Chapter ini semuanya bercerita mengenai flashback Draco Malfoy ketika pertama kali masuk Hogwarts saat dia berumur 11 tahun.

Disclaimer: All the characters below are belong to JK Rowling


I'll Give Anything, Chapter 3: Meeting Her

.

"Draco! Sayang! Bangun! Sudah pagi!"

Aku segera terbangun mendengar suara ibu. Tiba-tiba kamarku jadi terang, dan aku segera menyipitkan mataku ketika sinar matahari menyentuh wajahku. Nampaknya ibu membuka gorden jendela lagi. Aku sangat tidak suka saat ibu melakukan hal itu.

"Lima menit lagi…" gumamku lirih sambil menutup mukaku dengan selimut.

Tiba-tiba selimutku ditarik. "Apa kau sudah lupa kalau hari ini kita ke Diagon Alley?"

Mataku segera terbuka lebar mendengar kalimat itu. Oh iya! Kenapa aku bisa lupa?

.

.

.

Diagon Alley sangat penuh sesak hari itu. Jalan dipenuhi oleh anak-anak sebaya denganku, ditemani orang tuanya yang terlihat kelelahan mengikuti anak-anak mereka yang penuh semangat. Sama halnya dengan yang terjadi denganku. Aku menarik tangan ibuku dengan semangat, tak sabar lagi ingin memulai sekolah.

Aku sangat penasaran bagaimana rasanya sekolah. Apalagi aku sangat ingin menjadi pemain Quidditch. Ayah sudah sering melatihku menaiki sapu terbang di halaman kami yang luas. Aku sangat suka terbang, dan ayah bahkan sering memuji kemampuanku. Aku sangat tidak sabar memamerkan kemampuanku di sekolah nanti!

Ayah sendiri sebenarnya lebih ingin aku masuk Durmstrang. Tapi ibu tidak setuju karena dia tidak ingin terlalu jauh denganku. Well, kalau menurutku, di mana saja tidak masalah asalkan aku bisa bermain Quidditch! Ayah juga sudah banyak menceritakan tentang Hogwarts dan bagaimana dia sangat berharap agar aku masuk Slytherin, asramanya dulu, dan ikut tim Quidditch Slytherin. Aku tidak akan mengecewakannya!

Terus terang aku juga tidak sabar untuk banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayaku. Beruntungnya, aku sudah memiliki teman yang kukenali, yaitu Theo dan Vincent yang juga baru masuk tahun ini. Aku mengenal mereka karena orangtua kami berteman dekat. Dengan sudah mempunyai kenalan, aku sangat yakin akan lebih mudah untukku menjadi populer. Aku ingin punya teman yang banyak!

"Draco, pelan-pelan dong"

Ibu nampak kesulitan mengikutiku yang setengah berlari. Padahal sudah kubilang jangan pegang tanganku kalau tidak mau capek. Tapi tentu saja seperti biasa, ibu terlalu khawatir aku akan hilang di tengah kerumunan. Kapan sih, ibu akan berhenti parno seperti itu? Tiba-tiba mataku melihat sebuah toko yang memiliki kaca besar dengan pajangan sapu-sapu terbang.

"TOKO PERLENGKAPAN QUIDDITCH!" teriakku senang. "IBU! AYO KITA KESANA!"

"Nanti ya, Draco. Kita harus ke Gringgots dulu, menemui ayahmu" jawab ibu lembut.

Aku segera mencibir. Ya sudahlah. Lagipula kalau ada ayah, mungkin aku bisa minta rekomendasi sapu terbang yang bagus untuk dibeli. Heran, kenapa ayah ke Gringgots? Apa uang yang dibawa ibu belum cukup? Setauku, dompet yang sekarang ibu bawa ini selalu sudah berisi banyak uang.

.

.

.

"Lucius!" panggil ibu ke ayah. Kami segera menghampiri ayah. Ayah nampak memperhatikan sesuatu dengan muka masam.

"Ada apa?" tanya ibu, mengikuti arah pandang ayah ke salah satu konter bank dengan Goblin yang tengah melayani seorang wanita dengan anak laki-lakinya.

"Wanita itu terus-terusan bertanya mengenai dunia sihir pada Goblin itu" ujar ayah datar. "Padahal Goblin itu sudah berusaha agar dia langsung menyelesaikan urusan untuk mengganti mata uang, namun dia masih terus berceloteh tentang anaknya yang ternyata penyihir"

"Goblin itu memang terlihat sudah lelah" balas ibu.

"Tipikal muggle. Merepotkan saja." Kata ayah dengan tatapan merendahkan.

Aku menatap ibu dan anak itu. Sang ibu terlihat sangat bersemangat menceritakan sesuatu terhadap Goblin itu, yang terlihat sangat tidak tertarik. Sang anak sendiri hanya menatap ibunya sambil mendengarkan, namun tiba-tiba pandangannya bertemu denganku. Dia tiba-tiba tersenyum.

"Draco" panggil ayah tiba-tiba. Aku segera menoleh kepadanya tanpa sempat membalas senyuman anak itu. "Hindari dia. Aku tidak mau anakku berteman dengan Mudblood"

"Baik, Ayah" balasku pelan.

Ayah segera mengajakku keluar dari Gringgots, dan aku kembali menatap ibu dan anak laki-laki itu. Aku selalu tidak mengerti kenapa ayah sangat membenci muggle. Ayah berkata dia lebih benci lagi pada muggleborn, penyihir yang lahir dari muggle. Entah kenapa ayah lebih sering menyebutnya Mudblood. Dan dari yang aku dengar di radio sihir, penggunaan kata 'Mudblood' merupakan kata yang seharusnya tidak pantas digunakan. Tapi bukan ayah saja yang menggunakan kata itu. Teman-teman ayah juga sering menggunakannya, bahkan Theo dan Vincent sering membuat lelucon tentang Mudblood. Ayah bilang, seorang Mudblood tidak pantas menggunakan sihir karena mereka memiliki darah menjijikkan Muggle. Tapi melihat ibu dan anak itu, Draco makin tidak mengerti. Mereka terlihat berpenampilan biasa dan tidak tampak rendah ataupun menjijikan.

.

.

.

Aku sedang duduk setelah selesai pengukuran badan di Toko Jubah Madam Malkin. Aku tidak mengerti kenapa si pelayan toko sangat lama mengambil jubah yang cocok denganku. Tadinya sebelum ke tempat lain, aku langsung mau ke toko perlengkapan Quidditch. Tapi ayah dan ibu melarang dan menyuruhku untuk tinggal di sini sementara mereka membelikan keperluanku yang lain. Ketika aku masih menggerutu, tiba-tiba seorang anak perempuan masuk ke ruang ukur dibimbing oleh salah satu pelayan toko.

"Nah, nona kecil, kau duduk di kursi sebelah sana, nanti akan ada pelayan lain yang mengukur badanmu" kata sang pelayan toko.

"Oke" jawab sang anak kecil berambut coklat tebal itu sambil tersenyum. Dia segera menuju tempat duduk sebelahku dan duduk di sana.

"Hai" sapanya singkat. Aku segera menoleh ke arahnya, dia sedang tersenyum kepadaku. Wajahnya sangat kecil, mungkin karena rambut coklatnya yang sangat lebat-terlalu lebat, bahkan- mengelilingi wajahnya. Aku kemudian tersenyum tipis untuk membalas senyumannya. "Masuk Hogwarts tahun pertama juga?" tanyanya.

"Iya. Kau juga?"

"Begitulah. Aku disuruh menunggu di sini untuk pengukuran badan. Orangtuaku sedang mencari keperluanku yang lain" jawabnya sambil terus tersenyum.

"Sama" jawabku singkat.

"Namaku Hermione Granger" katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.

"Aku Malfoy. Draco Malfoy." Jawabku sambil meraih tangannya. Dia nampaknya tak mengenali nama 'Malfoy'. Apa dia half-blood?

"Aku tidak sabar untuk mendapatkan tongkat sihir dan mulai mencoba mantra-mantra yang aku baca di buku" ucapnya dengan muka bersemangat.

"Ya, aku juga" balasku singkat. "Ngomong-ngomong, apa kau tau Quidditch?"

"Sebentar… sepertinya aku pernah baca tentang itu…" katanya sambil menunjukkan muka berpikir. "Oh! Itu permainan barbar yang menggunakan sapu terbang, kan?"

Barbar. Aku langsung menyeringai mendengarnya. Pilihan kata yang unik. "Well, kalau maksudmu 'barbar' sampai bisa dirawat setahun penuh di rumah sakit, ya benar"

"Aku bahkan membaca dari salah satu buku, pemainnya kadang bisa tewas!" katanya antusias. "Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang mau terlibat permainan bahaya seperti itu"

Aku kembali menyeringai. Entah kenapa aku tidak sebal pada perkataannya. "Maaf saja, tapi aku mau bergabung di tim Quidditch dari asrama Slytherin" balasku.

"Kau mau masuk Slytherin?" tanyanya kaget.

"Ya. Memang kenapa?"

"Aku baca sejarah Hogwarts. Itu memang salah satu rumah yang aku tertarik untuk masuki" jawabnya dengan mata berbinar-binar. "Buku itu mengatakan bahwa rumah itu berisi penyihir-penyihir dengan ambisi tinggi. Sangat menarik! Tapi aku juga ingin masuk Ravenclaw, sih"

Aku agak heran mendengar pernyataan itu. Apa dia benar-benar terpaku dari sudut pandang buku itu saja? Jadi dia tidak pernah mendengar tentang stereotypes orang-orang tentang Slytherin? Aneh… Apa dia tidak memiliki orangtua yang mengajarkannya tentang itu? Well, kalau dia bukan pureblood, setidaknya pasti dia pernah mendengar tentang stereotypes buruk mengenai Slytherin. Ah, kenapa aku terlalu memikirkan hal ini.

"Kau benar-benar banyak membaca ya" kataku sambil tersenyum tipis. "Ayahku sangat berharap aku masuk Slytherin. Keluarga kami secara turun temurun selalu masuk di asrama itu"

"Keluargamu penyihir semua?" tanyanya tertarik. "Jadi kau sudah tau kau penyihir dari kecil?"

"Tentu saja, memangnya kau tidak?" tanyaku heran.

"Ayah dan ibuku muggle" Aku langsung menganga. "Istilah itu benar kan? 'Muggle'?"

"Kau Mudblood!?" Sial. Tanpa sengaja aku menggunakan kata itu di hadapannya.

"Hah? Apa?" tanyanya bingung. Sepertinya dia belum tau apa arti kata itu. Untunglah.

"Tidak. Jangan dipikirkan" balasku pelan. Entah kenapa aku tidak mau bereaksi seperti bagaimana ayahku dan teman-temanku biasanya. Aku tidak tau mengapa… tapi aku merasa hal itu tidak benar untuk dilakukan.

Aku baru saja berinteraksi dengan Mudblood. Ini pertama kalinya. Aku bertaruh ayah akan memarahiku habis-habisan jika tau. Bahkan aku tadi memegang tangannya! Apa sekarang aku akan kena penyakit kulit seperti yang dibilang Theo kalau seorang penyihir menyentuh Mudblood?

"Kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat" tanyanya sambil mengamati wajahku. Aku kembali memperhatikannya, dan entah kenapa dia terlihat sangat normal. Terlalu normal, seperti anak laki-laki tadi.

"Tidak apa-apa" jawabku sambil menelan ludah. Tenang, Draco. Pasti Theo hanya membual seperti biasa.

"Aku senang sekali ketika tau aku seorang penyihir." ujarnya sambil tertawa kecil.

"Hah? Apa?"

"Aku tidak punya teman di sekolah. Mereka menjauhiku, karena aku dikira orang aneh" jawabnya sambil tersenyum. "Itu semua karena aku cerita dengan temanku bagaimana aku tanpa sengaja bisa menghilangkan buku yang sedang kubaca" Dia kembali tertawa kecil.

Aku tidak tega memberitahunya mengenai kemungkinan dia akan dikucilkan karena darahnya. Dia nampak sangat bersemangat.

"Dan aku senang sekali sudah berkenalan denganmu! Sudah lumayan lama aku bisa ngobrol dengan seorang teman" katanya sambil tersenyum lebar.

Teman. Aku tidak tau bagaimana perasaanku tentang itu. Ayahku jelas menentangku untuk berteman dengan seorang Mudblood.

"Aku jadi ingin masuk Slytherin saja, supaya bisa berteman lebih dekat denganmu" katanya polos.

Oh Merlin. Mudblood di Slytherin? Memangnya pernah terjadi?

"Em, Granger? Granger kan?"

"Hermione saja" balasnya ramah.

"Ermm, sebaiknya kau jangan bilang ke orang-orang kalau orangtuamu Muggle"

Dia mengerinyitkan dahinya. "Kenapa tidak?"

"Eh itu… emm… anu… Bulan ini… kudengar Hogwarts sedang menginginkan Muggleborn untuk tim Quidditch pemula di masing-masing rumah" jawabku asal. "Mereka seperti sedang menyamaratakan asal… atau apalah itu. Kau tidak tertarik dengan terbang kan?" Sangat bagus. Kebohongan yang sangat bagus. Aku yakin Theo dan Vincent akan tertawa terbahak-bahak mendengar kebohonganku ini.

"Apa? Yang benar?" tanyanya sambil membelalakkan mata. "Well, lebih baik aku menghindari siapapun yang menanyakan asalku di bulan ini!"

Wow. AKu tidak menyangka kebohongan murahan ini berhasil.

Tiba-tiba, pelayan toko datang membawakan jubahku dengan langkah terburu-buru. "Maafkan aku, tuan muda Malfoy. Aku terlalu lama mencari jubahnya, sangat sulit ditemukan" katanya dengan muka pucat.

"Hah?'Tuan Muda'?" Granger menaikkan alisnya. "Aku tidak tau kau dari golongan bangsawan!"

Aku hanya menyeringai mendengar pernyataan itu, sementara pelayan toko itu menatap Granger heran. "Anggap saja begitu" kataku padanya. "Terima kasih jubahnya. Tenang saja, aku tak akan mengatakan hal buruk mengenai toko ini ke ayahku" ujarku pada sang pelayan.

Ketika aku sampai di pintu keluar, Granger memanggilku. "Tuan bangsawan! Sampai ketemu di Hogwarts!"

Aku menyeringai padanya. "Sampai ketemu juga, Granger"

.


P.S. Jangan lupa review!