CANVAS

Title:

CANVAS

Author:

Elixir Edlar

Cast :

Jester Kim or Kim Jungmin

Park Jimin or Jamie Park

Kim Taehyung or Trevor Kim

Jeon Jungkook or Jecavio Jeon

Genre:

Drama, Family

Rate:

Teenager (T)

Length:

Oneshoot

Disclaimer:

All cast belong to God, their parents and Bighit. Ent. I do not own the characters.

This story is originally from my own mind.

Warning :

Boys Love, Typos, EYD-failed, Unbeta-ed, AU,O OC.

Read on Your Own Consent! Thank You~

.

This is a story about Jester Kim—anaknya Park Jimin.

PART III

.

.

Hari ini adalah hari dimana Jester Kim dikukuhkan menjadi seorang Bachelor of Arts dari almamaternya di Universitas Bologna, Italia. Setelah selesai melakukan seremonial wisuda, para mahasiswa beserta orang tuanya segera menuju ke gedung sebelah untuk merayakan pesta kelulusan yang acaranya tidak lain adalah makan-makan dan aneka hiburan yang telah dipersiapkan oleh panitia wisuda; yang tidak lain adalah mahasiswa junior fakultas seni di kampus tersebut.

Dalam acara pesta kelulusan yang semi-formal ini, pelataran gedung yang hampir seluas lapangan bola itu dihiasi dengan berbagai macam bunga warna-warni yang terjajar apik di setiap sudut ruangan tersebut. Di dalamnya terdapat ratusan meja identik berbentuk lingkaran yang berada dalam balutan satin berwarna putih gading yang disusun secara artistik sehingga terlihat begitu menawan; dilengkapi dengan empat sampai enam buah kursi—yang juga terselubung oleh kain satin dengan warna yang senada—yang mengelilinginya.

Acara pelepasan ini menjadi cukup menarik karena para dosen akan berkeliling dan ikut mengobrol dengan para orang tua di setiap meja yang tersedia untuk memberikan tanggapan, pujian, maupun kesannya terhadap mahasiswa yang bersangkutan.

Begitu juga dengan Jester Kim, yang tengah duduk bersama kedua orang tuanya; Kim Taehyung dan Kim Jimin di sisi kanan dan kirinya. Jester terlihat menjulur-julurkan lehernya ke segala arah, mencari-cari sosok yang ia harapkan kehadirannya sejak di auditorium pada saat ia melakukan prosesi wisuda. Siapa lagi kalau bukan profesor kesayangannya? Profesor Jecavio Jeon atau yang kini biasa disebutnya dengan Papa Jeon Jungkook.

Suasana di dalam gedung itu begitu ramai namun tetap terkendali karena para dosen terlibat langsung di antara mereka. Dapat dilihat bahwa para dosen tengah berseliweran ke sana kemari di sekitar meja-meja para wisudawan beserta orang tuanya untuk menyelamati dan memberikan pujian terhadap para mahasiswa yang pernah mereka ajar.

Dan di tengah suasana yang dipenuhi oleh dosen berlalu-lalang itu, tampak sesosok tinggi dengan rambut coklat terang klimis yang disisir rapi ke belakang beserta kacamata yang bertengger apik di antara hidungnya yang bangir; mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya ditambah dasi merah bergaris putih-hitam yang melintang diagonal. Itu Profesor Jecavio yang tengah berjalan menuju meja Jester Kim yang kursinya masih kosong dua buah; karena memang keluarganya hanya terdiri dari tiga orang.

"Bolehkah aku duduk di sini?" Profesor Jecavio meminta izin kepada tiga orang yang berada di meja tersebut seraya tersenyum tipis.

Jester tersenyum lebar sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sebagai tanda bahwa ia begitu senang dengan kedatangan Profesor yang paling dikaguminya itu.

"Tentu saja Profesor, silakan duduk," Taehyung mempersilakan Profesor Jecavio untuk duduk di salah satu di antara dua kursi kosong yang ada di meja mereka.

Sementara itu tubuh Jimin mendadak kaku begitu menangkap keseluruhan wajah profesor yang baru saja dipersilakan duduk oleh suaminya. Ia memilih untuk menunduk sambil memainkan ponselnya daripada ikut terlibat pembicaraan dengan salah satu dosen yang mengajar putranya tersebut.

"Terima kasih Mr. Kim," Profesor Jecavio menampilkan senyuman karismatiknya yang sayangnya harus terlewatkan oleh seorang Park—maksudnya Kim Jimin yang masih betah menunduk.

"Perkenalkan, aku Jecavio Jeon, dosen pembimbing sekaligus pengajar Jester Kim. Senang bertemu dengan anda Tuan dan Nyonya Kim," Profesor Jecavio memperkenalkan diri.

"Oh, Profesor Jeon? Jester sering bercerita tentang anda. Jester bilang padaku bahwa ia begitu mengidolakan dan mengagumi anda! Katanya, anda adalah sumber inspirasinya," Taehyung langsung bersemangat begitu mengetahui bahwa dosen yang duduk satu meja dengannya ini adalah dosen favorit anaknya.

"Ah, benarkah? Well, aku sangat senang mendengarnya. Jester pun merupakan mahasiswa favoritku di kampus. Dia adalah pemuda dengan bakat luar biasa dan darah seninya yang kental mengalir deras hingga ke seluruh pembuluh kapilernya sehingga membuatnya menjadi salah satu mahasiswa yang menonjol di angkatannya," Profesor Jecavio terang-terangan memuji Jester di hadapan Taehyung dan Jimin.

Membuat dua orang yang berstatus sebagai ayah dan ibu Jester tersebut merasa bangga dan bahagia mendengar pujian yang dihadiahkan kepada putra mereka oleh profesor Jecavio tersebut.

Sementara, Jester Kim, alias objek yang sedang dibicarakan hanya menatap ke arah orang yang sedang berbicara secara bergantian. Terkadang ia ikut tersenyum seraya tersipu malu jika pembicaraan mereka mengarah kepada 'pujian' yang dilontarkan kepadanya.

"Hahaha, Anda bisa saja. Aku juga heran, dari mana dia mendapatkan bakat seninya itu. Padahal, ayah dan ibunya adalah orang bisnis yang jauh sekali kaitannya dengan kesenian. Secara personal aku mengucapkan banyak terima kasih karena Anda telah membimbing dan menjaga anakku selama ini," nada ketulusan begitu kentara pada deretan kalimat demi kalimat yang Taehyung ucapkan kepada dosen putranya itu.

"Tidak masalah Tuan Kim, Jester kan juga anakku. Jadi, kurasa sudah seharusnya aku berperan sebagai seorang ayah yang baik terhadap putranya," seloroh Profesor Jecavio sambil melirik ke arah Jimin yang mendadak terbatuk-batuk tanpa sebab.

"Uhuk, uhuk, uhuk~" Jimin segera mengambil gelas minumannya dan meneguk isinya sampai habis. Kebiasaan tatkala ia mengalami situasi yang membuatnya gugup dan gelisah bukan main.

"Anda baik-baik saja, Nyonya Kim?" Profesor Jecavio menampilkan ekspresi khawatirnya kepada Jimin; yang tentunya adalah ekspresi dibuat-buat, hanya untuk melihat reaksi dari ibu Jester Kim tersebut.

"Um, aku baik," dan hanya itulah jawaban yang diucapkan oleh Jimin diiringi oleh senyuman satu detiknya yang segera menghilang begitu saja.

"Syukurlah kalau begitu. Well, maksudku—aku sudah menganggap Jester seperti putraku sendiri. Dan hubungan kami pun begitu akrab karena kami memiliki banyak kesamaan minat dan aliran dalam seni yang kami geluti," Profesor Jecavio menjelaskan lebih lanjut tentang hubungannya dengan Jester kepada Taehyung.

"Wow, Anda benar-benar dosen yang keren Profesor Jeon! Tidak heran anakku begitu mengidolakan Anda. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak karena telah menyayangi anak kami seperti anak sendiri. Kami berutang budi pada Anda, Profesor Jeon," ayahku menambahkan.

"Tidak perlu dipikirkan Tuan Kim, lagi pula putra Anda sangat baik dan sopan. Saya senang sekali bisa mengajar dan membimbing langsung mahasiswa yang begitu cerdas dan berbakat sepertinya," Profesor Jecavio masih saja memuji Jester, membuat yang dipuji semakin melayang ke awang-awang karena sedari tadi ia hanya mendengar kata-kata yang seolah mampu menumbuhkan sejuta bunga lavender di dalam hatinya.

"Ah, Anda terlalu memuji Jester, Profesor Jeon. Saya yakin ia bisa seperti ini tidak lain berkat arahan dan bimbingan dari Anda selaku ayah kedua bagi anakku. Dan aku sangat bersyukur karena Anda kelihatannya begitu menyayangi anakku," lagi-lagi Taehyung mengutarakan kalimat yang sejujurnya begitu sensitif baik untuk Jimin maupun Jungkook saat ini.

"Tentu saja, Mr. Kim. Bukankah sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk menyayangi putranya dengan limpahan kasih sayang? Dan well, putra anda telah menjadi mahasiswa kesayangan saya bahkan sejak pertama kali saya mengajar di kelasnya," Profesor Jecavio sengaja menekankan kata 'kesayangan' yang diucapkannya di dalam kalimatnya barusan.

"Aku sepakat dengan Anda, Profesor Jeon. Anda begitu perhatian pada anakku dan kurasa rasa terima kasihku pun tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan yang telah Anda lakukan kepada anakku," Taehyung tersenyum tulus untuk yang ke sekian kalinya.

"Anda tidak perlu sungkan, Tuan Kim," Profesor Jecavio balas tersenyum. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan sebagai ayah keduanya di kampus," tambahnya lagi.

"Sekali lagi, aku tidak bisa untuk tidak setuju dengan Anda, Profesor Jeon," Taehyung kembali tersenyum bangga.

.

.

Sebuah nada dering ponsel terdengar nyaring. Itu ponsel milik Taehyung.

Taehyung melirik nama peneleponnya sejenak,"Oh, ada apa Aboji tiba-tiba meneleponku."

Taehyung beranjak dari tempat duduknya dan memandang ketiga orang yang tengah duduk di kursinya masing-masing, "Maafkan aku semuanya, ada telepon penting yang harus kuangkat. Jadi, mohon izinkan aku undur diri."

"Tentu saja, Tuan Kim. Silakan menerima telepon Anda," Profesor Jecavio mempersilakan Taehyung untuk segera mengangkat teleponnya.

Setelah dipersilakan oleh Profesor Jecavio, Taehyung pun segera menyeret kaki jenjangnya menuju ke lokasi yang cukup lengang dan tenang untuk menerima teleponnya dengan nyaman.

Profesor Jecavio kemudian melirik ke arah Jimin yang masih saja menunduk dan menghindari kontak mata dengannya.

"Kalau begitu, aku juga pamit undur diri, Nyonya Kim dan Jester," Profesor Jecavio pun melenggang pergi dari meja Jester untuk berkeliling menuju meja-meja mantan mahasiswanya yang lain. Sehingga di meja itu hanya tersisa Jester beserta ibunya, Kim Jimin yang pada akhirnya berani mengangkat kepalanya setelah Profesor Jecavio pergi dari hadapan mereka.

"Huft, syukurlah, dia telah pergi..." Jimin mendesah pelan namun masih suaranya masih dapat ditangkap jelas oleh indera pendengaran putranya.

"Mommy bilang apa barusan?" Jester bertanya. Telinganya tidak mungkin salah dengar bukan?

"Um, tidak apa-apa hahaha. Mommy hanya kepanasan. Iya, kepanasan. Astaga ruangan ini panas sekali," seru Jimin sambil mengibas-ibaskan tangan ke wajahnya.

Jester memicing, 'Panas dari Hongkong, Mom? Yang lain saja tampak kedinginan kok. Hm, Mommy kepanasan pasti karena habis melihat Papa. Tidak salah lagi!' batin Jester.

.

.

.

"Sayang, maafkan aku karena aku harus segera kembali ke Seoul sore ini. Ada rapat direksi mendadak yang akan diselenggarakan besok. Aku sungguh menyesal karena tidak dapat menemanimu di sini dengan Jester lebih lama," Taehyung menggenggam sambil membelai tangan mungil Jimin dengan tangan besarnya yang begitu maskulin.

"Tapi kenapa mendadak sekali? Memangnya tidak bisa ditunda lagi? Tidak bisakah kau tinggal lebih lama lagi? Besok saja pulang ke Seoulnya, misalnya," Jimin mengajukan penawaran yang sayangnya harus ditolak oleh Taehyung.

"Aku juga masih ingin di sini, sejujurnya. Tapi, Aboji menyuruhku untuk pulang sore ini juga karena terdapat beberapa masalah pada divisi produksi di perusahaan yang harus segera diselesaikan secepatnya. Dan sebagai CEO-nya, tentunya aku harus berada di sana untuk mengetahui apa yang terjadi secara langsung," Taehyung menjelaskan, berharap agar istri manisnya itu mengerti.

Sebenarnya kalau tidak dijelaskan seperti itu pun Jimin pasti akan mengerti; hanya saja ini beda kasus. Ia benar-benar memiliki pengalaman traumatik ketika berada di Italia yang membuatnya tidak betah untuk tinggal lama di sana.

"Ya sudahlah, kalau begitu aku ikut pulang denganmu saja," benar kan? Jimin malah ingin ikut pulang dengan suaminya ke Seoul lima hari lebih cepat dari rencana awal yang mereka jadwalkan.

"Jangan Mom!" aku mencegah, "Kita kan sudah membeli paket wisata keliling Italia untuk tiga orang selama lima hari. Kalau Mommy ikut pulang dengan Daddy, lalu aku berwisata harus dengan siapa?" Jester menampilkan wajah seimut anak kucingnya yang sukses membuat Taehyung dan Jimin iba.

"Jester benar, sayang. Kau di sini saja dulu dan nikmatilah waktu luangmu. Anggap saja cuti untuk menyenangkan anak sendiri. Jarang-jarang kan kau liburan dengan Jester?" Taehyung mulai mengeluarkan seribu satu jurus rayuan mautnya pada Jimin. "Karena kita telah memesan paket wisata untuk tiga orang, bagaimana kalau kalian ajak saja Profesor Jecavio?"

"TIDAK!" Jimin menolak mentah-mentah, yang tentunya membuat raut wajah Taehyung berubah menjadi bingung.

"Memangnya kenapa, Mom?" Jester bertanya meskipun sesungguhnya ia telah mengetahui alasan ibunya menolak tawaran ini.

"Pokoknya aku tidak mau! Kalau mau liburan, kau pergi berdua saja dengan Profesormu itu. Mommy di hotel saja, takut diculik dan takut hilang. Kalu sampai Mommy hilang, nanti Daddy-mu bisa menangis darah tujuh hari tujuh malam, dan Mommy tidak mau hal itu terjadi."

Nah, Jimin mulai tidak masuk akal.

Kalau sudah begini, Taehyung dan Jester pun hanya menghela napas panjang dan menyerah. Ya, menyerah dan tidak mau lagi memaksakan Jimin untuk melakukan sesuatu yang telah ditolaknya mentah-mentah. Karena sebeerapa keras mereka memaksa, Jimin akan tetap pada pendiriannya. Kolot, sebut saja demikian.

.

.

.

Pukul setengah delapan malam, di salah satu restoran yang terdapat di sekitar Piazza Maggiore, di kota Bologna, telah duduk dengan manis dua orang lelaki yang saling mendiamkan diri satu sama lain. Mereka tidak sedang bertengkar, hanya saja atmosfer canggung terasa begitu pekat menyeruak hingga ke dalam alveolus paru keduanya.

Pada awalnya, si paras manis yang diketahui bernama Jimin itu hanya menuruti ajakan putra semata wayangnya untuk makan malam bersama seorang teman. Ia sama sekali tidak curiga karena seorang teman yang ada di pikirannya adalah sesama mahasiswa yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya.

Namun begitu ia masuk ke dalam restoran dan duduk manis di meja yang telah dipesan oleh Jester sebelumnya; tiba-tiba datang seseorang yang membuat jantungnya berdentam-dentam tidak karuan dan kepalanya mendadak pening begitu netranya menangkap sosok tersebut.

Tidak salah lagi, sosok itu adalah Profesor Jecavio Jeon atau Jeon Jungkook; yang dengan santainya segera mengambil tempat duduk yang berhadapan langsung dengan tempat duduk Jimin saat ini.

"Erm, aku diundang Jester untuk makan malam bersama," Jungkook buka suara lebih dulu.

Jimin masih bergeming, sesekali ia menelan ludahnya yang terasa begitu kering dengan susah payah.

"Y-ya, silakan duduk, Profesor Jeon," akhirnya Jimin bisa bersuara juga setelah beberapa detik waktu terlewati di antara keduanya.

"Panggil saja Jungkook, Jimin-ssi," kata Jungkook seraya menatap manik kelam Jimin dalam-dalam, membuat empunya gusar setengah mati karena dipandangi seperti itu.

"Mm, baiklah. Jungkook-ssi," ujar Jimin yang sebisa mungkin berusaha menghindari kontak mata dengan lelaki yang berstatus sebagai dosen Universitas Bologna tersebut.

"Bagaimana kabarmu selama ini, Jimin-ah?" Jungkook mulai berani memanggil nama Jimin tanpa embel-embel 'ssi'.

"Mm, baik. K-kau sendiri?" Jimin balik tanya, meskipun ia tetap tidak mau bersitatap dengan mantan 'kekasihnya' tersebut. Ya, kekasih sepuluh harinya di Italia tepatnya.

"Tak pernah lebih baik sejak kau meninggalkanku begitu saja, Jimin-ah," Jungkook mulai membuka borok lama yang sudah lama menghilang dan membawanya kembali ke permukaan.

Jimin diam saja. Ia tak tahu harus menanggapi atau berkata apa. Lagi pula itu sudah sangat lama dan sejujurnya Jimin tidak suka membicarakan masa lalunya yang telah lama ia kubur dalam-dalam.

Selama dua puluh dua tahun ini ia selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa pernikahannya dengan Taehyung yang tidak lain terjadi akibat perjodohan atas dasar bisnis adalah yang terbaik baginya.

Jimin tidak pernah mencintai Taehyung. Tidak pernah sekali pun dalam hidupnya. Ia sudah bersahabat dengan Taehyung sejak keduanya masih berada di dalam kandungan ibu mereka masing-masing. Dan rasa sayang Jimin terhadap Taehyung hanyalah sebatas rasa sayang seorang teman kepada sahabatnya sendiri; dan hal tersebut tidak pernah berubah hingga ia beranjak dewasa.

Namun lain Jimin, lain pula bagi Taehyung. Sejak kecil Taehyung memang menyukai Jimin dan perasaannya itu berkembang seiring berjalannya waktu menjadi sebuah perrasaan romantis yang disebut cinta. Dan dari rasa cinta itu pula muncullah ketertarikan secara seksual yang hanya ia rasakan terhadap seorang Park Jimin.

Beruntung bagi Taehyung karena ternyata keduanya telah dijodohkan sejak mereka berdua masih berstatus sebagai siswa taman kanak-kanak. Namun bagi Jimin? Semua itu tak ubahnya bagaikan sebuah sangkar emas yang mau tidak mau memaksanya untuk mengikuti segala perintah dan instruksi dari kedua orang tuanya; yang sejujurnya sangat menyiksanya dan membuatnya jauh sekali dari kriteria bahagia.

Jimin bahkan merasa dirinya dilahirkan sekadar untuk menjadi komoditi bisnis kedua orang tuanya saja. Selebihnya, ia adalah manusia yang tidak boleh memiliki keinginan dan kebebasannya sendiri. Sebuah boneka yang bisa dimainkan seenaknya oleh pemiliknya. Dan kedua orang tuanya adalah pemilik boneka tersebut apabila Jimin jadi bonekanya.

"Aku mencintaimu Jimin," entah terkena angin apa, Jungkook tiba-tiba mengatakan tiga kata keramatnya kepada Jimin.

Dada Jimin terasa semakin bergemuruh, aliran darahnya terasa lebih cepat, dan tubuhnya mulai memanas yang membuat wajahnya memerah seketika, "Aku telah menikah Jungkook," Jimin menjawab singkat.

"Aku tahu itu. Kim Taehyung adalah lelaki yang baik," Jungkook tersenyum lemah, jauh di lubuk hatinya ia ingin egois dan memaksa Jimin untuk mencintainya lagi seperti dulu. Namun ia sadar bahwa Jimin dan perasaannya telah berubah. Tidak sama lagi.

"Ya, dia sangat baik. Suami dan ayah yang sempurna untuk keluarga kecil kami," Jimin mulai mengerahkan segala kekuatannya untuk beradu argumen dengan lelaki yang pernah menjadi tour guide-nya tersebut.

"Tentu saja. Aku percaya itu. Aku sangat berterima kasih padanya karena telah menyayangi dan membesarkan anak kandungku dengan sangat baik," Jungkook menyeringai sekilas, menantikan reaksi Jimin yang akan ditampilkan padanya.

Kedua manik cemerlang Jimin mendadak membeliak, ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Apa maksud Jungkook dengan kata 'anak kandung' tadi?

Akhirnya, Jimin pun hanya bisa memberikan tatapan panik becampur gelisahnya pada Jungkook sebagai responsnya.

"Kau mengandung anakku Jimin, aku tahu itu," Jungkook mendesah pelan, "Dan kau tidak pernah mengabarkan padaku apa pun tentangnya. Kau menghilang begitu saja tanpa tinggalkan jejak sedikit pun. Kau pikir aku tak tersiksa karena sikapmu itu?"

"J-Jungkook, kau tak mengerti apa yang sedang kau bicarakan," Jimin menjawab lemah.

"Ya. Di matamu aku memang tak mengerti apa pun. Kau bahkan tak pernah tahu bahwa aku jauh-jauh berangkat dari Roma ke Seoul sekadar untuk mencari informasi tentangmu. Karena apa? Kau memutuskan semua benang yang telah terjalin di antara kita selama di sini," mata Jungkook menyiratkan kepiluan yang begitu mendalam ketika kata demi kata meluncur dari bibir tipisnya.

Jimin tetap bergeming di tempatnya. Menunduk dan tak kuasa bersuara. Tenggorokannya terasa terganjal sebongkah batu kapur, begitu kering dan kelu di seluruh selang pernapasannya.

"Dan apa yang kutemukan di Seoul? Ternyata kau telah menikah dengan orang lain, Jiminnie," Jungkook tertawa miris di akhir kalimatnya.

Jimin menghela napas panjang sebelum akhirnya vokal, "Aku tak pernah menyuruhmu untuk mencariku. Dan pertemuan kita dua puluh dua tahun yang lalu, tidak lebih dari sekadar sebuah kesalahan di masa muda, Jungkook-ah."

"Itu sama sekali bukan kesalahan! Semuanya telah tertulis dalam catatan takdir dan garis nasib kita berdua, Park Jimin. Oh, apakah sekarang harus kusebut dengan Kim Jimin?"

"Jungkook, dengarkan aku. Jalan hidup kita sudah jauh berbeda dan kau tahu sendiri bahwa aku adalah istri Kim Taehyung, ayah dari anakku, Jester Kim," Jimin berargumen.

"Haha," Jungkook tertawa mengejek, "Kau masih mau mengelak bahwa Jester adalah putra kandungku? Jimin, bisakah kau lihat kemiripan wajah kami berdua? Bisakah kau lihat kecintaannya terhadap seni lukis selama ini? Dan—satu lagi, nama Korea Jester adalah Jungmin," Jungkook memejamkan mata sejenak, menghirup udara untuk memenuhi parunya yang mulai terasa sesak.

"Kim Jungmin—atau seharusnya Jeon Jungmin; yang merupakan akronim dari Jungkook dan Jimin, nama couple kita. Aku bertaruh kau takkan melupakan hal ini selamanya, Jiminnie," Jungkook menatap netra Jimin lekat-lekat, "Aku adalah lelaki pertama yang bercinta denganmu. Kau menumbuhkan benih cintaku di rahimmu, bukan benih Taehyung. Kau melakukannya denganku sebelum Taehyung menikahimu, kalau kau lupa," Jungkook menyeringai.

"Tidak. Jester bukan putramu, Jester putra Taehyung. Masalah nama, itu hanya kebetulan!" Jimin masih bersikeras mempertahankan pendapatnya yang membuat Jungkook semakin jengah dibuatnya.

"Kau bercanda? Kau sendiri yang mengatakan bahwa aku adalah lelaki pertama yang memerawanimu. Lalu kau masih mau berkilah seperti itu? Bisa kau jelaskan padaku, Nyonya Kim?" Jungkook sengaja menyangatkan kata 'Nyonya Kim' yang entah mengapa ada sedikit rasa ngilu di hatinya ketika menyebutkannya.

Jimin lagi-lagi menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya tercekat dan ia serasa kehabisan napas saat ini juga. Atmosfer di sekitar mereka pun berubah menjadi dingin dan senyap.

Jimin menimbang-nimbang perkataan Jungkook barusan. Ia sedang berhelat dengan pikirannya yang hanya membuat kepalanya menjadi semakin pening.

Mengenai hal itu, tentu saja ia takkan pernah bisa melupakanya. Ya, semua memori romantisnya bersama Jungkook. Malam di kala keduanya bergumul panas di atas sebuah sofa yang digunakannya untuk berbaring menjadi sebuah living canvas dari seorang Jeon Jungkook. Di mana pada akhirnya Jungkook menembakkan seluruh cairan cintanya ke dalam rahimnya.

Dan Jimin juga takkan pernah bisa menghapus memori ketika ia pertama kali mendapati dirinya mengembangkan benih cinta yang didapatkannya dari seorang lelaki blasteran Italia yang bernama Jeon Jungkook.

.

Flashback

Jimin's memory

Tiga minggu setelah pernikahannya dengan Taehyung, Jimin terbangun di pagi buta dengan sensasi yang tidak menyenangkan pada perutnya. Ia merasa sangat mual seolah sebuah rollercoaster tengah berputar-putar dan mengaduk-aduk seisi lambungnya.

Jimin melingkupi mulutnya dengan tangan mungilnya begitu ia merasakan sesuatu bergerak naik ke atas kerongkongannya. Ia pun segera berlari menuju ke kamar mandi dan berjongkok di depan ceruk toilet untuk melegakan seluruh isi perutnya .

"Hoeeek...!" Jimin meremas-remas perutnya untuk mengurangi rasa mual. Kepalanya tertunduk lemas sementara mulutnya terus berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam lambungnya yang meminta untuk dibebaskan.

Dari ambang pintu kamar mandi, terlihat Taehyung dengan wajah cemasnya tergopoh-gopoh menghampiri Jimin yang masih sibuk dengan urusannya sendiri. Ia pun segera berjongkok dengan tumpuan kedua lututnya untuk mengurut tengkuk Jimin.

"Hooeeek! Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Jimin terbatuk-batuk setelah perutnya dirasa sudah benar-benar kosong.

Setelah dirasa tidak ada lagi yang bisa ia muntahkan, ia pun segera berdiri dan berjalan dibantu oleh Taehyung menuju wastafel untuk menyikat gigi dan mencuci mulutnya yang terasa asam itu dengan cairan pembersih mulut.

"Kau tidak apa-apa, Chim?" Taehyung menampakkan raut khawatirnya yang begitu kentara.

"Um, tidak apa-apa Tae, hanya mual-mual saja," jawab Jimin pelan.

"Mual-mual? Mulai kapan?" tanya Taehyung penasaran.

"Baru hari ini, Tae. Tidak usah khawatir," Jimin mengurut-urut pelipisnya yang masih terasa pening.

"Jimin, sebaiknya kita ke dokter untuk memeriksakan keluhanmu. Aku punya firasat kalau kau hamil, Chim," kedua biner Taehyung tampak berbinar.

"H-hamil?" hanya itu yang keluar dari mulut Jimin. Dielusnya perutnya yang masih rata sambil menggumamkan sesuatu, "Jeon Jungkook..." dengan suara lirihnya.

"Kau bilang apa sayang?" Taehyung menangkap ekspresi kosong yang terukir di wajah istrinya.

"Ah, tidak Tae. Mungkin kau benar, kita perlu ke dokter untuk memastikannya," Jimin segera mengalihkan topik pembicaraan untuk menghindari pertanyaan suaminya.

"Baiklah sayang. Aku sudah tidak sabar untuk menunggu kabar bahagia yang akan segera datang ke keluarga kecil kita," Taehyung memeluk pinggang Jimin dari belakang, mengelus-sayang perut rata Jimin dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya lalu mengecup pipinya dengan lembut.

Jimin tidak bodoh, ia mengerti benar apa yang terjadi pada dirinya; ia bahkan sudah memprediksikan ini sebelumnya. Dan ia yakin kalau saat ini, ia tengah menumbuhkan benih cinta dari seseorang yang ditemuinya di Italia, Jeon Jungkook.

Flashback end.

.

"Maaf, Profesor Jeon. Aku sungguh tidak mengerti ke mana arah pembicaraan kita kali ini. Bisakah kita tidak membicarakan hal ini lagi dan mulai menikmati makan malam saja?" Jimin mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk dapat mengakhiri pembicaraan nostalgia masa lalunya dengan lelaki di hadapannya tersebut.

"Katakan dulu bahwa Kim Jungmin adalah putra kandungku, please!" rahang Jungkook mengeras dan terlihat jelas bahwa ia sedang menahan napasnya yang tercekat di tenggorokan.

Jimin menghela napas dalam-dalam seraya memejamkan matanya sejenak sebelum membuka mulutnya kembali untuk bersuara. Namun urung karena Jester sudah berjalan ke arah meja mereka sambil tersenyum riang. Syukurlah Jester datang tepat waktu sehingga ia tidak perlu berargumen lagi dengan Jungkook.

"Maaf karena telah membuat kalian berdua menunggu lama. Temanku itu tidak mau berhenti mengoceh sih, jadinya aku harus tertahan di Fontana da Nettuno lebih lama," Jester mengerucutkan bibirnya dengan imut, kalau begini ia terlihat mirip dengan Jimin.

"Tidak masalah, Jester," Profesor Jecavio yang menjawab.

Setelahnya, kedua orang tuanya tampak hening. Jester punya firasat bahwa ada yang tidak beres di sini. Ia yakin ketika sepeninggalnya tadi, kedua orang tuanya pasti tengah beradu argumen yang menyebabkan atmosfer canggung menguar di sekitar mereka.

"Mommy? Kenapa melamun?" Sebuah lambaian tangan dari Jester menyadarkan Jimin kembali dari imajinya.

Sesungguhnya Jimin tidak sedang melamun, hanya saja melihat Jungkook dan Jungmin dari jarak sedekat ini benar-benar membuatnya ingin menangis saat itu juga.

Bagaimana tidak, mereka berdua bagaikan pinang dibelah dua. Hanya beda usia dan beberapa fitur yang tidak terlalu signifikan. Kalau dikalkulasi, mungkin kadar kemiripannya mencapai sembilan puluh delapan persen.

"Um, tidak kok. Mommy hanya sedang memikirkan Daddy Taehyung. Apakah Daddy sudah naik pesawat atau belum," Jimin berkilah, usahanya menutupi kegugupan di hadapan Jungkook dan putranya.

"Hm, tidak biasanya Mommy peduli pada Daddy. Biarkan saja Mom, Daddy kan sudah dewasa, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Lagi pula Daddy pulang menggunakan maskapai penerbangan privat kan? Jadi, tidak perlu menunggu antrean atau jadwal penerbangan. Mungkin saja Daddy tengah duduk dengan nyaman di dalam pesawat sekarang," Jester berceloteh panjang lebar, membuat Jungkook tersenyum menyaksikan tingkah putranya yang begitu lucu.

Mungkin karena efek dibesarkan oleh Taehyung; yang kata Jester, Daddy-nya itu adalah Daddy yang terlucu di dunia.

"Nah, karena aku sudah berada di antara kalian. Mari kita mulai makan! Jal mogeseumnida!" Jester menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan mulai mengambil perkakas table mannernya dari ujung yang paling luar.

Jimin dan Jungkook mengikuti Jester mengambil perkakas makannya dalam diam. Mereka berdua benar-benar canggung dan enggan untuk bertemu pandang antara satu dengan yang lain. Akhirnya ketiganya pun menikmati makanan mereka dengan khidmat dalam nuansa yang begitu tenang dan sunyi.

Hanya Jester saja yang berbicara sendiri dan mengomentari betapa lezatnya makanan yang tengah dinikmatinya saat ini. Terkadang ia akan menanyakan rasa masakannya kepada Jungkook atau Jimin secara bergantian yang hanya akan dibalas dengan jawaban ala kadarnya dan seulas senyuman.

"Selamat malam, maaf mengganggu acara makan malam Anda. Saya Marco Martino selaku manajer restoran ini, sekadar menginformasikan bahwa meja nomor tujuh belas ini bebas biaya karena kebetulan malam ini putri bos kami tengah berulang tahun yang ketujuh belas," seorang dalam balutan jas cream berambut keriting warna coklat dengan hidung lancip itu menjelaskan.

"Yay! Jadi, kami bisa pesan makanan sepuasnya, begitu?" dengan penuh antusias Jester bertanya, sementara mulutnya masih penuh makanan. Membuat pipinya menggembung seperti Chipmunk.

"Mm, menyesal mengatakan tidak, Young man. Maksud kami adalah makanan yang telah dipesan sebelum saya menginformasikan berita ini kepada Anda," Martino tersenyum ramah, senyum bisnis.

"Oh, begitu ya?" Jester tampak kecewa namun ia tetap mengangguk paham dan tersenyum kecut. Sekadar basa basi bisu saja agar dianggap sopan.

"Mm, nice little family, by the way~ Dan biar kutebak bahwa..," menatap ke arah Jungkook dan Jester, "..wow, kalian berdua benar-benar mirip, bahkan terlihat kembar! Kurasa putra anda mengambil hampir keseluruhan gen sang ayah daripada ibunya," Martino melihat ke arah Jimin yang tengah memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Jimin bersumpah bahwa ia menangkap seulas seringaian kemenangan yang terpatri di wajah tampan lelaki yang lebih muda dua tahun darinya tersebut. Seolah-olah wajahnya tengah berkata, "See, bahkan orang lain pun tidak mampu menutup mata mereka untuk tidak melihat kemiripan antara aku dengan Jester. Mau mengelak apa lagi, Jiminnie?"

"Tentu saja kami mirip, dia kan putraku," Jungkook berujar santai tanpa melepaskan pandangannya dari kedua manik bening Jimin yang tampak begitu gelisah.

"Papa.. Jungkook," Jester menghentikan kunyahan makannya. Sedikit terkejut juga dengan kata-kata yang barusan dikatakan oleh Profesor Jecavio yang terang-terangan menyebutnya 'putra' di hadapan orang asing. Diliriknya Jimin yang kini tengah memberikan tatapan setajam bayonet kepadanya.

"Jester!" tiba-tiba Jimin membentak Jester, tatapan matanya nyalang.

Merasa bahwa atmosfer keluarga kecil itu tak lagi kondusif, akhirnya manajer restoran itu segera pamit undur diri.

"Well, kurasa itu saja yang dapat kusampaikan. Silakan dilanjutkan acara makan malamnya dan maaf telah menganggu waktu berkualitas kalian," Martino tersenyum dan segera menyeret kakinya untuk pergi dari meja nomor tujuh belas itu. Tidak mau mengganggu urusan pelanggan restorannya, katanya.

"Jester, di mana sopan santunmu!? Tidak seharusnya kau memanggil profesormu dengan sebutan seperti itu," Jimin mengomel. Sejujurnya ia tidak berniat untuk memarahi putranya, hanya saja ia terlalu bingung dengan situasi yang tengah dihadapinya sekarang.

"Jimin-ssi, seharusnya anda tidak perlu marah seperti itu. Hubungan kami berdua memang sangat dekat selaiknya seorang ayah dengan putranya. Dan seantero kampus pun menjuluki kami demikian karena kemiripan wajah dan kedekatan kami yang di mata mereka tampak seperti ayah dan anak sungguhan," Jungkook bermain peran. Ia ingin menyelamatkan Jester dari situasi yang belum dipahami oleh putranya itu.

Jimin bergeming, nada bicara Jungkook memang lembut namun begitu tajam dan menghujam tepat ke jantungnya. Membuatnya tak mampu berkutik lagi dan mendadak diam seribu bahasa.

"Dan—Jester memang kusuruh untuk memanggilku dengan sebutan Papa daripada Profesor agar lebih akrab," tambah Jungkook seraya tersenyum tipis.

Jester hanya memperhatikan gerak-gerik kedua orang tuanya dengan saksama. Ia yakin bahwa ibunya tengah menyembunyikan sesuatu yang tidak ia ketahui. Ini pasti ada hubungannya dengan Profesornya itu. Tidak salah lagi.

Secara tak dinyana, Jimin mendadak beranjak dari tempat duduknya, "Ehm, maaf Profesor Jeon, tiba-tiba aku merasa tidak enak badan. Jester, kau habiskan saja dulu makananmu. Mommy mau pulang ke hotel duluan. Kalau begitu, aku permisi dulu, Profesor Jeon," setelah menyelesaikan kalimatnya, Jimin segera melenggang keluar restoran dengan langkah tergesa. Bahkan ia terlihat setengah berlari begitu mencapai pintu utama restoran tersebut.

Jester yang masih dilanda rasa penasaran sekaligus bingung pun hanya menatap punggung ibunya yang segera menghilang dari balik pintu restoran. Ini saatnya bertanya kepada papanya untuk meminta penjelasan, pikirnya.

"Papa, apa terjadi sesuatu antara Papa dengan Mommy yang tidak kuketahui?" Jester melemparkan tatapan ingin tahunya kepada Jungkook.

"Mommy-mu masih tetap tidak mau mengakui bahwa aku adalah ayah kandungmu, Jungmin-ah," Jungkook menyebutkan nama asli putranya, rasanya jauh lebih nyaman menyebutkan nama Koreanya dibandingkan dengan nama internasionalnya.

"Umm..." hanya itu respons Jester; karena sejujurnya ia bingung mau menanggapi apa.

"Dia bahkan tetap mengelak dan terus mengatakan bahwa kau adalah putra Kim Taehyung. Padahal sudah jelas bahwa kita memiliki kemiripan wajah hampir sembilan puluh delapan persen dan darah senimu itu adalah warisan yang diturunkan olehku," Jungkook mengesah.

Kalau tidak salah lihat, Jester seolah mendapati kedua manik papanya mulai berkaca-kaca.

Jester menyeret kursinya mendekat kepada Jungkook, "Sudahlah Pa, yang penting kan Jester menerima Papa sebagai ayah kandung Jester. Ini hanya masalah waktu. Aku yakin suatu hari nanti Mommy pasti akan mengakuinya. Kalau Mommy tetap tidak mau mengakuimu sebagai ayah kandungku. Erm, bagaimana kalau kita tes DNA saja agar Mommy tidak bisa mengelak lagi?" Jester merangkulkan lengan kanannya ke bahu kanan Jungkook sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menepuk-nepuk pundak kiri Jungkook.

Sungguh putra yang pengertian. Dan sifatnya yang seperti ini sepertinya diturunkan dari Jimin.

"Tidak semudah itu Jungminnie," Jungkook menunduk, "Ada satu masalah besar apabila rahasia ini sampai terungkap," mengusak wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Maksud Papa?" Jester penasaran.

"Ini soal Daddy-mu, Kim Taehyung. Masalahnya, apakah ia tahu soal ini? Kalau ia tidak tahu, bagaimana reaksinya kelak jika mengetahui hal ini?" Jungkook mengangkat wajahnya untuk menatap Jester yang masih memperhatikan setiap kata-kata yang terucap dari mulutnya.

"Aku takut kau jadi korbannya, Jungminnie. Sejujurnya, aku hanya butuh pengakuan yang keluar langsung dari mulut ibumu. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu keluarga kalian lagi. Aku hanya ingin ia mengakui bahwa kau adalah putra kandungku, Jungmin-ah," bulir bening di pelupuk mata Jungkook mulai pecah, dan ia pun menangis dalam diam.

"Papa Jungkook jangan menangis. Kalau Papa menangis, aku akan ikut menangis hiks. Untung saja makanannya gratis, kalau ada orang bertanya mengapa kita menangis; jawab saja kalau kita terharu karena baru pertama kali dapat makanan gratis hiks," Jester mulai tersedu-sedu meskipun tak ada air mata yang keluar dari manik bulatnya.

Lucunya, di saat yang penuh haru biru seperti itu, Jester masih saja sempat berkelakar dan sukses membuat Jungkook tersenyum lalu mengusak rambut coklat gelap putra semata wayangnya itu.

"Astaga, kau lucu sekali Jungminnie. Papa sangat menyayangimu," Jungkook mengecup pucuk kepala Jester dengan sayang.

"Aku juga sayang sekali sama Papa Jungkook," Jester memeluk papanya dengan erat, menyesapi aroma maskulin yang menguar dari tubuh papanya yang begitu menenangkan.

Aroma yang sama sekali berbeda dari Daddy Taehyung kesayangannya.

Entah kenapa Jester merasa memiliki ikatan batin yang begitu kuat dengan Jungkook meskipun pada kenyataannya mereka terpisah selama hampir delapan belas tahun lamanya. Bahkan sejak Jester pertama kali menghirup udara di dunia ketika ia dilahirkan oleh Park Jimin, mommy-nya.

"Mungkin kau bukanlah istriku, tapi kau adalah ibu dari putraku kandungku Jiminnie."

Jeon Jungkook

END

.

.

Rabu, 21 September 2016

12:33 AM

NON-EDIT

.

REVIEW~

.

.

NOTE:

Idk why, meskipun fiksiku yang ini less-responses, less-reviews, and less-everything.

Entah kenapa aku pribadi suka sama fiksiku yang ini.

HOHOHO

.

Kookmin shipper mana suaranya?

Absen ya di kotak review, thank you.

.

.

Special thanks to:

Jimingotyesjam

Esazame, Kang Ha Neul, Jungie Nuna, Gummysmiled, zelochest, Jintsuhwan94, dhani park,