Helo. Ini dia. Ada yang nunggu gak ya? Mudah-mudahan ada-,-
Yaudah, lanjut aja baca kebawah/ ENJOY THIS STORY! Sorry for typos
.
.
.
Park Chanyeol, kau harus bertanggung jawab!
Kau yang menyebabkan ini semua terjadi!
Aku membencimu.
Aku -mencintaimu.
.
.
Ini bukan salahku, karena memang dari awal ini semua sudah salah. Jangan menyalahkanku, aku tidak salah! Aku korban disini!
.
.
Seseorang yang kau benci jatuh dalam genggamanmu. Harusnya kau bahagia, kan? Mengapa kau malah tak tega? Dia yang telah menghancurkan hidupmu!
.
.
An EXO Fanfiction
REVENGE (IVORGGE)
Cast:
Byun Baekhyun as Baekkie (18 yo)
Park Chanyeol as Chanyeol (25 yo)
Other cast
*n/b: Park Chanyeol pov is a Chanyeol's diary
Author pov is a story
This story has written by araraaa
Chapter 3/?
THIS IS YAOI STORY! DO NOT BASH! IF YOU NOT LIKE THE STORY, GET OUT FROM MY FIC!
Saling menghargai^^ Gamsahamnida chingdeul^^
.
.
.
06 Mei 2010
Hari ini hari ulang tahun Baekkie. Kami -eomma, appa, aku maupun Baekkie sendiri tidak tahu kapan pastinya ia berulang tahun. Baekkie bilang, menurut ajaran keluarganya, merayakan ulang tahun tidaklah penting. Namun karena kami -aku, eomma dan appa ingin membuatnya merasa nyaman, kami memutuskan untuk menembak hari ulang tahun Baekkie. Dan Baekkie sendiri yang memilih tanggal 06 mei.
Ulang tahun kali ini Baekkie hanya merayakannya denganku. Kami hanya memesan pizza dan cake ukuran kecil untuk kami berdua. Aku tersenyum saat Baekkie sedang 'make a wish'. Seperti biasa, setelahnya ia akan menatapku senang.
Aku bertanya padanya apa yang ia harapkan. Dan ia dengan senang hati menjawab kalau ia menginginkan kebahagiaan keluarganya, eomma dan appa Park. Namun setelah mengatakan itu, ia sedikit menatapku seperti meminta persetujuan. Aku menanyakan apa maksudnya dan ia menjawab dengan gugup kalau ia ingin dipanggil Baekhyun.
Baekhyun...
Aku tersenyum mengingat nama ciptaannya sendiri ketika ia baru akan kudaftarkan sekolah. Ia dulu sangat tidak mau kupanggil Baekhyun, dengan alasan ia lebih suka dipanggil Baekkie jika orang yang memanggilnya adalah aku, eomma dan appa. Cepat sekali ia berubah. Atau, aku yang tak menyadarinya?
Aku senang menyadari sikapnya perlahan berubah. Ia sudah benar-benar menjadi namja dewasa meski umurnya baru 18 tahun. Aku bersyukur Baekkie -aku mungkin harus membiasakan diri memanggilnya Baekhyun- tidaklah senakal teman-temannya yang seperjuangan mencari jati diri.
Aku juga senang, Baekhyun perlahan mulai melupakan kesedihan tentang kasus meninggalnya eomma. Meski sampai saat ini kasus ini belum kututup. Aku bersumpah, tak akan menutup kasus ini sebelum aku menemukan siapa yang membunuh eommaku.
Aku dan Baekhyun akan membalasnya, mungkin.
.
.
.
"Hyung," panggil Baekhyun pada Chanyeol yang tengah sibuk berkutat dengan peralatan masaknya di dapur. "Hng," hanya jawaban singkat dari Chanyeol dan itu sukses membuat Baekhyun menggerutu kecil. Chanyeol meliriknya sebentar lalu tertawa kecil melihat tingkah adiknya. "Ada apa Baekhyun?" akhirnya Chanyeol membuka suaranya, meluncurkan kata-kata yang Baekhyun tunggu sejak tadi.
Baekhyun menatap hyungnya dengan tatapan penuh semangat. "Hyung, aku ingin mengikuti kelas vokal, apakah boleh?" tanya Baekhyun dengan mata berbinar. Berharap hyungnya mengatakan ya, dengan cepat. "Memangnya, tempat kau berlatih vokal itu dimana, Baek? Hyung buatkan saja studio di rumah, ne?"
Memang, sejak kematian eomma, sikap Chanyeol mulai berubah. Ia menjadi lebih -atau sedikit lebih overprotektif pada Baekhyun. Entahlah, ia hanya merasa bisa saja Baekhyun menjadi korban si 'setan pembunuh tanpa jejak' itu selanjutnya.
Baekhyun menghela nafas. Ia merasa sudah bisa menjaga dirinya sekarang, dan ia merasa Chanyeol tidaklah perlu melakukan hal ini, terlalu menjaganya. "Hyung, biayanya pasti lebih mahal. Izinkan saja, ne? Jebal," puppy eyes Baekhyun pada Chanyeol. Tapi untuk meluluhkan hati Chanyeol -yang sekarang-, tidaklah semudah itu. Chanyeol hanya diam.
Baekhyun tak kehabisan akal. Ia mendekati Chanyeol dan berusaha membantu Chanyeol apapun yang ia bisa. Mustahil! Tak ada yang ia bisa, dibagian dapur. Selama ini hanya ada eomma dan Chanyeol yang memasak untuknya. Belum pernah, tangan mulusnya itu menyentuh wajan atau panci. Chanyeol menatapnya malas. "Memang dimana tempatnya, Baekhyun?" tanya Chanyeol lagi, mengulangi pertanyaan yang sebelumnya tidak dijawab oleh Baekhyun. Baekhyun tersenyum samar, "Di... Aku lupa apa nama jalannya. Tapi, tempat latihan vokal itu hanya beberapa blok dari kantor hyung," jelas Baekhyun. Chanyeol manggut-manggut. "Antarkan saja hyung ke tempatnya besok. Hyung akan melihat keadaan disana. Lebih baik kau berlatih vokal ditempat itu atau hyung buatkan studio di rumah. Arraseo?"
"Arrachi, hyung,"
.
.
.
Baekhyun menepati janjinya untuk mengantar Chanyeol menuju tempat yang ia incar untuk latihan vocal didekat kantor Chanyeol. Chanyeol sedikit terperangah melihat gedung itu. Tampak besar, dan ternyata tak hanya les vokal yang ada disana, les dance dan kelas musik juga ada disana. Chanyeol menoleh menatap Baekhyun yang tampak berbinar-binar melihat tempat yang ia incar. Chanyeol sedikit menghela nafas. "Kau tau tempat ini darimana, Baekhyun? Sekolahmu tidak melewati jalan ini bukan?" tanya Chanyeol sambil menatap Baekhyun curiga. Baekhyun menggaruk tengkuknya canggung, "Mmm, itu, hoobaeku menyarankanku untuk les vocal disini. Dia bilang suaraku bagus dan sayang jika tidak disalurkan," jawab Baekhyun malu-malu. Chanyeol tersenyum.
"Hyung belum pernah mendengar Baekhyun bernyanyi..." goda Chanyeol yang sukses membuat pipi Baekhyun merona samar. Baekhyun menatap Chanyeol yang kini tengah tersenyum nakal kearahnya.
Ya Tuhan, jangan lagi...
"Nanti aku akan menyanyikan satu lagu untuk hyung, tanda terimakasihku jika hyung mau mendaftarkanku les ditempat itu," ujar Baekhyun dengan nada manja sekaligus memelas. Chanyeol tertawa, "Baiklah, tidak buruk. Nyanyikan lagu setiap hyung memintanya, bagaimana?" tawar Chanyeol. Baekhyun dengan semangat menganggukkan kepalanya.
"Tapi... Sebelum masuk, nyanyikan hyung satu bait lagu," pinta Chanyeol. Tangannya menahan Baekhyun yang hendak membuka pintu mobil. Baekhyun memanyunkan bibirnya. Lalu tersenyum manis pada hyung satu-satunya. "Hyung mau mendengar lagu apa?" tanyanya dengan nada imut. Chanyeol tampak berpikir, "Bagaimana kalau... Hmm, apa ya?"
Baekhyun juga tampak berpikir. Lagu apa yang cocok untuk hyung kesayangannya ini?
Aha! Baekhyun ada ide. "Hyung, bagaimana kalau... Miracle?" usulnya. Chanyeol tampak manggut-manggut. "Oke, nyanyikan untuk hyung bagian reff nya saja,"
Baekhyun mulai mengambil nafas, lalu membuangnya perlahan.
Neol nabakke mollaseotdeon igijogin naega
Ne mamdo mollajwotdeon musimhan naega
Ireohkedo dallatjwo daneun ge
Najocha midgiji anha
Nae sarangeun ireohke gyesok nal umjikyeo
(Keegoisanku, yang hanya memperdulikan diri sendiri
Kejamnya aku, yang tidak menyadari semua perasaanmu
Aku bahkan tidak percaya, bisa menjadi seperti ini
Cintamu senantiasa mengubahku)
Suara indah itu mengalun lembut penuh penghayatan. Chanyeol sedikit terperangah mendengar suara emas milik Baekhyun. Selama ini mereka tinggal bersama namun kenapa Chanyeol baru menyadari jika suara itu begitu menggetarkan hatinya? Suara indah milik adiknya terus terbayang meski adiknya itu sudah menatapnya dengan tatapan memelas -Baekhyun sangat ingin masuk kedalam gedung itu dan mendaftarkan diri untuk kelas vokal secepatnya.
"Hyung? Jadi kan? Ayolah hyung," rengek Baekhyun sambil menarik-narik lengan baju Chanyeol. Chanyeol tersadar dari lamunannya dan tersenyum kearah Baekhyun. Lalu ia membuka sabuk pengaman yang Baekhyun kenakan dan mulai membuka pintu mobil.
Ya Tuhan, jangan lagi...
.
.
.
Chanyeol menatap Baekhyun yang hari ini langsung mengikuti kelas vokal pertamanya. Ia bernyanyi dengan dua orang temannya yang Chanyeol tau bernama Kyungsoo dan Luhan. Dan seorang namja pendek yang menjadi tutor kelas vokal yang bernama Chen. Chanyeol menatap jam yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya. Sudah jam 6.30 dan ia belum menyiapkan makan malam. Sepertinya malam ini mereka harus makan di restoran atau memesan makanan -jika Baekhyun terlalu lelah.
Kelas bubar. Chanyeol menatap Baekhyun yang bercengkrama dengan akrab dengan teman-teman kelas vokalnya, lalu tak lama Baekhyun menghampiri Chanyeol yang masih duduk didepan kelasnya. "Hyung, lama ya menungguku? Maaf. Lain kali hyung tidak usah menungguku, aku akan ambil kelas siang setelah pulang sekolah," jelas Baekhyun. Chanyeol mengangguk. "Kami pulang duluan, Baek, hati-hati, annyeong," ucap namja yang Chanyeol ketahui bernama Kyungsoo dan Luhan itu sambil membungkuk formal kearahnya dan menepuk bahu Baekhyun. Baekhyun mengangguk, "Hati-hati juga kalian, Soo, hyung!" balas Baekhyun. Chanyeol menatapnya bingung.
"Kau sudah mengenal mereka lama, ya?" tanya Chanyeol yang dibalas anggukan Baekhyun. Baekhyun mengambil tas sekolahnya -ia baru pulang sekolah tadi dan langsung ke kantor Chanyeol- dan menarik tangan Chanyeol agar keluar dari gedung. "Luhan hyung sunbaeku, kini dia kuliah jurusan seni. Kalau Kyungsoo, teman sekelasku, hyung," jelas Baekhyun. Baekhyun tersenyum menatap Chanyeol yang masih menatapnya dengan tatapan bingung. "Ada apa, hyung?" tanyanya masih dengan senyum. Chanyeol menggeleng pelan, "Tidak ada. Kau mau makan di rumah atau kita makan diluar saja?" Baekhyun mengangkat bahunya, "Terserah hyung, tapi sepertinya hyung terlalu lelah untuk memasak,"
"Baiklah, kita makan di restoran saja," ajak Chanyeol. Lalu tak lama ponselnya berdering. "Yoboseyo?" gumam Chanyeol. Baekhyun hanya menatapnya. "Apa? Mau apa?" Chanyeol memberi isyarat pada Baekhyun agar melanjutkan jalan mereka menuju parkiran mobil. "Kuliah? Di Korea? Kau yakin?" Baekhyun memiringkan kepalanya. "Sehun?" gumamnya pelan lalu melirik Chanyeol lagi. "Akan kuurus. Besok, kirimkan saja berkasnya. Kau mau kuliah dimana memang?" Baekhyun terdiam. Mendengarkan dengan seksama. "Aha yaya, ok. Ppai," Chanyeol memutuskan sambungan telponnya dan menatap Baekhyun dengan pandangan aneh.
"Ada apa, hyung?" tanya Baekhyun sambil membuka pintu mobil. Matanya terbelalak lebar. "Hyung! Hyung pasti lupa mengunci pintu!" teriak Baekhyun. Chanyeol tersenyum tenang, "Kau sih tadi menarik hyung, hyung jadi lupa mengunci pintu," alibi Chanyeol. Baekhyun memutas bolamatanya malas. "Hyung alasan! Menyalahkanku pula," Baekhyun mempoutkan bibirnya. "Mian," gumam Chanyeol masih dengan senyum.
Chanyeol melajukan mobilnya membelah jalanan ramai Seoul dimalam hari. Baekhyun kembali menatapnya. "Sehun hyung, ya?" tanyanya pelan. Chanyeol mengangguk. "Sehun akan kuliah disini. Kau keberatan -tidak Baekkie?" tanya Chanyeol pelan. Bagaimanapun juga Sehun dan Baekhyun baru 5 kali bertemu. Chanyeol khawatir mereka tidak bisa dekat nantinya.
"Tentu saja tidak!" suara Baekhyun terdengar excited. Matanya melebar dan bibirnya menyunggingkan senyum manis. "Aku akan senang jika Sehun hyung datang! Aku merindukannya," ujar Baekhyun semangat. Chanyeol tersenyum lalu mengusak rambut Baekhyun pelan.
Sehun adalah sepupu Chanyeol yang paling dekat dengannya. Selama ini Sehun tinggal di China, meskipun ia adalah orang Korea asli. Baekhyun pertama kali bertemu Sehun saat ia pertama kali datang ke rumah Chanyeol. Saat itu Sehun sedang liburan di rumah Chanyeol.
Umur Sehun tidak berbeda jauh dengan Baekhyun, dan Baekhyun suka fakta itu. Sehun kini kuliah tingkat 2 -kalau Baekhyun tidak salah ingat, jika nanti Baekhyun lulus Senior High School maka Sehun akan berada ditingkat 3 dan itu sebentar lagi. Baekhyun tersenyum sendiri mengingat pertemuan itu berawal. Sehun mendobrak pintu kamar mandi hanya karena Baekhyun terlalu lama berada didalam. Ia bilang ia mengkhawatirkan Baekhyun pingsan karena kedinginan.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan senang dan tak lama ia tersenyum melihat Baekhyun larut dalam pikirannya. "Baekkie," panggil Chanyeol pelan. Baekhyun menoleh, "Apa Baekkie memiliki kekasih?" DEG! Baekhyun terdiam. "Anni hyung," jawabnya setelah sekitar detik dalam keheningan. "Benarkah?" tanya Chanyeol lagi tak percaya. Baekhyun mengangguk. "Baekkie menyukai... Namja atau yeoja?" tanya Chanyeol pelan, takut Baekhyun tersinggung. Baekhyun tersentak. "Entah," gumamnya.
Ya Tuhan, jangan lagi...
"Maaf," ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun menyesal. "Gwaenchana hyung,"
.
.
.
Chanyeol menatap Baekhyun yang sedari tadi terdiam. Sejak dimobil tadi -sebelum mereka makan malam hingga saat ini, di rumah, Baekhyun masih mendiamkannya. Dan Chanyeol mengintip Baekhyun dari sela pintu kamar adiknya itu. Tampak Baekhyun sepertinya sudah tertidur. Lalu dengan pelan Chanyeol menutup pintu kamar itu, namun sialnya pintu itu berderit pelan.
Chanyeol hanya mengutuknya dan segera meninggalkan kamar Baekhyun. Ia takut Baekhyun akan bertambah ngambek padanya jika ketauan ia mengintipnya terlebih sampai membangunkannya.
Tanpa Chanyeol sadari, Baekhyun menyingkap selimutnya dan mengambil ponselnya, ponsel yang diberikan Chanyeol setelah kematian eomma. Baekhyun menghubungi seseorang.
"Hyung! Ada satu orang yang akan masuk ke rumah ini, mana dia?" ucap Baekhyun tak sabar. Suara disana berganti.
"Hei jelek! Ubah rencana, sepupu Park Chanyeol akan kuliah disini,"
.
.
.
Chanyeol membuka pintu kamar Baekhyun pelan, takut membangunkan Baekhyun. Ini adalah pukul 7 dihari sabtu, dimana ia memiliki waktu luang -karena ia tidak bekerja dihari sabtu dan minggu meski kadang ada meeting yang tak bisa ditinggalkan- bersama Baekhyun yang juga libur sekolah setiap hari sabtu.
Chanyeol mengernyit heran. Masih pukul 7 dan Baekhyun sudah tidak ada di kamarnya? Ayolah, Chanyeol tahu adiknya itu pemalas -meski tidak secara keseluruhan ia malas. Paling tidak, selama ini Chanyeol harus membangunkan Baekhyun, atau jangan harap namja mungil 18 tahun itu akan terbangun dengan sendirinya.
Chanyeol menelusuri rumahnya untuk mencari Baekhyun. Kamar depan, kamar tamu, kamar eomma dan appa, kamar kosong, kamar untuk para maid -dulu Chanyeol memiliki maid- sampai gudang dan kamar mandi belakang. Di dapurpun tak ada Baekhyun, taman belakang juga. Ruang tengah? Jelas tidak. Chanyeol sudah melewati ruangan itu berkali-kali.
Lalu kemana Baekhyun?
Cklek! Pintu utama rumah besar milik keluarga Park itu terbuka dan menampilkan sosok Baekhyun yang tampak lelah. Chanyeol menghampirinya. "Kau darimana saja Baekkie?" tanya Chanyeol pelan. Ia meraih pundak adiknya itu dan menuntunnya untuk duduk disofa. "Mengapa pagi sekali sudah pergi? Tak pamit pada hyung? Hyung mencarimu," Chanyeol masih memborong Baekhyun dengan berbagai pertanyaannya. Sedang yang ditanya sendiri masih sibuk mengatur nafas.
"Aku habis lari pagi, aku tadi ada janji dengan Luhan hyung dan Kyungsoo. Aku lupa pamit pada hyung, terlalu panik karena aku cukup bangun kesiangan tadi," jelas Baekhyun sambil memegangi dadanya. Chanyeol tertawa. "Hyung kebetulan sudah masak. Hyung kira kau ada di kamar jadi hyung masak dulu baru membangunkanmu, ternyata kau malah sudah pergi," Chanyeol berdiri lalu menarik Baekhyun menuju ruang makan.
"Hari ini berkas yang dikirim Sehun akan sampai. Jika sudah kuurus, minggu depan ia akan datang. Bagaimana menurutmu, Baekkie?" tanya Chanyeol sambil sesekali meniup-niup supnya yang masih panas. Baekhyun tampak berpikir. Setelah sekian lama -mungkin sekitar 7 bulanan Chanyeol mulai membiasakan diri memanggilnya Baekhyun, kenapa panggilan kecilnya datang lagi?
"Baekkie?"
"Baekkie?" Chanyeol mengibaskan tangannya didepan Baekhyun. Tapi namja itu tak merespon.
"Baekhyun?"
"Eh i-iya hyung?" Baekhyun merespon dengan gugup. Ia terlalu sibuk berkutat dengan pikirannya dan rencana yang disusunnya bersama seseorang -atau dua orang- diteleponnya semalam. Chanyeol menghela nafas pelan. "Masih pagi, jangan melamun. Habiskan makanmu lalu nanti siang kita ke Lotte World. Eotteohke?" Baekhyun mengangguk semangat lalu menyuapkan sesendok sup kedalam mulutnya.
.
.
.
Baekhyun menjilat ice cream rasa stroberi kesukaannya yang dibelikan oleh Chanyeol saat sebelum mereka menaiki bianglala ini. Baekhyun menarik-narik celana Chanyeol dengan keras. "Ada apa?" gumam Chanyeol. Jujur saja, Chanyeol bosan menaiki wahana ini. Ini sudah yang ketiga kalinya semenjak mereka sampai di Lotte World mereka menaiki wahana ini. Baekhyun sangat menyukai bianglala, rupanya.
"Itu bagus hyung!" seru Baekhyun kagum. Ia melihat roller coaster sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Semua penumpang wahana ekstrim tersebut berteriak. "Setelah ini Baekhyun mau itu!" pinta Baekhyun manja. Chanyeol menggeleng. "Wahana lain saja, ne? Kita sudah menaiki 5 wahana sejak 3 jam yang lalu -yaitu bianglala, roller coaster, bianglala, roller coaster lagi, lalu bianglala lagi. Ganti, ne?" tawar Chanyeol. Kini saatnya mereka turun dari wahana ini untuk bergantian dengan pengunjung lain. Baekhyun masih merajuk. "Hyuuung,"
"Baekhyun!" suara seseorang yang terdengar amat familiar menghampiri gendang telinga keduanya. Baekhyun dan Chanyeol menoleh serempak. "Luhan hyung!" jerit Baekhyun lalu berlari kearah Luhan. Chanyeol hanya berjalan santai mengikuti. "Annyeong," Luhan menyapa Chanyeol formal. Chanyeol tersenyum. "Chanyeol hyung, Luhan," ujar Chanyeol memberi kode agar Luhan tak pelru seformal itu padanya. Luhan hanya menggaruk tengkuknya canggung.
"Hyung! Hyung sudah makan? Aku lapar. Kajja kita cari restoran," ajak Baekhyun pada Luhan namun Luhan tersenyum penuh penyesalan. "Aku kesini bersama Kai, Baek. Dia sedang mencari minuman," jelas Luhan. Chanyeol menoleh, melihat seorang namja tan berjalan kearah mereka. "Dia?" tanya Chanyeol sambil menunjuk Kai. Luhan tersenyum, "Ne, hyung. Dia adikku," jawab Luhan sambil mengibaskan tangannya, menyuruh agar Kai lebih cepat berjalan kearah mereka.
Baekhyun menatap Kai bersemangat. "Sudah? Ayo kita cari restoran!" ajaknya lagi. Namun lagi-lagi ditolak oleh Luhan. "Kami tidak lapar," gumamnya halus. Baekhyun memutar bolamatanya sebal. "Ikut saja hyung! Hyung, kau mau kan mentraktir mereka?" tanya Baekhyun pada Chanyeol setelah sebelumnya memaksa Luhan dan Kai untuk ikut dengannya.
Chanyeol mengangguk pasti. "Ayo Luhan, Kai. Ikut saja," ajaknya lalu mengajak mereka keluar dari Lotte World. Mereka mencari restoran terdekat dengan menggunakan mobil Chanyeol.
Kena kau Park Chanyeol!
.
.
.
Luhan menatap Chanyeol dengan tatapan malu. Ia merasa tidak enak kepada Chanyeol yang sudah mentraktirnya dan Kai dengan banyak sekali makanan. Terlebih Kai itu orangnya rakus, sehingga Luhan merasa sangat canggung sekarang.
"Kita masih akan kembali ke Lotte atau pulang, Baekkie?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang kini tengah sibuk bersenda gurau dengan Kai. Baekhyun dan Kai sama-sama menoleh, lalu keduanya melempar pandangan kepada Luhan. Merasa diperhatikan, Luhan membalas tatapan mereka dengan tatapan bertanya mengapa-melihat-kearah-ku-? Dan Baekhyun serta Kai kompak menjawab, "Hyung mau pulang atau ke Lotte lagi?"
Luhan menghela nafas, lalu tampak berpikir. Chanyeol menepuk pelan bahunya. "Aku yang akan membayar tiket masuknya," ujar Chanyeol sambil tersenyum. Luhan membalas senyumnya lalu menggeleng pelan, menolak dengan sopan. "Tapi itu tidak perlu hyung. Kai, kita pulang saja. Ahjuma akan mencari kita jika kita terlalu larut pulang," ajak Luhan lalu berdiri. Membungkuk sedikit sopan pada Chanyeol dan tersenyum manis pada Baekhyun. "Hyung dan Kai akan pulang duluan Baekhyun," Kai lalu berdiri disamping Luhan.
Chanyeol menahan dua orang teman Baekhyun itu saat keduanya hampir melangkah pergi. "Tunggu, rumah kalian dimana? Apa perlu kami antar?" tawar Chanyeol. Baekhyun mengangguk -memberi isyarat pada Luhan dan Kai agar mereka tidak menolak dan dibalas oleh anggukan kecil Kai. Tapi lagi-lagi Luhan menolak. "Tidak perlu, hyung. Itu merepotkan. Terima kasih atas tawaranmu,"
"Hyuuung," mendengar dua adiknya -Kai dan Baekhyun yang sudah sangat ia kenal dekat sejak ia masih Senior High School dulu merengek, Luhan menghela nafas lalu mengangguk pelan. "Baiklah, gomawo Baekhyun, Chanyeol hyung,"
.
.
.
Baekhyun sudah selesai mengikuti kelas vokalnya namun Chanyeol masih belum pulang. Baekhyun memasuki kamarnya dan menutupnya rapat, takut jika Chanyeol sudah pulang dan bisa saja mendengar seluruh ucapannya.
Baekhyun mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Yoboseyo? Jelek, bagaimana? Apa kau sudah merencanakan sesuatu?" tanya Baekhyun pada suara diujung sambungan telepon. Baekhyun tampak manggut-manggut.
"Sulit tidak ya?" gumamnya pelan. Namja diujung telepon sana mendengus kesal akan kelaukan hyungnya.
Ya, dia adalah adik dari seorang Baekhyun.
Klik!
"Kau seharusnya mencoba dulu pabbo hyung! Jika sulit ganti dengan rencana lain!"
Cklek!
"Baekhyun?"
Baekhyun membelalakkan matanya. Tangannya tak sengaja menyentuh tombol loudspeaker dan disaat yang bersamaan Chanyeol membuka pintu kamarnya.
"Hyung tutup dulu, bye Kai," ujar Baekhyun canggung. Chanyeol menutup pintu kamar Baekhyun lalu menghampirinya. "Kai? Menelponmu? Ada apa?" tanya Chanyeol lembut sambil mengusap rambut Baekhyun -merapikan tatanannya yang sedikit berantakan. Baekhyun tersenyum polos.
"Tadi dia bilang ia ingin mengajakku ke kedai ice cream tapi ternyata dia ada latihan basket dan dia meminta maaf padaku," ujar Baekhyun pelan. Chanyeol tampak manggut-manggut. Lalu tak lama ia kembali menatap adik kesayangannya itu. Kali ini dengan tatapan berbeda.
"Lalu yang rencana-rencana itu apa? Mengapa ia mengataimu pabbo?"
Deg! Wajah Baekhyun memanas, bukan karena apa-apa, ia hanya kalut sekarang.
"Emm, itu. Kan aku marah padanya, dan mengatakan kalau aku tak mau lagi bertemu dengannya. Dan ia memintaku untuk meminta izin pada hyung agar pergi ke taman sekarang. Aku bilang aku tak mau, aku takut hyung tidak mengizinkan -walaupun sebenarnya aku malas. Dan Kai bilang seperti itu. Maksud dari kata rencana itu adalah rencana kami pergi ke kedai ice cream, bisa diganti dihari lain. Begitu maksudnya," Chanyeol tersenyum menengar penjelasan adiknya.
"Kau menyukai Kai ya?" tanyanya menggoda. Baekhyun mendelik. "Tidak," jawabnya singkat.
Chanyeol tersenyum lalu menarik Baekhyun agar keluar kamar. "Sehun sudah datang," bisiknya.
.
.
.
Sehun memeluk Baekhyun begitu erat, menyalurkan rasa rindunya pada sang maknae diantara mereka bertiga. Dulu saat mereka berkumpul, Baekhyun akan selalu bertingkah imut -walau tanpa disengaja dan Sehun menyukai itu. Baekhyun sangat manis, meskipun sekarang usianya sudah 18 tahun.
"Hyung, bagaimana kau bisa merawat Baekhyun sampai tumbuh semanis ini?" goda Sehun. Meski dengan rona merah yang menjalari pipinya, Baekhyun masih menyempatkan diri mempoutkan bibirnya, "Anniyo. Baekhyun tampan. Baekhyun tidak manis," ujarnya lucu dan kekanak-kanakkan. Chanyeol dan Sehun hanya tertawa.
"Oiya Sehun hyung, mau kuliah dimana?" tanya Baekhyun, menginterupsi kegiatan dua orang hyungnya yang sedang menertawakan dirinya itu. Sehun mengusap wajahnya sambil berusaha meredam tawa. "SM University," jawabnya pelan. Pipi Sehun memerah karena terlalu banyak tertawa.
Baekhyun manggut-manggut. "Luhan hyung juga bersekolah disana," ucap Baekhyun, membuat dua orang lainnya menatapnya dengan tatapan berbeda. Sehun, menatapnya dengan tatapan bingung sedangkan Chanyeol, menatapnya dengan tatapan kaget. "Benarkah? Luhan siapa?" tanya Sehun pelan. Ia menatap Chanyeol meminta penjelasan namun yang ditatap hanya mengendikkan bahu.
"Dulu Luhan hyung bersekolah di sekolah Baekhyun yang sekarang. Kami kenal dekat, dan dia juga satu tingkat dengan Sehun hyung, kalau tidak salah," ujar Baekhyun sambil memasang pose berpikir, mencoba mengingat-ingat tingkat berapa Luhan sekarang.
"Sehun hyung kuliah jurusan apa?" tanya Baekhyun antusias. "Seni," jawab Sehun singkat. Ia masih tidak mengerti mengapa tiba-tiba Baekhyun menyebut nama Luhan. Namun jika diterka dari namanya, dia tampak seperti bukan orang Korea. Namanya lebih ke nama China. Dan Sehun tentu menyadarinya. Sejak kecil ia kan tinggal di China.
"Luhan hyung juga seni. Seni apa?" tanya Baekhyun lagi. Chanyeol sudah pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. "Seni tari," tanpa Sehun sadari, Baekhyun menyeringai tipis. "Luhan hyung juga seni tari. Dia teman baikku hyung, jika hyung butuh sesuatu nantinya, minta bantuan saja padanya. Namanya Kim Luhan,"
.
.
.
Baekhyun mematikan lampu kamarnya, ia sudah akan tidur sekarang. Namun ia masih sempat menyalakan ponselnya dan menghubungi seseorang. Seseorang yang tadi ia panggil Kai demi mengalihkan perhatian Chanyeol.
"Yoboseyo -jelek!" Baekhyun berbisik pelan. Diluar masih terdengar suara televisi yang menyala. Mungkin Sehun karena tadi Baekhyun melihat Chanyeol sudah berjalan menuju kamarnya.
"Sudah mau tidur?" tanya Baekhyun lagi pada seseorang diujung sana.
"Yasudah, kalau begitu besok saja di sekolah kita bicarakan. Maaf hyung mengganggumu,"
"Ne, ne. Jaljayo, Kai-ah,"
Tanpa Baekhyun sadari, Chanyeol mengamati apa yang tengah dilakukannya sejak tadi.
Ku pikir ini memang aneh. Ada apa dengannya sebenarnya?
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hoy-_- ini panjang bgt yayaya ini sebenernya dua chapter loh Cuma aku satuin, aku kan minggu depan UN jadi hiatus bentar-_- dan tau diri lah aku, jadi aku gabungin ini chapter-_- gimana? Jelek ya? Membosankan? Pasti udah ketebak ceritanya gimana-_- aku juga mau minta do'a chingudeul, mohon do'anya ya supaya aku bisa lulus dengan nilai memuaskan, amiin.
Oiya, kira-kira chap depan kayak gimana ya? Main tebak-tebakan yuk;/ hehe siapa tau tebakan chingudeul bikin aku terinspirasi;/ oiya satu lagi, jangan panggil aku author, ara aja ya? Biar lebih deket /cielee\ abis panggilan author formal bgtu,u yaudah, last, review please? ;)
