Dei's Story

Chapter 3 : Hari Minggu yang Panjang Part 2

Disclaimer :

Story © Uchiha Yoshy Nesia

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : K

Genre : Parody and Romance

Summary : Bisakah ia mengetahui darimana asal rasa sakit itu?/ "Hii! Sasori ternyata mesum juga, un!"/ "Siapa suruh elo punya rambut panjang kek cewek gitu? Udah panjang, KUNING lagi warnanya."/ "SASORI NYEBELIN, UN!"/ "Lu yang apa-apaan! Gara-gara lu, punggung gue jadi sakit, tau!"/ Summary kacau. Langsung RnR aja!

Warning : Shonen-ai, plot gak jelas, kali ini rada OOC, AU.

Pairing : SasoDei, (still) slight ItaSaso

Don't Like, Don't Read...

And Happy Reading!

.

-Sebelumnya-

'Siapa sih? Mungkin cuman perasaan gue.' batin Sasori heran. Atau jangan-jangan dia punya stalker seperti yang dikatakan Itachi tadi?

Tap, tap, tap, tap...

Suara itu terdengar lagi. Lalu ia membalikkan badannya dengan cepat—ia pastikan tuh stalker kurang kerjaan bakalan ketangkap basah kali ini. Dan ternyata,

"Heh, Dei, ngapain lu ngikutin gue?" tanya Sasori amat dingin kepada seseorang yang baru ketangkap basah nguntit dia. Orang yang ternyata Deidara itu hanya berdiri membatu dengan mulut menganga melihat Sasori menatapnya kesal.

.

-oOo-

.

-FlashBack-

"Uhnnn..." Deidara tampak guling-guling di atas tempat tidurnya setelah ia mengerjakan soal-soal les yang susah banget tadi. Tadi begitu ia pulang dari rumah Kurenai, ia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil berguling kek trenggiling kepanasan (?).

"Ikh, apaan nih, un? Ada yang ngeganjel." ucap Deidara yang merasa terganggu dengan sesuatu yang berada di balik punggungnya.

"Hah, buku? Apaan nieh, un?" gumam Deidara sambil membuka buku yang ia dapatkan tadi. Lalu tak lama wajahnya pun memerah dan ia langsung membuang tuh buku ke pojokan.

"Hii! Sasori ternyata mesum juga, un!" komen Deidara hiperbolis.

Sebenarnya di sampul buku itu gak ada nama pemiliknya kok. Gak ada nama Sasori atau sejenisnya disana. Dianya aja yang langsung parno dan menduga tuh buku milik Sasori, karena seingat dia yang sering nitip-nitip benda ke dia tuh pasti Sasori (alasan yang tidak logis).

Deidara jadi ngerasa risih juga ngeliatin tuh buku. Mau dibakar, tapi takut si pemilik buku bakalan ngamuk kalo buku miliknya udah jadi abu. Mau dibalikin besok, entar dia lupa lagi letaknya tuh buku. Maklum, pelupa. Mau dibalikin sekarang, dia gak tau si Sasori ni sekarang ada dimana. Mana pulsa ponselnya habis lagi!

"Hhh, pokoknya ni buku musti gue balikin sekarang juga, un!" tekad Deidara tanpa sadar teriak kenceng-kenceng. "Tapi saat ini Sasori dimana, un? Apa dia udah balik ke rumah?" tanya Deidara ragu. "Yaudah deh! Gue datengin ke rumahnya aja langsung, un!" ucap Deidara sambil berdiri dan membawa tuh buku laknat.

.

"Saso-nii belum pulang, Dei-chan." ucap adik Sasori, Matsuri, ramah pada Deidara yang ada di depan pintu rumahnya.

"Heh, biar gue ingetin satu ya, un. Gue ni COWOK. Jadi, berhenti manggil gue pake –chan, un." geram Deidara muak.

"Siapa suruh elo punya rambut panjang kek cewek gitu? Udah panjang, KUNING lagi warnanya." sindir Matsuri sambil ngelirik rambut Deidara. Keramahannya langsung berubah 180 derajat.

Twitch! Perempatan berwarna merah pun muncul di jidat Deidara.

"UDAH DEH! GAK USAH NGEBAHAS RAMBUT GUE LAGI, UN!"

BRAK!

Deidara pun menutup pintu rumah keluarga Akasuna itu kenceng-kenceng lalu pergi dari rumah itu dengan langkah kaki menghentak-hentak kek anak kecil. Sementara Matsuri? Silahkan tebak sendiri nasibnya.

.

"Uh, ternyata dia belum pulang. Trus tuh anak ke mana, un?" tanya Deidara pada dirinya sendiri sambil memijit jidatnya. Kalau bukan buku Sasori yang 'itu' yang ada padanya, ia takkan mau repot-repot mengembalikannya sekarang. Ia juga heran kenapa tuh buku ada padanya.

Tak terasa Deidara udah jalan dekat persimpangan rumahnya dan rumah Sasori. Dan dijalan tak jauh dari pandangan matanya, terlihat seseorang yang ia cari dari tadi tengah berjalan bersama temannya yang berambut hitam panjang.

'Uwaa! Itachi-san, un? Kok bisa-bisanya Sasori jalan ma tuh orang? Berduaan aja lagi, un!' batin Deidara membara ngeliat Sasori ma Itachi tampak saling bercanda satu sama lain (atau lebih tepatnya cuman si Itachi yang ketawa-ketiwi, sedangkan Sasori tampaknya kesel amat ma tuh orang) sambil bersembunyi di balik tiang listrik tak jauh darinya dengan pandangan membunuh—

—tunggu dulu. Untuk apa dia marah? Toh, itu gak ada hubungannya dengannya. Sama sekali gak ada! Terserah Sasori dong mau jalan ma siapa aja. Itu tidak jadi masalah baginya—

—tapi kenapa perasaan sakit itu tiba-tiba menusuk hatinya?

"Udah, udah, back to the topic. Sekarang ini ada yang lu taksir gak?" Terdengar Itachi bertanya pada Sasori di telinga Deidara, membuat si rambut kuning itu tersadar dari lamunan nistanya.

Sambil berusaha melindungi diri di balik tiang listrik, Deidara melihat Sasori tampak menundukkan kepalanya. "Ada." ujar Sasori.

Tampak muka Itachi langsung sumringah mendengarnya, "Apa? Ada? Ada, Sas? SIAPA?" tanya Itachi menggebu-gebu dengan nada antusias sambil mengguncang-guncangkan kedua pundak Sasori dengan dramatis dan tampak matanya ber-puppy eyes ria. Membuat Deidara jadi eneg dan menjadikan tanah yang ia pijak jadi sasaran 'cakaran kucing'nya.

"Bukan urusan lo." ucap Sasori lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Udah deh, lepasin gue. Arah rumah kita dari sini udah berbeda." ucap Sasori dingin. 'Heh, bagus tuh! Pulang aje sekalian ke alam lo sono, un!' batin Deidara panas.

Lalu terlihat Itachi melihat ke sekeliling dan melepas pegangannya pada pundak Sasori. "Oh, yaudah, bye bye! Sampai jumpa besok di sekolah, sayang. Hohoho." ucap Itachi sambil ketawa ala ibu-ibu dengan nista lalu berjalan menjauhi Sasori dengan cepat. Deidara pun merasa hendak mengambil sendal jepitnya dan melemparnya ke Itachi, tapi gak jadi, dia tak mau dirinya ketahuan ngikutin tuh dua makhluk. Setidaknya untuk sementara ini.

"Cih... F*KING PITS LOE! ITACHONG!" teriak Sasori dengan nada penuh amarah. Tapi si Itachi dah keburu ngilang.

"Dasar kakek-kakek satu itu! Seneng banget bikin orang emosi!" omel Sasori sambil berjalan kembali.

'Waduh! Gaswat! Tuh anak menuju ke sini, un!' batin Deidara panik melihat Sasori berjalan hendak melewati jalan di depannya.

Selamat, ternyata Sasori tidak menyadari dirinya yang sedang bersembunyi di balik tiang listrik yang tampaknya lebih langsing tubuhnya daripada tiang listrik tersebut. Setelah menghela nafas lega, Deidara pun lanjut mengawasi gerak-gerik Sasori.

'Uhh, apa perlu gue kembaliin besok aja ya, un?' batin Deidara mulai nyerah.

'Kalo gue kembaliin besok, justru itu bahaya! 'Kan tujuan utamanya nyuruh gue nyimpen nih buku supaya gak ketahuan siapa-siapa di sekolah! Hhh, kalo sekarang, gimana caranya?'

Jalanan mulai terlihat gelap dan terdengar kicauan burung layang-layang yang hendak pulang ke sarangnya—menambah kesan mistis pada malam itu. Apalagi keadaannya sunyi-senyap. Cuman ada Sasori di jalanan itu.

Karena takut kalau-kalau ada yang memeluknya dari dinding (?) tembok, Deidara pun keluar dari persembunyiannya setelah ia rasa Sasori berjalan jauh di depannya namun masih bisa terlihat dimatanya. Sebisa mungkin ia berjalan dengan sangat hati-hati dan sangat pelan, tapi ternyata suara langkah kakinya menimbulkan suara.

Deidara langsung menyepi dan bersembunyi di balik tiang listrik dengan gesit begitu ia melihat Sasori mengeluarkan tanda-tanda mau menoleh ke belakang.

Sasori tampak celingukan ngeliatin jalan dibelakangnya, mungkin karena merasa diikuti. Lalu setelah tidak menemukan seorang pun, Sasori kembali berjalan dengan wajah memandang lurus ke depan.

'Huh, ternyata Sasori punya daya dengar yang kuat, un.' batin Deidara sambil keluar lagi dari persembunyiannya.

Tap, tap, tap, tap...

Sasori membalikkan kepalanya ke belakang lagi, namun Deidara langsung menyadarinya dan bersembunyi ke balik tiang listrik (lagi?) dengan cepat.

Sambil ngintip dikit, tampak Sasori mulai gelisah dengan suara langkah kaki yang ia timbulkan. 'Uhh, apakah ini saatnya gue muncul, un?' batin Deidara ragu sambil keluar dari balik tiang listrik.

Tap, tap, tap, tap...

Sasori pun membalikkan badannya dengan cepat, seolah-olah tidak memberikan kesempatan untuk si penguntit a.k.a Deidara untuk bersembunyi lagi. Dan Deidara terlambat menyadari itu, dan...

"Heh, Dei, ngapain lu ngikutin gue?" tanya Sasori amat dingin kepada seseorang yang baru ketangkap basah nguntit dia. Orang yang ternyata Deidara itu hanya berdiri membatu dengan mulut menganga melihat Sasori menatapnya kesal.

-End of Flashback-

Setelah Sasori nyaris ngegebuk Deidara karena saking jengkelnya dirinya ma tuh si gender gak jelas, mereka pun akhirnya memutuskan untuk jalan bareng karena rumah mereka cuman beda 3 petak rumah.

"Eh, by the way, lu ngapain ngikutin gue?" tanya Sasori memecah keheningan.

"Eh? Ah, iya. Ni, un. Buku laknat lo." ucap Deidara dengan penekanan di kalimat terakhir sambil mengeluarkan buku yang ia bawa tadi dan menyerahkannya pada Sasori.

"Hm?" Sasori hanya memandang buku itu. "Itu bukan buku gue." ucap Sasori enteng.

"Heh?" Deidara sukses melongo. "Bukan punya lo, un? Trus punya siapa? Bukannya lo nitip nih buku ke gue minggu lalu, un?" tanya Deidara.

"Gue gak pernah nitip apapun ke elo, banci." jawab Sasori sambil mengalihkan pandangannya dari Deidara.

Deidara pun menatap buku yang ada dipegangannya tersebut. Buku bokep bersampul gambar Pak SBY lagi pidato entah soal apa. Kalo bukan Sasori, trus punya siapa? Dia gak pernah mau beli buku gituan.

"Punya si umat Jashin kali, Dei. Bukannya dia sering banget nitip-nitip ke elo? Saking seringnya, dia aja sampai pernah nitip CD-nya ke elo kaya'nya." ucap Sasori.

"Tapi waktu itu gue tolak! CD punya gue aja sering hilang, un." ucap Deidara gak tau malu.

Sasori terdiam sejenak. "Hm, Dei?" Sasori menyentuh tengkuknya yang entah kenapa terasa dingin baginya.

"Kenapa, un?"

"Itu, apa yang bergerak-gerak disamping elu?" tanya Sasori sambil nunjuk 'sesuatu' di sebelah Deidara dengan tenang.

"U-UWAAA! APAAN, UN? WAA! TOLONG, SASO!" teriak Deidara kaget plus histeris sambil menjauh dari tempat yang ditunjuk Sasori tadi.

"Hahah, rambut lo yang berkibar kok, Dei. Biasa aja reaksinya." ledek Sasori ketawa sambil cepat-cepat menjauh dari Deidara.

Deidara pun langsung sadar dari kehisterisannya dan melihat Sasori ketawa-ketiwi puas dengan banyak 'perempatan merah' dijidatnya.

"SASORI NYEBELIN, UN!" teriak Deidara lagi sambil menyusul Sasori yang tengah berjalan tak jauh darinya.

"A-aduh! Tu—Hey! Dei! Gue 'kan cuman bercanda!" jerit Sasori yang langsung dipukulin begitu Deidara berada disampingnya.

"SEBODO TEUING! SIAPA JUGA YANG NYURUH LU—Eh? Ehh!" Deidara yang kehilangan keseimbangan pun berhenti memukuli Sasori dan berusaha mengembalikan keseimbangannya.

"Ehh? Dei! Kenapa—!"

BRUK!

"Uhh..." Sasori memegangi kepalanya yang terbentur langsung dengan tanah. Kepala ma punggungnya terasa sakit, tapi itu bukan luka yang fatal. Karena Deidara gagal mengembalikan keseimbangannya, ia pun menubruk Sasori yang kurang konsen dan membuat Sasori jadi ikutan jatuh juga. Tapi akibatnya fatal...

"Uhhnnn... Sasori, un? Lu gak papa?" tanya Deidara sambil memegangi kepalanya juga yang kebentur ma kepalanya Sasori tadi dan belum menyadari posisi mereka saat ini.

Sasori membelalakkan matanya ketika ia melihat wajah Deidara yang begitu dekat dengan wajahnya. Mana wajah Deidara keliatan polos sekali, lagi. Ia pun baru menyadari kalau tubuhnya ketimpa tubuh Deidara juga tadi. Lalu dengan refleks, Sasori mendorong tubuh Deidara dengan kasar ke arah samping kanannya sehingga tuh bishie berambut kuning jadi 'mencium tanah' secara paksa dengan tidak elitnya.

"Aduh! Sasori! Kenapa sih, un?" protes Deidara sambil duduk bersimpuh dan mengelus hidungnya yang menjadi korban 'mencium tanah secara paksa'. Sasori pun dengan cepat berdiri dan mengambil tas selempang coklatnya yang terlempar tak jauh darinya begitu aja tadi.

"Lu yang apa-apaan! Gara-gara lu, punggung gue jadi sakit, tau!" ucap Sasori jengkel sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menutupi wajah merahnya dari Deidara. Untung aja Deidara gak tau soal itu.

"Gara-gara lu juga yang bikin gue kesel, jadinya kek gini deh, un!" Deidara malah balik nyalahin Sasori sambil nunjuk-nunjuk si objek. Sementara yang ditunjuk tidak memperdulikannya dan sibuk dengan khayalannya.

'T-ternyata tubuh Deidara langsing juga yah?' batinnya pervert mode sambil mencuri lirik tubuh Deidara yang terbungkus kaos hitam lengan pendek dan celana jeans biru panjang.

"Apa liat-liat, un?" geram Deidara garang sambil melotot ke arah Sasori.

"Dasar pervert, un!" sambung Deidara sambil mengacungkan jari teng*h ke arah Sasori. Tentu aja Sasori tersinggung diperlakuin kek gitu. Padahal dia 'kan cuman bermaksud 'bercanda'.

"Huh! Yaudah! Gue pulang!" ucap Sasori akhirnya emosi betulan.

"Eh? Apa? Hey! Sasori! Tunggu dulu, un!" Deidara panik begitu ngeliat Sasori berjalan menjauh darinya. Walaupun udah diteriakin, tapi Sasori tetap gak bergeming dan tetep jalan tanpa melihat Deidara yang ada dibelakangnya.

Dengan cepat, Deidara pun berdiri dan berlari nyusul Sasori. Begitu udah deket, Deidara menggapai tangan Sasori.

GREP!

"Sasori!" Deidara menahan tangan Sasori. Sasori pun berhenti dan menatap jengkel pada Deidara. "Gue minta maaf, un!" ucap Deidara. Dia tak ingin Sasori marah ataupun benci padanya. Biarlah Sasori jadi keranjingan ngatain dia 'banci' (walaupun dia benci dengan sebutan itu) kek si Hidan, yang penting Sasori gak benci ma dia.

"Minta maafnya tulus neh?" ucap Sasori mulai jinak.

"Iya, un! Sumpah!" ucap Deidara sambil membentuk tangannya menjadi pose peace.

Sasori pun menutup mata dan menundukkan kepalanya, tampaknya berusaha merendam amarahnya. Lalu ngomong, "Oke, gue maafin. Tapi bisa gak lu lepasin tangan gue?" ucap Sasori sambil melirik tangan kanannya yang digenggam erat ma Deidara.

"A-ah! Sorry, un!" sergah Deidara sambil melepas genggamannya cepat-cepat.

"Gak papa." ucap Sasori membalikkan badannya dan menyelipkan kedua tangannya ke saku celananya karena mulai merasakan dinginnya malam mulai menusuk kulitnya. "Yaudah, gue mau pulang. Udah malam. Lo juga, pulang sono." lanjut Sasori sambil berjalan ke depan meninggalkan Deidara yang ternganga melihatnya.

"Glek." Deidara menelan ludah. 'Ke-kenapa...'

'Kenapa Sasori jadi keliatan makin keren pas malam-malam gini, un?' batin Deidara melihat Sasori yang emang keliatan makin keren tersiram cahaya bulan purnama. Rambut merahnya tampak berkibar-kibar terkena angin malam yang dingin (oke, efek lebay). Sementara wajahnya tidak keliatan karena si empunya wajah tengah membelakanginya, tapi ia yakin wajah itu akan semakin terlihat tampan ketika tertimpa cahaya bulan—

—tunggu dulu. Apa tadi dia bilang? Sasori keliatan makin keren? Wajah Sasori tampan? Aargh! Mustahil! Dia sendiri bahkan tak pernah memuji wajahnya tampan! Kenapa?

"Woy, banci." Suara Sasori yang memanggil membuat orang yang merasa punya sebutan tersebut pun ngeh dan tersadar dari lamunan nistanya.

"E-eh? Apaan, un?" tanya Deidara gelagapan.

"Buku bokep tadi mana? Biar gue serahin ma si Hidan besok." ucap Sasori sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Eh? Yakin, un?" tanya Deidara tak yakin.

Sasori berdecak. "Ck, udahlah. Cepetan. Atau lu mau ngeberi tuh buku sendiri ma si pemiliknya?" tanya Sasori.

Deidara mengangkat sebelah alisnya. Ngapain ditanya? Udah jelas-jelas jawabannya adalah, "Gak mau, un! Yaudah, nih, bukunya." ucap Deidara sambil menyodorkan buku yang ia bawa dari tadi ke Sasori.

"Hm." Sasori pun menerima buku tersebut dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya. "Yaudah, gue pulang dulu." pamit Sasori pada Deidara yang hanya dijawab kebengongan Deidara. "Ngapain lu bengong? Udah gih, sono. Pulang lu." Sasori yang menyadari hal itu pun ngusir.

Deidara pun nyadar dan ngomong, "T-terserah gue dong, un! Gue mao tidur di sini, itu bukan urusan lo!"

"Hhh, yaudah." kata Sasori sambil berjalan kembali dengan senyum tipis tergambar di wajah tampannya.

.

Sepeninggal Sasori, Deidara menggaruk-garuk kepalanya. "Hhh, gak nyangka. Ternyata Sasori tukang ngambek juga, un." Lalu ikutan berjalan pulang ke rumahnya.

-To be Continued-