.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story by Icha-Icha Fairy

Part 3

enjoy


.

Malam hari tiba. Aungan serigala menunjukkan waktu berjalan tepat tengah malam, menandakan bahwa tepat satu hari berlalu setelah upacara suci Greenoch dilaksanakan. Hawa dingin kian terasa saat angin menggerakkan seluruh pepohonan desa Konoha. Langit tidak begitu cerah. Cahaya bulan kian meredup ketika mendung bergerak menutupi sebagian sinarnya.

Tampak sosok hitam bertengger pada salah satu dahan tertinggi pepohonan Greenoch. Sebelah sayap yang tersisa di bagian punggung menunjukkan bahwa sosok itu adalah Sasuke. Rambut hitam miliknya bergerak lembut di sekitar leher dan pipi. Dinginnya angin malam tidak menggetarkan tubuh pria itu. Ekspresinya yang tenang begitu menghanyutkan. Tanda melintang pada wajah Sasuke menghilang, cukup mengurangi persepsi tentang sosok menakutkan yang dideskripsikan oleh penduduk Konoha. Namun, kedua bola mata pria setengah manusia itu masih tampak sama. Merah dan tajam. Tampak tanda hitam menyerupai bintang pada kornea mata itu. Dalam keheningan Sasuke memandang desa Konoha. Satu per satu cahaya penerangan rumah padam ketika penduduk mulai beristirahat.

Jendela kamar Sakura terbuka. Seekor burung uncu datang dan hinggap di tepi jendela, burung itu mengalunkan kicauan yang mendayu-ndayu begitu Sakura melihat ke arahnya.

"Pergilah..." gadis itu mengibaskan tangan. Mengusir burung itu ketika ia ingin menutup jendela kamar.

"Kau tidak bisa menghindarinya." tiba-tiba Hiruzen muncul di sudut dinding. Suaranya membuat Sakura terkejut dan langsung berbalik.

Sakura mendekati Hiruzen dan bertanya. Bagaimana wanita tua itu bisa masuk ke dalam rumahnya? Hiruzen tidak menjawab, ia menunjuk jendela kamar dan serontak Sakura menoleh. Sosok berjubah muncul di depan jendela. Wajahnya tak terlihat, ia melayang dan hanya berdiam diri. Sakura takut, ia meminta perlindungan namun sesaat Hiruzen menghilang. Tiba-tiba lentera kamar padam. Perlahan tubuh Sakura bergerak dengan sendirinya, ia tertarik ke arah jendela hingga terbang keluar kamar. Mata Sakura melebar. Ia menoleh dan melihat rumahnya kian menjauh. Gadis itu menengok kedua kakinya yang tidak berpijak. Melayang di udara tanpa kedua sayap, tubuh terasa sangat ringan. Ini ajaib. Ia benar-benar terbang... rasanya seperti ini...

Sakura pun menghamburkan pandangan, ia mencari sosok berjubah yang telah menghilang dari jendela kamarnya. Tubuh Sakura terbang kian meninggi, gadis itu berbalik dan seketika ia disambut hamparan hutan Greenoch. Tidak mengerti mengapa hutan itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Sakura bergerak dan melayang tepat di atas telaga suci. Tidak ada pepohonan yang terlihat di sekitar tempat itu melainkan satu pohon Sakura di tengah telaga. Perlahan awan mendung bergerak dan menampakkan sinar bulan. Emerald Sakura terus terpaku ke arah telaga. Puluhan kelopak bunga Sakura terbang ke atas saat angin berhembus cukup kencang. Kelopak-kelopak itu menuju ke arah Sakura dan melingkari tubuhnya menyerupai tali. Seketika tubuh Sakura menjadi berat.., perlahan ia merosot ke bawah, Sakura pun panik, seakan tubuhnya tak bisa lagi terbang, dalam sekejap tubuh gadis itu pun meluncur.

"Kyaaaa!" Sakura berteriak.

TAP!

Seseorang menggapai tangan gadis itu.

dan...

di saat bersamaan Sakura membuka mata.

Mimpi

Sakura tengah meringkuk di ujung meja saat ia tersadar. Ia berada di dalam kamar. Tangan kirinya melipat sebagai sandaran kepala. Kertas yang tertindih beserta pensil yang tergeletak di samping tangan kanannya menunjukkan bahwa gadis itu usai menggambar. Sosok Gaara tengah mengikatkan tali pada jari kelingking Sakura terabadikan dalam selembar sketsa.

Suara burung hantu serontak memecah keheningan sekitar. Kepekaan inda Sakura bekerja, gadis itu tidak bergerak, emerald-nya melirik jari kelingking kananya. Tali merah pemberkatan yang Gaara berikan masih terikat di jari itu. Sakura terdiam saat kesadarannya kian tepusat. Perlahan gadis itu bangkit. Suasana begitu sunyi baik di dalam maupun di luar rumah. Sakura menatap ke arah jendela persis di hadapannya. Seekor burung uncu meninggalkan jejak di kepala. Bayangan mimpi yang ia alami masih membekas dengan jelas. Membayangkan jika sosok berjubah di dalam mimpinya benar-benar ada di balik jendela itu. Perlahan tangan kanan Sakura menyentuh permukaan jendela. Gadis itu terdiam cukup lama sampai ia menarik kembali tangannya dan menyentuh tali pemberkatan yang terikat pada jari kelingking.

DEG

Dada Sasuke berdenyut kencang. Tanda hitam yang membekas di samping kiri lehernya perlahan menjalar. Pria itu menyerngit saat rasa sakit mulai muncul. Bercak hitam menyentuh luka bakar di sekitar leher sampai ke sebagian dadanya. Sasuke memejamkan mata, menahan rasa sakit saat ia bangkit dan berdiri. Perlahan tubuh Sasuke melayang, pria itu turun dari atas pepohonan dan menuju ke tepi telaga.

Kunang-kunang beterbangan di tempat itu. Langkah kaki Sasuke menyeret ketika rasa sakit menguasai tubuhnya. Perih dan panas. Sasuke pun tumbang, ia bersimpuh di atas rerumputan. Satu tangannya menekan dada sedangkan tangan lainnya mencengkram rumput dengan erat. Berjuang menahan derita yang tengah ia rasakan pada sebagian tubuhnya.

"Arrrgh..." Sasuke merintih, ia semakin merunduk dan keningnya bersandar pada permukaan rumput.

Berbagai jenis hewan muncul dari balik kegelapan hutan. Puluhan burung gagak bertengger pada dahan pepohonan, sorot mata mereka seakan bersiaga. Musang, tupai, kelinci dan jenis hewan lainnya ikut tampak. Mereka memandang ke arah Sasuke. Satu persatu cahaya hijau muncul dari balik dedaunan. Mereka adalah peri tumbuhan, orang-orang menyebutnya Elf. Tubuh peri-peri itu sangatlah kecil, mereka keluar ketikan malam. Sejauh ini wujud Elf tidak terlihat oleh manusia biasa. Penduduk desa sering mendeskripsikannya di dalam dongeng semata.

Para Elf membaur bersama kunang-kunang malam, cahaya mereka menerangi sekitar telaga. Seekor kijang muncul, hewan itu berdiri satu meter dari Sasuke dan hanya memandang. Sasuke menegak, Kedua matanya terpejam erat dengan dahi yang menyerngit, menahan rasa sakit yang kian menjadi. Luka itu begitu panas dan menyekat hingga pangkal tenggorokan. Sampai kemudian Sasuke membuka mata. Mencapai batas maksimal, kedua bola mata pria itu berubah menjadi hitam. Satu sayapnya kian mengecil dan menghilang.

Sasuke pun tumbang, ia terkurap lemas di atas rerumputan. Rongga dadanya naik-turun, nafasnya memburu melalui bibir yang tidak lagi menghitam. Wujud Sasuke bagai manusia biasa. Poni menutupi sebagian wajahnya, ia lemas tak berdaya. Telapak tangan Sasuke terbuka lemas, ia tengah menggenggam seuntas tali merah. Kedua onyx Sasuke memandang sayu tali itu. Burung-burung gagak pun terbang menembus pepohonan. Perlahan penglihatan Sasuke kabur dan ia tidak sadarkan diri.

.


.

Keesokan harinya. Cuaca tidak begitu cerah. Mendung menutupi seluruh permukaan desa Konoha saat pagi menjelang. Hawa terasa dingin. Kabut mulai memudar ketika embun membasahi seluruh permukaan dedaunan, tidak terkecuali hingga semua tumbuhan yang ada di Greenoch. Bunga-bunga di sana bermekaran indah walau tidak disambut sinar mentari. Dua testes embun jatuh dari permukaan daun dan mendarat pada kening Sasuke, wajahnya begitu tenang ketika ia tertidur. Perlahan mata Sasuke terbuka. Tampan. kedua onyx kelam miliknya jernih dan tajam.

Sasuke menangkap wajah seekor kijang, binatang itu tengah memperhatikannya dari atas. Pandangan Sasuke pun semakin jelas, Kijang itu menggigit selembar daun dimana tetesan embun berasal. Di saat bersamaan langkah seekor serigala hitam mendekat. Sasuke bisa merasakan kedatangannya walau ia tidak melihat. Sang kijang pun melangkah mundur dan pergi meninggalkan telaga. Serigala itu membawa kain pada Sasuke. Ia melangkah terpincang-pincang dengan darah mengalir pada kaki depan kanannya. Perlahan Sasuke bangkit. Kedua tangannya menopang walau sedikit gemetaran. Sisa perih yang berasal dari luka di tubuhnya masih tertinggal. Sasuke memandang ke arah serigala yang semakin mendekat, ia melihat luka bacokan yang menganga saat serigala itu meletakkan kain di pangkuannya.

"Mereka melakukan ini padamu." ucap Sasuke.

Serigala itu menunduk dan duduk di sampingnya. Mata srigala tajam, wajahnya memancarkan rasa sakit yang sama saat mata mereka bertemu. Sasuke menyentuh kepala serigala itu. Ia menyerngit, menahan rasa sakit saat menyalurkan energinya. Seketika darah yang mengalir pada luka serigala berhenti, luka itu hampir mengering namun Sasuke tidak sanggup meneruskannya. Pria itu bangkit dan berdiri, ia memakai jubah bewarna krem yang dibawakan serigala untuknya. Jubah itu menutupi hampir seluruh tubuh dan kepala.

"Aku akan kembali." Sasuke beranjak meninggalkan telaga.

.

Suara guntur mulai terdengar saat mendung tampak semakin padat. Sasuke memulai perjalanan, pria itu meninggalkan Greenoch dan berjalan menuruni pegunungan batu. Ladang pertanian desa Konoha terlihat dari atas sana. Langkah Sasuke tidak pelan namun juga tidak cepat. Pria itu tidak membawa barang bawaan satu pun, tubuhnya hanya terlilit jubah. Pandangan pria itu lurus kedepan saat melewati beberapa pengembala domba di pinggiran padang savana.

"Semalam mereka melihat seekor serigala turun ke desa..." ucap salah satu pengembala pada seorang pria yang tengah mengikatkan jerami pada gerobak dorong. Sasuke melewati keduanya dan ia mendengar pembicaraan mereka.

"Ya, serigala itu menyelinap masuk ke dalam pekarangan rumah salah satu penduduk. Kudengar Istri pemilik rumah itu baru saja melahirkan bayinya seminggu yang lalu."

"Serigala itu mengincar bayi mereka?" tanya sang pengembala. Sesaat Sasuke pun menghentikan langkah, ia tidak berbalik dan menyimak pembicaraan kedua orang itu.

"Begitulah, penduduk mengejar binatang itu dan berhasil mengenai kakinya." terang pria pemilik jerami, sekejap ia melihat ke arah Sasuke dan menautkan alisnya. "Hei tuan..." panggilnya. Sasuke tetap berdiri di tempat dan tidak berbalik.

"Apa kau akan menuju desa?" tanya sang pengembala.

"Kau penduduk Konoha?" timpal pria pemilik jerami.

"Hei kami bicara padamu...!" suara pengembala berubah lantang. Sasuke pun berbalik dan sedikit memperlihatkan wajah di balik penutup kepala jubah. Kedua onyx kelamnya menatap kedua pria itu. Sekejap sang pengembala dan pria pemilik jerami lupa akan segalanya. Ekspresi wajah mereka datar dan kosong. Keduanya pun mengalihkan pandangan dan saling memandang.

"Bagaimana bisa seekor serigala masuk ke dalam kompleks penduduk? kurasa pengamanan desa akhir-akhir ini kurang waspada." ucap sang pengembala.

"Kudengar mereka akan lebih memperketat area pengamanan desa." sahut pemilik jerami.

Seakan tidak memperdulikan sekitar, kedua orang itu kembali melanjutkan obrolan mereka kembali dan Sasuke melanjutkan langkahnya.

.

.

Penduduk Konoha tetap melakukan segala aktifitas walau angkasa biru tidak tampak seperti biasa. Para petani tetap pergi ke ladang dan pusat perdagangan di pasar tetap ramai. Begitu pula dengan toko roti Haruno. Beberapa roti buatan Kizashi baru saja diangkat dari oven. Sakura menata roti-roti itu dengan wajah berseri. Sesekali ia melihat ke arah jari kelingkingnya dan untuk kesekian kalinya, gadis itu tersenyum.

"Klinting... Klinting..."

Lonceng toko berbunyi saat Ino mendorong pintu dan masuk. Gadis pirang itu menyapa Sakura begitu pula sebaliknya. Sakura menengok ke arah jendela, sepeda Ino terparkir di teras toko. Beberapa rangkaian bunga tampak memenuhi keranjang depan sepeda.

"Kau mengantar bunga?" tanya Sakura.

"Kau bisa menebaknya." Ino langsung menuju meja pelayanan. "Orang-orang menghiasi rumah mereka bahkan saat cuaca tidak cerah." Ino mengambil piring kecil dan beberapa kue pencuci mulut yang disajikan pada keranjang di atas meja.

Sakura meletakkan beberapa roti terakhir pada rak terbawah. "Ya, mereka tahu bagaimana cara menikmatinya." gadis itu mengelap kedua tangannya pada apron yang ia kenakan. Kemudian Sakura menuju meja pelayanan.

"Kau tampak sangat bersemangat. Apa ini caramu menikmati hari ini?" Ino memperhatikan wajah Sakura sambil menggigit ujung kue nastar berselai nanas.

"Kau bisa menebaknya." Sakura tersenyum sambil mengedikkan bahu. Gadis itu menata beberapa kue yang disajikan di atas meja pelayanan.

"Bagaimana kemarin? apa yang kau dapatkan dari nenek Hiruzen?" tanya Ino.

"Tidak ada. Dia hanya meramalku dan memberi mantra sebelum aku beranjak pulang." jawab Sakura. Ino pun menautkan sebelah alisnya.

"Apa yang diramalkan nenek Hiruzen? tidak akan terjadi sesuatu padamu kan?"

"Kurasa aku akan baik-baik saja..." belum Sakura selesai berucap, Tenten muncul di teras toko dan mengetuk kaca jendela. Gadis itu melambai-lambaikan tangan. Tenten tengah membawa dua tumpukan kardus berukuran sedang. Sakura pun melambaikan tangan sedangkan Ino mengangkat kue di tangannya. Tenten menggeleng, gadis itu mengangkat lebih tinggi kardus bawaan, mengisyaratkan bahwa ia tidak sempat mampir ke dalam. Tenten melambaikan tangan kembali dan beranjak pergi.

"Apa yang dia bawa?" tanya Sakura pada Ino.

"Beberapa hiasan untuk gaun pesanan. Kau tahu? para gadis berlomba-lomba membuat gaun yang indah untuk pesta perayaan." Ino mengangkat serbet dan menyapu sisa makanan di mulutnya.

"Ah..." Sakura mengangguk. "Maksudmu pesta yang diadakan setiap tahunnya? perayaan tiga hari setelah pembersihan suci kan?"

"Yup." Ino memetik jarinya. "Dan perlu kau ketahui... tradisi saling menukar tali pemberkatan adalah bagian yang sangat dinantikan." sambungnya.

Emerald Sakura melebar saat mendengar hal itu. Spontan Ia mengangkat jari kelingkingnya dan perhatian Ino langsung terpusat pada tali merah yang terpasang di jari Sakura.

"Kau tidak mengatakan jika nenek Hiruzen memberimu itu. Darimana kau mendapatkannya?" tunjuk Ino.

Wajah Sakura berubah serius. "Gaara membaginya untukku."

Seketika Ino membanting serbet yang ia genggam ke atas meja. "Ceritakan padaku. Semuanya!" wajah Ino berubah antusias. Mengekpresikan bagaimana ia terkejut mendengar apa yang diucapkan Sakura.

"Aku bertemu Gaara saat perjalanan pulang..." Sakura menceritakan setiap detail yang ia lalui bersama sang pujaan, termasuk saat mereka bertemu para kawanan yang mengganggu Yugao dan teman-temannya. Cerita itu terus berlanjut hingga Gaara membagikan tali pemberkatan miliknya pada Sakura. Bagian dimana Gaara mengikatkan sendiri tali itu pada jari kelingking Sakura membuat mata Ino terbelalak.

"Kurasa kemarin adalah hari keberuntunganmu." ucap Ino. "Hilangnya tali pemberkatan tidaklah terlalu buruk." Ino tersenyum simpul begitu pula Sakura. Keduanya saling menatap dan suasana menjadi hening.

"Berhenti menatapku seperti itu!" seru Sakura saat Ino menggerakkan kedua alisnya naik turun.

"Jadi, apa kau akan memberinya bunga saat perayaan nanti?" tanya Ino. Sakura pun menoleh dengan tatapan tidak mengerti.

"Ayolah..." Ino memutar bola matanya. "Ketika pria yang disukai seorang gadis menawarkan tali pemberkatan untuk ditukar, para gadis akan memberikan mawar merah sebagai imbalannya." terang Ino. Sepertinya Sakura baru mengetahui tradisi itu karena seketika ia menggebrak meja.

"Apa yang harus kulakukan? apa aku harus memberi Gaara setangkai mawar?" Sakura tampak bingung dan rona merah muncul di kedua pipinya.

"Itu terserah padamu. Gaara sudah membagikan tali pemberkatan miliknya kan? bukankah itu lebih dari sekedar bertukar?"

"Tapi bagaimana aku tahu dia memiliki rasa padaku? semua orang bisa saja memberikan tali mereka jika itu memang dibutuhkan. Gaara baik pada semua orang dan aku belum bisa menyimpulkan sejauh itu..."

"Jika benar, dia satu diantara jutaan pria di Konoha yang melakukan itu secara cuma-cuma. Sejauh ini, belum ada pria yang begitu bersahaja memberikan tali pemberkatan mereka tanpa mengaikat perasaan." Ino bersedekap. "Tapi, pendapatmu ada benarnya juga. Kau bisa menghanyutkan mawar milikmu ke sungai Konoha jika tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya..."

"Para gadis menghayutkan mawar mereka ke sungai?" tanya Sakura.

"Sebagian dari tradisi..., mereka yang tidak saling menukarkan tali pemberkatan akan menghanyutkan mawar ke sungai. Tali itu diikatkan pada tangkai mawar dan dilempar dari atas jembatan Konoha. Berharap mereka akan menemukan cinta sejati di waktu mendatang. Sedangkan untuk pria, mereka akan membakarnya pada api unggun."

Sakura terdiam dan menatap Ino. "Kau tahu...? apa yang orang-orang katakan itu ada benarnya. Jika aku tidak mengikuti upacara suci Greenoch, mungkin aku tidak akan mendapatkan kesempatan ini."

"Kesempatan mendapat jodoh maksudmu?" Ino menyeringai. Kedua gadis itu saling bertatapan sampai akhirnya senyum simpul terukir di wajah Sakura. Tampak dari jendela toko, kedua gadis itu tertawa dan saling bercanda gurau.

.

.

Minato berdiri di samping jendela. Ia memandang desa Konoha dari lantai dua rumahnya. Minato sering menghabiskan waktu di dalam ruangan itu selain ruangan khusus yang disediakan di balai desa, tempat yang didirikan sebagai pusat kepemimpinan dan pengaturan Konoha. Setiap penduduk wajib membayar pajak untuk memenuhi kas desa. Uang itu digunakan sebagai pembangunan serta memperbaiki sarana dan prasaranan umum. Seperti pembuatan tanggul untuk sistem perairan ladang, membuat jembatan dan masih banyak kepentingan lainnya.

Di luar daripada itu, ada tanggung jawab besar yang dipikul oleh seorang kepala desa. Memimpin desa sebesar Konohagakure bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya kuat, seseorang yang terpilih menjadi kepala desa, ditunjuk berdasarkan jiwa kepemimpinan yang kuat dan juga diakui oleh seluruh penduduk. Minato dikenal sebagai kepala desa yang bijaksana. Pria itu selalu berhati-hati dalam bertindak, seperti saat ia menghabiskan waktu seorang diri untuk memikirkan beberapa hal yang terkait kepentingan desanya.

Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan. Minato mengalihkan pandangan dan mempersilahkan orang itu masuk. Kakashi datang bersama Yamato. Mereka menyampaikan sepucuk surat yang dituliskan seseorang untuk kepala desa. Minato membaca pesan itu, obsidian birunya bergerak cepat ketika memahami apa yang tertulis di dalam surat.

"Huaaaaah..."

Naruto menguap lebar saat ia berjalan melewati koridor rumah. Wujud pemuda itu seperti orang-orangan jerami ketika ia baru saja keluar dari kamar. Cukup menyia-nyiakan waktu setengah hari dimana Naruto bangun kesiangan. Ia tidak mengenal waktu saat asik membuat pedang semalaman. Langkah Naruto berhenti ketika ia melewati ruangan Minato, pintu sedikit terbuka dan Naruto menengok siapa yang sedang berbincang dengan ayahnya.

"Tingkatkan pengawasan di perbatasan desa dan gerbang utama. Indentifikasi setiap orang yang datang dari desa lain." perintah Minato.

Kakashi mengangguk. "Apa kita juga harus mengutus beberapa orang berjaga di perbatasan suci?"

"Sepertinya mereka sudah mengintai kita sejak lama." timpal Yamato. Naruto masih berdiri di balik pintu dan mendengarkan percakapan mereka.

"Kita temui nenek Hiruzen. Dia harus mengetahui ini." Minato melangkah meninggalkan ruangan dan spontan Naruto menjauh dari pintu, pemuda jabrik itu kembali ke ujung koridor dan berjalan seakan-akan belum melewati ruangan Minato.

"Yo..." Naruto melambaikan tangan saat Kakashi dan Yamato keluar dari pintu, mereka mengikuti Minato yang berjalan di depan.

Ketiganya pun menoleh. "Naruto." sapa Minato, pria itu memandang putranya sekejap. "Jika kau ingin mendengar omelan ibumu, kurasa sekarang dia ada di dapur." Minato tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Kakashi dan Yamato menyusul, mereka melambaikan tangan pada Naruto tanpa mengatakan apapun.

.

.

Hiruzen duduk di depan jendela. Kursi goyang miliknya bergerak-gerak diiringi kicauan burung uncu yang bertengger pada pundaknya. Wanita tua penghuni pondok sunyi itu tengah memandang taman dalam keheningan, seakan menyatu bersama alam sekitar.

Beberapa saat kemudian pintu pondok terketuk. Hiruzen membuka mata saat ketukan ketiga terdengar. Burung uncu yang berkicau di sampingnya pun terdiam. Hiruzen membuka mata, ia mempersilahkan Minato dan lainnya masuk tanpa harus melihat siapa yang datang.

"Hiruzen-sama..." Minato memberi salam, begitu pula Kakashi dan Yamato.

"Langit tidak begitu cerah saat kalian membawa kabar buruk." ucap Hiruzen. Minato tidak begitu heran jika wanita tua itu tahu tujuan mereka datang ke tempatnya.

"Hiruzen-sama... mata-mata menemukan beberapa orang tidak sadarkan diri di perbatasan Greenoch tadi malam." terang Minato. Hiruzen terdiam dan memejamkan mata. Kilatan terlihat dari awan dan suara guntur pun terdengar.

"Kita mengutus beberapa mata-mata keluar desa. Mereka akan melapor jika menemukan tanda-tanda mencurigakan. Disamping itu, kita siap membentuk pasukan untuk berjaga-jaga." terang Minato.

"Minato-sama, bagaimana dengan penjagaan di perbatasan suci?" tanya Yamato.

"Tidak. Itu akan menambah kecurigaan mereka." sahut Minato.

"Apa kalian meragukan kemampuanku?" tanya Hiruzen.

"Tidak sedikit pun Hiruzen-sama." ucapan Minato terdengar tegas. "Kita tidak bisa selamanya bersembunyi. Kita bisa merundingkan ini dengan cara baik-baik."

Hiruzen pun memejamkan mata. Dua lonceng yang diikatkan di atas jendela bergerak ketika angin berhembus. "Selama manusia masih memiliki sifat tamak. Bencana tidak akan pernah terhindarkan." ucapan Hiruzen diiringi suara guntur serta kilatan petir.

.

.

Sasuke tiba di gerbang masuk desa Konoha. Beberapa prajurit tampak berjaga di sana. Tidak ada keraguan bagi Sasuke untuk terus melangkah. Dua tombak langsung menyilang tepat di hadapannya ketika Sasuke bermaksud melewati gerbang masuk.

"Buka jubahmu." perintah salah satu penjaga.

Sasuke membuka penutup jubahnya, sepasang bola mata bewarna merah sekejap mengubah keadaan. Sasuke merubah wajahnya menjadi pria pengembala yang ia temui di perjalanan sebelumnya. Kedua penjaga itu pun menarik tombak mereka dan mempersilahkan Sasuke masuk ke dalam desa. Ada dua pria berjalan melewati Sasuke dari arah berlawanan. Mereka dilengkapi senjata yang sama, keduanya sempat melirik Sasuke namun mereka tidak menegurnya.

"Shhh... dinginnya..." salah satu diantara pria itu mengusap lengan. "apa kau tidak merasakan sesuatu?"

"Ya, cuaca sedikit dingin. Sebentar lagi hujan lebat turun..." sahut pria di sebelahnya. Kedua pria itu menghampiri penjaga lama dan mereka bertukar tempat.

Sasuke meneruskan perjalanan dan tiba di pusat perdagangan Konoha. Tempat itu masih ramai bahkan di saat hujan akan turun. Sasuke berjalan di antara lalu lalang penduduk. Beragam macam hasil panen dan benda dijual di sana. Begitu pula berbagai suara terdengar ketika orang-orang melakukan kegiatan transaksi. Tawar menawar menjadi topik utama selama kesepakatan antara pembeli dan penjual belum tercapai. Seperti pria dengan rambut jabrik kuning di sana..., Naruto tengah menawar beberapa batang besi dari seorang kakek tua berjenggot putih.

"Ayolah kek..., turunkan sedikit saja harganya..." Naruto meyakinkan kakek penjual besi logam dengan wajah serius sampai bibirnya maju ke depan.

"Tidak bisa anak muda.. mencari bahan besi sampai ke negeri Suna bukanlah hal yang mudah. Kau tinggal memberikan sepuluh keping perakmu dan membawa pulang tiga besi ini sekarang." suara kakek itu pelan dan santai.

"Kemarin kau menjual satu bongkah besi ini dengan dua koin perak." Naruto masih berjuang.

"Jangan membawa masa lalu anak muda..."

"Ayolah... aku pelangganmu kan..."

"Baru sekali kau membeli logam milikku."

Keduanya pun bertatapan dengan wajah datar. Naruto menyerah. Tidak ada lagi yang menjual besi dengan khualitas seperti yang ia butuhkan. Akhirnya, Naruto memberikan keping peraknya dan di saat bersamaan seseorang menabrak bahu pemuda itu. Keping perak Naruto pun tercecer ke tanah.

"Hei!" tegur Naruto. Ia melihat sosok berjubah yang tak lain adalah Sasuke. "Perhatikan langkahmu!" Naruto mengumpulkan semua keping uangnya sementara Sasuke terus melangkah.

"Ini kek." Naruto memberikan uangnya, ia mengambil logam yang ia beli dan langsung beranjak pergi.

"Hei! Anak muda! kau melebihkan dua koin!" seru pak tua itu.

"Jadikah aku pelangganmu!" Naruto berseru sambil melambaikan tangan. Pandangan pemuda itu terus mengedar sampai ia melihat sosok Sasuke di antara lalu lalang pengunjung. Naruto terus memperhatikan Sasuke sampai kecurigaan muncul di benaknya. ia pun mempercepat langkah dan...

TAP!

Naruto menepuk pundak Sasuke. "Hei Kau..."

Wuuuuussssh...

Di saat bersamaan angin bertiup sangat kencang. Beberapa atap jerami milik lapak pedagang terangkat bahkan ada yang terbang. Spontan Naruto menutup mata saat angin menyapu permukaan tanah dan menerbangkan debu ke segala arah. Seseorang menabrak Naruto saat pria itu mengucek mata. Orang-orang bergegas ketika gemuruh awan menggelegar. Bongkahan besi milik Naruto terjatuh, pria itu membuka mata dan mendapati Sasuke telah menghilang.

.

.

Awan semakin hitam dan padat. Tidak henti-hentinya angin besar menggerakkan seluruh pepohonan, mengalunkan suara ranting pohon yang bergonyang. Gemuruh disertai kilatan petir membuat suasana kian mencekam. Kain-kain yang berderet pada tali jemuran beterbangan. Para penduduk menutup pintu dan jendela rumah mereka, puluhan hewan ternak digiring menuju kandang dan orang-orang berlari mencari tempat perlindungan sebelum hujan turun.

Sakura keluar dari toko, angin menerpa tubuh gadis itu saat ia tengah mengangkat papan harga yang dipajang di depan teras. Rambut merah muda Sakura berkibar ke segala arah dan menutup pandangan. Seseorang menarik rem sepeda tepat di seberang jalan. Gaara melihat ke arah Sakura, pria itu mengangkut beberapa kendi yang diletakkan pada keranjang besar di jok penumpang.

"Gaara!" Kankuro memanggil nama adiknya. Pria itu menghentikan sepeda beberapa jarak di depan. Spontan Sakura menoleh saat mendengar nama Gaara disebut, angin bertiup semakin kencang dan menekan papan yang tengah Sakura angkat.

"Kau duluan! aku akan membeli beberapa roti!" seru Gaara, pria itu menyebrangi jalan dan menuju ke arah Sakura. Kankuro tersenyum simpul dan ia beranjak pergi.

Gaara memakirkan sepedanya ke tepi dinding teras dan langsung bergegas menolong Sakura. Pria itu mengangkat papan masuk ke dalam toko.

"Maaf merepotkanmu anak muda..." Kizashi keluar dari balik dapur. Gaara meletakkan papan harga di sudut ruangan. Di saat bersamaan tetes hujan turun. Rintik yang singkat itu langsung berubah menjadi hujan deras.

"Ah! sepedamu Gaara-san..." Sakura melihat keluar jendela.

"Biarkan saja. Tidak masalah." sahut Gaara. Kedua orang itu memandang ke arah jendela, hujan turun sangat lebat disertai angin kencang.

"Ehem!" Kizashi berdeham. Sakura dan Gaara langsung menoleh dan suasana menjadi sedikit kikuk.

"Sebaiknya kau berteduh di sini?" tawar Kizashi. "Siapa namamu?"

"Ah..." Gaara mendekat. "Sabaku Gaara, tuan." keduanya pun berjabat tangan.

"Aku Haruno Kizashi, ayah Sakura." Kizashi tersenyum, ia melirik putrinya sekejap. Cukup paham dengan siapa ia berhadapan sekarang. "Sakura, kau tidak membuatkan tamu kita secangkir kopi?"

"Oh! ya... tentu saja..." Sakura langsung menuju meja pelayanan. Gadis itu gugup dan terbaca dari tingkah lakunya saat menyiapkan dua cangkir kopi.

Kizashi tersenyum melihat putrinya, ia pun menepuk lengan Gaara dan berkata, "Mau melihat bagaimana kelezatan kueku dibuat?" Sakura langsung menoleh dan memandang ayahnya.

Garaa pun tersenyum tipis. "Dengan senang hati.."

.

Kizashi membawa Gaara menuju tempat dimana ia menciptakan beragam kue yang lezat. Dapur Kizashi cukup luas. Dua pemanggang yang terhubung langsung pada cerobong asap terletak di sudut ruangan. Berbagai macam alat dan bahan membuat roti tesedia di sana. Satu meja berbentuk huruf L ditempatkan di tengah-tengah ruangan, di atas meja itu tampak beberapa adonan kue pai sedang dibuat.

"Aku pernah melihatmu sebelumnya." ujar Kizashi. "Kau tinggal bersama keluarga Nara bukan?"

"Anda benar tuan. Kakak tertuaku menikah dengan Shikamaru. Dua tahun yang lalu kami pindah ke sini." terang Gaara.

"Apa kau yang membuat semua kendi yang dijual di lapak Kankuro?"

Gaara melihat kendi dan beberapa tempat yang terbuat dari tanah liat digantung pada dinding dapur Kizashi. "Ya. Terimakasih sudah membeli barang kami."

"Kalian sangat berbakat. Kendi buatanmu tidak mudah patah, permukaannya menghantarkan panas dengan baik." puji Kizashi.

"Terimakasih." Gaara membantu Kizashi mengambilkan penggiling adonan di dekat rak peralatan. Sakura pun datang membawa dua cangkir kopi dan ikut bergabung bersama mereka.

Sakura membantu Kizashi mengaduk adonan kue pai. Gaara duduk di hadapan gadis itu, ia ikut menyibukkan diri dengan mengoles kuning telur menggunakan kuas pada semua adonan yang sudah dicetak. Suasana hening. Sesekali Sakura melirik ke arah jari kelingking Gaara. Tali yang mengikat pada kelingking pria itu membuat Sakura menggigit bibirnya. Tidak kuasa menatap wajah sang pujaan. Ketidakpercayaan bahwa pria itu ada di dapur mereka saat ini membuat Sakura terhanyut ke dalam pikirannya sendiri. Terus mengingat apa yang Ino katakan tentang hari perayaan yang akan diadakan muda-mudi desa Konoha. Tali yang melingkar pada masing-masing jari mereka mengambil alih angan-angan Sakura begitu dalam.

"Kau serius sekali." Gaara memecah keheningan. Sakura menoleh sekejap dan tersenyum tipis.

"Jadi, apa kau pernah membuat kue sebelumnya?" tanya Sakura. Kizashi tengah sibuk menata kue yang sudah tercerak pada alat pemanggang.

"Jika kujawab tidak, apakah aneh jika pria tidak bisa memasak?" tanya Gaara. Sakura pun menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak."

"Itu berarti aku boleh mengganggumu." Gaara bangkit dan berdiri di samping Sakura. Pria itu melipat lengannya ke atas dan Sakura bertanya apa yang akan Gaara lakukan.

"Tunggu sebentar!" Sakura menahan kedua tangan Gaara saat pria itu hendak menyentuh adonan kue pai. Sakura menunjuk kran air pada tempat cuci dan Gaara tersenyum. Pria itu membersihkan kedua tangannya lalu mengambil alih pekejaan Sakura, lebih tepatnya meminta Sakura untuk mengajarkannya bagaimana membuat sebuah kue pai.

"Kau bisa menggunakan alat penggiling ini." Sakura mengangkat alat penggiling kayu berbentuk lonjong.

"Tidak perlu. Alat terbaik sudah tercipta di tubuh kita." Gaara menggerak-gerakkan seluruh jemarinya dan spontan Sakura terkekeh.

Gaara menghabiskan waktu cukup lama di dapur Kizashi. Pria itu menyelesaikan adonan kue pai dan menatanya pada alat pemanggang berbentuk mangkuk ceper. Semua intruksi yang didapat dari Sakura membawa mereka ke dalam obrolan yang menyenangkan. Sesekali Kizashi ikut ke dalam percakapan tapi dia lebih banyak memberi kesempatan putrinya mengobrol bersama Gaara. Keduanya tampak lebih saling terbuka dan menceritakan tentang diri mereka.

.

Hujan deras masih mengguyur desa Konoha setelah satu jam berlalu. Angin menerbangkan puing-puing bangunan dan beberapa sampah. Jalanan Konoha sepi. Hanya beberapa orang yang melintas dan mereka adalah para penduduk yang telat mengejar waktu pulang. Seekor anjing hitam berlari menuju toko roti Kizashi. Anjing itu berteduh di bawah teras walau seluruh tubuhnya telah basah kuyup. Setidaknya, hujan membuatnya tidak diusir dari tempat itu atau sebuah sandal yang terlempar ke arahnya.

Beberapa saat kemudian Sasuke muncul saat guntur terdengar. Pria itu berdiri di seberang toko roti Kizashi. Anjing hitam yang tengah berteduh di teras langsung berdiri. Sorot matanya tertuju ke seberang jalan, tepatnya ke arah Sasuke. Anjing itu mengonggong dan bergerak gelisah.

"Grrrrrrr..." sang anjing waspada saat Sasuke menyebrangi jalan dan mendekat ke teras toko Kizashi.

.

"Kau yakin tidak menunggu kue buatanmu matang?" tanya Sakura saat Gaara berniat pulang. Hujan tampak mereda dari balik kaca jendela dapur. Kizashi menyarankan pemuda itu menunggu hujan berhenti tapi tampaknya Gaara tidak bisa tinggal lebih lama lagi, pemuda itu terus melihat ke arah jendela.

"Aku harus pergi. Kue apa yang pantas diberikan untuk seseorang yang sedang sakit?" tanya Gaara.

"Kau mau menjenguk seseorang?" tanya Sakura. Gaara pun mengangguk.

"Ambilkan dia beberapa kue jahe yang ada di..." ucapan Kizashi terpotong saat terdengar gonggongan anjing di depan tokonya.

"Guk! Guk! Guk!"

Sakura pun keluar dari dapur dan melihat siapa yang datang bekunjung. DEG! Sosok berjubah terlihat di balik kaca jendela. Sesaat mimpi Sakura terlintas di kepala, jubah itu tidak asing. Sasuke tengah berdiri di depan teras sambil memandang jalanan. Anjing berhenti mengonggong ketika Sasuke menoleh, hewan itu berdiri di samping sepeda Gaara dan terus memperhatikan Sasuke.

Sakura berdiri di dekat pintu. Berusaha melihat siapa di balik jubah itu namun wajah Sasuke tidak terlihat. Sakura pun memberanikan diri, ia membuka pintu dan angin langsung menerpa wajahnya. Kepala Sakura menjulur keluar lalu menengok ke arah Sasuke.

"Tuan..." panggilnya. Sasuke tidak menjawab maupun menoleh. Ia membisu di balik jubahnya.

"Tuan..." panggil Sakura kembali. "Di luar dingin, Kau bisa berteduh di dalam." Sakura menunggu respon Sasuke beberapa detik namun pria itu tetap tidak menjawab. Sakura memandang sekitar jalanan. Sepi. Tidak ada orang satupun yang melintas. Gadis itu pun menoleh ke kanan dan melihat anjing hitam tengah melihat ke arahnya.

"Maaf kau tidak bisa masuk ke dalam..." gumam Sakura, ia masuk ke dalam toko dan menuju dapur.

"Ayah, ada seseorang memakai jubah berdiri di teras toko kita." Sakura mengambil beberapa serpihan roti di atas meja. Seketika Gaara menengok dari pintu dapur.

"Kau tidak menyuruhnya berteduh di dalam?" tanya Kizashi.

"Sudah. Tapi dia tidak menjawab apapun." Sakura mengambil payung yang tergantung di dinding dekat dengan pintu masuk, lalu ia bergegas keluar dapur.

"Tidak ada orang di teras." Gaara menoleh ke belakang, pemuda itu berdiri di depan kaca jendela. Kizashi pun ikut keluar dari dapur. Sakura membuka pintu dan mengedarkan pandangan ke penjuru arah. Gaara ikut melihat, ia berdiri persis di belakang putri Kizashi.

"Astaga." Sakura tekejut saat ia berbalik. Jarak mereka terlalu dekat.

"Maaf." Gaara melangkah mundur, ia menahan pintu agar tetap terbuka. Semilir angin masuk ke dalam toko membuat bulu kuduk Kizashi bergidik. Pria itu melihat situasi sekitar dari jendela. Sakura meletakkan serpihan roti beralaskan kertas di lantai teras, anjing hitam itu perlahan mendekat dan mengendus-ngendus kuenya. Kemudian Sakura kembali masuk ke dalam.

"Kemana perginya orang itu..." gumam Sakura, ia menuju meja pelayanan dan mengambil kantung kertas. "Maaf membuatmu menunggu Gaara-san.." Sakura mendekati rak penyajian. "Bagaimana dengan kue jahe?"

"Ah, baiklah. Sepertinya enak." Gaara setuju.

"Tambahkan roti cengkeh ini Sakura." perintah Kizashi, ia berdiri di samping rak penyajian. "Roti ini juga bagus untuk menghangatkan tubuh." Kizashi menunjuk salah satu kue buatannya dan Gaara pun mengangguk.

Sakura mengambil dua jenis roti secukupnya lalu membungkusnya dengan rapi. Gaara bermaksud membayar semua roti itu namun Kizashi menolaknya. Sakura tidak mengerti namun ia setuju dengan keputusan ayahnya. Sebelum pulang, Kizashi meminjamkan jas hujan miliknya pada Gaara. Pria bersurai merah itu mengenakan jas hujan milik ayah Sakura di dalam ruangan dan mengucapkan terimakasih sebelum beranjak.

Sakura mengantar Gaara sampai depan pintu toko. Kizashi tahu diri dan ia masuk ke dalam dapur setelah melambaikan tangan dan berpesan pada Gaara agar tidak lupa mengembalikan jas hujan miliknya. Tentu saja itu candaan... sepertinya pintu rumah Kizashi terbuka untuk Gaara. Sakura cukup tersipu, gadis itu berdiri di depan pintu saat Gaara melangkah keluar. Sang anjing yang usai melahap semua roti pemberian Sakura kembali berdiri di samping sepeda.

"Senang bisa berteduh di tempatmu." ucap Gaara.

"Terimakasih sudah meramaikan dapur kami." ucapan Sakura membuat Gaara tersenyum simpul. "Sampaikan salamku untuk temanmu, semoga dia lekas sehat."

"Tentu." Gaara mengangguk. "Sampai jumpa..." pria itu beranjak dan ia berbalik kembali. "Aku akan mengembalikan jas ayahmu."

Sakura tersenyum malu-malu, "Semoga kau tidak lupa." kata-kata itu terlontar begitu saja. Keduanya pun saling melempar senyum.

"Sampai jumpa." untuk kedua kalinya Gaara berpamitan. Pria itu menuju sepeda dan menaruh roti di dalam salah satu kendi yang ia bawa. Kemudian Gaara beranjak meninggalkan toko. Sakura melambaikan tangan saat Gaara membunyikan bel sepeda, pemuda itu menerjang gerimis hujan dengan laju sepeda yang semakin cepat. Sakura memperhatikan Gaara hingga sosoknya hilang di tikungan jalan. Cuaca hari itu tidak bisa menentukan apa isi di dalam hati, Sakura terus tersenyum saat menutup pintu dan menuju meja pelayanan.

.

Beberapa saat kemudian Kizashi keluar dari dapur membawa dua keranjang kue. Kizashi mendapati putrinya sedang terhayut ke dalam angan sehingga tidak menoleh ketika dipanggil. Gadis itu mengelap meja dengan tatapan kosong tertuju ke arah jendela.

"Sakura..." Kizashi menaikkan volume suaranya. Sakura pun tersentak kaget dan langsung menoleh. "Ayah akan mengantar kue pai pesanan ke beberapa tetangga."

"Apa ayah lama?" tanya Sakura.

"Tidak. Hanya berjarak di sekitar sini. Jika kau lelah, kita akan menutup toko sampai ayah kembali."

"Tidak masalah." Sakura menggeleng. "Serahkan semuanya padaku."

Kizashi pun pergi setelah menyakinkan Sakura beberapa kali. Ia meninggalkan putrinya seorang diri menjaga toko roti mereka. Hujan semakin reda namun gerimis tidak mau berhenti. Kilatan petir disertai Suara guntur sesekali terdengar dan menggetarkan seluruh kaca jendela. Hal itu sangat mengagetkan ditambah bagi Sakura yang tengah terhayut ke dalam lamunan.

Sepuluh menit berlalu di dalam keheningan. Tetesan air yang jatuh dari atap jerami mengiringi kegiatan Sakura membersihkan dan menata kue-kue pada rak penyajian di dekat jendela. Anjing hitam masih setia berteduh di depan teras dan Sakura sama sekali tidak berniat mengusirnya.

"Klinting...klinting..."

Bel pintu berbunyi.

"Cepat sekali ay..."

DEG

Sakura terkejut. Sosok berjubah yang sempat menghilang kembali muncul. Sasuke masuk ke dalam toko dan berdiri di depan pintu. Jantung Sakura berdegup kencang. Gadis itu pun berdiri dan menjaga jarak. Tidak punya pilihan lain menyambut pengunjung tokonya.

"Selamat sore tuan.." Nada Sakura pelan dan gugup. "Ada yang bisa kubantu?"

Sasuke tidak menjawab. Pria itu mendekat dan seketika Sakura melangkah mundur.

"Maaf, siapa anda?" Sakura berharap Kizashi pulang secepat mungkin. Atau siapa saja yang datang ke tokonya. Naruto, Ino, Gaara, Tenten, atau siapa saja. Kegugupan Sakura bertambah saat anjing di luar teras mengaung gelisah sambil melihat ke dalam toko. Tetesan air dari jubah Sasuke membasahi lantai. Rambut hitamnya sedikit terlihat dan Sakura merundukkan badan, berusaha mengenali siapa di balik jubah itu, namun...

"Apa maumu?" Nada Sakura berubah waspada saat Sasuke semakin mendekat. Gerak gerik pria itu menimbulkan kecurigaan besar. "Jangan mendekat." Sakura menghunuskan penjapit roti ke arah Sasuke. "Jika kau mendekat aku akan berteriak!"

Langkah Sasuke berhenti. Pria itu terdiam beberapa detik sampai ia membuka penutup kepala jubahnya.

DEG

Sepasang onyx kelam menyambut Sakura. Mata mereka bertemu. Seketika hujan kembali deras. Sakura terpaku dan tidak berkutik. Sasuke terus menatapnya dalam kebisuan.

"Si-siapa kau?" tanya Sakura. Gadis itu masih menghunuskan alat penjapit roti dengan waspada. "Apa yang kau inginkan?"

"Tangan." suara Sasuke terdengar. Serontak bulu kuduk Sakura berdiri mendengar suara pria itu.

"Apa maksudmu?" ketakutan Sakura bertambah. Memikirkan kemungkinan bahwa pria dihadapannya ini adalah seorang pembunuh.

"Berikan tanganmu." Sasuke mengulurkan telapak tangannya.

"Pergi dari sini atau aku akan ah!" ancaman Sakura terpotong saat tangan kiri Sasuke meraih pergelangan kanan Sakura dengan cepat. Mereka saling menatap. kaki Sakura mulai gemetaran dan tubuhnya merosot ke bawah.

Sasuke ikut berlutut. Masih menggenggam pergelangan Sakura dengan erat. Pria itu melirik tali yang mengikat jari kelingking gadis itu. Telapak tangan Sasuke merasakan panas.

"Apa maumu..." suara Sakura melemah. Gadis itu tidak berkutik di hadapan Sasuke. Butiran air menetes dari ujung rambut pria itu. Tubuhnya basah. Sakura merasakan suhu dingin yang hebat saat Sasuke menyentuhnya.

"Lepaskan!" Sakura hendak memukul namun tangannya langsung tercengkram oleh tangan kanan Sasuke.

"Tenanglah." kata itu terucap sebelum Sasuke memejamkan mata. Beberapa saat kemudian kepulan asap keluar dari pergelangan kanan Sakura. Cengkraman Sasuke menguat sementara Sakura merintih kesakitan. Tidak bisa berteriak. Suara gadis itu tersekat di pangkal tenggorokan saat memohon pada Sasuke untuk melepaskannya. Anjing terus mengaung gelisah di luar teras. Perlahan Sakura pun kehilangan energi. Kesadarannya menurun, Sakura melihat wajah Sasuke kian mengabur hingga kedua matanya tertutup dan...

Gelap

"Klinting...Klinting..."

Lonceng pintu berbunyi saat Kizashi tiba. Ia mendapati putrinya tengah tertidur di kursi tamu. Seuntas tali merah terlihat dalam genggaman tangan Sakura.