I'll keep you my dirty little secret
Don't tell anyone or you'll be just another regret.
[The All American Rejects - Dirty Little Secret]
. . .
Puas?
Warning: M for violence. AU. OOC possibility: positive. Non-baku. Badass!Marco
Shingeki no Kyojin© Isayama Hajime
Cover art byF_Crosser on Twitter
. . .
2. Rahasia
. . .
Rasanya sakit. Dunia berasa berputar. Palu seperti sedang menghajar kepalanya. Nyeri sana-sini membuatnya terasa lemah.
Apa aku masih hidup?
Syukurlah Tuhan masih memberinya kesempatan. Pelupuk matanya terbuka, mengerjap-erjap untuk menyesuaikan diri dengan remangnya ruangan. Ia tangkap bayangan kabur langit-langit ruangan, sebuah meja laci, lampu kamar yang menyala redup, almari kayu...
Tunggu. Ini kamar siapa?
Marco mencoba untuk bangun, sayang pergerakannya dicegah oleh sensasi nyeri yang menusuk kuat. Ia hanya bisa mengeluh sakit dan kembali ke posisi berbaringnya. Saat itu pula ia menyadari bajunya tak lagi melekat, digantikan dengan lilitan perban yang menutupi pipi, lengan dan badannya. Untunglah celananya masih berada di tempat.
Ia mendengar gagang pintu diputar, seorang gadis berambut hitam pendek membawa nampan berisi segelas air dan sepiring makanan melangkah masuk. Memegang nampan dengan satu tangan, gadis itu menekan saklar yang ada di dekat pintu untuk menyalakan lampu.
"Lho? Mikasa?"
Mikasa, gadis yatim-piatu yang menjadi saudara angkat Eren sekaligus teman satu sekolahnya mengangguk dan meletakkan nampan di atas meja laci di samping tempat tidur.
"Berarti... ini di rumahnya Eren?" tanya Marco.
Saat itu juga remaja yang disebut namanya memasuki ruangan bersama seorang pria berkacamata dengan rambut lurus sebahu membawa sebuah kotak putih.
"Tepatnya, ini di klinik keluarga Jaeger," Mikasa menjawab.
Pria itu tersenyum sebelum meletakkan kotak yang dibawanya di sebelah nampan. Marco teringat ketika Eren menyebutkan ayahnya adalah seorang dokter—dan hari ini untuk kali pertama Marco bertatap muka dengan beliau, dr. Grisha Jaeger.
Setelah Pak Jaeger menarik kursi dari salah satu sudut ruangan ke sisi ranjang, beliau menyapa, "Bagaimana keadaanmu?"
Marco balas tersenyum setengah maksa, "Ya beginilah, Pak Jaeger. Sakit."
Pak Jaeger mengangguk. Dibukanya kotak yang dibawa tadi lalu mengeluarkan segulung perban baru dan beberapa peralatan lain. "Putra saya yang membawamu ke sini. Jadi... Kamu mengalami kontak fisik yang cukup keras, bukan? Untung saja tulang atau organ penting lainnya tidak mengalami kerusakan, hanya luka lecet di beberapa bagian dan juga akan terbentuk memar yang cukup parah di titik terentu... Boleh saya tahu ceritanya?"
"Uh... Tadi di jalan, saya berkelahi dengan perampok..." Marco berbohong. Terpaksa, sebenarnya.
Eren terbatuk menahan tawa.
Tiba saatnya penggantian perban oleh Pak Jaeger. Pemuda berbintik itu hanya mampu meringis menahan sakit yang berdenyut-denyut di punggung ketika Eren dan Mikasa membantunya duduk. Ketika melihat luka-lukanya sendiri di balik perban, ia mendesis miris.
"Baru pertama kali ini kamu mengalami?" tanya Pak Jaeger di sela-sela pekerjaannya.
Marco mengangguk, "I-iya..."
"Paling tidak, Marco tidak seperti Eren yang pertama kali pulang dalam keadaan lebih babak belur lagi," tambah Mikasa datar.
"Hei, Mikasa! Lihat hasil akhirnya, dong! Biar aku pulang bonyok, Muka Kuda Sialan itu nggak berani macem-macem lagi selama dua minggu!"
"Eren. Bahasamu," Pak Jaeger menegur.
"Iya, paah."
Setelah selesai, Pak Jaeger memberi Marco beberapa butir pereda nyeri yang harus dikonsumsi sebelum tidur. Tak lupa juga beliau mengabari orang tua Marco; yang tentu saja khawatir setengah mati, belum lagi keberadaan mereka sekarang di luar kota. Marco maklum akan mereka yang menembakinya dengan rentetan pertanyaan sekaligus. Tentu saja, ia mengatakan 'diserang perampok' sebagai alibi meskipun terasa berat. Pak Jaeger lalu menyuruh Marco untuk istirahat hingga esok hari, beliau bahkan berbaik hati untuk memamitkan Marco ke pihak sekolah. Pak Jaeger lalu keluar ruangan bersama Mikasa, meninggalkan Marco dan Eren di ruangan itu.
Eren meraih nampan berisi makanan tadi dan disodorkan pada pemuda berbintik wajah itu sambil meringis, "Great action, man. Kamu benar-benar bisa 'mbuktiin kalau kamu memang mampu. Salut buat dirimu yang bisa bikin Si Muka Kuda nangis!"
Marco tertawa ringan lalu menerima nampan itu dan ia letakkan di atas pangkuannya, "Makasih ya, Eren. Serius, dia nangis? Rasanya aku duluan yang pingsan, jadi..."
Eren menggeleng, "Enggak, santai aja. 'Wasitnya' kan dua orang. Muka Kuda jatuh duluan beberapa saat sebelum kamu. Kita menang! Dan ya, dia beneran nangis. Ahahaha! Astaga... Hari ini benar-benar hari terbaik dalam hidupku; melihatnya NANGIS! Tepat di depanku! Rasanya dia nggak terima ada anak baru yang ngalahin dia. Belum lagi, tadi pertarungan one-on-one pertamamu sebagai ketua, kan? Siapa yang nggak bakalan emosi?"
"Haha, gimana ya..." Marco memandangi piring makannya yang berisi kentang rebus, potongan daging cincang dan semangkuk kecil sup krim jagung. "Entah kenapa, aku merasa harus minta maaf padanya," gumamnya.
"HAH?! Ngapain?!" pekik Eren. "Kamu udah ngasih dia pelajaran! Sekarang, daerah konbini itu bebas dilewati siapa aja!" Tepat saat itu Mikasa kembali masuk membawa nampan berisi makan malamnya dan Eren.
"Tapi Eren, kurasa aku menghajarnya terlalu keras—"
"Ya ampun Marco, itu memang salah satu tugasmu. Udah ah, mending sekarang kita makan dulu."
Marco menghela nafas sebelum mengambil alat makannya dan memotongi kentang rebus di piringnya. Ketiga remaja itu makan bersama dalam diam hingga Mikasa memutuskan untuk bersuara, "Kamu berkomitmen untuk masuk ke dunia yang seperti itu, Marco. Bukankah seharusnya kamu sudah tahu apa saja yang akan terjadi di sana? Apa lagi... ini sudah setahun lebih kau bergabung."
"Iya, lah. Sudah kupikirkan sejak awal aku masuk SMA," jawab Marco sebelum melahap sepotong kentang, "Aku sadar kalau wilayah itu adalah tempat yang berbahaya, terutama untuk orang-orang sepertiku. Kalian lihat kan, gimana aku berperilaku dan orang-orang lain memandangku?"
Kedua saudara itu nampak merenung sejenak. Marco Bodt, dikenal sebagai seorang pemuda yang bersungguh-sungguh, penuh inspirasi, baik budinya dan bermasa depan cerah. Apes memang, kalau anak baik-baik seperti Marco ketangkap melakukan aksi yang beda seratus delapan puluh derajat dari imej yang nampak.
"Heh, menurutku kamu pintar juga menyembunyikan diri," ungkap Eren. "Katanya sih, udah ada yang pernah melihatmu ikut beraksi di geng. Tapi karena kamu itu terlalu baik di mata semua orang, mereka banyak yang tidak mau percaya. Termasuk guru-guru, bahkan."
Marco menyeruput sesendok sup, lalu menanggapi, "Aku nggak pantas dianggap 'pintar', Eren." Ia menghela nafas lesu, "Entah sampai kapan aku bisa menutup rahasia ini... Gimana kalau sampai orang tuaku tahu? Bisa mati aku..."
"Marco... kamu melakukan ini semua demi cita-citamu, kan?"
Kalimat Mikasa membuat Marco terhenyak.
"Kalau jalan yang gelap ini memang jalanmu, lewatilah. Jangan takut. Kamu tidak akan bisa meraih apa yang kau mau kalau kamu diam di tempat dan masih berpikir seribu kali untuk melewatinya atau tidak."
Eren menambahkan, "Kata senior sebelum aku, geng kita itu unik. Kita nggak akan menyerang sebelum diserang, bergerak buat ngasih pelajaran ke orang-orang yang nggak tahu diri di luar sana. Makanya aku serahkan kepemimpinanku padamu. Kamu orang yang pas."
Kedua manik kecoklatan itu menatap kedua bersaudara dengan seksama. Mereka lalu terfokus pada sepasang iris zamrud yang bersinar penuh keyakinan. Bibirnya melengkung ke atas, kemudian terbuka dan mengucapkan, "Siap, bos."
"Oh, iya. Kamu belum pernah cerita perkara 'cita-citamu' itu. Curang Mikasa tahu duluan."
Marco tertawa lepas. "Habis, Eren nggak tanya sih! Yakin, mau tahu? Kamu nggak akan percaya, lho."
Terbukti benar, Eren hanya bisa menganga lebar mendengar Marco bercerita.
# # # # # #
Barisan awan melayang mulus di atas langit biru, cuaca cerah memberi kesempatan agar manusia berlalu-lalang keluar rumah untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka. Hari-hari pun berlalu dan membuka pula lembaran pengalaman-pengalaman baru. Tidak terkecuali bagi seorang remaja bernama Jean Kirschtein.
Di sinilah ia, di dalam sebuah konbini yang sama, tempat yang menjadi titik pertemuannya dengan peristiwa tak terduga kurang lebih empat-lima hari yang lalu.
Sekolah libur lantaran sekarang hari Sabtu. Om Nile pergi dinas, Jean pun ditinggal sendirian di rumah. Bosan memainkan Xbox dan mengganti-ganti channel TV akhir minggu yang penuh acara tidak bermutu, ia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Dengan sepasang earphone yang mengirimkan musik keras dari iPod di saku celana ke kepalanya, Jean melangkah santai sambil mengamati lingkungan sekitarnya hingga entah bagaimana sampai di tempat ia berada sekarang.
Ia tak ada niat untuk kembali ke situ sebenarnya. Karena perut menyuruhnya untuk dibelikan snack dan minuman, Jean tidak bisa melawan. Mendengus lelah, ia membuka pintu kaca itu dan melangkah masuk. Seperti biasa, ia mengacuhkan sapaan ramah karyawan kasir yang berdiri di balik meja konter dekat pintu keluar. Lagipula, kelihatannya mereka juga tak peduli sapaan mereka digubris atau tidak—yang penting manajer tidak marah karena tidak lupa menyapa pelanggan.
Setelah mengambil sebotol air mineral dingin, Jean menghampiri rak yang berisi jajaran makanan kecil di pojok toko. Ketika ia hendak mengambil sekaleng keripik kentang, tangan lain maju dan tidak sengaja menyentuh punggung tangannya. Sontak keduanya menarik tangannya kembali dan bertatapan untuk mengetahui siapa pemiliknya masing-masing...
Pemuda berbintik wajah berambut hitam yang sangat familiar di hadapan Jean tersenyum kaku dan bertanya, "Uh... kau mau mengambilnya?"
Mendadak Jean merasakan semacam sensasi dé ja vu yang mengguyur deras.
Kedua alisnya terpaut, sepasang iris cokelat keemasan menajam. "Marco," Jean mendesis.
"H-hai. Sebuah kebetulan, ya?" ucap Marco canggung.
Jean mendecih sinis. Ia sambar keripik kentang kalengan tadi, setelah satu sorotan yang menyuarakan 'menjauh-sekarang-juga-atau-kuhajar' Jean berbalik.
"Jean."
Pemuda berambut cokelat susu kepirangan potongan bawah yang tipis itu berhenti dan menoleh, "Apa lagi?"
Marco menatap mantap, "Aku mau bicara denganmu."
Sesaat kemudian dia lupa mendadak apa yang mau diutarakan.
Kali ini kedua remaja lelaki itu duduk berhadapan di salah satu meja kosong di luar konbini tanpa sepatah kata apapun selama satu-dua menit terakhir. Jean duduk bersandar di kursi dengan kaki kanan disilangkan, sementara Marco duduk condong ke meja dengan tangan yang memainkan sedotan susu kotaknya, pandangan kemana-mana kecuali ke satu orang di depannya dan sesekali menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
Awkward.
"Jadi nggak, sih? Buang-buang waktu aja," gerutu Jean tidak sabaran.
"S-sori."
Jean menaikkan salah satu alisnya.
"Sori soal kemarin," ungkap Marco kaku.
"Haah?"
"Iya. Uh... Seumur-umur aku belum pernah menghajar orang—cowok lagi—sampai nangis."
Wajah Jean merah padam seketika, "K-kampret... Siapa yang bilang gitu?! Kamu nggak lihat, juga!"
"Eren yang bilang, jadi aku percaya," kata Marco sambil memalingkan muka.
Kedua tangan Jean menopang kepalanya, menyembunyikan wajah malunya di balik telapak tangan, "Cih, dasar bajingan... Habis dia nanti."
Kedua pemuda itu pun kembali tutup mulut. Tak tahan dengan kecanggungan situasi, Jean berdiri dari kursinya dan Marco melakukan hal yang sama serta hendak mengakhiri pertemuan mereka.
"Hei, Marco. Jangan pergi dulu. Kita belum selesai," cegah Jean.
Marco menatap Jean bingung, alisnya terangkat ketika Jean mengisyaratkan untuk mengikutinya. Marco pun menuruti dengan waspada.
Mereka berjalan beberapa meter hingga sampai di mulut gang samping konbini yang begitu familiar. Tiba-tiba Jean menarik Marco di kerah bajunya dengan kasar, membawanya masuk ke gang dan mendorong pemuda berbintik wajah itu ke tembok.
"Kau bercanda, ya?" Jean mendesis sengit. Cengkeraman tangan di kerah baju Marco menguat, wajahnya disisakan jarak lima inchi dari sang lawan bicara. "Kamu tahu apa yang terjadi setelah aku kalah darimu?"
Marco meraih lengan Jean agar ia melonggarkan cengkeramannya, tapi tak berhasil.
Kedua iris keemasan itu seakan-akan menusuki sepasang manik kecoklatan di depannya. "Diolok-olok. Dilecehkan. Lalu mereka cabut posisiku sebagai ketua. Itu semua teman-temanku yang melakukannya. Lalu sekarang entah bagaimana kamu muncul di hadapanku, ngajak bicara cuma buat MINTA MAAF?!"
"Jean, aku benar-benar—!"
Jean menghantamkan lengan satunya ke tembok, sukses mengurung Marco. "APA LAGI?! Berhenti jadi anak sok baik! Kamu di dalam sana menertawaiku, kan?! Puas melihatku seperti ini, kan?! Haah?! Puas?!"
"TIDAK SAMA SEKALI!" Marco balas berteriak.
Jean terkejut. Sesaat kemudian bibirnya melengkung membentuk seringai. "Kamu kurang ajar, ya?" bisiknya lalu mendorong Marco dengan kasar ke tanah.
Untung Marco cepat-cepat menggelinding ke samping sebelum kaki Jean menghantam perutnya. Belum sempat Marco berdiri, Jean menerjang dan mencengkeram sekaligus menekan kedua lengannya di tanah.
"Tidak, kamu bilang? Masih mau bikin hidupku tambah menyebalkan lagi, eh?" desis Jean, matanya melotot sengit.
Marco berusaha melawan, sayang tekanan pemuda di atasnya terlalu keras, "Jean, tenanglah! M-maksudku bukan itu!"
"Lalu apa?! Puas lihat harga diriku hancur?! Kamu anak baru nggak tahu apa-apa!"
"Makanya itu aku mencari tahu!"
Kedua remaja itu pun terengah, lelah berteriak satu sama lain.
"Sebenarnya maumu itu apa, Marco?" tanya Jean setelah merasa dirinya cukup tenang.
"Aku..." Marco mengerenyitkan dahi dan memalingkan muka. "... Cuma mau belajar."
Sekali lagi pernyataan Marco membuat Jean bingung. "Belajar?"
"Tentang kalian. Semuanya. Tingkah kalian yang sering membuat kekacauan membuat kalian dimusuhi banyak orang. Tapi dibalik itu semua, aku melihat ada 'hal' yang lain. Karena caci-makian orang-orang, 'hal' itu tertutup dari mereka. Makanya aku di sini, masuk ke dunia kalian; dunia yang bahkan kedua orang tuaku sangat membencinya," Marco menjelaskan.
Kedua mata Jean memicing tajam, "Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu nekat? Itu sebabnya kenapa kemarin aku menyuruhmu untuk minggir. Duniaku bukan untuk orang sepertimu."
"Justru aku harus tahu lingkunan mereka. Aku harus tahu apa saja yang terjadi secara langsung, meskipun aku harus menjadi mereka untuk merasakannya. Ini semua demi cita-citaku!" bantah Marco.
"Memangnya apa cita-citamu? Perampok yang menjarah rumah orang dengan sopan dan santun?"
"Polisi."
Kedua mata Jean membelalak.
"Ya, polisi. Penegak hukum," jawab Marco mantap.
Jean mendengus. Kemudian bibirnya membentuk seringai, berkembang menjadi tawa pelan sebelum tertawa lepas hingga terpingkal-pingkal. Setelah sekuat tenaga meredakan tawanya, ia berdiri untuk bersandar di tembok.
"Iya, aku tahu ini memang aneh," Marco menanggapi selagi ia berdiri dan membersihkan kotoran dan debu yang menempel di pakaiannya. "Tapi, aku capek melihat kebanyakan polisi memperlakukan mereka terlalu kasar."
"Astaga Marcoooo... Jujur, kamu ini memang orang baik. Sangat baik. Terlalu... baik," ungkap Jean, menyorot Marco kembali dengan tajam. "Suatu saat, sikapmu yang terlalu baik ini bakal menyerangmu balik."
Marco hanya diam memperhatikan Jean yang melangkah mendekat. Ketika Jean berhenti tepat di depannya, ia meraih dagu Marco untuk ditarik mendekat. Seketika pipi Marco menghangat mengingat sisa beberapa senti lagi hidung mereka bersentuhan.
"Coba kita lihat sejenak... hmm... Ya, tipikal anak manis. Jujur waktu kita ketemu di depan sekolahku, aku kira kamu cuma bocah polos biasa. Bintik-bintik di pipimu ini telah sukses menyamarkan pangkatmu," gumam Jean.
"J-Jean, tolong menjauh sedikit..."
Jean pura-pura tidak mendengar Marco, "Nah, sekarang si anak manis ini ingin belajar bagaimana cara menjadi anak nakal! Hahah, benar-benar nggak biasa. Baru pertama ini aku dengar. Tapi, santai. Aku nggak akan dendam lagi, kok. Justru sebaliknya."
Marco merinding ketika merasakan tangan Jean menepuk pundak kanannya keras. Pemuda bermata cokelat keemasan itu mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Marco, menyeringai dan berbisik, "Akan kuberitahu semua yang aku tahu. Gimana, hm?"
Entah Marco harus merasa bahagia atau takut untuk melanjutkan keputusan yang ia tentukan sendiri.
# # # # # TBC # # # # #
(A/N)
Oh ya ampuuun, maafkan author kelamaan update... Kuliah semester 1 memang menyita waktu dan saya masih ada di masa-masa adaptasi jadi jadwal curi-curi waktu jadi agak berantakan. Udah gitu sempet kena WeBe - Orz
At least chapter kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Semoga pas di hati pembaca sekalian~ \( 'v')/
... dan WOAH saya nggak nyangka hits fic ini banyak sekali! Makasih buat para readers yang membaca dan tentunya yang sudah +fav dan +follow! Juga para reviewer Marko Krisnanto, BakaFujo, LinLinOrange, makasih banyak! Kalian udah menjadi penyemangat saya untuk ngelanjut fic ini! 8"D
Adegan yang 'iya-iya'? Iya gak ya? 8) /plak
Matur nuwun sudah menyempatkan membaca. ^^
Mohon review/kritik/saran-nya, saya masih belajar. :D
