Keesokan harinya…

Seorang anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun keluar dari rumahnya, surai berwarna pink tua itu nampak berkibar-kibar ditiup angin, langkah kakinya terlihat lunglai, ekpresi wajahnya pun lesu tanpa semangat sedikit pun di pagi yang cerah ini. Ia melihat jam tangannya, tepat menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh.

"Wendy pasti sudah sampai di sekolah"

Maka dari itu Chelia mempercepat langkahnya dengan berlari, kejadian kemarin benar-benar membuatnya merasa bersalah, itu adalah penipuan secara tidak langsung baginya, dan tentu saja bukan merupakan hal yang baik. Sesampainya di sekolah nanti, Chelia akan langsung meminta maaf kepada Wendy atas kejadian kemarin, siapa tau dia memaafkan…

"Chelia, Chelia!" teriak seseorang ketika melihatnya sedang berdiri tepat di depan pintu gerbang sekolah

"Lyon, ada apa memanggilku?"

"Aku memerlukan bantuanmu"

"E….eh tapi…" ucap Chelia terputus karena Lyon langsung menarik tangannya

Sebelum bel masuk berbunyi, Chelia dan Lyon sedang sibuk membersihkan kelas karena kebagian tugas piket. Dia sendiri lupa kalau hari ini adalah hari Jumat, saat menyapu pun Chelia terlihat tidak fokus, masalah itu masih menganggunya hingga sekarang, apalagi niatnya untuk meminta maaf harus tertunda karena tugas piket.

"Kamu terlihat tidak sehat, ada apa?"

"Ah tidak apa-apa, aku sudah selesai menyapu"

"Baiklah, tugasku juga sudah selesai"

Ding…dong…ding…dong

Baru saja ia ingin melangkahkan kaki keluar bel masuk sudah berbunyi, perasaan kecewa tergambar sangat jelas dalam wajahnya dan diam-diam tanpa disadari, Lyon memperhatikan tingkah Chelia dari awal hingga bel istirahat berbunyi, saat pelajaran biologi dimulai pun Chelia yang biasanya terlihat serius malah melamun dengan pikiran melayang entah kemana. Dan itu semua membuat seorang Lyon Vastia merasa khawatir.

"Hey" panggil Lyon sebelum Chelia keluar kelas

"Memerlukan bantuan lagi?"

"Tidak, bukan itu. Kamu terlihat aneh selama pelajaran biologi berlangsung…"

"A-apa iya, aku baik-baik saja kok" bantahnya cepat sambil menggeleng-gelengkan tangan, menandakan bahwa itu tidak benar

"Jangan bohong, semua tergambar jelas melalui kedua bola matamu"

"Lyon…"

"Tubuhmu memang berada di sini, tetapi tidak dengan pikiran dan juga hatimu"

Perkataan itu langsung menancap di hati Chelia, siapa sangka orang cuek seperti Lyon bisa mengetahui perbuahan sikap darinya. Mungkin saja rumor itu benar, tentang Lyon yang menyukai Chelia secara diam-diam dan annehnya di antara mereka berdua tidak ada yang membantah rumor tersebut.

"Ya, kau benar"

"Apa kamu mau menceritakannya padaku?" pinta Lyon seakan sangat memohon, membuat Chelia terdiam sesaat

"Nanti saja ya, aku ingin pergi menemui Wendy terlebih dahulu"

Ia berlari menuruni tangga, terdengar begitu tergesa-gesa, setiap orang yang berada di depannya pun langsung dilewati begitu saja. Sekarang dia hanya ingin meminta maaf pada sahabatnya dan kemudian makan dengan tenang tanpa perasaan bersalah. Mungkin Chelia terlalu serius dalam menanggapi masalah ini, memang dia tau jika Wendy adalah tipikal orang pemaaf, hanya saja tindakannya kemarin seperti penipuan, dan itu adalah tindakan jahat yang tidak termaafkan.

Kedua bola matanya tengah mencari sang sahabat ke segala arah, akan tetapi tidak ada siapapun di sana, apa Wendy pergi ke kantin? Tetapi bukankah dia selalu membawa bekal?

"Mencari siapa?" tanya seseorang menepuk bahunya pelan, dia adalah Levy, ketua kelas 7A

"E…eto, apa Wendy ada?"

"Oh hari ini dia tidak masuk, katanya masuk angin. Ada perlu apa dengan Wendy?"

"Ah tidak kok, kira-kira kapan dia masuk?"

"Mungkin dua hari kemudian, kalau mau jenguk saja dia"

"Baiklah, terima kasih"

Mendengar bahwa Wendy tidak masuk dikarenakan masuk angin semakin membuat Chelia merasa bersalah, dia pasti sakit karena berdiri tiga jam nonstop di atas atap sekolah dalam keadaan angin bertiup kencang, kalau saja aku menghentikannya Wendy pasti masuk sekarang, hubungan kami pun masih baik-baik saja seperti dulu, sesalnya dalam hati sambil berjalan menuju kelas. Di sana hanya ada Lyon seorang, seakan memang dia sudah menunggu Chelia sedari tadi.

"Mencari Wendy ya" tebaknya yang dibalas dengan anggukan lemas dari Chelia

"Dia sedang sakit, jadi hari ini tidak masuk"

"Kamu sedih karena Wendy tidak masuk, atau bagaimana?"

"Aku…aku menipunya…"

"Menipu bagaimana?"

"Kemarin aku menyusun rencana untuk mempertemukan Wendy dengan Mystogan-senpai, tetapi aku salah mengenali dan malah memanggil Jellal-senpai…"

"Itu kecelakaan, lagipula mereka kembar, wajar bukan jika salah mengenali? Wendy pasti akan memaafkanmu"

"Tapi… aku sudah cukup mengenali mereka, masa bisa tertukar? Dan tindakan itu seperti menipunya, bukankah jahat?" ceritanya sambil menahan tangis, meremas rok kuat dengan kedua tangannya

"Meskipun sudah mengenal lama kemungkinan tertukarnya masih ada, jangan terlalu menyalahkan dirimu"

"Tidak…aku…aku menipunya, itu tidak merubah kenyataan! Sahabat macam apa aku ini?!"

Akhirnya Chelia pun menangis, memang Lyon sudah menasehatinya untuk tidak menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, tetapi tetap saja Chelia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Lyon tidak berbuat apapun, dia hanya diam memandangi dengan perasaan iba, ucapan apapun yang keluar dari mulutnya tidak akan didengar Chelia saat ini, jadi menghiburnya akan sia-sia saja.

Ding…dong…ding…dong…

"Berhentilah menangis, bel masuk sudah berbunyi"

"Maaf jika aku menyita waktumu"

"Panggil saja jika sedang memiliki masalah, aku akan datang membantumu"

"Terima kasih"

"Aku tidak ingin melihatmu sedih dan berurai air mata, jadi aku akan menolongmu kapanpun dibutuhkan, mungkin dengan begitu kamu akan lebih memperhatikan diriku"

Chelia POV

Siapa sangka ternyata Lyon sangat peduli padaku, ya perkataannya tadi sempat membuatku tersenyum untuk sesaat. Masalah ini harus kuselesaikan sendiri, jangan sampai merepotkan Lyon lebih dari ini. Selama pelajaran berlangsung aku tidak terlalu memperhatikan, sebanyak apapun pikiran postif yang muncul tidak akan pernah membuat perasaan bersalah ini berkurang. Mungkin setelah pulang sekolah aku akan menjenguk Wendy dan juga meminta maaf.

Ketika bel pulang berbunyi…

"Chelia, ada rapat di ruangan OSIS"

"Oh baiklah, tunggu sebentar Mira-san"

Selesai berbenah aku langsung pergi bersama Mira-san, dia adalah teman sekaligus anggota OSIS sepertiku. Jadi hari ini aku tidak bisa meminta maaf kepada Wendy ya…kalau begini terus harus bagaimana selanjutnya? Jujur saja, aku tidak bisa melakukan segala hal dengan tenang kalau memiliki masalah dengan seseorang, maka dari itu prinsipku adalah "meminta maaf jika berbuat kesalahan".

"Baiklah, rapat hari ini sudah selesai, terima kasih untuk partisipasinya" tutup Jellal-senpai yang kemudian keluar ruangan terlebih dahulu

"Kamu tidak terlihat fokus tadi, ada apa?" tanya Mira-san membuat lamunanku terbuyar

"Ah tidak tidak, aku pulang dulu!"

Ya ampun, apa setiap orang yang menyadari perubahan sikapku harus bertanya tentang "ada apa denganmu?" Aku menggembungkan pipi merasa kesal, mereka terlalu melebih-lebihkan masalah ini, tetapi bukankah aku yang paling melebih-lebihkannya?

Hari sudah sore, jam tepat menunjukkan pukul tiga, tidak biasanya rapat OSIS selama ini dan soal hal yang dibahas, aku tidak tau apapun. Ketika hampir sampai di depan gerbang sekolah, aku menghentikan langkah dan langsung bersembunyi dibalik pohon, di sana ada Mystogan-senpai juga Jellal-senpai. Apa memang Mystogan-senpai selalu menunggu untuk pulang bersama? Seingatku ini bukan kebiasaannya.

"Oh, rupanya kamu menungguku" ucap Jellal-senpai terdengar ketus, terlihat tidak senang dengan keberadaan Mystogan-senpai

"Kenapa memang jika aku menunggu kakak untuk pulang bersama?" tanyanya membela diri, merasa tidak suka jika kakaknya menanyakan hal seperti itu

"Ya lagipula itu bukan kebiasaanmu, ada perlu apa menungguku?"

"Tidak ada perlu apa-apa"

"Kalau begitu pulang saja sana, dasar pengecut!" Jellal-senpai mengucapkan dua kata terakhir dengan sangat keras, seperti berteriak

"….."

"Kalau aku sedang berbicara jangan mengalihkan padangan begitu saja!"

Langsung saja tanpa pikir dua kali Jellal-senpai menarik kerah seragam adiknya itu, aku dapat melihat semuanya, rasa marah penuh kekecewaan terpancar jelas dari raut wajah senpai. Meski sudah diberi ancaman Mystogan-senpai tetap mengalihkan padangannya, seakan berkata 'aku menantangmu' meski kupikir dia tidak akan berbuat sampai sejauh itu.

"Apa kamu tau jika hal yang kamu lakukan kemarin membuat Wendy sedih, membuat Chelia sedih juga?!"

"…"

"Kamu terus menghindarinya selama ini, sampai-sampai menyuruhku untuk menemui Wendy menggantikan dirimu"

"…."

"Mystogan, jika kamu memang laki-laki temuilah Wendy secara langsung, jangan menghindar terus!"

"…."

"KAMU MENDENGARKANKU TIDAK?!"

"…."

Belum pernah kulihat Jellal-senpai semarah itu, dan aku juga tidak pernah melihat Mystogan-senpai melawan sampai sebegitunya. Karena amarah yang sudah berada dipuncak, tanpa segan-segan Jellal-senpai meninju wajah adiknya sendiri hingga terjatuh, bahkan memar begitu parah. Aku sebagai saksi dari kejadian tersebut hanya bisa diam mematung, tidak tau harus berbuat apa.

"Jangan diam saja! Kalau kamu memang tidak suka dengan sikapku kenapa tidak melawan?!"

"Bukankah itu tidak sopan?"

"Kesampingkan saja etika untuk sekarang! Mystogan, aku tidak suka dengan sikapmu yang pengecut, kenapa saat itu kamu menolak untuk datang, kenapa kamu tidak ingin menemuinya, kenapa?! Jika kamu membuat Wendy tersakiti lebih dari ini, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu lagi!"

BRAKKK…!

Mataku terbelalak saat melihat Mystogan-senpai memukul Jellal-senpai, siapa sangka orang pendiam sepertinya pun bisa sangat sadis di saat-saat tertentu.

"Kakak tidak mengerti apapun! Aku…aku sangat ingin menemui Wendy, aku ingin mengobrol dengannya seperti dulu, tapi…tapi…"

"Tapi apa, kamu merasa malu?!"

"Ya, aku merasa malu untuk menemuinya! Adikmu ini memang orang yang pengecut, aku takut jika harus jatuh cinta sekali lagi"

"Wendy bukanlah orang sialan sepertinya! JIKA KAMU TIDAK MEMILIKI KEBERANIAN BAGAIMANA BISA KAMU TAU KALAU WENDY ADALAH ORANG SIALAN SEPERTINYA?!"

"DIAM! JANGAN BICARAKAN DIA LAGI DI DEPANKU, JANGAN KATAI WENDY ORANG SIALAN, DIA BUKANLAH ORANG SEPERTI ITU!" balas Mystogan-senpai membentak, tetapi terdengar penuh penyesalan dibandingkan amarah

"Kamu tau jika Wendy bukanlah orang seperti itu, lalu kenapa masih ragu-ragu?! PAYAH, KAMU PAYAH!"

Setelah saling membentak, mereka berdua kembali berkelahi, saling meninju tanpa rasa ragu sedikitpun. Mendengar percakapan itu menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam benakku. Apa benar jika Mystogan-senpai sengaja melakukan hal seperti itu, jadi aku tidak salah mengenali? Tapi tetap saja, ini terlalu sulit untuk dipercaya…

"Senpai, kumohon hentikan!" teriakku berlari ke arah mereka berdua, memeluk pinggang Jellal-senpai erat hingga dia pun berhenti

"Chelia…?" panggil Jellal-senpai merasa kaget dengan keberadaanku yang muncul tiba-tiba

"Kalian ini bersaudara bukan? Jika ada masalah seharusnya dibicarakan baik-baik, tidak perlu sampai berkelahi bukan?!"

"Mystogan, terserah kamu saja, mau meminta maaf kepada mereka, mau menghindari Wendy terus-menerus, ingin menyakitinya seperti kemarin, lakukan sesukamu. Tetapi aku tidak akan tinggal diam, jika kamu terus melakukan tindakan pengecut seperti itu, akan kurebut Wendy darimu!"

"….."

"Orang sepertimu tidak pantas bersama gadis baik sepertinya…" ucap Jellal-senpai berlalu, meninggalkanku dan Mystogan-senpai di depan gerbang

"Jellal-senpai…" panggilku pelan dengan mata berkaca-kaca

"Maaf membuatmu terlibat, jangan ceritakan ini pada Wendy ya, kumohon" pinta Mystogan-senpai berharap sepenuhnya kepadaku

"Ba-baiklah, kejadian hari ini akan menjadi rahasia kita bertiga"

"Tetapi cepat atau lambat, Wendy akan mengetahui hal ini" ucapku sebelum Mystogan-senpai pergi, ia hanya mengangguk tanda mengerti, seakan sudah menduganya dari awal

-ll-

"Bahkan saudara sekalipun pernah bertengkar, kira-kira bagaimana selanjutnya ya…?"

Aku jadi penasaran tentang hubungan kedua saudara kembar ini selanjutnya, apa mereka akan terus bermusuhan, atau mungkin saling memaafkan? Ya tidak ada yang tau hingga hari esok tiba.

Bersambung…