TRIANGLE

Chap 3

Musim ujian telah lewat. Hinata bisa bernapas lega sekarang dan kembali ke pekerjaan lamanya sebagai penyiar radio. Sambil menunggu hasil ujian keluar, Hinata kembali jadi penyiar radio. Setelah Hinata kembali siaran, telpon yang masuk langsung berdesak-desakan, ada yang cuma ingin sekedar menyapa Hinata sampai ada yang kangen berat dengannya. Hinata tak menyangka fansnya ternyata lebih ramai dari dugaannya.

Hubungan Hinata dan Naruto juga telah terjalin hampir enam bulan. Mereka cukup langgeng dan anteng dalam berhubungan, jarang bertengkar dan saling percaya. Sifat Naruto yang dewasa membuat Hinata merasa betah berada di dekatnya. Hinata teringat kata-kata Naruto pada saat mereka baru kenalan dulu, Naruto bilang pernah main ke sini. Hinatapun iseng menanyakannya dengan Sasuke.

"Sasuke-kun, kenal sama cowok yang namanya Naruto nggak? Dia bilang pernah main ke sini?", tanya Hinata.

"Oh... kenal.", jawab Sasuke membuat Hinata bersemangat ingin menanyakan berbagai hal mengenai Naruto. Siapa tahu Sasuke cukup kenal dengannya dan malah mungkin berteman. "Dia kan pacarnya Sakura, sering jemput Sakura pulang. Emang lo kenal dia dari mana?", lanjutan kalimat Sasuke membuat dada Hinata seperti baru saja diseruduk seribu ekor banteng dan diinjak seribu ekor gajah. Semua pertanyaan yang tadi menyesaki benaknya satu persatu menghilang sampai tak berbekas. Hinata berusaha menenangkan dirinya sendiri. Mungkin itu bukan Naruto yang dia maksud, ya, nama Naruto mungkin bukan cuma satu di Konoha. Hinata menanamkan keyakinan itu dalam hatinya yang kini mulai resah.

"Gue ke toilet dulu.", ucap Hinata lirih dan segera berlari tanpa menunggu jawaban dari Sasuke.

Keluar dari toilet Hinata menyaksikan pandangan yang tak dapat dipercayainya. Sesuatu yang sangat takut untuk diakuinya, membuat darahnya berdesir dan tubuhnya kaku seketika. Hinata melihat dua orang yang begitu dikenalnya sedang berjalan bersama dan bergandeng mesra. Sakura dan pacarnya, juga pacar Hinata, Naruto!

"Naruto-kun!", seru Hinata yang kemudian membuat Naruto menoleh dan terlonjak kaget mendapati bulir-bulir air mata menggantung di sudut-sudut mata Hinata.

"Hi, Hina-chan...", Naruto terbata. Salah tingkah. Kini dia berada di antara dua gadis yang sama-sama pacarnya. Naruto menunjukkan raut wajah panik bukan kepalang. Sakura yang ada di situpun terlihat panik mencoba menerka-nerka apa yang terjadi.

Hinata tak sanggup lagi mengatakan apa-apa. Satu-satunya bahasa yang mampu ia ungkapkan adalah air matanya yang tak henti mengalir dengan derasnya. Hinata menggigit kuat-kuat bibirnya menahan rasa sakit yang mencabik-cabik hatinya. Naruto telah mengisi penuh ruang-ruang hatinya selama hampir 6 bulan dan sekarang Hinata mendapati orang yang disayanginya bersama gadis yang tak lain rekan kerjanya.

PLAKK! Suara pendaratan pukulan telak memecah sunyi diantara tiga belia itu.

"Kita putus!", ucap Hinata dengan suara tercekat lalu pergi meninggalkan Naruto yang terdiam dan Sakura yang menatap adegan itu tak percaya. Hinata mengayuh sepeda sekuat tenaga melampiaskan kekesalannya. Kalau perlu sampai pengayuh sepeda itu jebolpun tak apa-apa. Sepanjang jalan Hinata menyeka air matanya yang tak mau berhenti. Otak Hinata tak dapat berpikir. Semua ruang diotaknya telah tersita oleh sebuah pertanyaan, kenapa Naruto bisa setega itu padanya? Dan pada Sakura. Ah, persetan dengan Sakura. Perempuan itu juga salah satu penyebab sakit hatinya malam ini.

Hinata menghabiskan sepanjang malam mengayuh sepeda kemanapun ia mau. Mengikuti deru angin malam yang menyesakkan dadanya dan mengundang kembali tangis. Malam ini, hati Hinata koma dalam keterpurukan yang amat sangat menyakitkan.

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian malam itu. Hinata tak pernah muncul lagi untuk siaran, hanya mengurung diri di kamar apartemennya yang sempit. Setidaknya Hinata merasa lebih tenang di sana. Seminggu berlalu, tapi bayangan Naruto dan semua kenangan mereka masih mengekor dalam ingatan Hinata, membuatnya hampir gila. Membanting hape tiap kali menerima sms dan telpon dari Naruto, tapi tak dapat mengenyahkan rasa kangennya kepada Naruto yang menyelimuti hatinya kini.

TOK... TOK... TOK...! Pintu apartemen Hinata diketuk. Hinata beranjak dari kasur merangkap bantal duduknya, menepikan asbak rokok yang penuh puntung rokok selama seminggu dan membuka pintu. Hinata mematung di depan pintu saat dia menemukan sosok yang sangat dirindukannya berdiri di hadapannya. Ingin rasanya Hinata menangis dan menghambur dalam pelukannya, namun sesaat kemudian Hinata kembali teringat kejadian malam itu dan rasa sakit hatinya kembali bangkit menguasai dirinya. Hinata segera menutup pintu kembali tanpa berkata apa-apa.

"Hinata! Hinata! Gue mau ngomong sama lo! Plis buka pintunya Hinata! Hinata!", teriak Naruto dari balik pintu. Hinata duduk tersandar di pintu, mendengarkan teriakan Naruto dengan hati pilu, namun tak berniat membukakan pintu untuknya.

"Hinata plis dengerin penjelasan gue.", pinta Naruto, tapi Hinata tetap tak bergeming, tak menggubris sama sekali yang dikatakan Naruto dan mulai menangis. Naruto dapat mendengar dengan jelas isak tangis Hinata yang menyayat hatinya.

"Hinata, maafin gue, gue tau gue salah. Tapi plis jangan tinggalin gue, gue nggak bisa tanpa lo, gue nggak sanggup Hina. Gue akuin awalnya gue nggak serius sama lo, tapi setelah semuanya yang gue lewatin bareng lo, gue nggak sanggup kalo harus ngelewatin itu tanpa lo lagi Hina. Plis Hinata, maafin gue.", papar Naruto yang tak berhasil meruntuhkan hati Hinata. Hinata hanya menangis mendengar semuanya, entah senang atau sedih. Hinata tak mampu mengartikan air matanya malam ini.

Hinata membuka pintu dan sekali lagi dia terlonjak, mendapati sosok Naruto sedang tertidur pulas di depan pintu apartemennya. Berarti Naruto tidak pulang ke rumah, menungguinya sampai pagi. Hati Hinata terenyuh melihat pengorbanan Naruto yang begitu besar untuknya. Tapi dia tetap tak bisa memaafkan kejadian malam itu. Terjadi pergolakan batin hebat dalam benak Hinata hingga tanpa disadarinya Naruto terbangun dan langsung memeluknya.

Hinata kaget setengah mati. Betapapun bencinya ia pada Naruto, Hinata tetap tak dapat menghilangkan debaran itu dari hatinya. Tangan Hinata reflek membalas pelukan Naruto dan air matanya mulai mengalir lagi. Naruto memeluk Hinata lebih erat dan Hinata membenamkan tangisnya di dada Naruto. Sekarang Hinata tak lagi peduli, pada Sakura atau siapapun. Hinata mengerti hanya dengan Naruto dia dapat merasakan kebahagiaan seperti dulu. Akhirnya Hinata memutuskan untuk kembali pada Naruto dan menutup mata dan telinganya. Berpura-pura buta dan tuli dengan suara-suara gaib dan pandangan sinis di sekitarnya.

Chap 3 end