Haru Princess Vs Cool Prince

.

.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura

.

.

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

.

.

.

DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!

Selamat Membaca!

Beberapa pasang mata memandangnya. Dia merasa menjadi pusat perhatian ketika Sasuke merangkulnya dan membawanya keluar dari sekolah.

"Aku baik-baik saja, Sasuke-kun."

Sasuke terdiam. Dia tidak menanggapi kata-kata kekasihnya.

Eh? Kekasihnya?

"Siapa itu tadi?"

"Hah? Oh, Utakata maksudmu? Dia yang menolongku saat aku pingsan tadi."

"Oh."

Sakura merasa ada yang aneh dengan Sasuke. Rasanya, tidak biasanya Sasuke jadi kepo seperti ini.

"Memangnya ada apa?"

"Pokoknya, kamu tidak boleh dekat-dekat dengannya dan ini perintah."

"Apa? Aku tidak mau." Sakura mengalihkan pandangannya. "Kita hanya pacaran pura-pura dan kamu tidak boleh mengaturku-"

"Oh, jika begitu akan aku katakan pada Sasori-nii jika kita-"

"Wakatta! Aku tidak akan dekat-dekat dengannya." Sakura tersenyum aneh.

"Good girl."

.

.

Sasori mengusap peluh di dahinya ketika beberapa pelanggan di cafenya sudah pulang. Akhirnya pekerjaannya selesai dan dia tinggal membersihkan cafenya sebelum kembali ke rumahnya.

Yugao sebenarnya ingin menjemputnya, tetapi dia mengatakan pada Yugao untuk istirahat saja di rumah dari pada menjemputnya. Sasori benar-benar bersyukur memiliki kekasih seperti Yugao.

Seorang pria dengan setelan jas miliknya membuka pintu cafe. Matanya memandang sekelilingnya sebelum membuka kacamata hitamnya.

"Apa cafe ini masih buka?"

Sasori menolehkan kepalanya.

"Maaf, cafe ini sudah- Itachi?!"

"Yo." Itachi tersenyum. "Apa kabar, Sasori?"

.

.

Sakura memutar-mutar bolpoint di tangannya dan meletakannya. Dia mengambil ponselnya dan memandang pesan yang masuk.

Utakata Setsuna : Sedang apa?

Tersenyum, jemari lentiknya membalas pesan dari Utakata.

Haruno Sakura : Aku baru saja selesai belajar. Kamu?

Balasan Utakata datang dengan cepat.

Utakata Setsuna : Memkirkanmu.

Blush! Pesan balasan dari Utakata membuat pipinya bersemu merah. Entah mengapa, hatinya berdebar-debar meski itu hanya sebuah pesan yang singkat.

Belum sempat dirinya membalasnya, sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya.

Utakata Setsuna : Bagaimana jika kita jalan-jalan ke kota hari minggu besok?

Sakura merebahkan dirinya di ranjangnya dan tersenyum. Dia membalas pesan dari Utakata.

Haruno Sakura : Boleh.

Balasan Utakata datang dengan cepat.

Utakata Setsuna : Kita bertemu di stasiun. Aku sudah tidak sabar menantikannya.

Sakura memeluk ponselnya dan berteriak kegirangan. Andaikan saja, Utakata datang lebih cepat dari Sasuke. Mungkin dia akan memilih Utakata dan bukan Sasuke.

.

.

"Ini pesananmu." Sasori meletakan secangkir kopi panas dihadapan Itachi. "Tumben sekali kamu mengunjungiku."

"Aku sedang senggang, jadi aku kemari." Itachi menyeruput kopi panasnya. Minuman favoritnya adalah segala sesuatu yang panas atau hangat. "Aku juga ingin membicarakan tentang kedua adik kita."

Sasori mengangkat satu alisnya.

"Maksudmu Sasuke dan Sakura?"

"Dia menceritakan padaku tentang hubungannya dengan Sakura. Awalnya aku tidak percaya, tetapi aku akhirnya yakin ketika mendengar ceritanya. Aku tidak menyangka jika kita akan menjadi besan."

Sasori tertawa. Dia pikir, Itachi mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya lepas. Ternyata hanya perihal hubungan bau kencur adiknya.

"Iya. Aku juga awalnya tidak menyangka. Aku harap, hubungan keduanya baik-baik saja."

.

.

.

.

Sasuke melirik Sakura yang memakan bekalnya dengan lahap. Dua hari belakangan ini, wajah kekasihnya menjadi lebih bersemangat. Dia bertanya-tanya dalam hati perihal berubahnya sisi lain dari kekasih pura-puranya itu.

Dia merasa ada yang aneh. Seharusnya dia tidak perlu peduli pada kekasih pura-puranya ini, toh mereka hanya berpura-pura.

"Ambilkan aku jus."

"Hah?" Sakura yang sedang makan memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya. "Aku sedang makan!"

"Memangnya aku peduli. Cepat ambilkan aku jus tomat."

Sakura merengut kesal dan bangkit dari duduknya. Entah sudah berapa kali Sasuke selalu menyuruhnya ini dan itu. Saat dirinya sedang asyik bersantai di rumahnya, Sasuke tiba-tiba menyuruhnya untuk menemaninya jalan-jalan.

Belum lagi kakinya sakit karena Sasuke tak henti-hentinya keluar masuk toko untuk melihat beberapa pakaian yang sedang diskon. Sebenarnya, Sasuke ini pria atau emak-emak? Kakinya langsung bengkak karena terlalu banyak jalan dan berdiri.

Pemuda itu seolah tidak peduli padanya. Menyebalkan.

Kembali dengan jus tomat di tangannya. Sakura langsung meletakannya dihadapan Sasuke.

"Pesananmu."

"Hn."

Sakura menopangkan dagunya. Benar-benar kebalikan dengan Utakata. Sasuke kw itu benar-benar tahu caranya mengambil hati wanita, tidak seperti Sasuke.

"Oh, Sakura."

Baru saja dipikirkan, Utakata sudah muncul.

"Utakata-kun." Sakura tersenyum ceria. "Makan siang juga?"

"Iya. Tadi ada tugas dari guru dan membuatku harus menunda makan siangku, jadi aku akan makan siang sekarang."

"Jangan menunda makan siang, tidak baik bagi perutmu," ucap Sakura.

"Terima kasih, Sakura-chan." Utakata tersenyum. "Kalau begitu aku akan makan siang dulu."

Sasuke merasakan perempatan siku-siku di dahinya. Entah mengapa, dia tidak suka cara Utakata mendekati Sakura. Dan sepertinya, keduanya memiliki sebuah hubungan.

"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Sasuke.

"Tidak ada. Memangnya ada apa?"

"Apa kau berniat selingkuh di depan mataku?"

"Hah?" Sakura gagal paham dengan apa yang dikatakan Sasuke. "Selingkuh?"

"Berikan ponselmu."

Sakura tanpa rasa curiga memberikan ponselnya. Memandang ponsel milik Sakura, tiba-tiba saja Sasuke menginjaknya hingga hancur.

"Ponselku!" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya. "Apa yang kamu lakukan pada ponselku! Disana banyak data penting!"

"Memangnya aku peduli?"

"Kau menyebalkan!" Sakura bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi Sasuke.

Pria berambut emo itu tidak melakukan apapun selain meneguk jus tomatnya dan memandang Sakura yang berlari keluar dari kantin. Onyxnya melirik seseorang yang sekarang tersenyum.

Dia akan membiarkan orang itu menang. Tetapi, kemenangan akan kembali padanya dalam sekejap.

.

"Sakura sudah pulang." Ino memandang Sasuke.

"Ah, souka." Sasuke mengganggukan kepalanya dan berjalan meninggalkan Ino.

"Kenapa kau menyakitinya?"

Sasuke menghentikan langkahnya.

"Apa maksudmu?"

"Merusak ponsel Sakura. Apakah kamu tidak tahu betapa pentingnya data itu? Semua kenangan Sakura bersama ayahnya ada disana."

"Ayahnya?"

"Ternyata Sakura memang tidak menceritakannya padamu." Ino membalikan badannya. "Kalau begitu, tanyakan langsung padanya."

Sasuke ingin buka suara namun dirinya mengurungkan niatnya. Percuma. Dia memaksa Ino untuk bercerita, dia yakin jika Ino tidak akan buka mulut.

.

.

Sasuke memandang langit-langit kamarnya dan kemudian memandang ponsel milik Sakura yang hancur berkeping-keping. Dia tidak pernah tahu apa isi data milik Sakura di ponselnya. Tetapi, jika Ino mengatakan ponsel itu penting, sudah berarti semua nyawa milik Sakura ada disana.

Tetapi, ada sesuatu yang mengganggunya. Ayahnya? Sebenarnya, apa yang terjadi. Dia tidak paham. Apakah ayah dari Sakura sudah meninggal?

"Sasuke, kenapa mengurung diri?" Itachi membuka pintu kamar adiknya.

"Aniki, kamu mengenal Haruno Sasori, bukan?" tanya Sasuke. "Ceritakan tentang ayah mereka."

.

.

.

"Sakura? Kamu mau kencan?"

Sasori merasa heran ketika adiknya sudah tampil cantik dengan sebuah blus putih yang dipadukan dengan celana berwarna coklat.

"Iya."

"Dengan Sasuke-kun? Tumben sekali dia tidak menjemputmu," ucap Mebuki.

"Bukan dengan Sasuke-kun. Sebenarnya aku hanya ingin mencari buku dengan temanku."

Sasori memandang Sakura dengan pandangan menyipit. Dia mengangkat bahunya tidak peduli.

"Hati-hati dan jangan lupa hubungi nii-san nanti."

Sakura meringis. Bagaimana mungkin dia mengatakan jika ponselnya sekarang hanya tinggal nama?

.

.

Sakura sedikit gugup ketika memandang Utakata yang tampak tampan dengan pakaian santai miliknya. Pemuda itu memasukan ponselnya ke dalam saku celananya ketika melihatnya datang.

"Sudah lama?" tanya Sakura.

"Hm, mungkin sepuluh menit." Utakata tersenyum. "Bagaimana jika kita langsung jalan-jalan?"

.

Rasanya, Sakura belum pernah sebahagia ini. Utakata benar-benar memanjakannya. Mereka bermain game, membeli buku, melihat-lihat berbagai macam akesoris. Utakata lebih murah senyum dan Sakura menikmatinya.

Andai saja, Utakata dan dirinya bertemu sejak awal. Mungkin ponselnya yang berisi kenangan itu tidak akan hilang. Dia benar-benar membenci pemuda Uchiha itu.

"Aku turut berduka untuk ponselmu."

"Eh?" Sakura yang sedang memakan es krim menolehkan kepalanya.

"Aku melihat ponselmu di rusak Uchiha itu kemarin."

"Oh itu, bukan masalah besar." Sakura tersenyum.

"Kamu memang baik hati." Utakata mengusap rambut Sakura. "Mau aku antarkan pulang?"

Sakura menganggukan kepalanya dan berjalan di samping Utakata. Mereka banyak bercerita dan berbagi satu sama lain. Sakura benar-benar nyaman berada disisi Utakata.

"Sakura." Utakata menarik tangan gadis itu masuk ke sebuah gang.

"Utakata, apa ini?"

Tiba-tiba saja Utakata mengunci pergerakan Sakura dan membuat dirinya kesusahan untuk melawan.

"Lepaskan aku!"

"Lepaskan?" Utakata tertawa. "Aku tidak akan melepaskanmu. Sebelum aku bisa mencicipimu, aku tidak akan melepaskanmu."

"Kenapa.. kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Sakura. Pergelangan tangannya memerah karena cekalan Utakata yang terlalu erat.

"Kenapa? Karena aku ingin Uchiha itu tahu, bagaimana sakitnya ketika seseorang yang dicintainya disakiti."

Sebuah batu krikil mengenai belakang kepala Utakata. Pemuda itu menolehkan kepalanya dan melihat seseorang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Hoo.. begitu." Sasuke tersenyum menyeramkan dan berjalan mendekat. "Jika kamu ingin menghancurkanku. Kenapa tidak dilakukan secara langsung? Sekarang aku berdiri dihadapanmu."

"Kau-" Utakata melepaskan Sakura dan memandang Sasuke.

"Kau hanya berani pada wanita, pengecut."

Utakata berlari melayangkan tinjunya namun dengan mudah ditepis Sasuke. Pemuda berambut emo itu memandang Utakata dengan sengit.

"Aku tidak merasa mengenalmu atau menyakitimu."

"Ini karena keluargamu." Utakata memandang Sasuke dengan pandangan menyalang. "Ayahmu, dia melilit keluarga kami dengan hutang. Membuat ayahku harus bunuh diri! keluargamu adalah pembunuh!"

"Ayahku, ya?" Sasuke membantu Sakura berdiri. "Aku tidak peduli dengan ayahku. Jika kau mau membalaskan dendammu pada ayahku, aku tidak keberatan. Tetapi, jika kau menyentuh milikku. Aku akan membunuhmu."

Utakata tidak berkutik ketika melihat tatapan binatang buas milik Sasuke. Pemuda itu mundur ketika melihat tatapan yang tidak menyenangkan itu.

"Ayo Sakura, kita pergi."

Sakura hanya terdiam ketika Sasuke merangkul pundaknya dan berjalan menjauh. Dia benar-benar tidak menyangka jika Sasuke akan datang menyelamatkannya. Ternyata, pemuda yang dikiranya baik malah membuatnya sakit seperti ini.

"Jadi, kamu berniat selingkuh?"

"Eh?" Sakura memandang Sasuke. "Ti-Tidak."

"Dengan jalan bersama ular hitam itu. Apa itu namanya bukan selingkuh?"

Sakura menundukan kepalanya dan menggigit bibirnya. Dia tidak berani menatap Sasuke. Rasa bersalah menyelimutinya.

"Buatkan aku coklat dan kue."

"Hah?" Sakura menatap Sasuke yang tidak balik menatapnya. "Coklat? Kue?"

"Aku tidak suka makanan manis. Jadi, buatkan aku coklat dan kue yang berbau tomat."

Satu senyuman terbit di wajah Sakura ketika Sasuke berjalan mendahuluinya. Dia berlari menghampiri Sasuke dan menggenggam tangannya.

Meski hanya berpacaran pura-pura dan pemuda itu menyebalkan. Entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya menyukai Sasuke.

.

.

Tetapi yang menjadi masalah, dia tidak bisa memasak.

Sudah dua jam dia hanya berbaring di ranjangnya padahal ibunya sudah memanggilnya untuk sarapan. Hari minggu begini dia lebih suka menghabiskan waktunya untuk tidur atau nonton kartun. Dia jarang sekali berada di dapur, jika hanya memasak bento dia bisa. Tetapi kue dan coklat? Mustahil.

Seumur hidupnya, dia tidak peduli dengan yang namanya valentine atau semacamnya. Selain tidak memiliki kekasih, rasanya percuma memberikan coklat pada gebetannya yang notabene adalah lelaki populer.

Jangankan dilihat, dia yakin coklat buatannya akan bernasib di dalam tempat sampah jika dia memberikannya. Jadi, dia memutuskan untuk tidak peduli dengan yang namanya valentine atau segala sesuatu yang berbau coklat dan kue. Dia lebih suka mengkonsumsinya dari pada membuatnya.

Jadi..

Matanya menatap kantung plastik berisi bahan-bahan untuk membuat kue dan coklat. Bagaimana caranya untuk membuatnya?

"Sakura." Sasori melongokan kepalanya. "Sasuke ada di bawah."

Mati aku!

.

.

Sakura mengikat rambutnya asal-asalan dan berlari menuruni tangga. Di tangannya terdapat kantung plastik. Emeraldnya memandang Sasuke yang duduk di ruang tamu rumahnya.

"Sasuke-kun?"

Sasuke mengangkat kepalanya dari ponsel miliknya. Dia tersenyum dan bagi Sakura, itu senyuman dari malaikat maut.

"Bagaimana dengan kue dan coklatku?"

"A-akan aku buatkan." Sakura berjalan menuju dapur.

Pemuda berambut emo itu mengikuti Sakura menuju dapur dan mendudukan dirinya di salah satu kursi. Sakura mengeluarkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan, termasuk buku resep yang kemarin di belinya.

"Sasuke-kun, bagaimana dengan pai tomat?" tanya Sakura.

"Hn, terserah."

Menarik napas panjang, Sakura mulai sibuk dengan bahan-bahan dihadapannya. Sasuke memandangi gadisnya itu sebelum menyeruput kopi hitam buatan Sakura. Ternyata, gadis itu memikirkan bagaimana cara menyenangkannya. Hingga tanpa diminta, gadisnya itu membuatkan kopi hitam untuknya.

Keringat Sakura mengalir sebesar biji jagung. Gadis itu berusaha mengaduk adonan untuk membuat coklat dan pai tomat untuknya. Dalam hati Sakura mengutuk Sasuke yang duduk dengan manis. Mengutuki senyuman menyebalkan yang ditunjukan Sasuke.

Dari balik pintu dapur, Mebuki dan Sasori mengintip. Mebuki tidak bisa menahan pipinya yang merona merah.

"Lihat itu, Sasori-kun. Mereka manis sekali, bukan?" tanya Mebuki.

"Um ya.. mungkin aku bisa meminta Yugao untuk membuatkanku coklat."

.

.

"Sudah selesai."

Pai tomat dan coklat buatan Sakura terlihat begitu menggoda selera. Sasuke mengambil garpu dan memakan pai tomat yang dibuat Sakura. Gadis berambut pink itu memandang Sasuke dengan pandangan takut.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sakura.

"Lumayan."

"Lumayan itu enak atau tidak?"

Sasuke tidak menjawab. Dia bangkit dari duduknya dan meletakan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado yang lucu.

"Aku akan pulang."

"Hah? Hei, Sasuke-kun!"

Sakura merengut kesal ketika Sasuke meninggalkannya begitu saja. Emeraldnya kemudian memandang sebuah kotak yang ditinggalkan Sasuke. Mengambilnya, Sakura membukanya dengan perlahan.

Emeraldnya membulat ketika melihat sebuah ponsel keluaran terbaru di dalamnya. Dia tidak percaya, jika Sasuke membelikannya ponsel. Menghidupkannya, tiba-tiba saja air matanya tumpah.

Memeluk ponsel pink pemberian Sasuke. Sakura tidak tahu harus melakukan apa.

"Terima kasih, Sasuke-kun."

Sasuke tersenyum tipis mendengar bisikan Sakura.

oOo

"Ponsel baru?"

Sakura yang sedang memainkan ponselnya menolehkan kepalanya. Ino duduk di sampingnya.

"Um ya.. Sasuke-kun yang memberikannya."

Ino mengangkat satu alisnya.

"Lalu, data-datanya?"

"Sasuke mengembalikannya." Sakura tersenyum.

Ino menepuk bahu sahabatnya.

"Syukurlah jika kamu bahagia."

.

.

"Sasuke-kun tidak masuk?"

"Ya. Dia absen karena sakit."

Sakura menggigit bibirnya. Sasuke tidak masuk karena sakit, kemarin dia memakan coklat dan pai buatannya. Dia sudah mencobanya dan rasanya lumayan. Tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu pahit. Tidak ada yang salah, tetapi mengapa kekasih pura-puranya sakit?

Apa jangan-jangan, kekasihnya itu keracunan coklatnya? Jika memang iya, dia merasa bersalah sekali.

.

Sakura memandang apartemen dihadapannya. Sebuah apartemen yang mewah, tadinya dia merasa salah alamat ketika sampai disini. Tetapi, setelah memastikannya lagi, dia yakin jika disini kekasihnya tinggal.

Menarik napas panjang, Sakura memegang dadanya. Dadanya berdegub dengan kencang dan rasanya seperti ingin lepas. Bahkan, tangannya gemetar ketika menekan bel.

Ting tong..

Seorang pemuda membukakan pintu apartemen. Sakura membuka mulutnya lebar-lebar.

"Sa-Sasuke-kun?!" Sakura memandang pemuda itu dengan pandangan terkejut. "Apa coklatku begitu beracun? Kenapa wajahmu sekarang berkeriput? Demi Kami-sama! Kenapa rambutmu jadi gondrong seperti ini?! Astaga! Perlukah aku membelikanmu krim anti keriput?!"

"Hah?" Itachi memandang gadis dihadapannya dengan pandangan bingung. "Mencari siapa?"

"Eh?" Sakura mengedip-ngedipkan matanya. "Anda.. bukan Sasuke-kun?"

"Apakah kamu Haruno Sakura?" tanya Itachi. "Namaku Itachi dan aku kakaknya Sasuke."

"Heh.." Sakura merasa luar biasa malu. "Maafkan aku, aku tidak tahu jika anda kakaknya Sasuke-kun."

"Tidak apa-apa Sakura-chan, santai saja." Itachi tersenyum geli. "Ayo masuklah."

Sakura melepas sepatunya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen.

"Kaa-san, lihat siapa yang datang."

Seketika dirinya merasa gugup. Bagaimana jika ibu Sasuke adalah orang yang galak? Lalu, apakah dia cukup cantik hari ini? Bagaimana jika kesan pertamanya sangat buruk?

"Ara?" Mikoto muncul. Wanita paruh baya itu tersenyum. "Apakah kamu Sakura-chan?"

"Um iya, bibi." Sakura tersenyum manis. "Aku datang kesini untuk menjenguk Sasuke-kun. Aku juga membawakan beberapa oleh-oleh."

"Kamu baik sekali." Mikoto mengusap rambut Sakura. "Sasuke suka sekali bercerita tentangmu. Kamu kekasihnya, kan? Kamu mirip sekali dengan kucing peliharaan miliknya sewaktu kecil. Sasuke-kun juga menamai kucingnya dengan nama Sakura."

Ara? Jadi, Sasuke menerimanya menjadi kekasih pura-puranya karena namanya? Dia merasa tersinggung karena disamakan dengan kucing peliharaan milik Sasuke.

"Kaa-san, jangan membuat Sakura-chan semakin gugup." Itachi menengahi. "Kamar Sasuke ada di sudut ruangan, masuk saja."

"Terima kasih, Itachi-nii, bibi."

Dia melangkahkan kakinya menuju kamar milik Sasuke yang ditunjukan oleh Itachi. Membukanya dengan pelan, Sakura bisa melihat Sasuke yang tertidur dengan posisi membelakanginya.

Berjalan dengan pelan, Sakura mencoba untuk tidak membuat suara sekecil apapun. Mendudukan dirinya di sofa yang ada di sebelah ranjang, tangannya terjulur untuk mengusap kepala Sasuke.

"Kaa-san, aku mengantuk." Sasuke berucap dengan malas dan membalikan badannya. "Sakura?"

"Apa aku mengganggumu?" tanya Sakura.

Sasuke tidak menjawab. Dia masih terkejut ketika melihat Sakura ada di kamarnya.

"Kenapa kamu ada disini?"

"Aku dengar kamu sakit, jadi aku datang kesini," ucap Sakura. "Apa ada yang kamu butuhkan? Ingin makan sesuatu?"

"Tidak."

"Sudah minum obat?"

"Ini hanya masuk angin, aku tidak butuh obat." Sasuke membalikan badannya memunggungi Sakura.

Sakura memajukan bibirnya sebelum bangkit dari duduknya. Dia keluar dari kamar Sasuke dan memandang Mikoto yang sedang mencuci piring.

"Ara~ ada apa, Sakura-chan?" tanya Mikoto.

"Dimana aku bisa membuat bubur, bibi?"

"Bubur? Kamu mau membuatkan bubur untuk Sasuke-kun?" Mikoto tidak bisa menahan senyumannya. "Ayo, kita membuat bubur bersama! Sudah lama sekali bibi ingin membuat bubur bersama seorang anak perempuan."

"Eh?" Sakura sebenarnya tidak mengerti dengan maksud perkataan Mikoto. Tetapi, dia mengikuti langkah Mikoto menuju dapur.

.

"Sasuke-kun?" Sakura masuk ke dalam kamar Sasuke membawa nampan. "Aku membuatkanmu bubur."

"Aku tidak ingin makan." Sasuke menjawab dengan posisi membelakangi.

Kruyuk..

Sakura tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar suara perut Sasuke. Pemuda itu begitu tsundere dan membuatnya gemas.

"Ya sudah, jangan salahkan aku jika aku akan menyuapimu."

Sasuke membalikan badannya dan menatap Sakura dengan pandangan horror.

"Aku bisa makan sendiri."

"Baguslah." Sakura meletakan nampan dihadapan Sasuke. "Setelah itu, minum obatnya ya."

Sasuke menatap bubur ayam dihadapannya sebelum memakannya. Rasanya lezat dan perutnya menjadi hangat. Tadinya dia merasa sangat mual, tetapi sekarang rasa mualnya sedikit berkurang.

"Ano.. Sasuke-kun." Sakura memanggil kekasih pura-puranya itu. "Terima kasih untuk ponselnya. Aku menyukainya."

"Hn. Tidak masalah." Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk makan dengan lahap.

"Apa masakannya enak? Aku memasaknya dibantu dengan bibi Mikoto."

Sasuke melirik Sakura yang duduk manis di sofa yang ada di kamarnya. Ada sesuatu yang mengganggunya.

"Kenapa kamu peduli padaku?"

"Hah?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan tidak mengerti. "Pertanyaan macam apa itu?"

"Sudah, jawab saja!"

"Memang peduli membutuhkan alasan?" tanya Sakura. "Aku peduli pada orang-orang disekitarku. Jadi aku tidak tahu, kenapa aku peduli padamu."

Sasuke mendenguskan tawanya.

"Dasar bodoh."

"Hah? Apa kamu baru mengataiku bodoh?"

Meminum obatnya, Sasuke merebahkan dirinya dan membalikan badannya.

"Terima kasih."

"Terima- apa? Kau mengatakan apa?"

"Tidak ada."

"Mou, Sasuke-kun! Katakan sekali lagi, aku tidak dengar!"

"Tidak ada pengulangan, sudah aku katakan." Sasuke menolehkan kepalanya. "Sebagai hukumannya. Bawakan aku bekal besok."

Sakura bisa merasakan pipinya merona merah. Dia memandang punggung Sasuke sebelum menyentuh dadanya sendiri.

Kenapa.. kenapa dadanya berdegub sangat kencang?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Terima kasih untuk semuaaaanyaaaa! Nggak disangka ternyata banyak yang suka sama fict ini ya :3 duhh.. gabisa bales satusatu review kalian, tapi tetep Saku baca dan senyumsenyum sendiri baca review dari kalian.

Untuk Fict You, Saku terkena WB mungkin ada yang mau ngasih ide untuk ending atau selanjutnya.. nanti bisa PM Saku, mana tahu masukan dari kalian bisa membantu.. hehhe..

Yosh yosh! Sampai ketemu di chap selanjutnya!

-Aomine Sakura-