Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T-M (tergantung mood) Hahaha

Warning : Typo (mohon pengertiannya).

.

.

Sasuke masih menatap sosok yang sekarang duduk di depannya dengan senyum khasnya itu dengan pandangan tak percaya sekaligus kaget. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan kalau sosok yang sedang menatapnya dengan tatapan geli itu benar-benar ada di sana.

"Sasuke-kun.. Kau tidak apa-apa?" suara lembut milik Sakura membuatnya sedikit tersentak. Dia menatap Sakura yang masih berdiri di tempatnya dan kini sedang menatapnya dengan dahi berkerut. Kebingungan tampak jelas sekali di raut wajahnya.

Tapi Sasuke tidak menjawab. Dia kembali menatap sosok Itachi, yang masih belum berpindah dari tempatnya dan masih menatapnya dengan tatapan geli.

"Ada apa, Sasuke-kun?" tanyanya dengan suara dalamnya yang berat.

Sasuke terlonjak kaget.

"Whoa! Kau bahkan berbicara!" teriaknya kaget setengah mati. Tubuhnya semakin mundur ke belakang dan merapat ke dinding di belakangnya.

"Sa-Sasuke-kun.. Apa kau.. sakit?" suara Sakura terdengar mulai sedikit cemas.

Sasuke segera menoleh ke arahnya dengan cepat.

"Apa? Tidak. Tentu saja tidak.." sahutnya cepat.

"Tapi.. Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Kau membuatku takut.." ujar Sakura.

Sasuke kembali beralih menatap gadis yang berdiri di dekat meja makannya itu, yang masih menatapnya dengan kedua alis mata yang bertaut, menyiratkan sebuah kecemasan dan ketakutan di wajahnya yang cantik itu.

Tunggu! Apa? Apa barusan yang aku pikirkan? Apa aku berpikiran kalau gadis ini cantik? batin Sasuke tersentak. Sasuke seolah mendapatkan kesadarannya kembali. Dia lalu duduk dengan punggung menegak, sudah mendapatkan seluruh gengsi dan harga diri yang sejak beberapa menit lalu menghilang entah ke mana gara-gara kehadiran sosok yang tidak pernah dia duga.

Sasuke mengabaikan suara tawa Itachi yang mulai terdengar terkikik di tempatnya duduk sekarang. Sial.. Apa sekarang aku mulai mengalami gangguan halusinasi? batinnya geram.

Sasuke lalu berdiri dari tempatnya sekarang sekarang berdehem pelan.

"Aku akan kembali ke kamarku.." ujar Sasuke kepada Sakura, berusaha membuat nada suaranya terdengar normal.

"Eh? Tapi sarapanmu?" tanya Sakura.

"Bisa kau berikan pada kucing liar nanti.." jawab Sasuke seraya berjalan melewati pintu yang memisahkan antara ruang makan dan ruang di sebelahnya.

Itachi masih duduk di sana saat Sasuke mengerlingkan matanya sekilas ke arah tempat munculnya sosok kakaknya yang seharusnya sudah meninggal seminggu yang lalu itu.

.

.

.

Setibanya di kamar, Sasuke segera menutup pintunya dan menguncinya rapat-rapat dengan dada yang masih berdebar tidak karuan. Dia masih tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Dia pikir dia masih belum bangun sepenuhnya dan setengah bermimpi melihat sosok Itachi yang tiba-tiba duduk di sampingnya seperti tadi. Tapi Sasuke akhirnya sadar kalau dia tidak sedang bermimpi dan sudah bangun sepenuhnya. Dan sosok Itachi tadi bukanlah mimpinya.

Sasuke merebahkan kembali tubuhnya ke tempat tidurnya yang masih belum dibereskan dan masih berantakan sejak dia bangun tidur beberapa saat yang lalu. Apakah ini yang dinamakan halusinasi? pikirnya. Dia teringat salah satu teori psikologi tentang gangguan mental yang diderita seseorang yang berhubungan dengan halusinasi, di mana seseorang tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalannya sendiri.

Jadi apakah artinya aku sudah gila? tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

Lalu tiba-tiba dia mendengar suara keras dari perutnya.

"Ah, sial.. Aku lapar sekali!" makinya pada dirinya sendiri.

"Seharusnya kau menghabiskan sarapanmu tadi, bukan?"

Sasuke terbaring di tempat tidurnya dengan tubuh kaku. Dia tidak bergerak sama sekali dan hanya menatap langit-langit kamarnya dengan wajah datar. Seolah ada tombol 'STOP' yang ditekan di salah satu bagian tubuhnya yang membuat tubuhnya terbaring diam saja sekarang. Suara itu terdengar jelas sekali di dekat telinganya kali ini. Dan jelas-jelas itu bukan suaranya maupun suara perutnya. Suara yang dalam dan berat itu berbeda dari suara Sasuke.

Jadi Sasuke hanya terbaring dengan tubuh menegang di atas ranjangnya, tanpa menoleh maupun menggerakkan badannya sedikitpun.

Sebuah wajah yang dibingkai dengan rambut hitam panjang sebahu tiba-tiba muncul di atas kepalanya, tepat di depannya.

"ARRRRGGGGHH!" Sasuke kembali melemparkan dirinya menjauh dari sosok itu dengan kekagetan yang luar biasa. Dia kembali merapatkan tubuhnya pada dinding kamarnya yang dingin, dan menatap sosok di depannya dengan raut ketakutan.

Terdengar suara seseorang menaiki tangga dengan terburu dari luar kamarnya.

"Sasuke-kun.. Apa kau baik-baik saja?" suara Sakura terdengar di luar kamarnya.

"A-aku tidak apa-apa!" sahut Sasuke, berusaha menjawab dengan suara normal. Pandangannya sama sekali tidak beralih pada sosok yang kini duduk di tepi ranjangnya.

Beberapa kali Sasuke mengerjapkan matanya untuk memastikan kalau sosok itu tidak nyata. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan juga pandangan matanya kalau dirinya saat ini pasti sedang berhalusinasi. Tapi tiap Sasuke memejamkan matanya dan membukanya lagi, sosok itu masih ada di sana. Dia bahkan menertawakan wajah Sasuke yang pasti saat ini terlihat konyol sekali karena berkali-kali mengusap matanya dan menggeleng tak percaya.

"Kau tidak perlu merasa frustasi seperti itu. Apa kau tidak senang melihatku ada di sini sekarang?" ujar sosok itu.

"WHA-mph!" Sasuke hampir berteriak lagi tapi dia langsung menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Dia tidak mau Sakura datang lagi dan bertanya macam-macam. Bagaimanapun juga, dia tidak mau ada orang lain yang melihatnya ketakutan setengah mati seperti sekarang. Dia masih sangat shock dengan kehadiran sosok Itachi di depannya.

"Hahaha! Aku bahkan tidak pernah melihat Sasuke-kun sekonyol seperti sekarang saat aku hidup.." tawa Itachi meledak di seluruh ruangan kamar Saauke. Sasuke melepaskan tangannya dari wajahnya dan menatap sosok Itachi dengan dahi berkerut.

Dia baru tersadar, sosok yang muncul di cermin kamarnya kemarin pagi dan juga suara-suara tak kasat mata yang beberapa hari muncul di sekitarnya, menjelaskan kenapa ada sosok Itachi yang kini duduk di tepi ranjangnya itu.

"Sebenarnya.. Kau siapa?" Sasuke akhirnya menemukan keberaniannya lagi dan mengusir ketakutannya dengan menggantinya dengan pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakannya.

Itachi berhenti tertawa dan kini menatap Sasuke dengan tatapan lurus.

"Kau tidak mengenalku? Baru seminggu aku pergi dari rumah ini, dan kau sudah tidak mengingatku?" tanya Itachi sedih.

"Aku tahu kau. Kau Itachi. Tapi Itachi sudah meninggal seminggu yang lalu. Jadi tidak mungkin kau adalah Itachi..." ujar Sasuke, dengan ekspresi datar.

Salah satu sudut bibir Itachi tertarik ke atas dan membentuk sebuah senyum menyeringai, sama seperti senyum Sasuke.

"Lalu aku siapa? Apa mungkin kakakmu punya saudara kembar yang berwajah mirip denganku?" tanya sosok Itachi lagi.

"Tapi Itachi sudah meninggal!" kini Sasuke berseru marah. Entah kenapa dia merasa sedang dipermainkan saat ini. Dia baru saja mengalami duka paling dalam seumur hidupnya karena ditinggal satu-satunya anggota keluarganya dan membuatnya jadi satu-satunya keluarga Uchiha yang masih tersisa. Dan kini tiba-tiba ada sosok yang sangat mirip dengan kakaknya muncul di depannya. Dan itu membuat perasaannya berkecamuk tak karuan.

Sosok Itachi di depannya tidak bereaksi saat melihat dan mendengar Sasuke berteriak marah kepadanya. Dia menatap Sasuke dengan tatapan yang dalam.

"Aku tahu kau pasti akan seperti ini.. Makanya aku datang lagi ke sini. Sampai kau benar-benar siap hidup seorang diri.. Sasuke-kun.." kata Itachi.

Sasuke mengerutkan dahi menatapnya.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Kau masih belum bisa melepaskan kepergianku kan? Makanya kau sangat marah saat aku tiba-tiba ada di hadapanmu sekarang. Tidak apa-apa.. Aku akan tetap di sini untuk menjagamu. Sampai kau benar-benar merelakanku. Kau tidak akan sendirian selamanya, Sasuke. Suatu saat, kau pun akan merasakan cinta lain yang memenuhi kehidupanmu. Dan saat itu sudah datang, aku benar-benar akan pergi meninggalkanmu.." jelas Itachi panjang lebar. Dia tersenyum melihat kebingungan yang tampak jelas di raut wajah Sasuke.

"Cepat kau selesaikan sarapanmu.. Kasihan gadis itu sudah membuatkan sarapan untukmu.." kata Itachi.

Sasuke terdiam dan hanya menatap sosok di depannya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Kalau benar sosok di hadapannya ini adalah arwah dari Itachi.. Kalau benar-benar dia adalah Itachi... Tiba-tiba Sasuke merasakan dadanya sesak dan tenggorokannya serasa tercekat. Dia baru saja menangisi kepergiannya seminggu yang lalu dan sekarang sosok itu sudah hadir lagi di depannya. Sasuke tidak tahu apa yang sedang dia rasakan sekarang, tapi dia merasakan kedua matanya kembali memanas. Dia memalingkan wajahnya dari Itachi.

"Pergilah.. Tinggalkan aku sendiri.." katanya dingin.

"Kau masih suka merajuk, ya?" sahut Itachi.

Sasuke tidak menanggapinya.

Dan barulah saat dia memastikan sosok Itachi tidak ada di kamarnya lagi, Sasuke tidak bisa menahan tangisnya. Dia membiarkan airmatanya jatuh ke wajahnya. Dan dia mulai terisak.

.

.

.

Seharusnya hari ini Sasuke menikmati hari liburnya di rumahnya. Tapi begitu dia mendapatkan telepon dari Shikamaru tentang perkembangan kasus perampokan bank yang menyebabkan kakaknya meninggal, Sasuke langsung meninggalkan sarapannya dan bergegas ke kamar mandi.

Sasuke mengernyitkan dahinya begitu dia membuka pintu kamar mandi, dia mendengar suara gemericik air di balik sekat kayu yang menghubungkannya dengan bak air tempatnya mandi. Sasuke sudah melepas yukatanya dan menggantinya dengan handuk yang kini melilit melingkar di pinggangnya. Dia melihat siluet tubuh di balik sekat itu.

Sasuke menghela napas panjang. Siluet tubuh di balik sekat itu jelas milik perempuan dan hanya satu perempuan yang ada di rumah ini. Sasuke memutuskan untuk keluar dari kamar mandi itu dan memutuskan untuk menunggu sampai gadis itu keluar.

Dengan perlahan, Sasuke menutup kembali pintu kamar mandinya agar tidak menimbulkan suara sehingga gadis itu akan terkejut nantinya.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka. Sakura keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang membelit tubuhnya dan rambut sebahunya yang masih basah. Begitu dia melihat Sasuke sudah berdiri di depan kamar mandi sambil menyandarkan dirinya di tembok, Sakura langsung terpekik kaget. Dia segera menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan wajahnya langsung memerah karena malu.

"Ma-maafkan aku, Sasuke-kun. Aku pikir kau tidur lagi, jadi aku menggunakan kamar mandimu dengan lancang. Aku berangkat ke sini dengan terburu tadi dan tidak sempat mandi.. Aku pikir.." kata-kata Sakura terputus begitu Sasuke berjalan mendekat ke arahnya. Sakura segera menyingkir dari pintu kamar mandi agar Sasuke bisa lewat.

Sebelum menutup pintu kamar mandinya, Sasuke berbalik menghadap Sakura sambil memegang daun pintu.

"Lain kali kau boleh memintaku menggosok punggungmu sekalian kalau kau mau.." ujarnya dengan sebuah seringaian menggoda di wajahnya.

BLUSH!

Wajah Sakura langsung memanas dan dia merasakan wajahnya seperti ketel air yang mendidih sekarang. Sasuke menutup pintu kamar mandinya dengan perlahan dan meninggalkan Sakura yang kini menahan malunya setengah mati.

.

.

Sasuke tiba di kantor polisi agak siang dan langsung masuk ke kantor Shikamaru. Dia hanya duduk sendirian di sana dengan kedua tangan saling bertaut dan menopang dagunya.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

Shikamaru yang duduk di belakang mejanya, mendongak menatap Sasuke yang baru saja datang. Dia mengernyitkan dahinya menatap penampilan Sasuke yang lebih rapi dari beberapa hari sebelumnya. Bahkan baju yang dipakainya wangi dan rapi. Beberapa hari setelah kematian kakaknya, Sasuke tampak kacau sekali dan hampir tidak memperhatikan penampilannya. Jadi melihatnya sudah mulai berpenampilan rapi lagi, mau tidak mau membuat Shikamari tersenyum samar.

"Kami sudah memperbaiki video yang terekam CCTV di bank itu saat terjadinya kasus pembunuhan.. " ujar Shikamaru kemudian.

Sasuke melihatnya dengan wajah datar.

"Benarkah?"

Shikamaru mengedikkan bahunya.

"Aku sudah meminta rekamannya.." katanya kemudian. Dia lalu memperlihatkan laptop yang ada di meja kerjanya pada Sasuke. Sasuke memperhatikannya saat laki-laki berwajah mengantuk di depannya – yang notabene adalah seniornya – memutar sebuah video di layar laptop itu.

Sasuke memperhatikan rekaman video itu dengan seksama. Video itu menampilkan suasana bank yang kacau. Semua orang berlarian ke sana kemari. Dia mendengar teriakan orang-orang yang ketakukan bercampur dengan gertakan dan ancaman dari para perampok. Suara tembakan dan sirene polisi di kejauhan mulai terdengar. Bank mulai dipenuhi dengan gas yang ditembakkan para perampok.

Sasuke memicingkan matanya saat matanya menangkap sesuatu yang aneh. Dia mendengar suara desingan tembakan dan teriakan keras dari para nasabah yang disandera. Matanya menangkap sosok tubuh yang terjatuh di depan antrian teller – jauh dari kamera pengawas. Gambar itu kecil sekali, tapi Sasuke sangat mengenali sosok itu.

"Tunggu!" katanya seraya menekan tombol 'pause'. Dia memutar ulang video itu dengan menekan tombol 'slow'. Video itu bergerak dengan perlahan. Dan tampaklah pemandangan di mana kakaknya ambruk begitu saja setelah terkena tembakan.

Tapi setelah itu dia melihat seseorang dari perampok itu menghampiri tubuh kakaknya. Perampok itu mengenakan pakaian serba hitam dan topeng yang menutupi seluruh kepalanya kecuali matanya. Tapi dari jarak pandang sejauh itu, Sasuke tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dia hanya melihat perampok itu menghampiri tubuh kakaknya. Sasuke kembali menekan tombol 'back' dan memutar videonya dengan lebih pelan.

Sekarang lebih jelas.

Dia melihat kakaknya seperti memberikan sesuatu pada perampok itu. Sebelum perampok itu akhirnya meninggalkan tubuh Itachi yang sudah kritis di sana begitu saja.

Sasuke menggeram kesal seraya menutup laptop itu dengan agak keras. Kedua tangannya mengepal erat. Matanya yang berwarna onyx mulai berkilat tajam.

"Jadi sebelum Itachi dibawa ke rumah sakit, dia berbicara dengan salah satu dari perampok itu?" gumam Shikamaru.

"Apa kita tidak bisa melacaknya dengan mengenali bentuk tubuhnya?" tanya Sasuke.

Shikamaru kembali menatapnya tajam.

"Aku tahu kau ingin segera menyelesaikan ini dan menangkap pelaku perampokan yang sudah membunuh kakakmu itu. Tapi kita tidak boleh bertindak gegabah, Sasuke.." ujarnya.

"Aku tahu itu.." sahut Sasuke datar.

"Aku sudah mengumpulkan saksi yang ada di dalam bank itu dan melihat kejadiannya langsung. Aku sedang mengumpulkan informasi dari mereka. Termasuk orang yang memberitahukan kepada polisi kalau Itachi Uchiha sekarat.." kata Shikamaru.

Sasuke menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Jadi, ada orang yang memberitahukan pada polisi saat itu?" tanyanya kemudian.

"Itu yang sedang aku selidiki sekarang. Saat itu keadaan benar-benar genting. Dan aku hanya mendengarnya dari beberapa polisi yang berjaga di depan bank. Setelah kita berhasil memukul mundur mereka dan mereka berhasil melarikan diri dengan membebaskan semua sandera, ada yang meneriakkan namanya dan berkata kalau dia sekarat.." jelas Shikamaru.

Sasuke mengerutkan dahinya.

"Apa kakakku pergi dengan seseorang yang dia kenal?" tanyanya dengan nada menggumam.

"Itu sedang aku selidiki.. Nah, aku harap kau sudah siap untuk melanjutkan misi ini.." kata Shikamaru kemudian.

Sasuke menarik napas panjang.

"Sudah aku katakan padamu kalau aku selalu siap setiap saat.." sahut Sasuke.

Shikamaru menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman mengejek.

"Seminggu ini penampilanmu berantakan sekali dan kau sepertinya sudah tidak ada semangat untuk hidup. Karin mengkhawatirkanmu.. Dia bahkan mendesakku untuk memberikan alamatmu padanya. Aku hampir menyerah untuk memberikan alamatmu padanya karena dia terus menerus mendesakku.." ujar Shikamaru.

"Hn.. Kalau sampai kau bilang padanya, aku akan memastikan Temari segera memutuskanmu. Kau tahu bagaimana reaksinya kalau tahu kau masih merokok kan?" Sasuke menyeringai dengan nada mengancam. Shikamaru mendecih pelan.

"Cih... Dasar, merepotkan.." katanya kemudian.

"Kalau begitu, serahkan data-data yang sudah kau dapatkan. Aku akan segera menyelidikinya.." kata Sasuke.

.

.

.

Rumah keluarga Uchiha tampak selengang biasanya saat Sasuke masuk ke perkarangan dan memarkirkan mobil miliknya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan jalanan di sekitarnya sudah lengang. Daerah tempatnya tinggal memang bukan daerah yang terdapat banyak rumah di sekelilingnya. Sasuke segera keluar dari mobilnya dan menguncinya sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke bangunan rumahnya.

Langkah kakinya terhenti di depan pintu rumahnya saat dia melihat cahaya dari dalam rumahnya. Dahi Sasuke berkerut. Apa gadis itu masih ada di sini? Batinnya.

Dia angkat bahu acuh lalu segera masuk ke dalam rumahnya.

Lampu di ruang tengah yang biasanya dimatikan kalau tidak ada orang, kini masih terlihat terang benderang. Sasuke segera melangkahkan kakinya menuju ruang tengah setelah melepas alas kakinya. Kayu tatami sedikit berderit saat dia melangkahkan kakinya di atasnya.

Setibanya di ruang tengah, dia langsung tercengang saat melihat Sakura tertidur di atas tatami tanpa alas apapun. Gadis itu tertidur dengan tubuh menyamping dan rambut merah mudanya sebagian menutupi wajahnya. Di sampingnya, tergeletak sebuah buku medis yang terbuka begitu saja. Sasuke berjalan mendekatinya dengan perlahan.

Sakura tampak lelap sekali dalam tidurnya. Wajahnya kelihatan kelelahan dan sesekali napas berat keluar dari hidungnya. Dia pasti kelelahan setelah bekerja seharian penuh membersihkan rumah sebesar ini sendirian.. batin Sasuke.

Sasuke melirik jam dinding yang menggantung di tembok ruangan itu. Ini sudah jam delapan malam dan jalanan di luar sudah sepi sekali, tidak mungkin membiarkan gadis seperti ini berjalan sendirian malam-malam begini. Tapi membiarkannya tidur seperti ini di atas lantai tatami yang dingin seperti ini semalam suntuk... Melihat Sakura tidur selelap itu juga membuat Sasuke tidak tega membangunkannya. Sasuke akhirnya menghela napas panjang.

'Baiklah, anggap saja ini balasan atas kebaikanmu selama ini..' batinnya.

Dengan langkah berat, Sasuke akhirnya menghampiri Sakura dan berjongkok di depannya. Gadis itu seolah sudah terlalu jauh masuk ke alam mimpi sampai tidak mendengar Sasuke menjatuhkan tasnya dengan agak keras di depannya. Sasuke segera meraih tubuh Sakura dan menggendongnya. Dia menyandarkan kepala Sakura ke dadanya dan menopang punggung dan kaki gadis itu dengan kedua tangannya.

Harum parfum strawberry yang manis menguar dari tubuh Sakura dan memenuhi indra penciuman Sasuke. Sasuke memilih untuk mengabaikannya dan terus membawa Sakura ke kamarnya. Hanya itu satu-satunya kamar yang jadi tujuannya. Membayangkan gadis itu tidur di kamar orangtuanya yang sudah lama tidak ditempati sejak mereka meninggal, dan kamar Itachi yang baru saja meninggal seminggu yang lalu, membuat Sasuke tidak tega. Dia bisa tidur di kamar Itachi atau di manapun di rumah ini.

Sesampainya di kamarnya, Sasuke segera merebahkan tubuh Sakura di atas ranjangnya yang sudah ditata rapi. Sakura masih terlelap dan sama sekali tidak terpengaruh dengan keadaan sekitarnya. Sasuke mengamatinya sejenak dari pinggir ranjangnya. Rambut merah muda Sakura tergerai di bantalnya. Dan wajahnya tampak damai sekali dalam tidurnya. Tiba-tiba Sasuke teringat dengan insiden di kamar mandi pagi tadi dan entah kenapa wajahnya tiba-tiba memerah. Dia langsung menyelimuti tubuh Sakura dengan selimutnya sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.

"Dia memang cantik, sih.."

Suara dalam di belakangnya membuat Sasuke terkejut luar biasa. Sasuke hampir terpeleset dari tangga kalau dia tidak cepat-cepat berpegangan pada pegangan kayu di dekatnya.

Itachi muncul di belakangnya dengan tiba-tiba.

"Bisa tidak kau tidak selalu muncul tiba-tiba dan membuatku hampir mati karena terkejut?" Sasuke kesal pada kakaknya.

"Jangan. Kau belum boleh mati, Sasuke-kun.." sahut Itachi.

Sasuke mendengus kesal seraya berjalan menuruni tangga dan kembali ke ruang tengah.

Dia tiba-tiba teringat dengan video yang diperlihatkan Shikamaru padanya tadi.

"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Itachi-nii..." kata Sasuke kemudian.

Hening.

Dia tidak mendengar suara kakaknya menjawab.

Sasuke menoleh ke belakang.

Tapi dia tidak mendapati Itachi di belakangnya. Ke mana dia?

"Itachi-nii.." panggil Sasuke.

Dia menoleh ke kanan-kirinya, mencari sosok kakaknya yang suka muncul seenaknya.

"Mungkin lain kali saja, Sasuke-kun.." terdengar sahutan di suatu tempat. Itu suara kakaknya. Tapi sosoknya tidak muncul di depan Sasuke.

Cih! Sasuke berdecak kesal dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang terdapat di ruang tengah.

.

.

.

TBC.

Karena desakan dari beberapa readers, maka akhirnya saya lanjutkan fic yang sudah hampir saya discontinue ini. Hehe.. Mohon pencerahannya.