hei, siapa ini Len? Manis sekali... Mirip denganmu~" Cewek itu mendekat ke arahku kemudian mengulurkan tangannya.

"Hai, aku Keiko, Shion Keiko... Namamu?"

Bahkan nama keluarganya pun mirip dengan Kaito, apa dia kenal Kaito ya?

"Hai, aku Kagamine Rin. Salam kenal" Aku membalas uluran tangannya.

"Ngomong ngomong kau kenal Kaito ga? Dia mirip denganmu, sahabatku di tepat asalku. Nama marganya pun mirip" Aku bertanya padanya.

"Hah? Kaito? Kayaknya ku ga-"

"Ah, sudahlah kalian berdua! Kita harus bergegas ke sekolah, nanti terlambat" Len memotong ucapan Keiko. Uh.. Bikin penasaran aja!

Tapi yang bikin aku penasaran... Kenapa ada Mikuo di sini? Perasaanku campur aduk, antara senang dan bingung. Tanpa sadar aku terus menatap Mikou. Sepertinya dia merasa terganggu.

"Kenapa? ada sesuatu di wajahku?"

"Ah! Ngga! Ngga ada apa apa! Yang lebih penting kamu Mikuo kan? Haruka Mikuo?"

"Ah, namaku Hatsune Mikuo"

.

.

.

.

"HAAAAAAAAAH?!" Ga mungkin! Miku kan Hatsune Miku, ini Hatsune Mikuo! Kok jadi membingunkan begini sih?

"Ada apa Rin chan? Kenapa kamu teriak" Tanya Keiko padaku.

"Ngga, ngaa apa apa... Ayo cepat, nanti terlambat!" Aku menarik tangan Len dan berlari menuju sekolah (walaupun aku ga terlalu yakin apa arah yang kutuju benar).

.

.

.

.

'Pokoknya aku harus bertanya pada Len apa yang sebenarnya terjadi disini!'

-TBC-


Sekali lagi aku minta maaf baru bisa update sekarang! m(_ _;)m

Kalau ada pertanyaan atau kritik atau saran Review aja ya, Jaa ne~ OwO)/