Suara percikan api terdengar samar-samar dengan aroma masakan di pagi hari. Kepulan uap panas terlihat dari masakan yang baru saja diangkat.

Naruto tersenyum puas, bangga dengan hasil masakannya. Usai menata meja untuk tiga orang. Naruto mulai menikmati sarapannya seorang diri.

Senyum Naruto merekah sampai matanya menyipit. Suasana hatinya sedang baik saat ini. Dan semua itu berkat kejadian kemarin lusa.

Di kantin sekolah...

Naruto merebahkan separuh badan di atas meja. Helaan nafas panjang terdengar darinya yang diselingi gerutuan kecil.

Pelajaran matematik selalu menjadi subjek terburuknya. Terlebih dengan guru killer macam Uchiha Madara. Membuat satu setengah jam terasa ribuan tahun baginya.

"Berhenti menghela nafas, dobe. Itu menyebalkan."

Sasuke yang baru saja datang sehabis memesan makanan. langsung menjitak pelan kepala kuning temannya.

Naruto berdecak sebal, "Teme, Jangan buat kepalaku semakin pusing!"

"Oh, aku lupa kalau kapasitas otakmu sudah habis dibantai madara."

Naruto tertawa tanpa suara, tidak bisa membantah karena memang itu lah yang ia rasakan saat ini.

"Tapi madara-sensei benar-benar mendedikasikan dirinya untuk mengajar." Shikmaru yang duduk di samping Naruto menyahut. "Hampir 50 tahun menjadi guru matematika. Kalau aku tentu saja ogah melakukan hal menyusahkan seperti itu."

"Kakek tua itu hanya senang melihat para murid kesulitan, terutama si dobe." Sasuke berujar dengan seringaian kecil di wajahnya.

"Argh! jangan buat aku mengingat hal itu lagi!" Naruto mengacak rambutnya kesal.

"Ha ha! kau memang sial Naruto. Menjadi target bulian Mada-sen."

"Hampir setiap jam pelajaran dia, kau selalu ditunjuk maju."

"Dan dipaksa mengerjakan soal kalau tidak bisa menjawab."

Naruto mendengus kasar, " Ya, ya, puas kalian meledek? dasar orang-orang jenius!"

"Heyo!"

Suara baru itu mengejutkan Naruto, terlebih saat sebuah lengan melingkar di pundaknya.

"Sakura-chan!"

Gadis remaja itu menepuk pundak Naruto dan duduk di sampingnya.

"Ada apa ini, kok wajahmu ditekuk kayak gitu?"

"Biasa, habis jadi target Mada-sen."

Sakura tertawa renyah mendengarnya, "Turut perihatin, yah!"

Decakan sebal Naruto kembali membuat teman-temannya tertawa.

"Ah! Hinata di sini!" Sakura melambaikan tangannya begitu melihat sosok Hinata.

Gadis berambut panjang itu tersenyum lalu menghampiri Sakura dengan nampan di kedua tangannya.

Saat ia melihat Naruto dan yang lain, wajahnya berubah gugup.

"U-um... Hai,"

Naruto tertawa kecil, "Masih belum biasa dengan kami, Hinata?"

Gadis itu semakin menunduk membuat Naruto kembali tertawa geli. Remaja pirang itu berdiri dan mengambil nampan dari tangan Hinata.

"Lebih seru kalau makan ramai-ramai!"

Setelah meletakan nampan, ia menepuk pundak Hinata dan membuatnya duduk di samping Sakura. Setelah itu Naruto kembali duduk di depan Hinata.

"Oke, waktunya makan-dattebayo!" seru Naruto dan mulai membuka kotak bekalnya.

Hinata mengerjap, agak kaget melihat isi kotak bekal Naruto yang tersusun rapi dan terlihat enak.

"Wah... Hebat."

"Huh?"

Tersadar Hinata buru-buru menutup mulutnya. Wajah gadis itu memerah malu. Sakura yang di sampingnya tersenyum jahil.

"Hebat, kan Hinata? bekal itu Naruto sendiri loh, yang buat."

"Be-benarkah? hebat..."

"Apanya yang hebat, cuma masakan biasa kok." Ujar Naruto berusaha terlihat biasa meski ada rona merah di pipinya.

"Kau memang istri yang baik."

"Teme, siapa yang istri?!"

"Tentu saja kau, Naruto." Sakura ikut menimpali, membuat remaja pirang itu semakin merona.

Sementara itu Hinata terus menatap bekal Naruto. Wajahnya terlihat serius memikirkan sesuatu, sampai ia menatap Naruto dengan tekad di matanya.

"A-ano! Na-Naruto-kun!" setelah remaja pirang itu menatapnya. Hinata kembali berujar, "Boleh aku minta tolong?"

...

"Uwa! wajahmu menyeramkan sekali, nii-san."

Naruto menoleh saat sebuah suara baru membuyarkan lamunannya. Sosok remaja laki-laki berambut merah dan bermata biru, berdiri di ambang pintu.

"Pagi Menma, apa tidurmu nyenyak?"

"Aku rasa," ujar Menma lalu duduk di depan Naruto. Ia mengambil selembar roti tawar dan selai coklat. "Lalu, apa yang membuat nii-san tersenyum aneh begitu?"

"Eh? kapan aku senyum?" Naruto berusaha mengelak. Ia menegak susu sampai tandas, berharap raut wajahnya kembali normal.

Menma menatap kakaknya dengan senyum jahil. "Apa akhirnya kamu dapat pacar, kak?"

Pertanyaan itu sukses membuat Naruto terbatuk kuat. Wajahnya memerah, seperti kepiting rebus.

Menma melebarkan matanya, raut tidak percaya ia tampilkan. "Eh? yang benar?!"

"Tentu saja enggak, lah!"

"Cih, mau sampai kapan jomblo terus?"

Naruto tidak tahu harus bagaimana membalas kata-kata adiknya. Sehingga dia hanya bisa memakan sarapannya dalam diam.

"Kalian belum berangkat?"

Suara baru itu sukses membuat Naruto membeku.

"Selamat pagi, Ibu."

"Pagi, Menma."

Naruto tidak tahu, sejak kapan ia menunduk dan berhenti mengunyah makanannya.

"Kenapa masih di sini? apa kamu berniat untuk bolos lagi? Naruto."

Ah, Naruto merasa bodoh karena berharap suara hangat yang akan menyapanya. Remaja pirang itu tersenyum kecil.

"Aku sudah selesai makan." Naruto beranjak, menaruh piring kotor di westafel.

Kushina menghela nafas berat, "Harus berapa kali, ibu mengingatkanmu, Naruto. Kamu itu kakak, beri contoh yang baik pada Menma."

"Berhenti membuat masalah seperti bolos sekolah. Ibu sudah banyak kerjaan, jangan menambah pusing dengan kelakuanmu itu."

Menma menatap punggung kakak laki-lakinya. ia khawatir dan ingin mencoba mencairkan suasana yang entah sejak kapan menegang.

"Ibu-"

"Matikan airnya, Naruto! mau sampai kapan kamu biarkan keran menyala?!"

Sentakan itu mengejutkan dua kakak beradik Uzumaki. Naruto buru-buru mematikan keran dan tersenyum kikuk.

"Menma kamu cepetan berangkat, jangan sampai telat!"

Menma tak menyahut, manik birunya menoleh. Menatap khawatir Naruto yang hanya berdiam diri.

Merasa diperhatikan, Naruto mengangkat wajahnya. Senyum tipis hadir di wajahnya yang agak kecoklatan.

"Hati-hati di jalan, Menma." ujarnya.

Menma mengangguk pelan, lalu ia beranjak dari duduknya. "Aku berangkat."

Usai Menma pergi, Naruto juga buru-buru mengambil tas sekolahnya. Ia tak ingin keberadaannya semakin membuat tingkat stress Kushina meningkat.

Setelah menutup pintu rumahnya, Naruto menghela nafas panjang. Entah sejak kapan ia menahan nafas, dengan gemetar di tangannya.

Naruto mengusap wajahnya kasar. Raut wajahnya letih, dengan gurat pedih di sana.

"Aku rasa aku akan bolos hari ini," gumam Naruto. "Tolong gantikan aku, Kurama."

Remaja pirang itu menghela nafas pelan. Saat ia kembali membuka matanya, tatapannya kini berubah.

Raut wajahnya kini lebih tenang dan tatapannya menajam. Segaris senyum hadir di wajahnya.

"Tidurlah, Naruto. Biar hari ini aku yang urus."

Samar-samar ia mendengar suara lain di kepalanya. 'Yah, Makasih Kurama.'

Remaja pirang itu mulai melangkah. Dengan langkah pasti ia menuju sekolah, menggantikan Uzumaki Naruto.

...

"Tumben kamu udah dateng, dobe." Sasuke berujar saat ia melihat teman pirangnya sudah duduk manis di kursinya.

Naruto mengalihkan tatapannya dari buku yang sedang ia baca.

"Hari ini aku bangun lebih awal," jawab naruto dengan senyum simpul.

Mata hitam Sasuke menyipit, merasa ada yang berbeda. "kau... Kurama?"

Mata hitam dan biru itu saling beradu. agak lama, sebelum seringaian tipis hadir di wajah remaja pirang.

"Kau jadi makin cepat, membedakan kami berdua."

Sasuke mendengus pelan, "Hanya orang bodoh yang gak bisa membedakan kalian berdua."

Kurama menaruh buku bacaannya dan duduk di depan Sasuke. Senyum jahil Kurama, membuat pelipis Sasuke berkedut.

"Orang bodoh? berarti Sakura termasuk?"

"Dia bukan bodoh, cuma kelewat gak peka." dan Sasuke mencibir pelan, menimbulkan gelak tawa Kurama.

"Pagi!" Shikamaru yang baru datang menyapa kedua temannya. "Itu kursiku Naruto."

"Ah, maaf." kurama segera beranjak dan berdiri di samping meja Sasuke.

Shikamaru tidak langsung duduk. Mata malasnya memerhatikan Naruto seksama. Sebelum ia menggaruk tengkuknya dengan tatapan bosan.

"kenapa malah kau yang masuk sekolah, Kurama?"

"Hm... Ada sedikit masalah, jadi aku menggantikan Naruto."

Sasuke dan Shikamaru menatap Kurama lekat-lekat. Mereka berdua tahu betul kondisi Naruto karena mereka sudah berteman hampir Tiga tahun lamanya.

Kurama mengibaskan tangannya, "Tidak perlu khawatir. Anak itu cepat pulih mentalnya."

Shikamaru mendengus pelan, "Kau tidak akan ada di sini kalau mentalnya kuat."

Kurama terdiam, "Benar juga kata-katamu."

Sasuke menggeleng pelan, "Bukannya seharusnya kau lebih pintar dari si dobe, Kurama?"

"Seharusnya begitu, karena aku ini sosok yang Naruto inginkan." Kurama tersenyum kecil, "Sosok kakak yang bisa diandalkan."

"Dan perlu kau tahu, hari ini Naruto ada janji dengan Hyuuga Hinata." Shikamaru duduk dan menaruh tas untuk menjadi bantal tidurnya.

"Hyuuga Hinata, si Putri Hyuuga?"

"Yah, jadi pastikan kau benar-benar jadi sosok kakak yang bisa diandalkan." Ujar Shikamaru dan tersenyum penuh arti.

...

Pulang sekolah, setelah bunyi bel terakhir terdengar. Murid-murid keluar dari kelas mereka dengan senyuman. Ada yang langsung pulang, menetap di klub atau hanya sekedar menghabiskan waktu mengobrol dengan teman.

Saat ini di ruang ekonomi, Kurama menatap meja putih dengan beberapa sayuran segar di atasnya. Wajahnya pucat sebelum ia melirik sosok gadis manis di sebelahnya.

Gadis itu terlihat penuh semangat menyiapkan peralatan memasak. Membuat Kurama merasa semakin miris dengan nasibnya saat ini.

"Jadi apa yang akan kau ajarkan hari ini, Naruto-kun?" Hinata menatap pemuda pirang itu dengan mata berkilau.

Tanpa menyadari Kurama sudah keringat dingin dan ingin pergi dari tempat ini.

"Se-sebelumnya, apa kau tidak ada acara hari ini? apa tidak masalah kita belajar masak sekarang?"

"Tenang saja, aku sudah menyelesaikan laporan osis sebelum jam pulang. Jadi kamu bisa mengajariku masak hari ini."

Kurama tertawa hambar, "Be-begitukah..."

"Un, aku ingin membuatkan bekal untuk ayahku. Tapi memasak bukanlah kelebihanku." Hinata tersipu malu saat ia menceritakan alasannya. "Karena itu aku ingin Naruto-kun mengajariku memasak, terlebih bekalmu kemarin itu sangat enak!"

"Ha ha ha... Kamu terlalu memuji Putri-Hinata-san!"

"Tidak kok, jadi hari ini kita mulai belajar dari mana?"

Kurama mulai memutar otak, kalau bisa dia ingin membangunkan Naruto dari tidurnya. Tapi meski sudah ia panggil, bocah itu tidak kunjung menjawabnya.

Apa lebih baik kalau dia pura-pura sakit? atau bilang dia ada urusan dan kabur secepat kilat?

"Naruto-kun?"

Kurama berharap ia tidak lemah terhadap tatapan memelas maupun tatapan penuh harap seperti yang Hinata perlihatkan saat ini.

"Ha-hari ini...Kita masak nasi goreng."

Mungkin menu itu tidak masalah, mengingat Naruto paling sering memasak makanan itu untuk Menma.

Kurama mengambil pisau dapur, dan Hinata berdiri di sampingnya.

"Pertama, potong daun bawang lalu cincang halus."

TAK!

"Ja-jarimu keiris Naruto-kun!"

"Lalu masukan minyak ke wajan."

WUSH!

"Naruto-kun itu bukan minyak!"

"Lalu..."

"Na-naruto-kun!"

Satu jam kemudian...

Manik lavender itu mengerjap, sementara biru laut itu melirik arah lain.

Hinata memandang lurus pada piring di depannya. Di atas piring itu ada sebuah tumpukan berwarna hitam, dimana seharusnya ada nasi goreng di sana.

"Aha ha... sepertinya aku kebanyakan kasih kecap." Kurama tertawa pelan, entah mengapa ia memberi alasan seperti itu.

"Ya-yang penting rasanya, bukan tampilannya!" lagi Kurama berujar dan ia langsung melahap satu sendok nasi goreng itu.

"Iya, yang penting itu rasanya." Hinata tersenyum riang lalu mengambil sendok untuk mencobanya.

"JANGAN!"

Gadis manis itu tersentak, saat tiba-tiba Kurama menepis tangannya.

"A-ah, maaf... i-itu, bisakah besok kita mengulang latihannya? sebenarnya hari ini aku sedang tidak enak badan."

"Eh? kamu baik-baik aja? apa perlu kita ke UKS?"

"Ti-tidak usah, aku langsung pulang aja, jadi sampai besok!" Tanpa menunggu respon Hinata. Kurama segera pergi meninggalkan gadis itu sendirian.

Kurama berlari menuju toilet, ia segera memuntahkan isi perutnya. Wajahnya pucat dengan peluh membasahi wajahnya.

"Sial, bagaimana bisa rasanya seburuk itu?"

Sejak dulu Kurama memang payah dengan yang namanya memasak. I lebih baik berkutat dengan buku, kalau perlu berurusan dengan rumus matematika lebih baik dari pada memegang pisau dapur.

Kurama mematikan keran air dan menyeka peluh dan menghela nafas lega, "Hampir saja aku mati."

.

.

.

To be continue...

Aku tunggu review kalian yah, makasih juga yang udah setia baca ^^

Kalau cerita ini agak slow, mohon maklum. Saya memang tipe author kayak gini hahaha.

Chapter 3 dan baru ketahuan ada yang beda dengan Naruto. Dalam cerita ini, aku mencoba untuk memasukkan sifat Minato dan Kushina.

Semoga kalian enggak bingung baca cerita ini yah, hehe... Sampai jumpa lagi .