Title : A Love from Snow

Cast : VIXX Ken and Leo

Pairing : KEO

Genre : Romance

Rate : T

Chapter : 3/3

A Love from Snow


Siang, malam, hingga mentari kembali menerangi cakrawala, Jaehwan masih mengunci diri di kamarnya. Tak ada niatan sedikit pun untuk keluar dari persembunyiannya. Tidak berangkat sekolah, bahkan untuk keluar makan saja enggan. Keberadaan Leo yang membuatnya demikian. Ia pikir, bila Leo memang harus pergi, maka tak ada baiknya ia bertemu dengan pria itu. Jaehwan tak mau perasaan sayangnya justru makin meluap. Karena bagi Jaehwan, bertemu dengan Leo sedetik saja akan menambah presentase rasa sayangnya pada sosok itu. Dan Jaehwan tak mau di saat Leo benar-benar harus pergi nanti, perasaannya yang sudah sangat dalam itu membuatnya sakit. Lebih sakit dari yang ia rasakan sekarang.

Di sisi lain, Leo masih berusaha membuat Jaehwan keluar dari kamarnya. Mengingat kondisi Jaehwan yang tengah murung, ditambah meninggalkan sarapan, makan siang, dan makan malam selama dua hari, Leo takut kesehatan anak itu menurun dan jatuh sakit. Parahnya lagi, ia bisa saja mati kelaparan di dalam sana. Berkali-kali Leo merayu Jaehwan menggunakan acara TV favoritnya, atau membelikan Jaehwan CD film yang ingin sekali ditontonnya, atau membuatkan makanan kesukaannya, dan banyak cara lain yang ia lakukan. Tapi tak ada satu pun dari cara-cara tersebut yang menumbuhkan keinginan Jaehwan untuk melangkah keluar kamar atau sekedar membuka pintu untuk Leo masuk.

Dan akhirnya Leo tahu, bahwa apa yang ia lakukan selama ini salah. Bahwa semua ini hanya berakhir dengan dirinya menyakiti Jaehwan. Padahal sebelum pertemuan mereka, Jaehwan sudah cukup tersakiti.


A Love from Snow


Leo kembali berdiri di depan pintu itu. Kali ini tak seperti biasanya, tak ada keinginan dalam dirinya untuk membujuk Jaehwan keluar dari kamar. Ia ingin mengikuti kemauan anak itu. Mungkin Jaehwan akan keluar dan menjalani hari-harinya seperti biasa, bila Leo benar-benar sudah pergi.

Menghela nafas sejenak, tangannya perlahan mulai naik dan mengetuk pintu putih itu.

"Jaehwan-ah," Seperti dua hari sebelumnya, masih tak terdengar jawaban apa pun dari lelaki di balik pintu itu. Tapi Leo tak berhenti meluruskan niatnya. "Jaehwan-ah, aku minta maaf kalau kepergianku membuatmu terpukul. Tapi aku benar-benar tak bisa berbuat lebih. Aku tetap harus pergi."

Tak ada jawaban.

Leo merutuki dirinya sendiri. Jaehwan tahu pasti akan hal itu. Untuk apa pula Ia menghabiskan waktu untuk menjelaskan?

"Tidak apa-apa, kalau kau tak ingin menyaksikan kepergianku. Aku juga tak mau kau makin sedih setelahnya. Atau, sebaliknya? Apa kau akan sedih bila aku pergi?"

Leo mengulas sebuah senyum pahit di bibirnya. Memikirkan kemungkinan itu, sungguh membuatnya sakit.

Tes
Tes
Tes

Dua, tiga air mata jatuh tanpa disadari sang pemilik mata musang itu. Yang Ia tahu hanya dirinya benar-benar merasa bersalah pada anak itu. Yang saat ini mungkin menganggapnya sosok paling hina di muka bumi ini, dan yang mungkin tak sedikit pun mendengarkan apa yang Ia beberkan panjang lebar sejak tadi.

"Mungkin sekarang kau berharap agar aku cepat pergi dari sini. Mungkin dengan begitu, kau akan bisa keluar dari kamar tanpa harus melihat tampangku. Aku harap begitu." Leo menyandarkan keningnya pada permukaan kayu putih di hadapannya. Tangisannya mulai terdengar makin kencang. Tapi itu tak menghentikan apa yang ingin hatinya katakan. "Jaehwan, bagaimana kalau kita buat perjanjian? Aku janji aku akan pergi tepat setelah ini. Tapi kau juga harus berjanji, bahwa tepat setelah aku pergi kau akan keluar dari kamar. Kau harus lakukan aktivitasmu seperti sedia kala. Mandi, makan, berangkat sekolah, bahkan aku ingin kau berjanji untuk bermain dengan teman-teman barumu itu. Lakukan semua itu untuk kebaikan dirimu sendiri, Jaehwan. Lupakan aku, anggap aku tak pernah muncul sedetik pun dalam hidupmu."

Kali ini isak tangis terdengar tak hanya dari sosok di ambang pintu. Melainkan dari dalam kamar, terdengar suara tangis yang bahkan terdengar lebih kencang, lebih hebat, lebih menyedihkan. Sepertinya Jaehwan sudah tak bisa lagi membendung tangis yang sedari tadi Ia tahan. Anak itu tak ingin terlihat lemah, tak ingin Leo tahu bahwa dirinya tak bisa melepas kepergian sosok itu. Tapi Leo tahu, bahwa perasaan Jaehwan benar-benar tak ingin dirinya pergi. Leo tahu, karena begitu pula yang Ia rasakan. Memang siapa yang mau berpisah dengan orang yang selama ini kau anggap sangat berarti dalam hidupmu? Orang yang selama ini mengangkat semangatmu dalam menjalani kehidupan yang kejam? Orang yang kau cintai...

Leo tersenyum pahit ketika mendengar deru tangis Jaehwan. Dihapusnya seluruh air mata yang membasahi wajahnya, kemudian kembali berdiri tegap. Sejujurnya, Ia tak ingin tersenyum karena Ia tak suka ketika anak itu menangis. Tapi baginya, deru tangis Jaehwan kali ini cukup membuatnya lega. Karena paling tidak, Jaehwan masih mau merespon apa yang Ia katakan, dan akhirnya Ia tahu bahwa Jaehwan masih sadar di dalam sana.

"Aku anggap itu sebagai tanda 'setuju'" gumamnya. Tangannya kembali naik untuk mengelus permukaan kayu di hadapannya, berharap itu dapat tersampaikan pada Jaehwan. "Aku pergi sekarang, Jae... Selamat tinggal. Aku mencintaimu..."


A Love from Snow


Sepuluh menit berlalu sejak Jaehwan terakhir mendengar suara pintu apartemennya tertutup. Leo pasti benar-benar sudah pergi. Entah ada perasaan lega dari mana, yang pasti sekarang Jaehwan ingin memastikan bahwa dirinya sudah sendiri di apartemennya. Ia ingin memastikan apa sosok itu benar-benar sudah pergi.

Kakinya yang hanya terbalut kaus kaki dan slippers mulai menapaki kembali lantai yang dingin. Ia mengambil langkah pelan dengan tatapan lurus ke arah pintu. Seolah ada sesuatu yang menakutkan dan membuatnya penasaran di balik sana. Tangannya mulai menggenggam besi dari gagang pintu. Hatinya terbelah dua. Antara berharap sosok tadi benar-benar sudah tak berkeliaran di rumahnya sehingga ia bisa berkeliling rumahnya sendiri dengan leluasa, atau berharap bahwa suara tutup pintu tadi hanya tipuan dan ketika Jaehwan membuka pintu Ia akan menemukan sosok itu tersenyum hangat kepadanya.

Entahlah, Jaehwan tak yakin yang mana yang akan membuatnya senang. Ia perlu memastikan.

Jaehwan akhirnya membuka pintu kamarnya. Lirik kanan, lirik kiri. Keadaan sepi dan tak terdengar suara apa pun selain nafas dan langkahnya sendiri. Jaehwan menghela nafas, kemudian dengan pasrah keluar dari kamar.

Ia melangkah menuju dapur, berniat membuat secangkir hot chocolatte. Siapa tahu itu dapat menghangatkan hatinya yang masih dingin. Tangannya mengaduk cangkir, namun matanya tak terfokus pada objek di tangannya tersebut. Ia memandangi sebuah kursi. Sebuah kursi yang mana selalu Ia temukan tengah diduduki oleh Leo setiap pagi dengan secangkir kopi di tangannya. Sebuah kursi dimana Leo selalu memberinya senyum yang jarang Ia tunjukkan sembari berkata, "Selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak?", Atau, "Aku sudah membangunkanmu berkali-kali, tapi kau tak bergerak sedikit pun," setiap Jaehwan menggerutu karena terlambat bangun.

Jaehwan menggeleng kepalanya, mencoba membuang kenangan-kenangan itu. Sesuai kata Leo, "Lupakan aku, anggap aku tak pernah muncul sedetik pun di hidupmu." Jaehwan ingin mengabulkan itu. Demi dirinya, dan demi Leo.

Usai mengaduk rata minuman hangat di depannya, dibawanya cangkir itu menuju ruang tengah. Baru hendak mendudukkan diri di sofa, otaknya kembali bermain-main.

Kembali Jaehwan teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat Ia memberikan cokelatnya kepada sosok yang bahkan pada awalnya salah sangka pada siapa cokelat itu akan diberikan. Saat Ia menyatakan perasaannya pada makhluk yang baginya tak pantas untuk Ia cintai. Saat Ia akhirnya tahu, bahwa perpisahaan dengan sosok itu pasti terjadi.

Tidak! Jaehwan tak ingin menangis lagi. Matanya lelah. Bahkan mungkin sudah tak ada lagi air mata yang tersisa. Lebih baik Jaehwan tak mendekati ruangan ini untuk beberapa saat.

Jaehwan memutuskan untuk membawa cangkir dan langkahnya menuju balkon. Berniat menikmati minuman hangatnya sembari menyaksikan musim semi yang mulai mekar di kota.

Jaehwan membuka pintu balkon. Detik itu pula ia menyesal. Adegan bersama Leo saat tahun baru kembali terukir di hadapannya. Ketika Ia membuat harapan agar Leo bisa selamanya menemaninya. Dan ketika Leo mengucapkan harapan yang sama. Benar saja, itu semua hanya harapan. Jaehwan tak tahu mengapa Tuhan tak mengabulkan permohonannya itu. Tapi Ia memang tahu bahwa 'untuk hal yang berhubungan dengan perpisahan, Tuhan tak bisa mengabulkan. Perpisahan itu pasti terjadi.' Sepertinya Jaehwan ingat siapa yang mengatakan itu padanya.

Jaehwan menarik nafas sekuat dan sedalam mungkin. Lupakan, Jaehwan! Lupakan siapa pun yang mengatakan hal itu! Ditahannya air mata yang nyaris jatuh. Ia tak mau lagi tenggelam dalam kesedihan. Ya, Jaehwan harus bisa kuat tanpa sosok itu. Jaehwan kini punya teman-teman yang akan menemani kehidupannya di sekolah. Ia tak butuh lagi sosok itu. Ia akan tersenyum mulai besok ketika masuk sekolah, keesokannya lagi, dan selamanya. Jaehwan akan menjalani hidupnya yang baru tanpa beban.

Setelah yakin air mata tak akan jatuh lagi, Jaehwan mulai mengangkat tangannya yang meggenggam cangkir minumannya. Lebih baik sekarang ia menghangatkan diri dengan hot chocolate, minuman favoritnya di cuaca dingin.

Srut

Jaehwan terdiam. Bukan karena rasa panas yang tiba-tiba menyentuh lidahnya. Namun sebuah rasa yang tak Jaehwan harapkan. Jaehwan membuat kesalahan, dan tak menyadarinya sampai detik ini. Cairan panas dalam cangkirnya bukanlah Hot Chocolatte. Melainkan Latte.

Latte.

Latte.

Latte.

Leo sangat suka kopi latte. Ia bisa menghabiskan empat sampai enam cangkir minuman itu. Jaehwan sering terbangun dengan sosok yang tengah membuat atau menyeruput secangkir latte. Begitu pun ucapan 'selamat malam' yang Jaehwan dengar setiap malam sebelum memasuki kamar.

Oh Tuhan! Tak adakah satu ruangan pun di apartemennya yang tak mengingatkannya akan sosok itu? Air mata Jaehwan kembali runtuh. Sama dengan runtuhnya pertahanan atas kenangan-kenangan akan sosok Leo. Jaehwan masih memenangkan keinginan hatinya untuk bersama sosok itu. Ya, sudah tak bisa dipungkiri lagi. Jaehwan masih menginginkan keberadaan Leo.

Tanpa pikir panjang lagi, entah sadar atau tidak, Jaehwan melepas genggaman pada gagang cangkir di tangannya. Kakinya mulai berlari menuju pintu depan, meninggalkan pecahan beling yang berserakan di pintu balkon. Jaehwan melewati begitu saja jaketnya yang tergantung dan sepatunya yang tergeletak di dekat pintu. Masih dengan piyama dan slippers-nya, laki-laki yang duduk di kelas tiga SMU itu berlari keluar gedung apartemen. Jaehwan sudah tak peduli dengan udara awal semi yang masih terbilang ia harapkan hanya satu. Semoga tubuh boneka salju itu masih ada disana.


A Love from Snow


"Kumohon, kumohon, kumohon…"

Jemari-jemari itu terus bergerak tanpa terlapisi apa pun. Sang pemilik tak peduli tangannya memerah akibat aliran darahnya yang mulai membeku. Dinginnya sisa-sisa salju yang mulai mencair itu tak mematahkan semangat Jaehwan untuk membuat manusia salju yang baru. Meski bongkahan salju itu kini sudah tak setebal beberapa minggu yang lalu, Jaehwan sudah berhasil membuat dua manusia salju dengan ukuran mini. Berharap dengan itu, sosok yang ia ingin temui itu akan muncul. Tapi nihil.

Jaehwan tak menyerah. Meski manusia salju ukuran mini yang kedua itu seharusnya sudah cukup membuktikan bahwa usahanya sia-sia, Jaehwan tak berpikir demikian. Justru tangannya mulai bergerak untuk membuat yang ketiga.

Dari sudut pandang semua orang yang berada di taman saat itu, Jaehwan hanya tampak seperti orang aneh yang masih bermain dengan salju yang tak seberapa dengan hanya mengenakan piyama dan slippers. Jaehwan tak peduli. Fokusnya hanya pada keinginan akan kembalinya sosok itu. Yang tak Jaehwan ketahui, dari beberapa orang di taman itu, ada satu sosok yang menatapnya iba. Tatapan itu penuh rasa bersalah. Tak tahan lagi melihat sosok Jaehwan berlutut mengais-ngais dinginnya sisa-sisa salju itu dengan tangan kosong.

Hatinya terbelah dua. Antara harus membiarkan Jaehwan seperti itu agar semua yang ia lakukan akan berjalan sesuai rencana. Atau berlari mendatangi sosok itu, mendekap tubuhnya dan memberi kehangatan sebanyak yang ia bisa. Kedua opsi itu menjadi tantangan yang berat baginya. Opsi pertama, membuatnya khawatir akan kesehatan Jaehwan. Namun ia tak yakin akan opsi kedua. Karena ia pasti harus megatakan yang sebenarnya kepada sosok yang selama ini sudah ia bodohi, dan ia tak tahu bagaimana Jaehwan akan bereaksi nantinya.

Ah, bukankah opsi pertama akan membuatnya tampak egois? Bukan berarti juga Jaehwan akan tahu betapa egois dirinya. Tapi dadanya sudah terlalu sesak melihat keadaan Jaehwan saat ini. Rasanya seperti dirinya yang justru akan mati kedinginan di tempat. Maka opsi kedualah yang akan ia ambil.

Kakinya mulai berlari keluar dari tempat persembunyiannya di pojok taman itu. Sembari membelah angin, dilepasnya coat putih yang ia kenakan. Ketika langkahnya berhenti di belakang tubuh lemah itu, tanpa tunggu lama lagi, ia sampirkan coat-nya di punggung itu dan langsung memeluknya.

Jaehwan yang hampir menyelesaikan boneka salju ketiganya, sedikit menjerit kaget, tak mengetahui siapa yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tapi nalarnya memberi tahu bahwa satu-satunya orang yang akan melakukan ini padanya hanya satu.

"Leo?" Gumamnya sembari membalikkan tubuh.

"Kumohon hentikan, Jaehwan..." Suara Leo terdengar lirih, seolah ia akan menangis. "Ini semua salahku. Tolong jangan tersiksa karena kesalahanku."

"Le- Leo... Kau masih ada disini?" Tangan kaku Jaehwan bergerak menyentuh pipi Leo. Dapat sosok itu rasakan betapa dinginnya jemari-jemari pucat itu. Makin tak kuasa ia menahan air matanya. "Apa permohonanku terkabul? Leo, apa Tuhan mengabulkan permohonanku?"

Air mata Jaehwan makin deras membasahi wajahnya. Suaranya bergetar, entah akibat tangis atau tubuhnya yang menggigil. Tapi Leo dapat lihat anak itu tersenyum lega namun lemah. Bibirnya pucat dan mulai membiru.

Tidak, ia tak bisa membiarkan Jaehwan berdiam di tengah dingin begini lebih lama.

Tanpa kata, Leo langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Jaehwan. Ia menjongkokkan tubuhnya di depan anak itu. "Leo, apa yang kau lakukan?"

Leo belum ingin menjawab. Ia tak bisa berbicara selagi tangisnya masih menderu. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, tangan Leo menarik paksa Jaehwan agar naik ke punggungnya.

"Le- Leo! Apa yang-"

"Akan aku jelaskan semua bila kau sudah tak membeku."


A Love from Snow


Sesampainya di apartemen, Leo mendudukkan Jaehwan di sofa, meninggalkan anak itu terduduk kebingungan dengan tubuh yang menggigil dan wajah yang sangat pucat. Sedangkan dirinya berjalan menuju dapur, mengambil sebuah cangkir dan mulai membuat hot-chocolatte. Matanya menangkap pecahan gelas di dekat balkon. Leo tak mengerti apa yang terjadi, yang pasti ia yakin gelas pecah itu akibat dirinya.

Keadaan hening untuk beberapa saat. Hanya suara dentingan dari sendok dan gelas yang ada di tangan sosok pirang itu. Tak lama, Leo Kembali ke ruang tengah tak hanya dengan secangkir minuman hangat, namun juga sebuah selimut. Diletakkannya cangkir itu di meja sebelum menyelimuti Jaehwan di sofa. Setelah yakin selimut itu menutupi seluruh tubuh Jaehwan, Leo akhirnya memberikan minuman hangat itu padanya, kemudian duduk di sampingnya.

Leo menatap wajah pucat Jaehwan. Dalam hatinya, ia masih tak tahu apa yang harus ia katakan bila Jaehwan menanyakan bagaimana dirinya masih ada di dunia ini atau semacamnya. Selain itu, tatapannya iba melihat Jaehwan dengan begitu lega meneguk minuman hangat itu. Perlahan dapat ia lihat kulit pucat Jaehwan mulai memerah. Jaehwan sendiri tak mengatakan apa pun. Rasanya malu setelah awalnya membiarkan Leo pergi, namun kemudian mengemis untuknya kembali. Jaehwan hanya bisa menundukkan kepala sembari menghangatkan tangannya dengan keramik hangat itu.

Masih hening. Hingga akhirnya, Leo yang pertama bergerak dari posisi gemingnya.

"Leo?" Jaehwan menoleh ketika Leo memeluknya. Namun yang ia lihat hanya ujung kepala bersurai pirang itu. Leo menyembunyikan wajahnya di bahu Jaehwan. "Leo. Kau kenapa?"

"Maafkan aku, Jaehwan..." gumaman Leo membuat Jaehwan semakin bingung. Kenapa Leo meminta maaf? Jaehwan meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. Setelah menggeser sedikit posisinya agar menghadap Leo, lelaki yang duduk di bangku sekolah itu mengangkat kepala Leo dengan menyentuh kedua pipinya.

Jaehwan terkejut melihat wajah Leo penuh air mata. Aneh. Bukankah seharusnya yang saat ini menangis adalah Jaehwan? Oh, tidak. Kenyataan bahwa dirinya bisa bertemu Leo lagi membuatnya bahagia, jadi ia tak menangis. Tapi ia yakin bahwa tangisan Leo ini bukan tangisan bahagia. Lalu kenapa?

"Leo, kenapa kau menangis? Kenapa kau meminta maaf?" Tanyanya.

Beberapa detik tak ada jawaban dari pria di hadapannya. Jaehwan bisa lihat. Pria itu seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu. Jadi Jaehwan menunggu.

"Aku..." Leo mulai berucap. "Aku minta maaf."

"Aku tahu!" Jaehwan mulai kesal, pertanyaannya sejak tadi tak terjawab selain hanya kata maaf dari bibir itu. "Aku tahu kau meminta maaf, Leo. Dan aku memaafkanmu. Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu meminta maaf."

"Karena pergi meninggalkanmu begitu saja."

"Hanya itu?" Leo tak menjawab. "Kalau soal itu, seharusnya aku yang meminta maaf. Meski tahu kau harus pergi, aku hanya diam dan bahkan memusuhimu. Sedangkan seharusnya, aku menghabiskan waktu denganmu di saat terakhir dan mengatakan selamat tinggal. Tapi aku malah-"

Parah. Leo berpikir dirinya sudah kelewatan membodohi Jaehwan. Tidak bisa terus begini. Leo harus mengatakan yang sebenarnya.

"Jae. Aku tak tahu apa kau akan marah bila aku mengatakan kebenarannya."

"Kebenaran apa?"

Leo tak langsung menjawab. Ia menghela nafas untuk mempersiapkan diri. Setelah yakin,

"Jae. Selama ini... Aku sudah membohongimu."

"Apa? Membohongi? Apanya?" Jaehwan bertanya tak karuan. Ia sangat bingung apa yang Leo maksudkan.

"Aku membohongimu, Jae. Selama ini, aku bukan nyawa dari manusia salju yang kau buat. Aku tidak muncul karena Tuhan megabulkan permohonanmu tentang mendapat seorang teman. Aku... Aku hanya manusia biasa. Sama sepertimu."

Hening. Jaehwan tak mengerti maksud Leo. Lebih tepatnya tak percaya.

"Apa... Apa maksudmu?"

"Jaehwan. Apa kau benar-benar tidak ingat siapa aku?" kini tatapan Leo lurus menelisik masuk ke manik Jaehwan. Lelaki bersurai kecoklatan itu menatapnya balik. Siapa? Siapa yang Leo maksudkan?

"Aku tak mengerti, Leo."

Leo menghela nafas ringan ia pun menggeser tubuhnya agar dapat memperlihatkan sesuatu ada Jaehwan. Diangkatnya beberapa rambut di belakang telinganya. Jaehwan hanya memperhatikan. Matanya membulat melihat sebuah luka gores di balik helaian rambut itu. Dan dengan itu, sebuah memori masuk ke otaknya.


A Love From Snow


"Disuruh belikan susu stroberi malah kau belikan susu pisang. Enyah kau, anak tak berguna!"

"Hentikan, kumohon hentikan!"

Jaehwan yang saat itu duduk di bangku kelas satu SMU menjerit kesakitan. Ketiga anak di hadapannya terus menendangi dan memukulinya. Bagaimana pun, ia tak bisa membalas. Nyalinya tak cukup besar. Bisa dikatakan ia tak punya nyali sama sekali. Yang bisa ia lakukan hanya berteriak. Namun pun percuma, lokasi mereka saat ini terlalu terpencil dan tak banyak dilewati. Tak mungkin ada yang mendengar. Yang bisa Jaehwan lakukan saat ini hanya menangis.

"Kumohon... Hentikan..." Ringisnya. Namun ketiga anak itu seolah tuli. Jaehwan mengeratkan pejaman mata ketika seorang dari mereka mengangkat kepalan tangannya setinggi mungkin. Jaehwan bisa lihat tadi wajahnya begitu muak. Mungkin karena kesalahan yang Jaehwan perbuat saat membelikan susu yang ia minta.

BUK

Pukulan itu terdengar sangat keras. Tapi Jaehwan tak merasakan apa-apa. Apa? Apa yang terjadi? Saat Jaehwan membuka mata, seseorang sudah berdiri memunggunginya. Dan salah satu pelaku pemukulan tadi sudah jatuh terkulai ke tanah.

Siapa laki-laki bertubuh besar ini?

"Dasar anak-anak badung. Bukannya belajar malah memukuli orang. Mau jadi apa kalian nanti?!" bentak suara itu. Kalau Jaehwan tak salah, sepertinya ia pernah dengar suara ini.

"Cih, sunbae tak perlu ikut campur! Lebih baik belajar untuk ujian kelulusan, kan? Haha!" anak yang tadi tersungkur itu tertawa sinis.

Oh benar. Jaehwan tahu pemilik suara itu. Seorang sunbae yang saat festival sekolah dua bulan lalu menyumbangkan suaranya di atas panggung. Dan Jaehwan mengagumi suaranya. Tapi ia tak tahu nama sunbae itu. Yang ia tahu bahwa laki-laki itu duduk di kelas tiga.

"Kalian juga, bukannya belajar," sunbae bersurai legam itu menjitak seorang dari ketiga anak itu. "Malah asyik mengerjai dan menghajar murid lain." dijitaknya satu temannya lagi. "Bagaimana kalau tidak naik kelas?!" terakhir dijitaknya anak yang paling tinggi. Ketiganya hanya meringis kesakitan.

"Kalian beruntung aku belum kenal nama-nama kalian. Kalau tidak, pasti sudah kulaporkan kepada guru." tukasnya. "Awas kalau kulihat kalian mengerjai murid lain lagi!"

Masih tak ada jawaban dari ketiga anak yang masih meringis itu. Jitakan laki-laki ini memang sangat keras, entah kepalan tangannya terbuat dari apa.

Jaehwan masih menatap punggung lebar itu. Ia tak tahu harus apa. Tubuhnya masih kesakitan akibat pukulan dari tiga anak tadi. Sampai sunbae-nya itu membalik badan, barulah Jaehwan teralihkan dari rasa sakitnya. Wajah sunbae ini tampan. Entah kenapa Jaehwan jadi merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Ditambah ketika sunbae itu berlutut di hadapannya dan menyentuh luka lebam yang ada di pipinya dengan lembut.

"Kau baik-baik saja?"

Seketika wajah Jaehwan memanas. Apa? Apa yang membuatnya begini? Apa karena ini pertama kalinya Jaehwan dibela oleh seseorang semenjak dirinya jadi bahan bully-an di SMP? Atau karena memang muncul sebuah perasaan terhadap sosok di depannya saat ini?

Apa pun itu, Jaehwan harus menunda pemikirannya sekarang. Karena apa yang ia lihat di balik punggung sang sunbae tak bisa ia biarkan.

"Su- sunbae, di belakangmu!"

Belum sempat laki-laki yang lebih tua itu menoleh, sebalok kayu tua dengan sudut yang tajam sudah menghantam bagian sisi kepalanya, dekat telinga. Darah mulai mengucur disana, sedang sosok yang kini tersungkur ke tanah itu tak sadarkan diri.

"Su- sunbae?! Tolong!" Jaehwan menoleh kesana-kemari, berusaha mencari pertolongan. "Siapa pun, tolong! Disini ada yang terluka!"

"Ya, ya! Lebih baik kita pergi sekarang!" Dengan satu perintahkan dari anak yang paling tinggi, kita pelaku pemukulan tadi langsung kabur entah kemana.

Jaehwan tak sadar ketiga anak itu sudah pergi, ia sibuk berteriak mencari pertolongan. Ia tak mungkin kuat mengangkat tubuh sang sunbae yang lebih besar darinya itu. Beruntung, tak lama seorang guru lewat di dekat sana dan menemukan kondisi Jaehwan dengan seorang murid kelas tiga terkulai tak sadar diri di tanah. Keduanya langsung dibawa ke UKS dan diobati.Tapi laki-laki yang berdarah itu tak cukup hanya diobati di UKS. Ia pun dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan Jaehwan tak tahu bagaimana keadaan sunbae itu sampai keesokan paginya.


A Love From Snow


"Sayangnya luka ini tak bisa hilang. Karena itu, selama dua hari kau mengikutiku kemana-mana tanpa henti meminta maaf. Padahal sudah berkali-kali kubilang sudah dimaafkan." Leo terkekeh pelan mengingat kejadian itu. "Pada akhirnya, kita berteman untuk beberapa minggu sampai aku mengikuti ujian kelulusan. Dan selama itu pula, tak ada yang berani melukaimu karena aku selalu bersamamu, bukan?"

"Kau... Kau Taekwoon sunbae?" pertanyaan Jaehwan hanya terbalas oleh senyum singkat.

"Tapi setelah aku lulus, aku kehilangan kontakmu. Karena kalau kuingat-ingat, kita memang tidak pernah bertukar nomor atau pun e-mail. Selama dua tahun itu, aku bertanya-tanya. Bagaimana kabarmu, apa yang sedang kau lakukan, dan apa kau kembali di-bully atau bagaimana. Aku tak tahu semua itu. Maafkan aku, karena meninggalkanmu tanpa kabar dan membuatmu kembali dikerjai oleh anak-anak itu."

"Tu-tunggu!" Jaehwan menghentikan celotehan Leo, atau yang sekarang ia ketahui adalah Jung Taekwoon sunbae, pahlawannya saat kelas satu SMU. "Aku masih tak mengerti. Kalau kau memang Taekwoon sunbae, lalu kenapa kau berpura-pura menjadi jiwa dari manusia salju?"

Tak langsung terjawab. Sosok di hadapan Jaehwan tampak berpikir.

"Aku merindukanmu. Tapi di saat yang sama, aku tak tahu bagaimana harus menghadapimu. Aku tak tahu bagaimana harus meminta maaf setelah pergi begitu saja tanpa mengabarimu sama sekali. Aku dapat alamat rumahmu dari Eunkwang, temanku dari sekolah dulu. Katanya dia menanyakan pada guru, entah dengan iming-iming apa. Jadi pada hari itu, aku hendak menemuimu langsung di apartemen."


A Love From Snow


"Eo, aku sudah sampai." Taekwoon berhenti melangkah dan berdiri di depan sebuah pintu apartemen.

"Baguslah. Semoga pertemuanmu dengannya berhasil!" ujar seseorang yang ada di seberang telepon.

"Um. Gomawo, Eunkwang-ah."

"Ne."

Setelah sambungan terputus, Taekwoon memasukkan ponselnya ke dalam saku coat putih yang ia kenakan. Kemudian dengan agak ragu memencet bel.

Tak ada respon apa pun dari dalam rumah. Taekwoon mencoba lagi. Namun tetap nihil. Taekwoon menghela nafas pasrah. Nampaknya tak ada orang di rumah.

Pria itu pun melangkah keluar dari gedung apartemen. Ia pasrah. Namanya juga percobaan pertama. Lagi pula Taekwoon juga tak tahu jadwal keseharian orang yang akan ia temui itu. Kalau tidak salah hari ini hari terakhir masuk sekolah sebelum libur panjang musim dingin. Mungkin anak itu belum pulang dari sekolah.

Sembari berjalan menyusuri trotoar, ada tiga pilihan yang masuk ke otaknya. Pertama, mencoba datang lagi besok. Tapi Taekwoon ingin cepat-cepat bertemu dengannya. Kedua, mendatangi sekolahnya. Tapi Taekwoon tak ingin bertemu para guru yang mungkin ketika melihatnya, akan menggagalkan pertemuannya dengan orang itu. Kalau begitu yang terakhir, menunggunya di depan apartemennya. Taekwoon berbalik. Rupanya kakinya sudah melangkah kepalang jauh dari gedung apartemen sederhana itu.

Pria berambut pirang itu menghela nafas. Sudahlah, bertemu besok juga tidak apa-apa. Toh, ia masih punya banyak waktu.

Mata tajamnya teralihkan ke sebuah taman yang hanya beberapa langkah jaraknya dari tempat ia berdiri. Melihat lampu-lampu serta hiasan-hiasan khas natal membuatnya tersenyum. Apa lagi dengan anak-anak yang sedang bermain di sana. Taekwoon suka anak-anak. Mereka manis dan polos. Serta tak punya beban apa pun di otak dan hati mereka. Dengan melihat anak-anak saja, rasanya beban hati dan pikiran Taekwoon sirna begitu saja.

Dengan perasaan senang, Taekwoon kemudian memasuki taman itu. Senyumnya melebar melihat beberapa manusia salju yang sudah berdiri di sana. Di dekat ayunan ada satu buah dengan ukuran sedang. Di dekat jungkat-jungkit ada dua. Kotak pasir ada dua dengan ukuran mini. Di dekat seluncuran ada satu dengan ukuran besar. Mungkin yang membuat orang dewasa.

Taekwoon memperhatikan beberapa pasang anak dan ibu. Ibu-ibu yang masih sehat, masih bersedia menemani sang anak bermain di luar meski cuaca sedang dingin. Saat melihat itu, Taekwoon teringat ibunya. Kapan terakhir kali Taekwoon jalan-jalan dengan sang ibu? Sepertinya sudah lama sekali. Memang Taekwoon bukan anak yang begitu perhatian untuk menemani ibunya. Tapi begitu pun, Taekwoon menyayanginya. Yah, lagi pula beberapa bulan lagi, Taekwoon akan terus bersama sang ibu.

Pikiran akan ibunya sedikit goyah ketika ia mendapati pemandangan di pojok taman. Sosok itu. Sosok yang hendak Taekwoon temui. Duduk sendiri di sebuah bangku. Namun ia tampak berbeda di antara orang-orang lain yang ada di taman. Ketika taman itu terhiasi oleh aura-aura bahagia, Taekwoon dapat lihat aura murung dari pojok taman itu. Berasal dari seorang yang begitu ia rindukan. Dari seorang yang membuat Taekwoon merasa bersalah karena pergi begitu saja dua tahun yang lalu. Dan yang ia lihat kini membuatnya makin merasa benci pada dirinya sendiri.

Lee Jaehwan. Anak itu menangis di tengah kebahagiaan natal. Taekwoon tak tahu alasannya. Tapi hanya terbesit satu alasan di otaknya. Setelah kepergiannya, anak-anak itu pasti merasa aman untuk mengerjainya lagi. Dan lagi, ini semua salahnya.

Taekwoon membeku sebeku es di tempatnya berdiri. Ia tak tahu bagaimana harus mendekati anak itu di saat seperti ini. Air mata itu selalu menjadi kelemahan bagi Taekwoon. Akhirnya Taekwoon mengurungkan niat awalnya datang ke distrik ini, meski orang yang Ia cari sudah ada di depan mata. Tapi yang ia lakukan hanya menatap kesedihannya dari jauh.


A Love From Snow


Tanpa terasa waktu berlalu. Cahaya matahari yang terpantul oleh putih salju akhirnya terganti oleh remang lampu hias di taman. Keramaian tadi surut. Sudah tak ada lagi anak-anak kecil yang bermain dengan girang bersama teman dan ibu mereka. Yang tertinggal hanya dua. Sosok yang masih asyik membuat manusia salju besar seorang diri. Dan sosok lain yang hanya diam menyaksikannya.

Ya, Taekwoon masih disana. Dari saat Jaehwan mulai membentuk bola salju kecil, hingga saat ini tinggal beanie berwarna merah yang hendak ia letakkan di kepala manusia salju itu.

"Dan... Sentuhan terakhir... Selesai..." sosok itu bergumam sembari menatap boneka salju yang baru saja selesai ia buat. Tapi Taekwoon tahu, ada gentir kesedihan dari tatapan itu. Meski ia tak tahu apa.

Tiba-tiba, Jaehwan—sosok yang sedari tadi Taekwoon pandangi itu—tersenyum. Seolah mencoba membuang kesedihannya.

"Mulai sekarang, kita berteman! Kita akan habiskan natal bersama besok. Oke?"

Taekwoon mengepalkan tangannya. Entah ada rasa sakit ketika mendengar ucapan yang begitu menggambarkan kesepian itu. Ditambah nada bicaranya seolah berharap sekali ada yang akan menjawab. Taekwoon membuka mulut, ingin sekali ia menjawabnya. Namun urung. Ia tak ingin menakuti anak itu. Lagi pula belum tentu juga Jaehwan ingat padanya, kan?

Tak lama, angin dingin berhembus. Taekwoon melihat Jaehwan menggigil. Oh, betapa ingin dia merengkuh tubuh itu. Apa lagi dengan beberapa atribut yang sudah berpindah tangan pada boneka salju itu, membuat Taekwoon makin merasa iba. Tapi sekali lagi, apa Jaehwan mengingatnya? Kalau tidak, anak itu pasti akan ketakutan tiba-tiba dipeluk oleh orang asing.

Kemudian sosok itu menoleh ke sekitar, membuat Taekwoon harus segera bersembunyi di balik sebuah pohon. Sepertinya Jaehwan baru menyadari bahwa matahari sudah bersembunyi, dan tak ada satu orang pun selain dirinya di taman. Ia pun menghadap kembali tumpukan bola salju di depannya.

"Sudah malam. Besok aku akan kembali lagi ke sini. Kita akan habiskan natal yang luar biasa bersama!" Tentu tak ada jawaban. Jaehwan langsung merubah raut wajahnya jadi kecewa. Angin dingin pun berhembus sekali lagi, membuat Jaehwan tak punya pilihan lagi selain memeluk tubuhnya. "Uh... Sebaiknya aku cepat pulang."

Kaki itu pun mulai mengambil langkah cepat keluar taman, meninggalkan manusia salju itu di tengah gelapnya pojokan taman.

Setelah agak jauh, Taekwoon melangkah mendekati manusia salju itu dengan bantuan penerang dari ponselnya. Ia berdiri di hadapan tumpukan salju itu. Kemudian menatap punggung yang sedang berlari menuju gerbang taman. Taekwoon panik ketika Jaehwan tiba-tiba berhenti berlari. Anak itu pasti akan berbalik. Taekwoon pun segera besembunyi di belakang manusia salju itu. Beruntungnya manusia salju itu setinggi dirinya, sehingga ia bisa bersembunyi di sana. Oh, tunggu. Cahaya dari ponselnya akan membuatnya ketahuan. Dengan panik, Taekwoon pun mematikan ponselnya.

Hening. Taekwoon takut Jaehwan akan kembali untuk memeriksa manusia saljunya. Kalau itu terjadi, Ia pasti ketahuan.

Namun Taekwoon bisa menghela nafas lega. Beberapa detik kemudian, ia dengar langkah kaki kembali menjauhi taman. Ia pun mengintip dari tempatnya bersembunyi, dan Jaehwan sudah tak tertangkap oleh sepasang matanya. Kini ia bisa keluar dari persembunyian.

Matanya masih menatap tempat dimana Jaehwan tadi berhenti untuk sejenak. Perasaan iba menggerayanginya. Apa anak itu benar-benar kesepian? Apa itu semua karena kepergiannya? Taekwoon harus segera menemuinya dan membuatnya lupa akan kesepiannya. Namun bila ia tiba-tiba muncul, apa akan dimaafkan? Masalah lainnya juga, Taekwoon tak bisa menemaninya selamanya. Ia harus pergi ketika musim berganti. Ya Tuhan, Apa tak ada cara agar Taekwoon bisa menemaninya lagi tanpa harus Jaehwan tahu siapa dirinya? Dan cara yang bisa membuat Jaehwan menerima kepergiannya nanti?

Taekwoon menghela nafas. Ia kembali melirik gulungan salju di sampingnya. Ia teringat sesuatu,

"Mulai sekarang, kita berteman! Kita akan habiskan natal bersama besok. Oke?"

"Sudah malam. Besok aku akan kembali lagi ke sini. Kita akan habiskan natal yang luar biasa bersama!"

Taekwoon mengulas senyum. Sudah ia temukan caranya.


A Love From Snow


"Ya. Aku manusia salju yang kemarin kau buat untuk menemanimu hari ini..." bualan pertamanya untuk memulai sandiwara ini.

Hening. Keduanya saling pandang. Taekwoon cemas-cemas berharap Jaehwan tak mengenali siapa dia sebenarnya. Hingga Jaehwan tiba-tiba berlari.

"Ya! Neo eodiga?!"

Sepertinya Jaehwan tak mengenal siapa dia. Semoga ini jadi awal yang baik.


A Love From Snow


"Jadi... Kau temanku?"

"Yah, kau boleh anggap begitu kalau kau mau." Taekwoon mengulurkan tangannya, berharap Jaehwan akan menggenggamnya. Apa pun itu, saat ini yang Taekwoon ingin lakukan hanya satu. Menghangatkan tubuh kecil di hadapannya. Betapa bahagianya Taekwoon ketika merasakan jemari-jemari itu menggenggam tangannya. Disertai dengan senyum yang begitu manis.

Taekwoon tahu ini menyakitkan, baik bagi dirinya yang mengetahui fakta bahwa orang yang ia rindukan tak mengenali siapa dirinya, mau pun bagi Jaehwan yang tanpa sadar juga sudah tersakiti oleh kebohongan yang Taekwoon buat.

Oh, Tuhan. Taekwoon hanya berharap ini semua akan berjalan sesuai rencana


A Love From Snow


"Jadi... Itu bagaimana kau memutuskan untuk melakukan semua ini?" tanya Jaehwan.

Yang ditanya mengangguk sembari tersenyum. "Aku takut kau tak akan memaafkanku bila tahu siapa aku sebenarnya. Awalnya pun aku terkejut, kau tidak mengingatku ketika aku datang ke sini pagi itu."

"Uhm... Aku minta maaf karena tidak mengenali sunbae." ucap Jaehwan menunduk.

"Tidak ap-"

"Maaf... Aku melupakanmu, sunbae." ujar Jaehwan dengan lirih memotong perkataan yang lebih tua. Dari mata pria itu, Jaehwan jelas hendak menangis. "Aku... Setelah kau pergi, Chanyeol dan teman-temannya kembali mengerjaiku. Aku tak tahu lagi harus apa. Tak ada yang berani menghentikan mereka. Hanya kau. Tapi kepergianmu membuatku sadar, bahwa aku memang tidak akan pernah bisa lolos dari mereka. Aku sempat berpikir bahwa sunbae tak pernah berniat menolongku. Aku berpikir saat itu sunbae hanya kebetulan lewat dan iseng menghentikan mereka. Aku berpikir bahwa sunbae tak berbeda dengan yang lain. Aku merasa terkhianati. Kemudian kucoba untuk melupakanmu. Hanya itu satu-satunya cara agar rasa sakitku tak bertambah. Maka dari itu aku tak mengenali sunbae saat pertama kali datang kesini... Maafkan aku, sunbae..."

Taekwoon—sosok yang telah terbuka kedoknya itu—tak kuasa melihat Jaehwan menangis kembali. Kenapa Jaehwan yang meminta maaf? Ini semua salahnya karena pergi begitu saja.

Tanpa pikir panjang, Taekwoon mengulur tangannya dan menarik tubuh Jaehwan dalam dekapan.

"Aniya... Ini semua kesuluruhan salahku, Jaehwan. Jangan kau meminta maaf."

Tak ada jawaban, menghasilkan keheningan selama beberapa menit. Seraya tangis Jaehwan mereda, Taekwoon melepaskan pelukannya kemudian tersenyum pada Jaehwan.

"Ng... Su- sunbae? Boleh aku tanya satu hal lagi?"

"Apa itu?"

"Apa tujuanmu menemuiku lagi setelah dua tahun?"

Taekwoon terbelalak. Tak menyangka akan keluar pertanyaan itu dari Jaehwan. Tapi kalau dipikir-pikir, memang Jaehwan hrus tahu. Lebih baik ketimbang Taekwoon pergi tanpa sepengatahuan Jaehwan besok.

"A- aku..."

KRUYUK~~

Hening… Wajah Jaehwan memerah semerah tomat. Bisa-bisanya saat sedang bicara serius begini perutnya malah meraung minta diisi. Tapi memang kalau dipikir-pikir, sudah dua hari Jaehwan belum makan apa-apa. Bodoh juga baru menyadari sekarang, perutnya sakit bukan main. Tapi Taekwoon bisa sedikit lega. Masalahnya ia belum siap menceritakan apa yang Jaehwan tanyakan.

"Aku akan memasak. Kau ganti bajulah dulu. Kau pasti kedinginan kan?" Jaehwan hanya mengangguk. Kemudian ia berdiri dari sofa, berjalan menuju kamarnya meninggalkan Taekwoon yang menghela nafas lega.

Akan kukatakan saat sedang makan nanti.


A Love from Snow


"Jadi?"

Taekwoon mengangkat kepalanya, menatap Jaehwan yang sedang menyeruput supnya sambil menatapnya penuh tanya. Tapi Taekwoon balik menatap dengan lebih bingung. Apa maksud pertanyaan singkat Jaehwan tadi?

Tahu bahwa sunbae-nya kebingungan dengan pertanyaan tadi, Jaehwan melanjutkan, "Untuk apa sunbae ingin menemuiku?"

"Uhm…" Taekwoon gelagapan. Tapi ia tahu memang anak itu akan mempertanyakan lagi. Jadi siap tak siap, Taekwoon menjawab, "Aku… Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal."

"Mwo?"

"Aku akan pindah ke Kanada, menemani ibuku mengobati penyakitnya disana."

"I- ibumu?"

"Awalnya noona-ku yang akan menemani beliau. Tapi karena ibu tak merestui hubungan noona dengan kekasihnya, ia kabur dari rumah musim panas kemarin. Hal itu membuat keadaan beliau makin parah, karena Jiyoon noona merupakan anak kesayangan ibu. Jadi sampai Jiyoon noona kembali, aku yang harus menemani ibu." Senyum tipis terukir di bibir Taekwoon. Mata dan tangannya fokus hanya mengaduk-aduk supnya.

Jaehwan bergeming. Kemudian bertanya, "Kapan… kau akan berangkat ke Kanada?"

"…Besok."

"Mwo?!" Jaehwan terlonjak dari kursinya. Taekwoon hanya membuang muka. "Kenapa harus besok?"

"Dokter yang merujukkan rumah sakit di Kanada yang menjadwalkan keberangkatan kami. Aku tak bisa protes."

"Lalu kenapa sunbae baru mengatakan semuanya padaku sekarang? Kenapa tidak sejak jauh-jauh hari? Kenapa harus mendadak seperti ini?"

Taekwoon kembali menatap Jaehwan kembali. Terlihat jelas ekspresi marah hoobae-nya itu. Tapi tak ada air mata disana. Mungkin air matanya sudah dihabiskan selama dua hari di kamar itu.

Taekwoon berpikir sejenak sebelum menjawab, "Dari awal aku tak punya rencana untuk memberitahumu. Aku bahkan tak berniat untuk mengatakan siapa aku sebenarnya."

"Lalu kenapa tadi kau mendatangiku di taman? Kenapa tidak pergi saja sesuka hatimu seperti dua tahun lalu? Untuk apa sunbae memberitahuku semuanya, kalau pada akhirnya kau tetap akan meninggalkanku?! Untuk apa?!" Jaehwan mulai berteriak, ia ingin sekali menangis tapi tak ada lagi air mata yang tersisa.

Taekwoon tak tega melihat Jaehwan demikian. Ia pun berdiri pula dari kursinya dan menggenggam tangan Jaehwan.

"Saat itu aku belum yakin untuk meninggalkanmu. Aku juga tak tega melihatmu menangis di tengah taman begitu hanya menggunakan piyama. Aku… Aku juga sebenarnya tak ingin meninggalkanmu, apa lagi mengetahui bahwa kita sudah membalas perasaan masing-masing…"

Jaehwan menatap mata Taekwoon yang menatapnya sedalam mungkin, seolah memintanya untuk percaya.

"Lalu kenapa kau mengatakan siapa dirimu sebanarnya? Akan lebih mudah bukan, untuk pergi saat aku tak tahu bahwa kau sebenarnya bukan jiwa dari manusia salju?"

"Inginku seperti itu. Tapi aku tak mau membodohimu terus-terusan, Jaehwan. Aku juga tak mau suatu saat kau merasa bodoh karena mencintai makhluk yang kau pikir tak nyata itu, lalu kemudian menyesal telah mencintaiku." Ibu jari Taekwoon mengelus lembut punggung tangan Jaehwan. Hal itu membuat tatapan tajam Jaehwan sedikit melembut. "Aku mencintaimu, Jaehwan. Aku tak bisa terus menyakitimu."

"Sunbae…"

Jaehwan menatap tatapan mata Taekwoon. Dari sana, Jaehwan tahu pria ini bersungguh-sungguh. Jaehwan tak mau Taekwoon pergi. Jaehwan ingin terus bersama Taekwoon, berdua saling menyayangi. Tapi kalau dipikir lagi, yang namanya kewajiban seorang anak untuk merawat orang tua memang tak bisa dihindari. Jaehwan memang tak pernah mengalaminya, karena orang tuanya meninggal lebih dulu. Tapi kalau hal demikian terjadi pada Jaehwan, mungkin ia melakukan hal yang sama.

"Aku mengerti, sunbae," ucap Jaehwan sembari menundukkan kepala. Taekwoon hanya menatap. "Aku… Akan membiarkanmu pergi."

"Jaehwan-ah…"

"Tapi… Boleh aku minta satu permintaan terakhir?" Kali ini wajah memelas Jaehwan dapat Taekwoon lihat.

"Tentu, Jae. Katakan apa yang kau mau?" Tangan Taekwoon mengusap lembut pipi Jaehwan.

"Bisa kau tetap disini sampai besok? Aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu."

Melihat bibir Jaehwan melengkung meski sedikit mengenaskan, Taekwoon ikut tersenyum. Ia lega Jaehwan akhirnya menerima kepergiannya. Meski sebenarnya tak satu pun dari mereka yang ingin berpisah untuk kedua kalinya. Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin kalau tiba-tiba ada kabar bahwa noona Taekwoon kembali, ia bisa senang. Tapi memang itu hanya angan-angan belaka.

Dengan senyum lega, melangkah mendekati tempat Jaehwan berdiri. Kemudian tanpa melepas genggaman tangannya, Taekwoon memeluk tubuh Jaehwan. Jemari panjangnya mulai mengelus surai kecoklatan Jaehwan ketika dirasakan lelaki yang lebih muda itu membalas pelukannya.

"Ne. Aku akan hubungi Eunkwang untuk minta tolong packing barang-barangku."


A Love from Snow


Sisa hari itu mereka habiskan berdua. Siang mereka habiskan dengan duduk di sofa dan menonton DVD film kesukaan Jaehwan. Sore menjelang malam, keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman hiburan. Malamnya, mereka makan malam romantis di sebuah restoran yang lumayan berkelas. Awalnya Jaehwan terkejut, tapi kalau diingat lagi memang Jung Taekwoon merupakan anak keluarga konglomerat—meski dengan keadaan ibunya yang sakit.

Usai makan malam, keduanya kembali ke apartemen. Jaehwan terlihat mengantuk dan sangat lelah. Terlihat dari jalannya yang mulai gontai. Taekwoon pun akhirnya menawarkan agar Jaehwan naik ke punggungnya. Dan untungnya partemen Jaehwan memang sudah tidak jauh. Malu-malu senang, Jaehwan naik ke punggung besar Taekwoon.

Sesampainya di apartemen, Taekwoon menurunkan Jaehwan di kasur. Lelaki yang lebih muda itu langsung saja membaringkan tubuhnya di kasur sembari mengeluh.

"Ugh… Capek~"

"Jaehwan-ah, ganti baju dulu baru tidur, ne?" Taekwoon menarik tangan Jaehwan dengan lembut, mencoba membuat anak itu kembali duduk.

"Tidak mau." Jawab Jaehwan singkat, sembari mengeratkan pelukannya pada guling.

"Tidak boleh begitu. Harus ganti baju dulu. Badanmu kan pasti penuh keringat, tidak baik tidur dalam keadaan begitu…"

"Ish, berisik! Bukannya tidak mau ganti baju!" seru Jaehwan sedikit membentak sembari mendudukkan tubuhnya di hadapan Taekwoon. Taekwoon kebingungan dengan kata-katanya, tapi yang membuat lucu adalah bibir tebal Jaehwan yang mengerucut.

"Lalu apa maksudmu tidak mau?"

"…"

"Jaehwan-ah?"

"Aku tidak mau tidur! Aku tidak mau membuang waktu terakhirku bersama sunbae hanya untuk tidur!" Jaehwan pun menatap Taekwoon dengan tatapan puppy eyes-nya. Membuat Taekwoon gemas dan tak tahan untuk membungkuk dan mengecup bibir tebal hoobae-nya itu.

"Kau ini manis sekali…" sembari menyubit hidung Jaehwan.

"Sunbae~~"

"Haha… Ne, ne… Kita akan habiskan malam ini tanpa tidur. Okay?" bibir Jaehwan langsung melengkuk senang. "Tapi kau tetap harus ganti baju. Bau keringat. Aku tidak mau memelukmu semalaman kalau bau begini." Taekwoon menutup hidungnya dan menjauhkan wajahnya dari Jaehwan.

"Ish… Arasseo! Aku akan mandi…"

"Johda! Aku akan buatkan kopi untuk begadang."

Jaehwan pun melangkah dari tempat tidur, mengambil baju di lemarinya, kemudian masuk ke kamar mandi.


A Love from Snow


Drrt! Drrt!

Hampir selesai Taekwoon menyiapkan kopi untuk dia dan Jaehwan, ponselnya berdering. Taekwoon terpaksa harus membuat siapa pun itu yang memanggilnya untuk menunggu sebentar, karena tanggung. Kemudian ia berjalan cepat menuju kamar dan mengangkat telepon dari Eunkwang.

"Ne, Eunkwang-ah? Ada apa?"

"YA! Kenapa lama sekali kau mengangkat telepon?!"

"Mian, aku sedang membuat kopi tadi. Wae? Kenapa kau terdengar buru-buru? Apa terjadi sesuatu pada ibuku?"

"Ani. Bukan ibumu… Tapi Jiyoon noona!"

"Mwo? Noona kenapa?"


A Love from Snow


Jaehwan baru saja selesai mengenakan pakainnya, namun ia tak lantas melangkah keluar dari kamar untuk menemui Taekwoon. Ia berdiam sebentar di depan pintu sedikit berpikir masalah kepergian Taekwoon besok. Jujur, sebenarnya seharian tadi ia selalu terpikirkan masalah itu. Sebenarnya ia masih tak ingin Taekwoon pergi. Ia masih ingin Taekwoon bersamanya lebih lama di sini. Tidak, ia ingin Taekwoon bisa terus bersamanya selamanya. Ia tak ingin ada perpisahan antara mereka, meski hal itu memang pada dasarnya pasti harus terjadi. Ingat "dimana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan."

Tapi sudahlah. Toh, Taekwoon sudah mengatakan semuanya padanya. Dan ia juga bersedia menemani Jaehwan sampai besok mereka harus berpisah.

"Ya, ini sudah takdir dari Tuhan. Dan kalau memang kami tak bisa bersama selamanya, paling tidak, kami sudah tahu perasaan masing-masing. Aku yakin itu hal yang terbaik bagi kami dari Tuhan." Percayanya.

Bibirnya kembali menyungging senyum seolah tak ada yang terjadi. Tangannya terangkat untuk membuka pintu. Sudah pintu terbuka, yang Jaehwan lihat pertama adalah sosok sunbae-nya di dapur. Memang di hadapannya ada dua cangkir, dan ia bisa tahu Taekwoon tengah dalam kegiatan membuat kopi. Namun tangannya yang satu menggenggam telepon di telinganya, dan wajahnya terlihat kaget. Jaehwan menatap kebingungan, karena Taekwoon tak bergerak dengan posisi itu.

"Sunbae?" Tanyanya kebingungan, sembari mengambil satu langkah keluar dari kamar.

Seolah terbangunkan oleh suara Jaehwan, pria berambut pirang di dapur itu langsung menoleh. Jaehwan makin kebingungan melihat senyum Taekwoon. Ditambah sosok itu yang tiba-tiba berlari menuju tempat Jaehwan berdiri dan langsung memeluknya.

"Su- sunbae? Ada apa?"

"Terima kasih, Tuhan… Terima kasih…" Rintih Taekwoon di bahu Jaehwan.

"Sunbae? Ada apa denganmu?" Jaehwan perlahan mendorong tubuh besar Taekwoon. Kini Jaehwan dapan lihat air mata Taekwoon. Tapi dengan senyum itu, Jaehwan tidak berpikir tangis itu tangis kesedihan. "Sunbae? Kau kenapa?"

"Jiyoon noona, Jae. Jiyoon noona kembali!"

"Mwo?! Ji- jinjja?!"

"Ne. Eunkwang bilang, Jiyoon noona kembali setelah mengetahui bahwa selama ini, kekasihnya itu berselingkuh dengan wanita lain. Noona bilang ia begitu menyesal karena menelantarkan keluarganya demi pria bajingan seperti itu. Tadi sore ia kembali menemui ibu." Jelas Taekwoon dengan ekspresi wajah yang begitu lega. Namun Jaehwan malah kebingungan.

"Sunbae, kurasa kau tak patut untuk bahagia atas cerita noona-mu."

"Kenapa tidak? Eunkwang bilang Jiyoon noona bersedia untuk menemani ibu berobat ke Kanada. Ibu bahkan sangat senang dengan kenyataan itu. Toh, ternyata mantan kekasih Jiyoon noona juga bukan seorang pria baik-baik. Aku yakin Jiyoon noona akan senang karena lepas dari kenyataan itu juga. Dan akhirnya, kita bahagia karena aku tak harus pergi jauh darimu. Kita bahagia, ibu bahagia, begitu pun Jiyoon noona."

Jaehwan terdiam memikirkan kalimat Taekwoon. Ya, mungkin Jiyoon noona awalnya merasa berat harus melepaskan pria yang sudah ia bela-belakan hingga kabur dari rumah dan mengecewakan keluarga. Tapi bukan kah itu hal baik? Jiyoon noona pasti bisa bahagia tanpa pria itu. Jaehwan yakin.

Ugh, tunggu. Jaehwan bahkan belum kenal siapa Jiyoon noona. Kenapa ia merasa begitu dekat dengannya? Apa karena hubungannya dengan Taekwoon? Ya, bisa jadi.

Jaehwan pun kembali mengulas senyum dan menatap Taekwoon.

"Jadi… Kau bisa tinggal bersamaku selamanya?" Taekwoon hanya mengangguk.

Ya. Iya. Ini yang Jaehwan inginkan. Ini yang pernah Jaehwan minta dari Tuhan. Agar Taekwoon bisa selamanya bersamanya. Meski waktu itu ia belum tahu siapa Taekwoon sebenarnya. Tapi toh, Leo dan Taekwoon adalah satu orang yang sama. Dan Jaehwan mencintai orang yang sama.

"Terima kasih, sunbae…" Jaehwan memeluk tubuh sunbae-nya. "Terima kasih karena tetap berada di sisiku."

"Berterima kasihlah kepada Tuhan, Jaehwan. Hanya Dia yang bisa membuat ini semua terjadi." Bisik Taekwoon di telinga Jaehwan.

"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak."

Kemudian hening. Tak satu pun dari mereka yang lantas melepas pelukannya. Keduanya masih ingin berbahagia dalam pelukan masing-masing. Tapi tak lama, Taekwoon melepas pelukan mereka dengan perlahan.

"Sekarang kita lebih baik tidur, ne?" diusapnya surai coklat Jaehwan yang lembut.

"Wae? Kita tidak jadi begadang?" bibir Jaehwan mengerucut, dan lagi-lagi membuat Taekwoon gemas ingin mengecupnya.

"Buat apa? Toh, aku masih akan ada di sini saat kau membuka mata dan kembali menutupnya besok malam. Hari selanjutnya, dan seterusnya." Jaehwan terdiam. Omongan Taekwoon ada benarnya. Ia pun mengangguk, tanda mengerti. "Lagi pula, aku ingin besok pagi kau ikut aku."

"Kemana?"

"Ke rumahku."

"Mwo?!"

"Ne. Aku ingin kau menemaniku mengantar ibu dan Jiyoon noona. Aku ingin mereka tahu alasan aku tak bisa ikut ke Kanada. Karena ada seorang yang penting yang harus kutemani di sini, yaitu kau. Bagaimana? Mau kan?" Taekwoon kini mengelus pipi Jaehwan sembari menatap matanya sedalam mungkin.

"E- entahlah, sunbae…"

"Ayolah, Jae. Aku sudah mengabulkan keinginanmu untuk menghabiskan waktu denganmu seharian ini. Bahkan aku bisa menemanimu seumur hidupmu. Sekarang, kau kabulkan permohonanku untuk menemui keluargaku. Ne?" Tatapan Taekwoon seolah memohon.

"Uhm… Ne. Baiklah, aku akan ikut ke rumah sunbae besok."

"Great." Taekwoon tersenyum makin lebar dan mengecup kening Jaehwan. "Aku menyayangimu, Jae."

"Aku juga menyayangimu, sunbae." Ucap Jaehwan memeluk tubuh Taekwoon.

"Ah, dan soal itu…" Jaehwan mendongak dengan wajah bingung. "Kurasa ada satu hal lagi yang harus kau kabulkan untukku."

"Mwo?"

"Bisa kau berhenti memanggilku sunbae? Entah kenapa aku merasa kita sedikit jauh kalau kau memanggilku begitu."

Jaehwan sedikit tertawa, "Kau tahu? Sebenarnya aku juga sedikit tidak nyaman memanggilmu begitu. Karena aku sudah terbiasa memanggilmu Leo."

"So?"

"Boleh aku tetap memanggilmu Leo?"

"Hm… Bagaimana dengan Leo hyung?"

"Setuju!" seru Jaehwan sembari mengeratkan pelukannya.

Kemudian keduanya melangkah menuju tempat tidur, tanpa melepas pelukan itu. Setelah keduanya berbaring,

"Selamat malam, hyung."

Jaehwan menutup mata, berharap Taekwoon langsung membalas dengan kalimat yang sama. Namun tak ada jawaban, justru Jaehwan dapat rasakan bibir Taekwoon menciumnya begitu dalam. Jaehwan terkejut, namun tetap membalas pergerakan bibir Taekwoon. Bibir keduanya menari dengan lembut di atas satu sama lain.

"Selamat malam, Jae." Ucap Taekwoon setelah ciuman bibir mereka lepas.

Wajah Jaehwan memerah. Lantas dengan cepat ia menutup wajahnya dengan selimut dan berbalik memunggungi Taekwoon. Dapat didengarnya suara tawa pria itu begitu lembut. Diam-diam, Jaehwan mengulas senyum. Meski banyak masalah dan kebohongan yang terjadi, Jaehwan tak begitu mempermasalahkannya. Karena bagaimana pun, keinginannya dari awal terkabul. Harapan yang Jaehwan buat kepada Tuhan di hadapan tumpukan bola-bola salju. Yang mulai sekarang akan selalu memberikan kepadanya cinta yang mungkin tak terhitung jumlahnya. Dan akan Jaehwan jaga selamanya, sebuah cinta yang diberikan oleh seonggok salju.


A Love from Snow | END |


A/N: AKAN ADA EPILOG TENANG SAJA :*

MOHON MAAF ATAS ENDING YANG TIDAK MEMADAI DAN SEOLAH MEMAKSA INI. OTAK AUTHOR UDAH AMBLES SAMA TUGAS KULIAH YANG WOW BANGET DEH -_- DAN MOHON MAAF BANGET KARENA TERUS MENGULUR-ULUR UPDATE FANFIC INI SELAMA HAMPIR SETENGAH TAHUN… DOAKAN SAJA YANG [The Curse of A Strange Diary] JUGA BISA AUTHOR LANJUTIN YA. PASTI BAKAL AUTHOR LANJUT SIH, CUMA GA TAU KAPAN TT^TT

BTW SIAPA YANG DATENG KE FANMEET VIXX JULI NANTI?! YUHUU~~ MARI KITA KETEMUAN XD