Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Typo bertebaran, no EYD, mainstream, alur yang berantakan, cerita pemula.
By : Rozzeana
Rated : T
.
.
.
Dia menggila lagi, yang lain mungkin tidaklah sadar tapi aku tahu matanya selalu tertuju kearah gadis itu. Ya memang tidak semua salahnya, gadis itu juga ambil andil dalam kegilaannya. Jika saja gadis itu tidak selalu melaporkan kegiatannya pada Instagram dia mungkin tidak akan segila ini. Berkali - kali ku katakan pada gadis itu untuk berhenti mengabadikan kegiatannya di Instagram tapi tak didengarnya. Jika bicara pada orang itu pasti hanya akan berujung pada naiknya emosiku. Kadang aku lelah mengawasinya, jika bukan karena sepupuku yang meminta tolong tak akan mau aku berpusing - pusing mengurus orang setengah waras ini!
...
Sebuah mobil sport berhenti tepat didepan Naruto yang sedang berdiri bersandar pada tiang listrik.
"Masuklah!" Titah orang yang mengemudikan mobil hanya dengan membuka jendela mobil.
Naruto tanpa berkata apa pun langsung naik mobil ke bangku penumpang disamping pengemudi. Dan setelah Naruto menutup pintu mobilnya, pria itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
"Sedang apa kau disana?" Tanya pria itu membuka topik obrolan.
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu!" Jawab Naruto ketus.
"Aku hanya mengunjungi teman." Jawab pria itu santai.
"Teman? Hinata maksudmu?" Tanya Naruto.
"Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Seolah - olah, aku mengatakan sebuah kebohongan. Hinata kan juga temanku, Naruto. Jadi, aku tidak bohong kan?" Terang pria itu.
"Tsk! Teman? Sejak kapan kau berteman dengan Hinata, Yahiko?! Kau dan Hinata bahkan tak pernah saling sapa jika berpapasan." Naruto tersenyum remeh.
"Ada apa? Apa kau cemburu mendengar aku telah berteman dengan Hinata?" Tanya Yahiko dengan nada curiga.
"Untuk apa aku cemburu?" Naruto kembali berwajah datar. "Hentikan mobilnya, aku sampai sini saja." Ujar Naruto dan diikuti Yahiko yang menghentikan mobilnya.
"Jika memang kita berteman, jangan dekati Hinata."
Naruto yang baru menurunkan satu kakinya terdiam sesaat begitu mendengar ucapan Yahiko.
"Kau mengancamku?" Tanya Naruto dengan seringai meremehkan.
"Ya." Jawab Yahiko singkat.
"Sejak kapan ancamanmu berpengaruh padaku?"
Tanpa menunggu jawaban Yahiko, Naruto langsung meninggalkan mobil Yahiko dan berjalan menjauh. Sembari berjalan Naruto tetlihat sedang mengetik sebuah pesan dihpnya. Naruto terus berjalan menuju sebuah kafe yang cukup ramai, Naruto memilih bangku yang sedikit dibelakang dan terpojok. Baru saja Naruto duduk, hpnya yang juga baru diletakan diatas meja bergetar tanda ada pesan masuk.
'Siapa kau?! Apa maksudmu bicara seperti itu!? Jika kau bicara macam - macam lagi aku akan memblokir akunmu!'
Naruto menggaruk kasar kepala belakangnya, "Susah sekali memperingatkannya!"
'Bagus! Blokir saja, sekalian dengan semua akun pria didaftar yang kau ikuti.'
Naruto meletakkan kembali hpnya diatas meja dengan sedikit kasar. Aura kesal menguar dari tubuh Naruto, bahkan saat seorang pelayan mengantarkan pesanan Naruto, pelayan itu meletakkan pesanan dengan tangan sedikit gemetar dan menunjukkan senyum takut.
Setelah menghabiskan tiga gelas minuman yang berbeda, Naruto memutuskan untuk pulang, selain karena kafe yang sudah ingin tutup Naruto pun sudah mulai bosan duduk disana. Tapi karena dirinya sedang tak membawa kendaraan sendiri, dengan rasa malas dia berjalan menuju halte. Catatan Naruto dihalte bukan untuk menunggu bus tapi menunggu taxi, karena bus terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu. Bukan hal yang mudah menunggu taxi diwaktu yang hampir menunjukkan waktu tengah malam itu, entah berapa lama Naruto menunggu.
oOo
Pagi ini karena Naruto terlambat datang kekelas dia mendapat hukuman yang membuatnya tak bisa pergi kekantin bersama dengan teman - temannya. Berjalan sendirian dikampus sangat menguji kesabaran Naruto, kenapa? Tentu saja karena hampir semua mata gadis yang dilewatinya menatap kearah Naruto dan itu sangat - sangat tak membuat Naruto nyaman.
Sesampainya dikantin, semua mata tertuju pada satu titik yaitu Naruto. Jika saja bukan area kampus dan bukan para gadis mungkin satu persatu sudah ditariknya berkelahi. Naruto begitu lega saat melihat salah seorang yang dikenalnya melambaikan tangannya. Naruto hanya berjalan berfokus pada tempat temannya, tapi saat sudah dekat Naruto barulah sadar jika dia akan melewati gadis itu, ya gadis yang membuatnya setengah frustasi untuk beberapa waktu ini, gadis itu bernama Hinata, hampir semua penghuni kampusnya mengenalnya walau mereka berbeda Fakultas dengan Hinata.
Sadar atau tidak Naruto terdiam sesaat ketika berada didepan Hinata dan sengaja atau tidak Naruto dan Hinata kini sedang beradu tatap, hanya beberapa saat karena Naruto kembali tersadar akibat suara jeritan beberapa gadis dikantin . Baru kali ini setelah sekian tahun menjadi penghuni kampus, Naruto merasa bersyukur bisa mendengar jeritan gadis - gadis itu. Setelah sadar Naruto kembali berjalan menuju tempat teman - temannya.
"Hinata!"
Naruto berbalik mendengar teriakan yang didahului dengan suara jatuh. Ternyata Hinata sudah berbaring dilantai tak sadarkan diri. Dengan sigap, Naruto langsung menghampiri Hinata yang mulai dikerumuni orang.
"Ayo bawa keruang kesehatan." Ujar Naruto pada teman Hinata yang terlihat panik.
Teman Hinata langsung merapikan barang - barang miliknya dan milik Hinata, sedangkan Naruto langsung mengangkat Hinata dan berjalan terlebih dahulu menuju ruang kesehatan. Sesampainya diruang kesehatan, ternyata dokter jaga sedang tidak ada ditempat.
"Temani dia dulu, aku akan membeli minuman." Ujar Naruto setelah meletakkan Hinata diatas tempat tidur.
"Bisa tolong bayarkan makanan kami dikantin tadi?" Teman Hinata yang diketahui bernama Sakura itu berkata dengan nada tak enak.
"Makan bisa bayar tidak." Sindir Naruto.
"Hey, aku bukan tidak bisa bayar, tapi Hinata tidak tahu jika Hinata akan pingsan, jika tahu pasti aku aka-"
"Itu alasan terkonyol yang pernah kudengar." Naruto langsung berjalan menuju pintu.
"Uangnya?" Sakura mengangkat dompetnya.
"Sudahlah sekalian saja."
Naruto bergegas berjalan menuju kantin, sebenarnya jika hanya untuk membeli minum ada mesin minuman dilorong didekat ruang kesehatan. Tapi ya Naruto memang agak susah berkata tidak pada orang yang meminta tolong apalagi jika itu adalah orang yang dikenalnya atau seorang perempuan.
Setelah urusannya dikantin selesai, Naruto berjalan kembali menuju ruang kesehatan. Untunglah penjaga kantin mengerti dengan kejadian itu jadi Naruto tak dimarahi karena memang dia tidak tahu jika dua gadis itu belum membayar. Dengan membawa tiga kaleng minuman, Naruto berjalan secepat mungkin.
Tanda pengenal ruangan bertuliskan ruang kesehatan tlah terlihat, tinggal beberapa langkah lagi Naruto tiba didepan pintu. Tapi tiba - tiba pintu terbuka dan keluarlah gadis yang tadi dibawanya.
"Kau-" Naruto terdiam menyadari tatapan sinis Hinata.
"Berhenti mengikutiku, Stalker!" Omel Hinata.
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto bingung.
"Tak usah berkelit lagi, Namikaze!" Sinis Hinata.
"Haha.. Kau bodoh! Aku mengikutimu untuk menjagamu bukan untuk menjadi penguntitmu!" Balas Naruto tak kalah sinis. "Sekarang terserah kau, aku sudah memperingatkanmu, bukan satu atau dua kali tapi kau tak mendengarnya. Kini hanya tinggal tunggu kapan kau akan-"
"Hinata?" Panggil Sakura dari belakang Hinata.
"Harus kau tahu aku tidak sendiri saat memgambil foto itu." Bisik Naruto saat berdiri disamping Hinata lalu pergi meninggalkan Hinata.
Naruto menyerahkan minuman yang tadi dibawanya pada Sakura sebelum dirinya benar - benar pergi. Naruto berjalan dengan wajah kesal yang sangat ketara. Beberapa kali dia mengumpat pelan. Naruto terlaku fokus pada rasa kesalnya hingga tak sadar jika ada orang yang berjalan kearahnya dengan wajah yang tak kalah kesal. Naruto baru sadar saat orang itu menarik tangan Naruto menjauh dari keramaian. Begitu tiba dilorong sepi, orang itu mendorong Naruto kearah dinding lalu menarik kerah baju Naruto.
"Katakan padaku, sejauh mana kau berhubungan dengan Hinata?" Orang itu menatap marah Naruto.
"Kenapa aku harus memberitahumu? Itu bukan urusanmu, Yahiko!" Naruto menepis tangan pria yang ternyata adalah Yahiko.
"Naruto!" Naruto menatap tajam Yahiko karena telah meneriakinya. "Jika kau menganggapku sebagai temanmu ja-"
"Teman? Apa saat pertandingan basket hari itu terpikir olehmu jika kita adalah teman?" Naruto menatap remeh Yahiko.
Tanpa menunggu jawaban atau respon Yahiko, Naruto yang memang sedang kesal memilih langsung meninggalkan Yahiko.
...
Dua orang itu sangat bodoh! Sudah bagus aku mau membantu mereka. Arghh! Aku sangat kesal. Jika saja aku bisa bersikap tak peduli pada mereka.
oOo
Naruto kini kembali berada disudut belakang sebuah kafe yang sedang diramaikan oleh sebuah band. Mereka yang datang ke kafe terlihat ikut terbawa suasana yang diciptakan oleh nyanyian dari band itu, tapi tidak dengan Naruto yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Pergilah ke sebuah pertandingan bawah tanah jika kesal." Ujar seseorang yang baru duduk disebelah Naruto.
"Urusai teme!" Omel Naruto.
"Ada apa?" Tanya pria itu. "Yahiko kah?"
"Makhluk setengah waras itu benar - benar susah dikendalikan." Cerita Naruto.
"Memangnya dia sudah mendapatkan target baru?" Tanya pria itu.
"Kau tidak sadar, Sasuke? Dia sangat terang - terangan menargetkan Hinata!"
"Hinata? Hinata teman Ino?" Naruto mengangguk. "Lalu?"
"Sialnya gadis itu malah menyangka akulah yang menjadi penguntitnya."
"Haha. Ya wajahmu memang lebih cocok." Ujar Sasuke seraya mengetikkan sebuah pesan dihpnya.
"Sialan!" Omel Naruto tapi dengan senyum diwajahnya.
Aura yang dikeluarkan Naruto agak ringan terasa kini. Berterima kasihlah pada Sasuke yang berhasil mencairkan ketegangan Naruto dan meluruskan urat - urat Naruto yang terlihat mengeras.
"Tapi bukankah bahaya jika Yahiko menaruh curiga padamu?" Tanya Sasuke.
"Mau bagaimana lagi! Instagramku sudah diblokir oleh gadis itu dan ak-"
"Dia punya nama Naruto." Sasuke mengingatkan Naruto.
"Nama disebutkan hanya saat orang itu mendapatkan peran dihidupku, jika orang itu bodoh seperti dia tidak akan mendapatkan peran apa pun."
"Walau aku tak mengerti tapi terserah kaulah."
Saat Sasuke dan Naruto sedang membicarakan Hinata dan Yahiko, hp Naruto yang diletakkan diatas meja bergetar.
'Maaf aku salah sudah menuduhmu. Aku sudah tahu siapa penguntitku. Apa kau masih mau menolongku? Aku benar - benar takut.'
Naruto mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa?" Tanya Sasuke.
"Gadis itu mengirimkanku pesan, tapi aku tak paham maksudnya." Sasuke mengambil hp Naruto dan membaca pesan yang sedang dibaca Naruto.
"Dia sedang minta tolong padamu, bodoh!" Sasuke mengembalikan hp Naruto.
"Untuk?" Tanya Naruto.
"Entah, tanya saja pada Hinata." Jawab Sasuke santai.
'Kau mau aku menolong apa?'
Naruto terus menatap hpnya berharap ada balasan dari Hinata, namun tak kunjung datang. 10 menit sudah berlalu, Naruto benar - benar khawatir sekarang.
"Apa mungkin Yahiko melakukan sesuatu?" Tanya Naruto.
Sasuke yang diajak bicaranya malah menatap layar hpnya dengan ekspresi terkejut.
"Mungkin benar Yahiko melakukan sesuatu. Baca ini." Sasuke memberikan hpnya yang menunjukkan sebuah chat.
'Mungkin Yahiko tahu kode apartemen Hinata. Waktu itu Yahiko pernah mengantar Hinata ke apartementnya.'
"Kau kenal dengan Sakura?" Tanya Naruto.
"Bodoh! Bukan waktunya untuk membahas itu! Kau mengerti maksud ucapan Sakura kan?" Omel Sasuke.
"Jika Yahiko tahu kode apartementnya mem- Astaga! Dia bebas masuk!" Barulah Naruto menunjukkan ekspresi khawatir.
"Kau tahu dimana apartement Hinata?" Tanya Sasuke.
"Tahu, tapi tidak tahu yang mana." Jawab Naruto.
"Pergilah, aku akan tanyakan pada Sakura. Nanti ku kirimkan padamu."
Tanpa berkata lagi, Naruto langsung pergi meninggalkan kafe, sedangkan Sasuke kembali mengetikkan sebuah pesan di hpnya.
Untunglah kafe tadi jaraknya tak begitu jauh dari apartement Hinata, hanya butuh waktu beberapa menit dan kini Naruto telah tiba di lobby apartement. Setelah mengecek pesan di hpnya yang berasal dari Sasuke, Naruto langsung menuju lift menekan tombol dan menunggu. Tapi sialnya kedua lift sedang ada dilantai teratas, Naruto mulai tak sabar dengan berlari Naruto memilih menggunakan tangga darurat. Berlari menaiki tangga hingga kelantai 5 dengan membawa ransel yang lumayan, cukup membuat nafas Naruto menjadi tak beraturan walau belum parah.
Kini Naruto berjongkok didepan sebuah pintu, Naruto terlihat mengeluarkan sebuah laptop dengan kabel yang entah apa tapi cukup panjang guna menghubungkan laptop dan keamanan pintu apartement Hinata. Dilihat saja sudah jelas, Naruto sedang berusaha membobol keamanan pintu apartement Hinata, pesan dari Sasuke hanya memberikan lokasi apartement Hinata tanpa memberi tahu kodenya, karena katanya Sakura tidak tahu kodenya.
Naruto mulai sibuk dengan laptopnya tidak sampai 5 menit terlihat dengan jelas tulisan berwarna hijau dilaptopnya yang berarti Naruto sudah berhasil membuka pintu itu. Naruto merapikan asal laptop dan kabel tadi lalu bergegas masuk kedalam.
"Keluar kau sialan!" Teriak Naruto seraya melepaskan sepatunya.
Naruto mendengar suara langkah kaki dari dalam. Sangat jelas itu bukan langkah kaki seorang gadis, dan benar saja pria bersurai orange yang mirip dirinya muncul.
"Bagaimana kau bisa masuk?" Tanya Yahiko dengan ekspresi terkejut.
Tanpa menjawab Naruto langsung berjalan masuk, Yahiko tak tinggal diam. Yahiko menahan Naruto, mereka berdua pun terlibat perkelahian saling dorong tapi ternyata tenaga Naruto lebih kuat dibanding Yahiko, lihat saja Yahiko kini jatuh terduduk akibat dorongan dari Naruto.
Setelah berhasil masuk, Naruto langsung menuju kamar Hinata yang pintunya tak tertutup. Mata Hinata terlihat menunjukkan rasa syukur saat melihat Naruto. Jika Hinata bersyukur melihat Naruto, Naruto malah prihatin melihat Hinata. Bagaimana tidak, tangan dan kakinya diikat, mungkin karena terus meronta pergelangan tangan dan kakinya terlihat memerah, wajah Hinata juga terlihat kacau, matanya bengkak dan ada jejak air mata diwajahnya.
Tinggal beberapa langkah lagi Naruto sampai pada tubuh Hinata, Hinata tiba - tiba bersuara dan meronta seolah ingin mengatakan sesuatu. Naruto hanya menatap bingung, dan dengan polosnya Naruto malah terdiam memperhatikan Hinata dengan tatapan tak mengerti. Hingga akhirnya Naruto merasa ada yang menarik rambutnya dari belakang, saking kuatnya tarikan itu Naruto sampai ikut tertarik dan ternyata kepala Naruto diarahkan pada sisi lemari.
Nyeri terasa di dahi Naruto karena kepalanya dibenturkan ke sisi lemari. Pandangannya berkunang - kunang tapi dirinya masih sadar. Ditarik lagi surai Naruto dan dibenturkannya lagi. Bukan tidak ingin melawan, tapi entah kenapa tubuhnya terasa begitu lemas tak berdaya.
...
Ah, tubuhku sangat tak bertenaga, dimana ini? Ini terlalu gelap! Apa yang tadi sedang kulakukan? Sakit sekali dahiku. Siapa yang sedang terisak? Kaa-chan kah? Bukan, suara Kaa-chan tak seperti itu. Lagipula Kaa-chan sudah di surga, bodoh! Apa - apaan pemikiranmu itu.
...
Untuk beberapa saat Naruto lupa akan keadaan dirinya, dia bertanya pada dirinya, mungkin itu yang dikatakan tak sadarkan diri. Untuk sesaat tadi pandangan Naruto menghitam, begitu Naruto telah mendapatkan kesadarannya kembali Naruto merasa ada sesuatu yang basah didahinya dan berbau anyir, Naruto juga baru tahu jika dirinya kini tergeletak dilantai. Dicarinya Yahiko dan ternyata Yahiko sedang menatap Hinata, Naruto mengumpulkan kekuatan yang setidaknya cukup untuk menahan Yahiko agar tak mendekat kearah Hinata.
Naruto berhasil menggerakan tubuhnya hingga berubah posisi menjadi telungkup. Di arahkannya salah satu tangannya untuk meraih kaki Yahiko. Yahiko yang tak sadar jika Naruto telah kembali bergerak, tetap melangka mendekati Hinata yang meronta - ronta. Naruto berhasil menggapai salah satu kaki Yahiko yang akan dilangkahkan oleh Yahiko, tertahannya sebelah kakinya membuat Yahiko hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Tapi itu hanya sebatas hampir karena nyatanya Yahiko berhasil menahan tubuhnya dengan bepegang pada sisi ranjang.
Yahiko menoleh kebelakang dan melihat Naruto yang sedang memegang kakinya. Naruto dapat mendengar Yahiko berdecih saat melihat dirinya lalu dengan satu kaki yang masih bebas Yahiko mulai menendang wajah Naruto, agar kakinya yang sedang dipegang dilepaskan oleh Naruto. Jengah menerima rasa sakit, Naruto menangkap kaki Yahiko yang hampir kembali mendarat diwajahnya. Dengan sisa kekuatan yang ada Naruto menarik kedua kaki Yahiko, hingga akhirnya Yahiko terjatuh dan kepalanya terbentur lantai dengan cukup keras hingga tak sadarkan dirinya.
Melihat Yahiko yang sudah tak sadarkan diri, Naruto berusaha bangkit dengan berpegangan pada ranjang lalu berjalan menghampiri Hinata yang terus meneteskan air matanya. Dengan menahan rasa sakit dikepalanya yang membuat kesadarannya perlahan menurun, Naruto berusaha membuka ikatan tangan Hinata dengan sisa - sisa tenaga.
...
Sial! Tubuhku mulai mati rasa, pandanganku mulai menggelap lagi. Ayolah tetaplah sadar Naruto, selamatkan dulu Hinata. Jangan jadi pria payah.
...
Kedua tangan Hinata sudah bebas, Naruto kini berusaha membuka ikatan di mulut Hinata tapi belum lepas semua ikatan Hinata, tubuh Naruto mulai terjatuh terduduk disebelah Hinata. Hinata yang terkejut mencoba bergegas melepaskan ikatan dikakinya.
...
Tahan Naruto, berdirilah. Kau lemah jika sampai tak sadarkan diri sebelum Hinata terbebas. Sial pandangan mataku semakin gelap, tubuh Hinata disebelahku tapi suaranya jauh sekali. Sepertinya ini batas tubuhku. Terserahlah, payah atau apapun. Maaf Hinata, tubuhku benar - benar tidak bisa diajak kerja sama. Jika sudah selesai larilah Hinata, selamatkan dirimu.
...
"Naruto!"
Hinata berteriak saat Naruto tergeletak dilantai, Hinata kembali menangis karena belum bisa melepaskan ikatan kakinya. Ikatannya memang cukup kencang ditambah tenaga Hinata sudah habis karena menangis sedari tadi.
Naruto masih bisa mendengar isakan Hinata yang terus memanggil namanya. Pandangannya pun belum menghitam sepenuhnya. Naruto masih bisa melihat saat Hinata berhasil melepas salah satu ikatan kakinya. Naruto tersenyum, pandangannya bertambah gelap sudah hampir menghitam sempurna tapi tiba - tiba dari sisa kesadarannya Naruto mendengar suara pintu yang dibuka dengan keras.
...
Sial! Siapa yang datang? Semoga kau selamat Hinata. Cepatlah buka ikatan tali dikakimu dan larilah jika itu bahaya.
...
"Hinata? Kau tak apa?"
"Naruto!"
"Yahiko tak sadarkan diri."
.
"Naruto! Hiks!"
"Tenanglah, Naruto akan baik - baik saja."
.
"Detak jantungnya stabil."
.
Dengan kesadaran yang terputus - putus hanya beberapa percakapan yang terdengar oleh Naruto. Tapi dalam kesadaran yang putus - putus Naruto sempat melihat Sakura dan Sasuke lah yang datang dan membantu Hinata serta dirinya.
oOo
"-to?"
"Naruto?!"
"Dobe?"
Naruto mulai membuka matanya perlahan, dia mengedipkan beberapa kali matanya hingga akhirnya pandangannya kembali sempurna. Naruto melihat sekelilingnya, berusaha mengingat - ingat apa yang terjadi. Bukan amnesia tapi hanya sedikit linglung.
"Kau sudah sadar?" Tanya Sai.
"Ah, apa tidak ada bidadari yang bisa kulihat saat pertama kali aku membuka mata." Naruto menutup matanya dengan lengan kanannya.
"Kau baru sadar setelah tiga hari, dan yang keluar dari mulutmu adalah kalimat itu?" Omel Sasuke.
"Haha. Eh tunggu." Naruto menatap Sasuke. "Tiga hari kau bilang?"
"Ya, sebenarnya kau sudah sadar kemarin, tapi kata dokter kau masih butuh istirahat jadi kau dibius." Jawab Sai.
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Naruto.
"Tengkorak dahimu retak dan kau mengalami gegar otak ringan." Terang Sai.
"Itu tidak parahkan?" Tanya Naruto khawatir.
"Jika kau sudah membuka mata berarti tidak." Jawab seorang pria bersurai merah dengan poni yang menutupi matanya.
"Nagato? Kenap- hey, bagaimana dengan Yahiko?" Tanya Naruto pada Nagato.
"Dia sudah dipulangkan ke Hokaido." Jawab Nagato. "Keluarganya akhirnya mau mengambil ketegasan, berterima kasihlah pada kakakmu ini."
"Sejak kapan kau menjadi kakakku?" Tanpa sengaja Naruto melihat Ino yang berdiri dibelakang Sai. "Hinata?"
"Dia baik - baik saja." Jawab Sasuke.
"Naruto, aku benar - benar berterima kasih karena kau sudah mau menolong Hinata. Tapi jika boleh aku ingin meminta tolong padamu?" Tanya Ino.
"Jika bisa akan kubantu. Ada apa?" Tanya Naruto.
"Saat dia datang, katakanlah jika kau baik - baik saja. Dia sangat khawatir padamu." Jawab Ino.
"Dia? Dia siapa?" Tanya Naruto.
Belum pertanyaan Naruto terjawab, pintu ruang rawat Naruto terbuka dan masuk dua gadis berbeda. Gadis bersurai indigo berdiri terdiam didepan pintu, sementara gadis bersurai pink langsung menghampiri ranjang Naruto.
"Hey apa kau sudah lelah tidur?" Tanya Sakura dengan nada meledek.
"Tidak pernah ada kata lelah untuk tidur dalam kamusku." Pandangan Naruto beralih pada Hinata yang masih berdiri.
Hinata menatap kearah Naruto, perlahan mata Hinata mulai terlihat berkaca - kaca. Naruto yang melihatnya secara mendadak bangun untuk duduk, tapi karena selama tiga hari Naruto hanya tertidur bangun mendadak seperti itu membuat pandangan Naruto berputar - putar.
"Ahh!" Naruto memegang kepalanya lalu kembali berbaring dengan menutup matanya.
"Naruto!" Semua yang ada disana tak terkecuali Hinata langsung menghampiri ranjang Naruto dengan wajah panik.
"Apa yang terasa?"
"Tak apa?"
"Apa yang sakit?"
"Kau tidak sedang bercandakan?"
"Ini tidak lucu, dobe!"
Urat - urat Naruto bagaikan terkumpul dikepala saat mendengar pertanyaan teman - temannya.
"Kompres dia dengan air dingin!"
"Jangan! Nanti perbannya basah!"
"Panggil Dokter! Dokter! Suster! Naruto akan mati!"
"Bodoh!"
Entah siapa yang bicara terakhir itu, ucapannya sudah memancing darah Naruto untuk ikut berkumpul dikepalanya.
"Diamlah! Kepalaku hanya pusing, mataku berputar. Tenanglah sedikit!" Omel Naruto dan itu berhasil menghentikan mereka.
Setelah mengomel Naruto mendengar suara terisak yang terasa tak asing baginya. Lalu tiba - tiba Naruto merasa beberapa tetes air jatuh ditangan kirinya. Naruto menghela nafas menormalkan emosinya.
"Aku tahu dia yang dimaksud itu siapa?" Naruto memijat pelipisnya tanpa membuka matanya. "Aku hanya sedikit pusing, ini wajar karena aku terus dalam posisi tertidur dalam tiga hari. Jangankan tiga hari, setengah hari pun akan seperti ini jika bangunnya mendadak. Jika perlahan tidak akan seperti ini, kau tidak perlu menangis."
"Menangis? Siapa yang menangis?"
Naruto terkejut mendengar pertanyaan itu, Naruto membuka matanya perlahan, kembali memejamkan matanya saat matanya masih terasa berputar. Diulang beberapa kali, hingga pandangannya kembali normal.
"Siapa yang menangis?" Tanya Sai.
Naruto menoleh kearah Sai yang berdiri tepat disebelah kirinya dengan tangan memegang handuk basah, lalu beralih kearah Hinata yang berdiri disebelah Sai yang terisak ah bukan lebih tepatnya sepertinya Hinata sedang flu.
"Sial!" Umpat Naruto.
"Haha. Kau berharap Hinata menangis melihatmu seperti tadi?" Ledek Sasuke.
"Tidak bodoh!" Naruto kembali menutup matanya dengan lengannya.
"Tidak salahkah?" Sakura ikut meledek Naruto.
"Aahh! Urusai! Dokter! Suster! Tolong usir mereka! Security!" Teriak Naruto disusul tawa dari teman - temannya.
oOo
Dua hari setelah sadar Naruto sudah langsung diizinkan pulang dari rumah sakit. Setelah kejadian itu, Hinata tak pernah kembali ke apartementnya, hampir semua barang - barang penting sudah dibawanya ke tempat Sakura. Hinata hanya menginap disana selama belum menemukan tempat baru, sebenarnya Sakura tak akan menolak jika Hinata ingin menjadi roomatenya, tapi Hinata tak mau merepotkan.
Hinata mencari tempat tinggal baru untuk dirinya ditemani Sakura dan Ino, mereka jadi lebih protektif pada Hinata setelah kejadian Yahiko. Naruto baru bisa kembali kuliah seperti biasanya satu hari paska keluar dari rumah sakit. Kembalinya Naruto tak membawa tangan kosong, Naruto juga membawa kabar jika kamar apartement disebelahnya kosong. Tak membuang waktu, besoknya Hinata langsung mendatangi pemilik apartement dan akhirnya hari ini sesuai perjanjian Hinata sudah bisa mengisinya.
"Ah! Untunglah barang - barangnya telah selesai dipindahkan sebelum hujan." Ujar Ino.
Ya, langit memang kini sudah menggelap padahal waktu masih menunjukkan siang menjelang sore, tapi langit sudah seperti malam hari.
"Wah! Sepertinya akan terjadi badai." Ujar Hinata seraya melihat keluar jendela. "Jika memang badai, kalian menginap disini ya."
"Aku tidak akan menolak." Jawab Sai dengan seringai jahilnya.
"Ya, Sai dan Sasuke menginap dikamar Naruto." Ujar Hinata.
"Siapa yang akan membukakan pintu untuk mereka." Tolak Naruto yang sedang duduk dibangku.
"Kau tega sekali Naruto-kun." Sai menatap Naruto memelas.
"Hey Ino! Urus kekasihmu! Dia menjijikan!" Sai melempar bantal kecil ditangannya yang dijawab tawa oleh semuanya termasuk Naruto.
Sementara itu di Hokaido, Nagato terlihat baru saja turun dari mobilnya disebuah mobil. Nagato menghampiri keramaian yang ada dirumah tersebut dengan wajah khawatir.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nagato pada seorang pria bersetelan hitam.
"Yahiko-sama berhasil kabur dari ruangannya. Tidak ada satu pun yang menyadarinya." Jawab pria itu dengan takut - takut.
"Tidak ada yang tahu atau ada yang membantunya! Cari lagi! Gunakan cctv rumah ini!" Bentak Nagato. "Semoga saja dia tidak pergi ke tempat Naruto." Gumam Nagato.
Disebuah sudut jalan yang sedikit gelap, terlihat sesosok pria berdiri bersandar pada tiang listrik. Hujan mulai turun secara perlahan. Kota mulai basah tak terkecuali pria itu yang hanya memakai sebuah topi sebagai pelindung kepala.
"Tak peduli dimana pun, kau akan tetap kutemukan karena kau adalah milikku hime." Pria yang terlihat tak asing itu terlihat menyeringai. "Kau hanya akan menjadi milikku, siapa pun tidak akan ada yang bisa memilikimu! Termasuk dia! Haha... Haha!"
Langit menyala diiringi suara yang sangat keras, kejadian itu terdengar lagi dengan suara yang lebih keras. Saking kerasnya suara yang dihasilkan oleh petir, tanah sampai seperti bergetar dan listrik tiba - tiba padam.
"Kyaa!" Jerit Ino, Hinata dan Sakura bersamaan saat listrik tiba - tiba padam.
"Kalian ini terlalu berisik, hingga listrik di apartement ini padam." Ejek Naruto.
Tiba - tiba sebuah boneka melayang dan mendarat tepat dikening Sasuke yang kebetulan duduk didekat Naruto.
"Hey! Siapa yang melempar!? Ini sakit!" Omel Sasuke.
"Maaf Sasuke, itu untuk Naruto. Ini terlalu gelap, tapi itu hanya boneka jangan berlebihan." Entah ingin minta maaf atau meledek hingga Ino bicara demikian.
"Jika terkena badannya memang tak sakit, tapi hidungnya keras Ino!"
Akhirnya listrik kembali menyala, kamar Hinata kembali bercahaya.
"Hey lihat ada asap!" Tunjuk Sai pada pintu balkon.
Beramai - ramai, Naruto dan lainnya berjalan keluar balkon. Dari balkon terlihatlah keramaian diseberang jalan ditambah tiang listrik yang mulai mengeluarkan api. Tak lama terdengar sirine mobil dan mobil pemadam kebakaran datang bersama mobil ambulans.
"Apa ada korban hingga ada ambulan?" Tanya Sakura.
"Mungkin untuk berjaga - jaga." Jawab Hinata.
"Sudahlah, ini sudah sore. Selagi listrik menyala aku ingin mandi dulu." Ujar Naruto lalu kembali masuk kedalam apartement Hinata.
"Tapi jika tiang listrik terbakar, harusnya listrik padamkan?" Tanya Sai.
"Listrik alternatif Sai!" Jawab Naruto dari dalam.
oOo
Keesokkan hari kemudian, Sakura terlihat berlari menuju kantin dengan sebuah koran ditangannya. Sakura menghampiri teman - temannya yang sudah ada dikantin terlebih dahulu.
"Hey, berita kemarin sudah ada dikoran." Sakura menunjukkan koran yang dibawanya.
"Aku cukup terkejut dia kembali kesini." Sahut Ino.
"Berarti sudah jelas bukan aku yang menolong Hinata dan menjadi pahlawan disini tapi petir." Ujar Naruto.
"Petir?" Hinata menatap bingung Naruto.
"Jika bukan karena petir semalam, dia mungkin sudah ada disebelahmu malam ini." Jawab Naruto yang disusul ekspresi terkejut dan takut dari Hinata.
"Lupakan, ayo masuk kelas Hinata." Ajak Sakura dan Hinata hanya mengikuti.
Ino ikut berdiri setelah Sakura dan Hinata sudah jauh. Tapi Ino berhenti didepan Naruto yang baru bangun untuk berjalan menuju kelasnya.
"Ada apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Ino malah melayangkan tendangannya tepat di kaki Naruto, dan yang ditendang hanya meringis kesakitan.
"Apa maksudmu!?" Tanya Naruto.
"Jangan bicara seperti itu lagi Kuning!" Bentak Ino lalu pergi.
"Kau juga Kuning, Pirang!" Omel Naruto balik.
Dan berdebatan saling ejek antara Naruto dan Ino pun terus berlanjut hingga mereka harus berpisah karena berbeda fakultas.
Sementara itu, koran yang tadi dibawa Sakura masih tergolek diatas meja tak ada yang menyentuhnya.
...
Hujan deras, seorang pria tewas tersambar petir.
Menurut para saksi, pria tersebut terlihat bersandar pada tiang listrik saat hujan mulai turun, ada juga yang mengatakan jika pria itu menatap apartement yang ada diseberang jalan. Setelah diperiksa oleh polisi, ternyata pria itu bernama Yahiko (21) yang berstatus sebagai mahasiswa universitas Konoha dan diketahui beberapa saat yang lalu Yahiko terlibat masalah karena menyekap juniornya dan pemukulan seorang pria yang juga mahasiswa di Konoha.
.
.
.
»» END ««
.
.
.
Pojok Rozzeana ::
Yeay, selesai ceritanya. Inilah akhir dari imajinasi Chaa yang gajelas haha. Semoga yang baca ga kecewa sama endingnya yaa. Makasih buat yang udah mau baca dan ninggalin jejak.
Jangan lupa ninggalin review ya.
Salam
...
Rozzeana
oOo
Owari »»
Beberapa bulan berlalu tanpa terasa, paska kejadian Yahiko yang mengikat Hinata kelompok Naruto dan Ino terlihat selalu bersama di kampus atau pun diluar kampus, dan semenjak mereka bersama pula Naruto dan kawan - kawannya sudah hampir tak pernah diteriaki tapi jika ditatap masih sering terjadi.
Tanpa perjanjian tertulis atau lisan, mereka selalu bertemu dikantin. Kini Hinata, Sakura, Ino dan Sai sedang berfoto dikantin, lebih tepatnya Sai sedang mengambil foto Hinata, Sakura dan Ino. Sedangkan Naruto dan Sasuke terlihat baru berjalan masuk kedalam kantin. Naruto duduk disebelah Hinata dan Sasuke duduk disebelah Naruto yang juga disebelah Sai.
"Kau masih melaporkan apapun pada instagram?" Tanya Naruto saat Hinata sedang membuka Instagram di hpnya.
"Tidak." Jawab Hinata.
"Hinata hanya mengunggah foto kebersamaan kami." Bela Sakura.
"Hey Naruto, kau tahu Shion mahasiswi jurusan Perfilman?" Tanya Ino.
"Tidak, kenapa?" Tanya Naruto cuek.
"Dia sekarang menggantikan posisi Hinata sebagai selebgram kampus. Kau tidak ingin menolongnya Naruto?" Tanya Sasuke dengan senyum mengandung arti.
"Tidak menutup kemungkinan dia akan bertemu orang seperti Yahiko kan? Jika itu terjadi kau bisa jadi pahlawan lagi." Tambah Sakura ditambah dengan tawa meledek.
"Apa untungnya bagiku? Tunggu saja, mungkin petir akan menolongnya." Jawab Naruto asal. "Hinata saja diselamatkan petir."
"Petir tidak muncul setiap saat Naruto." Ujar Hinata.
"Kalau begitu biarkan elemen lain yang menyelamatkannya." Jawab Naruto.
"Kau pikir Avatar." Ujar Sai.
"Itu lebih baik, haha."
"Bodoh! Sepertinya karena gegar otak kemarin, posisi otaknya jadi bergeser beberapa derajat." Ledek Sasuke disetujui yang lainnya.
"Apa maksud kalian?!" Naruto memasuki mode merajuk tapi itu malah membuat tawa yang lainnya semakin keras.
END
