Oh My Rival! Pt.3 : Dimulai~
.
Dua pasang mata tajam itu saling bertatapan. Seolah terhubung satu sama lain, percikan kebencian meluap pekat di sana. Mata hitam dan mata coklat itu seolah bertarung untuk mencari dominasi. Sedangkan tangan dari masing-masing pemilik mata itu berjuang untuk mengambil alih objek yang kini berada di tengah mereka. Objek? Rupanya sang objek itu hanya bisa kebingungan, berusaha untuk lepas dari jeratan erat dua manusia aneh bernama Shikamaru dan manusia tampan bernama Sasuke. Objek itu—Ino, tampaknya malah mengabaikan atmosfir perang yang menguap kental dan terus meronta agar mereka melepaskan jeratannya.
"Hei kalian! Lepaskan! Ini sakit tau." gerutu Ino yang rupanya sama sekali tidak digubris oleh kedua pria yang beberapa jengkal lebih tinggi darinya itu. Mereka berdua masih saling bertatapan seolah ingin membunuh satu sama lain.
Tiba-tiba Sasuke menghela nafas kencang, kemudian tersenyum sinis ke arah Shikamaru. Menarik Ino lebih kencang, sehingga tubuh Ino dengan kasar terdorong ke arah Sasuke hingga pose mereka seperti sedang berpelukan. Shikamaru yang menyadari kelengahannya langsung mengambil tangan Ino namun terlambat, Sasuke sudah mengunci Ino.
"Jangan main-main, Uchiha!" Shikamaru mengeraskan nada suaranya, seperti bukan Shikamaru yang Ino kenal. Entah, kenapa pijaran tatapan Shikamaru untuk Sasuke terlihat begitu aneh bagi Ino. Dan entah mengapa, Shikamaru yang dilihatnya kali ini benar-benar berbeda dari yang selama ini dia kenal. Posesif dan ugh…keren~
Sasuke tertawa kecil seolah dia paham akan sesuatu, di lepasnya pelukannya pada Ino. Tapi genggamannya masih erat di tangan gadis bermata emerald itu. "Kau yang pertama kali ingin bermain, Nara. Jangan mencari masalah denganku dengan mencampuri pekerjaanku!" dengan begitu Sasuke melepas tangan Ino dan sedikit mendorong gadis yang kebingungan itu ke arah Shikamaru. Shikamaru cukup gesit untuk menangkap tubuh linglung Ino.
Kemudian, dengan santainya Sasuke menarik bahu Shikamaru dan mendekatkan bibirnya ke telinga pria berambut model nanas itu. Berbisik sesuatu, "Terima kasih, Nara. Berkat ini, aku jadi tahu kelemahanmu."
Shikamaru yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sinis. Kemudian Sasuke pun berlalu begitu saja, tanpa mencatat skor merah Ino yang tadi membuat gaduh. Ino hanya bisa melongo melihat adegan yang super-duper mirip opera sabun yang setiap malam dia tonton.
"Hei, Shika? Apa kau begitu akrab dengan Sasuke-kun?"
Pertanyaan polos Ino hanya dijawab dengan tatapan tajam dari Shikamaru. Kemudian, begitu saja pria malas itu beranjak pergi—meninggalkan pertanyaan menggantung Yamanaka Ino. Rupanya Shikamaru mengambil beberapa buku dari perpustakaan tersebut, kemudian menarik lengan Ino pelan dan mengarahkan gadis itu ke suatu tempat. Meninggalkan perpustakaan itu dengan langkah yang tergesa, menyebabkan tatapan-tatapan heran dari pengunjung perpustakaan tersebut.
.
"Shikamaru! Kau mau membawaku kemanaa?" Ino benar-benar bingung. Shikamaru terus membawanya menaiki anak tangga sekolah. Bukannya menjawab, Shikamaru tetap bungkam dan terus membawa Ino bersamanya. Rupanya Shikamaru membawa Ino ke puncak gedung sekolah—sebuah balkon luas yang ternyata terdapat banyak sekali pohon dan bunga. Semuanya terlihat begitu hijau, warna yang meneduhkan mata. Ino tercengang, bingung antara kagum atau merasa aneh. Bukannya harusnya balkon atap itu gersang ya?
Shikamaru yang menyadari tatapan bingung Ino, langsung tersenyum geli. Tidak biasanya seorang Ino kalem. Shikamaru pun beranjak dan duduk di atas rerumputan balkon tersebut, menepuk sisi sebelahnya seolah mengisyaratkan Ino untuk duduk di sampingnya. Ino hanya bisa menurut.
"Ini proyekku. Green roofs bahasa kerennya." Ino hanya mengangguk pelan.
"Aku tidak pernah tahu kalau ada tempat seindah ini diatas sekolah?" tanya Ino dengan mata yang berbinar-binar. Menatap takjub pada jajaran pohon rindang dan beberapa bunga-bunga yang warnanya meneduhkan mata. Jujur, Ino adalah pecinta bunga—bagaimana tidak? Usaha sang ayah yang membuka toko bunga membuat Ino terbiasa hidup di antara bunga-bunga.
Shikamaru hanya terkekeh pelan, "Apa yang kau tahu, selain heboh sendiri dan mengusikku, huh?" Ino hanya menatap Shikamaru dengan tatapan menyebalkan, kemudian tersenyum manis dan tertawa renyah. Tangan mungilnya memukul lengan Shikamaru pelan.
"Percaya diri sekali kau tuan sok jenius!"
"Aku memang jenius, Ino." ucapan singkat Shikamaru berusaha meyakinkan Ino. Shikamaru benci menjadi seorang yang ngotot akan pengakuan, tapi jika itu berhubung dengan pengakuan gadis super menyebalkan di sampingnya, dia rela untuk ngotot.
"Nanti aku juga akan jadi jenius. Lihat saja!" ucap Ino sambil memejamkan matanya, merasakan hembusan angin segar yang mengelus wajahnya. Shikamaru hanya tersenyum mendengar pernyataan polos Ino. Temannya sejak dia TK itu memang punya kepercayaan diri yang kadang berlebihan, juga kebiasaan buruk yaitu tidak mau kalah dari siapapun. Tapi baru kali ini, Shikamaru menemukan Ino butuh bersaing dengannya dalam hal kejeniusan—karena, nyatanya dulu selama mereka dipertemukan terus menerus dari TK hingga sekarang, Ino belum pernah mengeluh akan kejeniusan Shikamaru dan ingin bersaing dengannya.
"Kenapa kau begitu ingin menyaingiku sekarang?" tanya Shikamaru sambil menatap Ino, penasaran.
"Karena semua orang mulai menganggapku bodoh jika aku berada di sampingmu!" gumam Ino—kelopak matanya masih terpejam, tenggelam menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya, sehingga dia tidak menyadari kalau Shikamaru sedang mengamatinya dalam-dalam.
Jika kembali ke masa lalu, Ino dan Shikamaru memang selalu dipersatukan dalam kelas yang sama semenjak mereka masih TK—dan saat itu, akademis bukanlah hal yang terlalu mereka permasalahkan waktu itu. Namun, semenjak mereka naik tingkat ke sekolah menengah atas, nilai akademis mulai berpengaruh pada takdir mereka. Peraturan ketat sekolah yang memisahkan siswa dengan sistem ranking per kelas—dimana kelas terbaik hanya berisi orang-orang yang terbaik dan Shikamaru adalah salah satu dari yang terbaik itu, sedangkan Ino hanyalah siswi di kelas menengah, which nothing special. Namun rupanya mereka kembali dipersatukan saat tahun akhir sekolah, entah mengapa Shikamaru yang jenius itu bisa sekelas dengan Ino. Dan beberapa siswa yang tadinya duduk di bangku kelas ekslusif juga turun kasta dengan pindah kelas ke kelas rata-rata.
Shikamaru kembali fokus. Pikirannya teringat akan masa lalu di mana dulu beberapa orang kawannya pindah kelas dari kelas menjijikan bernama ekslusif itu. Sebuah rahasia besar yang sampai kini membungkam mulutnya, alasannya mengapa dirinya dan beberapa temannya keluar dari kelas itu. Lagi, Shikamaru menatap Ino dalam, sebelum sadar kalau pandangan mereka bertemu.
"Aku tahu, aku hanya tidak terbiasa dibandingkan. Apalagi jika aku dibandingkan denganmu yang notabene mantan dari 25 siswa terbaik di sekolah ini. Rasanya aku ingin menunjukan ke sekolah, kalau murid rata-rata sepertiku juga mampu bersaing dengan anak dari kelas ekslusif." Ujar Ino panjang lebar, gadis itu menekuk kedua kakinya dan memeluknya. Tenggelam dalam suasana yang menenangkan, sebelum gadis itu sadar mata lawan bicaranya sudah mengekor lama kepadanya.
Sadar mata mereka bertemu lagi, Shikamaru kembali mengajukan pertanyaan, "Termasuk si Uchiha itu?" Shikamaru sadar betul posisi Uchiha Sasuke di sekolah mereka. Flower boy yang terkenal dingin dan jenius itu merupakan mimpi indah bagi setiap para gadis di sekolahnya. Tak terkecuali—Yamanaka Ino, mengingat kejadian tadi di perpustakaan yang membuat dia semakin yakin kalau Ino juga merupakan korban dari 'sekedar tampang'nya Uchiha itu.
"Sasuke-kun?"
"Tsk, Ino jangan pakai sufiks segala. Itu menjijikan, terlebih jika yang kita bicarakan si Uchiha itu." gerutu Shikamaru, sambil mendengus pelan. Hatinya sedikit geram ketika Ino terlihat begitu berbinar jika yang mereka bicarakan adalah Uchiha Sasuke.
Ino menangkap dengus kesal Shikamaru, mendelik penasaran, "Kenapa kau terlihat begitu benci dengan Sasuke-kun? Bukanlah kalian dua tahun di kelas yang sama? Seharusnya kalian berteman bukan?" Uchiha Sasuke memang merupakan siswa yang bisa dibilang sama jeniusnya dengan Shikamaru. Merupakan pesaing berat Shikamaru saat ia masih di kelas Ekslusif. Dan di mata Ino menjadi teman sekelas seharusnya bisa menjadi teman dikala suka maupun duka. Seperti yang Ino rasakan dengan teman-teman di kelasnya, walaupun mereka kadang suka menggoda Ino dan menjahilinya. Jujur, Ino sangat menyayangi teman sekelasnya dan segala keunikan yang mereka miliki. Karena itu, Ino merasa aneh melihat Shikamaru yang bertingkah seolah dia membenci Sasuke yang merupakan mantan teman sekelasnya.
"Lupakan! Sekarang berhubung ada banyak jenis tumbuhan, aku akan menjelaskan kepadamu hubungan respirasi tumbuhan dengan siklus Krebs. Pertama-tama bisa kau lihat daun ini, siklus krebs itu berlangsung di mitokondria, yang mana tidak hanya pada terjadi pada tumbuhan melainkan pada seluruh makhluk hidup. Jadi…" Ino hanya menghela nafas panjang, bentuk alibi yang sempurna oleh sang jenius untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka. Karena, Ino terlalu malas untuk menyela sang Nara pada akhirnya gadis itu hanya bisa pasrah dan mendengarkan dengan tulus penjelasan panjang sang jenius tentang siklus krebs, tuan crab dan crabby patty. Heh?
.
Di waktu yang sama, lantai teratas gedung utara Sekolah menengah atas ternama di Konoha. Terlihat seorang pemuda dengan rambut hitam dengan shade prison blue khasnya, memandang lekat ke puncak gedung selatan. Senyuman sinisnya terukir dalam pada wajah tampannya itu.
"Oi, Uchiha?" Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara.
"Kau sudah dengar, rumor yang beredar?" tanya lawan bicaranya. Hyuuga Neji, jawara fisika bertahan yang menjadi salah satu unggulan di kelas Eksekutif yang biasa berwajah tenang itu kini terlihat mulai gusar.
"Hnn."
"Aku rasa aku butuh bantuanmu. Jabatanku sebagai Dewan Siswa harusnya berakhir awal tahun ini, tapi aku rasa sekarang, aku tidak akan bisa melepasnya. Kau tahu, semakin banyak orang idiot yang mengganggu status KE," ujar Neji serius. Mata porselennya berusaha searah dengan apa yang ditatap lawan bicaranya. Dan seketika! Dia menemukan objek yang sedang diamati oleh sang Uchiha. Sang ketua tersenyum licik menyadarinya.
"Si pengkhianat itu, Huh?" tanya Neji dengan nada suara meremehkan. Bukannya menjawab secara verbal, Sasuke malah menatap Neji tajam. Kemudian tertawa kecil, mendengar julukan segar milik objeknya itu.
"Pengkhianat?" retoris Sasuke sambil melanjutkan tawa sinisnya. Neji yang melihat tingkah Sasuke hanya bisa menggelengkan kepala. "Aku rasa kitalah yang pengkhianat, Hyuuga. Bedanya dengan dia adalah dia tidak mau berkerja sama, dan menjadi provokator bermulut sok jenius yang menghancurkan segalanya—nama yang tepat untuknya adalah pembangkang."
"Heh, apa bedanya."
Tanpa menjawab Sasuke langsung pergi meninggalkan Neji di sana—Balkon mewah, tempat di mana para dewan siswa beristirahat. Sedangkan mata putih pekat milik sang ketua masih sibuk mengobservasi objek yang diinginkan Sasuke. Bukan! Bukan hanya satu objek melainkan satu objek yang cantik. Menarik!
.
[Dewan Siswa berdiri sudah sepuluh tahun yang lalu. Dimonopoli oleh kelas Ekslusif yang notabene sebagai siswa terbaik di sekolah yang tidak diragukan lagi prestasinya baik secara regional, nasional maupun internasional. Terdiri dari 25 siswa jenius, terdiri dari 15 siswa dan 10 siswi. Memiliki kekuasaan nyaris tak terhingga untuk mengatur dan memanajemen diri maupun IQ bagi setiap siswa menengah ke bawah. Mengatur training ketat saat orientasi siswa dan sebagainya. Merupakan harta karun berharga sekolah yang tak ternilai]
"Eww, ini lebay banget?" Sakura mendengus geli saat selesai membaca satu paragraf dari isi blog Dewan Siswa KHS. Ino yang berada di sampingnya pun mendekat ke sahabatnya, penasaran.
"Apa? Apa?" tanya Ino repetitif. Sakura hanya bisa menunjukan jarinya ke arah monitor laptopnya seraya memasang wajah yang ingin muntah. Ino pun mulai membaca deskripsi yang tertulis di layar, dan perlahan mulai menunjukan wajah yang sama jijiknya dengan sahabatnya itu. Namun gadis berambut pirang itu menghela nafas pelan, berusaha sadar diri.
"Tapi mereka kan memang keren?"
"Iya sih, tapi penjelasannya ini lho berlebihan. Makin tahun sepertinya mereka makin haus ketenaran. Eh, bukannya makin tenar tapi makin mencar!" ujar Sakura yang kemudian diiyakan oleh Ino. Gadis manis berambut pink itu menyikut lengan Ino yang ada di sampingnya.
"Untung, Shikamaru udah out dari Kelas mengerikan bernama KE itu ya?" Ino hanya tertawa renyah mendengar ledekan sahabatnya itu.
"Untung, Naruto juga sudah out ya?" ledek Ino yang berhasil membuat Sakura salah tingkah. Ha! Ino paling suka menggoda Sakura, dan begitupun Sakura yang suka sekali meledek Ino dan Shikamaru yang padahal mereka berdua hanyalah berteman biasa.
"Apaan sih, yellowpig ! Ah, sudahlah. Pokoknya aku merestui hubunganmu dan si pemalas jenius itu, kalian demi apapun serasi sekali. Ha! Aku bahkan ingin sekali membuat blog yang memuat tentang kisah romantis kalian selama di kelas, hahaha!" Ino mengangkat satu alisnya, sedikit gemas dengan tingkah Sakura yang mulai mengaktifkan mode menyebalkannya. Dengan pelan, Ino menarik rambut Sakura yang kemudian di balas dengan lemparan bantal oleh Sakura.
"Aku benar kan? Yang satunya rada telmi dan yang satunya kelewat jenius. Yang satunya bawel dan yang satunya molor. Bahkan kau sudah menantangnya menjadi saingan untuk nilai-nilai ke depannya. DUH, PERFECT!" ledekan Sakura semakin menjadi.
"YAK! Patrick! Kau juga cocok dengan si rambut Spongebob itu!" ledek balik Ino sambil melemparkan semua bantalnya ke arah gadis bersurai merah muda itu. Patrick adalah julukan lain Ino untuk Sakura. Apalagi kalau bukan karena rambut Sakura yang mengingatkan Ino tentang betapa pinknya seorang Patrick.
"YAK! Kau yang Spongebob bukan Naruto! Kau juga cocok dengan rambut nanas itu! Lagipula rumahnya Spongebob itu di rumah nanas kan? Aww, so romantic!" Sakura membalas perang bantal Ino dengan sama gigihnya. Gadis itu mulai menyibakkan selimut lavender Ino dan melemparnya ke arah sang pemilik.
"Pinkhead! Hentikaan! Kau bisa menghancurkan kamarku, bakaa!" dan akhirnya tawa mereka pun pecah. Cekikikan cempreng dua gadis itu tanpa mereka sadari mencapai rumah sang tetangga. Dan sang tetangga yang sedang tidur itu hanya bisa berkomat-kamit berkali-kali, menahan rasa kesalnya pada keberisikan yang mereka timbulkan. Dan ehmm…mungkin jika lampu kamar sang tetangga menyala, akan terlihat dengan jelas rona merah yang menjalar di pipi pemuda itu.
"Mendokusee Ona!"
-TBC-
terima kasih sudah mampir ya reader tercinta, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
love you alot, my precious reader!
hidup SHIKAINO! and my beloved family, C-SIF~
