MIANHAE
by
rappicasso
Chapter 2
KRING! KRING! KRING!
Jam beker kuno berwarna biru tua itu berdering―menggema di sebuah ruang kamar yang berukura meter tersebut. Seorang pemuda yang sedang berbaring di atas ranjang, bergelung di bawah selimut tebalnya yang lusuh itu pun menggeliat pelan dalam tidurnya. Kedua matanya membuka secara perlahan dan menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Nggh." Pemuda itu melenguh pelan sambil meregangkan otot-otot lengannya.
KRING! KRING! KRING!
Tangannya segera menggapai jam bekernya yang masih berdering itu dan segera mematikannya. "Huft!" Matanya terbuka sepenuhnya dan melirik ke arah jam beker di tangannya. "Ah, akhirnya, aku bisa bangun pagi lagi," gumamnya dengan nada riang. Ia menggerakkan otot tubuhnya selama beberapa detik, lantas menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya dan turun dari atas ranjangnya.
Bibirnya yang tebal menggumamkan senandung lagu. Kaki-kakinya yang jenjang membawa dirinya ke sebuah lemari yang terletak di sudut kamar tersebut. Ia segera mengambil pakaian yang akan dikenakannya hari itu. Ia mampir mengambil handuknya sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Pemuda itu segera melucuti seluruh pakaiannya dan segera membasuh tubuhnya dengan air yang segar. "Sshh." Bibirnya bergetar pelan saat suhu dingin menyapa tubuhnya. Ia kembali mengguyurkan air ke tubuhnya. Dibersihkannya setiap inchi tubuhnya yang berwarna kecoklatan itu dengan sabun dan kembali dibilas hingga bersih. Setelah dirasa tubuhnya cukup bersih, ia segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan mengenakan pakaian yang telah dibawanya tadi.
Dan ia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang lengkap. Ia menghampiri sebuah cermin kecil di samping lemari untuk menyisir rambutnya yang berwarna hitam legam. Ia mengambil tas punggungnya dan menyandangnya. Kakinya sudah melangkah menuju pintu keluar kamar tidurnya, saat terdengar ketukan yang sangat keras.
"Yak, Kim Jongin! Keluarlah!" Suara teriakan wanita terdengar dari luar.
Pemuda itu mendengus pelan dan mempercepat langkahnya. "Ne, ne." Ia segera membuka pintu kamarnya. "Ada apa, Han Ahjumma?" Pemuda itu memutar bola matanya dengan bosan saat berhadapan dengan seorang wanita paruh baya bertubuh agak tambun itu.
Han Ahjumma―pemilik dari kamar kontrakan yang disewa oleh pemuda bernama Jongin itu memasang wajah marahnya seperti biasa. "Kau belum membayar uang sewamu, Bocah!" bentak wanita itu mengingatkan.
Jongin menghela nafasnya. "Tanpa diingatkan pun aku sudah tahu," batinnya dalam hati. "Aku tahu, Ahjumma. Aku akan segera membayarnya. Hari ini aku akan mendapat gajiku," jelas Jongin sesabar mungkin.
"Baiklah. Kupegang janjimu," balas Han Ahjumma. "Jika tidak, nanti malam juga, kau harus angkat kaki dari tempat ini. Arrasseo?"
"Ne, arrasseo," balas Jongin pasrah.
Han Ahjumma berlalu dari depan kamar Jongin dan bersiap untuk menghampiri kamar-kamar yang lainnya untuk meneriakkan hal yang sama.
Jongin menghela nafas panjang. Ia memperbaiki letak tasnya. "Hah, kurasa hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang dan melelahkan."
.
.
.
.
.
.
"Ini koran-koran yang harus kau antarkan, Kai." Seorang pria paruh baya menyerahkan setumpuk koran pada sang pemuda berkulit coklat―Kim Jongin atau yang biasa dipanggil Kai. Untuk beberapa alasan, Jongin memang lebih suka dipanggil dengan nama Kai.
Jongin tersenyum manis. "Ne, Ahjussi," ucapnya mantap. "Aku permisi dulu. Annyeong."
"Ya. Berhati-hatilah, Kai-ah," pesan pria paruh baya tersebut―Park Ahjussi yang notabene adalah seorang agen penjual koran.
Jongin berjalan menuju sepeda yang disediakan Park Ahjussi baginya untuk mengantar koran. Park Ahjussi sangat jauh berbeda dari Han Ahjumma. Pria paruh baya itu sangat ramah padanya. Itulah yang membuat Jongin merasa sangat nyaman bekerja padanya. Jongin bahkan sudah menganggap Park Ahjussi sebagai ayahnya sendiri. Ia segera menaiki sepedanya dan mengayuhnya secara perlahan―mengantarkan koran-koran pada para pelanggan Park Ahjussi.
Jongin membatin dalam hati. "Sejauh ini baik-baik saja. Semoga aku bisa mengumpulkan uang untuk membayar sewa kamar."
Ya, setidaknya sejauh itu, hidup Jongin masih baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
Jongin baru saja menyelesaikan mata kuliah pertamanya hari itu. Ia keluar dari dalam kelasnya dan berniat untuk pergi ke kantin. Ia harus segera mengisi perutnya sebelum ia kolaps, karena perutnya sama sekali belum terisi makanan. Ia sudah mendapat bayaran dari Park Ahjussi. Setidaknya, uang itu bisa ia gunakan untuk membeli sarapan pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya.
Jongin mengambil buku dari dalam tasnya. Ia teringat bahwa pada jam berikutnya, ia akan menghadapi sebuah tes. Ia pun berniat untuk membaca ulang materi yang akan diujikan nanti. Sementara itu, kaki-kakinya terus membawa dirinya menuju kantin. Jongin terlalu fokus pada bukunya, sampai ia tak menyadari bahwa pada jarak beberapa meter, seorang pria tengah terpaku menatapnya. Merasa dipandangi, Jongin pun berhenti berjalan dan mendongakkan kepalanya. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata elang yang sedang memandanginya. Tubuhnya membeku ketika otaknya berhasil mengenali sosok tersebut. "K-kau?"
"J-jongin?" Pria bertubuh jangkung dan berambut pirang itu tampak gugup. Tubuhnya bergetar kecil. "Itukah kau?" Suaranya terdengar pelan, namun cukup keras untuk didengar oleh Jongin.
Jongin ingin sekali lari dari tempat itu, namun kakinya seolah menancap pada tanah tempatnya berpijak. Ia ingin sekali memalingkan wajahnya dari tatapan pria di hadapannya itu, namun lehernya terasa sangat kaku.
Pria itu melangkahkan kakinya yang panjang―selangkah lebih dekat dengan Jongin. Sudut bibirnya tertarik ke atas. "Akhirnya aku berhasil menemukanmu," gumamnya pelan.
Jongin tak bisa mengelak jika ia sangat takut, terbukti dengan tubuhnya yang bergetar cukup hebat. Ia meremas buku yang sedang dibacanya tadi. "A-apa yang ingin kau lakukan padaku?" tanyanya gugup.
Tatapan pria berambut pirang itu menghangat―sekaligus meredup. Seperti ada rasa bahagia yang mengisi hatinya, namun juga ada perasaan sedih yang menyelimutinya. "Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan yang besar padamu." Pria itu menarik nafas dalam-dalam. "Jadi, ijinkan aku untuk menebus semuanya, Jongin-ah. Berikan aku kesempatan sekali ini saja."
Jongin masih terdiam di tempatnya dengan mengerutkan keningnya.
Sepertinya, hidup Jongin setelah ini tidak baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
Sesungguhnya, Kris masih tidak percaya bahwa ia sudah berhasil menemukan orang yang selama ini dicarinya. Kunci utama dari tujuan hidupnya beberapa tahun terakhir. Jika ia berhasil meyakinkan dan membahagiakan pemuda di hadapannya ini, maka misinya telah berakhir. "Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan yang besar padamu. Jadi, ijinkan aku untuk menebus semuanya, Jongin-ah. Berikan aku kesempatan sekali ini saja."
Kim Jongin―pemuda itu mengerutkan keningnya.
Kris masih menatapnya dengan penuh harap. "Semoga saja, Jongin berse―"
"Kenapa aku harus memberimu kesempatan lagi?" Jongin bersuara. Suaranya masih sama dengan yang terakhir kali Kris dengar―suara yang terdengar putus asa dan kecewa.
Sebelum Kris sempat menyelesaikan doanya, Jongin justru melontarkan pertanyaan yang membuatnya patah semangat. "Sepertinya, usahaku akan berakhir sia-sia," batin Kris dalam hati. Kris menarik nafas dalam-dalam. "Aku melakukan ini untuk kebaikan kita semua, Kim Jongin," jelas Kris.
Jongin terkekeh. "Kebaikan kita semua, kau bilang?" tanya Jongin meremehkan. "Kebaikan kita semua atau hanya kesenanganmu, huh?" tuduh Jongin sengit..
Kris tersentak. Jongin sama sekali tidak berubah. Pemuda itu masih pemuda yang suka melontarkan kalimat yang pedas. Kris tersenyum kecil. Ia banyak belajar tentang menghadapi pemuda seperti Jongin. Jangan membalasnya dengan emosi, melainkan dengan kelembutan. "Kebaikan kita semua akan membawa suatu kesenangan untukku, Jongin-ah," balas Kris. "Maaf, jika aku lancang. Namun aku hanya berusaha membantumu, Jongin. Kudengar, kau sangat membutuh―"
"Cukup!" Jongin menyela. "Aku tahu, kehidupanku jauh berbeda dengan hidupmu yang sukses dan bahagia," ucap Jongin. "Aku tahu, aku hanyalah seorang anak yatim piatu yang hidup terlunta-lunta, mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah dan harus bekerja serabutan untuk menyambung hidup," lanjutnya. "Tapi aku tidak seperti yang kau pikirkan, Wu Yifan," desisnya pelan. "Aku tidak akan pernah mengemis bantuan, apalagi pada pria seperti dirimu."
Kris menatap Jongin tanpa berkedip. Ia tidak marah. Sedikitpun tidak. Ia tersenyum kecil. "Kau tidak mengemis padaku, Jongin-ah. Aku yang menawarkan bantuan untukmu," gumam Kris pelan. "Tapi itu terserah kau saja." Kris tersenyum―seperti seorang malaikat. Kris mengambil sebuah kertas kecil dari saku kemejanya. "Ini kartu namaku. Kapanpun kau membutuhkanku, kau bisa menghubungiku," jelas Kris.
Jongin menerima kartu nama Kris dengan enggan.
"Setidaknya, sampai kau menemukan alasan yang tepat untuk memberiku kesempatan kedua."
.
.
.
.
.
.
Tidak mudah bagi Jongin untuk kabur begitu saja dari Kris. Ia percaya bahwa Kris masih mengawasinya. Bukannya terlalu percaya diri atau apa, namun Jongin cukup mengenal Kris―setidaknya dulu mereka pernah sangat dekat. Jadi Jongin benar-benar sangat berhati-hati dalam melakukan aktivitasnya setelah pertemuan mendadaknya dengan Kris.
Jongin menyeruput iced-lemon tea yang dipesannya di kantin kampus. Ia memejamkan matanya dan bayangan masa lalunya yang indah berlalu lalang di pikirannya. Ya, masa lalunya yang indah, sampai suatu ketika, satu per satu masalah pun muncul dan merusak hidupnya. Jongin segera membuka matanya kembali.
"Ya Tuhan. Apapun yang terjadi nanti, aku memohon perlindungan-Mu."
.
.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana, Kris?" Ara meletakkan secangkir teh yang baru saja diminumnya ke atas meja. Pandangannya yang sedang tertuju ke arah jalanan Seoul yang lengang beralih pada Kris yang duduk di depannya.
Kris memandang ke arah cangkir kopinya sambil memainkan sendoknya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. "Hm kurasa kau sudah bisa menebaknya," gumam Kris pelan.
Ara menatap Kris lekat-lekat. Ia menduga, jika hasilnya baik, Kris tidak akan mungkin pergi menemuinya. Mungkin Kris sudah merayakan keberhasilannya dengan pergi bersama Jongin. "Dia menolakmu?" tanyanya lirih―takut menyinggung perasaan Kris.
Kris mendongak. "Begitulah," balasnya singkat, lantas mendesah panjang. Punggungnya bersandar pada kursi dan matanya pun terpejam. "Kurasa, aku harus berhenti disini," gumamnya pelan―
namun tidak cukup pelan, sehingga masih mampu terdengar oleh Ara. "Apa kau bilang? Kau menyerah?" Ara mengerjap tak percaya. Ia berharap telinganya salah dengar saat itu.
Kris hanya terdiam―dan itu berarti 'iya'.
Ara benar-benar tidak percaya. Setahu dirinya, Kris adalah orang yang cukup tangguh, apalagi hanya dengan menghadapi penolakan dari seseorang. Setahu dirinya, Kris akan memperjuangkan apapun yang dia inginkan, apalagi jika ia sudah berjalan sejauh ini. Yah, meskipun Ara kurang setuju jika Kris harus melakukan semua ini, namun selama ini, Ara tahu bahwa perjuangan Kris tidaklah mudah. Sahabat yang baik tak akan membiarkan sahabatnya menyerah begitu saja, bukan? "Kris, kau sudah berjalan sejauh ini dan kau ingin berhenti begitu saja?"
Kris membuka matanya. Matanya memantulkan cahaya yang indah. Senyumnya yang tipis terlihat menenangkan. Wajahnya terlihat seperti seorang malaikat yang telah diturunkan Tuhan ke bumi. "Tak ada lagi yang bisa kupertahankan, Ara. Tidak, jika seseorang yang paling kucintai saat ini pun sudah membenciku."
"A-apa?" Ara menganga. Ia tak percaya bahwa Kris akan menyerah semudah ini.
Kris mengambil ponsel yang digeletakkannya di atas meja. Layar ponselnya menampilkan wajah malaikat yang lain―Oh Sehun. "Aku hanya bisa mengulur dan menunggu waktuku," lanjut Kris. Jemarinya mengusap layar ponselnya, seolah berharap ia bisa menyentuh wajah malaikatnya itu. "Mungkin, ini sudah saatnya aku menepati janjiku pada Sehun."
.
.
.
.
.
.
"Kau terus melamun, Kai-ah." Seorang pria manis dengan pipi dan mata yang bulat―Kim Minseok menegur Jongin yang sedang duduk di depan meja bar.
Jongin seolah tersadar dari lamunannya dan terlihat gelagapan. "E-eh, mianhae, Hyung." Ia membungkukkan badannya sekilas untuk menunjukkan rasa bersalahnya pada Minseok.
Minseok tertawa pelan. "Sebenarnya, apa yang sedang terjadi padamu, Kai-ah?" tanya minseok heran. "Kuperhatikan dari tadi, setiap kali kau tak ada pekerjaan, kau pasti melamun. Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?"
Jongin hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tak ada apa-apa, Hyung," jawabnya bohong. Ya, tentu saja, ia berbohong. Bukankah telah terjadi sesuatu padanya? Apalagi semenjadi pria itu datang lagi ke dalam hidupnya.
Minseok tersenyum kecil, lantas menepuk pundak Jongin. "Jika kau ada masalah, aku bersiap untuk mendengar setiap ceritamu. Kau mengerti?" ucap Minseok.
Jongin tersenyum kecil. Ia sangat bersyukur karena ia memiliki seorang teman kerja seperti Minseok. "Gomawo, Hyung," balasnya. "Aku sangat menghargai bantuanmu. Namun kurasa, aku tidak akan menceritakannya padamu saat ini, Hyung," lanjut Jongin.
"Gwaenchana, Kai-ah. Itu adalah hakmu," jawab Minseok sambil tersenyum.
"Hyung, kurasa aku harus melayani tamu-tamu lagi. Aku permisi."
.
.
.
.
.
.
"Selamat malam, Ara." Kris memutuskan sambungan teleponnya dengan Ara. Ia meletakkan ponselnya di atas meja di ruang tengah. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa. Tangannya terangkat untuk memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Ara terlalu berlebihan―well, sedikit. Sepertinya, Ara membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan ia lakukan semenjak penolakan Jongin. Namun Kris tak menduga jika Ara sempat berpikir bahwa ia akan bunuh diri.
Hell yeah. Kris tak berpikir sejauh itu hanya karena Jongin. Lagipula, ia masih memiliki alasan lain untuk hidup―ayahnya, Changmin dan Rachel. Sekalipun ia menyerah atas Jongin, itu ak berarti ia menyerah atas hidupnya. Ia hanya ingin menikmati sisa hidup yang masih ia miliki bersama orang-orang yang dicintainya―minus Jongin yang telah menolaknya.
Sepanjang sisa harinya, ia hanya ingin berada di dalam apartemen, berbaring di atas ranjang dan bergelung di bawah selimut tebalnya. Mungkin, jika Kris benar-benar ingin bunuh diri, satu-satunya alasannya justru karena celotehan tanpa henti dari Ara. Kris heran, mengapa wanita bisa memiliki kekuatan sebanyak itu untuk berbicara panjang lebar. Telinga Kris saja seperti terbakar.
Kris bangkit dari duduknya. Ia belum berniat tidur sekarang, karena ia belum mengantuk. Bagaimana tidak, Ara mengomelinya di telepon selama beberapa menit dan itu cukup ampuh untuk membuatnya terjaga selama beberapa jam ke depan. Ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur. Ia akan membuat segelas susu coklat.
"Kata Mom, segelas susu bisa membantu kita untuk tidur."
Kris teringat kata-kata Rachel. Ya, sepertinya Kris akan mencoba saran Rachel kali ini. Ia pun segera membuat susu coklat. Sesekali ia tersenyum karena mengingat sosok Rachel. Gadis mungil itu adalah salah satu penyemangat hidupnya. Gadis cantik yang mewarisi senyum indah ibunya. Gadis manis―putri dari sesosok malaikat.
Kris meminum susu coklat yang telah dibuatnya. "UHUK!" Entah karena apa, Kris tersedak. Ia terbatuk-batuk. Tangannya mengepal dan memukul dadanya pelan. "Aish, ada apa ini?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba saja, pikirannya tertuju pada satu orang.
Kim Jongin.
.
.
.
.
.
.
"Apa yang ingin Anda pesan, Tuan?" Jongin membungkukkan badannya. Tangannya mendekap sebuah buku catatan kecil di dadanya. Ia harus membungkuk sehingga ia mampu mendengar suara pelanggan dengan jelas. Maklum saja, dentuman musik dalam bar malam tersebut sangat keras dan memekakkan telinga.
Pria yang dihampiri Jongin itu memperhatikan Jongin dengan seksama―dari bawah hingga atas. "Sepertinya, aku baru pertama kali ini melihatmu. Apa kau baru, hm?" tanya pria itu dengan menggumam.
Jongin mendengar pria itu bersuara dengan samar-samar. "Maaf, Anda bilang apa, Tuan?" tanya Jongin sopan.
"Ah, tidak, tidak." Pria itu menggeleng. "Hm, bagaimana kalau aku―" Pria itu menggeser duduknya, mendekatkan diri pada Jongin. "―memesan tubuhmu saja untuk malam ini."
Mata Jongin membulat. Ia memang sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Ini adalah resikonya untuk bekerja sebagai seorang pelayan di bar. "Maaf, Tuan. Saya tidak bekerja untuk itu. Jika Anda membutuhkan seseorang un―"
"Aku hanya membutuhkanmu, Manis." Pria itu tersenyum misterius, lantas menarik tubuh Jongin.
Tubuh Jongin terjatuh begitu saja ke atas pangkuan pria asing itu. Ia berusaha memberontak.
Namun pria itu justru mendekap tubuhnya lebih erat. Dengan lancang, pria itu mengendus leher Jongin yang jenjang. "Kau wangi, Manis," pujinya lirih.
Jongin menggeliat resah sambil menahan desahannya. Dalam hati, ia merapalkan doa―semoga saja Tuhan menolongnya. Sungguh, ia tak pernah mengalami pelecahan sejauh ini. Mungkin ia hanya digoda oleh beberapa pelanggan. Namun ia tak pernah disentuh seperti ini.
Pria asing itu menangkup kedua pipi Jongin. "Bibirmu sangat tebal dan seksi, Sayang. Aku ingin mencicipinya. Apakah bibirmu juga semanis wajahmu hm?" Pria itu bersiap mencium bibir Jongin.
Jongin menutup matanya erat-erat. Ia mencengkram ujung bajunya. Ia bisa merasakan deru nafas pria di hadapannya itu kian mendekat. Namun, saat seharusnya bibirnya bertemu dengan bibir pria itu, tak ada yang terjadi, selain―
BUGH!
"Brengsek kau! Jauhi Jongin!"
.
"Brengsek kau! Jauhi Jongin!" Nafas Kris memburu setelah melayangkan pukulan ke wajah seorang pria yang tak dikenalnya. Kris segera mengalihkan perhatiannya dan memastikan keadaan Jongin baik-baik saja. "J-jongin, kau baik-baik saja?" Kris menarik tubuh Jongin. Ia menyentuh pipi pria yang lebih muda darinya itu.
Jongin terdiam. Tubuhnya bergetar pelan. Sepertinya, pemuda itu masih terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya.
Kris berusaha mengerti dan segera membawa Jongin dalam pelukannya. "Tenanglah, Jongin-ah. Kau aman bersamaku sekarang." Kris mengelus rambut Jongin.
Sementara itu, orang-orang lain nampak memperhatikan adegan tersebut dengan takjub.
"Sialan kau." Pria yang mendapat pukulan Kris itu mencoba bangkit. "Jika kau kekasihnya, tidak seharusnya kau membiarkan dia bekerja di tempat seperti ini, Bung," ucapnya sambil menyentuh bekas pukulan Kris. "Lihatlah, kekasihmu sangat cantik dan menggoda. Seharusnya, ia berada di bawah tubuhmu dan bukannya berkeliaran disini." Pria itu terkekeh pelan.
Kris hanya diam―tidak berniat menggubris ucapan pria itu.
Namun ia mencatat kalimat itu baik-baik dalam otaknya. Ia akan menjaga Jongin.
.
.
.
.
.
.
Kris menuntun Jongin untuk untuk duduk di atas sofanya. Kini, keduanya sudah berada di dalam apartemen Kris. Kris menyentuh pundak Jongin dengan lembut. "Jongin-ah."
Tidak ada sahutan. Jongin masih terdiam, sejak insiden kecil yang menimpanya tadi.
Kris tersenyum kecil. Ia berusaha memaklumi hal itu. "Aku akan membuatkanmu segelas coklat. Tunggulah disini." Kris melesat pergi ke dapur. Ia berniat untuk membuat susu coklat, untuk membuat Jongin sedikit lebih tenang. Sesekali, Kris menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat malam itu. Ia merasa dirinya mirip dengan remaja yang sedah jatuh cinta. "Ah, mungkinkah aku jatuh cinta padamu sekali lagi, Jongin-ah?"
.
.
.
.
.
.
Jongin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sesungguhnya, keadaannya sudah lebih baik, dibandingkan ketika ia masih berada di dalam bar tadi. Sepertinya, pelukan Kris membawa dampak yang baik bagi tubuhnya.
Keadaannya memang lebih baik, namun Jongin berpura-pura masih terguncang. Ia tak tahu harus bagaimana untuk menghadapi Kris. Ia ingat betul bagaimana ia menolak bantuan pria itu tadi pagi. Dan kini, ia justru berakhir di apartemennya yang mewah. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Bukan karena ia nyaris dilecehkan oleh pelanggan di bar tempatnya bekerja. Ia jijik, karena sempat menolak Kris yang sepertinya memang tulus menolongnya. Bahkan ia masih tak habis pikir, bagaimana Kris bisa menemukan dia yang sedang membutuhkan pertolongan.
Apakah Tuhan hanya sedang berusaha menjawab doanya?
"Ini susu coklatmu, Jongin-ah." Suara Kris terdengar.
Jongin membeku.
Kris melangkah semakin dekat ke arah Jongin. "Kau mau meminumnya? Kebetulan susunya masih hangat," jelas Kris. Ia meletakkan gelas susu tersebut di atas meja dan duduk di samping Jongin. Ia berusaha menjaga jarak dengan Jongin, tidak seperti tadi yang memeluknya secara posesif.
Jongin mengangguk pelan. Ia merasakan tenggorokannya kering. Tangannya tergerak untuk mengambil gelas susu tersebut.
Kris yang menyadari hal tersebut, segera mengambilkan gelas itu untuk Jongin. Diserahkannya segelas susu coklat hangat itu pada Jongin.
"Gomawo." Jongin menggumam dengan pelan―sangat pelan.
Kris yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecil.
.
TBC
.
Halo, halo, aku balik '-')/ *waves hand with Jongin* kkk~
Maaf, aku baliknya sedikit lebih lama/? Terlalu banyak ide yang berkeliaran di otakku dan sialnya mereka semua pingin dituliskan geez -_- Jadi aku ngetik mereka satu-satu di laptop. Dan lebih sialnya lagi, belum ada yang kelar -_- *burns Chanyeol* Tapi akhirnya, fanfic yang ini bisa kelar *syukuran* walau baru nginjak chapter 2 *slapped*
Di chapter ini, udah muncul Kai ya? Sehun masih disebut-sebut doang, belum keliatan batang hidungnya. Ada juga yang nanyain, siapa itu Rachel. Well, Rachel mungkin akan muncul di chapter depan. Untuk yang penasaran sama masa lalu Kris, aku bakalan kasih chapter khusus flashback masa lalunya Kris. Tenang aja, semua pertanyaan kalian akan terjawab indah pada waktunya *slapped again*
Aku belum mau ngasih spoiler tentang pairing di ff ini, as usual. Kalo kalian sering ngikutin fanfic-ku sih, aku lebih suka main teka-tek dulu hehe. Dan kalo pada akhirnya, nanti banyak readers yang nggak suka sama pairingnya, you might leave this fic and don't blame the pairings. Aku milih pairing buat fic bukan sekedar karena aku shipper mereka, tapi karena juga menyesuaikan kebutuhan cerita.
Okay, last but not least, mind to review again?
with love,
rappicasso
