.
.
Let's Not Falling In Love
Chapter 2
The Prince of Lumina
.
.
o00o
.
.
.
Malam itu bulan bersinar begitu terang menemani tiga pria meninggalkan pintu gerbang luar Kerajaan Firelight. Tiga sosok tegap dengan persenjataan lengkap dan balutan pakaian serba hitam itu berderap dengan kuda-kuda gagah mereka menuju hutan, mengikuti jalur yang akan membawa mereka menuju Negeri Lumina. Dalam perjalanan normal yang biasa ditempuh para saudagar, jarak kedua kerajaan dapat ditempuh dalam waktu tiga hari dengan menggunakan pedati; jalur lingkar luar yang menghindari hutan belantara, melintasi Negeri Rhoux sebagai tempat transit sebelum tiba di Kerajaan Lumina.
Jelas terlihat tiga pria yang baru saja meninggalkan gerbang istana itu tidak berniat untuk melaksanakan niaga. Tak ada satu pedati atau gerobak pun di belakang kuda mereka. Hewan-hewan gagah itu bergerak cepat memasuki gelapnya Hutan Xhyne, menuju Whispering Mountains, jalur pegunungan yang memisahkan Negeri Firelight dan Negeri Lumina. Jalur yang tidak umum ditempuh, memang. Namun, dalam suratnya, Pangeran Jaehyun menyebutkan pemilihan jalur tersebut, maka ke sanalah mereka akan menelusuri jejak.
Sejujurnya, bagi prajurit seperti mereka, berkeliaran di luar perlindungan benteng pada waktu selarut ini sama sekali bukanlah hal aneh. Terlepas dari kasak-kusuk yang disebar orang terkait Hutan Xhyne, area itu lebih seperti arena berlatih. Terutama bagi anggota Exodus seperti mereka. Itu sebabnya, Taeyong tak bisa menjelaskan mengapa ia begitu gugup saat ini. Walau kegugupannya sama sekali tak tampak pada raut wajahnya yang dingin-nyaris kosong.
Pergerakan mereka melambat saat batang-batang pohon yang menjulang mulai mengungkung, menghalangi sinar bulan sebagai satu-satunya sumber cahaya.
Membiasakan sel matanya pada kegelapan, Taeyong mengamati sekitar sembari merangsek maju. Sorot tajamnya mengawasi kerapatan hutan, waspada terhadap kejanggalan apapun yang dapat membantu mereka mengetahui keberadaan Sang Pangeran Lumina.
Suara hewan liar memenuhi udara malam, beresonansi dengan deru angin yang berhembus melintasi lembah. Suara dedaunan yang bergesekan, ranting kering yang patah terinjak. Tak ada bunyi-bunyian aneh yang tertangkap inderanya seiring semakin dalamnya mereka memasuki hutan.
Tidak lama, mereka telah tiba di kaki gunung Whispering Mountains. Salah satu puncak tertingginya mencuat di antara pucuk pohon. Kemudian, suara halus Leo terdengar di antara bisikan angin. "Aku mencium bau darah," ujarnya, menghentikan pergerakan Taeyong dan Kris yang seketika awas.
Leo adalah seorang pria dengan ketajaman indera di atas rata-rata. Meski dirinya terbiasa melintasi hutan dan hidup di belantara selama bertahun-tahun hingga memiliki indera yang juga terlatih, Taeyong harus mengakui bahwa Leo memilki kemampuan melebihi dirinya dalam hal ini. Itulah mengapa ia tidak mempertanyakan saat Leo menarik tali kekang kudanya dan berbelok meninggalkan jalan utama. Alih-alih, Sang Kapten mengikutinya bersama Kris.
Mereka memang mengambil jalan utama sebagai jalur awal pencarian. Dalam asumsi itu merupakan jalur paling umum yang akan diambil para pengembara, dan mungkin juga rombongan Pangeran Jaehyun. Pun sebagai kemungkinan terbaik atas keterlambatan mereka. Namun sekarang, seiring mereka berderap semakin menjauhi jalan utama, tenggelam lebih jauh dalam kegelapan belantara, dengan aroma darah semakin pekat menggantung di udara, Taeyong yakin mereka harus siap dengan kemungkinan terburuk.
Saat Leo melompat turun dari kuda yang ditungganginya, iris tajam Taeyong menangkap keberadaan kereta yang terguling di antara semak belukar. Jelas terlihat baru saja terjadi penyerangan di area itu. Tanpa kata, tanpa aba-aba, ketiga prajurit tersebut melaksanakan tugas masing-masing. Leo yang berada paling dekat dengan objek, mengecek kondisi pedati besar itu. Berusaha menggulingkannya pada posisi seharusnya, Sang Pemuda melongok ke dalam, mencatat apa-apa saja yang tersisa dari kereta rusak itu. Taeyong juga telah turun dari tunggangannya dan merunduk di antara semak, menelusuri jejak pertarungan dan sumber aroma darah yang menguar; mengekspektasi keberadaan jasad—atau jasad-jasad. Sementara Kris, dengan kaki-kaki ringannya, dengan cepat memanjat salah satu dahan dan mengamati dari ketinggian.
"Milik Kerajaan Lumina," Leo berujar, bagai mengkonfirmasi kecurigaan mereka, sembari mengangkat salah satu peti dengan ukiran lambang Negeri Lumina pada tutupnya.
"Kosong?" Suara Kris terdengar.
"Sebagian ya, sebagian tidak. Jelas ada beberapa item yang diambil, tapi sebagian besar emas mereka masih tertinggal."
Taeyong mendongak dari tanah yang tengah ditelusurinya dan mengerutkan alis atas informasi tersebut. Mengapa mereka tidak mengambil seluruh harta yang ada? Ia yakin sekali ini bukan penyerangan oleh hewan buas, karena ia tidak menemukan jejak kaki, cakaran, atau bulu hewan tertentu di sekiar sana; selain tapak kuda. Jelas sekali area itu menunjukkan tanda adanya penyerbuan membabi-buta oleh kawanan manusia. Taeyong bisa merasakan perutnya melilit. Namun, untuk saat ini ia akan menyingkirkan dulu kekhawatiran yang merambat. Prioritas mereka adalah menemukan Sang Pangeran. Dan ia menemukan sesuatu di antara jalinan akar yang mencuat.
"Jejaknya mengarah ke sana. Seseorang—atau sebagian dari mereka—pastilah terluka dan melarikan diri," ujarnya, memberi gestur ke arah belukar sementara postur rampingnya kembali menaiki kudanya. "Kuharap jejak itu bukan milik Sang Pangeran," tambahnya.
Tak membuang waktu, tiga prajurit Exodus menggiring kuda mereka menelusuri jejak darah. Gelapnya malam ditambah jejak yang kabur dan terputus-putus membuat para prajurit ini terkadang harus melompat turun untuk mengobservasi, mencari jalur yang benar secara hati-hati.
Mereka menemukan pedati lain, tampak hancur dengan serpih kayu terserak di sekitar batu besar. Sama seperti kereta pertama, meski hancur dengan banyak bagian tak lagi berbentuk, emas dan barang berharga lainnya masih tertinggal di dalam peti.
Seolah yang diincar bukanlah harta benda, melainkan—
"Kapten."
Sekian meter dari penemuan pedati kedua itu, Kris memanggil pimpinannya dan menunjukkan apa yang ia temukan.
Di sana, pada ceruk lembah yang cukup lebar, aroma darah menguar dengan sangat pekat. Bangkai kuda. Hewan itu tergeletak sendirian. Tak ada jasad lain di sekitarnya. Pemiliknya tidak di sana; baik ia berhasil melarikan diri atau terluka dan mati di tempat lain, mereka tak bisa memastikan. Satu hal yang dapat mereka pastikan adalah; itu adalah kuda milik Kerajaan Lumina.
Jelas ini bukanlah pertanda baik. Sama sekali bukan pertanda baik.
Melanjutkan inspeksi, Taeyong dapat merasakan gumpalan besar tersangkut di kerongkoongannya. Rupanya kekhawatiran Pangeran Baekhyun benar. Penemuan ini membuatnya semakin waspada. Tidak pernah ia kira Hutan Xhyne akan seberbahaya ini. Betapa kawanan perampok berada begitu dekat dengan kerajaan mereka.
Ini adalah ulah para perampok…, bukan?
Beberapa saat kemudian mereka telah kembali tiba di percabangan di mana jalur pertama akan membawa mereka kembali menuju istana Firelight, sementara jalur lainnya menuju Kerajaan Sparks.
Ada kemungkinan rombongan Negeri Lumina digiring menuju negara lain. Akan tetapi, tidak salah juga mengasumsikan mereka menuju Negeri Firelight sendiri. Ke manapun kawanan perampok itu pergi, Taeyong diingatkan pada pesan Sang Raja dan Pangerannya; untuk melapor secepat yang ia bisa dan tidak mengambil tindakan ekstrim.
"Kita kembali ke istana." Taeyong kemudian berujar pada rekannya sembari mengarahkan kudanya menuju istana dengan kecepatan penuh.
.
.
.
Ada sesuatu yang mengganggunya.
Taeyong tak bisa menjelaskan apa tepatnya, tapi ada sesuatu yang tidak beres dan itu mengganggunya. Atau perlu ia katakan ada beberapa hal yang mengganggunya saat ini?
Lebih dari tahu untuk mengikuti firasatnya, Taeyong berujar pada dua rekannya sebelum memasuki gerbang luar Kerajaan Firelight. "Aku akan melapor pada Yang Mulia, kalian lanjutkanlah pencarian di sekeliling perbatasan," ujarnya.
Baik Kris maupun Leo mengangguk sigap dan memberi salut pada kapten mereka sebelum melanjutkan misi; Kris membawa kudanya berbelok ke kiri sementara Leo ke arah kanan.
Setelah mengirim dua anggota terbaiknya, Taeyong berderap memasuki istana. Ia harus segera memberitahu Sang Raja.
.
.
.
Rupanya waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Taeyong telah membawa kudanya kembali ke istal dan tungkai rampingnya melintasi lorong istana dalam langkah tergesa. Tujuannya adalah menara tempat para anggota kerajaan beristirahat.
Nyaris tidak ada orang berkeliaran di bangunan megah itu. Istana begitu hening. Sebagian pekerja telah terlelap. Hanya ada segelintir prajurit yang mendapat tugas jaga malam, berdiri di berbagai sudut, mengawasi istana. Mereka nyaris tidak mengeluarkan suara apapun, tentu. Taeyong hanya mengangguk singkat saat melewati mereka, tidak membuat keributan. Kecuali langkah cepatnya—langkah ringan nyaris tanpa suara namun cepat.
Itulah mengapa pemuda bersurai perak ini dapat mendengar suara logam berderit dengan sangat jelas.
Mulanya Sang Kapten berniat memberi kabar pada Raja Yunho langsung. Namun, setelah dipikirkan, Taeyong memutuskan untuk memberitahu ayahnya terlebih dahulu. Ia tengah berada di sekitar kamar Pangeran Baekhyun saat mendengar keributan itu. Suara yang ditimbulkan seolah seseorang tengah membuka sesuatu. Bukan pintu; bunyi yang dihasilkan berbeda.
Menghentikan langkah dan berdiri diam bagai manekin, menajamkan pendengaran, samar Taeyong dapat mendengar suara langkah perlahan. Jika itu adalah para pelayan, suara langkah mereka tidak akan terdengar seperti itu. Itu adalah langkah hati-hati, perlahan, penuh perhitungan. Tipikal bunyi yang dihasilkan dari seseorang yang tidak seharusnya berada di sana.
Menarik keluar salah satu belati, Taeyong menghampiri sumber keributan. Ia berjalan dengan punggung merapat pada dinding, bergerak di bawah bayang-bayang. Perlahan, ia kini bisa mendengar suara gesekan kain. Juga deru napas berat.
Sebenarnya lorong istana tidak sepenuhnya gulita. Terdapat obor yang dipasang pada tiap dinding, dalam interval tertentu, memberi pencahayaan remang-remang. Akan tetapi, terdapat area mati yang tidak tercapai cahaya obor. Sialnya, area itu tidak diawasi oleh prajurit penjaga. Bagai kebetulan, mereka tengah patroli, berkeliling ke tempat lain dan menyisakan area itu bersih.
Kebetulan ataukah dalam perhitungan?
Dengan bantuan sinar rembulan yang menembus kisi jendela, Taeyong menangkap posisi Si Penyusup. Merangsek cepat, pemuda bersurai perak itu mencekal lehernya dari belakang dan menghunuskan ujung belati pada pembuluh nadi.
"Bergerak, maka lehermu putus," bisiknya dengan nada penuh ancaman.
Penyusup itu lebih tinggi darinya; Taeyong mengidentifikasi dalam hati. Ia tidak bisa mengobservasi pria itu lebih jauh, sayangnya, karena mendadak saja ia menerima pukulan di rusuk. Serangan tiba-tiba itu tidak mengenai organ vital, namun cukup untuk membuat Taeyong mundur dan menjauhkan belatinya.
"Oh, kukira area ini bersih." Taeyong bisa mendengar penyusup itu mengeluh sembari mengusap lehernya, memastikan sisi tajam belati prajurit ini belum meninggalkan jejak di sana.
Bulan yang tersembunyi di balik awan menyebabkan paras penyusup itu kembali berada dalam bayang-bayang. Dari kalimatnya, si penyusup terdengar telah sangat mengenal area istana beserta alur pergantian penjaga. Kesadaran ini menyulut amarah Sang Kapten. Hingga detik berikutnya, pemuda bersurai perak menerjang si penyusup dengan pedang terhunus.
Suara logam beradu memantul di lorong istana yang hening saat si penyusup rupanya cukup cepat untuk menangkis serangan Taeyong dengan pedangnya sendiri.
"Woah. Woah! Kau bisa membunuhku!" seru si penyusup.
Yang tentu saja diabaikan oleh Taeyong. Tanpa kata, Kapten Exodus itu kembali mengayunkan pedangnya. Berulang kali. Tanpa keraguan untuk benar-benar melukai dan melumpuhkan lawan di hadapannya.
Lee Taeyong memang akan kesurupan dan menjadi prajurit iblis tak terkalahkan bila telah menggenggam pedangnya.
Di luar dugaan, penyusup itu cukup handal dan berhasil menangkis atau menghindari sabetan pedang Taeyong. Selama beberapa waktu keduanya bergumul, memenuhi lorong dengan denting logam, torehan pada marmer, benturan, dan deru napas.
Terlepas dari tekniknya yang cukup baik, jelas terlihat si penyusup kurang berpengalaman. Tampak dari napasnya yang mulai memburu, pertanda stamina yang mulai turun. Hal ini dimanfaatkan Taeyong yang menjulurkan kaki menarik tubuh besar penyusup itu hingga terjerembab dalam posisi telentang. Sang Kapten menindihnya dan menginjak kedua pergelangan tangannya, membuat penyusup itu terkunci di bawah tubuhnya. Ia sempat sedikit berontak, sebelum menggerungkan gerutuan, "Kau akan menyesal melakukan ini padaku!"
"Oh benarkah?" Sang Kapten mendengus meremehkan.
"Wah! Aku lupa kau bisa bicara!"
Taeyong sungguh malu mengakui ini. Namun, kalimat penyusup itu menyulutnya dan membuatnya lengah barang sepersekian detik, yang dimanfaatkan si penyusup untuk membenturkan kening mereka keras-keras. Hantaman yang nyaris mengenai indra penglihat itu sempat mengaburkan pandangan Sang Prajurit. Refleksnya membuat ia melompat bangkit, menghindari usaha si penyusup untuk ganti mengungkungnya di tanah.
Decak kesal terdengar dari lawan, sementara Taeyong mengerjap cepat, menghilangkan kabur yang mengganggu penglihatannya. Egonya tidak terima mendapat trik picisan semacam itu. Dengan rahang terkatup rapat, prajurit Exodus ini menjejak pada dinding, menulusurinya hingga nyaris mencapai atap, lalu menjatuhkan diri di belakang si penyusup yang telah berdiri. Memanfaatkan momentum dari gaya gravitasi bumi, Sang Kapten mencekik leher lelaki yang lebih tinggi itu.
Sempat terpesona dengan gerakan indah yang disajikan Sang Kapten Exodus, penyusup itu kini meronta sekuat tenaga dengan mulut megap-megap.
Ia mungkin akan segera kehilangan kesadaran seandainya derap langkah penghuni istana tidak menghampiri tempat itu dan sebuah seruan terdengar.
"Pangeran Jaehyun?!"
Tarikan napas terkejut para pelayan dan prajurit mengikuti seruan bingung Pangeran Baekhyun.
Pemuda mungil bersurai hitam itu memandang calon adik tirinya dengan sorot bertanya. Ia yang terbangun karena haus mendengar keributan di luar kamarnya dan berpapasan dengan prajurit jaga serta pelayan yang hendak mengecek lokasi. Apa yang tersaji di hadapannya ini sama sekali bukan hal yang ia kira akan ia temukan. Di mana prajurit terbaiknya tengah mencekik tamu yang mereka tunggu sedari tadi.
Lambaian putus asa dari Sang Pangeran Lumina yang mulai kehabisan napas menyadarkan Baekhyun. "Kau bisa melepaskannya, Taeyong. Ia tamu kita," ujarnya.
Taeyong yang sempat tak percaya mendengar nama yang diserukan pangerannya tadi, segera melepaskan cekikannya dan jatuh berlutut dengan kepala tertunduk rendah. "Mohon maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan yang terjadi, Pangeran Jaehyun!" ucapnya dengan getar penyesalan yang amat kentara.
Begitu dilepaskan, Sang Pangeran Lumina terbatuk dan meringis sembari memijat lehernya yang mulai membiru.
"Siapkan obat untuk Pangeran Jaehyun." Baekhyun memerintah sigap. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun ia bisa menduga. Menghampiri Jaehyun yang masih tampak pucat, Pangeran Firelight ini membungkuk dan berujar, "Mohon maaf atas kesalahpahaman ini, Yang Mulia. Anda pasti lelah. Mari, kuantar ke kamar." Dengan suara halusnya, Baekhyun menyentuh lengan Pangeran yang lebih muda. Menarik atensi Jaehyun yang tengah menunduk menatap Taeyong dengan sorot marah.
"Sudah kubilang kau akan menyesal!" Ia mendengar Sang Pangeran Lumina mendesis.
Melirik Taeyong yang masih bersimpuh rendah di lantai, Baekhyun menggandeng lelaki bersurai coklat itu, menariknya pergi dengan halus.
Sementara itu, Taeyong, masih dalam posisi berlututnya, merutuk dalam hati. Matanya terpejam mendengar nada kesal Pangeran Lumina itu. Bagaimana bisa ia tidak mengenali tamu mereka?! Yang seharusnya ia jaga? Ugh! Ia pantas dihukum untuk ini!
Merasakan dua pangeran itu mulai berjalan menjauh, Taeyong bisa mendengar gerutuan Jaehyun.
"Tidak kusangka kau punya anjing gila dan membiarkannya berkeliaran di istana!"
Mengeratkan rahang, Taeyong berusaha menahan emosi yang bergolak mendengar hinaan itu. Di satu sisi ia tidak sepenuhnya terima disalahkan; bukankah Pangeran Lumina itu muncul di tempat yang tidak sepatutnya dan bertindak mencurigakan? Di sisi lain, Taeyong amat merasa bersalah karena telah membuat pangerannya menanggung malu atas kekeliruan yang disebabkannya. Padahal Pangeran Baekhyun telah secara khusus memintanya menjamin keselamatan Pangeran Lumina itu. Tapi lihat apa yang telah dilakukannya di awal pertemuan mereka?
Dalam hati Taeyong mengerang frustasi.
.
.
.
-End Of Chapter 2-
Jaeyongish : Dualitas! Astagaaa itu istilah yang tepat banget! Selama ini aku bingung apa ya istilah yang oke buat nyebut Taeyong ini. MPD jelas bukan. Bipolar juga bukan. Reversed charm pas sih, tapi kepanjangan. AKhirnya nemu istilah bahasa indonesianya! xDD Makasih loh *jabat tangannya* /heh
Biewulfy : hehehe segitu dulu yaa jaeyong momentnya ;)
Kimi : yep. Mereka akhirnya bertemu!
JaeyongieFangirl : aku pilih coklat yaa. Kayak rambut Jae yang sekarang. Auranya sekarang ini super prince banget soalnyaaaa /
LDHLTY151 : iyaa hidup Taeyong susah karena Chanyeol nya baik tapi oblivious :"( Iya Taeyong rambutnya putih perak kayak di jaman 7th sense *w*
Kdyoo123 : yosh aku akan semangat! ' ')9
