Destiny

Diclaimer: Masashi Kishimoto Rate: M SasuFemNaru

Warn: author newbie, typo(s), OOC, cerita aneh, dan lain-lain

Jam yang berada di kamar Naruto berbunyi, itu menandakan saat ini adalah tengah malam. Dia sama sekali tidak bisa tidur. Dia memikirkan adiknya. Naruko sudah membaik dari pada saat kejadian itu. Tapi tadi saat pulang sekolah wajahnya terlihat begitu sedih dan matanya merah. Saat Naruto bertanya kepadanya, Naruko menjawab dengan jawaban yang agak aneh. Naruko bilang dia disuruh oleh temannya untuk cuci muka menggunakan air dari kolam renang sekolahnya karena mereka bilang itu menyehatkan. Saat dia mencobanya, airnya terkena matanya dan rasanya sangat perih hingga dia meneteskan banyak air mata karena itu matanya merah. Kalau wajahnya terlihat sedih itu karena dia merasa telah dibohongi oleh temannya. Dan bodohnya Naruto percaya dengan perkataan adiknya itu dan dia baru menyadari hal tidak masuk akal itu sekarang. Lebih tepatnya saat jamnya berbunyi.

Naruto memukul kapalanya sendiri menyadari betapa bodohnya dia. Dia sudah berjam-jam memikirkan itu tapi baru menyadarinya sekarang betapa sempitnya pemikirannya. Padahal Naruto harus melindunginya dan mencegah hal "itu" terjadi lagi. Dia tidak mau seperti dulu lagi yang tidak bisa melakukan apa-apa.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang. Naruto langsung bangun dari tempat tidurnya dan melihat dari balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Ternyata itu adalah Naruko yang memakai baju tidur. Sepertinya dia tidak tidak bisa tidur sama seperti Naruto

Naruto langsung keluar dari kamarnya dan mengikuti Naruko dari belakang. Naruko berjalan menuju dapur. Sepertinya dia tidak menyadari kalau Naruto mengikutinya. Naruko membuka pintu kulkas di dapur yang gelap.

Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundak Naruko. Dia lalu menoleh ke belakang.

Dilihatnya orang yang seperti zombie, matanya setengah terbuka dan ada lingkaran hitam di bawah matanya ditambah dengan cahaya yang hanya terdapat dari kulkas membuatnya menakutkan.

"UWWAAA!"teriak Naruko.

"UWWWAAAAA!" Naruto ikut-ikutan teriak.

Setelah mendengar suara dari orang menyeramkan tadi, Naruko baru sadar kalau itu adalah Naruto.

"Naruto-nii! Kamu mengagetkan ku!"kata Naruko.

"Kamu yang ngagetin aku. Aku cuma memegang pundakmu tapi kamu malah teriak," balas Naruto.

Sambil mengeluarkan susu yang berada di kulkas Naruko berbicara, "Aku kira Onii-chan hantu. Jadi aku kaget."

Naruto menyalakan lampu dapur. Sinar dari lampu memperlihatkan wajah Naruto yang terlihat kelelahan. "Apa segitu menakutkannya aku sampai kau berteriak?" tanya Naruto sambil menunjuk ke wajahnya.

Naruko tertawa. "Wajah Onii-chan seperti mayat hidup."

Naruto melingkarkan tangannya ke leher Naruko. Kemudian mendekatkan Naruko ke arah dirinya. Dagu Naruto diletakan di atas kepala Naruko karena Naruko lebih pendek darinya. Naruto menghembuskan nafasnya.

"Aku begini karena memikirkanmu."kata Naruto.

Naruko kaget mendengarnya. Tapi kegagetan itu berganti menjadi kekesalan saat onii-chan nya itu menggretakan mulutnya di atas kepala Naruko. Naruko langsung melepaskan dirinya dari pelukan onii-chan nya itu.

"Iiih onii-chan!" kata Naruko sambil mengambil gelas dan menuangkan susu ke dalamnya.

Naruto langsung mengambil gelas yang berisi susu itu dan langsung meminumnya. "Makasih ya, imotou-ku yang manis. Kamu tau aja kalau aku lagi haus."

"Nii-san! Susu itu buat aku sendiri bukan buat onii-san!" Naruko mulai marah dan menggelembungkan pipinya.

"Iya, iya. Aku minta maaf. Aku kan cuma bercanda,"kata Naruto sambil menuangkan kembali susu ke gelas itu.

Naruto menyerahkan gelas itu ke Naruko lalu dia duduk di kursi. Naruko tidak lagi menggelumbungkan pipinya dan mengikuti onii-chan nya duduk di kursi. Setelah meminum seteguk, Naruko lalu meletakan gelasnya di meja makan yang berada di depannya.

"Nah, sekarang bicarakan masalahmu kepadaku," kata Naruto.

Kakaknya itu tahu betul jika Naruko bangun saat malam-malam dan pergi ke dapur untuk minum susu, pasti ada yang mengganggu pikirannya atau terkadang dia bermimpi buruk.

"Kau bermimpi buruk atau susah tidur?"tanya Naruto.

"Dua-duanya. Aku bermimpi buruk karena itu aku takut tidur lagi." Jawab Naruko.

"Hmm..."Naruto mendengarkannya dengan keadaan setengah tidur. Kepalanya ditopang oleh tangannya agar tidak terjatuh ke meja makan.

"Nee... Naruto-nii menurutmu bagaimana kalau seorang temanmu yang mau melakukan kesalahan walaupun dia tahu itu salah dan kau sudah memberitahunya dia tetap tidak mau menghentikan perbuatannya. Apa yang seharusnya aku lakukan untuk menghentikannya?"

"Wah wah. Sepertinya masalah imotou-ku ini cukup serius ya."

"Onii-chan aku serius tau," Naruko menggelembungkan pipinya lagi.

"Kalau aku yang mendapat masalah itu, aku akan menghentikannya dengan segala macam usahaku. Aku tidak mau kalau aku sampai menyesal karena tidak bisa menghentikannya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Naru aku tahu kau belum mengeluarkan semua usahamu kan?" Naruto mengacak-ngacak rambut imotou-nya itu. "Jangan sampai kau menyesal karena itu."

Naruko meminum habis semua susu yang berada di gelasnya. "Terimakasih Onii-chan! Saranmu sangat membantu!"

"Ya baguslah kalau begitu. Aku akhirnya bisa tenang,"kata Naruto yang akhirnya tertidur di meja makan.

Naruko menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Onii-chan kalau mau tidur di kamarmu!"

Naruto tidak mendengarkan kata-kata adiknya itu walau pun sudah digoyang-goyangkan sekeras apa pun.

"Ternyata kalian di sini. Aku mencari kalian kemana-mana."kata seseorang dari arah pintu dapur.

Naruko melihat ke arah itu. "Anko-chan!"

Mata Naruto sedikit terbuka. "Ohh... Anko...," katanya dengan nada datar dan tanpa semangat.

"Ya ampun Naruto kau ini benar-benar terlihat seperti zombie,"kata Anko.

"Tapi aku ini zombie yang tampan hehe,"balas Naruto.

"Cepatlah bangun Minato-sama memanggilmu tahu,"kata Anko sambil memukul-mukul pipi Naruto.

Mendengar itu Naruto langsung bangun dan berdiri. Dia lalu mengacak-ngacak rambut imotou-nya sekali lagi. "Naru aku pergi dulu ya. Kamu kan udah minum susu dan mendapat saran dari ku jadi tidur yang nyenyak ya."katanya sambil berjalan keluar dari dapur dan menguap.

Raut wajah Naruto berubah menjadi serius. Jika dia dipanggil oleh ayahnya pasti ada pekerjaan untuknya. Pekerjaan membunuh. Pekerjaan yang paling dibenci Naruko. Bahkan saat mereka kecil Naruko tidak membiarkan Naruto membunuh semut kecil. Tapi dia melakukan ini untuk melindunginya.

Naruto membuka pintu ruang kerja ayahnya. Terlihat ayahnya sedang menerima telepon dari seseorang. Kemudian dia menutup teleponnya.

"Agen X sudah menemukan penyusupnya tapi dia tidak bisa memburunya karena dia berada di wilayah kita. Jika dia terlihat di markas kita maka penyamarannya akan terbongkar. Penyusup itu adalah orang yang telah memberi tahu rencana perpindahan senjata kita pada musuh," kata Minato sambil melihat Naruto.

"Aku tahu. Besok kau akan lihat dia menjadi beberapa bagian. Kau cukup memberi tahu nama dan wajahnya." Kata Naruto sambil tersenyum.

"Naruto, Agen X berkata padaku tentang sesuatu, yaitu..."

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Pein berada di ruangannya yang berada di markas Akatsuki menerima panggilan. Dia langsung menjawabnya.

"Maaf Pein-san aku baru bisa menghubungimu sekarang. Aku sekarang sedang bersebunyi di markas Kurama. Mungkin aku tidak bisa menghubungi lagi. Jadi dengar aku baik-baik,"kata seseorang di sana. Nafasnya tersenggal-sengal.

"Kurama memiliki relasi dengan suatu organisasi. Aku bertemu dengan seorang agennya di—ukh!" pembicaraan orang itu terhenti. Ponsel orang itu terjatuh. Dari telepon terdengar suara pukulan yang bertubi-tubi.

"Tayuya! Ada apa denganmu Tayuya?!"teriak Pein.

Seseorang mengambil ponsel agen itu. "Moshi-moshi! Maaf ketua Akatsuki yang terhormat, atau boleh ku sebut Pein. Tayuya sedang ada urusan dengan rekanku. Jadi dia tidak bisa diganggu. Kalau ada yang mau disampaikan bilang saja padaku." suara orang itu terdengar cempreng karena alat perubah suara.

"Knight!" teriak Pein.

"Ya ampun jangan teriak-teriak begitu di telepon. Kau tidak tahu tatakrama ya? Apalagi sekarang aku sedang bad mood karena pernyataan seseorang itu. Kau mau aku bunuh HAH!"

"Kau tidak akan bisa membunuhku Knight."

"Kalau aku tidak bisa membunuhmu, aku bunuh saja agenmu yang satu lagi untuk melampiaskan kekesalanku hahahahaha!"kata Knight sambil tertawa keras.

Pein langsung menutup teleponnya. Padahal sedikit lagi dia tau rahasia Kurama. Kalau saja Tayuya lebih cepat berbicara dengannya dia tidak akan kehilangan informasi yang berhaga dengan sia-sia.

Pein melempar barang-barang yang berada di mejanya sambil berteriak. Sekarang Tayuya sudah tidak ada, jadi Pein harus memanfaatkan Sasuke dengan benar sebelum Sasuke dibunuh dan Sasuke juga harus membawakan sesuatau yang dia inginkan selama ini.

"Sasuke kau harus bawakan aku 'itu' sebelum kau dibunuh olehnya!" teriak Pein.

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Naruto tertidur di meja makan.

"Hei nii-chan! Bangun! Nanti telat loh," kata Naruko.

"Aku ga bakal telat kok. Tenang aja," kata Naruto. Matanya setengah terbuka saat mendengarkan Naruko.

"Kalau begitu aku pergi dulu otou-san, okaa-san, onii-chan!"kata Naruko kepada Minato, Kushina, dan Naruto.

"Naru! Nanti aku akan jemput kamu, jadi jangan kemana-mana ya sebelum aku datang." Kata Naruto.

"Baiklah onii-chan!"kata Naruko. Setelah itu dia langsung pergi ke tempat parkir bersama Kakashi.

Hening sejenak di ruang makan.

Minato meneguk kopinya. "Apa yang ingin kau lakukan Naruto?" kata Minato memecah keheningan.

"Hanya menghilangkan kekesalanku saja. Memangnya tidak boleh?"tanya Naruto.

"Asalkan kau tidak berbuat macam-macam, aku ijinkan."

"Cuma sekedar gretakan supaya dia tidak macam-macam terhadap 'The K'."

"Hm,"kata Minato sambil meminum kopi.

Naruto berdiri dari kursinya. Naruto tersenyum jahat. "Terimakasih atas ijinnya, otou-san." Lalu dia berjalan keluar dari ruang makan.

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Naruko POV

Aku berlari ke gedung sekolahku. Semua orang yang sedang berjalan ke sekolah melihat ke arahku dengan tatapan penasaran.

Kenapa Kakashi menurunkanku di depan sekolah padahal aku sudah bilang padanya untuk menurunkanku agak jauh dari sekolah. Dia selalu bilang kalau ini untuk menjagaku. Tapi caranya jangan kaya tadi. Aku ga mau jadi orang yang berbeda dari orang lain karena hal ini.

Sebelum aku menuju ke kelas aku melewati ruang guru di lantai satu. Aku melihat Sasuke-sensei sedang berbicara dengan Sizune-sensei yang duduk di sebelahnya. Melihatnya aku jadi teringat perkataanya kemarin, "Tidak. Aku tidak bisa untuk tidak membunuhnya."

Perkataannya itu masih terngiyang di kepalaku. Saat pertama kali mendengarnya entah kenapa aku menangis. Bukan karena itu perbuatan yang tidak bisa dimaafkan tapi mungkin itu karena aku tidak bisa menghentikannya. Tapi sekarang aku akan mencoba membujuknya seperti yang disarankan oleh onii-chan. Kuharap bujukanku bisa meyakinkannya.

Saat aku melihatnya berdiri dari kursinya aku langsung berjalan menuju kelas.

Di kelas seperti biasa suasananya ribut sekali karena pelajaran belum dimulai. Tapi kalau ada Orochimaru-sensei suasana di kelas serasa seperti kuburan yang membuatmu merinding. Rasanya seperti dihantui oleh Orochimaru. Kesalahan sekecil apa pun pasti akan kena marah darinya.

"Naruko!" teriak Tenten yang sedang mengobrol dengan Sakura dan Hinata.

"Tenten!"teriakku kepadanya. Aku langsung berlari kearahnya dan memeluknya. Entah kenapa kemarin itu rasa seperti seminggu. Aku jadi sangat merindukan mereka.

"Aduh kamu ini kenapa sih? Sepertinya ada yang tidak beres denganmu."

"Aku baik-baik saja kok!" kata ku dengan sebal.

"Apa benar begitu? Kamu ga dimarahin sama Sasuke-sensei kan gara-gara kejadian kemarin?" raut muka Teten berubah menjadi serius.

Aku baru ingat kalau kemarin Tenten menuliskan surat cinta atas namaku untuk Sasuke-sensei dan aku belum mengambil surat itu dari laci mejanya.

"Tidak. Aku sudah mengambil suratnya sebelum sensei membacanya,"kataku berbohong kepadanya. Semoga saja Sasuke-sensei belum membacanya.

"Syukurlah kalau begitu," Tenten menghembuskan nafas lega. "Maafkan aku ya Naruko."

"Naruko kau kemana kemarin? Tidak biasanya kau seperti kemarin," tanya Sakura.

Seperti biasa Sakura selalu mengkhawatirkanku.

"Ada yang harus aku ambil, Sakura," aku berbohong lagi.

Teng teng (bunyi bel sekolah)

"Ayo cepat Naruko! Sudah waktunya untuk pelajaran memasak!" kata Tenten.

"Iya."

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Normal POV

Di ruangan memasak, Naruko dan teman-temannya sedang sibuk membuat mengaduk bahan-bahan untuk membuat kue. Kali ini Hinata menjadi teman sekelompok Naruko.

"Naruko tolong cairkan mentega ini," kata Hinata sambil menyerahkan panci berisi mentega.

Naruko diam sejenak. Dari wajahnya terlihat sedikit kecemasan tapi Hinata tidak menyadarinya. "Baiklah."

Naruko kemudian meletakan panci itu di atas kompor. Tangannya yang memgang pematik api kompor sedikit gemetar. Dari pinggir keningnya keluar keringat dingin.

"Ada apa Naruko?" kata Hinata karena heran melihat Naruko diam saja.

"Tidak apa-apa kok," jawab Naruko.

"Um... apa kau tidak bisa menyalakan kompornya?" tanya Hinata dengan polosnya.

"I...iya."

"Kalau begitu biar aku saja yang menyalakannya," kata Hinata sambil menyalakan kompor itu.

Saat api dari kompor menyala Naruko langung memegang lengan Hinata dengan keras.

"Ah... maaf Hinata,"kata Naruko.

"Iya, tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum seperti biasa. "Sekarang kompornya sudah menyala. Kamu bisa menggunakannya. Lain kali kalau ada yang tidak bisa bilang padaku, oke!"

"Ya."

Sebenarnya Naruko bukan tidak bisa menyalakan kompor tapi dia memiliki phobia terhadap api. Dia memiliki phobia ini dari kecil. Dia sering kali berteriak histeris saat melihat api. Tapi sekarang ketakutannya sudah mulai berkurang, dia tidak lagi berteriak jika melihat api.

.

.

.

Bel sekolah berbunyi, tanda bahwa untuk siswa pulang.

"Naruko! Kau mau pulang bersama kita?"tanya Tenten.

"Maaf, Tenten. Aku dijemput onii-san. Jadi aku menunggu dia dulu," kata Naruko.

"Baiklah kalau begitu. Kita pulang dulu ya. Dah!"

"Dah!"

Dari belakang Naruko melihat teman-temannya pergi. Setelah agak jauh, dia kembali masuk ke gedung sekolah. Dia berkeliling mencari seseorang.

Saat dia berjalan menaiki tangga dia melihat orang yang dia cari. Seorang berambut hitam yang memakai jas sedang memegang buku hendak menuruni tangga, iris onixnya sedang melihat ke arah bawah, Sasuke-sensei. Tadinya Naruko ingin segera menghampirinya tapi dia malah bersebunyi di ruang kelas yang bersebelahan dengan tangga sebelum Sasuke melihatnya.

Di balik ruang kelas itu Naruko melihat sebuah bingkisan dengan pita biru. Di dalamnya berisi kue kering yang dia buat saat kelas memasak. Kuenya agak gosong, jadi Naruko agak malu untuk menyerahkannya. Dia melakukan ini untuk membujuk Sasuke agar tidak membunuh penjahat itu.

Naruko menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.

Naruko keluar dari kelas itu. Dia melihat Sasuke yang sedang bejalan dari belakang. Saat dia mau menghampirinya, ponselnya bergetar. Dia melihat nama orang yang meneleponnya, Narutonii-san. Kemudian dia melihat ke arah Sasuke tadi berjalan tapi Sasuke sudah tidak ada karena dia belok ke arah ruang guru.

Naruko menerima panggilan itu.

"Moshi-moshi," kata orang dari telepon itu.

"Onii-san, ada apa?"tanya Naruko.

"Naru, aku lagi ada di rumah. Sebentar lagi mau pergi jemput kamu. Jadi tunggu di depan gerbang sekolah. Jangan kemana-mana ya." setelah itu teleponnya langsung ditutup oleh Naruto sebelum Naruko mengucapkan satu kata seperti, 'baiklah' atau 'oke' kepada Naruto.

'Kenapa sih Onii-san selalu to the point ngomongnya?'pikir Naruko.

Setelah memasukan ponselnya ke tasnya, dia langsung pergi keluar gedung sekolah. Dia tidak jadi menemui Sasuke. Dia takut terlalu lama berbicara dengan Sasuke sementara Naruto datang dan mencari-carinya karena tidak ada di gerbang sekolah. Naruto juga suka marah-marah kalau dia tidak menepati janjinya dan marahnya itu sangat menyeramkan.

Dia berjalan ke dekat pos satpam dan diam menunggu Naruto di sana.

.

.

.

Bel sekolah berbunyi.

Sasuke segera menyelesaikan pelajarannya di kelas itu dan langsung keluar kelas. Dia berjalan menuju tangga. Dari atas Sasuke melihat Naruko yang hendak naik tangga tapi dia hiraukan. Lalu Sasuke melihat Naruko bersembunyi di ruang kelas. Dia tetap melanjutkan jalannya menuju ruang guru.

Buat apa mengurusi seseorang yang labil seperti itu, itu yang ada dipikiran Sasuke.

Lalu Sasuke belok di koridor pertama untuk ke ruang guru. Dia merasakan sesuatu yang agak aneh. Biasanya suara guru-guru yang sedang mengobrol itu terdengar sampai keluar ruang. Dia menyiapkan sebuah pistol di tangannya.

Sasuke membuka pintu ruang guru.

Sebuah pistol ditodongkan oleh seseorang tepat di sebelah kepalanya. Orang itu memakai jaket, hoody-nya dia pakai, dan topi. Di wajahnya terdapat topeng orang yang tersenyum jahat (topengnya kaya yang dipakai penjahat di anime black bullet).

"Hallo! Sepertinya tuan agen rahasia ini sudah bersiap-siap,"suara orang itu nyaring karena alat pengubah suara. "Apakah kau sedang ketakutan?" dia lalu tertawa.

"Knight!" teriak Sasuke. Dengan cepat dia arahkan pistolnya ke arah Knight.

Knight langsung mengeluarkan pistol lainnya dari jaketnya lalu menembak tangan Sasuke yang memegang pistol tadi. Seketika pitol itu terpental jauh dari Sasuke dan tangannya pun berdarah.

"Apa kau tidak mengira aku punya senjata lain? Kau sungguh agen murahan!" kata Knight.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Sasuke.

"Tentu saja untuk membunuhmu."

Walau pun tidak terlalu terlihat wajah Sasuke menjadi kaget. Sasuke melihat ke samping, ke arah Knight. Dilihatnya mata biru dari orang yang mengancamnya itu. Mata yang indah itu memancarkan kebenciannya.

"Sekarang sudah waktunya hidupmu berakhir, haha."

Saat Knight menekan pelatuk di pistolnya, Sasuke menutup matanya.

Dor!

Sasuke tidak merasakan apa-apa setelah itu. Dia lalu membuka matanya. Dilihatnya kertas warna-warni keluar dari pistol itu.

"Bercanda. Hahahaha... aku ga menyangka kamu akan sekaget itu. Tapi sebenarnya aku memang ingin membunuhmu hanya saja boss ku itu melarangku. Jadi aku untuk sementara bermain-main dulu dengan mu."

Sasuke yang melihat Knight sedang lengah segera menendang kakinya sampai terjatuh. Sasuke segera mengambil pistolnya dan mengarahkannya ke arah Knight. Knight juga sudah mengarakan pitolnya ke arah Sasuke. Kedua pistol sekarang berada tepat di depan kepala mereka masing-masing.

"Ya ampun kau ini tidak bisa diajak bercanda ya?" kata Knight dengan nada malas. "Aku langsung saja pada intinya. Aku tak peduli apa yang akan kau lakukan di sini. Tapi aku tidak akan memaafkanmu jika kau main-main dengan 'the K'. AKU AKAN MENYIKSAMU!"

"Apa maksudmu dengan 'the K'? Ternyata kau telah mencuri senjata terkuat negara." Kata Sasuke.

"Kau tidak tahu?" nada bicara Knight berubah menjadi heran. Lalu dia memegang kepalanya. "Ah! Aku lupa itu informasi rahasia negara level S. Wajar saja agen rendahan sepertimu tidak tahu."

'Apa maksudnya? Dengan pangkatku seharusnya aku sudah bisa mengakses semua file rahasia negara' pikir Sasuke.

"Kalau begini sudah waktunya aku pergi,"kata Knight. Tangannya yang bebas mengambil sesuatu di belakang jaketnya dengan cepat.

Melihat itu Sasuke langsung mengarahkan pistol ke tangan knight. Saat dia hendak menekan pelatuknya, dia merasa tangannya tertusuk sesuatu, sehingga tembakannya meleset. Dia melihat tiga jarum akupuntur menempel di lengan dan bahunya.

Dengan cepat Knight menusukan tiga jarum dari tangannya yang tadi dibidik ke bahu dan lengan Sasuke. Dia segera memberikan beberapa pukulan pada bagian tubuh Sasuke.

Tubuh Sasuke tidak bisa digerakan dan dia terjatuh.

"Selama kurang lebih sejam kau akan lumpuh seperti ini. Kau tak perlu khawatir aku kabur atau apapun yang menurut pikiranmu karena aku akan kembali lagi untuk bermain denganmu."kata Knight sambil berjalan menuju jendela. Saat mencapainya dia berhenti sejenak. "Oh ya, mengenai yang aku bicarakan tadi aku serius akan menyiksamu loh."

Knight menoleh ke arah Sasuke sebentar karena dia ingin melihat untuk terakhir kalinya korbannya itu. Tiba-tiba dua peluru melesat ke arahnya. Peluru pertama mengenai tangannya dan yang kedua sedikit meleset tapi menyebabkan luka melintang di lehernya. Dia melihat Sasuke yang gemetar sambil memegang pistolnya dengan tubuhnya yang terkulai lemah di lantai.

Knight tertawa sangat keras. "Terimakasih Sasuke! Kau meyakinkan aku betapa aku harus membunuhmu! Sampai berjumpa lagi!"teriaknya.

Knight lalu melompat keluar jendela dan berlari menjauh.

Sementara itu Sasuke berusaha menggerakan tangannya yang masih bergetar. Dia mengambil sebuah suntikan berisi cairan berwarna kuning. Dia suntikan cairan itu ke tubuhnya dengan susah payah.

Cairan berwarna kuning itu adalah obat yang diberikan Suigetsu kepadanya agar di bisa menggerakan tubuhnya saat di lumpuhkan. Tapi obat itu baru eksperimen yang masih harus dikembangkan jadi setelah menggunakannya tubuh akan merasakan sakit yang sangat besar.

Setelah beberapa menit tangannya berhenti gemetar dan tubuh sedikit demi sedikit bisa digerakan. Lalu dia mencabut jarum akupuntur yang di tusukan Knight dan menyimpannya di dalam jasnya sebagai bukti. Setelah agak kuat Sasuke berdiri.

Saat tadi dia berhadapan dia tidak melihat keseliling. Ternyata para guru yang tengah tak sadarkan diri duduk di meja guru. Sasuke memeriksa salah satu guru. Setelah tau denyut nadi dan nafasnya normal dia merasa lega.

Dia segera menelopon markas Akatsuki.

"Knight. Dia tadi berada di SMA Konoha. Tapi dia sudah kabur. Dia mungkin akan kembali lagi."

Sasuke menutup teleponnya.

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Knight berlari ke arah sebuah gudang. Dia menggeser-geserkan barang yang ada di sana sampai dia menemukan sebuah pintu yang menuju bawah tanah yang berada di lantai. Dia masuk ke dalamnya melalui sebuah tangga.

Saat dia mencapai dasar. Lampu-lampu menyala karena ada sensor panas. Dia berada di sebuah saluran air yang besar. Dia terus berjalan sambil meraba dinding. Dia berhenti saat menemukan sesuatu yang dia cari, tombol rahasia. Dia menekannya.

Tiba-tiba dari air keluar sebuah ruangan. Di pintu ruangan itu terdapat pemindai sidik jari, retina, suara, dan juga setelah itu kata kunci. Knight melakukan semua pemindaian.

Pintu itu pun terbuka dan dia segera masuk. Pintu itu tertutup kembali. Kini seluruh ruangan itu turun kebawah. Setelah berhenti bergerak pintu itu terbuka lagi. Di depannya terdapat jalan yang menuju tempat rahasia Kurama. Knight lalu keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju tempat rahasia.

Sambil berjalan dia melepas sarung tangan, topi, jaket, kaos, sehingga dia telanjang dada. Topengnya dia lempar sampai pecah. Luka di lengan dan lehernya yang masih mengucurkan darah dia biarkan.

Knight a.k.a Naruto berteriak. "DASAR AGEN MURAHAN BRENGSEK!"

Dia berhenti di salah satu pintu yang berada di tempat rahasia lalu membukanya. Di dalamnya seperti kamar biasa. Naruto membuka lemari yang berada di dalam ruangan itu. Di lemari itu terdapat berbagai macam P3K. Naruto mengambil perban dan melilitkannya asal di lengan dan lehernya.

Dia membuka lemari yang berisi baju dan mengganti baju dan celananya. Dia juga mengambil sebuah syal dan sepatu.

Naruto menghela nafas. 'Kau harus tenang Naruto. Kau akan bertemu dengan imotou mu. Jangan sampai kau marah-marah ga jelas di depan nya.'pikir Naruto dalam hati.

Setelah memakai sepatu dia berjalan keluar. Dia berjalan mengelilingi tempat rahasia Kurama dan menemukan sebuah pintu yang mirip dengan pintu yang membawanya kemari. Dia menekan tombol untuk membuka pintu yang berada di sana lalu masuk ke dalamnya. Di dalam dia memakai syalnya.

Pintunya terbuka. Dia keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju sebuah tangga. Dia lalu naik ke atas. Dia keluar dari saluran air itu ke sebuah tempat yang agak sunyi. Di sana terdapat sebuah mobil sport berwarna hitam dan garis merah yang bagus.

Naruto mengeluarkan kunci mobil itu lalu mengendarainya.

Tak sampai lima menit Naruto sudah berada di depan gerbang sekolah SMA Konoha. Dia membunyikan klaksonnya.

Beberapa detik setelahnya datang seorang gadis berambut pirang dengan mata yang sama dengannya. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil.

"Onii-chan kamu lama sekali,"kata Naruko sambil menggelembungkan pipi.

"Gomen Naru. Aku sibuk memilih baju."balas Naruto.

"Emang onii-chan mau ngajak aku kemana?"

"Rahasia. Kamu anggap saja ini kayak kencan."kata Naruto sambil mengacak-ngacak rambut imotou-nya.

"Onii-san ga punya pacar sih jadi kencannya bareng aku."

"Hahahahaha. Kamu bisa aja."

Dan mereka pun bersenang-senang sampai jam enam malam dan pulang ke rumah.

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Besok paginya Naruto dan Naruko sarapan di ruang makan seperti biasa.

"Onii-san kenapa dari tadi senyum-senyum?" tanya Naruko yang sikap onii-san yang aneh pagi ini.

"Ah... tidak aku cuma sedang merasa bahagia."kata Naruto.

Naruko yang masih heran melanjutkan memakan sarapannya. Setelah itu dia berangkat bersama Kakashi ke sekolah.

.

.

.

Bel sekolah SMA Konoha berbunyi.

Wali kelas Naruko, Yamato-sensei masuk. Murid-murid yang tadi mengobrol menjadi diam.

"Dengar semuanya. Kelas kita sekarang kedatangan seorang murid baru." Kata Yamato-sensei.

Kelas menjadi ribut membicarakan murid baru itu.

"Ayo masuk, Naruto." Kata Yamato-sensei.

Apa barusan Naruko tidak salah dengar, Yamato-sensei menyebutkan nama onii-san nya.

'Apa aku salah dengar ya? Barusan Yamato-sensei bilang Narto kan? Bukan Naruto,' pikir Naruko.

Murid pindahan itu masuk. Yang lain semakin ribut membicarakannya.

"Namaku Naruto Namikaze. Mohon bantuannya,"kata murid pindahan itu.

"Eeehh..!"

To Be Continue

.

.

.

Note from me:

Gomen aku update lama. Padahal seminggu udah update chap 2 udah ada beberapa lembar. Ini semua gara-gara aku mikirin tugas, remedial yang tak kunjung sileseii, dan nilai ulangan yang 'tidak rasional'. Baru kali ini aku dapat nilai segini. Kalo sama guru lain ga bakal segitu nilainya.

-skip-

Gomen jadi curhat.

Untuk kawaihana sama sherry dark jewel : gomen, aku ga bakal kasih tau dulu siapa yang ngehancurin tembok itu. tapi dia itu agen yang dikirim suatu organisasi untuk ngelindungin Naruko.

Spesial thanks: kawaihana, sherry dark jewel, Uzumaki Shizuka, minyak tanah, Ciel-Kky30, Naminamifrid.

Chapter 4 (Pride):

"Aku akan bertarung dengan nama yang di berikan padaku"

"Kenapa ex-human sepertimu dijadikan agen?"

"Kyubinii-san pulang."