Perjalanan Menuju Masa Lalu (2)
Peristiwa itu masih terekam di kepalaku. Aku ingat, semuanya, setiap detilnya. Saat tangan Sasuke terlepas dari genggamanku, dan hal terakhir yang kulihat darinya adalah senyuman itu, kemudian dia menjauh, dan menghilang. Untuk sesaat aku tidak percaya, namun saat aku mengingatnya kembali, aku sadar itulah kenyataannya.
Putaran yang kurasakan telah berhenti. Perutku juga sudah terasa normal kembali. Aku merasa di dunia yang berbeda. Hembusan angin ini sungguh sejuk. Udara yang kuhirup juga sangat melegakan. Perlahan, aku membuka mata. Tanah berhias rerumputan, dan sederet semak belukar seolah menyegarkan pandanganku. Apa ini mimpi? Aku melihat sekeliling. Mungkin, aku seperti berada di semacam taman.
Aku terbelalak. Aku berhasil. Mesin itu berhasil. Andai saja kau masih disini, Sasuke. Tapi, aku harus tahu aku berada di waktu kapan. Aku berdiri, merapikan jasku yang lusuh, kemudian menghampiri salah satu orang yang sedang berada di sekitar situ.
"Permisi" ucapku.
"Iya?" suaranya sopan sekali, namun ia melihatku seperti melihat orang aneh.
"Boleh saya tahu sekarang tanggal, bulan, dan tahun berapa?" tanyaku.
Ia mengalihkan pandangan menuju ponselnya, kemudian ia kembali melihatku "10 April 2022"
Dalam hati aku bersorak sendiri. Mesin buatanku berhasil mengirimku ke masa lalu. Kemudian, aku mengucapkan terima kasih kepada orang itu dan melangkah pergi. Sambil berjalan, aku berusaha mengingat-ingat masa-masa mudaku di tahun 2022. Aku memiliki sebuah rumah tak jauh dari sini, saat itu aku juga sedang kuliah di Universitas Tokyo, setiap bulan aku selalu menerima uang dari Ayah dan Ibuku dari kampung halaman.
"Baiklah, sekarang aku harus kembali ke rumahku." atau bisa dibilang rumah 'Naruto' di masa ini.
Aku berlari. Aku tak peduli dengan tatapan-tatapan aneh orang-orang sekitar karena melihat seorang pria dengan jas putih yang lusuh dan wajah yang berminyak berlari di pinggir jalan seperti orang gila. Satu hal yang ada di pikiranku adalah, aku tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Tidak boleh.
Setelah beberapa menit berlari tanpa henti, aku berhenti didepan sebuah rumah sederhana dengan pagar yang sudah berdecit. Aku membuka pagar kecil itu, kemudian melangkah dengan sangat hati-hati. Ya, jika Naruto asli yang berasal dari zaman ini melihatku, maka itu akan menjadi masalah yang cukup serius.
Aku mengintip melalui jendela. Ruangan didalamnya gelap dan kosong. Ada sepasang sepatu dan sandal tergeletak disana. Ya, karena memang aku bukan orang yang suka kerapian. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu, aku cukup terkejut karena pintunya tidak terkunci. Aku melepas sepatuku, kemudian melangkah masuk. Aku memeriksa setiap ruangan, namun tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Aku berniat untuk masuk lebih dalam lagi, kedalam gudang. Dengan berbekal sebilah pisau, aku membuka pintu gudang yang ada dibelakang rumahku. Namun ternyata, keadaannya juga sama seperti yang lain. Aku tak melihat siapapun.
Aku mendesah lega. Namun aku juga bertanya-tanya kemana perginya 'Aku' yang asli? Ah, itu bisa dipikirkan nanti, yang jelas aku sudah pulang sekarang. Setelah mengembalikan pisau itu di dapur, aku menggantung jas lab ku di dinding kamar dan membanting diriku diatas tempat tidur. Sudah lama sekali aku tidak merasakan tempat tidur sebersih dan seempuk ini.
Aku bangun, kemudian duduk. Aku melihat-lihat sekitar. Ini terasa seperti mimpi. Aku bisa melihat kembali kamarku yang dulu. Bisa kulihat foto kedua orang tuaku menempel diatas dinding, meja belajar yang berantakan dan penuh akan kertas-kertas tak terpakai, serta sebuah kardus berisi koleksi komik favoritku. Semuanya persis seperti yang ada dalam ingatanku. Aku pikir, aku akan menikmati hari-hariku disini.
-Perjalanan Menuju Masa Lalu (2)-
Semalam penuh aku tidak tidur hanya untuk menunggu dan waspada jika diriku yang asli akan datang ke rumah ini. Namun hingga sekarang pun, kembaranku itu tak datang-datang juga. Apa mungkin, itu berarti ia telah menghilang dari zaman ini, dan akulah penggantinya? Jika perkiraanku benar, maka aku tidak perlu susah-susah untuk berpura-pura menjadi adik kembarnya atau klonningnya hanya untuk menyamarkan identitasku.
"Baiklah." aku berdiri dari dudukku, kemudian mengambil sebuah handuk dari dalam lemari dan masuk kedalam kamar mandi.
Karena aku telah hidup di zaman ini, maka aku juga harus berganti peran sesuai dengan diriku yang ada di zaman ini. Yap, kuliah. Aku tidak menyangka akan bisa mengulang masa-masa indah itu sekarang.
Saat memikirkan masalah kuliah, entah kenapa tiba-tiba aliran adrenalin mengalir ke tubuhku. Aku tiba-tiba merasa bersemangat. Satu hal yang kupikirkan, jika aku kuliah, maka itu berarti aku bisa bertemu dengan Sasuke kembali, dan yang lebih mengejutkan lagi, aku bisa bertemu dengan istriku kembali.
Aku berteriak dengan keras didalam kamar mandi karena terlalu bersemangat. Aku mempercepat mandiku, kemudian berganti pakaian dan segera bergegas mengeluarkan sepeda motor bututku dari dalam rumah. Dan setelah itu, kupacu sepeda motorku sekuat tenaga. Aku tak peduli apakah ada polisi lalu lintas atau orang-orang yang memakiku di jalanan. Aku ingin bertemu Sasuke. Aku ingin bertemu istriku, Sakura.
Aroma dedaunan kering, suara orang-orang bercakap-cakap yang terdengar samar, dan alunan musik yang menggema di sepanjang lorong. Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini. Aku mempercepat langkahku menuju kelas. Aku baru sadar kalau aku terlihat lebih muda karena aku berpindah waktu. Itu bagus karena aku tidak terlihat seperti bapak-bapak tua berkacamata dan keriput datang ke kampus yang ternyata hanyalah seorang mahasiswa.
Saat aku melangkahkan kakiku kedalam, kedua bola mataku hanya tertuju pada satu orang. Diantara dua puluh orang lainnya yang menatapku dengan pandangan remeh, hanya ada satu yang kulihat. Rambutnya yang kemerahan itu tampak berkilau dibawah pancaran cahaya lampu, dua buah iris kehijauan itu sangat lembut untuk dilihat. Ya, tidak salah lagi. Dia adalah istriku di masa depan. Dia adalah Sakura Haruno.
"Yo, Sakura" sapaku saat duduk disebelahnya.
"Y-yo, Naruto" dia memandangku dengan aneh. Aku baru ingat satu hal, saat ini seharusnya aku belum terlalu akrab dengannya, mungkin karena itu ia menatapku seperti itu.
Sial, itu membuatku malu akan diriku sendiri. Tapi setidaknya aku dapat bertemu kembali dengannya, itu membuatku senang. Aku melihat-lihat sekitar. Ada Lee yang sibuk membaca buku sambil mengangkat barbel di tangan kirinya. Neji dan Tenten juga tampaknya menikmati hari-hari mereka. Tapi saat aku melihat pada seorang pemuda berambut biru tua duduk di deretan paling depan, aku merasa seperti bertemu dengan orang yang sudah mati, mungkin sedikit terlambat untuk mengatakan itu karena aku bertemu dengan banyak orang yang sebenarnya sudah mati hari ini.
Beberapa menit setelah itu, seorang pria berbadan tegap masuk kedalam ruangan. Aku mengingatnya. Dia adalah dosen kami, Asuma. Setelah dia selesai meletakkan jaketnya diatas kursi, ia berdiri dihadapan kami sembari tersenyum.
"Baiklah, kita mulai saja seperti biasa ya?" sapanya. Kemudian ia mengambil sebuah spidol dan mulai menulis sesuatu. Dari balik badannya, aku bisa melihat ia sedang menulis soal untuk kami. Dan beberapa saat lagi, aku akan mengejutkannya beserta seisi kelas.
"Baiklah, siapa yang mau mencoba?" ia berbalik menghadap kami, melihat-lihat sekeliling. Semua orang tampak serius. Ada yang menghitung diatas kertas, ada yang hanya menghitung dengan pikiran mereka.
"Bagaimana kalau kau, Naruto?" tak kusangka, ia menunjukku. "Berapa jawaban dari soal nomor satu?"
Aku hanya tersenyum. Sebenarnya, tanpa menghitung pun aku sudah dapat mengetahui jawabannya, bahkan jawaban dari sepuluh soal yang ia tulis, jadi hanya untuk menjawab satu soal saja bukan masalah bagiku.
"akar tiga kuadrat" jawabku sambil tersenyum.
Saat itu juga, semua mata tertuju padaku. Ya, dulu aku dikenal sebagai mahasiswa yang bodoh, suka berkelahi, dan sering merusak sarana didalam kampus. Namun sekarang, aku bukanlah Naruto yang mereka kenal dulu. Aku adalah seorang ilmuan yang telah berhasil menciptakan mesin yang dapat memanipulasi waktu. Jadi aku harap dengan kepintaran yang kumiliki sekarang, mereka tidak memandangku sebagai seorang yang bodoh dan suka berkelahi.
"Tepat sekali Naruto" Asuma menulis jawabanku di papan, kemudian ia kembali menawari yang lain.
"Ssst, Naruto" Sakura memanggilku dengan berbisik.
"Ada apa?" tanyaku.
"Bagaimana kau bisa sepintar itu hanya dalam satu malam saja?" saat kudengar, pertanyaan itu cukup konyol, namun masuk akal. Mungkin saat ini, ia melihat sosok Naruto yang berbeda jauh dari Naruto yang ia kenal kemarin.
"Ya, aku hanya mempelajari apa yang diajarkan Asuma padaku" jawabku enteng.
"Tapi itu mustahil kau bisa menghitung soal sepanjang itu bahkan tanpa menulis sedikitpun" ia masih kelihatan tidak percaya. Dan ketidakpercayaannya itu memunculkan satu ide dalam kepalaku.
"Bagaimana kalau kau kuajari?"
"Baiklah, karena aku masih curiga kenapa kau bisa sepintar itu." seperti biasa, kata-katanya menyakitkan untuk didengar. Namun, kerinduanku selama bertahun-tahun telah terobati karena aku bisa mendengar suaranya lagi.
-Perjalanan Menuju Masa Lalu (2)-
Seperti yang dijanjikan, hari ini aku dan Sakura akan pergi kafe terdekat untuk membahas masalah tadi. Kami sengaja berjalan kaki karena jarak kafe dari kampus tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol, bercanda, namun sepertinya Sakura masih penasaran dan curiga bagaimana aku bisa sepintar itu. Mungkin ia merasa tertandingi oleh seseorang yang dikenal sebagai mahasiswa bodoh sepertiku.
Namun, aku sendiri juga memiliki pertanyaan dalam benakku. Bagaimana aku akan menjelaskannya pada Sakura, bahwa aku berasal dari masa depan, dan segalanya tentang Bumi di masa depan? Ia pasti akan menganggapku tidak waras. Tapi tak apa lah, hal itu bisa aku pikirkan nanti. Untuk saat ini, aku akan menikmati hari-hariku bersamanya.
Suara bel berbunyi saat kami membuka pintu kaca kafe. Sakura berjalan menuju dua kursi yang tertata rapi di dekat jendela, aku hanya mengikutinya dari belakang. Kami berdua duduk disana, memesan segelas kopi dan mulai membahas permasalahan utamanya. Aku mengajarinya, membuatkannya sebuah soal dan menjelaskan bagian apa yang tidak ia pahami dari soal itu. Aku juga mengajarinya bagaimana cara menghitung tanpa harus menulis diatas kertas. Hingga akhirnya setelah hampir dua jam kami membahas mengenai kuliah, kami pun bersantai dan mengobrol ringan. Tak kusangka mendekatinya akan menjadi semudah ini.
"Kau ini ternyata orang yang baik ya, Naruto" ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak juga sih" jawabku.
"Aku pikir kau ini orang berandalan yang egois dan tidak pernah memikirkan kuliahmu" ia melanjutkan pembicaraan.
"Aku hanya mencoba berubah menjadi seorang yang lebih baik" jawabku dengan enteng.
Aku bisa mendengar ponselnya berdering. Ia membuka tasnya, dan mengambil sebuah ponsel dua inchi dari dalam tas ungu itu. Untuk sejenak, aku hanya diam menunggunya. Dan setelah beberapa menit, ia kembali memanggilku.
"Hei, Naruto"
"Apa?" tanyaku pelan, sekali lagi sambil meneguk segelas kopi.
"Bolehkah aku meminta tolong darimu?" ia terlihat agak gugup saat mengatakannya.
"Tentu saja" jawabku dengan antusias.
Dia diam sejenak, menundukkan kepala. Kelihatannya ia berpikir. Beberapa detik kemudian, ia kembali menatapku, walaupun terkadang kedua matanya sesekali mengalihkan pandangan.
"Bisakah kau membantuku untuk mendekati Sasuke?"
~Our Time~
To be continue...
Yosh, terima kasih sudah membaca sampai baris ini. Akhirnya selesai juga, chapter 2 saya kerjakan agak ngebut soalnya. Jadi mohon maklum bila ada kata-kata yang kurang lengkap atau typo, hehe...
Review anda akan sangat membantu, jadi jangan sungkan-sungkan untuk menulis kritik apapun mengenai fic ini.
