WHAT IS LOVE
Presented by Byun Min Hwa
.
.
.
Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun (GS), Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS), etc.
Genre : Romance, Drama
Rate : M for bad word & a little bit sex activity for certain chapter
Length : Chaptered
Note : Bacanya pelan-pelan aja ya. Nggak perlu terburu-buru hihi ^^
.
.
.
Summary : Baekhyun telah menutup rapat pintu hatinya dikarenakan kejadian yang ia alami di masa lalu. Lalu, apakah Park Chanyeol yang notabene-nya adalah salah satu berandal sekolah mampu menyinari goa yang telah lama tak berpenghuni itu? Sebab menaklukkan Baekhyun tak semudah yang ia perkirakan.
.
.
.
Previous chapter
Gerutuan serta makian tak henti-hentinya keluar dari mulut Baekhyun. Dia merasa malu. Harga dirinya seolah telah diinjak oleh Park Chanyeol. Kyungsoo yang kebetulan berada di luar kelas untuk mencari udara segar, sedikit bingung saat melihat wajah Baekhyun dari lantai atas. Kusut ditekuk sudah tak berbentuk. Begitulah deskripsinya.
Baekhyun bahkan tak menyadari jika dirinya tengah melewati tepi lapangan sepak bola. Dimana murid kelas 1 tengah asik memainkan benda bulat tersebut. Dikarenakan salah satu dari mereka menendang bola terlalu keras, bola itu meluncur cepat ke arah Baekhyun. Kyungsoo yang menyadari Baekhyun dalam bahaya, sontak membulatkan matanya dan memekik tertahan.
"Baekhyun! Awas!"
.
.
Chapter 3
Jeritan dari Kyungsoo tak sampai ke telinganya karena jarak mereka yang cukup jauh. Bola itu semakin mendekat ke arah Baekhyun. Lebih tepatnya kepala Baekhyun. Baekhyun terlambat menyadari kedatangan bola tersebut dan akhirnya ―
BRUK
Seketika keadaan berubah menjadi gelap.
.
.
.
Kepala pening dan mata berkunang-kunang. Itulah yang Baekhyun rasakan ketika ia membuka mata.
Ia pegang kepalanya yang berdenyut nyeri, serta berusaha memfokuskan pandangan yang masih sedikit kabur. Baekhyun tentu tidak bodoh untuk menyadari berada dimana dia sekarang. UKS Sekolah. Namun dia belum bisa mengingat apa yang membuatnya tergeletak diranjang berwarna serba putih ini.
Setelah berhasil memfokuskan pandangan, Baekhyun sedikit menggerakkan tangannya yang terasa berat. Tunggu dulu, berat? Dan ternyata ada seonggok kepala yang menindih telapak tangannya. Sepertinya Baekhyun mengetahui siapa pemilik kepala tersebut. Dan benar saja. Orang itu adalah ―
"Kau sudah bangun?"
Chanyeol.
"Mau apa kau disini?"
"Apa maksudmu dengan 'mau apa kau disini'?" Chanyeol mencibir dengan gerakan bibir meniru Baekhyun yang sedikit dilebihkan-lebihkan.
"Aku yang menyelamatkanmu bodoh. Berterimakasihlah padaku." tambahnya lebih sengit.
"Ya! Kau yang bodoh! Dan, apa katamu? Berterimakasih? Cih. Tak sudi." Baekhyun memutar tubuhnya membelakangi Chanyeol.
Walaupun Baekhyun memang bersikap kasar pada Chanyeol, tapi hati Baekhyun sangat sensitif. Sedikit saja ia dibentak, maka akan langsung ia masukkan dalam hati.
"Hey, Baekhyun…" suara Chanyeol sedikit melunak.
Baekhyun tetap bergeming tanpa ada niat untuk berbalik.
"Baekhyun-ah…"
SRET
Chanyeol memutar tubuh Baekhyun secara paksa karena terus diacuhkan. Diangkatnya tubuh mungil Baekhyun, sehingga posisi tubuh Baekhyun menjadi setengah berbaring dan bersandar pada ranjang. Ia letakkan telapak tangannya di kedua bahu Baekhyun.
"Dengar. Aku seperti ini karena khawatir padamu."
"Kau? Khawatir padaku?"
"Tentu saja." Jawab Chanyeol mantap.
"Memangnya kau pikir kau siapa?"
Nyut. Perkataan Baekhyun berhasil menohok hati Chanyeol. Jika dipikir-pikir kembali, memang benar yang dikatakan oleh Baekhyun. Bahkan mereka baru mengetahui nama satu sama lain beberapa saat yang lalu.
Karena tak ada satu pun dari mereka yang bersuara, suasana kembali hening. Kedua tangan Chanyeol pun belum berpindah dari bahu Baekhyun. Manik bulan sabit milik Baekhyun seolah terkunci pada kedua obsidian milik Chanyeol.
Entah mendapat bisikan dari setan mana, wajah Chanyeol mendekat secara perlahan. Ia pejamkan matanya sesuai naluri. Sedikit memiringkan kepala supaya dapat menempel tepat pada cherry lips milik Baekhyun. Dalam jarak sepersekian mili, kedua benda kenyal itu akan menyatu dan ―
BRAK!
"Baekhyun! Kau tak apa?!"
Terkutuklah Xi Luhan.
Suara dobrakan pintu yang diperbuat oleh Luhan membuat Chanyeol sedikit terjungkal ke belakang. Baekhyun? Jangan tanya lagi. Ia tundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona pipi yang sudah semerah kepiting rebus.
"Astaga, wajahmu merah sekali Baek. Apa kau demam? Mana? Mana yang sakit?"
Luhan terus mengoceh sambil mengecek seluruh bagian tubuh Baekhyun. Seperti seorang ibu yang menangkap basah anak kecilnya usai hujan-hujanan.
"Aku tak apa, Lu." Ujar Baekhyun lemah.
Luhan memicingkan matanya pada Chanyeol. Melempar pandangan menuduh.
"Kau. Kau apakan Baekhyun?!"
"Aku? Aku menyelamatkannya." Jawab Chanyeol acuh.
"Menyelamatkan pantatku. Wajahmu itu lebih terlihat seperti kriminal!"
Luhan masih menggebu-gebu dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Sudahlah Lu. Sebaiknya kita segera membawa Baekhyun ke kelas." Kyungsoo menenangkan Luhan dengan mengusap-usap punggungnya.
Benar juga. Tak ada gunanya dia berdebat dengan Chanyeol. Hanya membuang waktu dan energi saja.
Dalam waktu singkat Baekhyun telah mengenakan sepatunya atas bantuan Kyungsoo dan Luhan. Sebelum pergi meninggalkan UKS, kedua bola mata yang berbeda ukuran itu sempat saling melirik satu sama lain.
Brengsek. Padahal yang tadi itu sedikit lagi.
Chanyeol mengusap wajahnya frustasi.
.
.
.
PRANG
Chanyeol melempar kaleng soda yang telah kosong ke dalam tempat sampah secara kasar. Jongin yang sedang duduk disebelahnya, menoleh menampilkan ekspresi bingung.
"Kau terlihat kacau. Ada apa?"
"Rusa sialan." Chanyeol mendesis menahan emosi.
"Maksudmu, Luhan ?" tanya Jongin sambil meletupkan permen karet yang sedang ia kunyah.
Setelah kejadian tak mengenakkan yang ia alami di UKS, Chanyeol memilih untuk mengajak kedua sahabatnya untuk membolos. Hingga disinilah ia sekarang bersama Jongin. Atap sekolah. Persetan dengan guru. Dia sudah kebal dengan segala macam ocehan yang akan dilontarkan padanya.
"Rusa sialan mana lagi yang hidup di dunia? Hanya dia satu-satunya."
"Woah... relax dude." Ia lepeh permen karet yang sudah terasa hambar. "Apa yang dia lakukan sampai membuatmu sekacau ini?"
Chanyeol bungkam. Tidak mungkin bukan jika dia mengatakan bahwa aksinya untuk mencium Baekhyun menjadi gagal total karena Luhan? Bisa jatuh harga dirinya di depan Jongin.
Merasa Chanyeol tak akan menjawab pertanyaannya, Jongin kembali bersuara.
"Aku lihat tadi kau mengikuti murid baru itu. Apa kau menyukainya?"
Mendengar perkataan Jongin, refleks Chanyeol menolehkan kepala secara cepat dengan mata memicing tajam. Dan Jongin yang melihat hal itu menjadi terkekeh dibuatnya.
"Melihat responmu seperti itu, sepertinya dugaanku benar." Jongin berdiri dengan menepuk-nepuk kecil pantatnya yang sedikit berdebu.
"Jangan ganggu dia." Ucapan Chanyeol terdengar seperti ultimatum di telinga Jongin. Tak salah lagi. Chayeol memang menyukai Baekhyun.
"Tsk. Aku memang bajingan. Tapi aku tak akan merebut milik sahabatku sendiri Park." Jeda sejenak. "Oh ya, dimana Sehun?"
"Entahlah. Dia bilang masih ada urusan." Sahut Chanyeol singkat.
"Cih, sok sibuk."
Percakapan Chanyeol dan Jongin berakhir dengan desauan angin. Chanyeol larut dalam pikirannya, dan Jongin memilih untuk memejamkan mata berbaring di atas sofa.
.
.
.
Luhan baru saja keluar dari ruang konseling. Bukan karena dirinya siswa yang bermasalah. Guru konseling yang kebetulan juga adalah pamannya, menitipkan pesan pada Luhan. Beliau berkata bahwa di rumahnya akan mengadakan pesta ulang tahun pertama untuk anaknya. Beliau meminta agar Ibu Luhan untuk membantu persiapan pesta tersebut.
Benar-benar. Ia pikir ada masalah apa sampai dirinya harus masuk ruang konseling. Dan lagi, mengapa pamannya itu tak langsung menghubungi ibunya saja. Bukan malah memanggil Luhan di saat jam pelajaran seperti saat ini.
Disaat kakinya melangkah menyusuri koridor lantai dua, tiba-tiba saja dirinya diseret oleh sebuah tangan dari balik tembok. Luhan memekik tertahan atas aksi yang baru saja terjadi padanya.
Luhan kini tengah berdiri mematung di hadapan seseorang. Kedua tangan yang berada di sisi kanan kiri tubuhnya, membuat ia tak bisa bergerak secara bebas.
"Apa yang kau lakukan?" ujar Luhan.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Bukannya menjawab Luhan, seseorang itu justru balik melempar pertanyaan kepadanya.
"Aku tak mengerti maksudmu." Luhan membuang muka.
Orang itu mencengkram pipi Luhan. Menariknya secara paksa supaya Luhan kembali menatap wajahnya, hingga membuat Luhan sedikit berdesis.
"Aku tak suka jika kau membuang muka saat kita sedang bicara." Ia berikan tatapan tajamnya hingga membuat kaki Luhan melemas seperti jelly.
"Dan tentu saja kau tau apa maksudku Luhan." Timpalnya.
"Aku seperti ini karena aku tid ― eempphh." Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, orang itu sudah mencium Luhan secara kasar.
Ia tekan tengkuk Luhan untuk memperdalam ciumannya. Karena Luhan tak mau membuka mulut, digigitnya bibir Luhan. Berhasil. Lidah itu berhasil menerobos menjelajahi seluruh isi mulut Luhan.
PLAK!
Luhan melayangkan tamparan dengan amat keras pada orang itu. Merasa orang itu sedikit lengah, Luhan segera membebaskan diri dan berlari secepat mungkin. Setetes kristal bening telah meleleh dari pelupuk mata rusanya. Tak ia pedulikan tatapan sendu yang memandang punggungnya yang semakin menjauh.
Setelah kepergian Luhan, orang itu menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Menyesali apa yang telah ia perbuat pada Luhan. Jika saja ia bisa menahan emosi, tak akan seperti ini jadinya.
.
―What Is Love―
©Byun Min Hwa_2016
.
Baekhyun tengah duduk dengan pandangan mata lurus ke depan. Bukan. Baekhyun bukan memperhatikan gurunya yang sedang menerangkan pelajaran. Jika saja ada yang lebih jeli untuk memperhatikan, maka sudah bisa diketahui jika Baekhyun sedang melamun. Tatapannya kosong.
Memorinya terngiang pada kejadian yang ia alami di UKS sekolah. Disaat dirinya sedikit terlena dan hampir dicumbu oleh Chanyeol. Baekhyun pikir laki-laki itu memang benar-benar gila. Dalam hitungan jam, orang itu sudah berani untuk mencoba berbuat yang tidak-tidak padanya.
Dan lebih gilanya lagi, mengapa dirinya hanya diam saja seperti orang dungu? Baekhyun merasa benar-benar bodoh sekarang. Ia merutuki kebodohannya karena telah terlihat seperti gadis murahan di depan berandalan semacam Chanyeol. Untung saja berandalan itu tidak berada di kelas sekarang. Baekhyun masih belum siap untuk bertemu dengan Chanyeol, mau taruh dimana mukanya. Dalam hati ia begitu berterimakasih pada Luhan. Luhan tepat waktu. Jika Luhan terlambat satu detik saja, maka ciuman itu akan terjadi.
Mengingat kejadian itu membuat wajah Baekhyun memanas dan menjalar sampai cuping telinganya. Pipinya merona bagai terkena sengat matahari. Ia rasa dirinya harus menenggelamkan diri ke Sungai Han sekarang juga. Ah molla, kepalanya kembali pening karena memikirkan hal yang tidak penting.
Kehadiran Luhan yang baru saja sampai di kelas membuat Baekhyun kembali pada alam sadarnya. Sebelum sahabatnya itu duduk, Baekhyun sempat melirik sekilas pada wajah Luhan. Walaupun samar, Baekhyun yakin jika itu adalah bercak air mata. Namun Baekhyun acuh. Merasa belum pantas untuk menanyakan hal-hal pribadi kepada sahabat barunya. Biarlah Luhan yang menceritakannya sendiri suatu saat nanti.
.
.
.
"Kau yakin tak ingin pulang bersama kami?"
Sekali lagi Luhan mengajukan pertanyaan pada Baekhyun. Ketiga gadis mungil itu kini tengah berjalan menuju gerbang Hannyoung High School untuk pulang.
"Kau tak perlu sungkan Baekhyun." Kyungsoo menambahkan.
Awalnya Luhan berniat untuk mengajak Baekhyun pulang bersama. Dengan Kyungsoo pula. Namun Baekhyun menolak secara halus. Luhan dan Kyungsoo memang searah. Tapi tidak dengan Baekhyun. Rumah Baekhyun berbeda arah dengan kedua sahabatnya dan juga letaknya cukup jauh. Ia beralasan tak mau jika sampai merepotkan Luhan.
"Aku yakin, Lu. Lagipula aku sudah menghubungi supirku untuk menjemput." Nada bicaranya dibuat sehalus mungkin agar Luhan tak kecewa.
"Baiklah jika begitu. Ah, itu ibuku sudah datang."
Jari Luhan menunjuk pada sebuah mobil matic berwarna merah yang baru saja datang. Terlihat sosok wanita paruh baya yang berada di kursi kemudi yang tak lain adalah Ibu Luhan. Parasnya cantik dan terkesan lembut. Berbeda dengan Luhan yang mempunyai sifat cerewet.
Setelah Luhan dan Kyungsoo memasuki mobil dan duduk di kursi bagian belakang, mereka berebut posisi agar bisa menilik Baekhyun lewat jendela. Membuat Baekhyun terkekeh kecil melihat sikap kekanakkan dari kedua sahabatnya.
"Sampai jumpa Baekhyun." Luhan memberikan sedikit salam perpisahan dan melambaikan tangan pada Baekhyun. Hal sama juga dilakukan oleh Kyungsoo.
Baekhyun membalas lambaian tangan kedua sahabatnya. Kemudian membungkukkan badan sebagai tanda hormat pada Ibu Luhan.
.
.
.
Sudah hampir 30 menit berlalu, namun jemputan yang Baekhyun tunggu tak kunjung datang. Beberapa siswa yang juga menunggu jemputan sepertinya, satu persatu telah beranjak meninggalkan Baekhyun seorang.
Sesekali ditendangnya kerikil kecil yang berada di sekitarnya untuk sekedar menghilangkan rasa bosan. Entah sudah berapa kali Baekhyun kembali mengecek arloji Alexander Christie miliknya.
Hari sudah hampir gelap. Sinar matahari telah lenyap di ufuk barat sedikit demi sedikit. Burung-burung gereja juga terlihat sedang beterbangan secara menggerombol untuk kembali menuju rumahnya.
Jika tau akan begini, sudah pasti Baekhyun tak akan menolak ajakan Luhan untuk mengajaknya pulang bersama. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
"Hhh…" Baekhyun menghela napas kasar.
Kepalanya ia tundukkan dalam, dengan posisi tubuh bersandar pada tembok yang tak jauh dari gerbang sekolah. Sayup-sayup terdengar suara deru mobil yang mendekat. Baekhyun memekik senang lantas menegakkan tubuhnya. Namun wajahnya kembali murung kala mengetahui mobil yang datang bukanlah mobil milik keluarga Byun.
Mobil Sedan berwarna hitam itu kini tengah terparkir tepat dihadapan Baekhyun. Baekhyun bertanya dalam hati, apakah mobil ini juga mobil jemputan? Tapi setaunya sudah tidak ada siapapun disana kecuali dirinya sendiri. Baru ketika jendela mobil dibuka, Baekhyun mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. Orang yang telah menghancurkan moodnya di hari pertamanya masuk sekolah.
"Masuk." Tanpa basa-basi, Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk masuk ke dalam mobil.
Baekhyun acuh. Ia alihkan pandangannya ke arah jalanan dimana mungkin saja mobil jemputannya sudah datang. Nihil. Tak ada tanda-tanda apapun jemputannya akan datang. Namun Baekhyun tak mau goyah. Ia tak mau terlihat murahan lagi di depan Chanyeol.
Karena Baekhyun tetap bergeming tanpa menoleh sedikit pun, Chanyeol mengambil keputusan untuk keluar dari mobil. Kaki jenjangnya kini telah berdiri tepat di hadapan Baekhyun.
"Apa?" tanya Baekhyun curiga.
Maaf Baekhyun, aku terpaksa.
Tanpa aba-aba apapun, Chanyeol langsung mengangkat tubuh Baekhyun dan menggendongnya dengan posisi Baekhyun bak karung beras. Baekhyun sontak membulatkan mata dan meronta-ronta minta untuk diturunkan. Percuma Baekhyun meronta sekuat apapun. Chanyeol tak akan menggubrisnya.
"Ya! Park Chanyeol! Turunkan aku brengsek!" Baekhyun terus menggeliatkan tubuhnya dan memukul-mukul punggung Chanyeol agar segera melepaskannya. Namun sekali lagi, percuma.
"Sekali-sekali menurutlah padaku. Kau ini cerewet sekali sih."
BLAM
Chanyeol segera berlari memutar menuju kursi kemudi setelah berhasil memasukkan –secara paksa– Baekhyun ke dalam mobilnya.
"Pakailah seat belt-mu." Titah Chanyeol.
Bukannya menuruti Chanyeol, gadis disampingnya ini justru membuang muka ke arah jendela.
"Baiklah jika kau memaksa." Sekali lagi Chanyeol bertindak seenak jidat. Ia dekatkan tubuhnya pada Baekhyun untuk memasangkan sabuk pengaman. Baekhyun sampai harus menahan napas karena tubuh Chanyeol yang terlampau dekat.
Baekhyun tak sempat meneriakkan protes. Mobil itu kini telah melaju beranjak meninggalkan halaman dari Hannyoung High School.
.
―What Is Love―
©Byun Min Hwa_2016
.
Mobil Chanyeol melaju membelah jalanan kota Seoul. Ia lihat disamping kanan kiri banyak kendaraan yang melintas. Seoul memang seakan tak pernah mempunyai jam untuk tidur. Kerlap-kerlip lampu kota juga telah menghiasi malam mengingat hari sudah mulai gelap. Sesekali ia hentikan mobilnya disaat lampu lalu lintas berwarna merah.
Chanyeol mengetuk-ngetukkan jarinya pada setir kemudi. Ia lajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Merasa tidak terburu-buru sama sekali. Dan sepertinya belum ada satu pun diantara mereka berdua yang terlihat akan membuka percakapan.
Baekhyun sendiri masih membuang muka ke arah jendela. Bersidekap menikmati indahnya pemandangan malam kota Seoul. Karena dirinya juga belum lama pindah dari Busan, hari ini bisa dibilang adalah pengalaman pertama Baekhyun menjelajahi kota Seoul saat malam hari.
Chanyeol sedikit menguap karna merasa bosan. Berniat memecah keheningan, ia arahkan jari tangannya untuk menekan tombol pada mp3 player yang berada dalam mobil. Matanya sesekali melirik pada monitor kecil dari benda kotak tersebut. Memilih lagu yang akan ia mainkan.
Tak lama setelah itu, terdengarlah suara khas dari penyanyi muda Justin Bieber. Lagu berjudul 'Die In Your Arms' mulai menggema memenuhi mobil. Sesekali Chanyeol menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri menikmati alunan musik yang terdengar.
Oh baby, I know lovin you ain't easy
But it sure is worth a try
Chanyeol tersenyum samar saat mendengar penggalan lirik dari lagu tersebut. Seakan tengah menggambarkan apa yang Chanyeol alami saat ini. Ia jelas tau bahwa tidak akan mudah untuk mendapatkan Baekhyun. Namun Chanyeol tak akan menyerah sebelum mencoba. Jika pun gagal, maka Chanyeol akan terus mencoba. Baru kali ini dia dibuat begitu gila pada seorang gadis dalam waktu sekejap. Dan gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Baekhyun.
"Mengapa kau tersenyum seperti itu?" Baekhyun bertanya dengan nada ketus.
Ia sempat melirik ke arah Chanyeol dan mendapati lelaki itu tengah tersenyum idiot menggelikan.
"Hanya ingin saja." Ujar Chanyeol sambil terus memfokuskan pandangan ke depan.
"Menyeramkan."
"Tapi tetap menawan bukan?" Chanyeol melirik sekilas pada Baekhyun dengan menampilkan seringainya.
Baekhyun menanggapi dengan menjulurkan lidahnya keluar secara sengaja. Menirukan gerakan orang yang sedang muntah. Chanyeol terkekeh geli melihat wajah Baekhyun yang sedang kesal. Lelaki ini memang suka sekali menggoda Baekhyun.
"Apa kau lapar?"
Baekhyun bungkam.
"Diam berarti iya." Ucap Chanyeol final.
Baekhyun berdecak frustasi. Dirinya tak habis pikir, mengapa ia harus terjebak berdua (lagi) bersama bajingan gila semacam Chanyeol. Catat. B-e-r-d-u-a. Yang ada di pikiran Baekhyun, Chanyeol terlihat seperti psycopat, maniak, stalker, atau apalah itu namanya. Lelaki kelebihan kalsium itu selalu bisa menemukan keberadaannya. Seolah tak ada celah bagi Baekhyun untuk bersembunyi.
.
.
.
Chanyeol menepikan mobil Sedannya di area parkir sebuah café. Dia lekas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Baekhyun. Tanpa babibu, ditariknya lengan Baekhyun untuk memasuki café tersebut.
Café itu nampak ramai pengunjung dari berbagai usia. Mulai dari keluarga yang terdiri dari ayah ibu serta anak, segerombol Anak Baru Gede yang sedang bercengkrama dengan temannya, sampai sepasang kekasih yang sedang terlibat kegiatan saling suap pun tak luput dari pandangan.
Baekhyun merutuk dalam hati. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat pulang karena merasa lelah. Sialnya Chanyeol berhasil 'menculiknya' dan membawanya kemari.
Chanyeol memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela besar yang menghadap langsung pada pemandangan luar. Terdapat air yang mengaliri jendela kaca tersebut dari luar sebagai hiasan buatan.
Tak lama datanglah seorang waitress menghampiri meja yang Chanyeol dan Baekhyun tempati.
"Kau mau pesan apa?" Mata Chanyeol terfokus pada deretan menu yang terpampang pada buku menu.
Baekhyun buang muka. "Aku tidak lapar."
"Baiklah. Dua porsi waffle dan dua cappuccino ice."
Waitress itu tersenyum tipis dan beranjak pergi setelah mencatat pesanan Chanyeol. Baekhyun melotot. Sudah jelas tadi dia mengatakan bahwa dia tidak lapar. Tapi Chanyeol nekat memesankan makanan untuknya. Jika begitu kenapa tadi harus bertanya?
Setelah pesanan datang, Chanyeol segera melahap waffle yang terlihat menggiurkan itu. Namun Baekhyun tetap diam dan tak menyentuh makanannya sedikit pun.
"Makanlah. Aku sudah memesankannya untukmu."
"Aku bilang aku tidak lapar!"
Kruyuk. "Bwahahahaha."
Suara perut Baekhyun yang tertangkap oleh telinga lebarnya membuat Chanyeol tak bisa menahan tawa. Jelas-jelas sedang kelaparan, tapi Baekhyun masih kekeuh mempertahankan gengsinya.
"Sudahlah makan saja. Aku membeli makanan itu tidak secara cuma-cuma."
Baekhyun akhirnya mengalah. Ia kesampingkan masalah gengsi yang sudah terlanjur menguap dan segera melahap habis makanan di depannya.
Saking semangat menyeruput cappuccino ice miliknya, sisa dari minuman itu sedikit menempel pada sudut bibir Baekhyun. Chanyeol yang melihat hal itu menggelengkan kepala dan refleks mengusap bibir Baekhyun menggunakan ibu jarinya.
Baekhyun melongo untuk beberapa saat, kemudian bibirnya terkatup kembali kala menyadari beberapa pengunjung disana terkekeh senang melihat dua sejoli yang tampak serasi itu. Mereka tidak tau saja seperti apa hubungan mereka sebenarnya. Ha.
.
.
.
"Ayo pulang." Chanyeol membukakan pintu mobilnya untuk Baekhyun.
"Tidak mau. Aku akan naik taxy saja."
"Eyy… kau pikir aku ini laki-laki macam apa? Pantang bagiku untuk menurunkan seorang gadis di tengah jalan."
"Oh ya? Kalimatmu itu terdengar seperti kau sering menaik-turunkan banyak gadis jalang di mobilmu Tuan Park." Baekhyun mendengus kasar.
"Yap. Tepat sekali Nona Byun. Sekarang cepat masuk." Jawab Chanyeol enteng.
"Dasar playboy mesum. Bajingan. Idiot."
"Ahh, aku mengerti. Kau sengaja mengulur-ulur waktu supaya aku bisa menggendongmu lagi seperti tadi, benar?" Chanyeol tersenyum menang.
Baekhyun melotot horror. Apa-apaan? Dia tak sudi jika harus disentuh-sentuh lagi oleh Chanyeol. Sekali playboy, tetap playboy. Mereka selalu mempunyai cara untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sial.
Walaupun Baekhyun mengeluarkan sumpah serapah pada Chanyeol, pada akhirnya dia tetap masuk ke dalam mobil dan membiarkan Chanyeol untuk mengantarnya sampai rumah.
Chanyeol segera melajukan mobilnya setelah Baekhyun menyebutkan alamat rumahnya berada. Sedikit ia tambah kecepatan laju mobilnya karena hari sudah malam.
.
.
.
Chanyeol menepikan mobilnya di tepi jalan yang langsung berhadapan dengan sebuah hunian mewah yang tak lain adalah rumah Baekhyun. Pagarnya tinggi menjulang, namun tetap tak bisa menyembunyikan sebuah bangunan kokoh yang berada di baliknya.
"Hey, bangun. Kita sudah sampai." Chanyeol menepuk-nepuk kecil pipi Baekhyun.
Perjalanan yang cukup memakan waktu itu membuat Baekhyun yang sudah merasa lelah tak bisa menahan kantuk. Dan akhirnya dia tertidur di dalam mobil selama perjalanan pulang.
"Eungghhh."
Baekhyun meringkuk seperti anak kucing yang terbuang di got. Sialnya, lenguhan Baekhyun justru terdengar erotis di telinga Chanyeol dan membuat juniornya sedikit tegang.
"Damn! Tidak mungkin aku melakukannya sekarang." Gumam Chanyeol berusaha menahan hasrat yang berasal dari juniornya.
Tak lama Chanyeol membukakan pintu untuk Baekhyun setelah dia berhasil membuat Baekhyun sadar. Ia bantu gadis itu untuk berdiri keluar dari dalam mobil.
Baekhyun yang masih berada dalam mode 'sleepy'nya, berjalan gontai menuju gerbang.
"Baekhyun, tunggu!"
"Ada apa lagi?" ia kucek-kucek matanya yang masih sedikit kabur dan sesekali menguap.
Disaat Baekhyun berbalik, tiba-tiba saja ―
CUP!
Baekhyun kecolongan. Chanyeol menciumnya tepat di bibir. Hanya kecupan singkat satu detik tanpa lumatan yang menggairahkan.
Sebelum mendapat amukan dari 'singa betina' di depannya, Chanyeol segera 'ngacir' berlari masuk ke dalam mobil. Langsung ia tancap gas mobilnya dengan kecepatan maksimal hingga terdengar bunyi decitan dari pergesekan antara ban mobilnya dengan aspal.
"YA! BAJINGAN! KU BUNUH KAU!"
Terlambat Byun Baekhyun.
.
―What Is Love―
©Byun Min Hwa_2016
.
Kyungsoo sedang asik membuat popcorn di dapur rumah Luhan. Ya, benar. Dia berkunjung ke rumah salah satu sahabat setianya itu. Berhubung Ibu Luhan sedang tidak ada di rumah karena ikut membantu persiapan untuk ulang tahun keponakannya, maka Luhan meminta Kyungsoo untuk datang ke rumah. Kebetulan Luhan sedang sendiri di rumah, sebab Ayahnya masih berada di luar kota untuk mengurusi bisnis keluarga.
Awalnya Kyungsoo menolak. Dengan alasan ia sudah berjanji dengan adiknya untuk memberikan pelajaran tambahan khusus dari Kyungsoo. Tapi Luhan ini ratunya picik. Jangan sebut namanya Luhan, jika tak berhasil membuat Kyungsoo menuruti kemauannya.
Ia membujuk Kyungsoo dengan iming-iming akan dibelikan satu set peralatan masak lengkap serta buku resep masak edisi terbaru. Dan ya, sudah diketahui jawabannya. Kyungsoo langsung meng-iya-kan tawaran Luhan dan melupakan janjinya. FYI, Kyungsoo ini amat sangat hobby memasak. Tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan emas yang datang secara cuma-cuma.
"Kyung! Popcorn-nya sudah matang belum?" Luhan berteriak dari ruang santai keluarga.
"Tunggu sebentar nona majikan!"
CTEK
Kyungsoo mematikan kompor setelah popcorn yang ia buat meletup-letup memenuhi panci. Tak menunggu lama, popcorn itu telah ia bawa ke ruang keluarga untuk ia makan bersama Luhan.
"Silahkan nona." Kyungsoo duduk berlutut di depan Luhan bagai seorang pembantu rumah tangga. Maksudnya tentu ingin menyindir Luhan yang sedari tadi hanya duduk diam berpangku tangan.
"Ck, menjijikkan. Cepat duduk kemari." Kyungsoo mengangguk patuh.
"Kau mau menonton film apa?"
"Terserah kau saja. Kau 'kan yang menyeretku kemari." Jawab Kyungsoo asal.
Luhan mengangguk-angguk lantas membongkar koleksi filmnya yang berada di bawah televise.
"Ah, yang ini saja."
Luhan memasukkan kepingan CD itu ke dalam DVD Player dan kembali duduk di sofa bersama Kyungsoo. Kemudian muncullah tayangan pembukaan dari film tersebut di layar televise.
"Titanic?" Kyungsoo mengerutkan kening.
"Yap."
"Lagi?"
"Mm-hm."
"For damn God sake, Lu! Kita sudah menonton film itu pulu ― ratusan kali! Bahkan aku hapal betul di menit ke berapa adegan saat Jack yang sedang melukis tubuh telanjang Rose." Kyungsoo mengomel seperti emak-emak kebakaran jenggot.
"Biar saja. Kisah mereka ini sangat menginspirasiku."
"Maksudmu? Kau ingin mati kedinginan di lautan es?" Ia pasang wajah se-innocent mungkin.
"Ck. Kau ini memang bodoh. Tentu saja aku juga ingin memiliki cinta sejati seperti mereka. Terus bertahan sampai maut memisahkan. Jack dan Rose benar-benar pasangan legend sepanjang masa, Kyung." Jawab Luhan dengan mata berbinar-binar.
"Cheesy. Teruslah bermimpi tuan putri."
Luhan hanya merotasikan bola matanya mendengar cibiran dari Kyungsoo. Sedikit prihatin dengan sifat sahabatnya yang memang kuno dan ketus sejak lahir.
"Kyung, aku ingin bercerita padamu." Nada bicaranya mulai serius.
"Tentang apa?"
"Tentang ―"
.
.
.
Kediaman keluarga Park
Senyum lebar belum luntur dari wajah tampannya. Mengingat ia telah menghabiskan waktu hampir seharian ini bersama Baekhyun. Dengan semangat ia buka pintu rumah keluarga tersebut.
"Aku pul ― noona?" senyum Chanyeol pudar saat melihat kakak perempuannya sedang duduk santai sambil membaca majalah di ruang tamu. Chanyeol segera mendaratkan bokongnya pada sofa, berdampingan dengan Yoora.
"Oh, Chanyeol? Sudah pulang?" basa-basi yang basi.
"Sedang apa noona disini?"
"Ya! Kau tak ingin memberikan pelukan selamat datang padaku, hah?" Yoora mendelik pada Chanyeol.
Chanyeol mengedikkan kedua bahunya acuh.
"Cepatlah ganti baju. Aku sengaja menunggumu untuk makan malam bersama." Titah Yoora pada Chanyeol.
Tak banyak berkomentar, Chanyeol segera melesat menuju kamarnya di lantai atas. Meninggalkan Yoora yang masih bergeming di ruang tamu.
"Ck. Dasar anak itu."
Yoora melempar majalahnya ke atas meja sebelum beranjak menuju ruang makan.
.
.
.
Chanyeol telah siap dengan menggunakan kaos santai serta celana pendek selutut yang membungkus kaki jenjangnya. Rambutnya yang terlihat masih agak basah, ia kibaskan bak model iklan shampoo. Sengaja tidak ia rapikan supaya menampilkan kesan badboy dalam dirinya. Aroma maskulin menguar sampai penciuman Yoora ketika adiknya berjalan perlahan dari atas.
Yoora telah duduk pada salah satu kursi yang berada di meja makan. Ia tepuk bantalan kursi yang berada di sampingnya, bermaksud untuk mengajak Chanyeol duduk di sebelahnya. Chanyeol menurut. Ia tarik kursi tersebut lantas mendudukkan bokongnya disana.
"Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Yoora sambil menuangkan nasi ke dalam piringnya sendiri.
"Baik." Ujar Chanyeol singkat yang dibalas anggukan oleh Yoora.
"Kau tidak makan?" tanyanya lagi.
Chanyeol menuangkan segelas air putih sebelum menjawab pertanyaan dari kakaknya.
"Aku sudah makan noona."
"Dengan kekasihmu?"
PRAT!
"Uhuk! Uhuk!" ucapan Yoora sontak membuat Chanyeol tersedak dan menyemburkan minuman yang baru saja melewati kerongkongannya. Ia tepuk-tepuk kecil dadanya yang masih terasa sesak.
"Jadi, benar ya?" Yoora berseringai sambil menaik turunkan alisnya berniat untuk menggoda Chanyeol.
"Noona ini bicara apa. Jangan suka mengada-ada." Chanyeol mendelik kesal.
"Heol. Aku tidak mengada-ada Yoda jelek. Aku tau kau sering bergonta-ganti pasangan selama ini, tapi tak ada satu pun yang kau kenalkan padaku. Aku ini kau anggap apa, hm?"
Chanyeol bergeming. Yang dikatakan oleh Yoora 100% benar. Entah darimana kakaknya ini mengetahui bahwa Chanyeol sering bergonta-ganti pasangan, padahal mereka hanya bisa berkumpul setiap satu bulan sekali. Tentang mengenalkan pasangan pada keluarga? Sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran Chanyeol.
Ia memang sering menggandeng gadis mana pun yang bisa ia jadikan sebagai mainannya. Ya, Chanyeol menggaet gadis-gadis itu hanya untuk kesenangan semata. Tak pernah sekalipun ia melibatkan perasaan lebih dari hatinya. Karena Chanyeol belum mau serius dalam menjalin hubungan. Menghabiskan waktu saja, pikirnya.
Mendengar kata kekasih, entah mengapa membuat pikiran Chanyeol melayang pada Baekhyun. Gadis mungil yang telah membuat hatinya tak karuan. Chanyeol sendiri tak mengerti, apa yang membuat Baekhyun berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia temui. Yang pasti, ketika pertama kali mata bulatnya melihat senyum Baekhyun, ia merasa ada sengatan listrik ribuan volt yang membuat bulu kuduknya meremang. Terdengar berlebihan memang, tapi itu yang ia rasakan.
Chanyeol tersenyum idiot ketika mengingat dia telah berhasil mencuri satu kecupan di bibir manis Baekhyun. Chanyeol berani bertaruh, bahwa siapa pun yang telah merasakannya, pasti akan kecanduan. Seperti dirinya.
"Kenapa malah tersenyum?"
Chanyeol terbelalak. Sial. Ia lupa kalau Yoora masih berada di sampingnya. Chanyeol berdeham dan kembali memasang wajah datar pada Yoora. Kemudian beranjak dari kursi ruang makan.
"Siapa yang tersenyum? Sudahlah, aku lelah. Ingin istirahat."
Ia kecup singkat pipi Yoora, dan langsung mengambil langkah seribu menuju kamar sebelum Yoora kembali mengintrogasi dengan pertanyaan yang macam-macam.
"Adik sialan!"
.
.
.
Chanyeol menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia peluk guling yang biasanya menemani saat ia tidur. Namun Chanyeol tak langsung memejamkan mata. Lagi-lagi ia teringat dengan Baekhyun. Ah, gadis itu. Sekarang telah menjadi salah satu hal yang tak pernah absen dari pikirannya.
Chanyeol tersenyum idiot sambil mengusap bibirnya sendiri. Rasa dari bibir Baekhyun masih terasa dengan jelas disana. Itu pun hanya kecupan singkat. Pikirannya menerawang bagaimana jika dia bisa melumat benda tipis kenyal itu. Pasti akan sangat memabukkan. Chanyeol dengan segala pikiran mesumnya.
Chanyeol pikir tentang cinta pada pandangan pertama yang sering digembar-gemborkan oleh pujangga di luar sana, hanyalah omong kosong belaka tanpa makna. Tapi kenyataan telah menampar dirinya secara telak. Dia yang dulunya membantah secara tegas tentang 'love at first sight', justru sekarang seolah ditertawakan oleh keadaan karena dia sendiri tengah mengalaminya. Baekhyun telah benar-benar menjungkir balikkan dunia seorang Park Chanyeol.
Apa yang telah kau lakukan padaku Baekhyun?
Chanyeol mulai memejamkan mata, bersiap untuk memimpikan Baekhyun. Namun nada dering sialan yang berasal dari ponselnya membuat Chanyeol berdecak kesal. Ada yang menelfon. Ia sambar benda kotak persegi panjang itu dari nakas. Tertera nama Sehun disana.
"Ya, Sehun? Ada apa?"
"…"
"Tunggu dulu. Apa maksudmu? Aku harus kemana?"
"…"
"APA?!"
.
.
.
.
.
―To Be Continue―
[A/N]:
Annyeong chingudeul! ^^
Demen banget ngegantungin cerita? Sengaja sih bwahaha *dikroyok massal*
Oh, ya. Aku kasih rate M bukan berarti per chapter ada NC-nya ya. Nanti akan ada sedikit di chapter tertentu. Sedikit aja :3
Oke. Lagi nggak pingin banyak cuap-cuap nih. Tak lupa Min Hwa ucapkan banyak-banyak terimakasih buat yang udah fav,follow,dan khususnya review buat FF ini.
Maaf belum bisa bales satu-persatu, tapi Min Hwa selalu baca dan sangat mengapresiasi review dari kalian :) You da real MVP, guys! *hug tightly*
Special thanks to :
Dee Stacia ǁ HeeKyumin91 ǁ d1na4pink ǁ chika love baby baekhyun ǁ Baeks06 ǁ Verha Setyanikma ǁ baelight ǁ ParkChoHyun ǁ choi96 ǁ Bambi ǁ saaaa
Finally, Min Hwa undur diri dulu ya ^^ *slap*
Give me some review, please ^^
~Byun Min Hwa
