"Kau itu, Sasuke.."

"Apa pernah melupakan seseorang?"


©Characters; Masashi Kishimoto

©Story; coldheather

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Naruto. Aku tidak percaya Naruto menanyakan hal yang sama seperti pemuda yang ada di dalam mimpi burukku itu.

"Aku tidak pernah melupakan seseorang." jawabku tenang. Meski sebenarnya aku tidak suka dengan pertanyaan seperti itu.

"Kau yakin?" Naruto menyindirku dengan pertanyaannya.

"Hm." aku masih menjawabnya dengan tenang.

"Sasuke, aku tidak bisa tinggal diam. Dulu kau tidak seperti ini. Sekarang sejak kita pindah kesini kau sering kesakitan dan kau terus diteror oleh pemuda itu. Kau pikir itu hanyalah penyakit biasa yang bisa dilihat dengan mata kepalamu sendiri? Dengan alat-alat medis yang super canggih? Tentu tidak!" pekik Naruto.

"Lalu? Kau mau bilang jika penyakitku itu adalah ulah makhluk-makhluk yang tak kasat mata?" nada suaraku meninggi. Ocehan Naruto cukup membuatku kesal.

"Tentu saja!" tak kalah tinggi, Naruto menyentakku. "Aku tahu itu bukan dari dunia ini. Semua itu dari dunia lain. Dunia roh!"

"Persetan dengan apa yang kau sebut dunia lain atau dunia roh, Naruto. Aku tidak percaya dan tidak akan pernah percaya!" aku menyentaknya balik.

Naruto tampak marah. Wajahnya memerah, dan bibirnya seperti hendak mengeluarkan kata-kata kasar. Aku tahu. Aku mengetahuinya. Aku sudah cukup lama berteman dengan Naruto. Aku tahu kebiasaannya.

Aku menghela nafas pelan, mengatur nafasku agar kembali tenang. "Naruto." nada suaraku tidak meninggi. Hanya terdengar berat dan dingin.

Naruto menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti. Antara marah, kesal, atau mungkin keduanya.

"Apa karena ini kau bertanya seperti itu pada yang lainnya?" aku mengingat pertanyaannya tadi pagi. "Apa kau ingin mengajak yang lainnya untuk percaya padamu?" aku semakin serius.

Naruto mengalihkan pandangannya. "Sudahlah. Tidak usah dibahas." ucapnya, sama berat dan dinginnya denganku. Dia bangkit dari tempat tidur kami, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Aku menatap punggung Naruto yang semakin menjauhiku. Apa aku sudah melakukan hal yang salah? Baru kali ini aku melihatnya seperti itu.

"Sasuke."

Suara berat Naruto membuyarkan lamunanku. "Hm?" sahutku.

"Pertanyaanku tadi pagi tidak ada hubungannya denganmu. Aku hanya ingin tahu saja."

"Ingin tahu apa?"

"Sudahlah. Kau tidak perlu tahu." Naruto membuka pintu kamar mandi, lalu masuk ke dalamnya dengan berat sebelum akhirnya dia mengunci pintu kamar mandi.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Sudahlah lebih baik aku tidak memikirkannya lebih panjang. Akan kuanggap pembicaraan ini tidak pernah ada.


Malam harinya aku pergi ke minimarket dekat kampus. Aku membeli beberapa minuman kaleng dan juga roti isi. Setelah membayar belanjaanku, aku duduk di tempat duduk yang sudah disediakan oleh minimarket itu. Masih banyak orang yang duduk-duduk disini. Hampir semua adalah muda-mudi sepertiku.

Krek.

Aku menarik pengait kaleng sodaku. Seharusnya aku tidak boleh meminum soda karena penyakit di perutku. Tapi, masa bodo dengan itu. Minum sekali saja tidak akan membuatku mati.

Aku meneguk sodaku. Betapa segarnya kerongkonganku saat ini. Aku merobek bungkus roti isiku, lalu memakannya sambil menikmati keindahan Tokyo saat malam hari. Ah, betapa nikmatnya hidup jauh dari orang tua. Aku bisa keluyuran tanpa ada yang memarahiku. Jika aku masih tinggal bersama orang tuaku, kedua orang tuaku pasti akan memarahiku jika aku pulang atau keluar malam. Tapi untungnya kakakku mengerti kebutuhanku. Dia tidak pernah marah jika aku pergi dan keluar malam. Asalkan aku tidak melakukan yang aneh-aneh.

Disaat aku sedang menikmati malamku seorang diri, aku melihat sosok perempuan yang kukenal sedang berduaan dengan seorang pemuda asing. Tidak, tidak. Bukan 'berduaan' dalam arti sepasang kekasih yang tengah memadu kasih. Lebih tepatnya, mereka sedang melalukan aktifitas mereka hanya berdua.

Aku mengawasi mereka dari kejauhan, dari tempatku duduk. Perempuan itu, Hyuga Hinata. Dia adalah kekasih Naruto sekaligus adik Neji. Dan dia sedang bersama seorang pemuda asing berkulit pucat dan berambut putih keabuan.

Mereka berdua berjalan menuju ke arahku. Lebih tepatnya ke arah minimarket. Aku hanya diam dan sibuk memakan roti isiku. Sampai akhirnya kedua mata kami bertemu.

"Ah! Selamat malam, Sasuke-kun! Kebetulan sekali kita bertemu disini." Hinata menyapaku.

"Malam." aku menyapanya balik. Aku menatap pemuda di sebelahnya, lalu kembali menatap Hinata, menunggu penjelasannya.

"Sasuke-kun, perkenalkan. Ini sepupuku, Toneri-kun." Hinata memperkenalkan pemuda itu padaku. Ah. Hanya sepupunya. Kukira selingkuhannya.

"Salam kenal. Otsutsuki Toneri." pemuda itu tersenyum padaku. Aku tersenyum kecil untuk meresponinya.

"Uchiha Sasuke." aku memperkenalkan diriku.

"Mulai malam ini Toneri-kun akan tinggal di Tokyo. Dia akan kuliah di Todai (universitas Tokyo)."

Todai? Universitas nomor satu di Jepang itu? Wow. Toneri ini pasti sangat pintar. Bukan berarti aku tidak pintar. Hanya saja, aku tidak suka yang disiplinnya terlalu tinggi dan jadwal belajar yang berat. Karena itu aku memilih kampus yang biasa-biasa saja tapi cukup bergengsi.

"Begitukah? Selamat, ya." ucapku seenaknya.

"Selamat untuk apa, Sasuke-kun?" tanya Hinata.

"Selamat karena sudah menjadi mahasiswa Todai. Sangat susah untuk diterima disana. Kau harus sangat pintar dan disiplin." jelasku.

"Ahaha. Ya, begitulah. Toneri-kun memang sangat pintar. Tapi dia tidak terlalu disiplin lho. Dia juga sering bolos. Untung saja dia pintar." kekeh Hinata.

Ah. Begitukah? Baguslah. Tidak, tidak. Aku tidak iri. Aku juga bisa masuk Todai jika aku mau. Hanya saja, aku tidak suka repot dan mengikat. Selain itu, jika aku masuk Todai, aku tidak akan bisa berkumpul dengan Naruto. Tugas-tugas yang diberikan pasti sangat banyak dan belum tentu satu hari hanya ada satu tugas. Todai hanya dipenuhi oleh orang-orang yang tidak punya hidup.

"Kalau begitu, sampai jumpa lain waktu, Sasuke-kun. Kami akan ke minimarket." ucap Hinata dengan senyum lebarnya.

Aku hanya mengangguk. "Hm. Sampai jumpa lagi." singkatku.

"Ayo, Toneri-kun!" Hinata menarik ujung kemeja Toneri. Aku dapat merasakannya. Toneri yang sejak tadi diam, sebenarnya dia tengah memperhatikanku. Apa? Mau mengajak kelahi, ya?

"Tunggu sebentar, Hinata-san. Ada yang ingin kukatakan pada Uchiha-san."

Huh. Terlalu formal. Aku sedikit tidak nyaman.

"Apa?" tanyaku penasaran.

Toneri menatapku. Bola mata biru terang itu membuatku semakin tidak nyaman. Seperti, memasukki alam bawah sadarku dan mengacaukannya.

Tunggu.

Alam bawah sadarku? Apa yang kubicarakan? Mana bisa seseorang melihat ke alam bawah sadarku dan mengacaukan- Hey! Hentikan!

Ngh!

Aku meringis kesakitan dalam diam. Aku tidak mau orang-orang disekitar menatapku dengan tatapan aneh mereka. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Toneri padaku. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya merasakan sakit. Kepalaku pusing. Aku melihat potongan-potongan masa laluku seperti sebuah klise foto. Aku hanya dapat melihat wajahku saat kecil. Hanya wajahku. Meski aku sedang berbicara dengan orang lain. Aku tidak tahu itu siapa. Ayah? Ibu? Kakak? Aku bahkan tidak pernah ingat kejadian itu.

Semakin lama semakin sakit.

"T-Toneri-kun! Apa yang kau lakukan?!" pekik Hinata. Ya, Toneri. Apa yang kau lakukan padaku?

"H-Hentikan!" pekikku pelan. Aku menggigit bibir bawahku agar ringisanku tidak terdengar.

Aku mendongak, menatap Toneri. Kedua bola mata biru terangnya meredup. Bersamaan dengan redupnya bola mata Toneri, aku merasa sakit di kepalaku perlahan-lahan menghilang.

"Hhhh... Hhhh." aku menghela kesakitan. Aku dapat merasakan tubuhku berkeringat dingin, dan jantungku berdegup cepat. Apa yang terjadi padaku? Tidak, lebih tepatnya..

"APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN PADAKU?!" pekikku pada Toneri. Suaraku meninggi. Aku tidak bisa mengaturnya.

"Uchiha Sasuke." ucap Toneri dingin.

"Huh?" sahutku.

"Kau telah melupakan seseorang."

"Huh? Apa maksudmu?!" aku menatapnya dengan tatapan tak suka. Apa baru saja dia melihat masa laluku? Hey, itu tidak sopan!

"Kali ini cukup segini saja." ucap Toneri dengan santainya. "Jika kau butuh sesuatu, kau tahu kepada siapa kau meminta bantuan."

"Tch!" aku mendecak tak suka. Apa-apa apaan Toneri ini? Dia berlagak seperti tahu segalanya tentangku! Menyebalkan.

"Ah. Kau masih disini, Hinata-san. Padahal aku sudah menyuruhmu untuk duluan saja."

Jangan mengabaikanku, SIALAN!

"A-aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian dengan Sasuke-kun."

"Hm? Memang kenapa?"

"Aku takut kau akan berlebihan padanya."

"Haha. Tentu tidak." Toneri terkekeh. Aku semakin kesal melihatnya. "Ya sudah. Ayo kita ke minimarket." ajaknya pada Hinata.

"Um! Baiklah!" Hinata mengiyakan. Dia tampak semangat.

"Ja, kalau begitu, kami pergi dulu. Selamat tinggal, Sasuke-kun!" seru Hinata.

"Hm." aku hanya mendehum dalam kesal.

Mereka berdua pun perlahan menjauh dariku. Aku menatap sinis pada mereka sambil kembali meminum sodaku untuk menenangkan diri. Aku menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang. Sebenarnya, apa yang kulihat tadi? Aku tidak pernah mengingat kejadian itu. Apa aku benar-benar melupakannya, ya?

Ah, tapi tidak mungkin! Aku tidak mungkin lupa. Meski aku lupa pun kalau sudah diingatkan seperti itu pasti aku akan langsung ingat. Tapi ini aku tidak ingat sama sekali. Aneh. Mungkinkah Toneri hanya bermain-main? Atau mungkin dia sedang menciptakan ingatanku sendiri?

Sudahlah. Tidak usah kupikirkan. Kejadian tadi akan kuanggap tidak pernah ada. Lagi.

Tapi sebenarnya, Toneri itu apa? Kenapa dia bisa melakukan itu? Apa itu semacam kekuatan supranatural? Tidak, tidak. Supranatural hanya ada di dalam dongeng. Kekuatan Toneri tadi aku yakin hanya semacam hipnotis.


Ruangan gelap itu. Lilin yang sisa setengah. Suara erangan kesakitan yang mencekam dan memilukan. Boneka porselen itu. Pemuda berkemeja putih. Pisau lipat. Sebuah wadah. Sarung tangan bedah. Semua sama. Mimpi buruk yang setiap hari menghantuiku. Perut boneka porselen yang dirobek dengan pisau lipat. Dan pemuda berkemeja putih yang perlahan memutar kepalanya dan berkata,

"Kau.. Melupakanku?"

"HAH!" aku terbangun dari mimpi burukku.

"Hhhh. Hhhh.." aku terengah-engah. Nafasku kacau. Keringat dingin membasahi tubuhku. Aku takut. Ya, meski mimpi ini sudah menghantuiku berbulan-bulan, aku masih tetap ketakutan. Entah apa yang kutakutkan. Seharusnya aku tidak perlu takut lagi. Seharusnya aku sudah terbiasa.

"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Naruto yang tidur di atasku menunduk dari tempat tidurnya.

Aku mendongak, tapi,

"ARGHH! PERGI KAU!" aku berteriak sambil berlari secepat mungkin ke sembarang arah. Mimpi buruk. Ini pasti mimpi buruk. Mimpi yang terasa nyata.

"Oi, Sasuke! Kau kenapa?"

Aku mendengar langkah kaki Naruto yang hendak mendekatiku. Tidak, bukan Naruto. Lebih tepatnya sosok pucat yang sangat mirip denganku. Sial! Apa-apaan tadi? Kenapa aku melihat diriku sendiri?! Apa aku benar-benar sedang bermimpi?

"Sasu-"

"JANGAN MENDE-!" aku tercekat saat aku melihat sosok di depanku bukanlah sosok yang mirip denganku. Sosok yang kulihat saat ini adalah sahabatku sendiri. Ya, tidak salah lagi. Itu Naruto.

"Sasuke?" Naruto memanggil namaku. Tangannya melambai di hadapan wajahku.

Aku mengedipkan kedua mataku dengan cepat, membuatku tersadar. "Ugh." ringisku pelan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto. Dia terdengar khawatir.

"Hm." jawabku. Aku masih tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Otakku terlalu lelah untuk berpikir.

"Ayo kita kembali tidur." ajaknya.

Aku mengangguk menuruti ajakannya. Aku kembali ke tempat tidur kami. Aku tidur di bawah sedangkan Naruto di atas.

"Sasuke." Naruto memanggilku dari atas.

"Hm." sahutku datar. Aku masih memikirkan apa yang kulihat tadi.

"Apa kau benar-benar tidak apa-apa? Kau tampak ketakutan saat melihatku tadi. Apa ada sesuatu yang aneh?"

Aku terdiam untuk beberapa saat. Aku kembali mengingat sosok yang mirip denganku itu. Siapa dia? Kenapa aku melihatnya? Apa jangan-jangan dia adalah pemuda di mimpi burukku?

"Sasuke?"

Lagi, Naruto membuyarkan lamunanku.

"Ah. Aku tidak apa-apa." jawabku untuk membuat Naruto kembali tenang.

"Sasuke, jujur saja padaku. Aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku tahu jika kau berbohong atau jujur."

Aku menarik nafas panjang. Bukannya aku tidak mau jujur. Tapi, aku tidak mau percaya dengan apa yang kulihat. Selain itu, kenapa tiba-tiba aku melihat sosok itu? Aku tidak mau percaya dengan apa yang disebut roh, arah, atau hantu. Tapi, sosok yang kulihat itu terasa sangat nyata.

"Berhenti mengabaikanku, Sasuke." ucap Naruto. Dia terdengar sedang tidak main-main.

"Maafkan aku, Naruto. Kita bicarakan saja besok. Aku sangat lelah." aku mengalihkan pertanyaannya.

"Baiklah kalau itu maumu. Tapi, Sasuke. Jujur saja ya. Semenjak kau pulang tadi aku merasa kau tidak lagi seorang diri."

HUH? APA?

Kedua pupil mataku membulat. Seketika keringat dingin mulai membasahiku. Tidak, tidak ini tidak mungkin. Aku tidak percaya dengan hantu atau apa pun itu. Aku seharusnya tidak memikirkannya. Apa yang terjadi? Ugh, keringat dingin ini.. Apa aku ketakutan?

"M-Maksudmu apa, Naruto?" aku menatap Naruto dengan emosi. Entahlah. Tubuhku terasa panas. Dan tatapanku cukup membuat Naruto sedikit berdecak.

"Entahlah." Naruto tampak berpikir. "Aku hanya merasakan ada seseorang yang bersamamu. Tidak. Mungkin lebih tepatnya, seseorang yang seharusnya berada bersamamu."

Deg!

TBC

[ Author's note.

Terimakasih buat Lin Xiao Li dan uchihasenjuuzumakinaruto yg sudah comment dan like. Keep reading ya.~ ]