Copyright © 2016 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

The Way To Love You

Genre : Drama, Hurt/Comfort

Rate : T+

Pairing : HunHan as Maincast.

Chapter : 3/11

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.

Summary : Luhan tahu jika dia tidak punya hak untuk jatuh cinta, mencintai, dan dicintai. Kala Oh Sehun datang, persepsi itu pun dikesampingkan dan dia menjatuhkan diri padanya. Kiranya, semuanya akan baik-baik saja jika Luhan terus diam menyimpan rahasianya. Berbohong akan menjadi satu dispensasi untuknya; agar dia bisa terus bahagia bersama Oh Sehun.

BGM : 小幸运 by Yoona (Girls' Generation)

Luhan tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan yang ada mengenai hubungan antara Park Chanyeol, Oh Sehun, dan Byun Baekhyun. Ketiganya memiliki nama depan yang berbeda dan kenapa pula mereka kelihatan begitu akrab? Ketakutan dan kekalutan menggerogoti akal sehat, Luhan tidak bisa memejamkan mata barang sejenak walau kekasihnya berbaring tepat di samping tubuhnya.

Chanyeol bukan merupakan tipe orang yang akan menjatuhkannya.

Tapi, bagaimana kalau Chanyeol bilang sesuatu ke Sehun mengenai pekerjaannya di bar?

Luhan menggigit kukunya lagi, menimbulkan bunyi gemelatuk yang akhirnya ditanggapi oleh Sehun. Laki-laki itu merenggangkan otot sebentar sebelum membungkus tubuh Luhan erat-erat dengan sebuah pelukan.

"Tidurlah, sayang."

Luhan memeluk tubuh Sehun yang hangat, memeluknya begitu erat hingga Sehun merasa sesak.

"Hei, ada yang salah?"

Kepala Luhan menggeleng. "Aku mengganggumu, ya? Aku akan tidur di depan televisi saja."

"Hm, hm," kali ini, Sehunlah yang menggeleng sembari menahan Luhan untuk tidak bangkit dan meninggalkan ranjang. "Aku cuman khawatir kalau kau tidak akan dapat waktu tidurmu."

"Aku sama sekali tidak ngantuk," Luhan nyengir. "Aku mau nonton TV."

Sehun tahu kebiasaan Luhan jika dia tidak bisa tidur—pergi ke ruang TV dan menonton siaran malam secara acak hingga tertidur. Itu adalah cara paling ampuh yang mampu membuat Luhan tidur dengan mudah jika mengalami insomnia. Jadi saat Luhan bilang ingin nonton TV karena tidak ngantuk, kali ini Sehun diam.

Siaran TV tersaji tapi Luhan tidak fokus untuk menikmatinya. Pikirannya kembali melayang memikirkan apa saja yang mungkin dilakukan Chanyeol terhadap hubungannya dengan Sehun. Walau pun kekalutannya terkesan tidak berlandas, tapi, Luhan tidak bisa berhenti untuk tidak khawatir.

Saat ponselnya tiba-tiba berdering, Luhan terlunjak.

Chanyeol?

"Halo, pacarnya Sehun~"

Luhan melirik sebentar ke arah kamar Sehun yang tertutup, lalu memutuskan untuk keluar sebentar. Angin malam mencium kulitnya dengan cara abnormal hingga membuatnya menggigil.

"Ada apa menelepon di jam segini, Yeol?"

"Cuman ingin memastikan kalau kau belum tidur karena sibuk memikirkan pertemuan kita di restoran."

"Aku tidak memikirkannya," Luhan pura-pura acuh. "Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan?"

Suara tawa meremehkan dari seberang terdengar. "Heol. Aku bisa saja bilang ke Sehun mengenai profesimu di bar dan kau tidak takut?"

Luhan mencengkeram pinggiran pagar pembatas, tersentak. "Aku tahu kau tidak akan melakukannya. Seperti dulu."

Terdengar suara tawa lepas. "Sehun pasti akan terkejut kalau tahu jika pacarnya itu pelacur."

"Hei!" Nada yang cukup tinggi, menyiratkan kekalutan dan ketidak berdayaannya. "Kau tidak serius akan mengatakan sesuatu tentang pekerjaanku pada Sehun, 'kan?"

"Wah, kau benar-benar jatuh cinta padanya, ya, sampai merasa takut seperti itu?"

"Jangan katakan apa pun tentangku, kumohon," Luhan merendahkan nada suara, nyaris putus asa. "Aku tidak bisa menyakitinya."

"Oh, jadi dia tidak tahu tentang hal itu? Wow. Lagi-lagi kau jadi pembohong yang handal," Chanyeol mengatakannya dengan nada ringan.

"Kau sudah tahu itu," dia menghela napas sambil memberanikan diri. "Apa maumu, Park Chanyeol?"

"Kita bicarakan ini di bar besok. Atau barangkali kau mau aku booking kamar hotel saja? Aku tahu kau suka kamar yang bagus."

"Keparat."

"Hei, aku tidak pantas dipanggil begitu, sialan," Chanyeol protes. "Kita ketemu besok. Nanti aku akan sms alamat dan jamnya. Sampai jumpa besok, cantik."

Telepon ditutup dengan segenap beban baru yang bercokol di dada. Luhan tidak bisa berhenti mengumpat mengutuk sikap berengsek Chanyeol. Setelah dia dapat mengatur ekspresi dan napasnya menjadi lebih tenang, dia masuk ke apartemen. Tubuhnya terlunjak sebab mendapati kekasihnya sedang menonton TV dengan mata mengantuk.

"Sehun, apa yang kau lakukan di sini?"

"Ingin menemanimu," Sehun menguap lebar. Begitu Luhan duduk di sampingnya, dia segera memeluk tubuh Luhan. "Sudah selesai mengangkat telepon? Dari siapa?"

Sehun tahu jika Luhan keluar dari apartemen hanya untuk mengangkat telepon. Mendadak, dia merasa diintimidasi tanpa sebab lewat tatapan mengantuk yang coba dilayangkan Sehun.

"Teman," jawab Luhan.

"Apa yang kalian bicarakan sampai menelepon di jam segini?" Sehun bertanya dengan nada malas. "Apa sebegitu penting sampai kau harus menjawabnya di luar?"

"Yah .., begitulah. Masalah cewek, siapa yang tahu?" Luhan ikut menyandarkan tubuhnya pada Sehun. "Dia cuman cerita mengenai suaminya. Akhir-akhir ini, laki-laki benar-benar keparat."

"Oh, dia sudah menikah?" sahut Sehun—setengah mengantuk.

"Hm. Dan suaminya ketahuan ..," Luhan memutar otak. Apa yang harus dikatakannya? Bibirnya tergigit saat suatu ide terbersit. "Suaminya ketahuan tidur dengan cewek lain."

"Wah, sialan. Laki-laki seperti itu tidak pantas dijadikan suami," Sehun memandangi wajah Luhan dari sudut pandangnya dan tersenyum. "Kupikir, aku pantas untuk dijadikan suami."

"Benarkah?"

Sehun nyengir—jenis senyuman ramah yang didapatkan Luhan saat pertemuan pertama mereka setahun lalu.

"Cobalah memikirkan pernikahan, Lu. Tidak ada salahnya memikirkan hal seperti itu selagi kita pacaran."

Dada Luhan bertalu, kebahagiaan yang ditawarkan Sehun membuatnya merasa amat bersalah. Sehun selalu datang dengan banyak ketulusan pada kedua tangannya dan semua itu diberikan kepada Luhan secara cuma-cuma.

Lalu, bagaimana cara Luhan membalasnya?

"Sehun-ah, apakah kau pernah berpikir untuk menikahiku?"

Kedua mata Sehun yang semula terpejam, kini kembali terbuka. Bola matanya bergerak ke arah wajah cantik kekasihnya yang hanya disinari cahaya TV. "Pernah, kenapa?" tanyanya. "Aku memikirkannya beberapa kali."

"Kenapa .., begitu?"

Sehun nyaris menertawakan jenis pertanyan yang dilontarkan untuknya. Dia bangkit dan menghadap kekasihnya, memberi tatapan yang lebih serius. "Karena aku mencintaimu. Jelas?"

"Benar-benar mencintaiku?"

"Hei, ada apa ini?" Sehun kelihatan tidak terima karena sudah diragukan. "Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu sehingga aku pun mulai berencana untuk melamar dan menikahimu. Tapi, kau malah bertanya seperti itu?"

"Aku bertanya karena aku takut kau hanya .., melakukannya untuk membuatku merasa lebih baik," Luhan meraih pipi tirus Sehun dan membelainya lembut. "Kita baru setahun pacaran dan kau sudah memikirkan pernikahan? Apakah itu tidak apa-apa bagimu?"

"Memangnya, siapa yang melarang?" Sehun mendengus, masih kelihatan sebal. "Kau tidak serius pacaran denganku, ya?"

Luhan memberi satu kecupan singkat di bibir Sehun untuk menenangkan laki-laki itu. Keduanya terdiam setelah bunyi kecupan itu berakhir, saling memandang sebentar.

Helaan napas berat terdengar dari Luhan sebelum dia berucap. "Maaf," ujarnya pelan, menuai kerut dalam pada dahi Sehun. "A-aku punya pengalaman percintaan yang mengerikan. Jadi aku selalu bilang pada diriku sendiri untuk .., tidak terlalu banyak berharap. K-kau tahu, aku tidak mau jatuh lagi setelah putus."

"Apa?" Masih dengan kerut dalam di dahi, Sehun bertanya. "Luhan, kita tidak akan putus."

Luhan memandang manik mata kekasihnya yang penuh akan keyakinan untuk mempertahankan kisah cinta mereka. "Apa aku bisa memercayaimu?"

"Dari awal, seharusnya kau memercayaiku," Sehun merunduk, menyembunyikan kekecewaan yang entah datang dari mana. "Luhan, aku sudah terlanjur jatuh padamu karena aku percaya padamu. Jadi, kau juga harus begitu. Mengerti?"

Ketulusan yang coba diberikan Sehun merupakan hal baru yang selalu diimpi-impikan Luhan sejak dia memutuskan untuk menjual harga dirinya di bar. Kehangatan cinta yang tidak pernah didapatkannya memaksanya untuk memeluk Sehun, mengatakan jika dia sangat mencintai Sehun dan tidak ingin melepasnya apa pun yang terjadi.

Karena rasa bersalah pula, Luhan sempat menitikkan air mata. "Sehun, aku mencintaimu. A-aku sangat mencintaimu."

oOo

Luhan datang ke hotel dengan balutan gaun putih selutut yang dihadiahkan pelanggannya sekitar dua tahun lalu padanya. Chanyeol bilang padanya jika sebuah kamar hotel di Grand City sudah dibooking atas namanya dan dia ingin agar Luhan datang sebelum pukul sembilan. Kiranya, Chanyeol akan datang sedikit terlambat seperti sebelum-sebelumnya, tapi ternyata, laki-laki itu sudah ada di sana saat Luhan menyentak pintu.

Luhan disambut dengan senyuman oleh Chanyeol.

"Apa?" Luhan mendekati Chanyeol yang duduk di sofa besar. "Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Duduk dulu, Lu," Chanyeol mempersilahkan. "Jadi, kau sudah tahu istriku, 'kan? Apa dia kelihatan seperti monster?"

Luhan memutar bola mata dan mendengus. "Berhenti menyebutnya begitu, Yeol. Dia istrimu!"

"Wah, sejak kapan kau peduli akan fakta itu?" Chanyeol menahan tawa. "Kalau dia terus resek, aku akan menceraikannya."

"Kau gila, ya?" Luhan kelihatan akan marah. Dia ingin melontarkan banyak hal tapi urung diucapkan setelah dia memutuskan untuk menarik napas. "Oke. Itu bukan urusanku. Lalu, untuk apa kau memanggilku?"

"Untuk membuat kesepakatan," kata Chanyeol sembari menuang whisky. "Agar aku tutup mulut mengenai pekerjaanmu."

Luhan memicingkan mata. "Apa yang kau inginkan?"

"Cuman tidur denganmu."

Luhan mendeguk, kali ini dia yang nyaris tertawa. "Aku sudah tidak tidur dengan pelangganku."

"Kenapa?" tanya Chanyeol. "Karena kau hanya akan tidur dengan Sehun?"

"Tidak," Luhan menggeram. "Aku sudah lama berhenti untuk tidur dengan pelangganku."

"Kalau begitu, aku sebagai pengecualian saja, bagaimana?"

Yang terjadi selanjutnya adalah kecupan tiba-tiba dari Chanyeol, membungkam bibir Luhan yang terpolesi lipstik merah muda dan merusaknya. Luhan berusaha untuk berontak tapi kedua tangannya sudah dicengkeram erat oleh lengan berotot Chanyeol. Walau pun dia ingin berteriak, dia juga tidak bisa melakukannya sebab bibirnya benar-benar dibungkam dengan ciuman kasar.

Sial!

"Keparat! Chanyeol, berhenti atau kau kubu ..!"

Luhan merinding saat merasakan gigitan kecil di ceruk leher. Chanyeol menghisapnya kuat dan menyebarkan sengatakan aneh dari sana. Bisa dipastikan dia akan pulang dengan membawa cupang berwarna merah keunguan—dan Sehun tidak boleh tahu!

"Berhenti, berengsek!" Luhan menendang perut Chanyeol dan membuat laki-laki itu terjungkal. "Apa yang kau lakukan? Mengkhianati orang yang kau cintai hanya karena dia sedikit berubah jadi lebih cuek setelah kalian menikah?"

"Diam saja, Lu. Kau tahu kalau aku juga akan membayarmu, 'kan?"

"Aku tidak akan diam seperti dulu, Park Chanyeol," kata Luhan penuh nada penekanan. "Aku akan segera berhenti bekerja di bar. Dan setelah itu terjadi, kau sama sekali tidak boleh menghubungiku."

"Wow. Kau benar-benar mau keluar dari bar?" Chanyeol kelihatan takjub, urung menikam Luhan dan malah menarik lepas kancing kemejanya. "Memangnya, kau sudah punya cukup uang untuk menghidupimu? Atau kau berpikir untuk jadi parasit yang terus menerus menempel ke Sehun?"

Luhan bangkit dan meraih tasnya selagi sebelah tangannya yang lain membenahi letak gaunnya yang sedikit berantakan. "Ini adalah pertemuan terakhir kita," ujarnya. "Maafkan aku, tapi aku tidak pernah berharap kita bisa bertemu lagi kalau yang kau inginkan dariku hanya seks."

Luhan sempat menghela napas lega ketika dia mendapati Park Chanyeol hanya duduk diam di ujung sofa. Sebelum laki-laki itu bangun dan kembali menerjangnya, Luhan berlalu ke pintu dan menyentaknya.

Sayangnya, dia punya timing yang buruk.

Saat pintu dibuka, dia mendapati Oh Sehun sedang melewati depan kamarnya dan kelihatan terkejut karena dia akan menabraknya. Mata sipit laki-laki itu membola ketika mendapati kekasihnya keluar dari sebuah kamar hotel, lalu, rekan-rekan kerja Sehun kembali hendak melangkah.

"Sehun, kau tidak ingin pulang?" Yang berjas biru bertanya. "Aku akan langsung pulang. Hasil rapat barusan sudah membuatku setengah sinting."

Sedangkan yang berjas cokelat, sedikit menyadari arti tatapan yang diberikan Sehun mau pun Luhan. "Hei, kau mengenalnya?"

"Wajah wanita itu kelihatan tidak asing," celetuk si jas biru—membuat Luhan merundukkan kepala. "Sepertinya aku pernah bertemu denganmu."

"Kalian pergi dulu," Sehun angkat suara, masih memandangi kekasihnya yang hanya merundukkan kepala kala teman-temannya memutuskan untuk pergi. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Bertemu teman," Luhan bergumam.

"Teman?" Sehun menyipitkan mata. "Ada pesta ulang tahun, huh?"

Apakah itu sebuah alasan bagus? Luhan belum menentukan apakah itu bagus atau tidak, tapi kepalanya buru-buru mengangguk membenarkan. Dia ingin menyeret Sehun dari tempat ini sebelum Chanyeol keluar dari kamar. Itu akan jadi hal paling buruk—atau barangkali akhir dunia bagi Luhan.

Tapi sepertinya, wajah tanpa ekspresi milik Sehun merupakan suatu klu mengenai batas emosi yang sudah dilewati jauh. Laki-laki itu sangat marah sehingga dia mulai melakukan apa pun di benaknya. Dia ingin melangkah memasuki kamar itu dan jelas saja Luhan tidak ingin membiarkannya terjadi.

"Sehun, kita pergi!" Luhan mencengkeram sebelah tangan Sehun erat-erat, menahannya agar tidak masuk ke sana dan menemukan tubuh Chanyeol. Pandangan penuh permohonan sudah dilempar ke wajah Sehun, berharap Sehun akan luluh dan segera pergi dari sini. "Kita pergi, hm?"

"Kita pergi setelah kau jujur padaku."

"T-tentang apa?"

Luhan tersentak saat sebelah tangan Sehun mencengkeram erat ceruk lehernya, membuatnya mendeguk karena sulit mendapatkan udara.

"S-Sehun! Lepaskan!"

"Kau mendapatkannya dari siapa?"

"A-apa maksudmu?"

Sehun menyentak tangannya dan menarik tubuh Luhan dengan mudah, mencapai kamar ekslusif itu dan mengedarkan pandangan. Luhan ikut masuk dengan segenap ketakutan yang mendidih di ubun-ubun. Tidak ada siapa-siapa di sana—cuman ada jas dan tas kerja milik Chanyeol yang tergeletak tak berdaya di kaki sofa.

Samar-samar, mereka mendengar suara air shower dari kamar mandi.

"Sehun, kita pulang dan aku akan menjelaskannya di rumah!" Luhan kembali menahan langkah kaki Sehun kala dia akan menghampiri kamar mandi. "Kita akan membahasnya di rumah!"

"Apa-yang-kau-lakukan-di-sini, Lu-han?"

Tatapan yang kelewat tajam dan mengintimidasi melayang dari binar mata Sehun. Luhan bisa saja meleleh menjadi kubangan air di lantai jika Sehun terus merecokinya dengan jenis tatapan itu. Dadanya sudah dipenuhi rasa sesak yang menyiksa, tapi, dia tahu jika dia tidak bisa lari.

Setidaknya, dia ingin membawa Sehun pergi dari sini.

Maka dari itu Luhan memutuskan untuk mundur dan segera keluar. Bagusnya, Sehun mengikutinya dengan derap langkah cepat. "Hei, kau belum menjelaskan apa pun!"

Di ujung lorong yang sepi, Luhan berbalik. "Aku cuman bertemu teman!"

"Teman seperti apa yang memberimu cupang, Keparat!"

Luhan tersentak—karena cupang yang membuat Sehun marah, atau karena dia dipanggil sebagai Keparat oleh kekasihnya sendiri. Pandanganya tiba-tiba mengabur dan lututnya mulai bergetar karena rasa tertekan. Apa yang dirasakannya sekarang membuatnya bernostalgia ke masa lalu; saat dirinya direndahkan oleh banyak laki-laki yang ingin mencicipi tubuhnya.

Secara naluriah, Luhan menyentuh cupang di pucuk lehernya dan menutupinya menggunakan telapak tangan. "I-ini .."

"Kau tidur dengan cowok lain, huh?"

Kedua mata rusa Luhan membulat. "T-tidak! Itu tidak seperti yang kau pikirkan!"

"Lalu apa?!" Sehun berteriak. "Lalu seperti apa?!"

Sehun berteriak dengan mata melotot tajam, membuat Luhan terus merasa takut dan tidak mampu menggendalikan semua yang terjadi pada tubuhnya. Air mata mengalir dari sudut mata, tapi dia tidak terisak karena terlalu takut. Tubuhnya mundur beberapa langkah, lengan kurusnya memeluk tubuhnya sendiri.

"Maafkan aku."

Seperti baru saja tertampar, Sehun tertegun. "Apa?"

"Maafkan aku, Sehun," Luhan mencicit. Dia menangkup wajahnya dengan telapak tangan kemudian mulai terisak. "Maafkan aku."

TBC

Ini masih chap 3 tapi kenapa kok udah kayak gini, ya. jangan tanya author tentang alurnya yang cepet, soalnya rencananya ff itu cuman short fic, tapi ternyata membengkak jadi berchapter-chapter -_- jadi, cobalah maklum dengan alurnya wkwk

Ada beberapa readers yang tanya, kenapa sih Sehun bisa nggak tahu si Luhan itu masih perawan atau udah enggak? Kok bisa gak tahu padahal mereka udah ngeseks bareng?

Hmm. Kalo menurut persepsi aku sih, ya, cowok metropolitan itu nggak sebegitu mempersalahkan cewek kamu masih perawan atau nggak pas udah pacaran /eh, kok membingungkan/ tahu sendiri kan ya, kehidupan kota metropolitan itu kejam dan free. Kebanyakan temen aku juga udah gitu cuman authornya belum nyoba /sob/ Tapi itu cuman sebagian sih, nggak semuanya juga udah pernah ngeseks sama ex-boy/girlfriend. Nah, di ff ini aku ambil karakter yang punya kehidupan bebas gitu di Seoul, dan baik Sehun mau pun Luhan nggak pernah mempersalahkan masalah kecil seperti itu /slapped/

Got it, guys?

Jangan lupa review, guys. Silent readers, please kalian muncul dong di kolom review /sob/ yang ngefollow ficnya tanpa kasih komentar, kalian yang bikin gue males posting next chapter, guys. You're so so so so mean!