Title: I Dreamed a dream

Author: Nikun

Naruto By Masashi Kishimoto

Warning: Yaoi, OOC, Typo bertebaran, Mpreg (maybe?), bahasa sinetron abis, gaje

Italic - flashback


Entah kenapa hujan pertama di bulan itu justru memilih turun hari ini. Hari yang tak pernah Naruto bayangkan sebelumnya akan ia hadapi. Hari ini adalah hari dimana ia harus menemui seorang bernama Sakura.

Haruno Sakura— ah bukan

Uchiha Sakura.

Naruto mengelengkan kepalanya dan tertawa miris. Ia mentertawakan dirinya sendiri yang dengan polos dan bodohnya percaya begitu saja pada suaminya itu. Suami yang bahkan sudah menikah lagi dengan wanita lain. Suami yang mencampakan dirinya dan anak mereka. Anak yang kini tenggah terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan sangat membutuhkan kehadiran Tou-san nya itu.

Tapi lagi-lagi, anaknya itulah yang membuatnya akhirnya setuju pergi ke tempat ini.

Sekarang disinilah dia, duduk disebuah meja di salah satu cafe yang berada di kota sebelah. Tak pernah ia pikirkan bahwa ternyata selama ini suaminya hanya berada di kota yang tak terlalu jauh dengan kota dimana ia tinggal.

"Aku memang idiot" Bisiknya pada diri sendiri.

Ia mengaduk kopi yang sudah dingin itu. Ia sudah tak peduli sudah berapa lama ia menunggu dan wanita bernama Sakura itu belum juga menampakan dirinya. Tak terlalu keberatan sebenarnya, karena ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus ia katakan pada wanita itu nantinya.

Haruskah ia marah, berteriak, atau mungkin menampar wanita yang tega merebut suaminya itu.

Tapi, pada saat akhirnya wanita itu berdiri dihadapannya. Saat itulah Naruto mengeluarkan kata-kata pertamanya yang meluncur begitu saja.

"Ya tuhan," bisiknya lemas

Wanita itu sedang hamil

Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi. Kini ia benar-benar tak tahu situasi apa yang sedang ia jalani saat ini. Ia sudah berjanji untuk tidak menanggis, lagipula ia tidak sudi menanggis dihadapan wanita itu.

Sakura yang melihat pemuda di hadapannya itu terdiam. Ia perlahan duduk di hadapannya dan memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada pemuda yang kelihatannya bisa meledak kapan saja. Ia memilih diam dan tak berani mengambil resiko.

Naruto menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menahan emosinya yang sedari tadi memaksa keluar. Setelah ia yakin tak akan meledak ke wanita di hadapannya itu, ia akhirnya mengangkat wajahnya dan untuk pertama kalinya benar-benar melihat rupa wanita itu.

Ia cantik

Hell, tentu saja ia cantik. Mana mungkin seorang Sasuke Uchiha mau menikahi wanita yang buruk rupa, ia hafal betul ego pria itu. Hal kedua yang Naruto sadari adalah kemiripan wajah itu dengan seseorang di masa lalu Sasuke. Ingatan itu terasa samar dan Naruto tak tahu apakah dugaannya itu benar atau tidak.

"Baiklah—" Ia menatap mata hijau itu.

"Jelaskan semuanya padaku, "

Sakura mengangguk. Jelas terlihat dari bahasa tubuhnya bahwa ia merasa tak nyaman berada disini. Ia menarik nafas panjang dan membalas tatapan Naruto.

"Aku tahu ini terasa berat —"

"Uzumaki— panggil aku Uzumaki Naruto" Potong Naruto cepat. Ia sudah tak sudi menyandang nama Uchiha sebagai namanya.

"Maaf, "

"Sudah berapa lama?"

Sakura mengangguk paham. Ia mengerti benar maksud dari pertanyaan sederhana itu.

"Delapan bulan"

Naruto mencengkram erat sendok yang ia pegang sehingga ia yakin bahwa sendok itu kini sudah bengkok. Ia tak peduli, yang ia pedulikan saat ini adalah kenyataan bahwa suaminya sudah berselingkuh dengan wanita lain selama delapan bulan dan tentu sudah menidurinya mengingat kondisi wanita itu saat ini.

"Maaf-maafkan aku. Aku tahu semua ini salahku" Sakura perlahan kini menanggis.

"Harusnya aku tahu bahwa aku seharusnya tak memaksanya hiks" Kalimatnya kini terdengar tak jelas karena diselingi oleh isakan. Beruntung bagi mereka karena saat ini cafe itu sedang sepi.

"Apa maksudmu?"

"Semua dimulai delapan bulan lalu"


Sasuke memandang gadis di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Tangannya masih mengenggam hasil alat test kehamilan yang menampilkan dua buah garis yang saling tumpang tindih. Positif.

"Sasuke, kumohon katakan sesuatu" Jerit Sakura frustasi. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari wajah gadis itu.

"Aku harus berkata apa? Ini semua kecelakaan" Pria beriris hitam itu berujar datar akan tetapi garis kekhawatiran terlukis jelas dikeningnya.

"Aku tahu, tapi ini semua juga karena salahmu" pekik Sakura.

Sasuke tiba-tiba berdiri, memaksa gadis itu untuk mundur beberapa langkah karena tindakan tiba-tiba itu. Onxy bertemu Emerland.

"Apa maksudmu?"

"Ka-kau tahukan, tidak mungkin ini terjadi jika kau tidak melakukan itu"

"Tidak, jika kau tidak memaksaku"

'plak'

Sasuke terdiam saat ia merasakan pipinya memerah. Seseorang menamparnya, tidak ada yang pernah berani melakukan itu sebelumnya padanya. Tidak ada.

"Kau tahu kalau kita berdua sama sekali tidak sadar, Kau tahu itu kan Uchiha!" Beruntung kamar hotel itu kedap suara, jika tidak maka semua orang bisa mendengar teriakan Sakura saat ini. Sasuke menatap dingin gadis dihadapannya, ekspresinya hampir tak berubah.

"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya datar

"Tentu saja pertanggung jawaban mu!" Sakura menarik nafas mencoba menenangkan dirinya "Aku ingin kau menjadi ayah yang bertanggung jawab"

Sasuke mengerutkan keningnya lebih dalam "Kau tahu aku tidak bisa menikahimu"

"Baiklah kalau begitu kau harus siap datang kepemakamanku" Sakura segera berbalik badan namun langkahnya ditahan oleh tangan kekar yang memaksanya untuk berbalik badan dan lagi-lagi melihat mata hitam itu lagi.

"Apa maksudmu?"

"Sudah jelaskan, buat apa aku hidup jika begini jadinya. Sadar tidak kalau kau sudah menghancurkan hidupku" Kalimat itu hampir tak terdengar di antara tangisan yang kini bercampur amarah.

"Ayah dan Ibuku pasti akan membuangku, pernahkah kau berfikir apa yang aku tanggung jika mereka tahu aku ini hamil tanpa suami" sambungnya.

"Kita bisa menggugurkannya" Jawab Sasuke enteng.

Mata emerald itu membulat tak percaya dengan kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulut pria itu.

"Brengsek kau!" dan lagi-lagi tamparan melayang ke pipi putih itu.

"Apa-apan kau ini? Bukankah sama saja jika kau bunuh diri"

"Setidaknya aku bisa menemaninya jika aku mati bersama anak ini. Aku bukan manusia sepertimu"

Sasuke terdiam sejenak. Ia tampak berfikir panjang, ia melihat mata gadis itu dalam-dalam. Harus ia akui ia adalah manusia brengsek tapi kini ia sama sekali tidak bisa berfikir jernih. Ia panik, dan frustasi. Setitik rasa bersalah menjalari hatinya dan semakin melebar. Ia tahu ia harus bertanggung jawab tapi ia juga tidak bisa menginggalkan kehidupannya. Tarik menarik terjadi didalam hatinya hingga ia akhirnya memutuskan.

Ditarik lembut tubuh itu dan membalutnya dalam dekapan. Gadis itu menanggis di pelukannya, tapi ia tidak meronta.

"Maafkan aku, aku tak tahu apa yang aku fikirkan saat ini—" di elus pelan helaian pink itu "Aku tahu aku tak seharusnya mengatakan itu padamu, maafkan aku"

Sakura mengangkat kepalanya "Maksudmu?"

"Aku minta maaf, dan izinkan aku memperbaiki kesalahanku. Aku akan menikahimu dan mencoba menjadi ayah untuk anak kita"

Sasuke tahu, jika ada tempat yang lebih buruk dari neraka maka disanalah tempatnya kelak karena ia telah menghianati dua orang yang sangat ia cintai dan membohongi seorang gadis yang hanya meminta ketulusan hatinya.

Maafkan aku Kami-sama


Naruto terdiam.

Pikirannya kacau, ia tak tahu harus berkata apa. Dihadapannya Sakura menunduk dalam, ia memainkan ujung blouse yang ia kenakan. Keheningan menyelimuti mereka untuk bebeapa saat sampai akhirnya Naruto menemukan kata-kata kembali.

"Kenapa kau melakukan itu?" Tanyanya lemah

Sakura hampir menanggis saat itu juga melihat wajah tersakiti Naruto, ia merasa menjadi wanita paling jahat. Ia perebut suami orang, ia tahu itu. Jika saja saat itu ia tahu Sasuke sudah menjalin hubungan pernikahan.

"Kami berdua mabuk saat itu, sumpah aku sama sekali tidak tahu kalau Sasuke sudah bersamamu"

"Dia tidak menceritakan apapun? Bahkan saat kalian menikah?"

Sakura menggeleng pelan. Sasuke tak pernah bercerita apapun tentang kehidupannya yang lampau, yang ia tahu bahwa kedua orang tua sasuke sudah tiada dan mereka harus menikah secara diam-diam karena Sasuke tidak ingin diketahui oleh Kakaknya, Kakak yang menurut ceritanya telah membunuh kedua orang tuanya.

Tentu saat itu ia tidak merasak curiga bahkan ia merasa tersanjung karena dimatanya Sasuke mencoba melindunginya dari sosok pembunuh berdarah dingin. Kini ia merasa bodoh dan dipermainkan bahkan kini ia tak yakin ia bisa mempercayai Sasuke lagi,

"Aku mengetahui kebenaran yang sesungguhnya saat aku melihat handphone Sasuke, semua panggilanmu" Jelasnya lagi.

Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi "dimana dia sekarang?"

"Dia bekerja, biasanya ia kembali saat malam."

Naruto tak habis fikir bisa-bisanya Sasuke membuat kebohongan sempurna seperti ini. Ia bahkan tidak pindah tempat kerja.

"Naruto-san boleh aku bertanya sesuatu? Apa yang akan anda lakukan setelah ini?" Entah kenapa Naruto membaca rasa takut di raut wajah itu.

"Aku punya masalah yang harus kuselesaikan dengannya"

Tangis gadis itu tiba-tiba meledak.

"Kumohon, kau boleh membenciku tapi aku mohon kepadamu jangan rebut Sasuke dariku. Aku butuh dia, anakku butuh dia" Sakura tahu apa yang ia katakan itu gila. Naruto tidak pernah merebut Sasuke, ia lah yang merebut Sasuke dari pemuda itu tapi entah kenapa akalnya memaksanya untuk berfikir sebaliknya.

"Kenapa?"

"Karena aku mencintainya" ujar Sakura pelan

Naruto bangkit berdiri dan berjalan menghampiri kursi Sakura "Kuberi tahu kau sesuatu Sakura" ujarnya dingin.

"Bohong jika aku tidak marah padamu saat ini, tapi ada satu hal yang harus kau tahu. Aku memang pernah mencintai pria namun setelah apa yang terjadi kini aku sadar jika aku tidak mungkin terus mencintainya. Aku akan menemuinya dan menyelesaikan urusanku dengannya, setelah itu—"

Naruto menatap lekat mata gadis itu mencoba menyalurkan emosinya melewati kontak mata dan sukses membuat Sakura diam terpaku.

"Setelah itu aku akan membiarkanmu memilikinya, semoga kau bahagia dengannya"

Dan dengan kalimat itu Naruto pergi meninggalkan Sakura yang terpaku.


A/N:

Astaga, apa yang Nikun tulis sih?

Maaf updatenya rada lama, tugas lagi menumpuk tapi Nikun berusaha untuk tetap update.

Review dan Saran sangat membantu Nikun mengembangkan cerita \(^_^)/