DISCLAIMER : J.K ROWLING and This Means War
TRIANGLE
Rated : M
Genre : Romance
Summary : Dua agen CIA handal. Mengejar satu musuh yang sama, dan satu cinta yang sama. Apakah mereka dapat mempertahankan persahabatan mereka?
Chapter 3 :Broken Heart
Los Angeles, Juni 2012
"Terimakasih sudah mengundangku ke acara ibumu, Draco."
"Tidak masalah, kau adalah sahabat baikku Harry, kita sudah seperti saudara." Jawab Draco. Ia menyuapkan kue ditangannya kemulut.
Ibu Draco, Narcissa Malfoy, mengadakan acara makan siang dengan keluarga besarnya beserta beberapa kerabat dekat mereka di halaman belakang rumah liburan mereka di Los Angeles yang sudah dirancang sedemikian rupa agar pas dengan suasana musim panas kali ini.
Meja-meja bertaplak putih cantik menghiasi sepenjuru taman. Bunga-bunga yang ditata dengan anggun disetiap sisi disertai dengan hidangan yang luar biasa membuat acara keluarga itu benar-benar istimewa.
Beruntung hari ini cuacanya cerah dan berangin, membuat mereka tak perlu memasang tenda-tenda untuk menghalau terik matahari.
Draco dan Harry duduk di salah satu meja di bawah pohon.
"Kue ini bebas gluten, cobalah." Harry menggeleng.
Draco memperhatikan sekeliling, matanya terhenti pada sepupu kecilnya, Teddy Lupin yang sedang berputar-putar di tempat dengan ember mainan menutupi kepalanya. Alhasil ia jadi berputar-putar tak tentu arah karena tak bisa melihat apapun dari dalam ember. Sepupu kecil Draco yang lain mengitari Teddy dengan senang.
Teddy terjatuh karena pusing, tetapi ia malah tertawa dan membuka ember di kepalanya. Anak-anak lain pun tertawa.
"Oh, i love that kid."Ujar Draco.
Narcissa menghampiri Draco dan Harry.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa hanya duduk seperti ini? Kalian tidak akan memberiku cucu yang lucu."
"Mm.. aku yakin kau tak ingin kami membuatkanmu cucu yang lucu saat acara keluarga, Mom." Narcissa memutar bola mata.
"Honestly, Narcissa. Aku sudah menyediakan cucu yang lucu untukmu." Sergah Harry.
"Kau tidak dihitung, Harry. Karena kau bercerai."
"Ups." Jawab Harry. Draco dan Narcissa terkekeh.
Sudah bukan rahasia lagi jika Harry sudah dianggap seperti anak sendiri bagi Narcissa. Ini karena Draco dan Harry berteman sejak di bangku sekolah dasar dan tak pernah terpisahkan hingga kini. Otomatis Narcissa sudah sangat mengenalnya dan secara tidak langsung telah masuk kedalam kehidupannya.
Awalnya Narcissa bersikeras menolak mentah-mentah ide tentang Draco dan Harry yang bekerja di CIA. Untuk apa mempertaruhkan nyawa untuk menangkap penjahat-penjahat kelas kakap demi mendapatkan uang jika mereka berdua bisa bekerja di Malfoy Corp dengan posisi penting. Bukan hanya itu, ide bahwa Narcissa bisa saja kehilangan mereka membuat ia hampir stroke.
"Apa aku meninggalkan sesuatu?" Suara Lucius Malfoy menginterupsi kegiatan mereka.
"Oh, tidak Lucius. Aku hanya memberikan sedikit pencerahan kepada dua pria dihadapanku ini tentang pentingnya melepas status lajang mereka mengingat usia mereka sudah termasuk matang untuk hal itu." Narcissa mencium Lucius. Draco mengernyit.
"Sebaiknya kita perlihatkan kepada mereka bagaimana caranya." Jawab Lucius. Narcissa terkekeh.
"See?" Ledeknya pada Draco dan Harry.
Mereka berjalan ketengah halaman dan mulai berdansa diiringi lagu dari sound speaker dengan beberapa pasangan lain.
"Terkadang menjijikan melihat mereka berciuman." Celetuk Draco. Namun perkataan itu tidak direspon oleh Harry.
Draco memperhatikan Harry yang sedang mengamati kedua orang tuanya. Sesekali Narcissa berputar dan mereka tertawa.
"Hei–" Tetap tak ada respon. Akhirnya ia menepuk bahu Harry. " Ada apa?" Tanyanya.
"Oh, apa? Tidak ada. Hanya saja... bukankah itu menyenangkan?"
"Hm? Apanya yang menyenangkan?"
"Mereka–" Harry menunjuk Lucius dan Narcissa. "–Aku suka cara mereka saling menatap."
"Eh... aku yakin itu karena katarak." Harry menatapnya bosan.
"Baiklah,kau menanyakan pertanyaan serius, bukan?" Tanya Harry. Draco mengangguk.
"Jadi, aku akan menjawab dengan serius."
"Dari pria ke pria."
"Yep, dari pria ke pria."
"Oke. Kau ingin aku meletakkan kuenya?" Tanya Draco.
"Ya, tolong." Draco meletakkan kuenya di atas meja.
"Baik, sekarang kuenya aman. Jadi bicaralah."
Harry mengubah posisi duduknya agar menghadap ke arah Draco. Ia menatapnya dengan serius.
"Kita sudah bersahabat sejak lama–" Harry memulai.
"–kau rela melakukan apapun untukku, aku rela melakukan apapun untukmu." Harry sedikit maju, otomatis Draco mundur.
"Ya." Jawabnya kikuk.
"Kau rela menerjang peluru untukku dan aku rela menerjang peluru untukmu." Harry semakin maju dan Draco semakin mundur.
"Ya."
"Bisakah kau bayangkan semua itu–" Harry menggerakkan tangannya seakan membentuk sebuah lingkaran.
"Ya." Draco berhenti mundur dan menatap Harry dengan tersenyum geli. Melihat Harry yang mencoba berbicara serius seperti ini menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Bisakah kau bayangkan semua itu, kita bagi dengan seorang..." ia menunjuk ke arah Lucius dan Narcissa lagi "... wanita."
Draco berpikir sejenak.
"Tidak." Jawabnya enteng.
"Oke."
"Tidak."
"Terimakasih."
"Ugh,itu saat paling memalukan." Keluh Hermione. Ia dan Astoria sedang berada di supermarket, menyusuri rak demi rak makanan dan kebutuhan rumah tangga. Sebenarnya Hermione tidak berniat membeli apapun, ia disini hanya untuk menemani Astoria berbelanja dan membeli susu untuk putra kecilnya.
Berbeda dengan Hermione, Astoria sudah menikah saat usianya dua puluh lima tahun dengan Blaise Zabini. Mereka juga sudah memiliki seorang putra yang benar-benar lucu, Alan Zabini.
Kehidupan keluarga mereka benar-benar harmonis. Astoria adalah tipe ibu rumah tangga yang bebas. Ia dapat dengan leluasa pergi kemanapun yang ia mau tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu.
Bukannya ia tidak menyayangi Alan, hanya saja ia dapat membagi waktu dengan baik, jadi ia tetap mendapat hak nya namun juga tidak melupakan kewajibannya.
Blaise sendiri adalah pria paling pengertian dan paling setia yang pernah Hermione temui. Usia Blaise lebih tua tiga tahun darinya. Ia bekerja sebagai direktur di perusahaan pribadi milik keluarga Zabini. Meskipun sibuk dengan pekerjaannya, Blaise tak pernah melupakan keluarga kecilnya. Ia sangat menyayangi Alan dan Astoria. Blaise juga tak pernah melarang Astoria melakukan apapun selama tidak bertentangan dengan dirinya.
Oh, Hermione berharap ia bisa mendapatkan pria seperti itu.
"Yeah, kau seharusnya memberi alasan yang lebih bagus–" Astoria mengambil sekotak susu bubuk dari rak dan memasukkannya ke dalam trolley. "–seperti, 'aku punya tunangan juga, tapi ia sedang operasi pengecilan p***s karena miliknya terlalu besar dan setiap kali 'mendarat'... rasanya mengerikan. Tak bisa memikirkan apapun saat melihatnya." Ia berhenti di rak diapers dan mengambil sekotak lagi.
Hermione tak memperdulikan ocehan Astoria, ia menghela nafas.
"Aku hanya... merasa sangat bodoh–" akunya jujur. "– kutinggalkan keluarga, rumah, teman–."
"Jangan bicara begitu–" potong Astoria. "– aku senang kau pindah kesini. Kita akan hidup senang bersama." Hermione tersenyum miris.
Ya, Theodore Nott adalah pria itu, yang menghancurkan hidup dan hatinya. Awal mereka menjalin hubungan saat Hermione berusia dua puluh tiga tahun dan Theo dua puluh lima. Mereka bertunangan tiga tahun setelah itu.
Dari awal keluarga Hermione tak pernah menyetujui hubungannya dengan Theo. Mereka berpendapat bahwa Theo bukanlah pria yang baik untuk Hermione. Ditambah lagi dengan Theo yang mengajaknya pindah ke Amerika dan meninggalkan keluarganya di Prancis membuat mereka semakin tidak menyukainya.
Ayah Hermione, Lucas Granger mengancam jika Hermione pergi maka ia bukan lagi anaknya.
Namun Theo membuatnya jatuh cinta setengah mati dan buta akan segala hal. Ia memilih pergi dengan Theo dan tak pernah kembali ke rumah.
Astoria berhenti lagi di salah satu rak dan meneliti sebuah deterjen cair.
"Kau harus mencari seseorang, Herm."
"Tentu, aku masih berkencan, bercinta dan pergi bersama beberapa pria."
"Ya. Kau memang berkencan, tapi tidak pernah serius."
"Lalu aku harus bagaimana? Dia tipeku." Keluh Hermione.
"Oh, ayolah. Kau tau wanita seperti apa yang akhirnya dia temukan. Wanita itu akan mengajaknya bercinta setelah makan Yellowtail."
"Aku suka Sushi." Hermione cemberut. "Dia baik. Sangat baik." Ujarnya. Ia ingat bagaimana sikap Katie pada Hermione saat pertama kali bertemu.
"Aku tidak peduli padanya. Aku hanya peduli padamu dan kehidupan cintamu." Setelah meneliti, Astoria akhirnya memasukkan deterjen tersebut kedalam trolley. Namun langkahnya dihentikan oleh Hermione.
"Jangan pilih yang itu, meninggalkan noda. Yang itu lebih baik." Hermione menunjuk deterjen berwarna hijau di lain rak. Astoria meletakkan kembali deterjen itu.
"Aku harap kau juga melakukan hal itu pada pria." Ujar Astoria.
"Melakukan apa?" Tanya Hermione. Astoria berdecak.
"Kau bisa memilih deterjen cuci mana yang tepat tapi tak bisa memilih mana pria yang tepat." Astoria memasukkan deterjen yang dimaksud Hermione kedalam trolley.
"Itu lebih mudah, ada diagram dan angka-angka."
"Maka dari itu kau harus memulai kencan online. Mereka memiliki banyak diagram."
"Oh, jangan itu lagi." Hermione mengeluh. Astoria mendengus.
"Apa sih masalahmu dengan kencan online?" Tanyanya.
"Apa masalahku?–" Hermione menatap Astoria tak percaya. "–kau pernah menonton Dateline? Ada berapa banyak orang aneh diluar sana? Bisa-bisa aku berakhir dengan puasa bercinta. Atau di pantat seseorang."
"Kau berlebihan."
"Oh, ya?" Ledek Hermione.
"Memang itu terjadi, tapi hanya pada satu dari dua puluh wanita di dunia–" Astoria berhenti di rak berisi minyak zaitun.
"– Apa salahnya mencoba? Kau tidak akan berakhir di pantat seseorang. Kalau beruntung, seseorang lah yang akan berakhir di pantatmu. Disini pantatmu! Disini pantatmu!." Astoria menyodok pantat Hermione dengan botol minyak zaitun. Hermione tertawa.
"Dengar, kau harus kembali keluar sana oke? Mungkin sebelumnya kau tak berhasil, mungkin kau melakukan kesalahan. Mungkin kau memilih pria yang salah. Tapi kau tak boleh menyerah pada keadaan, masih banyak pria yang lebih baik diluar sana. Jadi, mulailah kencan online. Apa ruginya?"
Hermione memutar bola matanya. Tipikal Astoria. Takkan menyerah sebelum berhasil.
Hermione memilih berjalan mendahuluinya.
"Puasa bercinta, mengerikan." Gumamnya.
Astoria hanya bisa menggelengkan kepala.
"Baik, sekarang giliran Steve dan James!" Teriak pelatih karate, Richardo Hank di sebelah Harry. Ia memiliki kulit putih dan tubuh tinggi berotot. Peluit menggantung di lehernya.
"Semoga beruntung, James!" Teriak Harry pada anaknya itu.
Steve dan James memasuki matrass, mereka mengambil posisi kuda-kuda.
"Pada hitungan ketiga–" mulai pelatih Hank. "Satu... dua... tiga!"
Steve dan James merangsek maju. Steve meninju James karena James lebih kecil darinya. James terjungkal. Steve menduduki tubuh James dan memukulinya.
"Ya! Bagus, benar begitu! Pukul terus! Pukul terus!" Pelatih Hank berteriak. Harry memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan sesekali memandang pelatih Hank yang masih berteriak-teriak dengan tak percaya.
James mencoba menghindari pukulan bertubi-tubi dari Steve, ia memutar tubuhnya kebelakang sehingga sekarang posisinya tengkurap. Sialnya Steve malah memanfaatkan momen itu.
"Dia menunjukkan punggungnya! Cekikan dari belakang!"
Steve mencekik James dari belakang. James tercekat.
"Aku menyerah!" Seru James. Ia mengetukkan tangannya ke matrass beberapa kali.
"Ya, dia mengetuk! Dia mengetuk,dia kalah!" Pelatih Hank berteriak dan berlari ke arah Steve, ia mengangkatnya dan memutar tubuhnya di udara. Steve tertawa menang. Ehm.. perlu diketahui bahwa Steve adalah putra pelatih Hank.
James berjalan gontai ke arah ayahnya. Harry yang melihatnya tersenyum senang dan mengacungkan kedua jempolnya. Tapi James malah melewati ayahnya dan memilih duduk di podium di belakang tubuh Harry.
Harry mendekati James dan berlutut dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya James datar. Harry tersenyum.
"Aku disini liburan untuk beberapa hari, aku bersama temanku."
"Uncle Draco?" Harry mengangguk.
James tak menjawab. Sejak awal pernikahan ayah dan ibunya, ayahnya jarang berada di rumah. Ia seorang agen travel dan sering bepergian kemana-mana. Alhasil sejak dulu James tak pernah dekat dengan ayahnya. Kehadirannya pun bahkan nyaris tak berarti untuk James.
Sejak kecil ia selalu bersama dengan ibunya. Namun tanpa kehadiran seorang ayah, James berpikir mungkin itu yang membuat ayah dan ibunya bercerai tiga tahun yang lalu. Dan James tak pernah bertemu lagi dengan ayahnya setelah itu.
"Aksimu bagus sekali tadi." Puji Harry.
"Bagus? Aku kalah, Dad."
"Itu hanya persepsi saja, James."
"Kau tau apa soal bertarung? Kau hanya seorang agen travel."
Harry terdiam.
Harry berdiri dan membungkuk di samping James untuk mengambil tas miliknya. Tiba-tiba seseorang memukul pantatnya dari belakang. Harry berbalik.
"Sakit?–" Tanya pelatih Hank. Ia mengacungkan jari telunjuknya di hadapan wajah Harry. "– itu hanya kelemahan yang meninggalkan tubuh."
Harry tak menjawab. Pelatih Hank berbalik pergi.
"Oh, Dad." Keluh James. Ia berjalan keluar meninggalkan Harry di belakangnya.
Suara klakson mobil terdengar dari depan tempat kursus karate tersebut. James menghampirinya.
Kaca mobil itu terbuka, menampakkan seorang wanita berambut merah di kursi pengemudi.
"Hai, James." Sapanya pada James.
"Hai, mom." Jawab James acuh dan memilih langsung memaduki kursi belakang mobil. Ia langsung memasang headset di telinganya. Harry mengekor di belakang.
"Wow, halo Harry. Lama tidak bertemu. Aku tidak tahu kau ada di kota." Ujar Ginny Weasley kepada Harry.
"Umm, yeah. Aku liburan beberapa hari." Jawabnya. Ginny tersenyum.
"Kau adalah satu-satunya agen travel yang kutemui yang benar-benar pergi travel."
Harry balas tersenyum palsu.
"Well, Ginny. Aku hanya disini beberapa hari jadi bisakah kau...–" Harry bingung bagaimana harus mengungkapkannya. "–bisakah aku,kau dan James pergi makan bersama? Kau tau, sebagai keluarga?"
Ginny menghela nafasnya.
"Aku ada kencan malam ini, Harry. Jadi aku tak bisa, maaf. Mungkin lain kali." Akunya menyesal.
James memperhatikan kedua orang tuanya dari kursi belakang. Sebenarnya ia tak benar-benar mendengarkan headset, jadi ia mendengar dengan jelas apa yang kedua orangtua nya bicarakan.
"Baiklah, aku mengerti. Semoga kencanmu berjalan dengan lancar."
Ginny mengangguk. Ia menyalakan mesin mobilnya.
"Sampai jumpa, Harry."
"Sampai jumpa juga, Ginny. Bye, James."
Ginny memacu mobilnya pergi.
Harry memperhatikan mobil Ginny yang menjauh dengan hampa.
Inilah yang membuat rumah tangganya hancur. Ia tak pernah jujur bahkan pada istrinya sendiri.
Harry terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan keluarga. Ginny melewati semuanya sendiri. Hamil, melahirkan, sampai membesarkan James seorang diri. Tugas Harry hanya sebagai mesin pembuat uang. Padahal Ginny butuh lebih dari sekedar itu.
Sampai suatu hari Ginny benar-benar tidak tahan dan meluapkan semua yang ia rasakan pada Harry dan dengan bodohnya ia malah balas berteriak. Yang terjadi adalah mereka bertengkar hebat dan Ginny membawa James pergi bersamanya.
Harry menghela nafasnya. Ia pria paling menyedihkan di dunia.
Draco memasuki apartemen pribadinya di selatan Los Angeles, tidak terlalu jauh dari rumah liburan keluarganya. Ia melepas sunglass yang sedari tadi membingkai wajahnya.
Draco melirik ke atas dan mendapati seorang wanita berbikini merah berenang di atasnya. Ia bersiul.
Ya, salah satu sisi atap apartemennya tebuat dari kaca dan ia tinggal di lantai paling atas. Di atas apartemennya, terdapat kolam renang khusus untuk para penghuni apartemen. Jadi terkadang, ia dapat melihat siapa saja yang berenang di kolam itu.
Tak selalu wanita-wanita seksi yang berenang di atasnya. Ia pernah memergoki seorang pria gendut menyedihkan tengah memuaskan dirinya sendiri di kolam. Draco hampir muntah jika mengingat hal itu.
Pria pirang itu melepas jas nya dan menaruhnya asal di kamar. Ia membuka seluruh pakaiannya dan hanya menggantinya dengan celana panjang. Ia memang lebih suka bertelanjang dada saat di rumah.
Draco membuka kulkas dan mengambil sekotak ice cream dari dalamnya. Ia berjalan ke arah sofa dan menyalakan televisi. Acaranya menampakkan pertandingan tinju kelas dunia.
Ia menghembuskan nafasnya saat bokongnya menyentuh sofa.
"Tidak ada yang lebih menyenangkan dari ini bukan?" Gumamnya pada diri sendiri.
Baru dua suapan masuk ke mulutnya, ia melihat sebuah iklan yang membuatnya melongo.
"Apa kamu mencari seorang pasangan hidup?" Iklan itu memulai. Menampilkan dua sejoli yang sedang bermesraan ria. Draco meletakkan ice cream nya di meja samping sofa.
"Maukah kamu menghabiskan harimu dengan belahan jiwamu dari pada ditempat kerja? Dengan lebih dari enam juta jomblo berkualitas, It' akan membantumu menemukan apa yang kau cari.
Temukan belahan jiwamu dengan sekali 'klik' dan bukalah pintu hatimu untuk awal yang baru.
Tak ada lagi malan kesepian.
Tak ada lagi pagi yang kosong.
Berikan dirimu hadiah cinta.
It' , apa ruginya?."
Draco mengernyit.
"Menyedihkan." Cibirnya.
Harry memukul pria besar dihadapannya, Patrick. Partick balas memukul, Harry menghindar.
Omong-omong, Harry dan Patrick tengah berlatih tinju di ruangan khusus di apartemen Harry. Televisi yang menyala menampakkan pertandingan tinju yang seakan kontras dengan apa yang mereka lakukan.
"Apa kamu mencari seorang pasangan hidup?" Suara dari televisi berhasil menghasilkan perhatian Harry. Ia memukul Patrick beberapa kali, kemudian melirik ke arah televisi.
"Maukah kamu menghabiskan harimu dengan belahan jiwamu daripada di tempat kerja?" Patrick mengangkat tubuh Harry, Harry mengalungkan kedua kakinya ke pinggang Patrick dan menekan kepala botaknya kebawah. Patrick memukul-mukulnya agar lepas.
"Ssst... aku sedang nonton tv." Seru Harry.
"Dengan lebih dari enam juta jomblo berkualitas, It' akan membantumu menemukan apa yang kau cari.
Temukan belahan jiwamu dengan sekali 'klik' dan bukalah pintu hatimu untuk awal yang baru.
Tak ada lagi malan kesepian.
Tak ada lagi pagi yang kosong.
Berikan dirimu hadiah cinta.
It' , apa ruginya?."
"Uwaaa!"
Dan Patrick membanting Harry ke bawah. Ia tertawa.
Savile Row, London.
Seorang pria paruh baya tengah merapikan kain-kain yang akan ia gunakan untuk bahan pakaian berkelas milik tokonya. Tengah malam ini ia hanya sendirian ditemani cahaya remang-remang lampu di ujung ruangan.
Ia tersenyum setelah yakin bahwa kain-kain itu sudah tertata rapih. Ia berbalik dan terkesiap. Ia memegangi dadanya.
"Si– siapa kau?" Tanyanya pada seorang pria yang wajahnya sedikit tidak jelas dalam cahaya remang-remang. Pria itu tersenyum mengerikan.
"Apakah benar kau penjahit terbaik Savile Row?"Tanyanya.
"Se–sepertinya begitu." Jawabnya gugup.
Tom mengeluarkan secarik kain dari dalam saku jasnya.
"Aku ingin kau membuatkanku setelan dengan bahan ini." Ia menyerahkan kain itu. Si pria tua merabanya sesaat.
"Ah, Vicuna Amerika Selatan. Pilihan yang bagus." Pujinya.
"Ya, aku tahu. Tapi aku ingin kau mengingat satu hal–" Tom mengacungkan jari telunjuknya. "– tak boleh ada yang mengenakan setelan yang sama denganku. Hanya aku yang boleh mengenakannya."
"Tentu saja. Dengan bahan ini dan warna ini, aku hanya pernah membuatkan satu setel untuk seseorang yang tinggal sangat jauh dari sini."
"Oh ya? Seberapa jauh tepatnya?" Pancing Tom.
"Los Angeles. Kecuali jika kau memiliki rencana untuk kesana akhir-akhir ini." Pria tua itu menoleh ke arahnya. "Apa kau memiliki rencana kesana akhir-akhir ini?"
Tom berpikir sejenak.
"Sekarang iya."
TBC
2.700++ words...
Anu... sebelumnya aku mau minta maaf karena nggak jadi ngasih adegan Dramione dan Harmione di chapter ini. Karena di chapter ini aku menjelaskan kehidupan pribadi dari masing-masing karakter (meskipun Draco nggak) tapi aku janji chapter depan udah ada adegan Dramione dan Harmione nya...
Sebenarnya saat ini aku masih dalam masa UAS, tapi tanganku ini benar-benar getel mau post, hehe... :D
Balasan Review :
Tenshi Kazenna : aduh, gimana ya :D ceritaku yang lain bener-bener serasa abal-abal tentang cinta-cinta alay. Agak ragu jadinya mau ngepost. Maaf juga soal typo nya ya, emang aku ini bener-bener ceroboh. Chapter 3 up, selamat membaca.
Naraa : makasih banyak lagi buat masukannya. Nah, yang satu ini aku emang bener-bener nggak tau :D aku juga ngerasa aneh sama yang satu ini. Aku sempet nanya ke temenku dan dia jawab udah kasih aja. Salahku juga sih nggak ngecek dulu dari awal. Kamu nggak menggurui kok, justru masukkan kamu membangun bgt. Chapter 3 up, semoga tidak mengecewakan.
R : untuk chapter ini maaf belum ada Dramione nya, insya allah chapter depan udah ada. Makasih loh buat review nya.
Terimakasih kepada kalian yang mau menyempatkan waktu untuk Follow, Favs, RnR.
Maaf juga bila ada typo atau salah-salah kata.
Wabillahitaufik wallhidayah– eh!
Sekian dulu aja lah. Please RnR untuk chapter ini guys.. jangan jadi silent reader, aku tau kalian disana. aku bener-bener seneng walau cuma dua kata dari kalian loh *kisskiss* *kisskiss*
Have a good day and bye...
