~o~
Saksi
XX - 01
By Vira D Ace
Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa35
Rating: T
Genre: crime-friendship
Warn: OOC (maybe), typo yg tak sengaja terketik, ga bermaksud menyindir siapapun, alur (mungkin) kecepetan, dll
DLDR
~o~
Cuaca panas seperti biasa.
Dengan malas kupacu motorku menuju Universitas Bungou, salah satu kampus ternama di kota tempatku menuntut ilmu sekarang ini. Motorku melaju membelah jalan raya yang padat. Beberapa mahasiswa sepertiku tampaknya juga melakukan hal yang sama.
Aku memarkir motorku di parkiran, lantas menenteng tasku ke dalam bangunan kampus. Masih ada 15 menit sebelum mata kuliah pertama dimulai, aku memilih untuk pergi ke ruang jurnalistik lebih dulu sebelum masuk ke kelas nanti.
"Chuuya!"
Aku menoleh begitu kudengar seseorang memanggil namaku, lantas mendapati Kajii berlari ke arahku. Kurasa pemuda nyetrik itu juga mau ke ruangan jurnalistik sepertiku—mengingat ruang kelas untuk fakultas MIPA ada di gedung sebelah.
"Ke ruang jurnalistik juga?"—tuh kan, apa kubilang?
Aku hanya mengangguk.
Si nyetrik itu lantas mempercepat langkahnya dan berjalan di sampingku. Selama perjalanan kami ke ruang jurnalistik, baik aku maupun Kajii tidak ada yang bicara—kalaupun bicara, itu hanya menyapa mahasiswa lain yang kami kenal atau mahasiswa yang satu jurusan dengan kami. Kami sampai di depan pintu ruang jurnalistik tak lama kemudian.
Aku terkejut begitu Kajii tiba-tiba menahan tanganku kala aku ingin membuka pintu ruangan.
"Apaan?" tanyaku.
"Aku udah penasaran dari lama..." Kajii diam sebentar, "kamu kan anak fakultas Ilmu Sosial dan Politik, kok milih klub jurnalistik?"
Astaga... kukira apa...
"Ya terserah aku donk," balasku, "malah yang aneh itu kamu—anak fakultas MIPA kok milih klub jurnalistik?"
"Eh, iya juga ya..." Kajii terkekeh.
Ingin sekali kuhajar anak ini.
"Ahaha, udah ah. Aku mau masuk," Kajii memutar kenop pintu dan memasuki ruangan. Aku mengekor dari belakang.
Di dalam sudah ada Ayatsuji dan Tachihara. Kami bertegur sapa sejenak, sebelum akhirnya kami sibuk dengan urusan masing-masing.
"Woy, ada yang liat buku catatanku nggak?!" tanyaku pada seluruh orang di sini—kemarin buku catatanku ada yang tertinggal di sini, dan tujuanku kemari sekarang adalah untuk mengambilnya.
"Yang sampulnya coklat itu?" aku mengangguk ketika Tachihara bertanya.
"Di mana?"
"Kutaruh di lemari—cek aja gih."
Aku lantas menghampiri lemari yang terletak di pojokan ruangan. Kubuka pintunya, dan menemukan bukuku berada di rak kedua dari atas. Aku segera mengambil buku itu dan beranjak.
"Eh, kayaknya itu buku penting amat?" Tachihara menatapku ketika aku sudah ada di depan pintu.
Aku mengangguk. "Penting banget."
"Kamu nggak nulis cerita, kan?"
"Aku anak fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Chi—ngapain juga aku ngarang cerita?"
Tachihara mangut-mangut. "Begitu ya...?" gumamnya, "Nakahara Chuuya, mahasiswa tahun kedua, fakultas Ilmu Sosial dan Politik, nomor absen 29."
"Ha?" dahiku mengernyit. Walau suara Tachihara sangat kecil tadi, namun aku masih bisa mendengar suaranya meskipun samar.
Tachihara menggeleng. "Enggak, kok," ucapnya tenang.
Aku hanya diam. Tanpa rasa curiga sama sekali, kumasukkan buku milikku ke dalam tas dan segera pergi dari tempat itu.
Walau tanpa rasa curiga, namun aku merasa ada sesuatu yang Tachihara sembunyikan, meskipun aku tidak memperdulikannya untuk sekarang ini.
~o~
Kuliah dari Pak Hirotsu tadi benar-benar menguras tenagaku.
Aku tidak menyangka kalau Pak Hirotsu akan mengadakan ulangan dadakan. Parahnya lagi, dia tipe dosen yang suka mengadakan ulangan dengan peraturan seperti guru SMA—tidak boleh buka buku, berbeda dengan dosenku yang lain yang memperbolehkan mahasiswanya open book. Benar-benar menguras tenaga dan pikiran, dan sekarang aku memilih ke kantin sebelum mata kuliah Pak Fyodor dimulai.
Buku catatan bersampul coklat itu ada di tanganku—selalu begitu, kalau tidak kuletakkan di dalam tas, atau tanpa sengaja kutinggalkan di ruang jurnalistik seperti kemarin. itu bukan buku catatan biasa. Ada hal penting di dalam buku itu yang tidak boleh dibaca siapapun—ancaman yang pasti kalau seseorang mengetahuinya dan melapor ke pemerintah adalah hukuman mati, aku tahu itu.
Sebuah kesalahan fatal karena meninggalkannya di ruang jurnalistik. Kuharap tidak ada yang membacanya.
Sesampainya di kantin aku segera mengambil tempat yang agak dekat dengan kedai Bu Kouyou. Ada beberapa mahasiswa lain yang sedang istirahat sepertiku di kantin ini—entah sedang makan atau membaca apapun itu.
"Bu Kouyou, nasi gorengnya satu!" pesanku dari tempat duduk.
Bu Kouyou hanya tersenyum saja, lantas pergi ke belakang untuk membuatkan pesananku—nantinya dia akan memanggilku kalau pesananku sudah siap agar aku mengambilnya sendiri.
Sambil menunggu pesananku, kubuka buku catatanku dan membacanya lagi dari lembaran pertama. Hanya catatan-catatan random, namun penting dan beberapa diantaranya punya hubungan. Berhubung aku mengikuti klub jurnalistik dan masuk fakultas Ilmu Sosial dan Politik, aku bisa lebih mudah mendapatkan informasi soal politik dan tetek bengeknya
—termasuk rahasia gelap yang ada di baliknya.
Yang terakhir itu, kurasa hanya aku yang mengumpulkannya.
Semua itu masih kukejar—sejak kematian Dazai aku selalu berusaha mendapatkan informasi. Aku berusaha mati-matian untuk menguak apa yang pernah Dazai ceritakan padaku. Namun semua kulakukan secara perlahan. Aku masih mengumpulkan bukti—hukuman bukti menantiku kalau aku main tuduh saja tanpa bukti yang cukup.
"Tadi yang pesan nasi goreng siapa?" Bu Kouyou memanggil.
"S-saya!" aku menutup bukuku, lantas berdiri dan segera menghampiri kedai Bu Kouyou.
Kubawa nasi goreng buatan Bu Kouyou ke mejaku. Setelah kumasukan buku catatanku tadi kedalam tas dan mengeluarkan botol minum dari sana—lebih hemat bawa air dari kost untuk anak rantau sepertiku—segera kulahap nasi goreng itu.
"Chuu, boleh makan bareng gak?"
Aku mendongak, lantas mendapati Tachihara dan Ayatsuji berdiri di depanku lengkap dengan piring masing-masing. Yang barusan bicara—bertanya—tadi adalah Tachihara.
Aku hanya mengangguk—terserah mereka sebenarnya, toh aku sendirian.
Lalu dua orang itu duduk di depanku. Aku lanjut makan nasi gorengku tanpa memperdulikan kehadiran mereka berdua.
"Oiya, Chuuya," panggil Tachihara.
Aku mendongak lagi. "Hmm?"
"Kalau ada waktu, boleh kita bicara?" tanyanya, "ada hal yang ingin kubicarakan."
Dapat kulihat kalau Ayatsuji memandang Tachihara curiga.
Bersamaan dengan itu, ponselku tiba-tiba berbunyi. Ada panggilan masuk, kurasa.
"Ah, sebentar," sejenak aku berdiri sambil merogoh saku, lalu menjauh dari Ayatsuji dan Tachihara ke depan kantin.
Setelah beberapa langkah, aku mengambil ponselku dan membukanya. Nomor asing, aku tidak tahu siapa itu, dan aku juga tidak tahu kenapa malah mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Yo, Chuuya. Lama nggak ketemu~"
Aku terpaku. Suara itu, ya, aku mengenalnya. Sejak SMA aku sudah hafal suara itu. Tapi... nggak mungkin...
...Dazai?
~tbc~
Hayoo, siapa yang kejebak? Dazai masih hidup eak :V
Juga, saya mau ngasih tau bebebrapa perubahan dari (A/N) sebelum chapter prolog kemarin. Yaitu, ff ini bakalan update gak tentu (bisa lebih cepet ato lebih lambat), dan kalo lama gak berlanjut, kemungkinan besar ini ff bakalan discontinued. Ya liat aja nanti :''v /digebuk rame-rame
Okeh, saatnya balas review :3
~Ziandra A and Zean A: Nggak nak, Dazai gak mati kok. Dia sehat wal afiat, dan kamu akan tahu alasannya di chapter depan :v /digebuk
~shizu yummy: Nggak kok, Dazae gak koid. Kenapa? Kenapa hayo~ :V /digebuk lagi
Abangnya Dazai... sebenernya belum kutentuin juga :') tapi mungkin nanti emang Oda, atau siapapun lah. Yang pasti kalo si Oda yang jadi kakaknya, berarti ganti marga (atau ga usah? Latarnya kan bukan Jepang :v /dibantai)
Dah. Terima kasih sudah membaca, dan silahkan nantikan chapter dua~
-Vira D Ace-
