"Wedding Dress"

Chapter 03

Naruto owned by Masashi Kishimoto

SasuSaku

AU

Kebahagiaanmu, atau kebahagiaan cintamu.

xoxoxoxox

"Sakura, aku serius, yang mana yang harus aku pakai?" Ino bertanya seraya mengangkat dua anting-anting berbeda di tangan kanan dan kirinya. Satu anting berbentuk bunga dengan mahkotanya yang berwarna putih tulang dengan kilap sederhana, sedang anting yang satunya adalah lingkaran berlian yang mengelilingi inti safir berwarna biru yang bergradasi marun.

"Aku sudah menjawab ini untuk kedelapan kalinya, Ino. Aku pikir yang berbentuk bunga lebih cocok dengan gaunmu," Sakura menjawab sambil tetap fokus merapikan ujung-ujung gaun yang Ino pakai.

Hari itu hari pernikahan Ino. Semua sudah diatur dengan rapi. Sebuah pernikahan di gedung terbesar di kota. Warna putih tulang dan merah marun mendominasi ruangan besar itu. Altar yang dihiasi carnation dan tiang-tiang besar a la era Yunani kuno terletak di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi bagi para tamu. Akar-akar tanaman rambat yang manis mengelilingi tiang-tiang besar tadi, memberi kesan 'kerajaan di atas langit' yang Ino inginkan.

Gaun Ino sendiri termasuk mewah. Satu dari banyak desain Sakura yang memiliki tingkat kerumitan tinggi dalam pembuatannya. Gaun itu berwarna putih tulang dan merah marun, senada dengan dekorasi yang Ino pesan. Rangkaian payet dan sulaman merah marun yang menyerupai akar dari bunga carnation terukir pada bagian torso-nya, di atas bahan tule yang tembus warna, menutupi bagian-bagian yang diperlukan. Bahan tule pada bagian torso gaun itu panjang membungkus tangan Ino. Sedangkan untuk roknya, tule pada bagian torso bersambungan dengan tule di atas satin yang menjadi bagian bawah gaun spesial itu. Gradasi putih tulang yang berbunglon dengan merah marun cukup untuk membuat image angkuhnya Dewi Isis sekaligus anggunnya Aphrodite pada Ino.

"Benarkah? Maksudku, hari ini aku ratunya, Sakura. Kau mengerti? Aku dewinya di sini! Tidak akan ada ratu atau dewi yang memakai anting bunga yang sesederhana ini 'kan?"

Sakura menghela nafas ketika ia bangkit dan menatap pantulan sahabatnya di cermin, "Baiklah, Ino. Anting yang berlian tampak sempurna untukmu hari ini."

Ino memberi tatapan 'akhirnya!' dan memakai anting-anting berlian tadi di kedua telinganya.

Sakura hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Hari ini, sahabatnya itu akan menikah. Nama Yamanaka akan digantikan dengan Akio. Satu lagi sahabatnya berjalan dengan impian di tangan. Satu lagi sahabatnya yang ia jadikan 'media' penyalur impiannya.

Tidak, masih belum, pikir Sakura. Ia masih belum menyelesaikan impiannya. Masih ada sahabatnya yang harus menjalankan pernikahan. Masih ada Sasuke...

Langkah Sakura membawanya berjalan ke arah jendela. Ruangan yang dipakai untuk tempat menunggu pengantin wanita ada di lantai dua gedung. Beberapa jendela besar memperlihatkan pemandangan yang mulai ramai di tengah-tengah ruangan raksasa di bawahnya. Sakura mengenali banyak wajah-wajah. Naruto, yang merangkul Hinata yang perutnya semakin membesar. Neji yang duduk terdiam dengan Keichiro, anak pertamanya dengan Tenten, di pangkuannya. Rock Lee yang..., yah, sebenarnya Sakura tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang ia lakukan; seperti gabungan antara berdansa solo dan melancarkan gerakan beladiri. Dan wajah-wajah lainnya. Semua orang yang ia kenal, datang dan tersenyum.

Dan nafas Sakura kembali sesak saat melihat satu wajah familiar lainnya.

Sasuke...

Sasuke berdiri di samping stand minuman, sepertinya meminta sesuatu pada pelayan. Dan benar saja, beberapa menit kemudian pelayan itu memberikan dua gelas champagne pada Sasuke. Dua gelas, pikir Sakura, ah iya Matsuri...

Tanpa disadari, tatapan Sakura mengikuti ke mana Sasuke berjalan. Ia berjalan melewati Naruto dan Hinata, ke arah sudut Utara gedung. Mungkin Matsuri menunggu di sana.

"Sakura?" Ino bertanya dari belakang tubuh gadis berambut merah jambu itu.

"Ya?"

Ino hanya menatapnya seakan mengasihani akan sesuatu.

"Apa, Ino?" Sakura bertanya lagi.

Ino tersenyum dan menghela nafas seraya mengucapkan, "Terima kasih..."

Tersenyum, Sakura menjawab, "Sama-sama, Ino."

Kedua sahabat itu berpelukan.

"Keluarlah, kau butuh angin segar," Ino berujar, "Lagipula aku butuh waktu sendiri dulu."

Sakura mengangguk dan berjalan keluar ruangan. Sebelum ia keluar, tepat di ambang pintu, ia memanggil sahabatnya, "Hei Ino?"

Yang dipanggil menoleh.

"Jangan merusak gaunmu dengan melompat kegirangan, ya?"

"Apa? Kau! Keluar, Dahi Besar!" Ino tertawa setelah berkata seperti itu.

Dan Sakura berada di luar ruangan.

Lorong yang terkesan hangat itu entah kenapa terasa dingin bagi Sakura. Tawa dan senyum yang beberapa detik lalu ada di mukanya berubah menjadi ekspresi murung. Ia tidak tahu ke mana ia berjalan, sampai saat ia sadar, kakinya sudah menuntunnya ke arah tangga. Dengan rasa sesak yang luar biasa pada dadanya, Sakura terduduk pada anak tangga teratas.

Saat itulah matanya terasa panas.

"Tidak...," Sakura menggeleng dan mendongak menghadap langit-langit, "Kau akan menghancurkan eyeliner-mu, Sakura..."

Gadis itu hanya berkata pada dirinya sendiri. Berusaha agar air matanya tidak jatuh dan menghancurkan make up pada wajahnya. Tapi percuma. Hanya butuh beberapa detik sampai air mata jatuh bulir demi bulir di pipinya.

Untung saja eyeliner yang ia pakai water-proof.

Kali ini ia tidak menahan lagi. Sakura hanya duduk di situ, membiarkan wajahnya dibasahi air mata. Isaknya beranjak dari sekadar bisikan menjadi helaan-helaan nafas. Dadanya sesak sehingga ia harus menekannya dengan dua tangan. Hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa menit dua tangan Sakura akhirnya berpindah menutupi wajahnya, tenggelam membungkuk, menempel pada lutut.

"Berhenti, Sakura...," ujarnya pada diri sendiri, "Berhenti..."

Tapi setiap ia mengucapkan keinginannya untuk menghentikan air mata itu, semakin tangisnya meledak. Sampai akhirnya pitch suaranya perlahan menurun. Tangisnya reda dengan sendirinya, walaupun beberapa bulir masih berhasil menuruni pipi Sakura yang memerah karena menahan ledak tangis yang besar.

Pandangannya mengitari tembok-tembok kosong di sekelilingnya. Sesekali ia menggelengkan kepala dan memejamkan mata. Ia ingin menghabisi tangisnya. Di situ, saat itu.

Sampai akhirnya ia datang.

"Sakura?"

Gadis Haruno mendongak.

Sasuke.

"Sasuke?" tangan Sakura refleks mengusap jejak-jejak air mata pada wajahnya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu," Sasuke berjalan mendekat, dengan dua gelas champagne di kedua tangannya, "Ada apa?"

Sakura menggeleng, "...lelah. Aku rasa..."

Sasuke menatap Sakura. Berlanjut dengan sosok Uchiha itu duduk di samping gadis Haruno.

"Aku membawakanmu champagne," Sasuke menyerahkan satu gelas pada Sakura.

Sedikit kaget, Sakura menerimanya dan menggumamkan terima kasih.

Sasuke masih menatapnya.

"Apa?" Sakura menghindari tatapan onyx itu.

"Dengan tangisan seperti itu, kau pasti sangat lelah," Sasuke akhirnya mengalihkan pandangannya dari Sakura.

Sakura tertawa kecil, "Kau tidak tahu rasanya..."

Sasuke tersenyum. Senyum yang sangat kecil, sulit disadari.

"Cheers untuk Ino dan Sai?" Sasuke mengangkat gelasnya.

Sakura kembali merasakan panas pada matanya, "Aku... Tidak minum minuman beralkohol... Maksudku, untuk saat ini..."

Sasuke mengerutkan dahi, "Baiklah...," ia meminum champagne-nya sendiri.

Sakura menatap Sasuke yang sedang menegak champagne keemasan itu.

Andai saja ia tahu...

tiga bulan sebelumnya...

"Jadi kau sudah bertemu dengannya?" Sasuke bertanya.

"Ya... Kemarin dia datang ke sini," Sakura menjawab pertanyaan itu dengan tenang sambil menjahit payet-payet marun pada sebuah gaun, "Tadinya ia akan mencoba gaun yang ada di pojok situ."

Sasuke melihat gaun yang Sakura maksud. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati gaun itu. "Lalu?"

Sakura mendongak dan membenarkan posisi kacamatanya. Ia menjawab masih tanpa menatap Sasuke, "Ia bilang ia harus pergi karena harus menemui orang tuamu."

"Oh...," Sasuke memiringkan kepalanya ke samping, seakan menilai sesuatu dari gaun yang ada di hadapannya, "Sepertinya aku pernah melihat gaun ini di suatu tempat..."

Saat itu Sakura segera berbalik ke arah Sasuke, memberikan tanggapan yang terkesan terlalu cepat, "Oh mungkin kau melihatnya di TV."

"TV?"

"Iya. Aku... Mendapat inspirasi dari peragaan busana pengantin di TV," Sakura meyakinkan Sasuke.

Sasuke hanya menarik satu ujung bibirnya. Ia berjalan kembali ke arah sofa besar di bengkel kerja Sakura dan duduk. Tatapannya bertemu dengan mata Sakura, di balik kacamatanya.

"Aku tidak pernah nonton peragaan busana pengantin, Sakura. Kau pasti mengerti itu," Sasuke berujar.

Gadis Haruno terdiam sesaat, mencari jawaban lain.

"Mungkin kau teringat pada gaun lain. Semua gaun terlihat mirip 'kan?"

Tidak ingin berargumen lagi, Sasuke hanya mengangguk, "Ya... Mungkin..."

Keduanya hanya terdiam setelah itu. Jam menunjukkan pukul lima sore. Hari itu Sakura seharian berada di bengkel kerjanya. Ia mengingat janji dengan Matsuri yang akan mencoba gaun. Saat Sasuke datang dengan mobilnya, Sakura mengira Matsuri juga datang. Tapi tidak, Sasuke datang sendirian. 'Ingin melihat keadaanmu setelah sembuh', itulah alasan Sasuke saat Sakura menanyakan maksud kedatangannya. Sasuke tidak membicarakan Matsuri, sampai Sakura menanyakan keberadaan gadis itu.

"Apa Matsuri tidak jadi datang?" Sakura kembali menanyakan tunangan Sasuke.

"Entahlah," Sasuke menggulung lengan kemejanya, "Ia tidak memberitahukan apapun padaku."

"Aku kira kau yang menyuruhnya ke sini..?"

"Ya, aku memang bercerita tentangmu, tapi aku tidak pernah menyuruhnya ke sini. Lagipula kemarin, saat dia bertemu orang tuaku, dia juga tidak bilang dia dari mana."

Sakura mengangguk, "Oh..."

Hari sudah senja, cahaya jingga keemasan mulai masuk ke jendela-jendela di bengkel kerja Sakura. Gadis dengan rambut merah muda itu akhirnya selesai dengan gaun sahabatnya, Ino. Ia tersenyum saat rangkaian payet terakhir menempel manis di ujung bagian torso gaun itu. Setelah helaan nafas lega, Sakura membuka dan meletakkan kacamatanya di meja kopi.

"Jadi...," Sakura melihat ke arah Sasuke yang hanya duduk dan memperhatikannya, "Kau akan tinggal atau bagaimana?"

Sasuke menaikkan satu alis, "Apa kau mengusirku?"

Sakura segera tertawa pelan, "Tidak... Aku hanya bertanya, apa yang akan kau lakukan setelah ini. Maksudku, kalau kau hanya ingin tahu keadaanku, kau sudah melihatnya. Aku baik-baik saja. Dan, hei- terima kasih waktu itu kau sudah menolongku..."

"Kau mau minum sake?"

Dengan tanggapan itu, giliran Sakura yang menatap Sasuke dengan dua alis terangkat.

"Aku tidak ada kegiatan setelah ini. Dan ini harusnya menjadi liburanku. Apa kedai sake di bukit dekat jalan bebas hambatan itu masih ada?" Sasuke tidak mempedulikan tatapan heran Sakura.

Tapi Sakura membutuhkannya. Sake. Ia harus bersikap santai sesekali 'kan? Itu yang semua orang bilang. Dan sekarang bertepatan dengan selesainya ia menyiapkan gaun Ino, tidak ada hambatan pada pihaknya.

"Ya... Kedai itu masih ada...," Sakura mengangguk memberi jawaban.

"Jadi..., kau ikut?" Sasuke bangkit kembali dari duduknya.

Tanpa berpikir lagi Sakura menjawab, "Tunggu, aku akan ambil jaketku."

xoxoxoxox

Sudah tiga botol sake. Sudah lebih dari cukup untuk membuat Sakura mabuk.

Gadis Haruno itu sekarang berada di kedai sake di sebuah kaki bukit, bersama Sasuke. Kedai itu cukup terkenal. Malam itu pun pengunjungnya banyak. Suasana ramai begitu terasa di dalam kedai itu. Ada perayaan, tawa, dan histerikal lain yang beralasan masing-masing. Sakura sendiri sudah memerahkan wajahnya dengan hangatnya sake, tertawa-tawa setengah sadar.

"Kau ingat saat kau dan Naruto tidak sengaja berciuman waktu kelas 7...? Ya Tuhan, kau harus lihat ekspresi semua orang yang melihatnya! Hahahahaha...," Sakura berujar sambil berusaha tetap duduk tegak.

Sasuke, di sisi yang lain, hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia hanya minum sedikit. Ia tidak begitu suka sake. Menurutnya, vodka atau champagne lebih pas di indra perasanya dibandingkan sake yang terbilang keras. Ia hanya butuh sedikit sake untuk membuatnya hangat. Siang yang terik membuat perbandingan yang terbalik pada malam hari. Udara begitu dingin saat itu.

"Sakura, hei, Sakura," Sasuke berusaha mendapatkan perhatian gadis setengah mabuk di hadapannya, "Aku harus mengantarkanmu pulang. Ayo."

Sakura menatap Sasuke yang sudah bangkit dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak begitu mabuk, memang.

"Ya. Ya ya ya kau benar, aku harus pulang. Astaga...," Sakura memegangi kepalanya yang terasa berputar ketika ia berdiri.

Sasuke memberikan uang untuk membayar sake yang diminumnya dan Sakura pada pelayan. Pemuda dengan kemeja biru gelap itu membantu gadis Haruno berjalan ke mobilnya.

Setelah membantu Sakura duduk di kursi samping pengemudi, Sasuke segera masuk ke mobil dan mengemudi ke arah rumah Sakura. Dan di situlah bagian terbaik dari seseorang yang mabuk dimulai; kejujuran yang tidak terkontrol.

"Hei, Sasuke," Sakura berujar sambil menatap keluar jendela mobil, "Apa yang membuatmu kembali?"

Sasuke hanya menoleh sebentar dan tidak memberikan tanggapan. Ia tahu Sakura sedang mabuk. Apapun yang keluar dari mulutnya tidak akan diingat oleh gadis itu. Jadi buat apa ia susah-susah...-

"Aku tidak begitu mabuk, kau tahu...," Sakura berujar lagi, "Aku... Bertanya... Dan seharusnya kau menjawab."

Pandangan Sasuke masih menatap lurus ke jalan saat ia mulai menjawab, "Aku merasa Matsuri perlu tahu daerah asalku, dan siapa saja yang ada dalam hidupku."

"Oh...," Sakura terdiam sesaat, "Apa itu berarti kau ingin ia mengetahui aku?"

"Apa?"

"Kau bilang kau ingin Matsuri tahu orang yang ada di hidupmu... Apa itu berarti aku juga?"

"Ya, Sakura, itu berarti kau juga," Sasuke menjawab.

Tatapan gadis Haruno beralih ke arah pengemudi mobil yang sedang berjalan itu, "Aku tidak ingin mengetahuinya... Aku tidak mengharapkan kau datang tiba-tiba dengan membawa gadis asing yang lalu kau perkenalkan sebagai tunanganmu..."

Sasuke tetap memandang lurus ke jalanan.

Ia menghentikan mobilnya, di sebuah halte bis yang ada di belokan bukit yang luas. Malam yang cerah membuat pemandangan kota dengan lampu-lampunya terlihat jelas dari pinggiran bukit.

Sakura hanya terdiam di tempatnya duduk. Kepalanya disandarkan, tatapannya lurus.

"Matsuri itu...," Sasuke memulai bicara, "Ia gadis pilihan orang tuaku."

Tidak ada tanggapan dari Sakura. Sasuke memandangnya, gadis Haruno yang duduk di sampingnya. Ada sesuatu dari tatapan lurus Sakura saat itu. Tatapan itu seakan mengatakan isi dari enam tahun yang telah dilewatkan begitu saja oleh Sasuke. Tatapan tanya, amarah, sedih... Sampai tatapan itu kini beralih padanya.

"Aku mencintaimu...," Sakura berkata pelan, "Selama ini... Aku mencintaimu..."

Kali ini, tidak ada tanggapan dari Sasuke. Mata onyx pemuda itu hanya menatap mata Sakura yang mulai berkaca-kaca. Sakura tidak melakukan apa-apa, hanya menatap Sasuke lurus, dengan air mata yang mengalir tanpa ia sadari.

Dan saat itulah bibir mereka bertemu.

Sebuah kecupan yang hangat; entah karena sake atau karena air mata Sakura, atau mungkin memang kecupan itu meredam dingin. Bibir Sasuke menyentuh bibir Sakura. Pelan. Tidak butuh waktu lama hingga kecupan itu berlanjut intens. Keduanya merasakan gesekan halus yang baru di bibir masing-masing. Membiarkan hangatnya menyebar hingga membuat perasaan tenang di dada itu muncul.

Dan malam itu, gadis Haruno menjadi wanita.

-to be continue-

-"Wedding Dress" chapter 03 finished-

xoxoxoxox

Terima kasih untuk review-reviewnya yang sangat mendukung. Saya sangat menghargainya :) Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya.

Tertanda, Viviane S.