Sasuke meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di kursinya, sejenak ia mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya dan hanya ada beberapa siswa yang hadir. Sepertinya ia kepagian, atau mungkin teman-teman sekelasnya yang terlalu malas sehingga mereka akan masuk ke kelas hanya pada detik-detik menjelang bel masuk.
"Sepertinya seseorang sedang bahagia."
Ia mendongak dari buku yang dibacanya untuk menatap Neji berjalan ke arahnya, tepatnya ke arah tempat duduknya sendiri di samping Shikamaru.
"Siapa?"
"Uchiha Sasuke-sama? Sesuatu terjadi hari minggu kemarin? Kau baru saja melakukan seks tanpa pengaman dengan wanita bayaran?"
"…" Sasuke mengabaikanya.
"Tapi karena sekarang orientasi seksualmu meragukan, mungkin bukan wanita tapi—"
"Neji. Bisakah kau berhenti memfitnah dengan pernyataan yang seolah-olah terjadi?"
Neji hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum menatap wajah kesal Sasuke. Meski sudah terbiasa dengan candaan Neji yang terkadang menyakitkan, atau lebih sering menjijikkan, tetap saja merasa aneh setiap kali mendengar kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut seseorang seperti Neji yang dari luar terlihat seperti… ah sudahlah, memikirkannya hanya membuang-buang waktu.
Setelah lima belas menit hampir berlalu, satu persatu teman sekelasnya mulai berdatangan, dan ia tetap fokus pada buku yang dibacanya sebelum merasakan seseorang berdiri di samping mejanya. Ia mendongak, menemukan Naruto di sana meletakkan satu buku di atas mejanya dan bergumam pelan, mungkin hanya orang-orang terdekat yang mendengarnya.
"Kau meninggalkannya di rumahku."
Sejenak sekelas hening tanpa suara, entah dari mana bunyi krik krik berasal namun semua mata menatap ke arahnya.
Dan terus seperti itu hingga Kakashi memasuki kelas dan heran melihat siswanya yang biasanya selalu berisik mengalahkan suara pasar tradisional diam seperti ini. "Umm, halo?"
"Bukankah itu mengejutkan?"
"Jadi sekarang mereka berteman?"
"Ternyata Sasuke tak sejahat yang kita pikirkan."
"Apa kau menonton Spongebob tadi pagi?"
"Jadi kekasih pun mereka cocok."
"Siapa? Spongebob dan Patrick?"
"…"
"…"
"Maksudnya Naruto dan Sasuke-kun."
"Fujoshi never dies."
Entah siapa saja yang berbicara, Sasuke tak begitu memedulikannya, tapi entah kenapa untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa sangat malu dan ingin menggali lubang lalu bersembunyi di sana saat mendengar teman-temannya terus membicarakannya.
"Oh. Nice development, Sasuke-kun," ia mendengar Shikamaru berbisik dari belakangnya.
"Jadi, seksnya dengan dia?" Neji pun ikut berbisik padanya dan ia tak tahan untuk tidak memicingkan matanya ke arah Neji dengan 110% kekesalan.
Sementara Kakashi beridiri di depan kelas sambil memiringkan kepalanya, melihat tak seorang pun siswanya memedulikan kehadirannya di sini.
"Uhm, hello again?"
I See You © Kei
Chapter 3
[if love is what describes this feeling, then I've been loving you the whole time]
Malam itu Sasuke tak tahu apa yang harus dikatakan, atau mungkin ia tak ingin merusak kesunyian yang terasa nyaman di antara mereka. Ia merasa sedikit heran menemukan rumah Naruto yang terlihat normal, tidak seperti yang ia bayangkan. Hanya terlihat sepi, tanpa kehadiran siapapun, dan Sasuke tak merasa mereka cukup dekat untuk menanyakan apa yang ingin ia tanyakan.
"Apa kau mau minum sesuatu?"
"Huh?" Sasuke menatap Naruto dengan wajahnya yang belum konek sambil ia berdiri di depan pintu setelah meletakkan sepatunya.
"Hm?"
"Tidak, terima kasih," Sasuke menggeleng dan mengikuti Naruto yang berjalan menuju lantai dua di kamarnya.
Ia hanya berdiri di dekat pintu menatap Naruto yang menggelar dua futon di lantai, meskipun ada ranjang yang menganggur. Sesaat rasanya kesadarannya kembali dan ia bertanya-tanya bagaimana ia bisa berada di sini, di situasi semacam ini, dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan akan membuatnya hilang kontrol seperti ini. Namun saat ia melihat Naruto yang kini menatap ke arahnya sambil tersenyum tipis, dan menunjuk satu futon di bawahnya, Sasuke merasa bahwa saat ini, detik ini, di sinilah tempatnya. Bahwa hatinya yang membawa langkah kakinya, bahwa dirinya yang sekarang tak akan takut untuk mengatakan bahwa detak jantungnya yang terasa cepat karena ia dapat berada begitu dekat dengan Naruto. Meski tanpa kata, hanya dalam senyap yang merayap bersama detak jam dinding yang terdengar begitu nyaring, ia tahu Naruto tahu mengapa ia berada di sini.
"Kau bisa tidur di ranjang," Sasuke meletakkan tasnya dan melepas kaos kakinya sebelum ia duduk di futon.
Naruto hanya menggeleng dan berbaring menghadapnya. Sasuke merasa ia ingin sekali dapat membaca segala yang tersembunyi di balik dua mata biru itu, agar ia tahu apa yang harus ia katakan. Namun untuk saat ini, berada di sini, berbaring berdampingan dan bertukar kata melalui tatapan, rasanya dunianya belum pernah terasa sama.
….
"Sasuke."
Sasuke mengerjapkan matanya sejenak dan mengumpulkan kesadarannya, rasanya otaknya blank meskipun ia telah membuka mata menatap langit-langit kamar yang tidak familiar, dan atmosfer ruangan yang begitu berbeda dari kamarnya yang biasa.
Lima detik berlalu, dan ia dengan tiba-tiba mendudukkan dirinya dengan cepat membuat pandangan matanya sedikit kabur saat mengingat ia berada di mana.
"Ugh."
Naruto sedikit kaget melihat Sasuke melakukan gerakan tiba-tiba seperti itu, sejenak ia hanya diam menatap Sasuke, namun beberapa detik kemudian ia menutup mulutnya dengan satu tangan melihat bentuk rambut Sasuke yang mencuat ke segala arah, dan wajahnya yang masih saja menunjukkan ekspresi bertanya-tanya mengapa ia ada di dunia ini.
"Uh, hai," Sasuke mengucek matanya sebentar sebelum menatap Naruto, dan menyadari bahwa Naruto sedang menertawakannya, meski orang lain tidak akan mengetahui tawa tersebut yang hanya bertahan sepersekian detik tapi Sasuke tahu. Ia cepat-cepat berdiri dan menatap sekelilingnya, saat Naruto berdiri dan berjalan keluar ia hanya mengikutinya dengan membawa tas dan kaos kakinya dan masih memproses harinya kemarin, kronologi mengapa ia berada di sini.
Ia lambat berpikir saat bangun tidur, pernah sekali Itachi mengatakan kalau ia berjanji untuk membersihkan rumah dan masak pada hari Minggu menggantikan Itachi sesaat setelah ia bangun tidur dan pagi itu ia benar-benar melakukannya, ia baru sadar Itachi menipunya setelah ibunya menanyakan mengapa ia melakukan tugas mingguan dua kali berturut-turut.
Naruto menunjuk ke lorong sebelah kiri dan Sasuke mengangguk, ia meletakkan tasnya dan berjalan ke arah sana untuk menemukan kamar mandi. Ia tak mengatakan apapun tapi Naruto tahu apa yang ia cari, rasanya mereka hanya berkomunikasi melalui tatapan dan bahasa tubuh dan Sasuke akui bahwa itu tak begitu buruk, karena ia bukan orang yang mudah bersosialisasi dan banyak bicara.
Ia tak ingat jam berapa ia tertidur, tapi rasanya dirinya masih sangat mengantuk dan mungkin hanya tidur selama dua atau tiga jam tadi malam. Tak ada yang ia lakukan, ia hanya membaca buku dengan menggunakan penerangan dari ponselnya atau menatap Naruto yang tertidur di sampingnya. Beberapa kali ia melihat Naruto yang mengernyit dan terlihat gelisah meskipun ia sedang tertidur, dan beberapa kali pula ia harus menahan diri untuk tak bergeser mendekati Naruto dan mengusap wajahnya yang berkeringat meski udara yang dingin.
I think I'm going crazy.
Sasuke menatap refleksinya di cermin setelah ia membasuh wajahnya dan merapikan rambutnya, ia menghela napas panjang. Entah apa yang dilakukannya di sini, atau apa yang membawanya ke sini, tapi ia tak akan berhenti sekarang. Hingga mendung berhenti menutupi langit biru di langit, hingga sinar matahari yang ia rindukan kembali lagi.
Naruto menunggunya dengan bersandar di lorong saat ia kembali, dan menatapnya saat ia berjalan mendekat.
"Aku akan pulang sekarang," Sasuke mengambil tasnya dan berjalan ke pintu depan.
"Tidak bisakah kau tinggal lebih lama?" Naruto bergumam pelan di belakangnya. Ia menahan napasnya sejenak mendengar apa yang Naruto katakan, ia ingin tinggal lebih lama, bahkan jika mereka tak berbicara seharian, hanya menatap Naruto pun ia tak akan bosan. Namun mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.
"Mungkin aku bisa mampir lagi, jika kau mengizinkan," ia berbalik dan menatap Naruto sambil tersenyum tipis, dan Naruto hanya mengangguk.
Ia tetap berdiri di sana selama lebih dari satu menit, menatap Naruto yang juga menatapnya sebelum ia menyadari ia akan tenggelam semakin dalam dan tak ingin pergi dari sini jika ia tak berhenti.
"Sampai bertemu besok di sekolah," ia membuka pintu dan menutupnya lagi, ia melewati pagar dan hampir saja menabrak seseorang jika ia tak segera menghentikan langkahnya.
"Oh, Sasuke-kun? Selamat pagi," Sasuke mendongak menatap Sai yang tengah tersenyum padanya dan seseorang berambut merah yang belum pernah ia lihat sebelumnya berdiri di sisinya.
Sasuke menjawabnya dengan mengangguk.
"Apa Naruto ada?"
"Huum."
"Well, kalau begitu permisi, semoga harimu menyenangkan~" Saat Sai melambaikan tangannya sambil tersenyum dan berjalan menuju ke pintu rumah Naruto bersama temannya, ia berpikir mengapa Sai tidak menanyakan mengapa ia berada di sini sepagi ini.
"So, mau bercerita sesuatu?"
Sasuke meletakkan beberapa buku yang baru saja ia ambil dari rak di atas meja dan mengangkat bahunya tak peduli pada pertanyaan Shikamaru yang menatapnya sambil meletakkan kepalanya di atas meja, dan Neji yang sedang merapikan rambut panjangnya dengan jari. Ia jadi bertanya-tanya untuk apa dua makhluk di sampingnya datang jauh-jauh ke perpustakaan kalau hanya untuk mengganggu ketenangan hidupnya.
"He had sex, obviously."
Sasuke mendengus dan berusaha untuk tidak kesal pada pernyataan Neji.
"Berapa ronde?" Shikamaru mengangat satu alisnya.
"Mungkin dua?"
"Atau mungkin hanya oral se—" Shikamaru tak sempat menghentikan kalimatnya saat Sasuke dengan kesal memukul kepalanya dengan sebuah buku ensiklopedia yang sangat besar.
"For fuck's sake, bisakah kalian diam dan membiarkanku membaca dengan tenang?"
"Nope," Shikamaru dan Neji menjawab bersamaan.
Sigh.
"Dia bermasalah—"
"Jelaskan dengan kurang dari tiga puluh kata."
Sasuke mengabaikan Neji.
"—dengan siswa dari sekolah lain, kami di kantor polisi menunggu Kakashi sampai tengah malam, dan dia menawarkan apa aku mau menginap karena rumahnya tak begitu jauh."
"…"
"…"
"Apalagi?"
"Jadi, apa yang terjadi malam itu?"
Sasuke memutar bola matanya mendengar pertanyaan Neji.
"Apa yang kau harapkan, huh? Passionate sex? Tidak ada yang terjadi, kami pulang dan tidur."
"Kalau tahu tak ada kejadian apapun, rasanya tadi kita tak perlu repot-repot bertanya," Shikamaru memejamkan matanya, dan Neji mengangguk menyetujui sambil melanjutkan kegiatannya yang tak berguna.
Sabar, Sasuke.
"But, seriously, kami mendukung apapun yang kau lakukan, meski melihatmu out of character kadang menyakitkan mata, tapi cukup menghibur karena tak setiap hari melihat Uchiha Sasuke berusaha begitu keras, well…"
Sasuke menatap Shikamaru yang tersenyum tipis dan membuka satu matanya dengan malas.
"…keep doing your best."
Neji melambaikan tangannya dengan wajahnya yang tetap datar dan tak terlihat tertarik pada apapun sambil mengangguk-angguk. "Beritahu kami jika butuh bantuan."
Sekarang rasanya ia tahu mengapa ia bisa begitu sabar menghadapi Naruto selama dua bulan ini. Siapa pun pasti bisa melakukannya jika memiliki teman semenyebalkan dua makhluk ini, yang tak pernah mengatakan hal baik tentangnya, memiliki selera humor yang tidak bisa dimengerti orang lain, berkata seenaknya seolah-olah dirinya tak bisa sakit hati. Tapi setidaknya mereka tak pernah pergi meski ia sadar bahwa tak semua orang bisa berteman dengannya, bertahan bersamanya selama lebih dari tiga tahun sejak mereka di SMP, dan apapun yang terjadi, ia tahu mereka berada di belakangnya untuk menjadi pendukung saat ia tak dapat berdiri sendiri.
Menghela napasnya pelan, Sasuke menyingkap halaman selanjutnya dari buku yang ia baca. Sekolah sudah selesai lebih dari dua jam yang lalu, namun ia belum ingin pulang setelah selesai rapat OSIS sepulang sekolah tadi. Akhirnya ia putuskan untuk membaca buku di perpustakaan karena ia sama sekali tidak bisa melakukannya pada jam istirahat tadi saat Tenten ikut bergabung dan bermesraan dengan Neji, dan Ino yang mengganggu konsentrasinya dengan mengajaknya bercerita mengenai hal-hal yang sama sekali tidak penting dan tak bisa ia ingat.
"Oh? Sasuke-kun?" Sasuke mendongak menatap Sakura yang berhenti tak jauh dari meja tempat ia membaca dan tersenyum padanya.
"Sakura."
"Kenapa belum pulang? Kupikir rapat kalian sudah selesai sejak tadi? Uhm, boleh aku duduk di sini?"
Sasuke mengangguk pelan. "Hanya ingin membaca buku dulu. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Latihan tenis sudah selesai karena pelatihnya pergi, jadi kupikir bisa membaca dulu sebelum pulang."
"Kalau begitu sebaiknya kau cari tempat lain karena kau pasti akan mengajakku mengobrol jika duduk di sini."
Sakura hanya tertawa meresponnya.
Akhirnya satu jam terakhir ia gunakan untuk mendengarkan cerita mantan kekasihnya tersebut. Meskipun dulu mereka hanya berpacaran selama tiga bulan, dan dalam jangka waktu tersebut mereka hanya pernah pergi berdua beberapa kali, bertukar pesan, atau sekedar makan siang dan membaca di perpustakaan bersama, Sasuke tahu bahwa Sakura adalah gadis yang baik. Ia bersyukur mereka masih bisa berteman dengan normal setelah apa yang dia katakan dulu untuk membuat Sakura mengerti bahwa hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi.
Aku telah berusaha, tapi aku tidak bisa mencintaimu. Maafkan aku, Sakura.
Sasuke mengambil tas sekolahnya di loker dan mengganti sepatunya, sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa anggota klub yang sedang melaksanakan kegiatan dan Sakura juga sudah pulang lebih dulu beberapa menit yang lalu. Ia menganguk pelan saat beberapa siswa perempuan kelas satu menyapanya, dan memanggilnya meski ia sama sekali tidak mengenal mereka.
"Sasuke-kun, apa aku bisa bicara sebentar denganmu?"
Sasuke mengernyit sedikit dan menoleh ke sekitarnya, bertanya-tanya dari mana Sai muncul tiba-tiba secara ajaib di depannya begitu saja.
"Ada perlu apa?"
"Hmm sebenarnya tidak ada, hanya ingin mengobrol," Sai tersenyum dan mengangkat bahunya. Saat Sasuke tak merespon, Sai kembali berkata, "mungkin kau akan mau mendengar ceritaku tentang seseorang?"
Sasuke berpikir sejenak dan menganguk. Mungkin pulang bisa ditunda sebentar.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
[TBC]
Sorry for taking so long, but here I am trying to put back my pieces together.
Maaf tidak banyak interaksi untuk pairing kesayangan kita di sini, saya ingin lebih mengeksplor dari sisi Sasuke di chapter ini. Dan jangan mengharapkan konflik yang berat di cerita saya, karena ini lebih ke narasi mengenai awal hubungan mereka.
Anyway, terima kasih bagi siapa pun yang membaca dan menantikan cerita ini, kalian yang memberikan review yang tulus dan menyenangkan mengembalikan semangat saya untuk kembali menulis.
Anyway lagi, saya ganti penname ehehe. Now I'm coming back for real, I hope.
Reviews are really appreciated. Beri saya pendapat kalian, kritik, curhat(?), dan segala macam opini diterima dengan senang hati.
See you in next chapter.
