Copyright © 2015 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Flower Queen

Genre : Drama, Romance

Rate : T+

Pairing : HunHan as Maincast. With other Exo Members as well.

Chapter : 3/3

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang sedikit melebihi ambang batas wajar. Hargai kerja keras author dengan mengklik tombol review dan tulis beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Click on PM button. Don't bash any cast or other, please.

Summary : Selama setahun belakangan, Oh Sehun rutin mendapat rangkaian bunga cantik dengan selipan surat cinta dari seorang cewek yang menyebut dirinya sebagai Flower Queen. Sehun dan Flower Queen itu akhirnya dipertemukan dalam suatu kesempatan, namun Oh Sehun tidak bisa bertingkah tegas demi memberi sebuah kejelasan. Lantas, salah satu dari mereka memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal.

BGM : Take it Slow by Red Velvet

Luhan menanam sekitar tiga ratus bungasekaligus dalam sehari; yang seharusnya bisa diselesaikannya dalam dua hari. Mungkin dewi batinnya yang juga lagi bersedih malah semakin bersedih ketika tahu jika banyak kelopak bunga cantik itu dijatuhi air asin yang dihasilkan oleh kelenjar air matanya. Dirinya menangis dalam tiap menit berdentang kendati tidak mengeluarkan isakan; hanya air mata yang meluncur turun membasahi pipi.

Tidak ada pekerja lain karena hanya Luhan yang punya tugas untuk hari; sesuai jadwal part timenya di sini. Dan dalam sehari dia berhasil menebas sekitar tiga ratus lebih bunga-bunga itu. Memenuhi tiap jengkal tanah gersangnya dengan kelopak cantik yang sudah nyaris mekar. Mungkin para pekerja lain akan terkejut esok hari setelah mendapati ini. Tetapi Luhan tidak peduli.

Dia hanya butuh pekerjaan agar dia tidak terpuruk dalam kesedihan; kendati kelopaknya tidak berhenti menjatuhkan air mata. Banyak mahasiswa yang berlalu lalang di taman utama kampus, tetapi banyak dari mereka yang memilih untuk tidak peduli. Beberapa cowok genit sempat bertanya tentang hal yang macam-macam padanya, tetapi Luhan hanya tersenyum sambil menyembunyikan wajah. Dan orang-orang itu pergi.

Setelah Luhan menyelesaikan semua itu, dia berniat segera pergi dari Yonsei dan mengajukan pengunduran dirinya dari pekerjaan ini. Dia tidak mau pergi ke Yonsei lagi. Sudah cukup saja sampai di sini; setelah Luhan melihat apa yang sudah dilakukan dan dikatakan Sehun pada rangkaian bunganya. Membuangnya—itu berarti, Sehun membuang perasaannya.

Cukup. Cukup.

CUKUP!

"Hiks," Luhan terisak saat dirinya baru berdiri menatap bunga terakhir yang ditanam. Dia kembali terduduk dan menangkup wajahnya dengan pergelangan tangan. Menangis dan terisak lagi. Semuanya sudah tidak terbendung lagi, keluar begitu saja lewat sebuah tangisan yang melibatkan air mata, isakan, dan perasaan.

"Hiks," Dia mendeguk menyedihkan, kelopaknya mengedip-ngedip sedangkan tangannya berusaha mengumpulkan peralatan menanamnya. Bawah sadarnya terus merutuki apa yang sudah dilakukan Sehun pada bunga-bunganya, dan Luhan tidak bisa menghentikannya.

"Oh, ada cewek cantik yang sedang menangis,"

Seseorang mengucapkan sesuatu dan sebuah tangan jatuh di pundak Luhan. Gadis itu terkesirap tetapi kepalanya masih merunduk karena ada jejak memalukan di pipinya. Kaki mungilnya mencoba mundur, tetapi orang itu sudah mencengkeram bahunya dengan erat.

"Apa yang membuatmu sedih, Cantik? Oppa akan mendengarkanmu," kata cowok itu lagi, diikuti oleh kekehan nyaring dari cowok lainnya yang berdiri di belakangnya. "Ayo katakan saja."

Luhan memutuskan untuk mundur tetapi kini tangannya dicekal oleh pemuda itu.

"Oh, kau mau mengajak Oppa untuk berbincang di suatu tempat? Di mana?" Nada suaranya terdengar penuh godaan menjijikkan yang membuat Luhan mengkeret ketakutan. "Mau ke bar saja?"

"Lepaskan aku," Luhan meringis. "Tinggalkan aku."

"Jangan begitu, Cantik," kata cowok asing itu. "Oppa tidak akan macam-macam. Kita akan pergi ke bar?"

Mahasiswa kurang ajar! Luhan merutuk dalam hati dan berusaha menarik tangannya yang dicengkeram erat oleh pemuda itu. "Lepas," ujarnya setengah kalut. "Pergi dariku!"

"Kau kira, apa yang kaulakukan, Bung?"

Luhan menoleh ke arah lain ketika seseorang mengatakan hal seperti itu. Matanya melebar mendapati cowok berkulit tan yang tidak asing baginya; diikuti oleh cowok albino di samping kanannya. Barusan tadi, yang menegur cowok genit ini adalah sahabat cowok yang ditaksirnya, bukan?

Jongin mendekat dan berusaha melepaskan Luhan dari cowok itu. "Dia calon kekasihku, asal kau tahu," ujarnya tidak suka—menuai kerutan tidak mengerti dari semua orang yang ada di sana. "Jangan ganggu dia, aku sudah hampir berhasil mengajaknya kencan. Enyah saja."

Cowok genit itu berdecih pelan, mundur selangkah demi selangkah diikuti oleh kawanannya lalu pergi. Tidak punya niat untuk bikin keributan di area kampus.

Luhan yang sudah ditinggalkan oleh cowok genit itu segera menoleh menatap Jongin, lalu pandangan sedihnya beralih ke arah Sehun. Sehun sedang menatap Luhan dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan. Terlalu datar.

"Oh, kau habis menangis?" Jongin berkata dan tahu-tahu sudah mengusapkan ujung lipatan sapu tangannya ke jejak air mata di pipi Luhan. "Kenapa kau menangis?"

"Eh, oh," Luhan salah tingkah ketika Jongin menangkup pipinya dan membersihkan bekas lengket karena air matanya. Kelopaknya mengerjap. "A-anu .."

"Jangan menangis lagi kalau tidak mau digoda oleh mereka," Jongin tersenyum lebar dan intensitas ketampanan serta auranya bertebaran menampar-nampar kesadaran Luhan.

Sehun yang melihat hal itu lantas berdecak hingga menuai tatapan heran dari Luhan serta Jongin. "Kau serius mau pacaran sama dia?" ujarnya sambil menunjuk Luhan dengan sorot tajamnya.

Mendadak Luhan kembali merasa sedih setelah mendengarnya.

"Memangnya kenapa?" Jongin menurunkan tangannya dari pipi Luhan dan kembali melukis senyuman hangat. "Aku hanya perlu memintanya untuk melupakanmu lalu pacaran denganku."

Luhan merona. Rasa-rasanya, perasaannya sedang dipermainkan oleh sepasang sahabat ini.

"Apa sih maksudmu?" Sehun mendekat dan tangannya menarik salah satu pundak Jongin.

"Lalu apa maksudmu?" Jongin nyaris menertawakan ekspresi marah yang tergambar jelas di wajah Sehun. Jongin yang seperti ini bukan seperti Kim Jongin yang dikenal Sehun. "Kau 'kan memutuskan untuk meninggalkannya. Jadi, Luhan untukku. Kalau Luhan tidak keberatan, aku bisa jalan dengannya."

Sehun mengeram dan mengepalkan tangan ketika mendengar hal itu terlontar dengan nada ringan dari Jongin. Pandangannya beralih ke wajah Luhan, menatapnya lekat-lekat. "Memangnya kau mau dengan cowok hitam ini?" tanyanya pada Luhan.

"Hei!" Jongin berkoar tidak terima. "Kau keterlaluan!"

"Kau yang keterlaluan!" Sehun membentak sahabatnya sendiri hingga Luhan ikut terkejut. "Kenapa kau berniat merayu Luhan yang menyukaiku?"

"Oho," Jongin tertawa meremehkan. "Luhan menyukaimu? Memangya, Luhan masih suka padamu?"

Kedua cowok keren itu segera menatap Luhan yang mengkeret akibat persepsinya sendiri; menatap lekat-lekat hingga gadis itu nyaris tidak mampu bernapas.

"Biar kuingatkan," Jongin berkata lagi. "Luhan baru mengirim surat yang isinya selamat tinggal. Benar?" Luhan langsung mengangguk. "Dan kukira, perasaan Luhan padamu segera berakhir. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau tidak ingin menemui Luhan karena—"

"Sialan kau!"

Luhan memekik tertahan ketika Sehun melayangkan satu pukulan telak yang mengenai rahang tegas Jongin. Pemuda berkulit tan itu berguling-guling dramatis di udara dan berakhir dengan menangkup pipinya yang berdenyut teramat nyeri. Sehun sudah terbakar oleh kalimat-kalimat Jongin, dia malah makin marah ketika Luhan membentaknya dan bahkan menghampiri Jongin.

Tawa melecehkan bermain-main di bibir Jongin. "Kau bilang, kau tidak suka Luhan. Tetapi kenapa kau memukulku?"

Sehun terdiam dengan kepalan tangannya, mendesis-desis marah sebab Jongin sudah bertindak sangat keterlaluan padanya.

"Kau itu munafik, Hun," kata Jongin setelah berhasil meyakinkan Luhan bahwa dia baik-baik saja padahal rahangnya berdenyut-denyut teramat nyeri. "Kau bilang tidak suka Luhan, tapi kau makin tidak suka saat orang lain ingin mendekati Luhan."

Luhan menatap sengit ke arah Sehun yang terpaku mendengar hal itu.

"Ungkapkan saja, kenapa kau malah seperti cewek begitu," Jongin menangkup rahangnya dan menatap Sehun dari sisi matanya. Salah satu sudut bibir tebalnya tertarik ke atas, kembali melukis senyuman miring. "Kutinggal kalian berdua, diskusikan apa yang perlu didiskusikan. Demi Tuhan, kalian perlu bicara."

Jongin segera pergi kendati Luhan memaksa untuk mengantarkannya ke ruang kesehatan kampus. Tanpa diduga, Sehun malah mencekal pergelangan tangannya dan Luhan tahu jika Jongin pasti akan membiarkannya tetap tinggal. Dan itu benar, Jongin memilih untuk pergi sendiri.

Meninggalkan Luhan dan Sehun dalam kecanggungan.

Sebelum terjebak dalam suasana yang lebih menegangkan, Sehun menarik Luhan mendekati sebuah bangku taman kampus lantas menyuruhnya duduk. Dia pergi sebentar ke sebuah mesin penjual minuman kaleng dan kembali dengan dua kaleng pocari sweat di masing-masing tangannya.

Lalu keduanya kembali terjebak dalam kesunyian menyiksa.

Luhan terjebak dalam pemikirannya, begitu pula Sehun. Argumen itu berputar dalam kepala masing-masing, berbagai pertanyaan muncul dan berkembang seperti sebuah batang pohon. Terus tumbuh dan menciptakan cabang-cabang yang banyak; namun tidak terjawab. Luhan tidak mau berucap apa-apa, dia sudah meneguhkan perasaannya untuk mengucapkan selamat tinggal jika Sehun memang benar-benar tidak menyukainya.

Setidaknya, kalau Luhan sudah merasa bosan dan tidak betah duduk di sini, dia akan segera pergi dan berjanji tidak akan mengingat-ingat Sehun lagi.

Nanti. Semisal Luhan bosan.

"Maaf," Sehun mengucapkan hal itu setelah menghirup napas panjang dan menghembuskannya secara kasar.

Luhan terkesiap lalu menoleh. "Untuk membuang bungaku ke tempat sampah?"

Kali ini, ganti Sehun yang terkesiap setelah mendengarnya. "K-kau tahu itu?"

Kelopak mata Luhan langsung dibanjiri air mata ketika mengingat momen menyedihkan itu; saat Sehun dengan entengnya melempar rangkaian bunganya yang cantik ke tempat kotor. "Bagaimana aku bisa tidak tahu?" ujarnya nyaris menangis. "Kalau kau mau menolakku, sebaiknya kau datang dan mengatakannya langsung. Tidak usah begitu."

"B-bukan begitu maksudku. Aku sungguh minta maaf!" Sehun gelagapan ketika mendapati air mata meluncur dengan begitu mudah di pipi Luhan. Dua tangannya terangkat tetapi dia terlalu bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh tangannya. "Waktu itu aku cuman kesal."

Luhan malah mengerjapkan mata rusanya yang cemerlang dan mencoba membersihkan pandangannya dari kabut air mata. Melempar tatapan penuh binar tidak mengerti.

"Oke, aku memang marah padamu setelah membaca surat terakhirmu itu," Sehun mencoba mengatakannya dengan sehati-hati mungkin agar liquid bening tidak muncul di manik rusa yang akhir-akhir ini membuatnyabegitu gila. "Setelah setahun mengirimiku bunga tanpa nama, kau berniat meninggalkanku karena kedokmu yang terbongkar? Siapa yang tidak marah—"

"Tapi kau 'kan menolakku," Luhan menggigit bibir, menuai kerutan dalam di bibir Sehun.

"Kata siapa?"

"Kau tidak datang padaku untuk menuntut apa-apa," Luhan membela diri.

"Kau yang seharusnya datang padaku!"

"Tidak bisa begitu!" Luhan menjerit dan melayangkan satu pukulan lemah pada dada Sehun. "Kau pikir aku cewek apaan?"

"Jadi semisal aku tidak memintamu untuk tetap tinggal, kau tetap akan pergi?"

"Ya," Luhan menjawab dengan nada tegas kendati perasaannya mulai sedikit goyah.

Sehun melipat kakinya dengan luwes, memerhatikan dalam-dalam kecantikan alami yang ada pada Luhan. Mungkin bawah sadarnya sedang memuja betapa sempurna pahatan Tuhan yang sedang duduk di sampingnya. Keelokan yang akhir-akhir ini sering sekali hinggap pada pikiran Sehun dan mengganggunya hingga sedemikian gila.

"Jadi, sekarang aku boleh pergi?" Luhan melempar tatapan bengis kendati ada setitik kecil air mata di sudut matanya yang cantik.

"Kemana?" Sehun tampak tidak setuju. "Kita belum selesai."

"Bagaimana pun juga, kau akan tetap menolakku."

"Jangan sok tahu begitu dong," Sehun melontarkan protesnya. "Kan belum tentu juga aku menolakmu."

Luhan disentak hebat oleh perasaan asing yang menyenangkan setelah otaknya selesai mengartikan kalimat Sehun. Kepalanya meneleng ringkas hingga matanya yang bulat bisa dilihat langsung oleh Sehun di sampingnya. Debar jantungnya mulai liar dan tidak beraturan, memasok darah yang berlebihan ke wajahnya.

"Lalu?" Luhan memiringkan kepalanya ke suatu sisi.

Sekonyong-konyong Sehun diliputi oleh kegugupan ketika mendapat tatapan seperti itu. Dinding perasaannya baru saja digedor oleh palu tak kasat mata dan rasanya benar-benar tidak bisa dideskripsikan. Gelenyar halus merambati celah rusuknya dan berkumpul di sela paru-parunya.

Sehun memang baru mengenal Luhan sekitar dua minggu yang lalu—entahlah. Tetapi tidak bisa dipungkiri juga jika sudah setahun lebih dia telah memikirkan sosok abstrak si Flower Queen dalam benak. Dan setelah pertemuan nyatanya dengan Luhan si Flower Queen misterius itu, Sehun jadi dibayang-bayangi oleh wajah cantik Luhan yang berseri-seri. Dia nyaris jadi zombie karena tiap malam kesusahan tidur sebab memikirkan Luhan.

Terus memikirkan Luhan tanpa memikirkan perasaan seperti apa yang tengah menghinggapinya.

Sukakah?

Tertarikkah?

Cintakah?

Entahlah.

Tetapi sepertinya. Patut dicoba.

"Coba saja," Sehun melontarkannya setelah melewati berbagai adu argumen dengan kerasionalannya sendiri. Kedua manik sejernih kristal es milik Luhan membulat dan kelopaknya mengerjap beberapa kali. "Coba saja jalan denganku."

"Hanya mencoba saja?"

"Apa?" Ekspresi datar langsung memenuhi raut Sehun. "Kau mau langsung kucium di sini?"

Rona merah merebak di sekitr pipi Luhan. "J-jadi, kau tidak menolakku?"

"Mana bisa menolakmu," Sehun menggeser duduknya hingga kedua paha bagian luar mereka bersentuhan. "Aku cuman marah karena kau berani mengucapkan selamat tinggal seenak jidatmu."

Kedua belah bibir tipis Luhan mencebik lucu. "A-aku kan tidak mau kepedean."

"Karena apa?" Sehun menyandarkan punggung pada sandaran kursi taman. "Menganggapku juga suka padamu?"

Luhan mengangguk kendati jantungnya berdebar tidak keruan; entah mengapa kalimat Sehun terdengar sangat menyindir perasaannya.

"Nah," Sehun menarik dua bahu Luhan agar ikut bersandar pada kursi dan keduanya berbaring bersebelahan. "Kalau kau ingin memberiku bunga, kau harus datang langsung padaku. Oke?"

Luhan mengulum bibir dan mengangguk lagi—dengan amat gugup.

"Bagus," Sehun melirik Luhan yang tampak kaku dan gugup berbaring di sebelahnya. Salah satu tangannya terangkat dan jatuh di salah satu sisi kepala Luhan, memaksa perempuan itu untuk menyandarkan kepala pada pundaknya. "Sandarkan kepalamu padaku."

"Untuk apa?" Luhan semakin gugup dan salah tingkah.

"Jangan banyak tanya, cukup bersandar saja, Lu."

"O-oh," Luhan menuruti Sehun untuk menyandarkan kepala. Kehangatan mutlak langsung merayapi aliran darah serta keseluruhan saraf di tubuhnya ketika ujung kepalanya menekan pundak kokoh Sehun. Harapan yang bahkan tidak pernah diharapkannya. Sangat menyenangkan, bersandar pada Oh Sehun.

"Lu?"

"Hm?" Luhan diam-diam merona ketika Sehun memanggilnya dengan nama pendek seperti itu.

"Mau ke apartemenku untuk membicarakan kencan pertama kita?"

"Bolehkah?"

"Tentu," Sehun berusaha melukis senyum pada bibir tipisnya dan taring mungil mengintip malu-malu di sana. "Ayo."

"O-oke," Luhan setuju. "Tapi, biarkan aku ganti baju dulu, ya?"

Tatapan spekulasi langsung melayang dari Sehun ketika memerhatikan keseluruhan pakaian yang dikenakan Luhan. Sebuah baju kerja lusuh namun hal-hal seperti itu tentu tidak mampu mengurangi kadar kecantikan menakjubkan yang dimiliki oleh Luhannya.

Oho, Luhannya. Bawah sadar Sehun tertawa remeh setelah mengulang kalimat itu. "Baiklah. Kuantar dan setelahnya kita langsung ke apartemenku."

Dan Luhan semakin tersipu sesaat setelah Sehun bangkit. Kesepuluh jemari mereka saling bertautan satu sama lain dan Sehun memutuskan untuk menuntun langkahnya. Pangeran bunga itu sudah menangkup tangan putri bunga yang pemalu menyusuri jalan setapak yang melewati taman kampus; menunjukkan pada beberapa orang bahwa mereka telah dipersatukan di tengah rimbunnya bunga-bunga yang bermekaran.

END

Author's note :Ada beberapa readers yang selalu tanyak, 'kenapa sih selalu pakek istilah cewek-cowok, bukannya pakek istilah namja-yeoja kayak ff lainnya.'Well, aku juga nggak nggak tau sejak kapan aku jadi suka pakek istilah cowok-cewek, mungkin semenjak aku baca novel terjemahan gramedatau bentang kali ya. Selalu baca novel sejenis gitu jadi mulai nyaman dan kebawa deh istilah cowok-ceweknya. Dan, alasan kenapa nggak pakek namja-yeoja, karena gue pengen buat ff yang selevel/? novel /eaaaaak/ maksudnya, di novel-novel kan kata-katanya gak perlu pakek translate lagi /asdfghjkl/ gitu deh pokoknya. Pfft ntar coba aku edit deh di ff baruku ;)

Thanks yaaaaa buat para readers yang udah mau menantikan ff ini dari chap awal. Makasih buat yang udah susah-susah review /kecup sehun/ dan makasih juga buat readers dan author-author yang keukeuh buat jadi siders /pfft/ thanks thanks bangeeeet /big hug/ see ya in ma new ff, yaaa~ /kiss/

Ps : sekarang, ada aplikasi buat baca fic di ffn, lhoo. Download aja aplikasinya di playstore, pastikan download aplikasi " "yang dibuat oleh "FictionPress", yaa .. baca fic dan review jadi lebih mudah, serasa kasih komen di fesbuk :3 jadi, recommended banget buat readers-readers sekalian. Aku sendiri juga pakek lhoo /berasa jadi spg/

Xoxo.