Halilintar manusia yang dianggap Yaya perusuh dan dingin ternyata memiliki sisi yang rapuh, dan seorang Halilintar dapat memikat hati Yaya dengan hanya memperlihatkan sisi tersebut.

.

.

.

Warning: OC, typo, OOC

Genre: friendship and romance

.

.

BOBOIBOY PUNYA MONSTA TITIK

.

.

ENJOY!

"Hoaam…" suara khas seseorang bangun tidur terdengar di sebuah ruangan bernuansa pink atau lebih tepatnya sebuah kamar seorang gadis yang diketahui bernama Yaya.

"Euh… silau jam berapa ini?" ucapnya setengah sadar lalu melirik jam tangan yang setia berada di lengan sang gadis

"Um… ini jam enam lewat lima belas menit" ucap Yaya sambil menguap kembali, tunggu…

"HUWWWAAA… AKU TELAT!" teriak Yaya heboh lalu dengan cepat menyambar handuknya dan bergegas mandi.

Hanya dibutuhkan beberapa menit untuk Yaya menyelesaikan mandinya yang super ngebut dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

"Selamat pagi ibu, ayah" ucap Yaya sopan walau masih terkesan tergesa-gesa.

"Pagi Yaya" ucap mereka.

"Kok… kamu telat bangun biasanya paling cepat bangunnya" ucap ibu penuh tanya kepada putri satu-satunya itu.

'Apa perlu ku beri tau ibu? tapi sebaiknya tidak takut ibu malah khawatir lagi'

"Loh… kamu kok jadi bengong sih" ibu menegur Yaya.

"Eh… aku nga apa-apa kok bu" Yaya langsung tersadar dari lamunannya.

"Yasudah ayo cepat bersiap nanti kamu telat loh… dua puluh menit lagi bel masuk berbunyi" ucap ayah yang langsung membuat Yaya ingat kalau ia sedang terlambat.

"OH… IYA… AKU KAN… SEDANG TERLAMBAT!" Yaya kembali berteriak heboh lalu ia pun memakai sepatunya.

"Yaya tunggu nak…" ucap ayah.

"Maaf ayah aku buru-buru nanti aja sarapanya di sekolah. Aku pamit" ucap Yaya berpamitan kepada kedua orang tuanya tanpa tau maksud ayah memanggil dirinya.

"Siapa yang mengajaknya sarapan, aku kan ingin menawarkan untuk berangkat bersama menggunakan mobil agar lebih cepat sampai" ucap ayah Yaya bingung dengan sifat anak perempuannya itu.

"Sudahlah, ayah berangkat ya… nanti malah ikut telat lagi kayak Yaya" ucap ibu Yaya lembut.

"Hm… aku berangkat" ucap ayah sambil mengecup kening istrinya.

~LOVE~

Yaya POV

Lari… lari… lari… itulah satu-satunya yang ada dibenak ku saat ini. Aku tak pernah membayangkan aku akan telat hari ini, tapi ini salah aku juga karna kemarin pagi menghancurkan jam weker. Yap… aku mengahncurkan jam weker dengan membantingnya ke lantai habis berisik sih, tapi bukan itu saja aku juga merasakan hal aneh menyelinap ke hati ku… seperti rasa khawatir yang berlebihan.

Aku terus berlari tanpa memperdulikan nafasku yang sudah ngos-ngosan, hanya satu tujuanku sekarang yaitu sekolah. Waktu bel berbunyi tinggal lima menit lagi, aku percepat langkah ku saat aku dapat melihat pintu gerbang sekolah ku, tapi…

DEG... DEG… DEG…

…rasa khawatir itu kembali, sesaat sebelum aku menyadari bahwa ada batu didepanku dan ya… alhasil aku terjatuh.

"HUWWAAA…" pekik ku saat gravitasi menarik ku kebawah.

"Yaya kau tidak apa-apa" ucap suara yang sangat familier di telinga ku.

"Eh…Nanda, Iya aku tidak apa-apa" ucapku sembari mencoba berdiri dan menepuk-nepuk rok yang sedikit kotor walaupun tak membawa perubahan yang berarti pada rok ku.

"Kenapa kamu disini Nan? Belum masuk kelas?" Tanya ku masih dengan aktifitas yang sama yaitu merapikan seragamku.

"Ya aku disini karena terlambat, dan pasti aku belum masuk kelas lah!" Nanda menjawab pertanyaan ambigu ku.

"Oh…" ucap ku tak bersemangat.

"Kau ini kenapa?" tanya Nanda yang sepertinya melihat keanehan diriku yang tiba-tiba menjadi pendiam.

"Ah… aku tidak apa-apa ayo cepat masuk kelas sebentar lagi bel" ucapku mencairkan suasana dan agar Nanda tidak mencurigai ku lebih lanjut.

"Ok lah" Nanda berucap tenang.

Normal POV

Yaya dan Nanda berhasil memasuki sekolah tepat pada waktunya. Mereka berjalan beriringan di koridor sekolah menuju kelas tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut kedua gadis berhijab ini. Mereka pun sampai di depan kelas, tapi anehnya tidak ada suara riuh seperti biasa. Didorong rasa ingin tahu yang kuat mereka pun bergegas memasuki kelas.

'Apa sudah ada guru ya?' batin Yaya.

'Apa ada masalah di kelas ya?' batin Nanda.

Kedua gadis itu pun memasuki kelas yang sontak membuat para penghuni kelas menghentikan aktivitasnya yaitu berkerumun seperti mengosipkan sesuatu.

"He… aku kira apa ternyata…" kata Yaya yang dibuat mengantung.

"MEREKA MENGOSIP" kata Yaya dan Nanda bersama dengan sura yang mengelegar.

"Shhtt… kalian berisik tau" ucap Fang penuh penekanan.

"Kalian sedang apa sih" bingung Yaya.

"Tidak-tidak ada apa-apa" ucap Fang mewakili teman-temannya.

"Hah… terserah kalian" ucap Yaya lalu menaruh tas nya dibangku.

Bel pelajaran pertama sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, tetapi guru yang mengajar belum juga muncul. Kesempatan ini adalah kesempatan emas bagi para murid laki-laki untu melakukan aksi aneh-aneh mereka. Ada yang menyanyi-nyanyi gaje, menjahili anak perempuan, dan ada juga yang bersikap normal seperti Fang maklumlah ia seorang ketua kelas.

"Huh… kak Kaizo kemana ya kok belum datang" ucap Ying sambil mengerjakan contoh-contoh soal matematika.

"Entah, ini kan sudah hampir lima menit" bagi Yaya guru harus selalu on time 'murid saja datang harus tepat waktu harusnya guru juga donk' itu lah pemikiran Yaya #padahal tadi aja hampir telat

"Sudah lah Yaya baru juga lima menit" Syifa mencoba menenangkan Yaya.

"Benar itu Yaya mending kita mencoba menyelesaikan soal ini" Nanda menunjuk satu soal yang menurutnya cukup sulit.

Memang biasanya bila guru tidak ada mereka berempat akan mengerjakan soal-soal atau latihan-latihan yang mennurut mereka cukup sulit dikerjakan sendirian.

"Oh... iya Syifa tadi pas aku sama Nanda masuk kelas lagi pada ngomongin apa sih sampe berkerumun gitu" ucapku sambil menulis beberapa rumus.

"Hm… tadi ada ap… ADUH INI SALAH CARANYA!" belum menyelesaikan kalimatnya Nanda malah berteriak tidak jelas.

"Pfft… Nanda nga jelas nih" ucap Ying sambil menahan tawa karna melihat wajah Nanda yang kebingungan mencari jawaban.

"Oh, tadi Fang ngomongin anak kelas 7.8 katanya ada yang ketabrak mobil" ucap Syifa santai tanpa melihat Yaya yang mulai terlihat gelisah.

'Heh… apa firasat ku benar ya, karena dari kemarin aku merasakan firasat buruk' batin Yaya cemas.

DEG… DEG… DEG…

'Rasa khawatir ini kembali lagi'

"Aku mau bertanya emang siapa yang ketabrak" ucap Yaya dengan nada sedikit bergetar dan ia mencoba bertanya senormal mungkin.

"Boboiboy Halilintar" ucap Ying ikut menimpali.

"OH… maksudmu Halilintar yang memiliki nilai paling tinggi seangkatan, tapi kadang-kadang jadi tukang bolos, dan juga kekasih hati Yaya" ucap Syifa tanpa melihat situasi Yaya yang mulai pucat pasi.

"Hahaha benar itu" ketiga sahabat Yaya tertawa terbahak-bahak.

'Tunggu maksudnya Halilintar, orang yang ingin mengajakku berkenalan, tapi aku malah lari tanpa sebab. Bahkan aku belum meminta maaf' batin Yaya histeris

"Yaya kau tidak apa-apa" sahabat-sahabat Yaya terlihat cemas

Dengan cepat Yaya berdiri dan berkata "Aku tidak apa-apa, dan oh ya Syifa sekarang keadaan Halilintar gimana"

"Eh…oh…" Syifa terbata-bata sepertinya karna efek Yaya yang berkata tiba-tiba.

"Dia sedang di rumah sakit, spertinya ia terluka aku tau itu karena kemarin aku yang menyelamatkannya" ucap Fang yang kumat sifat sombongnya.

Setelah Fang berkata seperti itu Yaya terlihat terburu-buru memakai jaket yang biasanya ia simpan di dalam tas, lalu ia mengambil sesuatu di dalam tasnya dan memasukannya ke dalam saku jaketnya sepertinya itu handphonenya.

"Yaya kau mau kemana?" tanya Ying yang melihat sahabatnya seperti ingin pergi ke suatu tempat.

"Fang di rumah sakit mana Halilintar di rawat" ucap Yaya tanpa memperdulikan pertanyaan Ying.

"Rumah sakit pusat kota, kau tau kan yang peralat medisnya terlengkap itu" ucap Fang yang masih terlihat bingung.

"Ok, dan Ying kalau ada guru bilang aku izin menjenguk teman di rumah sakit tasku juga ku taruh disini mungkin saat istirahat aku kembali lagian juga rumah sakitnya tidak begitu jauh" Yaya mengakhiri perkataanya dan bergegas keluar kelas.

"Itu anak kenapa sih, lagian cuma Halilintar ketabrak mobil terus sangkut pautnya sama dia apa coba" Fang berkata tanpa melihat ketiga sahabat Yaya yang mulai tersenyum ayan.

"Fang kamu ini bodoh ya" ucap Ying sambil menjitak kepala Fang yang tak berdosa.

"Sakit tau Ying" Fang mengelus kepalanya yang sakit.

"Jelas-jelas Yaya itu khawatir mereka kan…" ucap Nanda memperjelas sambil memperlihatkan senyum liciknya.

"Fufufu… benar itu kita lihat kelanjutanya" Fang mulai connect dan ikut tersenyum licik.

Di saat teman-teman Yaya tersenyum dan tertawa penuh arti, Yaya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan perasaan yang tak tentram.

~LOVE~

"Hah… hah… hah… lelahnya" ucap Yaya saat ia sudah sampai di halte bus

Yaya pun menunggu bus yang akan ia naiki. Beberapa menit menunggu, bus yang Yaya maksud pun sampai. Yaya pun langsung memasuki bus tersebut dan duduk di baris paling depan dekat dengan pintu masuk.

'Tunggu kalau dipikir-pikir lagi ini sangat konyol ya, padahal aku hanya ingin meminta maaf. kalau meminta maaf kan bisa saat pulang sekolah nanti, tapi aneh juga kalau aku sampai sekhawatir ini' batin Yaya berkecambuk.

Yaya pun menutup mukanya dengan kedua telapak tangan mencoba menghilangkan rasa khawatir yang terus mengerogoti hatinya.

'Mungkin aku bukan hanya ingin meminta maaf, tapi mungkin aku memang benar-benar mengkhawatirkannya, tapi… AKKHH… PEMUDA ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN PEMIKIRAN KU' batin Yaya frustrasi.

Yaya terus bergelut dengan pemikirannya yang sudah melayang-layang sampai ia tak sadar kalau ia sudah sampai di tempat yang ia tuju yaitu rumah sakit. Untung Yaya sadar pada saat yang tepat, sangat tepat sebelum pintu bus tertutup.

"Eh… aku sudah sampai, TUNGGU PAK AKU TURUN DISINI!" ucap Yaya buru-buru sebelum bus melaju.

"Aduh dek, kamu harusnya lebih hati-hati kan busnya jadi terlambat" ucap sang sopir.

'Emang sampai telat gitu, kayaknya Cuma beberapa detik deh… lagi pintunya aja belum ke tutup sempurna' batin Yaya kesal.

"Ah iya pak maaf" Yaya berusaha tersenyum.

Yaya pun keluar dari bus denga perasaan kesal yang selangit, tapi ia cepat-cepat menghilangkan rasa kesalnya Karen waktunya terbatas ia harus cepat-cepat pergi. Yaya pun berjalan tergesa-gesa menuju rumah sakit yang berjarak sekita 1 km dari halte tadi.

Sesampainya di rumah sakit Yaya langsung pergi ke meja resepsionis tanpa memperdulikan kakinya yang meminta diistirahatkan.

"Hah… hah… hah… maaf mbak… hah… kamar pasien… hah…" Yaya menoba berkata dengan nafas yang tersengal.

"Coba adek netralin dulu nafasnya kayaknya adek abis lari marathon ya… hahaha" melihat Yaya seperti orang yang sangat panik sang resepsionis mencoba mencairkan suasana agar Yaya sedikit lebih tenang.

"Huft… maaf mbak aku mau tanya kamar pasien yang bernama Halilintar dimana ya?" Yaya menghembuskan nafas agar lebih tenang lalu menanyakan kamar Halilintar tanpa merespon candaan sang resepsionis.

"Nah gitu donk dek jadi adek kan bisa ngomong, coba kayak tadi nga bisa kan… jadi adek harus lebih tenang ya…" sang resepsionis memberi saran sambil mencek daftar nama pasien.

'ini resepsionis baik banget ya…' batin Yaya.

"Kamar Boboiboy Halilintar di ruang VIP dekat dengan labolatorium disamping kamar nomor 126" ucap sang resepsionis.

"Um tepatnya di mana ya?" ucap Yaya malu-malu karena ia tidak begitu mengenal rumah sakit ini.

"Di lantai dua, kalau adek naik lift persis di sampingnya ada labolatorium nah kalo adek udah di depan labolatorium adek belok kanan nah dari situ adek bisa tau kamarnya yang mana, soalnya nga jauh dari situ kok…" uacp resepsionis panjang kali lebar yang membuat Yaya makin bingung dan menguras kesabaran Yaya yang sudah diambang batas.

"Oh gitu ya makasih ya mbak" uacp Yaya sambil tersenyum, tapi berbeda dengan hatinya yang jengkel dan marah.

"Eh dek tunggu!" belum sempat Yaya melangkah sang resepsionis menahanya.

'ini resepsionis maunya apa sih' batin Yaya makin kesal.

"Adek siapanya Halilintar" ucap resepsionis dengan nada mengoda.

"Bukan siapa-siapa, maaf saya permisi" Yaya berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan sang resepsionis.

'Aku tarik kata-kata ku tadi. Dia itu nyebelin, udah ngasih tau tempat nga jelas terus ngegoda lagi. AKHHH HARI INI BENAR-BENAR SIAL!' batin Yaya kesal tahap akhir.

'Akhirnya kau mendapat pengunjung selain Taufan, Halilintar' batin sang resepsionis sambil tersenyum tipis.

TING…

Suara lift terbuka dan menampakan seorang gadis berhijab yang terlihat kesal tapi juga terlihat cemas. Gadis yang bernama Yaya itu berjalan dengan taraf cukup cepat lalu berbelok ke kanan saat melihat ruangan yang bertuliskan laboratorium.

"Huh dimana sih tempatnya" ucap Yaya sambil melihat sekeliling agar dapat menemukan ruangan yang dimaksud.

"Ok waktunya cukup masih tersisa satu jam pelajaran lagi" Yaya melihat arlojinya yang menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit.

"124, 125, 126… RUANG VIP" Yaya membaca nomor-nomor yang tertera di depan pintu masuk kamar inap.

'YES… INI DIA RUANGANNYA' batin Yaya terlonjak senang, tapi ia tau tempat jadi ia tidak berteriak.

Saat Yaya ingin mengetuk pintu ia merasa gugup dan merasakan hal yang aneh.

'Aku pasti bisa' batin Yaya menyemangati

~LOVE~

Di tempat Halilintar

Seorang pemuda berparas tampan tergeletak tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan infus setia berada di tangan kirinya. Mata yang tadi terpejam mulai terbuka memperlihatkan manik ruby yang mempesona. Pemuda yang berada di ranjang tersebut mencoba mendudukan dirinya dan memperhatikan sekelilingnya.

"Ruangan dengan bau obat-obatan, cat ruangan yang berwarna putih, infus…" gumaman terdengar jelas dari mulut pemuda tadi, sebut saja namanya Halilintar.

"Huft… aku di rumah sakit" ucapnya disertai helaan nafas

'Aku benci tempat ini' lanjutnya di dalam hati

Halilintar seperti orang tidak punya semangat hidup, terlihat jelas dari sorot matanya yang meredup. Ruang VIP dengan fasilitas lengkap seperti televisi, ruangan dengan wifi, dan makanan yang tersaji di atas meja tidak mebuatnya bergairah, bahkan makanannya pun tidak disentuhnya. Yang ia perlukan saat ini ialah keluarga dan teman bukan fasilitas hiburan.

Ruangan yang ditempati Halilintar cukup sunyi, tidak terdengar suara apa pun kecuali suara jam, karena diruangan ini hanya ada Halilintar seorang.

"Jam sembilan, Taufan pasti masih sekolah tidak mungkin aku ajak ke sini" gumam Halilintar terlihat kecewa saat melihat jam dinding yang menunjukan pukul sembilan pagi.

"Kapan seseorang akan menjengukku atau merawatku barangkali tanap perlu diminta? Hahahaha mungkin jawabanya tidak akan pernah. Lagipula semuanya sudah meninggalkanku" ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya.

'Aku kesepian' lanjutnya dengan nada sedih.

TOK… TOK… TOK…

'Eh, mungkinkah…' Halilintar mulai mengangkat wajahnya.

'… aku tidak boleh terlalu berharap palingan juga cuma perawat yang mau ngecek keadaan pasien'

"Masuk" ucap Halilintar mempersilahkan orang yang diluar untuk masuk.

Kriet…

Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis manis behijab pink…

"Kau…" Halilinatr terbelak saat melihat seseorang dibalik pintu itu adalah…

"Hai" ucap Yaya memperlihatkan senyumnya.

… gadis yang waktu itu.

Sementara di sekolah…

"Hai Fang kau tau tidak sih kakak mu kemana" ucap Ying to the point.

Ternyata guru yang akan mengajar kelas 7.7 alias kak Kaizo belum datang juga yang membuat sebagian murid bingung dan sebagian murid lagi bahagia karena guru yang termasuk killer itu belum datang.

"Entah" ucap Fang acuh tak acuh.

"Hei aku serius" ucap Ying sedikit menaikan suara.

"Ih aku nga tau kakak ku kemana" ucap Fang ikut-ikutan meninggikan suara.

Ying menatap tajam Fang dan juga sebaliknya Fang menatap tajam Ying, mereka seperti singa yang akan menerkam mangsanya. Di saat yang tepat Syifa dan Nanda datang untuk melerai mereka sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Sudahlah Fang, Ying kalian ini seperti anak-anak saja" Syifa mencoba melerai.

Mendengar kata-kata Syifa mereka hanya memalingkan wajah masing-masing tanpa merasa bersalah.

'Huh… mereka ini' batin Syifa.

"Lagian Fang, orang aku nanya baik-baik dia malah mengacuhkan ku" ucap Ying sambil mengembungkan pipinya untuk membuat kesan imut.

"Hei aku merespon mu tau…" ucap Fang tidak terima.

"SUDAH BERHENTI !" ucap Nanda kesal karena mereka malah kembali adu mulut.

Karena mendengar teriakan Nanda mereka pun mengehtikan aktivitasnya yaitu adu mulut. Fang bungkam begitu juga Ying, sepertinya mereka merasa bersalah pasalnya Nanda jarang berteriak, ia seperti Yaya lemah lembut dan bertutur kata yang sopan.

"Maaf" ucap mereka berbarengan dan hanya direspon 'Iya' oleh Nanda.

Canggung adalah kata yang dapat mendeskripsikan mereka saat ini. Nanda sibuk dengan buku, Fang sibuk adu tatapan dengan Ying, dan Syifa sibuk memperhatikan mereka.

'Sepertinya aku diabaikan' batin Syifa sedih.

Jengah dengan keadaan canggung Syifa angkat bicara.

"Kakak mu hebat Fang, dia dapat menjadi seorang guru di usia muda" ucap Syifa dengan pose berpikir.

Merasa namanya disebut lantas Fang berbicara "Hm… betul itu, kakaknya hebat pasti adiknya juga" ucapnya melebih-lebihkan.

'Dasar' batin Syifa, Nanda, dan Ying.

"Eh, tapi apa dia tidak kuliah?" ucap Ying penuh tanda tanya.

"Dia kuliah malah dia sibuk banget, bahkan sekarang saja dia ada tes terus minta izin nga bisa ngajar" ucapnya blak-blakan.

"APA!" ucap ketiga temannya bersamaan.

"Memang kenapa?" ucap Fang sambil mengaruk pipinya yang tidak gatal.

"Dasar ketua kelas kurang kerjaan" aura gelap mulai muncul disekeliling Nanda.

"Ketua kelas nga bertanggung jawab" ucap Syifa menekan kata 'bertanggung jawab'.

"Dasar landak bodoh, kalau kau tahu kak Kaizo nga bisa ngajar ya panggil guru pengganti" ucap Ying mewakili kedua temannya.

"Erkkk… aku lupa" ucap Fang sambil berdoa agar ia selamat dari amukan ketga gadis di depannya ini.

"Fang…" Ying, Nanda, dan Syifa mulai mendekat dengan tatapan horor mereka.

"Aku pegi dulu, aku ingin panggil guru pengganti" Fang mengambil langkah seribu sebelum ia habis babak belur.

"Awas kau Fang" ucap merka dengan tatapan horor dan aura yang menyeramkan, bahkan murid yang lain pun tidak ingin mendekati mereka.

'Fang lucu kalau dalam keadaan panik' lanjut Ying di dalam hati.

~LOVE~

Kembali ke tempa Halilintar

"Hai" ucap Yaya memperlihatkan senyumnya.

'Dia gadis yang waktu itu' batin Halilintar tidak percaya apa yang ia lihat kali ini.

Halilintar masih terpaku dengan pemandangan yang ia lihat. Yaya mendekati Halilintar lalu menepuk punggung pemuda itu.

"Kau kenapa?" tanya Yaya kepada Halilintar yang sejak tadi memandanginya.

Suara Yaya yang lembut menyadarkan Halilintar dari lamunan, Halilintar pun kembali ke mode awal yaitu cuek plus dingin.

"Sedang apa kau disini" tanya Halilintar dingin padahal di dalam hatinya berbeda.

'Haduh kenapa sih dia kesini buat hatiku tidak tenang saja' seperti itulah di dalam hati Halilintar.

"Yah kau pasti tau jawabnya lah"

'Dia adalah orang pertama yang menjengukku, padahal sebelum aku kenal dia tidak ada satu pun orang yang akan mejengukku kecuali Taufan. Apa dia benar-benar datang kesini dengan tulus atau ada niatan lain' batin Halilintar getir.

"Tapi bukannya ini waktu pembelajaran, ya maksudku seharusnya kau masih ada di sekolah" ucap Halilintar mati-matian menahan rasa senang dan juga rasa curiganya singkat kata jaga image.

"Yah.. itu… bagaimana ya aku harus bilangnya" ucap Yaya malu-malu.

"Hm…" Halilintar memajukan wajahnya untuk melihat keanehan pada mata Yaya.

"Menjauh, jarak… jarak…" wajah Yaya bersemu merah.

"Eh maaf" Halilintar buru-buru menjauhi wajah Yaya dan wajahnya pun mulai memerah.

"Huft… jadi seperti ini, dari semalam perasanku bawaannya cemas mulu nah pas tadi pagi seisi kelas pada ngebicarain sesuatu dan itu ternyata kau yang kecelakaan. Aku terus mendengarkan cerita Fang yang notabenenya penyelamat kau lalu tanpa ba.. bi.. bu aku langsung kesini tanpa pikir panjang" Yaya bercerita panjang lebar dengan malu-malu karena ia sendiri bingung kenapa ia menjenguk Halilintar dan malah menelantarkan pelajaran.

'Dasar landak ungu kalau aku sudah keluar dari rumah sakit habis kau' ingatkan Halilintar untuk menghabisi Fang saat keluar dari rumah sakit.

"Oh seperti itu" ucap Halilintar disertai senyum tipis.

"Sepertinya ada yang aneh dengan dirimu" ucap Yaya sambil memperhatikan Halilintar dari atas sampai bawah.

"Memang apa" Halilintar lagi-lagi dibuat blushing oleh Yaya.

"Tik… Ah iya kau tidak memakai topi dan ternyata lukamu banyak juga" seperti biasa Yaya akan mejentikan jarinya ketika menemukan kejanggalan pada seseorang.

Mendengar penuturan Yaya lantas Halilintar langsung meraba bagian kepalanya dan benar saja ia tidak memakai topi kesayangannya.

"Hihihihi kau lucu bila tidak memakai topi dan kau memiliki sedikit rambut putih" Yaya terkikik geli sambil menunjuk rambut putih Halilintar.

"Diamlah dan jangan beri tau siapapun tentang ini" ucap Halilintar dengan memalingkan wajahnya karena malu.

"Siap bos… hihihihi" Yaya menirukan pose hormat ala polisi.

'Kau baik dan lucu Yaya' bagi Halilintar mungkin dipertemukan dengan Yaya adalah anugrah.

"Eh, tapi bagaimana kau bisa disini, maksudku bagaimana kau bisa kecelakaan, dan bagaimana Fang jadi penyelamatmu" Yaya mulai bertanya #banyak tanya juga Yaya.

'Fang bukan penyelamatku' Halilintar dibuat kesal oleh Fang.

"Hm… aku kurang ingat" Halilintar Nampak bingung.

"Tapi mungkin…" Halilintar mulai bercerita.

Flashback

Taufan terus berpikir kemungkinan apa yang dapat membuat Halilintar seperti ini. Taufan terus seperti itu sampai ia sadar saat menabrak tiang listrik.

"Aduh…" ringis Taufan sambil mengusap-usap dahinya.

"Hali kau jahat…bukanya bilang kalau ada tiang listrik" ucap Taufan sambil menoleh kesamping berharap menemukan Halilintar, tapi nihil ia tidak menemukan pemuda itu.

Taufan merutuki kebodohannya. Sudah tau Halilintar membutuhkan dirinya, tapi ia malah lalai. Taufan terus mencari Halilintar sampai ia melihat pemuda tersebut sedang menyebrang jalan saat lampu lalu lintas masih berwarna hijau.

"HALILINTAR…" pekik Taufan kaget bercampur takut.

Taufan berlari untuk mengejar halilintar tapi…

TIN…TIN…TIN…

"Eh…tunggu itu suara klakson mobil, tunggu aku dimana" Halilintar memandang sekitar, lalu ia sadar bahwa ia dalam bahaya

"HALILINTAR…" suara Taufan memasuki telinga Halilintar.

"Eh…" mata Halilintar mebulat sempurna saat melihat mobil melaju ke arahnya.

CCCKKKIIITTT…..

Suara rem terdengar nyaring di telinga Halilintar. Bagi Halilintar suara rem adalah suara kematian yang sebentar lagi akan menjemputnya. Halilintar terus terpaku melihat mobil yang semakin mendekat, kakinya kaku seperti sudah merekat sempurna di aspal.

'Apa aku akan mati' batin Halilintar pesimis seraya menutup mata pasrah akan keadaan.

BRAK…

Suara mobil menabrak sesuatu.

'Apakah aku terlabat' batin Taufan lalu terduduk lemas.

'Tidak… itu tidak mungkin Halilintar yang tertabrak, suara benturan itu terlalu keras untuk ukuran manusia' Taufan pun mencoba berdiri dan berlari ke asal suara.

Benar dugaan Taufan mobil tadi tidak menabrak halilintar melainkan sebuah pembatas jalan.

"Permisi… permisi" Taufan menerobos memasuki kerumunan manusia yang sedang meperhatikan sesuatu tanpa berbuat apapun.

"Hei Halilintar, kau dengar aku" ucap seseorang yang suaranya sangat familier di telinga Taufan.

"HALILINTAR…" Taufan mendekati Halilintar yang sedang terduduk lemas.

Seseorang yang telah menyelamatkan Halilintar menoleh kearah Taufan, dan seseorang itu adalah Fang.

"Fang… syukurlah" ucap Taufan sambil mendekati Fang dan Halilintar.

"Bagaiman ia bisa dalam keadaan berbahaya seperti tadi" ucap Fang yang sepertinya sedang menahan emosi.

"Aku pun tidak tau sepertinya Halilintar melamun" ucap Taufan yang tak henti-hentinya mengucapkan syukur di dalam hati.

"Hey… Halilintar apa kau tidak apa-apa" Fang kembali mengalihkan perhatianya kepada Halilintar yang masih terduduk lemas dengan nafas yang belum teratur.

"Aku…" Halilintar mencoba mengatakan sesuatu, tapi…

Bruk…

… belum sempat Halilintar menyelesaikan kalimatnya ia sudah terjatuh lemas alias pingsan di tempat.

"Eh… Halilintar kau kenapa" Taufan telihat panik saat Halilintar pingsan.

"Tenang, sepertinya ia hanya terkena serangan panik" ucap Fang dengan diakhiri helaan nafas.

"Oh iya Fang, kau sudah menelpon ambulance" tanya Taufan sambil memperhatikan sahabatnya yang tengah pingsan.

'Lukanya banyak juga' batin Taufan sedih.

"Hm… sudah, sebentar lagi pasti datang"

Benar saja setelah Fang mengatakan itu ambulance benar-benar datang, mereka membawa Halilintar dan juga sang pengemudi mobil menuju rumah sakit yang sekarang ditempati Halilintar. Beberapa saat setelah itu polisi pun datang dan mengamankan tempat kejadian perkara.

Setelah ambulance membawa Halilintar menuju rumah sakit, Taufan dan Fang pun pulang bersama karena rumah mereka searah.

"Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tepat waktu saat menyelamatkan Halilintar" tanya Taufan

"Tepat waktu dari mana, malahan aku itu telat buktinya saja di sekujur tubuh Halilintar terdapat banyak luka" bentak Fang

"Heh… aku kan hanya tanya" Taufan terlihat jengkel dengan perangai Fang.

"Iya… iya… sebenarnya tadi itu aku harusnya ekskul basket, tapi nga jadi terus aku pulang lalu saat aku mau meyebrang jalan aku melihat Halilintar…" ucap Fang dengan gaya sok-sokan dan sengaja mengantungkan ceritanya.

"Lalu…" Taufan berkata dengan malas karena sifat sok-sokan Fang kumat.

"... seperti yang kau tau manusia itu memiliki dua tipe, yang pertama adalah mereka akan menyaksikan peristiwa kecelakaan itu dan berdoa agar sang korban selamat dan yang kedua adalah aku, yaitu mereka yang akan menyelamatkan sang korban walaupun nyawa taruhannya" Fang mulai bergaya sombong dan bercerita dengan ceritanya yang ngawur.

"Hei Fang aku bertanya serius" ucap Taufan sambil mengetuk kepala temanya agar otaknya kembali benar #cara macam apa itu.

"Sakit tau..." Fang berkata sambil mengelus kepalanya yang sakit.

"Lanjutkan ceritanya" Taufan memperlihatkan sisi galaknya.

"Euh… iya bawel, jadi saat aku melihat Halilintar aku juga sadar bahwa ia dalam bahaya. Melihat keadaan temanku yang diambang maut mau tidak mau aku langsung menyelamtkanya. Tepat sepersekian detik sebelum mobil tersebut menabraknya aku sempat menariknya menjauh, walaupun kau tau hasilnya apa… ia tetap mendapat luka cukup serius" ucap Fang dengan volume suara yang semakin kecil, sepertinya ia menyesali keterlambatan dirinya saat menyelamatkan Halilintar.

"Hei… Fang kau tidak gagal" ucap Taufan dengan menampilkan senyum yang biasa terpapmpang diwajahnya.

"Eh…" Fang kaget melihaat reaksi Taufan.

"Terima kasih telah menyelamykan sahabatku" ucap Taufan tulus.

"Hei… dia juga sahabatku tau" melihat Taufan tersenyum membuat Fang juga ikut tersenyum.

End Flashback

"… Mungkin seperti itu ceritanya" Halilintar menyelesaikan ceritanya dan hanya ditanggapi 'oh' oleh Yaya.

'Hanya oh tanggapannya' batin Halilintar sedih karena reaksi yang ingin ia lihat bukan ini.

"Maaf" kata tersebut keluar dengan mulus dari bibir Yaya.

"Maaf, maaf untuk apa?" Halilintar bingung dengan tingkah laku Yaya yang mendadak murung.

"Maaf karena waktu itu aku malah pergi saat kau menanyakan namaku" Yaya terlihat sangat meyesal.

'Oh iya aku baru sadar aku tidak tau nama gadis di depanku ini' Halilintar merasa dirinya sangat bodoh.

"Yah benar juga sih… kalau begitu, namaku Boboiboy Halilintar salam kenal" ucap Halilintar sambil mengulurkan tangannya.

"Namaku Yaya Yah salam kenal" ucap Yaya tetapi tidak membalas uluran tangan Halilintar.

"Kenapa?" tanya Halilintar karena uluran tangannya tidak dibalas oleh Yaya.

"Um… tanganmu pasti masih sakit" ucap Yaya prihatin dengan keadaan Halilintar.

"Ah kau ini" Halilintar menarik tangan Yaya untuk membalas uluran tangannya tadi.

"Eh…" Yaya terlihat sedikit takut, takut bila nanti luka Halilintar semakin parah.

"Lihat aku tidak apa-apa" Halilintar memperlihatkan senyumannya.

'Ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum biasanya juga aku melihat dia tanpa ekspresi' batin Yaya bingung bercampur senang.

Yaya pun tersadar dari lamunannya dan menengok kearah jam dinding, dan alangkah terkejutnya dia karena ini sudah jam sepuluh kurang limabelas menit yang berarti waktu istirahat dimulai limabelas menit lagi.

"Eh… aku pergi dulu sebentar lagi waktu istirahat, aku hanya diberi waktu mejengukmu sampai istirahat dan jam pelajaran ketiga aku harus hadir" ucap Yaya buru-buru berdiri dan berniat untuk kembali ke sekolah.

Tanpa disangka-sangka oleh Yaya Halilintar menarik tangan Yaya mengisyaratkan Yaya untuk menunggu sebentar lagi.

"Tunggu sebentar, ini bawalah" Halilintar menyodorkan sepotong sandwich yang tidak ia makan karena ia memang tidak nafsu makan.

"Eh tapi kau…" Yaya mencoba menolak.

"Tidak ada tapi-tapian ini untukmu dan aku sangat yakin saat kau sampai di sekolah nanti waktu istirahat pasti sudah habis" ucap Halilintar memaksa Yaya untuk menerima sandwich yang ia berikan.

"Ok aku terima. Terimakasih Halilintar" ucap Yaya menerima sandwich pemberian Halilintar.

"Aku pergi dulu Halilintar maaf mengangu" pamit Yaya kepada Halilintar.

"Hm" ucap Halilintar singkat, padat, dan jelas.

"Oh iya… nanti sepulang sekolah aku kesini lagi boleh kan" ucap Yaya sesaat sebelum dirinya pergi dari kamar inap Halilintar.

"Tentu saja boleh" jawab Halilintar jujur.

"Bye..bye…" Yaya melambai pada Halilintar dan dibalas oleh Halilintar.

"Aku sendirian lagi" ucap Halilintar lesu saat Yaya sudah tidak terlihat olehnya.

~LOVE~

Sekarang Yaya sudah berada di sekolah dan benar saja waktu istirahat sudah habis. Saat Yaya masuk ke kelasnya ia langsung mendapat berbagai pertanyaan dari teman-temannya terutama dari ketiga sahabatnya.

"Yaya kau dari mana?" tanya Hanna yang belum tau bila Yaya pergi ke rumah sakit.

"Oh tadi aku pergi ke…" belum sempat Yaya menyelesaikan kalimatnya ia sudah ditarik oleh ketiga sahabatnya.

"Selamat datang Yaya" ucap Ying, Nanda, dan Syifa bersamaan.

"Eh… iya" ucap Yaya ragu-ragu karena ia sudah mempunya firasat buruk tentang ini.

"Khihihihi…" ketiga sahabat Yaya memperlihatkan senyum penuh arti.

"Ada apa?" tanya Yaya hati-hati.

"Kau tau lah…" ucap Ying mewakili teman-temannya.

"Tau apa?" Yaya mencoba mengulur waktu.

"Hah… kau itu banyak tanya yang kami maksud adalah bagaimana kau dengan Halilintar tadi, apakah terjadi sesuatu" Fang memperjelas perkataan Ying.

'Sudah kuduga' batin Yaya nelangsa.

"Sesuatu seperti apa?" Yaya terus mecoba mengulur waktu sampai guru yang akan mengajar masuk.

"Yah sesuatu seperti ciuman perta…" belum sempat Balze menyelesaikan kalimatnya ia sudah tepar di tempat.

"Aku ini perempuan baik-baik dan aku tau Halilintar juga bukan pemuda yang seperti itu…" ucap Yaya dengan nada yang begitu seram.

"… dan aku tegaskan aku belum… pernah… PACARAN" lanjut Yaya dengan penekanan pada kata 'pacaran'.

"dan oh iya… bagaiman Balze tau tentang aku pergi mejenguk Halilintar" Tanya Yaya yang sudah masuk mode galak.

Teman-teman Yaya yang sudah tau akan seperti ini bila menanyakan tentang seseuatu seperti ciuman, pacaran, atau apa pun langsung menunjuk Fang sebagai pelampiasan.

"Fang…" Yaya mendekat dan Fang mulai berkeringat dingin.

"Apa…" tanya Fang sembari mengeuk ludah paksa.

"Kenapa kau memberi tahu Blaze hah…" Yaya semakin mendekati meja Fang.

"Memang salah dia kan sahabatku" ucap Fang yang terus berkeringat dingin.

"Habis kau hari ini…" Yaya sudah sampai di meja Fang.

"Benar-benar malang nasib ku hari ini" Fang berkata dengan suara yang amat pelan seperti bisikan.

'Aku akan mati' lanjut Fang di dalam hati.

SKIP TIME

Waktu pulang sekolah pun tiba. Semua murid sangat senang karena bisa pulang ke rumah masing-masing kecuali Fang yang harus pulang degan cara tidak lazim yaitu dengan cara di gotong oleh teman-temannya karena sudah dihabisi Yaya dan juga ketiga temannya.

Yaya benar-benar senang karena ia akan kembali mejenguk Halilintar. Entah kerena apa ia merasa nyaman di dekat Halilintar dan juga ia merasa bila ia menjenguk Halilintar ia akan lebih mengenal Halilintar lebih dekat.

"Hm… Hm… na… na…" Yaya bersenandung ria sepanjang perjalanan pulang.

"Kau kenapa Yaya?" Ying sedikit bingung dengan Yaya yang tiba-tiba bahagia.

"Tidak apa-apa" ucap Yaya lalu tersenyum bahagia.

'Mungkin dia demam' batin Ying acuh tak acuh.

Yaya terus melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Sesampainya di rumah ia langusng disuguhi makan siang buatan ibunya yang sangat lezat.

"Ibu aku pulang" ucap Yaya sambil melepaskan sepatunya.

"Ah… Yaya selamat datang" ucap ibu dari dalam rumah.

Yaya pun memasuki rumah, tak lupa ia menyalami ibunya lalu duduk di meja makan dan makan bersama ibu dan adiknya.

'Aku bersyukur mempunyai keluarga seperti ini' batin Yaya senang.

"Selamat makan" ucap Yaya lalu berdoa dan mulai acara makan siangnya.

"Ibu nanti setelah ashar aku mau jenguk teman di rumah sakit boleh kan" ucap Yaya meminta persetujuan dari ibunya.

"Iya boleh Yaya dan kebetulan juga ibu dikasih banyak jeruk sama tetangga jadi kamu bawa ya… buat buah tangan" ucap ibu Yaya member izin untuk Yaya.

"Ok ibu" Yaya bersikap seolah ia adalah anak berumur lima tahun.

~LOVE~

Waktu bergulir cukup cepat dan sekaran adalah waktunya Yaya untuk menjenguk Halilintar. Sekarang Yaya memakai baju bergaya muslimah dan hijab pink yang biasa ia pakai.

"Ibu aku berangkat" pamit Yaya.

"Iya hati-hati di jalan" jawab ibu Yaya dari dalam rumah.

Yaya pun pergi menjenguk Halilintar untuk kedua kalinya hari ini.

'Aku merasa Halilintar kesepian' itulah alasan sebenarnya mengapa Yaya ingin menjenguk Halilintar.

Selama di perjalanan Yaya terus berpikir mengapa ia ingin mejenguk Halilintar lagi. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.

'Aku mulai gila' ucap Yaya di dalm hati.

Sesampainya di rumah sakit Yaya langsung dicegat oleh sang resepsionis yang ia temui tadi pagi.

'Ah padahal niatku ingin langsung pergi ke kamar Halilintar' batin Yaya sedih.

"Hai… hai kenapa kamu kembali lagi, mau jenguk Halilintar lagi ya…" sang resepsionis kembali mengoda Yaya seperti tadi pagi.

"Iya" jawab Yaya singkat.

"Haduh Halilintar memang pemuda yang mempesona ya… kamu saja sampai tertarik" sang resepsionis mulai bergaya aneh.

"Terserah… aku duluan" ucap Yaya yang langsung pergi meniggalkan sang resepsionis.

Yaya pun terus berlari menuju kamar inap Halilintar sekalian untuk menghindari resepsionis alay #menurut Yaya.

"Dasar kalian itu benar-benar tidak mengerti aku"

Terdengar suara teriakan dari dalam kamar Halilintar.

'Itu kan suara Halilintar'

Yaya mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar inap Halilintar karena Yaya mengira bahwa ada orang lain di dalam ruangan itu, dan orang tersebut sedang bertengkar dengan Halilintar. Yaya mulai melangkahkan kakinya untuk pergi, tapi ia merasa aneh karena tidak ada sautan setelah Halilintar berteriak tadi.

'Aneh, apa mungkin ia sedang menelpon' Yaya muali berpikir.

"Kalian menyebalkan… aku benci kalian"

Terdengar kembali suara Halilintar.

'Dia memang sedang menelpon, tapi kenapa ia mengatakan kata benci' Yaya kembali ke kamar inap Halilintar.

TRANG…

Belum sempat Yaya mengetuk kamar Halilintar, terdengar suara seperti besi yang terjatu membentur lantai.

"Aghhhhh"

Tanpa megetuk pintu Yaya langsung membuka pintu kamar Halilintar. Yaya langsung kaget bercampur takut saat melihat keadaan kamar Halilintar, tetapi ia tepis persaan takut itu dan terus memasuki kamar Halilintar.

"HALILINTAR…" pekik Yaya saat melihat keadaan Halilintar.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

Aku kembali… #tebar bunga #ditendang readers

maaf beribu maaf aku baru bisa update soalnya aku banyak tugas terus UAS lagi T_T tapi sekarang sudah selesai UAS nya jadi bisa update deh ^_^

ini adalah chapter tepanjang yang pernah aku buat… gimana kepanjangan ya… membosankan, berbelit-belit, gak jelas, yah aku memang author yang gagal #pundung di pojokan

yaudahlah dari pada aku banyak bacot bales review aja deh…

Ciiko

Iya sama-sama Ciiko-san terimakasih juga karena review cerita aku…

Dan untuk Hali dia tidak apa-apa kok dia diselametin tuh sama Fang jadi aman saja, lagipun aku orangnya nga suka siksa kayak gitu sukanya siksa berat sampai mati # digiles. hehehe bercanda

Terimakasih karena terus mendukung aku terimakasih banyak # bungkuk-bungkuk

Sampai berjumpa lagi di next chapter ~o~

Nissa1234

Tak apa Nissa author faham, author juga tidak bisa update kilat karena author banyak sangat tugas sekolah jadi kita sama lah…

Wah terimakasih karena sukakan ff author ni… #terharu T_T

Yeeeaaayyy kita sama aku juga sukakan pair haliya dan untuk Hali ia tidak dilanggar ia sempat diselamatkan oleh Fang. #peluk Fang #ditendang fans Fang XD

Tidak author tidak malas baca, malah author suka nak baca review kamu… ^_^

Byee Nissa jumpa lagi next chapter

Salam manis

~Marine~

Lavender

Wah iya mereka emang cinta pandang pertma kayak author sama dia XD #dikemplang

Tenang Hali nga kecelakaan kok dia man Cuma keserempet biasa Cuma agak parah # sama aja donk -_-

Iya ini sudah di next hara-harap kamu suka ya…

Sekian dari author, harap-harap kalian suka chapter ini dan author berterima kasih untuk yang undah nga fav, fol, juga nge review.

FOR THE LAST REVIEW PLEASE

Dark reader munculah jangan jadi dark reader ya… XD