CHAPTER 2
Sepanjang perjalanan ke kelasnya, Luhan terus memikirkan kata-kata Krystal. Seperti-darimana Krystal mendapatkan racun, apakah racun itu benar-benar berbahaya atau hanya ancaman belaka-ah terlalu banyak pertanyaan di otaknya.
Luhan menjernihkan lagi akalnya. Tentu seorang pelajar menengah keatas tidak akan melakukan hal seperti itu-kecuali kalau Krystal sudah gila.
Tidak. Krystal hanya bercanda. Mungkin kata 'racun' itu memiliki arti lain.
Kaki Luhan berjalan santai-bahkan saat bel istirahat sudah dibunyikan. Ia memang sengaja keluar kelas-atau anggap Ia sengaja berlama-lama berada di toilet karena Ia sedang malas mengikuti pelajaran.
.
.
"Sehun-ah, ada penggemarmu yang memintaku untuk memberikan ini padamu,"
Langkah Luhan terhenti saat mendengar suara seorang yeoja yang terasa familiar di telinganya memanggil Sehun. Yeoja itu-suaranya terasa sama dengan yeoja teman Krystal di ruang klub dance tadi.
Yeoja-yang-Luhan-ingat-namanya-Wendy itu, memberikan Sehun minuman berwarna kuning.
Meski posisi Luhan-bersembunyi-dibalik tembok persimpangan koridor-yang tidak jauh dari Sehun dan Wendy, tapi ia dapat melihat serta mendengar percakapan mereka dengan cukup jelas.
Luhan mengambil posisi yang pas agar Sehun atau Wendy tidak dapat melihat atau merasakan kehadirannya.
Luhan berharap salah melihat-Sehun menerima minuman dari Wendy itu! Ia mengerjapkan matanya berulang kali-dan berharap Sehun berbuat jahat pada Wendy.
Luhan mulai panik saat Sehun akan meminum minuman itu. Eish tidak ada cara lain!
"Oh! Sehun-ah! Berikan minuman itu padaku! Oh tidak aku bisa dehidrasi!"
Luhan merebut paksa minuman itu dari Sehun, memang Luhan cukup kelelahan karena harus berlari sebelum minuman itu sampai ke tenggorokan Sehun. Luhan meneguk liar minuman itu-Beracun ataupun tidak itu urusan belakang
Rasa minuman itu-manis dan menyegarkan. Bodoh, minuman seperti ini tidak mungkin beracun! Luhan menghentikan tegukannya-Ia nyaris menghabiskan setengah gelas.
"Terima kasih Sehun-ah!"
Luhan sadar tatapan keheranan dari Sehun maupun dari Wendy yang masih berada disana. Luhan tersenyum cukup lebar-kemudian menepuk bahu Sehun seraya meninggalkan Sehun dan Wendy.
Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau minuman itu aman dan tidak berbahaya. Meski mungkin nantinya Sehun akan makin akward dengan Luhan, tapi sudahlah itu tak penting lagi.
.
.
"Luhan, kau baik-baik saja?"
Yixing-teman sebangku Luhan khawatir berat dengan Luhan saat ini. Bagaimana tidak, wajah Luhan persis seperti mayat! Keringat dingin terus bercucuran dari peluhnya-Bahkan pengelihatan Luhan mulai sayu.
Luhan meyakinkan diri sendiri kalau ia sedang sakit-bukan keracunan minuman. Tangan Luhan mulai melemas, tangannya sudah tidak kuat lagi menopang kepalanya yang ia tumpu sedari tadi-kepalanya terasa berat dan pusing
Akhirnya Luhan ambruk di mejanya-diikuti Yixing yang histeris.
Setidaknya bukan kau yang mengalami ini, Sehun-ah...
.
.
"Luhan?"
"Hyung?"
Samar-samar Luhan mendengar suara dua orang temannya itu. Matanya mulai terbuka perlahan. Dua orang sahabatnya-JongIn dan Yixing memandang Luhan khawatir. Setelah mata Luhan benar-benar terbuka, kesadarannya juga mulai kembali.
Mata Luhan mengedarkan pandangan. Ini pasti di rumah sakit.
"Berapa lama aku disini...?"
"4 hari! Kata dokter kau keracunan cukup serius! Dan kau tahu, kau mengalami masa kritis selama 48 jam!"
Luhan tau Yixing yang paling khawatir soal dirinya. Karena Yixing juga sahabatnya sejak kecil.
"Kenapa kau bisa keracunan separah itu? Apa yang kau makan atau kau minum?"
"Setahuku kau tidak ke kantin waktu kau masih di sekolah,"
Luhan diam. Ia tahu pada akhirnya harus menceritakan pada dua orang ini apa yang sebenarnya terjadi.
"Papa, mama... apa mereka disini?" Luhan mencoba mengalihkan pembicaraan sejenak.
"Orang tuamu tidak bisa kesini, mereka masih ada urusan di HongKong. Tapi mereka terus menghubungiku tanpa henti sejak kemarin!"
"Hmmh baiklah terima kasih Xing. Kau sudah memberitahu keadaanku pada mereka,"
"Hyung, ceritakan padaku dan Yixing-hyung kenapa kau bisa keracunan. Dan aku harap kau jujur,"
Luhan melemah lagi. Apakah harus ia mengatakannya...? Ia fikir ulang bahwa yang ia lakukan adalah tindakan yang terlalu bodoh.
"Tapi... ja-jangan... jangan kaget ya,"
.
.
2 hari kemudian, Luhan kembali masuk ke sekolah. Semua teman-temannya khawatir soal keadaannya. Beredar kabar Luhan nyaris mati dan lainnya.
Dan saat Luhan akan duduk di kursinya, semua temannya langsung menyerbu Luhan ribuan pertanyaan.
Tapi tidak semua temannya sekelasnya bertanya.
Orang yang ia selamatkan justru tidak peduli. Luhan cukup kecewa. Tapi ia paham soal sifat orang itu.
Luhan tersenyum dalam hatinya. Paling tidak orang itu baik-baik saja.
.
.
Dokter belum menganjurkan Luhan untuk mengikuti pelajaran olah raga, tapi Luhan memaksa. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Meski terkadang dadanya terasa sesak.
"Kau yakin ikut pelajaran ini? Kau bisa istirahat,"
"Kalau aku istirahat kau tidak bisa menemaniku."
Yixing meninju lengan Luhan pelan. "Dasar keras kepala," Keduanya tersenyum.
"Ah! Luhan aku ke toilet dulu!"
Yixing buru-buru keluar dari ruang ganti pria yang tinggal mereka berdua-atau tinggal Luhan seorang sekarang. Luhan cukup takut jika ada siswa yang masuk-ia tidak suka ganti baju dengan orang lain.
Tap tap tap
Suara langkah kaki menggema di ruang ganti. Luhan berfikir itu pasti Yixing.
"Ah Yixing kau sudah se-"
Itu bukan Yixing. Sehun membuka loker gantinya yang sebaris dengan loker Luhan.
Luhan terpaku sejenak. Ia ingin melihat Sehun-lebih tepatnya tubuh kekar Sehun. Tapi ia tahu diri Sehun pasti akan marah.
Luhan mencoba melirik sejenak ke arah Sehun.
Sehun sudah menanggalkan seragam putihnya. Badan indahnya kini makin terlihat jelas. Luhan meneguk salivanya. Ia segera membuang muka pada Sehun.
Kancing baju yang tadinya ingin Luhan buka tidak jadi ia buka. Ia mematung di depan lokernya. Sungguh Sehun membuat darahnya berhenti mengalir sejenak.
"Xi Luhan. Aku benar kan?"
A-apa itu... dia memanggil namaku?
Luhan menoleh perlahan ke arah Sehun. Sial. Sehun belum memakai baju olahraganya!
"I-iya a-aku Luhan..." lebih sial lagi karena Luhan tidak bisa menahan rasa gugupnya.
Sehun berjalan perlahan ke arah Luhan tanpa membawa baju olah raganya. Luhan mati-matian menahan gugup.
"Kudengar kau baru saja keracunan. Apa benar?"
Luhan mencoba tidak kaget. Sehun tahu kalau dia keracunan! Apa Sehun memperhatikannya? Belum lagi Sehun bicara kepadanya! Ini bukan mimpi kan?!
"Ah... um ya me-memang begitu,"
"Apa karena minuman dari Wendy itu?"
Sehun sudah berada tak jauh dari Luhan. Jarak mereka tidak sampai 1 meter! Keringat dingin terus membasahi kulit Luhan.
"Bisa kau menatapku?"
Luhan terdiam. Tubuhnya sudah membeku sekarang. Ia ingin pingsan saja. Tapi ia langsung terfikir harga dirinya di depan Sehun.
Sehun mulai gemas. Ia membalik tubuh Luhan agar menghadapnya.
Sehun dan Luhan sudah berhadapan sekarang. Tapi mata Luhan tidak berani menatap Sehun. "Apa benar minuman dari Wendy beracun?"
Luhan tak berani menjawab. Bibir bawahnya ia gigit cukup keras.
"Jawab aku, Luhan."
Sehun tidak sabar. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Luhan-dan mengigitnya.
"Ah..." rintihan atau desahan yang keluar dari mulutnya Luhan tidak tahu. "Jawab aku, Luhan."
Luhan mengangguk pasrah. Memang bodoh. Kenapa ia harus mengangguk. Sehun menyeringai. "Xiexie, Luhan."
Cup.
Sehun mengecup bibir manis Luhan yang tertutup rapat itu. Setelah tersenyum-yang-sepertinya-senyuman-mesum itu, Sehun memakai baju olahraganya seraya meninggalkan Luhan.
Luhan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kakinya melemas-ia ambruk di depan lokernya.
A-apa yang baru saja terjadi...? Sehun mengecup bibirnya? Oh tidak, jangankan mengecup bibirnya, ditatap dan diajak bicara oleh Sehun saja ia bisa pingsan.
"Luhan?!"
Suara Yixing terdengar khawatir. Ia mengguncang-guncang tubuh Luhan yang bergetar(dan tangan Luhan masih membungkan mulutnya ditambah matanya yang tidak berkedip) "Apa yang terjadi? Apa dadamu sesak lagi?! Luhan jawab!"
"Se-se-sehun..."
"Aish Luhan! Yang benar! Jangan menyebut namanya terus!"
"Yi-Yi-Yixing... pukul aku sekeras ya-yang ka-kau bi-bisa..."
Yixing awalnya kebingungan. Tapi akhirnya ia memukul Luhan dengan sangat keras.
"ARGH!"
Tuhan tolong aku, ini bukan mimpi...
Hai hai~
Author kembali dengan chap baru :3 pada lumutan gak nungguin update? /gak/ Oh ya author minta maaf yah kalo updatenya bakal lama soalnya author lagi UKK :( kalo mau update harus curi-curi waktu muahaha /? maaf juga kalau update kali ini mengecewakan *bows*
Yang mau nc... sabar dulu ya ^^ pasti ada kok soalnya author uda pasang tanda rate M diatas~ he he he.
Merasa Silent Readers? :3 author harap anda tobat. selagi repiu gratis, gak bayar, bebas mau repiu apa dibaca author lagi ha ha ha /?
oke~ see you next chapter, salam michyeosseo!
