It's My Turn to Cry
Chapter 3
By HitsuKiro16
Warning (s) : BxB, KaiSoo~! YAOI, a little bit fight, other pairing, Angst!, A little bit of Kristal's apperance, Hurt/Comfort (maybe?), TYPO (s), isi cerita tidak terlalu bersambung dengan judulnya, newbie of Korean language and romaji of hangul, gomenasai. -.-"/, and i'm so sorry for the bad english, really, just want to try. :D
Couple (s) and Character : KAISOO, MEMBER OF EXO, HUNHAN, CHANBAEK, KRISTAO, SULAY, CHENMIN, KAISTAL (i hate this couple).
Genre : Angst, Hurt/Comfort
Small note : minna! Akhirnya saya bisa update fic ini! Maafkan saya untuk minimnya muncul pemeran utama KAISOO, karena saya ngikuti alur cerita, saya bakal munculin mereka banyak banget! Di Chapter 4, namun di chapter ini saya bakal sedikit munculin mereka, maafkan saya, Minna. Q.Q
Buat permasalahan Maknae dan Dongsaeng. Aduh, maafkan saya sekali lagi, saya masih sangat newbie mengenai bahasa korea. Saya belajar bahasa Jepang, Bahasa Korea hanya untuk pendamping saja. Hontou ni gomenasai, minna. Mulai dari chapter 3 bakalan saya ganti semua kata maknae yang salah-salah. Di chapter1 dan 2 tidak akan saya benahi. Menurut saya itu biar jadi proses aja. :D
Sankyu atas semangat, review, dan semua dukungannya! Terutama untuk 'Sasurissawinchester' yang bersedia jadi guide saya di fandom Korea seperti sekarang ini. dia adalah malaikat penolong saya paling baik sedunia! Sejagat raya! Jangan lupa baca ficnya dan review dan dukung dan blaaaaaaabalalbabla *dilempar sandal* OH YA! Tapi maafkan saya untuk kali ini, saya tidak di BETA di Chapter 3, bakal mulai di BETA di chapter 4. Jadi maafkan saya, ya. Q.Q
Baiklah, Minna. *ngusap dahi*. Sekarang saya persembahkan chapter 3 ini dengan hati gembira. Review ya, review. Penting itu, jadi nyawa saya. Nggak ada review, saya jadi malas melanjutkan. Itu udah seperti nyawa buat author. Okay?
SPECIAL THANKS : For 'LARISSA' alias 'Sasurissawinchester' that help me with this bad fanfic, she make it good. :D My best friend~! XD Jangan lupa baca fanfic-fanfic buatannya ya! Itu bagus-bagus banget lho! Kalau nggak baca nyesel deh~! XD
HitsuKiro16-Sasurissawinchester-DianShiro-BakaShiro-KaiSoo
-KAISOO-
FLASHBACK : "Aku melihatnya sempoyongan seperti itu, kakinya bergetar, makanya aku berlari saat tahu dia ambruk ke depan." Ucap Chanyeol ketika berjalan dituntun oleh Kris dan Baekhyun. Baekhyun menghela napas, antara lega dan khawatir. Satu sisi dia bersyukur Chanyeol menangkap tubuh Kyung Soo yang ambruk, namun di sisi lainnya, dia khawatir pada Chanyeol dan Kyung Soo, benturan tadi tidak pelan, pasti ada yang terluka di tubuh mereka.
Para manager segera berbicara pada MC dan penggemar di sana bahwa jumpa fans terpaksa harus dihentikan saat itu juga. Mereka berjanji pada para fans dan semua orang yang telah terlibat dalam acara itu untuk segera memberikan konfirmasi setelah semua ini selesai diproses dan diselesaikan.
Segera setelah semua member masuk ke dalam mobil, mereka berangkat dengan terburu-buru menuju gedung yang putih dan besar, berbau obat, tempat yang paling dibenci oleh orang-orang.
-KAISOO-
Perjalanan terasa begitu lama, walau mobil mereka sudah dikawal oleh beberapa polisi di depannya, namun waktu bergulir terasa begitu lambat. Suasana di dalam mobil van hitam begitu penat. Rasa cemas, takut, dan khawatir seakan terjadi sesuatu yang buruk memenuhi pikiran masing-masing penumpang di dalam kendaraan roda empat tersebut. Jantung mereka masing-masing berdebar, bergetar dengan cepat, seolah-olah mereka sedang berlari dan tak kunjung berhenti, membuat dada mereka bergerak naik turun.
Suho yang masih fokus mengendarai mobil, menengok keadaan member dengan melihat pantulan kaca di atasnya. Ia melihat Lay terus memantau keadaan Kyung Soo, beruntung sekali namja berdimple dalam itu selalu membawa sekotak peralatan medis yang tak pernah ia tinggalkan di dorm, tentu saja ia bisa menggunakannya sekarang untuk memberi perawatan pertama selama perjalanan menuju rumah sakit. Suho bersyukur, walau keadaan sedang sekacau ini, namun semua orang tetap tenang dan mau bekerjasama untuk menempuh semua masalah yang dialami setengah tahun ini.
Chanyeol yang sigap dengan mata dan tubuh berperawakan tinggi, segera menangkap tubuh Kyung Soo saat ketidaksadaran menguasai namja mungil itu. Ada pula Chen dan Kris yang cepat merespon, bergerak untuk memapah tubuh mungil Kyung Soo dengan kedua tangan mereka yang kuat. Masih ada Baekhyun dan Luhan, sosok terdekat Kyung Soo. Mereka yang paling mengerti keadaan namja yang bersandar pada Baekhyun, terlihat begitu lemah saat ini.
Tak lupa peran baik Tao dan Lay, dengan kekompakan mereka untuk merawat Kyung Soo, Lay layaknya dokter dan Tao sebagai asisten terbaiknya. Sehun dengan tenang bisa mengatasi masalah dan menenangkan emosi Kai, yang sebaya dengannya. Xiumin, sosok hyung yang berhati malaikat, sangat peduli dengan Kyung Soo, dengan cara halus dan merasakan dengan hatinya, dilihat saat Suho mengancam namja bermata bulat yang saat ini tertutup rapat. Masih ada dirinya sendiri yang dikaruniai Tuhan untuk berpikir secara cepat, menentukan penyelesaian dari masalah dengan cekatan dan logis.
Namun yang mengganggunya saat ini hanya Kyung Soo dan Kai. Terlalu banyak masalah muncul sejak yeoja menyebalkan itu muncul diantara mereka berdua. Ia tak banyak tahu kejadian-kejadian sebenarnya, namun berkat bibir informan Luhan dan member lainnya, dia paham masalah-masalah yang muncul sekiranya selama setengah tahun ini. mulai dari Kyung Soo yang tidak tidur sampai pagi hari demi memberi waktu Kai dan Krystal berduaan, sampai pada tangan Kyung Soo yang terluka akibat perdebatan Kai dan namja itu.
Namun, sampai sekarang yang ia tak tahu, masalah apa yang muncul baru-baru ini, adu mulut berakibat pada salah satu pihak yang terluka fisik, yang membuat mulut Jong In berkata buruk pada Hyungnya yang satu tahun lebih tua-Do Kyung Soo.
Kembali memfokuskan dirinya pada kegiatan menyetir dan memantau keadaan member di belakangnya, Suho memicingkan pandangannya sedikit pada kaca di atasnya beberapa detik sebelum menajamkan pandangannya pada jalanan di depannya. Melihat situasi di bagian belakang.
Tangan Lay bergerak cukup cepat, bibirnya terbuka tertutup saat memberi komando pada Tao yang duduk tepat di kanannya, memberi instruksi untuk mengambilkan sesuatu di dalam kotak medisnya, selama dirinya memberikan yang dia bisa pada namja mungil, yang sosoknya terbaring lemah tak berdaya di dalam pangkuan Baekhyun. Baekhyun dengan sedih mengelus rambut Kyung Soo yang sudah basah akibat keringat dingin, sembari mengelus dengan tangan kanannya, tangan kirinya senantiasa menopang tubuh namja mungil itu agar tetap ada di dalam jangkauannya dan Lay yang masih memberi perawatan di depannya.
"Kyung Soo-ya, maafkan aku ya. Tak bisa memperhatikanmu dan menolongmu, padahal kau mengalami masa sulit seperti ini. sampai kau sakit seperti sekarang ini. maafkan hyungmu yang bodoh dan tak peka ini." terisak sedih, membuat member di dalam mobil van itu terdiam, ikut merasa bersalah dan memikirkan perbuatan mereka yang dirasa masih kurang untuk membantu Kyung Soo yang terlanjur tersiksa dalam jangka waktu yang tak sebentar.
Tak lama, kecepatan mobil itu melambat, Suho sudah berpikir dan mempertimbangkan secara matang, apa yang akan dilakukannya dan yang lain setelah sampai di rumah sakit. Segera ia memperlambat mobil yang dikuasai dengan tangannya sementar bibirnya mulai terbuka, memberi beberapa instruksi.
"Baekhyun tetap di mobil dan tunggu tim medis kemari dan membantu mengangkat tubuh Kyung Soo. Lay, segera kau mengkomunikasikan apa yang kau dapat dari pemeriksaan singkatmu tadi pada dokter." Melepaskan pengaman yang melekat pada tubuhnya, ia mematikan mesin kendaraan tersebut dan menoleh ke belakang, menyelesaikan instruksinya.
"Tao-ya, kau rapikan peralatan medis itu, kemudian tunggu di sini besama Lay dan Baekhyun. Kris-hyung, tolong bersiaplah di dekat pintu mobil dan tunggu aba-abaku untuk menggendong Kyungie." Semuanya mengangguk paham, segera melakukan apa yang sudah mereka dengar dengan jelas. Suho segera berlari keluar dari mobil untuk memanggil tim medis. Setelah itu, mereka semua segera membawa Kyung Soo ke dalam dengan bantuan tenaga Kris dan Suho yang mengangkat tubuh mungil tak sadarkan diri itu ke atas ranjang pasien. Sesegera mungkin pihak rumah sakit mengurus namja tak berdaya itu ke dalam gedung besar tersebut, mengurangi rasa khawatir pada hati masing-masing.
"Ah, Suho-hyung. Ini melelahkan sekali. Aku tak tahu kalau menolong Yi Xing-hyung untuk mengurus orang sakit bisa secapek ini." memijat lengan kanannya yang terasa agak pegal, Tao bersandar pada van mobil mereka. Lay tertawa kecil, memperlihatkan dimplenya yang terlihat manis di pipinya.
"Sepertinya kau harus banyak olahraga, Tao." Suasana tidak seburuk sebelumnya, itu sudah cukup melegakan hati Suho yang tegang karena keadaan member EXO yang tidak karuan. Kembali, matanya yang cukup tajam menyapu sekitarnya, melihat Baekhyun yang terpana, memandang kosong gedung putih di depannya. Suho mendesah berat, pasalnya dia melupakan satu orang, ya, sosok tubuh yang agak mungil, yang masih terlihat cemas, terbukti dari bibirnya yang terpatri sedih.
"Baekhyun-ah, jangan dipikirkan. Nanti kita akan berpikir keras bagaimana caranya agar Kyung Soo mau berbicara sejujurnya pada kita, dan tentu saja berdoa untuk kesembuhannya. Yang terpenting saat ini, kita harus menunggu member lain, Chanyeol sepertinya terluka saat melindungi Kyungie dengan tubuhnya." Baekhyun mengangguk sedih, menghormati Suho yang begitu pengertian dengan semua orang.
Tak lama, mobil van putih masuk ke dalam daerah rumah sakit, memuntahkan 6 orang yang mereka kenal setelah kendaraan roda empat itu berhenti di sebelah mobil mereka. Chen dan Xiumin memapah Chanyeol keluar dari mobil, Sehun keluar dari mobil di bangku kemudi. Luhan keluar dengan gesit, secepat mungkin mencapai pelukan Sehun. Sedangkan Kai? Dilihat oleh iris hitam Suho, Kai keluar perlahan dari mobil, kemudian segera menghampiri Sehun dan Luhan, yang tentu saja, Luhan memandangnya agak benci.
-KAISOO-
2 jam pemeriksaan secara intensif, akhirnya tubuh Kyung Soo dibawa ke ruang rawat biasa. Chanyeol juga sudah diobati dengan teliti. Tak ada masalah serius pada keduanya, hanya luka-luka ringan, Kyung Soo juga hanya kelelahan, tidak teratur dalam makan dan tidur. Pergelangan kaki Kyung Soo mengalami cidera, namun tak parah, sehingga satu minggu penuh beristirahat, dia akan sembuh dan dapat beraktivitas normal. Dokter juga berkata bahwa Kyung Soo memaksakan dirinya sampai pada titik maksimal tubuhnya untuk bekerja, menyebabkan tubuhnya jadi lemah dan mudah lelah. Rasa capek yang terus bertumpuk, diimbangi dengan stres dan tekanan yang dideranya, membuatnya mudah sakit. Namun selain itu, dirasa tidak serius. Dua hari menginap di rumah sakit, dia akan segera pulih.
Setidaknya itu yang Suho dengar, dan mulai saat ini, dia harus segera memikirkan cara terbaik untuk membiasakan kegiatan Kyung Soo. Ia juga harus memantau pola makan dan tidur namja mungil itu. Namun saat melihat dokter yang mengurus Kyung Soo di awal pertemuan tadi berbeda dengan sekarang, saat memberitahukan apa yang dialami Kyung Soo, mau tak mau itu menjadi beban pikiran Suho. Waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa Kyung Soo terbukti cukup lama dibandingkan dengan pemeriksaan biasa, juga wajah dokter yang baru saja memberikan keterangan terlihat canggung dan berkesan menyimpan sesuatu.
"Ah, mungkin itu cuma perasaanku saja." Namja berdahi lebar itu segera menghampiri kekasihnya yang sedang duduk bercanda dengan Tao dan Kris yang mendampingi di sebelahnya.
"Chanyeol, kau sudah baikan?" tanya Baekhyun sembari mengusap pipi kekasihnya lembut. Chanyeol mengangguk pelan, ia tahu namja di depannya ini khawatir, dengan tangan kirinya ia mengacak-acak rambut namja yang lebih pendek darinya ini.
"Sudah, chagi-ya. Maafkan aku karena membuatmu khawatir." Baekhyun tersipu malu, padahal Chanyeol sedang terluka, tapi masih bisa-bisanya membuat pipinya memerah tak karuan. Kai memandang kegiatan Chanyeol dan Baekhyun yang menghangatkan hati.
Melihat situasi romantis di depannya, Kai mengingat secuil kenangan lama saat dirinya dan mantan kekasih cantiknya, Kystal, bermanja-manjaan di kamar, sedangkan Kyung Soo terpaksa keluar karena mereka.
-Flashback-
"Kyung Soo-hyung, aku mau membawa Krystal ke dalam kamar mulai saat ini agar member lain tidak tahu." Melihat reaksi Kyung Soo yang agak tercenggang, membuat Kai mengela napas sebal. Dia tahu, dari gelagat hyungnya tersebut, terlihat bahwa ia tak setuju dengan keputusannya.
"Hyung juga tak apa tetap di kamar ini. tapi jangan mengintip kemesraan kami di atas ya." Ujarnya tenang, sembari membaca buku yang dipegangnya saat ini. curi-curi, memandang wajah Kyung Soo yang terlihat gusar. Menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, kemudian membuka bibir kissablenya ragu-ragu.
"Ti-tidak. Tidak akan. Lalu, bagaimana kalau ada salah satu member yang masuk dan menemukanmu dengan Krystal-ssi?" Kyung Soo membuka bibirnya pelan, agak terbata saat mengatakan hal tersebut sembari menatap takut mata elang milik Jong In. Namja berkulit tan itu mendengus kesal, namja polos itu terlalu merepotkan untuk diajak bersepakat.
"Aku akan membawanya ke sini pukul 12 malam dan mengantarnya pulang pada pukul 3 pagi. Member lain tak akan tahu karena mereka masih tidur." Tersentak kaget, Kyung Soo tak berani membantah lagi, dari nada bicara Jong In, ia sudah tahu kalau Jong In tak menerima tentangan lagi. Kyung Soo hanya mengangguk sedih. Dilihatnya sosok mungil di depannya menggigit heart shape lips miliknya, Kai membuang mukanya, masa bodoh.
Jong In merasakan getaran pada kantong celananya, merogoh kantongnya, melihat pesan yang masuk ke handphonenya, membuatnya tersenyum bahagia.
"Lihat, dia sudah datang." Menunjukkan layar hpnya pada Kyung Soo, membuat raut muka Kyung Soo berubah, ada kaget di situ, namun, kenapa Kai melihat wajahnya seperti tersirat kegelisahan dan rasa sakit hati seperti itu?
Tak berpengaruh pada perasaannya, dia segera keluar dari kamar, meninggalkan namja yang terdiam tak bergerak itu. Dia melangkah diam-diam agar para hyungnya tak bangun akibat suara yang dibuatnya. Membuka pintu perlahan, terlihat sosok yeoja cantik yang memakai baju minim, membuat hormonnya bergejolak. Jadi inikah namanya nafsu seorang lelaki jika melihat wanita seksi di depannya? Rasanya begitu luar biasa!
"Hallo, Oppa." Jong In segera membawa Krystal masuk ke dalam, menutup pintunya perlahan supaya suara tertutupnya pintu tak bergema. Merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya, kemudian menuntunnya ke arah kamarnya dan Kyung Soo.
Mata elangnya menemukan pemuda mungil di dalam kamarnya masih tak bergeming, terdiam tak bergerak sama sekali. Matanya masih membelalak lebar, entah kerasukan apa. Jong In hanya melengos pergi dengan yeoja seksi di dalam pelukannya, membawanya ke atas ranjangnya, kemudian mulai bercumbu dengannya.
Sempat ia melirik Kyung Soo, hyung mungilnya, berlari keluar dengan selimut tebal pororo miliknya, menggebrak pintu dengan cukup keras, membuatnya agak kaget, namun segera melakukan kegiatannya dengan wanita di depannya, karena waktu yang dia punya tidak lama. Namun, ia terhenti sejenak, ia menyadari sesuatu, wajah Kyung Soo begitu tersakiti.
Menyadari keterdiaman tiba-tiba kekasihnya, yeoja mungil itu mengernyitkan sebelah alisnya.
"Oppa, ada apa?" menggeleng cepat, kemudian segera melanjutkan kembali kegiatannya.
"Tak apa, chagi."
-end of flashback- kai's perpective-
Mengingat wajah tersakiti Kyung Soo saat itu, seketika membuatnya mencelos. Apakah begitu menyakitkan perbuatannya dan Krystal saat itu di depannya? Di depan pemuda bertubuh pendek dengan matanya yang bulat itu?
Menggeleng cepat, mencoba untuk melupakan semua itu. Masa bodoh dengan namja lemah itu. Walau rasa bersalah sedikit-demi sedikit masih terlintas di pikirannya dan hatinya yang terasa tidak nyaman dengan itu semua, ia masih tetap teguh pada pilihannya. Rasa dendam itu belum hilang sampai sekarang, tidak akan pernah hilang selama dia masih hidup di dunia ini dan sosok terkasihnya belum kembali ke dalam pelukannya. Semua masalah sepele ini membuatnya stres, namun melihat namja yang berpura-pura menyedihkan itu, hanya membuat rasa kesalnya bertambah, tak berujung.
"Baekhyun-ah, kau bersamaku saja di sini. Aku butuh kehangatan. Sini, peluk aku, Baekhyunie." Ujar Chanyeol manja, segera saja mendapat pukulan hangat dari pemilik nama.
"Jangan manja, walaupun aku khawatir, tapi bukan berarti kau bisa bergelayut manja di depanku!" tampiknya cepat, membuat Chanyeol kecewa atas perlakuan kekasihnya. Baekhyun yang menyadari itu, menggaruk lengannya yang tidak gatal, kemudian meraih lengan kiri Chanyeol yang tak terluka.
"Maaf—hanya saja jangan sekarang, okay. Situasinya sedang seperti ini. kau juga harus belajar untuk peka, Chanyeol-ah." Mengusap sideburn milik Chanyeol, kemudian memberi kecupan singkat di pipi pemuda bertubuh tinggi tersebut, membuat pemilik pipi beruntung melongo namun rasa bahagia muncul di hatinya.
Kai membuang muka, kenapa setelah kenangan-kenangan lama terkuak di dalam pikirannya, harus muncul kejadian romantis di depan matanya, membuatnya iri karena tak ada yang bisa memperlakukannya seperti itu, peduli dengannya, mengusap pipinya yang dingin, memperhatikan keadaannya. Iris hitamnya menangkap Kris dan Tao yang duduk tak jauh darinya, terlihat mesra berdua, mereka layaknya Naga dan Panda, berbeda kehidupan namun tak ada yang dapat memisahkan mereka.
"Kris-hyung, aku khawatir pada Kyungie." Tao menatap Hyung yang lebih tinggi darinya dengan paras cemberut nyaris menangis. Pasalnya baru pertama kali dia melihat seseorang jatuh dari panggung yang notabene cukup tinggi seperti tadi, tersisa shock pada dirinya yang tak kunjung hilang. Kris menarik kekasihnya yang terisak ke dalam pelukan hangatnya, mempertemukan dagu miliknya dengan puncak kepala Tao.
"Tao, aku juga khawatir padanya, semua orang juga begitu. Jangan membebani hal itu di otakmu, cukup pikirkan bahwa Kyung Soo baik-baik saja. Doakanlah Chanyeol yang ikut terluka karena menolong Kyung Soo, doakanlah kesembuhannya." Mengusap punggung kekasihnya lembut, membuat Tao merasa nyaman, merasakan perlindungan dengan kehangatan menjalar pada tubuhnya.
"Iya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Kyung Soo semenjak perilakunya yang berubah drastis. Aku merasa kehilangan Kyung Soo yang dulu, yang begitu ceria." Kai mengernyit bingung mendengar ucapan yang keluar dari bibir Hyungnya yang cukup cantik tersebut. Ia tak paham, Kyung Soo berubah drastis? Dari sisi apa mereka melihatnya? Ia tak mengerti maksud perkataan mereka tentang Kyung Soo, dan ia merasa tidak peduli walaupun hal tersebut masih sempat mengganjal pikirannya.
Ia berjalan agak jauh dari kerumunan, namun naas baginya, ia harus dipaksa bertemu dengan 2 orang yang saat ini paling tidak mau ia temui, Oh Sehun dan Xi Luhan. Menjaga jarak cukup jauh, tak ingin bertatap muka dengan mereka. Duduk di kursi terdekat, kemudian mengotak-atik handphonenya yang masih terpajang foto diri dengan Krystal, kekasihnya, ah, entahlah masih bisa disebut sebagai kekasih atau mantan kekasih, setelah kejadian tersebut terjadi, hubungan mereka diambang kehancuran.
"Sehun-ah. Kau tahu, Kyung Soo harus banyak beristirahat mulai dari sekarang. Dia terlalu bekerja keras dan tak memikirkan kesehatannya sendiri." Lirih-lirih suara Luhan terdengar di telinga Kai, mau tak mau dia harus mendengar pembicaraan tersebut.
"Mulai saat ini kita harus membersihkan kamar kita sendiri. Aku juga akan belajar memasak dengan cepat supaya itu bisa meringankan penderitaan Kyung Soo." Kembali Luhan berucap. Tak lama Sehun membalas dengan suara deheman singkat.
"Aku khawatir pada Jong In, bagaimana dia bisa bertahan di ruangannya tanpa Kyung Soo jika kita harus membersihkan kamar kita masing-masing." Perkataan Sehun tentu dibantah dengan cepat oleh Luhan yang menaikkan nadanya.
"Ya! Kau itu harusnya mengkhawatirkan Kyung Soo! Kenapa harus memikirkan keadaan Jong In, biarkan dia berkutat dengan kekasihnya yang meninggalkannya jauh-jauh tersebut!" mendengar itu Jong In berubah marah dan berniat menghampiri kedua orang tersebut kemudian menghajar Luhan, namun seketika Luhan melanjutkan, membuatnya berhenti seketika,"tapi, Kyungie juga tak akan membiarkan Jong In kerepotan mengurus hal-hal seperti itu. Tentu saja dia akan ngotot untuk membersihkan kamar Jong In diam-diam. Kyung Soo itu terlalu baik." Perkataan baru saja sedikit menyadarkannya, kamar miliknya dan Kyung Soo selalu bersih setiap paginya, dan walaupun kotoran dan sampah berserakan, sekejap mata pasti sudah kembali enak dipandang. Tentu saja ia tak pernah membersihkan kamar tersebut, hanya satu orang saja yang mau melakukan hal itu dengan telaten, Do Kyung Soo, hanya pemuda itu.
Mengerang frustasi, hanya itu yang dia bisa. Kenapa disaat-saat seperti ini, semua kebaikan Kyung Soo mengalir kembali, menyadarkannya dari kegelapan. Menghentakkan kakinya kuat-kuat kemudian berjalan kembali ke kerumunan, ia sudah lelah untuk mencari tempat, akhir-akhirnya sama saja. Lebih baik ia ikut menunggu bersama dengan yang lain.
"Ah, kami sudah boleh menjenguknya? Terima kasih." Ujar Suho sembari menunduk hormat ke arah suster rumah sakit yang membalas dengan anggukan ramah. Suho dan semua member minus Sehun, Luhan dan dirinya masuk ke dalam ruangan tempat namja mungil saat ini terbaring. Kai terpaku, haruskah ia masuk atau tidak?
"Jong In, cepat masuk." Menoleh ke arah sumber suara, mendapati Xiumin memanggilnya, menyuruhnya untuk segera masuk. Jong In berjalan dengan cepat kemudian ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Iris hitamnya mendapati namja mungil yang saat ini terbaring lemah dengan cukup banyak jarum menusuk tubuh putihnya. Jong In memandang tubuh itu dari jarak yang cukup jauh, kerumunan member mendekati Kyung Soo.
Suara pintu terbuka perlahan, menampilkan dua orang yang terlambat mendapat panggilan tadi. Masuk dengan agak terburu-buru, Luhan segera menyusup di sela-sela member lainnya untuk mendapati tempat terbaik untuk bersama dengan Kyung Soo yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Kyung Soo-ya, cepat sembuh. Wajahmu pucat sekali." Xiumin meraba pipi Kyung Soo yang pucat, merasa sangat sayang pada dongsaeng satu ini, begitu menderita dan tersiksa.
"Tubuhnya kurus sekali." Celoteh Jong Dae cepat, hanya memandang ekstensif saja ia dapat mengetahui bahwa sosok yang terbaring lemah itu kehilangan banyak sekali bobot tubuhnya. Chanyeol hanya mengangguk pelan, menyetujui perkataan Chen cepat.
"Kantong matanya juga tebal sekali." Sambil mengacak rambut Kyung Soo pelan, Chanyeol mengatakan apa yang ingin dia katakan saat ini berkaitan dengan sosok mungil yang tak sadarkan diri saat ini. Suho dan Kris saling berpandangan, kemudian mengangguk, setelah sedikit bertukar pendapat, kedua leader itu menyepakati satu hal penting. Mereka tinggal memberitahukan keputusan itu saat ini, kemudian menyelesaikan di dorm, mengingat ini adalah rumah sakit, bukan tempat untuk rapat terbuka.
"Semuanya, mungkin ini tidak sesuai dengan suasananya, namun ini juga cukup penting. Sekitar 10 menit lagi, Eomma dan Appa Kyung Soo akan datang untuk menjenguk keadaannya. Saat mereka datang, kita akan pulang ke dorm." Detik kemudian sudah muncul suara-suara protes, kegaduhan memenuhi ruangan tersebut. Suho harus berdehem beberapa kali sampai akhirnya ia harus berdehem begitu keras. Seketika suara hening memenuhi ruangan tempat Kyung Soo berbaring.
"Sadarilah dimana kalian sekarang. Kyung Soo sedang sakit dan kalian masih bisa-bisanya berteriak-teriak di sini. Hari ini kita harus pulang. Kita harus membahas mengenai beberapa hal sekembalinya di dorm." Semuanya hanya dapat mendengus kesal, ada juga yang merengut sedih, namun Suho berusaha tak peduli. Sebenarnya ia sangat ingin di sini, menemani membernya yang sedang sakit dan butuh kawan, namun, keadaan saat ini tak membantu sama sekali. Rasa sedih di hatinya terasa kompleks, ia tak tahu, tapi hatinya begitu perih saat kembali melihat sosok pucat di hadapannya tersebut.
Rasa itu muncul saat ia menyadari perkataan kedua orang tua Kyung Soo. Ya, ia sempat bertemu dengan Ibu dan Ayah Kyung Soo.
-Flashback-
"Ah, Joon Myeon- ah. Terima kasih telah membawa Uri Kyung Soo sampai di sini. Maafkan kami karena merepotkanmu dan member akibat kecerobohan dan keadaan tubuhnya saat ini." Suho buru-buru menunduk memberi salam dan hormat.
"Tidak, ini sudah tugas kami untuk menjaga Kyung Soo. Justru kami yang harus meminta maaf karena tak bisa menjaga Kyung Soo untuk merawat kesehatannya." Setelah mengangkat tubuhnya dan berkata sedemikian rupa, iris hitam milik namja tampan tersebut menangkap sesuatu di wajah ibu dan ayah Kyung Soo. Suho menyadari sesuatu dari sudut mata ibu dan ayah Kyung Soo, memerah dan bengkak akibat menangis.
"Sekali lagi terima kasih. Eh, bolehkah jika saya meminta tolong pada Joon Myeon untuk membawa pulang semua member ke dorm?" ingin menanyakan alasan, namun ibu Kyung Soo sudah kembali menyela, "biarkan kami yang mengurusi sisanya di sini. Karena ada beberapa keperluan dengan uri Kyung Soo. Saya juga baru saja mendapatkan ijin dari pengurus kalian. Maafkan kami jika ini harus dilaksanakan secara tiba-tiba." Suho hanya terdiam, sejenak ia tak memahami maksud dari sosok yeoja bersuami di depannya, namun setelah mencerna dalam-dalam kalimat tersebut, ia hanya mengangguk lemah.
"Anda tidak perlu meminta tolong pada kami, kami tak berhak. Namun, jika saya boleh tahu. Alasan apa yang menyebabkan kami tidak boleh berada di sisi Kyung Soo saat ini?" tanyanya agak kasar. Namun membungkukkan tubuhnya meminta maaf, hanya mendapat usapan lembut dari ayah Kyung Soo.
"Kami belum bisa mengatakannya saat ini, mungkin, kalian harus bertanya pada Kyung Soo sendiri nantinya setelah dia kembali ke dorm. Yang hanya bisa kami beritahu saat ini, dan kalian para member harus tahu, dia sakit kronis, Joon Myeon-ah."
-End of flashback-
Lagi, berbagai hal mengenai Kyung Soo harus membebani otaknya, membuatnya semakin stres. Sakit apa yang dideritanya? Penyakit apa yang mendiami tubuhnya? Kronis? Jadi sudah sejak lama ia mengalaminya? Kenapa bisa dirinya tak menyadari satu keganjalanpun? Mengacak rambutnya frustasi, ia tak menemukan titik terang mengenai keadaan dongsaengnya.
-KAISOO-
Sesampainya di dorm, semuanya segera tersebar ke segala arah, menuju ke kamar mereka, ke ruang tamu, sampai ke ruang berkumpul. Suho memandang semua orang di situ dengan lelah, apakah ia harus menceritakan keadaan Kyung Soo saat ini atau tidak? Ia benar-benar bingung.
"1 jam lagi kita berkumpul di ruang kumpul untuk membahas beberapa hal. Pastikan kalian tidak terlambat atau keluyuran." Suho segera meninggalkan ruangan tersebut menuju ke kamarnya sejenak. Merebahkan tubuhnya yang membawa beban yang cukup berat saat ini. Lay yang mengetahui keadaan kekasihnya saat ini, segera mengikutinya sampai ke kamar mereka. Mungkin menemani Suho untuk menenangkan diri akan lebih baik untuknya sekarang. Lay menutup pintu kamar mereka perlahan. Sehun yang sudah memegang handuk segera membawanya ke kamarnya, ia merasa ingin mandi setelah banyak kegiatan yang melelahkan baginya tersebut.
Sementara di ruang makan, Xiumin, Jong Dae, Kris, dan Tao sedang duduk bersandar di meja, lapar menyerang mereka dengan ganasnya. Luhan menyentuh bahu Chen, mengisyaratkan untuk membantunya memasak di dapur. Jong Dae hanya mengangguk, mengikuti di belakang namja cantik yang melengos menuju dapur. Chanyeol melihat isyarat baru saja, segera mengelus kepala Baekhyun yang bersandar di sofa ruang tamu, kemudian menyusul ke dapur untuk membantu memasak sebisanya, karena tangan kanannya terluka.
Baekhyun yang masih duduk diam di sofa tersebut, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia masih bertanya-tanya saat melihat wajah Suho yang terlihat frustasi, di kepalanya terputar situasi itu, terus menerus, mencari arti dari wajah tersebut. ia harus menanyakan hal ini pada Suho. Hendak bangkit dari posisi duduknya, iris hitamnya menemukan sosok berkulit tan tak jauh dari pandangannya, sedang mengotak-atik handphonenya kemudian berkali-kali menempelkannya di dekat telinganya.
Baekhyun memandang kegiatan tersebut dengan pandangan sebal, dengan cepat, suasana hatinya berubah bad mood, ia tahu kegiatan yang namja itu lakukan, berusaha melakukan kontak dengan kekasihnya di entah negara mana. Masa bodoh, Baekhyun begitu sebal pada namja berkulit tan itu, dan juga wanita yang menyandang sebagai kekasihnya, pasalnya, ia sudah tahu kelicikan apa yang banyak diperbuat oleh Krystal dan tindakannya yang melukai dongsaengnya tersayang, Kyung Soo. Dia wanita yang paling dibencinya, menyakiti sosok terkasihnya yang begitu rapuh.
"Haha, apa yang kau lakukan? Masih berusaha menanyakan hubunganmu dengan yeoja yang meninggalkanmu itu?" mengejek dengan nada berani, Baekhyun mendekati namja berkulit tan di depannya. membuat Kai emosi, meremas handphone dalam genggamannya, kemudian membuka mulutnya.
"Tidak, hanya menanyakan keadaannya di sana, bagaimana denganmu? Memikirkan keadaanmu karena Chanyeol-hyung tak akan bisa menyentuhmu selama beberapa hari, Baekhyun-hyung?" tentu saja itu menyulut kemarahan Baekhyun, apa-apaan Kai ini, membelokkan topik pembicaraan dan kini mencoba menyerangnya.
"Ya! Tak usah mengelak! Kau kira aku tak tahu apa yang kau lakukan, hah? Wajah panik seperti itu masih berusaha menutupi dengan kebohongan!" Baekhyun merasa tak perlu menahan diri lagi, ia sudah dibatas kesabarannya, masih juga namja di depannya ini berbohong seperti itu. Baru kali ini dia punya dongsaeng yang kurang ajar seperti ini.
"Ah, tentu saja, kau kesepian karena ditinggal oleh yeoja brengsek itu." Urat dahi Jong In berkedut, segera ia berjalan ke depan dengan cepat, kemudian menarik kerah namja yang lebih mungil darinya dengan kasar.
"Tarik ucapanmu sebelum aku menghajarmu, Byun Baekhyun." Baekhyun mendengus, tertawa miris sembari menatap dalam-dalam iris hitam namja di depannya, kemudian menampik tangan Jong In dari kerahnya.
"Oh, aku tak akan menarik kata-kataku. Dia sudah melukai dirimu dan Kyung Soo. Masih bisa kau memikirkan yeoja itu. Sebenarnya apa yang spesial dari—"
BRUK
Baekhyun merasa tubuhnya terangkat tinggi-tinggi, namun kehilangan napasnya tak kala Jong In mencekik lehernya dan mengangkatnya ke atas.
"Jangan kau bawa-bawa nama orang brengsek itu." Kaki Baekhyun menendang-nendang udara, rasanya kesadarannya makin menipis saat ia napasnya mulai pendek-pendek, kehilangan pasokan udara.
Menyadari hal itu, Jong In segera melepas cengkramannya pada namja di depannya. Ia mundur beberapa langkah, menjauh dari sosok yang membuka mulutnya lebar-lebar, berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya. Jong In memandang kedua tangannya, apa yang terjadi padanya, apa yang dia lakukan pada Hyungnya. Ia segera menghampiri tubuh di depannya, namun tampikan keras dirasakannya saat sosok di depannya menatapnya dengan benci.
"Kurasa Kyung Soo sudah terlalu buta untuk mempedulikan orang yang menyedihkan sepertimu, Kim Jong In." Dan sekali lagi, Kai harus merasakan kata-kata seorang Byun Baekhyun menusuk hatinya. Kenapa di mata mereka Kyung Soo begitu baik dan dirinya berperan sebagai seseorang yang jahat?
Baekhyun segera berdiri dari situ, kemudian dengan memegangi tenggorokannya, ia segera pergi dari situ, menuju ke kamarnya. Jong In sendiri masih terdiam, ia masih saja tak mengerti. Kenapa harus terlibat dengan pertengkaran yang tak penting seperti ini hanya untuk namja mungil itu? Kenapa harus membela habis-habisan hanya untuk namja lemah itu? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.
...
..
Dalam waktu singkat, semua sudah berkumpul di ruang kumpul. Disitu semua terlihat mengantuk, beberapa pasangan terlihat saling mencari kehangatan jaket tebal dan genggaman tangan masing-masing. Lay yang duduk bersanding dengan Suho berusaha menenangkan namja di sebelahnya yang terlihat tegang.
"Jadi, semua telah berada di sini. Kita akan mulai membahas hal-hal yang akan kusampaikan," Suho mengelus dadanya sebentar, kemudian melanjutkan, "baru saja aku dapat kabar dari manager bahwa kita harus mengadakan jumpa fans untuk kedua kalinya, menggantikan yang baru saja tak terselesaikan. Karena ada beberapa masalah yang tak terduga muncul." Ujarnya pelan, Suho berusaha menyamankan posisi duduknya, sembari menunggu jawaban atau tanggapan dari member lain.
"Kalau dari kami berempat, tentu tidak ada masalah. Aku hanya mengkhawatirkan Kyungie." Ujar Xiumin mengatasnamakan 4 orang, yaitu Kris, Tao, Jong Dae dan dirinya. Suho mengangguk mengerti. Iris hitamnya menuju ke arah Chanyeol yang masih membenahi syal Baekhyun. Memandang bingung, akhirnya Tao bertanya pada Baekhyun.
"Baekhyun-hyung, apakah kau sedang tidak enak badan? Kenapa menggunakan syal di dalam ruangan? Apakah kau merasa kedinginan?" Baekhyun hanya menggeleng lemah, tak mau banyak berbicara, ia hanya menyentuh punggung tangan namja tinggi disebelahnya.
"Ah, tidak ada apa-apa. Sepertinya dia hanya kedinginan dan butuh kehangatan. Dia merasa pelukan dariku kurang hangat." Beberapa orang di situ tertawa mendengar lelucon Chanyeol, Baekhyun hanya tersenyum, berterima kasih atas bantuan Chanyeol. Pasalnya ia hanya berusaha menutupi bekas cekikan Jong In yang membekas, walau tidak terlalu kelihatan, namun warna keunguannya akan mudah menarik perhatian. Maka dari itu ia harus menutupnya dengan syal dan berpura-pura kedinginan. Kekasihnya memang bisa diandalkan.
"Suho-hyung. Sepertinya sudah waktunya kita membuka masalah Jong In dan Kyung Soo, menyelesaikan masalah ini sekarang juga supaya suasana yang terbentuk tidak bertambah buruk dan segala kesalahpahaman ini terungkap." Ujar Luhan tiba-tiba, memecah keheningan sejenak yang terjadi. Semua orang memandang Luhan dengan agak kaget, mengatakan hal tersebut, pasti dia sudah siap hati untuk mengungkapkan semuanya pada Jong In.
"Huh. Baiklah. Sepertinya kita memang harus menyelesaikan hal ini. tapi sepertinya tidak bisa sekarang. Disaat-saat seperti ini kita tetap butuh persetujuan Jong In dan Kyung Soo sendiri." Luhan mendecih kesal mendengar keputusan Suho. Luhan mencoba mengambil simpati dengan menatap Kris, namun balasan yang dia dapat hanya gelengan tak setuju, belum saatnya.
Kembali, untuk beberapa saat mereka mengalami suasana hening yang waktunya tak pendek.
"Sepertinya dengan suasana seperti ini, segala pembicaraan yang kita lakukan saat ini, kupikir bahwa kita tak bisa melanjutkannya saat ini. besok kita akan menjenguk Kyung Soo, kemudian sepulangnya kita akan membahas ini sampai tuntas." Ujar Kris final, menggantikan posisi Suho, melihat leader tersebut sudah merasa menyerah dengan situasi buruk yang tak terselesaikan ini.
-KAISOO-
Pukul 4 pagi saat itu, Kyung Soo tiba-tiba tersadar dari tidur lelapnya. Rasa sakit di kepalanya begitu menyakitkannya, begitu menyiksanya. Seolah-olah semua hal di depannya berputar dan mencoba untuk menghancurkan kepalanya.
"Ughhh..." mengerang kesakitan, membuat ayahnya tersadar dari tidurnya, kemudian dengan panik segera menghampiri anaknya.
"Nak, ada apa? Apakah rasa pusing itu muncul lagi?" Kyung Soo mengangguk lemah, rasa sakit di kepalanya menjadi-jadi, membuat dirinya berkeringat dingin menahan rasa sakit tersebut. ayahnya tak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa mendampingi anaknya yang tersiksa dan memberinya semangat untuk terus berjuang melawan rasa perih itu.
"Appa... Aku... tak mau lagi... merasakan ini... Kumohon, Appa.. ini sakit sekali..." meremas kepalanya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mencakar ayahnya tanpa sadar, berusaha menahan rasa nyeri di kepalanya yang tak kunjung hilang, malah semakin menyakitkan. Ayahnya tak dapat berbuat banyak, ia mengelus punggung anaknya yang begitu tegang, menahan rasa sakit dengan segenap tenaganya.
"Nak, jangan berpikiran seperti itu, kau masih punya Appa dan Eomma, kau masih punya teman-temanmu, mereka semua mengharapkanmu untuk bertahan." Masih memegangi kepalanya yang terasa pening tak terkira, Kyung Soo mengguman lemah. Mengeluarkan beberapa patah kata menyakitkan dari bibir berbentuk hati miliknya yang pucat membiru.
"Tapi...Jong In tak mengharapkanku—untuk hidup, Appa. Ak—u... menghancurkan hubungannya dengan kekasihnya..." ujarnya lemah, tubuhnya lemas, rasa sakit itu belum hilang, namun tubuhnya terasa tak mampu untuk menopang, kekuatannya terasa hilang seketika.
"Dia—membenciku... Appa..." rasa sakit di kepalanya tak kunjung hilang, namun sedikit-demi sedikit rasa nyeri di kepalanya berkurang. Menyelaraskan napasnya perlahan, Ayah Kyung Soo mengelus puncak kepala anaknya yang sakit. Melihat kelopak matanya yang tertutup sembai menahan sakit, mau tak mau air mata dari pelupuk mata ayahnya turun membasahi pipinya yang sudah berkerut akibat bertambahnya umur.
Kyung Soo mendengar suara isakan pelan dari Appa tersayangnya. Tangan lemah mungilnya berusaha meraih pipi ayahnya, berhasil menyentuhnya, ia mengelusnya lemah.
"Appa, jangan menangis. Kyung Soo bahagia jika Appa dan Eomma mau menemani Kyung Soo di sini." Tentu saja, perkataan itu membuat hati ayahnya sakit, anaknya tak akan bertahan lama, ia tak pernah berpikir penyakit itu akan menggerogoti tubuh anaknya, ia tak pernah tahu dan tak mau itu terjadi. Namun apadaya, ia baru menyadari keadaan anaknya setengah tahun yang lalu, saat tiba-tiba anaknya menelpon dirinya minta untuk menemuinya. Menjemputnya di dorm, dan mendapati anaknya menyambutnya dengan hidung yang sudah berdarah dan wajah pucat akibat menahan sakit pada kepalanya yang tak kunjung berhenti. Waktu itu pukul 4 pagi, tentu saja mengkhawatirkan kedua orang tuanya.
Ayah Kyung Soo merutuki dirinya atas ketidakpekaannya terhadap anaknya yang masih menahan sakit sampai saat ini.
Ibu Kyung Soo yang terbangun akibat erangan kesakitan anaknya secepat mungkin menghampiri namja mungilnya, kemudian memeluknya erat-erat. Ia tak bisa melihat anaknya tersiksa seperti ini, kenapa harus anak kecilnya yang menderita, kenapa bukan dirinya saja.
"Kyung Soo-chagi, maafkan eomma..." Kyung Soo hanya menggeleng lemah, ia tak bisa berkata lagi, rasa sakit itu kembali menguasai dirinya, membuat tubuhnya melengkung menahan sakit. Eomma dan Appanya hanya dapat memeluk dan menggenggam kedua tangan namja mungil di hadapannya dengan sedih.
...
..
Pukul 7 pagi, cahaya sudah masuk melewati celah-celah tirai kamar yang masih tertutup. Namja mungil itu dapat menutup matanya yang kelelahan setelah berjuang melawan rasa sakit di kepalanya selama 3 jam penuh. Ayah dan ibunya juga terlihat kelelahan, merasakan penderitaan anak mereka yang bermata bulat tersebut terus meremas tangan ayahnya, dan air mata yang membasahi pakaian ibunya. Kyung Soo sudah berjuang keras untuk itu, dan sekarang Tuhan memberinya kesempatan untuk beristirahat dengan baik di rumah sakit.
Ayah dan ibunya masih mengingat perkataan anak mereka disaat-saat terakhir sebelum namja mungil itu tertidur.
'Appa, Eomma. Biarkan aku menikmati masa-masa remajaku bersama dengan semua teman-teman EXO member, ya. Aku ingin mendapatkan sebanyak mungkin kenangan bersama mereka. Kumohon ijinkan aku, Eomma, Appa. Aku berjanji aku akan menjaga kesehatanku di sana. Mereka orang-orang yang baik, mereka mau menjagaku.'
Ayah dan ibunya tak mau menolak lagi, mereka hanya mengangguk lemah saat anaknya meminta hal tersebut. walau rasa enggan selalu menyelimuti mereka, namun permintaan anaknya satu ini tak bisa dilepaskan begitu saja, ini permintaan terakhirnya.
"Oh ya, Chagi. Aku akan mengabari sahabat-sahabatnya untuk datang siang hari saja. Biarkan Kyungie beristirahat dulu." Mengangguk menyetujui perkataan istrinya, ayah Kyung Soo mengecup dahi istrinya.
"Iya, aku akan mengurus sisanya. Administrasi dan lainnya. Aku juga akan berbicara kepada Dokter Choi mengenai keputusan Kyung Soo kali ini." giliran istrinya yang mengangguk, ia mengusap pipi suaminya lembut, kemudian segera berkutat dengan handphonenya.
-KAISOO-
"Ingat, kita datang ke sini bukan untuk mencari keributan. Jadi tenang, jangan ramai, okay." Semua orang di situ mengangguk. Suho sudah memberikan warning, jadi jika sumber masalah muncul, akan dia berantas dengan cepat, caranya? Cukup tendang saja dia keluar dari ruangan. Mengambil napas dalam-dalam, kemudian menyentuh kenop pintu kamar Kyung Soo.
Membuka pintu kamar tempat Kyung Soo dirawat, mendapati sesuatu yang cukup ganjil.
-KAISOO-
Note from Baka author :
Ohohoho~ Akhirnya chapter 3 saya luncurkan dengan bahagia. Saya baca review dengan bahagia pula. Maafkan saya karena belum bisa membalas review-review minna sekalian disebabkan oleh lemotnya internet, sehingga saya harus terpaksa tidak membalas review minna sekalian. Gomenasai!
Saya akan memberikan permintaan maaf saya dengan secepatnya mengupdate chapter 4!
Oh ya, sesuai permintaan beberapa reviewer, saya bakal bikin Kyungie mengidap penyakit. Walau awalnya saya nggak kepikiran, tapi setelah saya lihat, ternyata dari chapter 1 udah dapet tanda-tanda bagus seperti itu, ya sudah akhirnya saya kasih dia anugrah (huh?) maksud saya penyakit. Katanya biar Uri Kyungie tambah kesiksa. *PLAK*
Yak! Mungkin untuk chapter 4 agak berdarah-darah sedikit, nggak apa, ya? Maafkan saya, Minna. Saya tidak bisa memenuhi ekspektasi minna sekalian terhadap fanfic abal-abal saya ini. saya hanya ingin memuaskan hati saya terhadap namja favorit saya ini, Do Kyung Soo. :D
Karena agak terburu-buru, maafkan saya untuk banyaknya typo(s) bertebaran. Saya nggak sempat update untuk seminggu ke depan karena mulai diterjang oleh ulangan. Saya lagi butuh meningkatkan nilai saya.
Saya juga minta maaf buat 'Sasurissawinchester' karena kali ini saya mungkin mengecewakan anda dengan fic ini. Q.Q
Pada chapter 4, jika saya sudah sempat untuk menyelesaikannya, saya bakal langsung minta di BETA oleh yeoja cantik yang jadi sahabat seperjuangan saya melawan ketidakbenaran di dunia ini (emang HERO).
Last, minna, mohon dukungan dan reviewnya ya.
Juga mohon dukungan buat author cantik kita, Hitsukiro16 dan 'Sasurissawinchester.
Sankyuuuu! XD
