Kau sering berkata.

Di pagi hari, di depan cermin di mana kau membohongi dirimu sendiri. Waktu di mana kau pikir sedang mengagumi keindahan wajahmu, walau sebenarnya sedang meratapi kehidupanmu.

Tanpa suara, kau berkata;

"Kalau ada masa dalam hidupku di mana aku merasa bahagia, itu mungkin saat aku masih berusia 10 tahun."

Dalam diam, kau mulai mengenang. Masa kala kau mampu bertindak bodoh semaumu, masa di saat semua orang di sekitarmu tak peduli akan betapa besarnya isi kepalamu.

"Ah, indahnya."

Aku juga berpikir sama.

Di masa itu, memiliki otak yang cerdas sama sekali bukanlah penghalang bagimu untuk berteman. Walau terkadang kau agak sebal karena keberadaan beberapa anak yang sering mencontek darimu, kau sama sekali tidak peduli.

Karena di atas segalanya, kau merasa bahagia.

Kau senang. Kau gembira.

Senyum yang kau perlihatkan di usia keemasan itu, adalah senyum terindah yang pernah aku lihat di wajahmu.

Oleh karena itu, aku mengembalikanmu ke sini.

Ke waktu ini, ke masa ini, ke jaman ini.

Ke dunia ini.


(ii) —


Vocaloid © Yamaha, Crypton.

Penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfiksi ini. Kecuali kesempatan melampiaskan kekesalan dan penyesalan dunia nyatanya. Jangan tanya yang mana.

Re: Childhood —
— 03:
Reform —


(ii) —


Aku cukup yakin kalau 10 tahun adalah umur di mana manusia sudah cukup dewasa untuk membedakan mana kenyataan dan mana delusi, selayaknya mereka memberi jarak antara kejahatan dan kebenaran, mana yang mesum dan mana yang tidak.

Walau terkadang aku terangsang oleh hal-hal biasa—seperti melihat adikku sendiri yang sedang memasak; misalnya, itu beda cerita.

Teman-teman sepermainanku adalah golongan mereka yang masih belum dapat meninggalkan dunia penuh fantasi dan kesenangan mereka sebagai anak-anak.

Bukan berarti itu hal yang buruk.

Dari sudut pandang pengangguran berusia 23 tahun yang ditinggal gadis yang (baru ia sadari) dicintainya menikahi pria yang bahkan tak memiliki gelar sarjana (entah kenapa aku benar-benar dendam di bagian itu), serta muak akan semua masalah yang mendatanginya di usia dewasa, bermain selagi bisa adalah hal yang memang sepantasnya dilakukan.

Kau tidak perlu repot mengenai biaya kehidupan sehari-hari, juga tak perlu peduli mie instan rasa apa yang akan kau makan hari ini.

Bahkan ketika aku bekerja sebagai kasir minimarket pun, di saat aku sibuk menawarkan pulsa dan mengingatkan pelanggan kalau kantong plastik sekarang sudah tidak gratis lagi, aku sering mengenangnya, masa di mana kami bisa meneriakkan jurus-jurus atau bermain Sersan Luar Angkasa tanpa rasa malu sedikit pun.

"Aku ulangi sekali lagi, Anggota Kehormatan #02 Len Palsu, di mana kau sembunyikan Anggot—aduh!"

Ah, sepertinya Nero akhirnya tidak sengaja menggigit lidahnya. Makanya kubilang hentikan menyebut nama aneh super panjang itu, 'kan? Kekagumanku mulai pudar, nih, Yang Mulia Nero yang Tampan lagi Gagah Berani.

"Di mana kau sembunyikan Len?!"

Uwah, ia menyerah.

Ngomong-ngomong, sekarang aku harus apa? Haruskah aku ikuti perkembangan cerita dan berpura-pura jadi Darth Father palsu, dan mengatakan sesuatu semacam:

"Benar, Yang Mulia Nero yang Tampan lagi Gagah Berani! Aku adalah Anggota Kehormatan #02 Len Palsu, dan kau sebenarnya adalah putraku! Sekarang ayo rayakan Perang Bintang akan dapat episode baru setelah satu dekade menunggu!"

Meski lucu dan mungkin akan menarik, aku tak mampu mengatakannya. Membran pembatas bernama rasa malu orang dewasa seolah menghalangi tenggorokan. Lagipula, aku ragu mereka bahkan tahu apa itu Perang Bintang.

"Kalian masih main itu?"

Yang kali ini muncul dari pintu di balik punggungku—sungguh, perkenalan dengan cara seperti ini entah kenapa terasa sangat basi—adalah anak berambut hijau yang mengenakan kacamata.

"Gumiya."

Dibanding yang lain, hanya namanya yang paling aku ingat.

Bukan karena ia rekan sesama manusia gagal, atau karena ia di masa depan akan jadi pria menyedihkan yang menyodomi anak SD karena putus asa akibat tidak punya pacar, tapi karena—

—ia adalah satu-satunya orang yang dapat aku panggil teman saat SMA.

Waktu Nero pergi, berubah menjadi anak gaul yang rajin main futsal bersama teman sekelas lain tiap sebulan sekali, hanya Gumiya satu-satunya yang tetap berada di sisiku, menemani menyelesaikan tugas sekolah yang bahkan belum disuruh.

Semasa SMA, di waktu di mana aku berada pada puncak kesendirian dengan jumlah teman minimum dan pacar di bawah minimum, dapat kubilang, hanya ia satu-satunya yang aku miliki.

Dia juga tak jauh beda, mengingat sama sepertiku, dia tipe kutu buku yang sulit bergaul karena dianggap kurang menyenangkan, dan hanya menyenangkan saat jam pelajaran tiba. Untuk dicontek, tentu saja.

Intinya, aku dan ia saling menjilat luka satu sama lain.

Apalagi dengan frekuensi pertemuanku dan Ayah yang hanya seminggu sekali. Tidak berlebihan bila kukatakan kalau Gumiya adalah orang yang paling dekat denganku di masa-masa remaja.

... Uh, entah kenapa, setelah memikirkan hal barusan, aku merasa sangat homo.

"Kita lagi main jadi apa, sih? Samurai? Pasukan Luar Angkasa? Ksatria Kerajaan?"

Gumiya bertanya dengan wajah tidak peduli.

Nero, selaku orang yang sepertinya sedang dapat peran sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di 'permainan' kami kali ini, menepuk dadanya dengan kepalan tangan dan berkata dengan penuh kebanggaan.

"Pasukan Ksatria Samurai Kerajaan di Luar Angkasa!"

"..."

Imajinasi anak SD memang mengagumkan.

"Kau tidak bisa menjadi Ksatria dan Samurai di saat yang sama, Nero."

Gumiya, di balik penampilan bocahnya, mengatakan sesuatu yang sangat dewasa. Ia bahkan tidak memanggil Nero dengan nama yang super panjang dan bodoh itu.

Ah, setelah aku ingat lagi, Gumiya memang begini orangnya.

Sejak kecil, dibandingkan denganku (apalagi Nero dan Gakupo), ia sudah memiliki sikap dewasa. Dia anak yang berpikir jauh ke depan, berbeda dengan Nero yang jalan pikirnya sependek titit Kaito—maksudku sependek sosis.

"Eh? Kenapa, Anggota Kehormatan #01—aduh."

Sudah cukup, Nero. Aku tidak kuat melihatmu. Airmatamu sudah keluar, tuh. Ayo hentikan permainan peran bodoh ini—setidaknya, hentikan melukai lidahmu sendiri. Membayangkan sariawan akan tumbuh di lidahmu membuat lidahku sendiri sakit.

"Kau tidak bisa menjadi Ksatria dan Samurai di saat yang bersamaan. Itu seperti memainkan shogi dan catur di papan yang sama."

Sungguh kalimat yang pintar, saudara Gumiya.

"Tapi, Gumiya," potong Gakupo. Ia memasang pose berpikir dengan satu mata tertutup. Mungkin dengan begitu ia merasa sedikit lebih tampan. "Kakakku bisa main shogi vs catur."

Bagaimana?!

"Kakakmu lain cerita."

... tunggu, tunggu! Aku jadi penasaran! Memang kakak Gakupo makhluk semacam apa, sih?!

"Yah," Gumiya menghela napas panjang. "Bermain seperti anak-anak begini mungkin ada nikmatnya juga. Karena pada dasarnya, hidup adalah menghabiskan waktu hingga kematian. Kau juga sependapat, 'kan, Anggota Kehormatan #02, Len?"

...

Uh, maaf, Gumiya. Itu agak... terlalu jauh ke depan.

Bel berbunyi.

Nero mengakhiri permainan kecil kami dengan berkata, "Oke! Pertemuan kali ini kita akhiri! Jam istirahat nanti jangan lupa berkumpul di markas, dan ingat! Pastikan tidak ada orang yang mengikutimu!"

Gakupo, tanpa sempat menjawab pertanyaan yang bahkan tak aku tanyakan, beserta Nero dan Gumiya, berjalan menuju bangku mereka masing-masing.

Sementara aku yang sengaja berjalan paling belakang dengan cermat mencari bangku yang masih kosong. Memulai proses eliminasi mungil dalam kepala guna mencari lokasi dudukku.

Dalam perjalanan (yang sebenarnya cuma beberapa langkah), aku sempat bertanya apa kata kunci yang dimaksud kepada Gumiya. Jawabannya lebih simpel dan lebih kekanak-kanakan dari yang kukira: friend forever.

Oke, aku akui kata itu cukup romantis—aku tekankan, dalam sudut pandang persahabatan—namun entah kenapa mendengarnya membuatku sedikit merasa geli.

Awalnya kukira karena kata friend yang harusnya friends, tapi kurasa bukan itu. Rasa geli ini kuyakini datang dari pengalaman hidupku sebelumnya, yang cuma bisa berpikir bahwa kata 'teman' itu cuma omong kosong untuk menyebut manusia yang berguna bagi kita.

"..."

... daripada itu, kursiku di mana?

"Len, ngapain, sih? Ayo duduk. Homeroom sudah mau dimulai."

Sebagai pria dewasa berusia 23 tahun, jujur, aku merasa tidak nyaman karena harus dikelilingi oleh anak-anak yang bahkan belum hidup setengah dari usiaku.

Tapi perasaan yang berkecamuk di hati ini terasa lebih aneh lagi, saat yang mengucapkan kalimat barusan adalah seorang gadis—kali ini, aku yakin, dia benar-benar masih gadis—yang sangat aku kenali.

Miku.

Hatsune Miku.

Jantungku berdegup kencang. Tanganku gemetar, membasahi telapaknya dengan keringat dingin. Isi kepalaku bagai memutih sesaat, seolah mengalami ejakulasi di tempat. Gawat. Semoga itu benar cuma 'seolah', dan bukan benar-benar terjadi. Entah apa yang harus kukatakan bila ada noda putih berbau amis di permukaan celanaku.

Walau aku tahu apa yang hendak kukatakan ini bodoh, tapi akan tetap kukatakan—saat aku menatap Miku, rasanya benar-benar seperti aku mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, untuk kedua kalinya.

"Ayo duduk."

Ia tersenyum manis.

Oh, dewi.

Rambut biru toskanya yang panjang masih terikat kuncir kembar seperti yang kuingat. Walau kali ini bukanlah pemandangan mencolok dengan tubuh dewasa berbalut pakaian kerja, namun tubuh anak-anak dengan, yah, pakaian anak-anak, aku tetap mendapati diriku terkesima memandangnya.

Aku yakin, ini perasaan yang berbeda dengan apa yang kurasakan kala mencoba mengintip bokong 'adik'-ku sendiri. Walau Len Junior berdiri sama kerasnya, harus aku yakini kalau perasaan ini benar-benar berbeda.

Kalau tak begitu, aku akan jatuh lagi ke lubang gelap di mana aku menganggap cinta pada pandangan pertama itu dusta, yang ada hanyalah sange pada pandangan pertama. Atau keinginan memerkosa pada pandangan pertama.

Aku berjalan pelan ke arah Miku, menahan diri untuk menculiknya.

Kurasakan senyum kecil terbentuk di bibirku selayaknya orang tolol, namun mau bagaimana lagi. Kau tahu yang mereka katakan—cinta adalah substansi yang membuat manusia jatuh dalam kebodohan.

Kupendarkan pandangan.

Dapat kupastikan kalau semua murid duduk dengan pola yang sama—duduk selang-seling, laki-laki dan perempuan, di dua meja yang disatukan. Lalu dengan kosongnya tas di kursi samping Miku, dapat aku pastikan.

Itu pasti kursiku, tidak salah lagi. Karenanya, aku, tanpa berpikir panjang, menaruh tasku di atas meja, dan duduk di sampingnya.

"..."

Untuk alasan tertentu, semua terdiam.

"Uh, Len?"

Ya, Sayang?

"Ini bangku Kaito. Bangkumu di sana, sebelah Galaco," Miku menunjuk ke meja di bagian belakang kelas yang baru diisi oleh satu anak perempuan. "Cepetan pergi, gih. Sebelum Kaito datang."

"..."

Aku mengaku, sebenarnya aku tahu kalau bangku ini bukanlah tempatku. Walau aku lupa di mana tempat aku duduk di kelas ini, aku tak akan mungkin bisa lupa kalau aku pernah duduk dengan Miku.

Olehnya, sedikit banyak, aku sudah bersiap akan fakta jika Miku duduk dengan anak laki-laki lain. Tapi kenyataan jika anak laki-laki sialan yang dimaksud adalah si tukang NTR? Di luar prediksi.

Atau lebih tepatnya, dapat kuprediksi, namun tak mau kuanggap bahkan sebagai sebuah kemungkinan.

Rasanya ingin kuabaikan peringatan Miku, dan menunggu pemilik kursi yang asli itu datang. Membiarkannya memukulku sekali agar dia yang dianggap memulai, dan kemudian kuhancurkan satu dari dua biji abadinya dengan lutut.

Mungkin dengan begitu, ia akan mandul, dan anak kecil super manis yang menjadi salah satu mimpi burukku tidak akan pernah dilahirkan.

Memikirkan rencana jahat, aku diam. Tersenyum sedikit, melambaikan tangan ke arah Miku, mengisyaratkan untuk tak perlu khawatir, ini bukan masalah.

"Ayolah, plis. Aku tahu kemarin aku salah karena pulang duluan dengan Kaito, tapi aku seriusan minta maaf. Ntar jam istirahat kita makan bareng, deh. Ya? Ya? Jangan cari masalah, ya? Tolong."

"..."

Uh, Miku, aku ingin kau mengerti perasaanku sekarang. Bukan, tak harus Miku, siapa saja. Aku ingin seseorang merasakan hal yang sama denganku sekarang, dan menjelaskan padaku perasaan apa ini.

Begitu mendengar suara Miku muda mengucapkan serangkaian kalimat bagai cacing telinga barusan, seluruh tubuhku seolah bergidik merinding akibat sensasi keimutan yang ia berikan, membuatku memaafkan fakta kalau ia kemarin pulang bersama anak lain.

Kagamine Len: 100% pedofil.

"Len!"

"Iya, iya."

Melihat wajahnya yang seolah ingin menangis, mau tak mau, aku ikuti kehendaknya. Kau tahu, sebagai pacar yang baik. Dunia nyata tak serupa dengan sinetron, mengalahkan lelaki lain bukannya akan membuat gadis terkesima, yang ada malah berlari ketakutan.

... aku baru berpikir demikian sesaat yang lalu, sih.

Intinya, aku mengalah.

Aku membawa tas ranselku dari bangku Miku, membiarkan sosok anak berambut biru yang datang beberapa detik kemudian untuk duduk di sebelahnya.

Di saat kami saling berpapasan, aku memasukkan tangan ke dalam kantong celana. Tepat di detik langkah kaki aku dan ia bersilang, aku melirik matanya dengan tatapan tajam.

Untuk alasan tertentu, aku merasa keren.


(ii) —


Bangkuku ternyata terletak di bagian paling belakang, nomor tiga dari sisi jendela. Di depanku adalah Nero, yang bersiul kagum atas kemesraan aku dan Miku (sudah sepantasnya begitu), sedangkan yang duduk di sebelah—

"Berani sekali kau melakukan perbuatan tak senonoh seperti itu di pagi hari, jelata."

Apaan?

"Sungguh, karena ini aku tak suka bersekolah di sekolah jelata seperti ini, apalagi harus terpaksa duduk di samping makhluk jelata sepertimu. Apa kau tidak bisa menahan nafsu hewanimu untuk sesaat dan berhenti bersikap seperti kucing masuk musim kawin?"

Serius, apaan?

"Aku berbicara padamu, jelata."

Iya, aku tahu. Makanya aku mengabaikanmu. Lagian, kau tahu sudah berapa kali kau mengucapkan kata jelata sejak aku duduk di sini? Lebih banyak daripada rekor jumlah aku melakukan masturbasi dalam sehari, tahu.

"Jelata."

"..."

Abaikan, Len.

"Jelata jelata jelata."

Walau gadis di sampingmu yang tak kau ingat namanya—Galaco? Serius, apa aku pernah duduk sebangku dengannya seperti ini?—cukup cantik, dari melihat sebagian poninya yang berwarna seperti pelangi, harusnya kau sadar kalau ia jauh lebih miring dibanding Nero.

"Jelata jelata jelata jelata jelata jelata jelata jelata jelata jelata—"

"—CUKUP!" Aku berkata kencang sambil menggebrak meja. Semua pandangan menuju kemari, walau kembali ke depan saat suara pintu yang terbuka terdengar.

"Hai semuanya. Homeroom kita mulai, ya~"

Mengabaikan wanita cantik di depan sana—sebenarnya aku ingin segera menatapnya dalam-dalam, mengingat aku baru sadar kalau Bu Luka itu termasuk 'tipe' favorit—aku melihat tajam ke si anak perempuan di samping.

"Apa maum—"

"Uuh. Uuuuuh."

Begitu melihat Galaco bergumam tak jelas sambil menutup wajahnya yang terlihat jelas dialiri air mata, aku berhenti berucap, dan amarahku berubah menjadi rasa bersalah dalam seketika.

Ah, gawat. Aku benar-benar kelewatan. Tak seharusnya aku berteriak seperti tadi kepada gadis berusia sepuluh tahun. Aku sama sekali tak menyangka ia akan menangis semudah itu.

Lagipula, itu salahnya, 'kan?!

Aku tahu kalau dia cuma gadis polos yang tidak tahu betapa menyedihkannya kehidupanku—yang memang selayaknya disebut kehidupan jelata—sebelumnya, tapi dipanggil jelata lebih dari sepuluh kali dalam semenit itu benar-benar menyebalkan!

...

Tidak, tidak.

Walau tubuhku anak-anak, aku tak boleh berpikir seperti mereka. Aku harus bersikap dewasa, seperti seorang kakak yang tak akan marah meski pun adik perempuan mereka yang tak tahu apa-apa menggigit kemaluan mereka.

"Anu... maaf."

"Diam kau, jelata."

Pilih satu antara menangis dan mengutuk. Caramu yang bilang begitu dengan suara bergetar itu bukannya membuatku takut, malah membuatku terangsang karena sedikit terdengar manis, tahu. Tolong jangan bangkitkan bagian dari jiwaku yang tak berguna. Ketertarikan pada genre pemerkosaan, misalnya.

Tapi tenang saja, Galaco. Aku memang mengakui kalau aku adalah seorang pedofil, tapi itu hanya untuk Miku seorang. Aku tak akan merasakan cinta salah umur untukmu.

"Aku minta maaf. Aku kelewatan barusan."

"..."

Bola mata Galaco mengintip dari celah jari tangan yang menutupi wajahnya. Pipi dan bagian putih matanya sama-sama memerah.

"Sungguh?"

Apanya?

"Kau sungguh-sungguh minta maaf?"

Uh, pertama-tama, bisa kau berhenti berbicara dengan pemilihan kata yang tak umum digunakan anak SD? Aku tahu kau ingin terlihat manis, dan aku akui kalau kau memang terlihat manis, tapi serius, ini tak baik untuk kesehatan jiwa.

Akhirnya, aku mengangguk pelan.

"Baiklah, kumaafkan."

Oke, bagus. Terima kasih, Nona. Sekarang boleh aku melihat ke depan dan menikmati pemandangan Luka-neesama—maksudku, Bu Luka yang sedang memberi nasihat dengan suara merdunya?

"... Jelata."

Oh, Tuhan. Kenapa aku tidak ingat pernah duduk sebangku dengan anak semerepotkan ini?

"Oke, anak-anak. Cukup basa-basinya, sekarang Ibu akan mengenalkan murid baru!" Luka-neesama—aku menyerah, biarkan aku memanggilnya begitu di dalam hati—berkata dengan nada riang yang dibuat-buat.

Anak baru? Serius? Kenapa harus ada anak baru di hari pertama 'cerita' dimulai, sih? Klise! Jangan bilang kalau anak barunya perempuan cantik misterius yang entah kenapa bisa kenal denganku, lagi.

"Kalian semua terkejut, 'kan? Ibu juga terkejut! Dan kalian tahu apa? Murid barunya pindahan dari luar negeri, lho! Luar negeri!"

Pindahan dari luar negeri, lagi.

Kalau itu terjadi, jiwa pecinta konspirasi dalam diriku yang seharusnya sudah mati di jaman SMP akan bangkit kembali, dan berpikir kalau ada seseorang—atau sesuatu—yang merencanakan semua ini.

Tahu sendiri, sebagai mantan anak SMP—terutama kelas dua dan memiliki sindrom chuuni—tanpa teman, kebanyakan pasti pernah memiliki kecenderungan menghabiskan waktunya di dunia mereka sendiri.

'Dunia sendiri' yang dimaksud di sini juga bukanlah hal sesimpel video game atau novel, tapi sesuatu yang jauh lebih memalukan. Haruskah aku beri contoh?

Misalnya, seperti bagaimana ia—atau biar simpel, aku—berpikir kalau aku adalah ksatria terpilih yang dibuang ke dunia manusia. Atau bagaimana aku akan bersemangat saat ada murid baru yang masuk, memikirkan kalau akhirnya hidupku akan dimulai.

"Taruhan, yuk, murid pindahannya cewek atau cowok."

Nero, yang ternyata duduk di depan mejaku, menawarkan sesuatu yang rasanya agak terlambat untuk dilakukan.

"Untuk apa?"

"Seru-seruan aja. Yang lain sudah ngasih jawaban mereka. Tinggal kau yang belum ngasih taruhan. Ah, ngomong-ngomong, aku dan Gumiya milih cowok, dan Gakupo milih cewek."

Aku yakin kau memilih cowok karena berpikir perempuan tidak bisa diajak bermain, Gumiya juga memilih sama karena logika perbandingan jumlah siswa di dalam kelas, dan Gakupo memilih perempuan karena dia mesum.

... karena aku juga berharap sama.

"Hadiah kalau menang apa?"

"Yang menang boleh jadi 'raja' dan nentuin mau main apa selanjutnya."

... itu maksudnya, kalau aku menang, aku akan mengambil posisi Nero dan menentukan sendiri mau setting permainan yang bagaimana? Enggak berguna amat. Beda cerita kalau aku adalah satu-satunya laki-laki di geng ini.

Tapi, mana mungkin aku menghancurkan hati kecil Nero dengan mengatakan kalau semua ini tidak ada gunanya? Jadi aku berpikir sejenak, sembari mengintip ke arah pintu.

Si murid pindahan tidak berdiri di depan pintu, jadi sebenarnya aku tak bisa melihatnya. Sangat disayangkan karena aku tak ingat siapa murid pindahan ini—yah, paling karena aku dan dia tak terlalu akrab, jadi aku sama sekali melupakannya.

Berarti semuanya benar-benar tergantung dari insting, ya... hm, apa sebaiknya aku ikuti perasaan (baca: harapan) dan menjawab anak peremuan?

"Len, cepet dikit. Murid barunya keburu masuk, nih. Kau mau otomatis jadi kacung, ya?"

Kau sendiri yang memulai taruhan merepotkan di saat terakhir begini. Dan lagi, kenapa harus aku yang terakhir ditanya? Dariawal aku tak berniat ikutan, tahu.

Aku menghela napas. Kehidupan anak-anak memang menyenangkan, ya. Tanpa beban, meributkan hal kecil seolah berpengaruh pada kehidupan. Yah, kurasa aku harus memberikan jawaban, asal pun tak apa.

Saat aku hendak berkata perempuan dengan sedikit keraguan—angin bertiup.

"Ah."

Bukan di dalam kelas, namun di lorong depan.

Benar, tempat di mana si murid baru sedang berdiri, menunggu disuruh masuk oleh wali kelas kami yang terlihat bersemangat karena mendapat siswa pindahan dari luar negeri. Lokasi ia tegak memanggul tas, entah melamunkan apa.

Jangankan wajahnya, tubuhnya pun tak sempat terlihat.

Satu-satunya yang diterbangkan oleh angin tadi hanyalah rambut pirang bercampur merah muda pucat—entah apa istilah yang tepat. Strawberry blond?—panjang yang terbawa angin, berkibar, membuat sebagian terlihat melalui pintu yang terbuka.

Walau tak ada daun sakura yang ikut terbang bersama kibar helai rambutnya, harus kuakui, pemandangan yang hanya terjadi dalam hitungan detik barusan sangatlah indah. Seperti adegan jatuh cinta pada pandangan pertama di film romansa picisan.

Ah, jika aku melihatnya langsung, mungkin aku akan terpesona, bertekuk lutut, dan ejakulasi seketika. Apalagi mengingat kemungkinan ia adalah gadis pindahan luar negeri.

Untung sekali aku berada di dalam kelas. Jadi yang kulihat cuma seperbagian saja. Jiwa pedofil dalam diri ini tetap tenang, tetap mengarah ke satu gadis seorang. Aku tak bisa selingkuh dari Miku, mengingat alasanku di sini juga demi Miku.

"Cewek."

Aku berkata dengan yakin.

Mengabaikan kemungkinan jika anak di luar sana sama seperti Gakupo yang notabene anak laki-laki berambut panjang, aku menghapus keraguan, meyakini jika yang berdiri di luar sana adalah anak perempuan.

"Oke! Kita lihat siapa yang jadi raja selanjutnya!"

Nero, menerima jawabanku—juga menerima teriakan dari Luka-neesama untuk duduk ke arah yang benar—kembali menghadap ke depan, menunggu kehadiran sang murid baru.

"Aria, ayo masuk."


(ii) —


"Selamat atas naik takhta menjadi Raja Jelata, jelata."

Galaco, yang mendengarkan perbincangan antara aku dan Nero dalam diam, mengucapkan kalimat barusan saat melihat anak seusia kami yang memasuki kelas—dengan ransel di punggungnya—adalah seorang perempuan.

Aku tak membalas ucapannya.

Tidak, sebenarnya aku ingin membalas. Ingin kukatakan ucapan terima kasih yang penuh nada sinis. Namun anehnya, aku tak bisa. Mulutku terlalu kaku untuk berkata.

"Aria Franelle... salam kenal."

Jika aku berbicara sekarang, aku yakin suaraku akan terdengar tak wajar, agak bergetar karena merasa gugup karena alasan yang sangat memalukan untuk dijelaskan.

Ia seratus persen, anak luar negeri.

Nama unik yang tak mungkin dimiliki orang Jepang. Kontur wajahnya pun berbeda dengan semua gadis yang kukenal. Bahkan gadis di sebelahku yang sama-sama punya nama tak wajar juga, masih memiliki bentuk wajah yang 'Jepang' sekali.

Namun ia yang berdiri di depan sana sangatlah berbeda.

Aku sering melihat bule di film porno, tapi ini pertama kalinya melihat langsung.

Wajahnya yang terlihat hampa, kosong, seolah sedang melamun entah menatap apa, di mataku, terlihat seperti boneka porselen berharga jutaan. Kulitnya yang pucat memang agak mengkhawatirkan, meski begitu, kulitnya, kurasa tak kalah indah bila dibanding aktris bintang sabun.

Kuakui perumpamaan barusan memang benar-benar menyedihkan, tapi intinya, yang ingin aku katakan adalah: ia gadis yang manis.

"... itu saja?"

"Hm."

Pipinya, matanya, hidungnya, suaranya. Ekspresi datarnya tatkala menghancurkan semangat Luka-neesama yang bersemangat akan kedatangannya. Tipe karakter pasaran yang kupikir tak mungkin ada di dunia, hadir di depan mata.

Aku hanya bisa melihatnya sebagai anak gadis yang akan membuat semua orang yang mencoba menculiknya menjadi pedofil seketika, membatalkan niat mengembalikan setelah uang sandera di dapat hanya untuk membuatnya jadi milik mereka sendiri untuk selama-lamanya.

"Jadi... Aria ini memang pindahan dari luar negeri, tapi sudah lumayan fasih berbahasa Jepang. Jangan ragu untuk berteman dengannya, ya. Tapi kalau ada sesuatu yang tidak ia mengerti, tolong kalian semua bantu. Mengerti?"

Aku merasa hatiku akan terbelah seketika, jika disuruh memilih antara ia atau Miku. Di mana walkthrough rute harem?! Apa aku tidak bisa menikahi keduanya sekaligus?! Tidak... tidak boleh. Aku tidak boleh begini.

Kenapa... aku tidak ingat dengan gadis secantik dirinya?

Maksudku, ia adalah murid pindahan. Dari luar negeri, lagi. Cantik lagi. Bagaimana bisa aku lupa akan sosoknya, melepas keberadaan yang begitu menonjol dari dalam memoriku?

Apa jawabannya hanya sesimpel 'lupa'?

Ya, memang benar, dia adalah anak pindahan.

Gadis pindahan dari luar negeri, yang kehadirannya selalu aku inginkan. Gadis yang dalam delusiku, akan datang, memulai sesuatu, merubah kehidupan membosankanku menjadi petualangan yang menegangkan.

Entah apakah ia gadis penyihir, robot dari masa depan, atau dewi yang kehilangan ingatan.

Apa aku melupakannya, karena seperti yang aku sadari sejak lulus SMP—dan sembuh dari sindrom kelas delapan—hal semacam itu tak akan pernah ada? Bahwa gadis semacam itu tak akan pernah datang, dan meski datang pun, tak akan mungkin sesuai dengan harapan konyolku?

... benar.

Pasti begitu. Aku melupakannya karena ia, mungkin, adalah satu dari sekian bukti kalau semua delusiku akan murid baru hanyalah ilusi konyol yang tak mungkin jadi kenyataan.

Anak gadis misterius itu tak mungkin berjalan ke arahku, dan kemudian berkata, dengan suara lembutnya yang menggoda telinga—

"Akhirnya aku menemukanmu, Kagamine Len."

Benar. Seperti itu—hah?


Bersambung


Afterwords:

Hey, yow, Elpiji di sini.

Alurnya... lambat banget, ya? Dua chapter cuma menceritakan beberapa menit dari bel sebelum masuk sampai jam homeroom. DUA CHAPTER CUMA NYERITAIN BEBERAPA MENIT.

Jadi, uh... walau pun rasanya agak kurang gimana gitu, tapi akhirnya para karakter teman sepermainan beserta para harem Len telah bermunculan. Mungkin episode depan bakal jadi sedikit penegasan mengenai karakterisasi mereka masing-masing.

Harem Len di sini adalah Miku, Galaco, dan IA. Iseng make yang kurang begitu terkenal. Kurang begitu tahu dengan imej Galaco dan IA yang bertebaran di masyarakat (?), tapi entah kenapa, di dalam kepala saya, Galaco berkesan ojousama, dan IA punya aura pendiam yang misterius. Jadi terima aja.

Daridulu emang kepengen pakai Galaco. Dia imut, sih. IA juga. Kokone juga. Anon-Kanon juga. Walau mungkin Kokone dan Anon-Kanon gak bakal muncul karena saya gak sanggup masukin lebih banyak karakter lagi, takut bingung sendiri, dan giliran tampilnya makin gak rata. Ini aja Rin enggak nongol. (lol)

Eniwei, fanfik ini resmi masuk rating M.

Dan sebelum kalian mikir aneh-aneh, saya (kemungkinan besar) enggak akan masukin adegan lemon di sini, walau punya kemampuan bikinnya. Saya juga enggak akan masukin gore, walau 'gore' saya kemarin kebetulan bisa menang IFA (saya juga enggak nyangka).

Fanfik ini masuk ke rating M cuma karena lawakannya doang. Yang meski enggak begitu parah di episode ini, bakal makin parah ke depannya. Saya mungkin gak akan ragu ngelempar kata-kata ilmiah atau slang jorok semacam sange, bokep, skrotum, testis, atau saudara-saudaranya.

Jadi buat yang gak tahan, mau pergi juga enggak apa-apa. Ini emang bukan untuk anak-anak. Tapi kalau kalian masih di bawah umur dan nekat baca, silakan aja. Tapi tolong sadar diri dan enggak make bahasa hewani di fanfik ini di kehidupan nyata, ya.

Kalo ntar kalian ditanya orangtua belajar dari mana, terus kalian bilang dari fanfik ini, terus orangtua kalian menghubungi tim IT untuk melacak keberadaan saya, bisa gawat.

Akhir kata, sampai jumpa di episode selanjutnya.
Have a nice day~