Sejak awal Sakura sudah menduga kalau Sai yang tak lain adalah kekasih Ino itu memang sedikit gila. Akan tetapi, Sakura tidak tahu kalau Sai memiliki otak segila ini!

Ruangan yang serba hitam, lampu dengan efek halilintar dan sosok aneh yang sedang komat-kamit di depan sana membuat bulu kuduk Sakura meremang.

"Sai, lebih baik kita pergi dari sini saja." cicit Sakura seraya menarik-narik belakang baju olahraga yang dipakai Sai.

"Tanggung Sak, Hidan senpai sudah hampir menyelesaikan ritualnya." jawab Sai, tangan gadis pink itu sudah dicekalnya agar tidak kabur.

Sakura meringis ketika kakak kelas yang terkenal dengan ilmu spiritualnya itu membuka mata. Kalau sejak awal tahu ide Sai seperti ini, Sakura sudah pasti akan menolak apapun alasannya. Dia rela melepaskan impiannya sebagai seorang designer daripada harus berurusan dengan Hidan Senpai yang super aneh bin sesat itu.

"Bawa ini dan lakukan caranya dengan benar."

Sakura menatap kalung yang disodorkan sang kakak kelas dengan dahi berkerut.

"Senpai bercanda? Kalau kalung seperti ini, aku juga punya banyak! Hadiah dari snack supermarket!"

Merasa diejek, Hidan lekas bangkit berdiri. "Kalau tidak mau ya sudah! Kembalikan kalungnya padaku!" kemudian tangannya disodorkan ke depan, meminta Sakura untuk segera mengembalikan kalung yang diberikannya tadi.

Glup!

Sakura menelan ludah.

Kalau Hidan senpai meminta kalungnya kembali, lalu bagaimana dengan misi hari ini? Bagaimana nasib klub kesayangannya? Bagaimana dengan harga dirinya di depan Kiba dan Naruto?

"Hehe ... Aku bercanda kok, Senpai. Jangan marah yah ..." ujar Sakura seraya cengengesan.

Seaneh apapun kakak kelas di depannya, tapi kalau sudah masalah spiritual, dia tidak bisa diremehkan. Beberapa orang bilang kalau mantra yang dibacakannya ada yang manjur, terutama mantra cinta.

"Errrm ... bagaimana cara kalung ini bekerja?"

"Tidak sulit. Cukup goyangkan tiga kali tepat di depan wajah orang yang ingin kau hipnotis lalu dalam satu menit orang itu akan ada dalam kendalimu."

Sakura membuat raut tidak yakin, "Segampang itu?"

"Ya, memang segampang itu." jawab Hidan seraya memberikan tatapan mematikan pada gadis pink keras kepala di depannya saat ini. Seperti Visi yang telah ia buat, tidak ada satupun orang yang boleh meragukan keahlian yang super limited edition-nya. "Kau tidak percaya?"

Sakura kembali memamerkan gigi putih nan rapinya. "Aku percaya kok. Ya sudah yah, Senpai, aku harus kembali ke kelas. Terimakasih atas bantuan dan kalung ajaibnya!" ujar Sakura sebelum melesat pergi dari ruangan super aneh itu.

"Hey, aku belum selesai bicara!" teriak Hidan namun sayang sekali gadis itu sudah menghilang dibalik pintu.

"Dia sudah pergi, katakan saja padaku nanti akan aku sampaikan pada Sakura." kata Sai yang kebetulan masih berada di sana.

"Mantranya hanya bekerja selama 5 jam saja, setelah itu sang korban akan sadar dengan sendirinya."

"5 jam saja?" Hidan mengangguk tak enak. "Baiklah. Terimakasih senpai atas bantuannya, aku akan pergi menemui Sakura sekarang juga."

.

.

.

Sakura heran, kenapa di sekolah ini ada klub semacam itu? Dan kenapa klub tidak bermanfaat itu masih saja dipertahankan padahal anggota klubnya saja tidak ada. Sedangkan dirinya ... ? Ah, sudahlah. Kalau mengingat kejadian dimana klubnya diancam akan dibubarkan oleh si pantat ayam itu, mood-nya langsung jadi tidak karuan.

Berbelok ke kanan, Sakura merasa bahwa ini seperti D'javu. Sasuke dengan gaya high class-nya baru saja berbelok ke koridor di mana dirinya saat ini berjalan. Mata setajam burung elang dibalik lensa kacamata itu terlihat waspada. Kaki panjangnya seakan tidak pernah ragu untuk terus melangkah ke depan.

"Sasuke!"

Sakura ingat bagaimana kejadian kemarin. Masih sangat jelas di matanya bagaimana Sasuke berhenti sebelum mulai menatapnya begitu intens. Saat ini pun Sakura mengalami kejadian yang sama. Hanya saja bedanya kemarin dada Sakura terasa panas karena perlakuan brengsek cowok itu yang melempar proposalnya ke kolam ikan, namun kali ini ... Sakura merasa jantungnya berdegup kencang.

"Apa?" tanya Sasuke dengan tatapan datar seperti biasanya dan nada suaranya terdengar begitu malas, seolah bicara dengan Sakura adalah hal yang paling membosankan.

Bukannya meminta maaf atas kejadian kemarin sore, Sakura justru merogoh saku roknya kemudian memperlihatkan kalung yang diberikan Hidan tepat di depan wajah Sasuke.

"Lihat, aku mendapatkan kalung ini dari Hidan senpai!"

Kalau saja mata Sakura jeli, maka dia akan melihat sedikit perubahan ekspresi di wajah sedatar papan tulis Sasuke. Kalau saja tatapan Sakura tajam, maka dia akan melihat bibir cowok itu sedikit merengut.

"Tck, kalung murahan seperti itu bisa aku beli 50 biji kalau aku mau, Haruno."

Dan kalau saja Sakura peka, maka dia akan mendengar nada ketidaksukaan pada suara Sasuke.

"Ini bukan kalung bisa tahu!" omel Sakura, dia mengerucutkan bibirnya sebagai tanda protes atas ucapan menyebalkan Sasuke barusan. "Kalung ini sudah dibacakan mantra oleh Hidan Senpai., tahu! Siapapun yang melihat kalung ini selama 3 kali goyangan maka orang tersebut akan terhipnotis."

Sasuke mengangkat satu alisnya sebelum berdecak geli. Apa yang baru saja Sakura katakan? Kalung itu bisa menghipnotis? Tck, yang benar saja!

"Lebih banyaklah minum vitamin agar otakmu bertambah cerdas, Haruno." ejek Sasuke lalu menjentikkan jarinya pada jidat lebar gadis itu.

"Aw!" Sakura merengut, tangannya sibuk menggosok jidatnya yang terasa panas. "Kau tidak percaya?"

"Hanya orang bodoh yang mau percaya pada Hidan." sahut Sasuke seraya berlalu pergi.

Sakura menganga. Apa yang barusan Sasuke katakan padanya?

"Enak saja! Aku tidak bodoh!" seru Sakura. Lama-lama kesal juga bicara dengan cowok macam Sasuke. "Bilang saja kalau kau takut, Sasuke."

Sakura mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, tig- taraaaa ... Sasuke menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik badan untuk kembali menatapnya.

"Apa mau-mu, Sakura?" suara Sasuke terdengar kesal. Sejak dulu Sasuke memang tidak suka diejek apalagi diremehkan.

Sasuke pernah memanjat pohon setinggi 3 meter saat SMP gara-gara Sakura ejek takut ketinggian. Sasuke juga pernah menyanggupi tantangan untuk lomba berenang dengan Naruto hanya karena Sakura suka mengejek dirinya tidak bisa berenang walau pada kenyataannya Sasuke memang tidak bisa berenang.

Entah marah karena selalu dipermainkan oleh dirinya atau karena alasan lain, semenjak itu Sasuke jadi sedikit menjauh, bahkan cenderung tidak mau berbicara pada Sakura.

Baiklah, baiklah. Apa yang dilakukannya saat itu memang sangatlah fatal karena setelah itu Sasuke harus dirawat di rumah sakit karena terlalu banyak air yang masuk ke dalam paru-parunya. Tapi, Sakura juga mendapat hukuman dari orangtuanya, dia tidak mendapatkan uang jajan selama 2 bulan dengan dalih uang jajan Sakura digunakan untuk biaya inap rumah sakit Sasuke selama dua minggu.

"Tidak ada," senyum meremehkan terbit begitu menyebalkan di bibir Sakura, "aku tahu kok kalau kau memang takut makanya aku tidak memaksamu untuk mencobanya, Sasuke." Iris kelam Sasuke menyipit, ucapan Sakura barusan sukses membuat ego seorang Uchiha tersentil keras.

"Uchiha tidak pernah takut pada apapun." tandasnya tanpa pikir panjang.

Rasa puas tentu saja terpampang jelas pada kilat mata Sakura karena targetnya benar-benar masuk dalam perangkap yang ia buat.

"Kalau begitu buktikan, Uchiha."

Sasuke maju beberapa langkah hingga tubuhnya benar-benar berdiri di depan tubuh gadis berambut gulali itu. Jemari panjangnya bergerak ke atas untuk melepaskan kacamata yang bertengger nyaman di pangkal hidungnya.

"Lakukan." ujar Sasuke sungguh-sungguh.

Oh, Kami-samaaa ... Haruskah Sakura berteriak? Iris kelam itu ketika ditatap langsung tanpa terhalang lensa kacamata ternyata begitu memabukkan. Jika yang di depan Sasuke saat ini bukan Sakura -si gadis dengan harga diri tinggi- mungkin gadis itu sudah meleleh ke tanah kemudian hilang terbawa angin.

"Lihat ke depan dan perhatikan gerak kalungnya, Sasuke." Sakura sudah memposisikan kalung pemberian Hidan Senpai di depan wajah Sasuke. "Pada hitungan ketiga kau akan mendengarkan semua perintah dariku, kau mengerti?"

Sakura berdoa dalam hati semoga kalung yang diberikan Hidan itu berhasil 100%.

"Satu ... Dua ... Tiga!" Sakura tersenyum puas karena setelah hitungan ketiga, tubuh Sasuke langsung berubah seperti patung. "Sasuke, mulai detik ini kau ada dibawah kendaliku, apapun yang aku katakan atau aku perintahkan maka akan kau kabulkan. Kau mengerti? Jika mengerti anggukkan kepalamu." Sasuke menganggukkan kepalanya, "baiklah Sasuke, sekarang aku minta kau pakai kacamata-mu setelah itu kembalilah ke kelas, istirahat nanti temui aku di kantin dan jangan lupa bawa stempel dewan murid."

Sakura hampir saja menjerit histeris ketika melihat Sasuke melakukan apa yang baru saja diperintahkan olehnya. Cowok sok cool itu kembali memasang kacamatanya kemudian mulai berbalik pergi menuju kelasnya.

"Sasukeeee! Jangan lupa istirahat nanti temui aku di kantin! Kau dengar itu? Kalau kau dengar lambaikan tanganmu ke atas sebagai persetujuan!" dan ... tangan cowok rambut pantat ayam itu benar-benar melambai ke arahnya. "Hahaha astaga ... ternyata benar-benar berhasil. Aku jadi merasa bersalah karena sempat meragukan kemampuan Hidan Senpai."

"SAKURA! KAU MASIH MAU BERDIRI DI SANA ATAU MASUK KELAS?!"

Oh, tidak!

Sakura menoleh ke arah kelasnya dan tepat di depan pintu masuk sudah ada Orochimaru Sensei.

"Ya Tuhan, aku lupa kalau jam kedua adalah kelasnya Oro-Sensei dan lebih sialnya lagi aku juga lupa mengerjakan PR biologi! Matilah aku!" Sakura menggerutu kecil seraya menyeret kakinya menuju kelas.

.

.

.

Anggaplah kalau hari ini adalah hari keberuntungan Sakura. Pertama, dia berhasil menghipnotis Sasuke. Kedua, dia bebas dari hukuman Oro-Sensei.

Sakura sempat berpikir kalau guru Biologi super nyentrik itu sedang menang lotre atau semacamnya sampai dia mau mengampuni anak-anak yang tidak mengerjakan PR Biologi karena pada keadaan normal, jangankan tidak mengerjakan PR, telat 5 menit masuk kelas saja sudah ditendangnya jauh-jauh dan lapangan utama sudah memberi kedipan genit ingin segera merasakan sejauh mana kecepatan kakimu berlari mengelilinginya.

Sekarang sudah memasuki jam istirahat. Sakura dengan anteng duduk di meja favoritnya. Ino sedang memesan beberapa makanan, mungkin itu adalah bentuk rasa terimakasih Ino atas kerja kerasnya dalam memperjuangkan klub mereka.

"Sakura."

Tubuh Sakura berjengit kala suara yang teramat sangat ia kenal baru saja menggumamkan namanya. Tekanan dan nada suara ini berbeda dari biasanya, sangat berbeda.

Menoleh ke belakang, saat itu juga Sakura lupa bagaimana caranya untuk bernapas dengan normal. Atau sebenarnya bukan hanya Sakura saja yang mengalami sesak napas dadakan ini? Karena jika menatap sekitar, maka Sakura akan mendapati seluruh penghuni kantin yang sebelumnya sibuk membantai makanan di atas piring maupun yang sedang sibuk menggosip tiba-tiba saja diam tanpa suara dan tanpa bergerak secuil pun.

"Sasuke? Kau benar-benar datang ke kantin?" suara Sakura begitu skeptis.

Tidak, kalau saja yang datang ke kantin adalah Gaara atau Pein senpai, mungkin Sakura ataupun yang lainnya tidak akan merasa sebegini anehnya. Yang menjadi objek pembicaraan saat ini adalah Sasuke, oke? Cowok yang bahkan ogah melirik kantin sekolah yang padatnya sudah menyaingi pasar swalayan. Cowok yang bahkan setiap mau duduk akan menyemprotkan anti septik dan cowok yang setiap sehabis olahraga akan segera mandi agar badannya tetap terjaga dari bau keringat itu bahkan sedang menyunggingkan senyum padanya. Dan ... saat melihat Sasuke melangkahkan kaki ke dalam kantin sama mustahilnya dengan mendengar berita Tokyo diterpa badai pasir. Sangat aneh dan langka sekali.

"Klau ingatanku bagus, Sakura, kau yang memintaku untuk datang ke sini?"

Sakura menelan ludah, "Iya. Tapi ... aku kira kau tidak akan datang. Kau tahu, kantin sangat penuh dan banyak anak-anak sehabis olahraga yang bau keringat, lalu-"

"Tapi kau tidak bau, Sakura." Potong Sasuke sebelum mendudukkan dirinya tepat di bangku berhadapan dengan Sakura. "Ini, stempel dewan murid yang kau minta."

Stempel dewan murid. Stempel dewan murid. Dia bilang dengan gamblang 'Ini, stempel dewan murid yang kau minta.' Tolong, katakan kalau saat ini Sakura memang sedang bermimpi, Kami-sama.

Wajah yang biasanya terlihat seperti papan penggilasan mahal itu kini terlihat begitu santai. Tidak ada kerutan di dahi dan tidak ada tatapan menyipit. Kalau Sakura tidak salah ingat, inilah tampang Sasuke saat kelas 1 SMP dulu.

"Kau yakin akan memberikan stempel itu padaku, Sasuke?"

"Kau tidak jadi pinjam?"

"Bukan, maksudku ... ya, akan kupinjam sebentar. Nanti akan aku kembalikan lagi padamu."

Sasuke tidak memberikan komentar namun anggukan kepalanya membuat Sakura sedikit senang dan sedikit was-was.

'Kenapa dia masih tetap di sini?' Batin Sakura mengerang kala sosok cowok di seberang meja belum juga ada tanda-tanda akan pergi. 'Dia tidak mungkin duduk di sana sampai jam istirahat selesai, 'kan?'

"Kau sudah memesan makanan, pinky?"

Sakura sedikit salah tingkah. Kalau dihitung-hitung sudah teramat lama sekali dari terakhir kali Sasuke memanggilnya dengan sebutan itu. "Sudah. Ino sedang mengantri untuk pesanan kami."

Tatapan yang seperti itu ... Sakura menggigit bibirnya untuk meredam lonjakan aneh pada dadanya saat ini.

"Oh, Kami-sama!"

Sakura tersentak kaget kala suara melengking Ino tiba-tiba saja muncul tak jauh dari dirinya. Rupanya gadis pirang itu sudah selesai memesan makanan dan sekarang tengah berdiri di sampingnya sambil menatap keberadaan Sasuke di kursi seberang dengan pandangan super horor, seakan keberadaan cowok itu adalah suatu malapetaka atau bencana atau bisa jadi seperti makhluk luar angkasa yang nyasar di bumi.

"Hai, Yamanaka." sapa Sasuke tak acuh pada ekspresi berlebihan Ino semenit yang lalu.

"Hai, Yamanaka dia bilang?" ulang Ino seraya menatap Sakura dengan tatapan menyipit lalu kembali menatap Sasuke di seberang meja dengan tatapan curiga.

Teringat dengan ucapan sang pacar beberapa jam yang lalu, Ino segera menarik lengan Sakura. Sejak di kelas tadi dia tidak punya kesempatan untuk bicara dengan sahabat berjidat lebarnya itu gara-gara Sakura terlalu sibuk menyombongkan diri pada Naruto dan Chouji kalau dia berhasil mendapatkan stempel dewan murid.

"Sakura, ada yang ingin aku katakan, ini tentang Sasuke." bisik Ino tepat di telinga Sakura agar tidak terdengar oleh sosok di seberang meja yang saat ini tengah menyipitkan matanya curiga.

"Hn? Apa?"

"Tentang penghipnotisan Sasuke, Sai bilang kalau itu- hmmmpt!" ucapan Ino tidak terselesaikan karena tangan Sakura dengan kecepatan super kilat membungkam mulut gadis pirang itu.

Bagaimana kalau sampai terdengar Sasuke? Bisa gawat, kan?

"Ino, diam dan makan saja makananmu!" omel Sakura seraya mencubit pipi Ino dengan tangan yang satunya lagi.

Ino mengerang marah, kedua tangan Sakura yang berada di mulut dan di pipinya segera ia singkirkan. "Sakura, berani mencubit pipiku sekali lagi akan kulempar sepiring Takoyaki!"

Sakura terkekeh. Dia selalu senang menggoda Ino dengan cara mencubit pipinya. Gadis itu terlalu terobsesi dengan kesempurnaan fisik. Ino selalu marah dengan alasan takut nanti Pipi-nya akan mengendur kalau terlalu sering ditarik-tarik. Dan coba lihat apa yang dipesan gadis pirang itu untuk makan siangnya. Ino hanya memesan makanan kelinci, oh Kami-sama.

Suara bangku yang ditarik mundur sontak menghentikan kekeh geli Sakura. Dia mendongak ke depan dan mendapati Sasuke sudah berdiri dari tempat duduknya.

"Kau mau pergi? Kau tidak mau makan siang dulu dengan kami?" ada rasa tak rela melihat si arogan Uchiha itu pergi. Kapan lagi kan ada kesempatan nongkrong bareng di kantin seperti ini jika dia dalam keadaan normal?

Sasuke terkekeh dan ini benar-benar keajaiban super langka. Sakura buru-buru mengambil ponselnya kemudian mengarahkan kamera tepat di depan wajah Sasuke yang masih menyunggingkan senyum geli.

"Sejak kapan seorang Haruno Sakura mau membagi makanannya dengan orang lain?" dan ejekan ringan seperti ini pun baru pertama kalinya Sakura dengar. "Lain kali saja Sakura, aku sudah ada janji dengan anggota dewan siswa lainnya." sambung Sasuke seraya menjentikkan jemarinya di jidat lebar Sakura. Membuat gadis pink itu sontak mengaduh kesakitan. "Dan Sakura, simpan foto tadi untuk dirimu sendiri, jangan disebarkan pada orang lain! mengerti?" setelah itu dia benar-benar pergi dari kantin.

Seperti jam pengatur waktu. Setelah Sasuke lenyap maka isi kantin kembali riuh dengan aktivitas sebelumnya. Ada yang bercanda, sibuk berebut makanan, menggosip dan ada pula yang tidur, seperti Shikamaru contohnya.

Selain itu, ada ... hati yang tidak bisa berhenti berdebar.