KNIFE: Behind a Curse by suyominie

Cast: Jung Hoseok, Min Yoongi, Bangtan, and Others.

Warning: AU, OOC, Miss typo's, friendship/brothership tapi bisa saja banting stir, school life, nganeh, JK & V tingkat dua, RM, JH, & SG tingkat tiga, etc.

.

.

.

.

.


Selamat membaca!


Kedua kelopak mata Hoseok mengerjap tatkala cahaya pagi sang Surya membelai lembut kulit mulusnya. Ia menggeliat atraktif kemudian merenggangkan seluruh otot-otot tubuh. Setelah dirasa oke, ia menyibak selimut, bangkit duduk lalu menjuntaikan kaki. Manik cokelat hangatnya menatap afeksi boneka mini berwujud bebek kuning berwajah polos nan lucu yang bersanding manis di sebelah jam beker biru laut atas nakas. "Selamat pagi, sayangku."

Itulah kegiatan rutin tiap bangun tidurnya yang tak ada satupun tahu, kecuali Para Sahabat. Yang mungkin juga tak tersangka atau tak pernah terpikir dari seorang Jung Hoseok. Tidak ada alasan istimewa, kenapa ia menyukai sang boneka. Namun, konon kabarnya, boneka itu mengingatkan Hoseok akan bebek kesayangannya semasa kecil yang mati dan berakhir di lambung keluarga serta dirinya sendiri karena kekejaman pisau sang Ibu.

Hoseok beranjak dengan tangan terulur menggapai sehelai handuk. Ya, dia harus segera mandi dan bersiap atau ia akan tertinggal kereta, juga menerima rasa kebas di telinga akibat ocehan sang Sepupu. Kaki panjang itu mulai berayun, menghantar Hoseok turun ke lantai satu menuju kamar mandi.

Ia memincing ke pemilik baru ruangan sebelah ranjangnya di sela-sela perjalanan. Memori tentang kejadian sore kemarin terputar jelas di benak Hoseok, saat Min Yoongi terdampar di kamar 309 dan mendapat peran tambahan sebagai teman sekamarnya –setelah teman sekelas. Kendati mereka sekarang sedikit lebih maju dari teman sekelas, bukan berarti hubungan mereka benar-benar layak teman sekamar kebanyakan.

Yang mereka lakukan adalah menambah kebisuan. Hoseok saat itu berniat untuk memulai. Namun, ia tak jadi kala terkenang sikap Yoongi yang menegaskan, bahwa ia tak ingin diganggu.

Apa dia tidak tidur? Pertanyaan tanpa desibel tersebut dibiarkan bercokol dalam hati, Hoseok akan menanyakan nanti. Tentu saja selepas ia menunaikan niatnya dan berharap gelagat 'merasa terganggu' Yoongi sedikit mengendur.


"Ne, Yoongi-ssi," Hoseok sedikit berseru ditengah kegiatannya merapikan diri. Tak ada respon, tak masalah. "Apa semalam kau tidur?"

Mulut Hoseok sudah terlewat gatal untuk tertahan lebih lama. Bukan tanpa alasan ia bertanya begitu. Pasalnya, dari semalam; sekitar pukul sepuluh kala Hoseok mengemasi barang seperlunya. Lalu, sekitar pukul satu kala Hoseok membuka pintu untuk Wang Jackson –teman sekamarnya yang lain- yang entah bagaimana bisa kunci pegangannya tertinggal di asrama sayap kanan. Yang hanya mendapat gelengan kepala dari Hoseok. Kemudian, sekitar pukul tiga kala Hoseok mendapat panggilan alam; kegiatan yang dilakukan Min Yoongi begitu monoton, yakni menatap penuh minat pada buku kusam setebal bata di genggaman.

"Hn."

Alih-alih menyembur kata-kata kasar, Hoseok malah memanjat syukur sebab memperoleh timbal balik, biarpun hanya dua huruf keluar dari bibir mungil Min Yoongi. Ia memanggul ransel yang terlihat cukup gemuk lalu mengulas senyum ceria. "Baguslah. Oh iya, setelah aku kembali, semoga kau menjadi lebih melunak, Min Yoongi-ssi. Dan, ya, semoga kau bersedia menjadi teman bergaulku. Eh, tapi bukan bergaul yang itu, oke?" pesan sekaligus harapan Hoseok. Namun, sebelum ia sempat melangkah, suara tak bernada menginterupsi.

"Berisik, "

Ugh, harusnya Hoseok tak usah banyak menaruh harapan.

"Kemana?"

"Y-ya?" Kalap, hati Hoseok kalap. Ia ketar-ketir. Apa doa-ku semanjur ini? racaunya berbangga diri dalam hati. "Ke Gwangju, orang tua itu mengultimatum diriku untuk pulang."

"Hati-hati."

"Ahaha, ya, terima kasih atas doanya." Kini, sekelebat dentuman rasa senang merayapi hati Hoseok, tapi entah mengapa terasa lain. Lekas ia mengenyahkan. "Sampai jumpa hari senin, Yoongi-ssi!"

Perlahan, pemuda Jung mulai meningalkan kamar. Tak lupa dengan merusuhi Jackson yang masih bergelung sembari mengucapkan sampai jumpa. Pemuda Wang itu berakhir malang, tulang-tulangnya terasa berderit.

Ketika ekor mata cokelat kembali melirik pemuda di lantai dua, Hoseok bersumpah, ia menangkap sepenggal judul tertulis di buku kusam itu. Sepenggal judul yang berdampak getaran kecil di jantungnya.

Macam Wujud Makhluk Hitam.


Perjalanan Jung Hoseok ke Gwangju ia tempuh dengan menggunakan kereta. Ia tidak mau mengambil risiko dengan menaiki bus, karena akan menghabis banyak waktu perjalanan. Belum lagi perpisahan kurang ajar yang dilakukan oleh tiga sahabat –mungkin dua, karena Namjoon masih terbilang waras- dan satu gurunya di gerbang Da-Eun tadi.

"Sampai jumpa, Hyung. Jangan lupakan kami mentang-mentang kau berada di sana nanti!"

Demi Tuhan, dia hanya kurang dua hari di sana.

"Pastikan kau benar-benar sampai ke Gwangju, Hyung. Jangan sampai salah naik jurusan dan menyusahkan petugasnya."

Demi Tuhan, dia bukan anak kecil ataupun buta arah. Kalaupun itu terjadi, dia tinggal naik kereta lagi.

"Hoseok-ah, jika kau sudah sampai ke rumah, tolong kau beri tinjuan telak di perut Seokjin dan sampaikan, kalau itu dari sahabatnya yang tak dianggap."

Oke, Hoseok sedikit merasakan kasihan pada lapal terakhir. Dan tentu saja dengan senang hati Hoseok akan melakukannya. Sebuah keuntungan besar, bukan? Ia dapat menggunakan kesempatan emas, jika sang Hyung terlalu banyak menceramahi. Kemudian, ketika ia kembali diberi siraman, dia dapat berdalih; itu titipan dari Jimin-hyung, sang sahabat tak dianggap. Dengan begitu, kelangsungan indra pendengaran bisa terjaga dalam waktu lama.

"Hati-hati, Hobi. Sampaikan salamku pada keluargamu,"

Sungguh, sejatinya inilah ucapan paling waras kedua yang ia dengar. Tentu yang pertama dari Min Yoongi.

Meski terggangu –pasalnya, mereka bak menjadi pemain sirkus dadakan bagi murid lalu lalang, Hoseok tetap membalas mereka dengan senyum khasnya, seperti yang ia lakukan sekarang. Ia menempel mesra pada bangku yang memepet dinding kanan, atensi cokelatnya menatap penuh minat atas apa yang berada di balik jendela sebening air.

"Hei, Apa kau sudah tahu kabar tentang pembunuhan sadis di Daegu?"

Mendengar kata Daegu, Hoseok merasa seolah-olah telinganya langsung melebar dan menjorok sedikit ke arah kiri.

"Aigoo, apa kau serius?"

"Ya, aku serius. Dan kau tahu siapa korbannya?"

"Siapa?"

Iya, siapa?

"Park Hye Mi. Saat seluruh orang yakin, bahwa ia diculik, ternyata dia mendekam di tempat pebuangan akhir tak terpakai ujung kota Daegu dengan keadaan tubuh yang tak mulus dan dada kiri menganga! Namun, sayang sekali, polisi tak dapat melacak pembunuhnya."

"Mengerikan!"

"Dan kau tahu, apa yang lebih mengerikan? Normalnya jantung manusia tentu hanya ada satu. Akan tetapi, di dada menganga Park Hye Mi terdapat dua jantung, dan secara mengengejutkan polisi mengklarifikasi jika kedua jantung itu bukanlah miliknya!"

"Omo! Benarkah? Gila sekali!"

"Iya! Aku heran, mengapa masih ada orang sekejam itu..."

Ya, begitulah dunia. Ini bukan nirwana, yang setiap saat hanya ada kebaikan. Dan bukan pula neraka, yang setiap kala hanya berisi keburukan. Kebaikan dan keburukan selalu ada menghiasi setiap kehidupan penghuninya, tergantung dengan pribadi individu itu sendiri.

Hoseok lantas tersenyum perihatin lalu menarik diri, melempar pandang pada pemandangan yang sempat teralih.


Kaki kokoh itu menapak teras rumah yang tidak bisa dianggap besar, tapi tidak dapat dibilang kecil. Ia mengedar pandang sekeliling. Semua nampak sama, padahal jika ia tidak salah ingat, ia belum pulang selama enam bulan terakhir. Ah, kecuali taman kecil yang sangat terawat di sudut bagian kanan dan kiri halaman.

Hoseok berjengit ke arah kanan, di mana terdapat sebuah mobil hitam depan garasi. Sontak ia berdecak. Seperti apa yang telah ia umbar, pasti sang sepupu telah sampai terlebih dahulu daripada dia. Dan sekarang lihat, pada akhirnya siapa yang berbalik disambut dan siapa yang menyambut.

Jari tegas Hoseok hampir menekan kuat benda bulat menyembul di sisi kusen kalau saja pintu pastel di hadapan tidak menjebluk terbuka dan menampangkan sepasang mata cokelat terang melotot berang.

"Jung Hoseok, kau terlambat! Apa Da-Eun ada di Pluto hingga kau bisa selama ini?"

"Aku tadi berjalan, Hyung. Naik turun gunung. Berenang melewati lautan dan samudera. Tertatih di gurun. Terjebak di jurang dan lembah. Ya, Hyung, ya. Aku tadi mampir ke Pluto barang sejenak untuk mengunjungi rumah kerabat Taehyung. Jadi, kau mengerti, 'kan?" Hoseok mengurai alasan keterlambatannya. Sungguh ia sadar karangannya itu terlalu mengada-ada.

Kepala Seokjin meneleng kemudian menyuguhkan Hoseok raut polos penuh tanda tanya. "Begitukah?"

"Tidaklah, idiot!" Tangan Hoseok bergerak tergesah memijit pelipis. "Terkadang aku ragu dengan gelar Lulusan Terbaik Jurusan Sains yang kau sandang, Hyung. Apa kau membelinya? Tolong beritahu aku, Hyung-ah, di pasar mana kau membelinya!"

Pletak!

Kepala indah Hoseok dihadiahkan belaian yang membuatnya meringis. Ia hendak memaki, tapi urung karena tubuhnya sudah direngkuh ringan oleh tubuh lapang Kim Seokjin.

Pemuda Jung sedikit terperanjat kala membalas pelukan itu. Tubuh Kakaknya terlalu dingin untuk seukuran menyengatnya sinar Surya yang membuat uap udara panas menguar pada jam dua sore seperti sekarang. Atau hanya perasaan Hoseok saja?

"Ibu, Hoseok sudah pulang!" Seru Seokjin dengan suara lantang menggema di telinga Hoseok.

Kemudian suara Nyonya Jung, ibu Hoseok, terdengar menyahuti di ujung sana. "BAGUSLAH! LEKAS SURUH DIA MASUK!"

"Lihat, Ibu saja pengertian, menyuruhku langsung masuk rumah, dan kau malah menahanku di daun pintu! Sungguh tidak sopan, padahal akulah Tuan Rumah di sini. Seharusnya kau menawarkan diri untuk melayaniku agar aku dapat beristirahat." tukas Hoseok, ia meronta melepas diri.

"Maaf, aku lu–eh, aku 'kan Hyung-mu bukan pembantumu! Kau tidak bole—"

Duagh!

Kali ini, Seokjin yang meringis, mendapat pukulan telak di pusar. Seokjin berencana menerkam. Akan tetapi, telapak tangan Hoseok terpajang depan hidungnya, mengode untuk berhenti.

"Itu titipan dari Park Jimin, Sahabat yang tak dianggap, katanya." Seketika mata pemuda Kim melebar, sedang pemuda Jung berjingkat melewati. Senyum super puas terpatri. Atas hal itu, ia sungguh mencintai Park Jimin, karena telah memberi alasan mencicipi Kim Seokjin.

Hoseok terhenti dalam langkah ke lima. Menatap sekeliling seraya mengusap punggung tangan. Ia tak pernah ingat, jikalau udara dalam rumahnya begitu dingin. Detik kemudian, ia melihat sebuah alat tertempel di dinding bagian atas lalu teringat, "Ya, pantas saja Seokjin-hyung terasa dingin."


Sore hari, kaki putih Min Yoongi melenggang dari koridor sayap kiri ke koridor bangunan tengah asrama lantai tiga. Tujuannya tampak jelas, tatkala ia menjulang di depan sebuah pintu lebar terbuat dari kaca berpatok 'Perpustakaan'.

Tangan tak kalah putih itu menekan jauh pintu untuk sekadar meloloskan diri.

Jangan terlalu berharap akan ada banyak pengunjung perpustakan asrama di hari sabtu. Kenyataan bahwa sabtu merupakan hari kegiatan klub menjadikan hal itu terjadi. Tidak hanya sabtu, sebenarnya hari minggu juga berlaku sama. Minggu merupakan hari istirahat total.

Kalau memang banyak, mungkin di perpustakaan sekolah. Padahal sejauh yang Yoongi lihat, buku-buku di sini sama setaranya dengan di sana. Ia sudah menjelajah sejak salah satu teman sekamar pergi menyongsong cerahnya wilayah luar Da-Eun, omong-omong. Dan kemungkinan paling besar ialah, Para Murid lebih memilih berkeliaran di luar kawasan untuk menghirup udara lain, melihat jalanan yang dilalu lalangi, atau nongkrong di mall megah seberang sana.

Sedari tadi jari jentik Yoongi menyusuri setiap rak, tapi agaknya ia belum kunjung jua mendapat judul yang dimaksud. Dan sedari tadi pula, gendang telinganya mendengar cicitan menyebut namanyadi mulut beberapa makhluk bernama perempuan sudut sana. Tentu, tidak ia hiraukan. Tak penting.

"Heh, kau di sini juga, Min Yoongi-ssi?"

Kepala hitam Yoongi otomatis memutar, berkedip sekali. "Apa saya perlu menjawab, Park-seonsaengnim?"

Jimin mengerjapkan mata. "Ya, kurasa tak perlu," ia memberi jeda. "Ah, bagaimana dengan teman sekamar-mu, apa kau menyukainya?"

Yoongi terdengar mengejek, tapi intonasinya mengalir datar. "Anda memberi berkah padaku."

Jimin sontak terkekeh, ia mengibas tangan. "Hoseok itu ibaratkan matahari bagiku, karena ia dapat membuat semua orang ikut bahagia akibat pancaran sinar ceria miliknya. Kupikir dia akan cocok denganmu." Jimin mengerutkan alis. " Ya, biar akhir-akhir ini ia sedikit, kau tahu, apa yang sering dialami wanita setiap bulannya? Seperti itulah, walaupun dia lelaki, sebenarnya."

Melihat murid barunya hanya merespon dengan tatapan malas, Jimin buru-buru mengalih pembicaraan. "Kau tadi terlihat mencari-cari sesuatu. Katakan padaku, apa yang sedang kau cari? Barangkali aku bisa membantu,"

"Tidak perlu, Park-seonsaengnim. Sebaiknya Anda bantu menjinakkan makhluk di ujung sana yang sudah meliar—" Telunjuk Yoongi mengacung. Jimin mengikuti arah yang dimaksud kemudian bibirnya berkedut, tertarik pasrah. Mata sabit Jimin berkedip sekali, bermaksud pamit lalu ia berjalan menjauh.

"Sebelum aku yang melakukannya."


Jung Hoseok menempatkan bokongnya di salah satu sofa di mana Seokjin juga melakukan hal sama. Mereka baru saja menyelesaikan acara makan malam yang dipenuhi dengan berbagai corak pertanyaan, tapi berujung pada satu kesimpulan.

"Hoseok-ah, kenapa kau pulang?"

Damn. Saat itu juga, persepsi Hoseok tentang keluarga yang tak memaksanya pulang bukan karena tidak sayang dan lain-lain, berpendar kemudian melanglang buana.

Bagaiamana bisa mereka bertanya seolah tak mengharapkan kedatangannya atau tak pernah merasakan rindu, mengingat ia baru menginjakkan kaki kembali setelah enam bulan lamanya. Oh, bagus sekali.

Yang pantas mendapat bermacam lemparan tanya itu harusnya sang sepupu. Ia hanya setengah tahun, sedangkan Seokjin sudah hampir setahun. Jadi, dia yang lebih layak, bukan dirinya. Namun, tidak ada yang mau memulai baik Ayah, Ibu, dan Kakak perempuannya sendiri. Atau jangan-jangan mereka sudah tahu? Lagi, bagus sekali. Tidak ada yang berminat memberitahunya.

Kim Seokjin adalah anak dari kakak ibu Hoseok. Sebenarnya ia tinggal di Gwangcheon, tapi semenjak umurnya tigabelas tahun ia pindah ke Gwangju, rumah Hoseok. Ya, ia dialih asuh ke tangan Nyonya Jung karena kedua orangtua Seokjin meninggal dalam kecelakaan pesawat. Jadi, tidak mungkin ia tinggal sendirian di Gwangcheon, mengingat Seokjin sendiri merupakan anak tunggal.

Semenjak saat itu, Seokjin menjelma menjadi kakak kandungnya. Tentu saja selain sang Noona. Oh, dia awalnya disarankan Nyonya dan Tuan Jung untuk mengganti marga, tetapi ia menolak lembut dengan alasan tak mau melupakan peninggalan dari kedua orang tuanya.

Namun, tujuh tahun yang lalu, Seokjin pindah ke Seoul untuk melanjutkan pendidikan di jenjang tertinggi. Ya, mungkin saat itulah ia bertemu dan bersahabat dengan Park Jimin. Padahal jelas-jelas mereka berbeda jalur. Lain halnya dengan cerita bagaimana Kim Namjoon, Kim Taehyung, dan Jeon Jungkook mengenal seorang Kim Seokjin. Namjoon mengenal Seokjin karena ia pernah menginap di rumah Hoseok ketika liburan musim panas saat mereka berada di tahun pertama. Kebetulan, masa itu Seokjin juga sedang cuti bekerja. Sementara untuk Taehyung dan Jungkook, kala itu Hoseok mendapatkan panggilan melalui video dari Seokjin, dan dengan sangat tidak tahu malunya, kedua adik kelas tersayang itu merecok serta bergelagat bak seorang yang telah lama saling mengenal dengan si sepupu. Akan tetapi, tidak sulit bagi Seokjin untuk melebur bersama ketidaktahu-maluan Taehyung dan Jungkook. Akhirnya, seperti yang Hoseok duga, sejak saat itu mereka jadi semakin akrab.

Ajaib, bukan?

Dan setelah menyelesaikan pendidikan, ia langsung ditarik berbagai perusahaan, yayasan, dan sekolah untuk menjadi salah satu tenaga kerja. Namun, ia lebih memilih mengajar salah satu sekolah di Daegu dan pindah ke sana dua tahun lalu. Ah, satu tahun sebelum ia pindah ke Daegu, ia sempat bekerja di Gwangju.

Tahun pertama ia lumayan sering pulang ke Gwangju, tapi tidak pada tahun kedua. Sama sekali tidak. Ia seakan lupa di mana habitatnya. Dan Hoseok lupa, ia juga sama.

"Karena tidak ada yang bertanya dan memberitahu," Hoseok merebah di punggung sofa. "Kenapa kau pulang, Hyung?"

"Kau sendiri?"

"Kau tanya aku?" Hoseok mendengus sebal. "Kau tidak ingat, siapa yang memaksakan kehendak hingga aku berada di sini sekarang?" sambungnya dengan nada penuh tekanan.

"Adikku tersayang, kakakmu ini tidak memaksa dirimu, tapi hanya membantu Ibu dan Ayah agar tidak melupakan, bahwa ia juga mempunyai satu anak lelaki lain." Seokjin tertawa tanpa dosa. "Dan soal kenapa aku pulang, ya ... kau akan tahu nanti."

Hoseok memutar bola mata jengah. Huh, dasar sok misterius.

Puas memaki dalam hati, otak Hoseok tiba-tiba teringat sesuatu. "Hyung?"

"Ada apa lagi?"

"Di kereta, aku secara tidak sengaja mendengar percakapan dua gadis –oh, Hyung, jangan menyela!- Apa benar, sudah terjadi pembunuhan di Daegu?"

"Hm," Seokjin menimbang seraya mengusap dagu. "Akhir-akhir ini Daegu memang banyak mendapat kasus seperti itu,"

"Jadi, apa karena itu, kau kembali ke sini?" celetuk yang lebih muda.

"Tidak, bodoh," cetus Seokjin tegas. "Kau kira aku kembali ke rumah karena takut berita itu? Ck, tak ada sejarah Kim Seokjin menjadi seorang pengecut." Seokjin melihat air muka Hoseok yang berubah heran tercampur dengan kejengahan. "Jika masih penasaran, kau bisa tunggu lima hari dari sekarang."

"Dan pada saat itu, aku sudah kembali ke Seoul."

Pemuda Kim mengendik ringan lalu mengalih fokuskan diri pada ponsel yang ia genggam, sementara Hoseok memincing sinis kemudian beralih meniliknya. Semakin dilihat, semakin Hoseok merasa, bahwa ada yang lain dari Kim Seokjin. Ia tidak yakin apa, tapi demi apapun, ia bersumpah, ia takkan menanyakannya pada sang sepupu karena ia—

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku bertambah tampan? Hm, agaknya memang begitu."

–sudah tahu jawabannya.


Kala sang bulan telah meninggi, Hoseok membaringkan seluruh tubuh yang terasa letih. Besok sore ia akan kembali melakukan perjalanan panjang ke Da-Eun, maka atas dasar itu, ia perlu istirahat.

Perjalanan selama empat jam sebenarnya dapat lebih dipersingkat dengan menaiki kendaraan basis udara. Namun, memang dasar kikirnya kumat atau memang kadar peka rendah, Kim Seokjin acuh tak acuh ketika Jung Hoseok dengan sengaja menyinggung keinginannya pulang naik pesawat. Hoseok mencela, "Memang dasar tidak bertanggung jawab!"

Ia meraih benda yang sedari tadi hidup-mati-hidup-mati di atas nakas. Manik cokelat hangat bergulir, mengikuti setiap kata. Hoseok teringat, ia lupa mengabari Para Sahabatnya semenjak menapak ke Gwangju. Pantas saja ponselnya penuh dengan pesan sampah; mereka mengirim berulang.

Dengan lihai, kedua ibu jari Hoseok menekan huruf apa saja yang terlintas di benak.

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, Hoseok menerima balasan dari ketiganya.

"Kompak sekali." Sebelah sudut bibirnya terangkat. Ia tahu, pasti mereka sedang berkumpul di salah satu kamar yang kemungkinan kamar Taehyung dan Jungkook. Jika itu memang benar, Hoseok berharap kepolosan Taehyung tidak terguncang akibat dua kawannya itu.

Drtt ...

Sebuah pesan masuk dari 'Park Jimin' terpancang di layar ponsel Hoseok. Ya, dia juga mengabari Jimin sekaligus memberitahukan, bahwa titipan salamnya telah tersampaikan dengan baik.

To: Jung Hoseok

From: Park Jimin

Sudah tahu.

Sontak Hoseok mendengus, merasa percuma dia membuang-buang pulsanya.

Dan kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Ia membungkus diri dengan selimut. Setelah dirasa nyaman, lambat laun kedua kelopak mata itu menelan netra hangatnya dengan sempurna.


Jung Hoseok telah kembali menapakkan tungkainya di Da-Eun. Sebelum ke kamar sendiri, tentu saja Hoseok singgah terlebih dahulu di kamar Jungkook dan Taehyung guna menghadiri acara penyambutan dirinya. Konyol memang.

Dan kini, ia berdiri depan pintu, menatap dalam ukiran nomor 309. Tenggorokannya naik turun seakan menekan masuk saliva yang menyeruak. Kaki panjangnya bergerak tak nyaman.

"Aish, kenapa aku gugup begini!" desisnya. Ia menggeleng sebanyak tiga kali untuk mengusir semua rasa aneh yang ada.

Tangan besar Hoseok mulai bergerak menggenggam knop dan dengan sekali hentakan, pintu tersebut menciptakan cela kemudian ia memberikan sebuah dorongan ringan, hingga menampilkan keseluruhan isi ruangan tersebut.

"Yo, Hoseok-ah. Kau ingat pulang ternyata!"

"Oh, Jackson-ah," sapa Hoseok saat kelereng itu menangkap sosok pemuda duduk di lantai dengan punggung yang bensender pinggir ranjang seraya memangku sebuah laptop. Ia menutup pintu, melepaskan sepatu yang kemudian ia taruh di sebuah rak kecil. Hoseok mulai memindah telapak kakinya. "Apa kabar? Terakhir kulihat kau membatu di kasurmu. Ah ya, tumben sekali kau ada di kamar. Padahal sekarang baru pukul delapan, rasanya masih telalu sore untukmu, 'kan?"

"Jika sedang tidak banyak tugas begini, mungkin aku baru akan menyapamu di pukul satu." Keluh Jackson dengan raut muka pasrah. Hoseok menoreh senyum perihatin. Entah mengapa atensinya memaksa untuk melihat sosok lain di lantai dua yang nampak terlihat berkonsentrasi dengan seonggok buku di tangan. Namun, Hoseok dapat memastikan bukan buku itu, karena lebih manusiawi, meski ia sempat mendengus. Buku yang mengingatkannya dengan Guru tercinta.

"Hallo, Yoongi-ssi,"

Alih-alih, Min Yoongi membalik lembaran bukunya tanpa berminat membalas sapaan Hoseok. Hoseok menyadari, bahwa harapannya waktu itu ternyata memiliki kadaluwarsa. Jackson yang peka terhadap pengabaian tersebut hanya bisa menelan kasar gelak tawa. Tampak ia tidak ingin sang teman kembali terluka untuk kedua kalinya.

"Oh, apa kalian sudah saling mengenal?" Hoseok bertanya di tengah menaiki tangga. Ia takkan menyerah. "Atau jangan-jangan kalian sudah akrab?!" timpalnya dengan bumbu terkejut.

"Oh, tentu saja kami sudah akrab. Min Yoongi-ssi itu teman sekamar ideal yang sudah lama aku idamkan. Dia sangat pengertian denganku. Yoongi-ssi tahu di mana waktu untuk diam, walaupun kenyataan dia memang jarang bersuara. Setidaknya, ia tidak berusaha merusak tubuhku, mataku, dan telingaku seperti orang, ya ... kau tahu sendirilah, Hoseok-ah,"

"Sialan!"

"Sudah, diam sana! Kami sedang sibuk," Tangan Jackson membuat isyarat pengusiran, sedangkan Hoseok langsung melemparnya dengan sebuah penghapus.


Hari ini hari jum'at, yang artinya lepas seminggu sudah Min Yoongi bersekolah di Da-Eun. Tidak ada perubahan berarti pada sosoknya. Ia masih tetap datar, dingin, dan tak banyak bicara –kecuali dengan Para Guru dan rasanya Hoseok mengerti dengan hal ini. Biar bagaimanapun, Yoongi juga seorang murid yang tidak ingin dicap tidak sopan karena tidak sopan terhadap gurunya.

Dentingan bel sekolah sedang melakukan tugas, itu tandanya pergantian jam pelajaran selanjutnya telah dimulai. Normalnya, seluruh murid akan mempersiapkan diri untuk menyambut pelajaran baru, tapi tidak untuk kelas 3-A sekarang. Hanya ada empat orang yang duduk normal. Yang lain? Ada yang mengganggu, bermain, mengganggu, bergosip dan mengobrol.

"Joon-ah,"

"Apa, Hobi?"

"Tidak biasanya Oh-ssaem membiarkan jam Jessica-ssaem kosong,"

Namjoon memutar balik diri menghadap Hoseok, saat bersamaan Hoseok melihat seringaian bejat Kim Namjoon terpatri. Dan Hoseok merasa ada kata buruk yang akan keluar dari cela itu.

"Demi gigi kelinci Jeon Jungkook, baru empat setengah jam lalu beliau berkeliaran di kelas ini, dan sekarang kau mulai merindukan dia?"

Nah!

"Demi si atraktif Kim Taehyung, apa kejeniusanmu telah berganti dengan ketidakwarasan?" hardik Hoseok dengan ekspresi jijik. "Dan—" Hoseok menghela malas. Ia berbalik cepat kemudian memancar sirat berang. "Sudah berapa kali kubilang, jangan berkerumun di sini!"

Kerumunan yang seperti biasa, berdominasi kaum Hawa tersebut membalas tatapan tak kalah sengit.

Tak dapat ditampik kenyataan, bahwa dalam kurun waktu seminggu bersekolah, Min Yoongi sudah menjadi salah seorang yang paling diinginkan Para Gadis seantero Da-Eun. Meski ia layaknya lemari es berjalan, tapi tak mengungkung pesona dirinya.

Hoseok mengakui, karena ia juga termasuk dalam daftar itu. Akan tetapi, agaknya nominasi itu sudah tidak belaku lagi teruntuknya di kelas 3-A sekarang.

"Rasanya tidak ada satupun dari kami yang mengganggumu,"

"Iya. Lihat, kami sekarang berada di tempat Min Yoongi, bukan Jung Hoseok."

Hoseok memutar bola mata malas. "Tapi setidaknya lihatlah dia. Aku berani taruhan, di balik wajah datar tanpa ekspesi itu pasti menyimpan kerisihan tak terbendung lagi pada kalian. Aku yang melihatnya saja muak, apalagi dia yang merasakan."

Salah seorang gadis bernama Chou Tzuyu menumpukan tangan di atas bahu Yoongi lalu menatapnya intim. "Yoongi-ya, itu tidak benar, 'kan?"

Dasar tolo—

Tanpa terduga Min Yoongi menarik tangan Tzuyu hingga sang gadis terduduk di pangkuannya. Seluruh atensi membulat tak percaya, tak terkecuali Tzuyu sendiri.

Bibir tipis Yoongi bergerak membelai daun telinga kemudian mengucap sesuatu yang meski pelan, tapi cukup didengar oleh berpuluh telinga di sana.

"... apa perlu tangan menjijikkanmu ini kupatahkan?"

Suasana lantas bertambah tegang, bahkan Tzuyu tak sempat merasakan lagi nyeri yang menjalar di bagian pergelangan tangan sebab patah pelan tersebut.

TAS!

"Hei, mengapa kalian tidak rapi begini? Cepat kembali ke tempat!"

Suara Oh Sehun memecah semua ketegangan yang ada. Jujur, untuk pertama kali Hoseok bersyukur akan adanya sang guru tercinta. Ia melangkah masuk dengan gaya khas seperti biasa. Para Murid sudah kembali pada posisinya masing-masing. Kesan pucat masih betah membaur pada wajah Chou Tzuyu.

"Silahkan masuk, Kim-ssaem,"

Ketika Kim-ssaem yang dimaksud masuk, Hoseok sontak terbelalak.


To Be Continued


.

.

.

.

.


Note:

Niat mau rajin update, tapi jadi kehilangan motivasi ... *mojok*

Harap-harap masih layak dibaca ... dan jangan lupa ninggalin jejak yaah


hidden: hehe, seneng deh ada yang lupa genre /? mungkin masih belum lancar baca /plak. Makasih lho, Mampir lagi yaaah

Shintia: sukur deh, ada yang suka :") Makasih lho, udah sudi mampir. Jan lupa mampir lagi yaaahh

fuse-san-desu: Bisa jadi sih, hanya pak Sehun seorang tsun. Bwahaha, entar jadi Hoseok x Sehun lagi ini! Sankyu, Fuse-san udah sudi mampir. Mampir lagi yeahhh /plak

Byeee, jumpa lagi chapy lanjuttt~