.
.
.
Lenguhan panjang terdengar darinya. Kedua kelopak matanya memejam erat, alisnya bertaut seiring tetesan yang diterimanya. Geli, namun panas. Tetesan yang kemudian merambat turun, menuruni perpotongan paha, terasa geli tak tertahan membuatnya bergerak gelisah.
Bedanya, kali ini, tangannya yang diikat. Sedangkan kedua bola matanya dapat memandang bagaimana si brengsek Kim Taehyung kembali menghukumnya dengan tak masuk akal. Yang membuat Jungkook menjadi gila.
"Daerah perut itu sensitif," Taehyung mulai bermonolog. Dia meletakkan gelas berisi air hangatnya di meja. "ototnya akan mengencang jika merasakan rangsangan," dia menyeret telunjuknya di bawah pusar Jungkook, membuat gerakan menggoda.
"Cokelatnya Hyung masukkan apa?" Jungkook merengek pelan. Tubuhnya melemas seiring sentuhan Taehyung pada tubuhnya. Dia mendesah lirih, kala Taehyung menangkup kejantanannya lalu meremasnya pelan. Jemarinya mencengkram sofa hingga buku jarinya memutih.
"Aku tidak memasukkan apa-apa, Jungkook." Pipi Jungkook dibelai dengan lembut. "Aku dosen biologi, bukan tata boga."
"Apa harus jadi dosen tata boga untuk memasukkan perangsang dalam minuman?"
Taehyung menghela napas. "Yang kau maksud itu cokelatnya, dear." Dia membungkuk, menatap kejantanan Jungkook yang mulai mengeras. Samar-samar dia menyeringai, boleh saja tubuh Jungkook lebih berisi daripada dirinya, namun tetap saja Taehyung menang dalam hal ukuran.
Jungkook mengernyit tak paham. Dia merapatkan kedua kakinya. "Aku tak mengerti. Jelaskan, seonsaeng-nim." Mendorong pelan kepala Taehyung dengan kaki kirinya, Jungkook masa bodoh jika posisi ini dianggap kurang sopan oleh Taehyung. Sebelah kakinya yang lain menginjak pelan tangan kanan Taehyung yang berada di pinggir sofa—tangan itu tadinya bergerak ke arah bokong Jungkook.
"Cokelat panas." Taehyung menarik kedua tangannya sendiri, lalu memegang kedua kaki Jungkook dan membukanya lebar-lebar. Dia mengecup pelan bagian belakang tempurung dengkul Jungkook. "Jika diminum, dapat menghangatkan tubuh, sekaligus membangkitkan gairah seks. Aku bermain bersih, dear. Obat perangsang? Bahkan hanya melihatku pun kau terangsang, kan?" Taehyung menaik-turunkan kedua alisnya, lalu terkekeh mendengar decihan si pemuda kelinci.
Oh, pemuda kelinci.
"Dear, tadi aku bertemu Namjoon Hyung." kaki Jungkook dililitkan pada pinggangnya. Dia menggapai backpack hitam di belakang sofa, "Dia membawa barang bagus, kurasa cocok untukmu."
Persetan. Namjoon itu gila. Barang yang dia bawa pun sama gila nya. Maka Jungkook hanya pasrah kala Taehyung mengangkat sebuah kotak hitam seukuran penggaris, tiga puluh senti. Meneguk ludah kasar saat Taehyung mengeluarkan isinya.
"Hyung," Jungkook tercekat. "Itu apa?"
"Aku senang kau bertanya, dear." Taehyung tersenyum lembut. Jika keadaannya berbeda, mungkin Jungkook akan membalas senyuman itu. "Ini vibrator."
"Kenapa Hyung bilang ini barang bagus?" pasalnya, Jungkook tau Taehyung menyimpan beberapa vibrator di apartemen ini. Dengan ukuran berbeda tiap vibrator. Jungkook ingat, Taehyung pernah menyuruhnya mencari salah satu vibrator untuk digunakan kala bercinta. Dan sialnya, Jungkook menemukan vibrator yang berukuran hampir sama dengan kejantanan Taehyung.
Taehyung menekan salah satu tombol pada vibrator itu. "Praktek lebih mengasyikkan daripada teori." Dia mengulas lubang Jungkook dengan pelumas, lalu menekan pelan vibrator itu ke dalamnya.
Jungkook menggigit bibir bawahnya kala vibrator yang tengah bergetar itu perlahan masuk ke dalam tubuhnya. Tidak, dia tidak merasa sakit, rasanya geli. Mungkin Taehyung menekan tombol pada level rendah.
"Keistimewaannya. Sudah siap, dear?" Jungkook mengangguk saja. Mungkin, Taehyung akan menaikkan level getarannya. Masa bodoh, Jungkook sudah kebal. Dia akan membuktikannya, dia takkan kalah dengan vibrator ini. Hanya penis Taehyung yang dapat membuatnya mendesah keras.
Satu tombol ditekan.
Dan Jungkook merasa aneh.
"Ap—apa?" lubangnya menghangat. Makin hangat, dan menjadi panas. Dia mendongak, "Panas! Keluarkan! Apa ini—ah, brengsek!"
Taehyung mendekatkan bibirnya pada kejantanan Jungkook. "Heat Naughty Bunny. Kelinci nakal yang panas, itu namanya, dear. Persis seperti dirimu," lidahnya menjilat pelan kejantanan Jungkook yang sudah menegang itu. "Vibrator dengan panas empat puluh delapan derajat selsius. How is it?"
Getarannya menggila. Menubruk titik prostat Jungkook, memberi sengatan luar biasa yang membuat tungkai Jungkook melemas. Taehyung menekannya makin dalam, mengundang jeritan liar Jungkook yang meminta berhenti, namun diiringi desahan keras.
"Bangsat—panas bajingan—ahh henti—kan eungh—"
Dan Jungkook kembali merasa panas kala Taehyung meraup kejantanannya. Membalurinya dengan saliva, Taehyung menaik turunkan kepalanya. Pinggul Jungkook perlahan mengikuti tempo Taehyung, bergerak dengan arah yang berkebalikan.
Taehyung menyesap kuat kejantanan Jungkook, mengantar pemuda kelinci itu pada kepuasannya. Sebelah kaki Jungkook terkulai lemas, menggantung dari sofa. Jemari Taehyung menekan salah satu tombol vibrator, membuat benda itu berhenti bergetar. Meski rasa panas masih kentara di dalam sana.
Taehyung menegakkan tubuhnya. Menatap Jungkook dengan memuja. Dia beranjak naik ke atas tubuh Jungkook, "Cantik," tangannya membelai pelipis Jungkook, menyeret jemarinya turun hingga dagu.
Jungkook berdeguk pelan saat Taehyung menenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher. Lidah Taehyung menari disana, membasahi setiap jengkal leher Jungkook. "Engh—" Taehyung menciptakan beberapa ruam merah kebiruan disana.
Puas dengan leher, Taehyung mendongak, lalu tanpa aba-aba meraup bibir ranum penggoda iman itu. Mengemut bagian atas dan bawah secara bergantian. Menyesap dalam-dalam rasa manis yang ada. Jungkook pun tak tinggal diam. Dia balas menggigit kecil bibir Taehyung seraya berulang kali menggoda lidah Taehyung, mengundang geraman rendah yang lebih tua.
Jungkook membuka mulutnya, memberikan akses agar Taehyung menjelajahinya. Lidah Taehyung mengabsen seluruh benda yang berada disana. Dan terakhir, lidahnya membelit lidah Jungkook, membawanya ke dalam permainan yang menimbulkan bunyi kecupan basah menggema di ruangan apartemen yang sepi.
Setelah dirasa cukup, Taehyung menyudahi ciuman panas itu. Dia memperhatikan Jungkook yang terlihat—sangat seksi. Rambutnya yang acak-acakan, mata sayu, bibir yang setengah terbuka itu terlihat membengkak, dan hickey buatan Taehyung yang kontras dengan kulit seputih susu Jungkook. Kalau saja keadaannya berbeda, dia pasti menyerang Jungkook saat ini juga.
"Aku menginginkanmu," Taehyung berucap lirih. Dia kembali menenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher Jungkook. Menghirup dalam-dalam aroma jeruk yang menguar dari sana, Taehyung selalu suka pilihan sabun Jungkook yang kekanak-kanakkan. Salah satu sisi menarik Jungkook, menurutnya.
"Lakukan," Jungkook menarik pelan tangannya yang masih terikat di belakang punggungnya. Taehyung melirik, lalu menarik salah satu ujung dasi dengan kasar. Setelah simpulnya terlepas, Jungkook menyentuh tenguk Taehyung, mengusapnya perlahan. "lakukan."
Rasanya geli saat Taehyung menggeleng di lehernya. "Aku tidak pernah menganggap remeh omonganku, termasuk janjiku padamu, dear."
"Demi Tuhan, Hyung," Jungkook terkekeh. "aku jadi takut kau kecewa nanti, karena lubangku yang tak lagi ketat."
"Tidak akan. Aku mencintaimu, bukan lubangmu." Jungkook terkekeh saat Taehyung mengecup seluruh bagian wajahnya, kecuali bibir. Lalu ciuman itu merambat turun ke dagu, dan kembali ke leher.
"Jangan mulai lagi kalau akhirnya kau membuang sperma di toilet," Jungkook menarik lembut surai Taehyung, membuat sang empunya menggeram menggoda. Taehyung menjilat bibir Jungkook perlahan, seolah menyesapi rasa bibir itu.
"Korpuskula Ruffini. Saraf kulit yang peka terhadap rangsang panas."
Jungkook memutar kedua bola mata jengah. "Ya ya ya. Ruffini, panas. Krause, dingin. Aku ingat, aku ingat."
Taehyung terkekeh. "Dear, kau oke?"
"Hah?"
"Maksudku, kau sudah menyesuaikan dirimu dengan vibrator ini?"
"HYUNGGG! JANGAN DINYALAKAN LAGI—ahhh!"
.
.
.
Chapter 3 : Korpuskula Meisiner. Rangsang terhadap sentuhan.
.
.
.
Sekedar info : cokelat panasnya diminum gaes, bukan di tetesin(?) yang di tetesin Tetet itu air panas.
Gimana ini. Yang pake es batu keknya lebih hawt daripada yang ini /gampar saia/
Demi apa. Aku nyari sampe mampus, ada ga sih sex toy yang pake panas-panasan. Tadinya udah mau pasrah aja, bikin khayalan butt plug yang bisa diisi air panas /nyedh/ dan tiba-tiba nemu nama vibrator yang ada panas-panasnya, ku bahagia /otak ini terlalu ngeres/
Chap depan END. Tapi kalau ada yang mau, aku bakal nambahin satu chap lagi.
p.s. Kii kena writer's block untuk cerita lainnya, jadi belum bisa update dalam waktu dekat.
Hope you enjoy this story! Cya!
Kiika246.
