Chapter 3

LOVE SICK

-o0o-

by tianelly

Cast: -Huang Zi Tao

-Kris Wu/Wu Yi Fan

-Zhang Yi Xing/Lay

-and other

Pair : Kristao/Taoris

Rated: T

Warning: Boys Love. OOC. Gaje. Abal. Typo berserakan. Dan setumpuk kekurangan lainnya.

It's Kristao/Taoris Fanfiction.

Happy Reading :)

.

.

.

.

Kamu nggak suka Yaoi? silahkan klik CLOSE!

Sejenak angin mengalun membelai lembut. Bergeming dalam kesunyian senja. Shapire biru kini tergantikan bias keemasan, seolah siap menghiasi penyelimut bumi. Malam mengambil tugasnya, menyingsing surya yang kian tenggelam. Masih disana, enggan beranjak dari kursi tua beranda rumah masa kecilnya. Lay. Bertahan membisu terbuai kelembutan angin sore.

Tao. Sosok adik kecilnya, mata panda, sifat polos khas seorang Huang Zi Tao. Memutar memori saat bocah panda itu tertawa bahagia dan menjerit kesakitan. Hatinya mendadak nyeri. Jeritan tangis karena perlakuan eommanya. Eomma Lay. Ia merindukan Tao. Huang Zi Tao atau Lay lebih senang menyebutnya Zhang Zi Tao.

Setelah 3 jam penuh mengunjungi rumah masa lalu itu, akhirnya Lay beranjak pergi. Berat saat meninggalkan sejuta cerita didalam rumah tua ini. Berhenti, saat mata karamelnya menatap pohon-pohon apel di halaman rumah. Tempat favorit Tao menghabiskan malam, saat ia dihukum tidak boleh masuk rumah. Lagi, hatinya berdenyut sakit. Setetes liquid bening turun dari sudut matanya.

Membulatkan tekad. Kembali melangkahkan kakinya, meski hati kecilnya menjerit masih ingin disana.

-o0o-

"ehh? Namja pirang itu mengenalmu?" tanya Sehun setelah mendudukkan tubuhnya disamping Tao. "hu'um... dan saat aku bertanya siapa dia dan kenapa mengenalku, dia diam saja.. dan menyuruhku melupakannya! Dia benar-benar aneh!" ucap Tao meletakkan mangkuk ramennya, lalu menatap Sehun intens.

"mungkin dia salah satu teman kita di panti dulu...". ucap Sehun.

"Ani! Dia anak orang kaya.. sepertinya. Pakaiannya bermerk dan punya tempat usaha semewah itu".

"lalu... apa kau diterima?"

"entahlah... dia masih memikirkannya. Besok aku disuruh kembali lagi".

"jadi.. kau akan menjalani 2 pekerjaan?"

"tentu saja.. melatih wushu itukan hanya sabtu dan minggu, sedangkan menjadi pegawai di toko itu hanya senin sampai sabtu. Jika diterima aku akan bicara pada bosku kalau sabtu aku mulai masuk kerja jam 3 sore! Uwah... aku tidak sabar bekerja seharian penuh Hun! " heboh Tao sambil mengguncang-guncangkan bahu Sehun. Sedangkan Sehun hanya tersenyum samar sambil menahan sakit karena Tao menggenggam bahunya cukup keras.

"ah.. Tao berhenti! Bahuku sakit! Ugh!"

"oh? Mianhe Hun-ie. Aku sangat semangat hari ini! Hehe"

"Ck! Sudahlah.. habiskan ramenmu, lalu tidur." Sehun berlalu pergi. "Oke Boss!"

Sehun berubah dingin eh?

-o0o-

Gores demi gores terajut menjadi sebuah objek indah disana. Kuas lentik itu menari-nari seirama dengan dentingan jam dinding. Lukisan-lukisan cantik tertata apik disetiap sisi ruangan sempit itu. Tumpahan cat berserakan disana sini. Bau menyengat zat kimia dari cat lukis seolah enggan pergi. Menambah kesan pengan di ruangan 3x4 meter ini.

Ada satu yang menarik dari sederet peralatan seorang pelukis. Sebotol obat teronggok manis di dalam laci yang setengah terbuka.

Tap..

"Kau melupakan obatmu lagi.." suara baritone menggelitik telinga, tangan terampil itu seketika berhenti menggores kanvas.

"apa eomma yang menyuruhmu?" berbalik. Menampakkan mata sendu seorang Lay.

"berhentilah egois Lay.. minumlah ini lalu istrirahat". Kris menatap nanar sosok namja berkulit pucat didepannya.

"Besok aku akan mengantarmu kedokter lagi, jam-"

"tidak usah merepotkan dirimu Kris!" beranjak meninggalkan namja pirang itu. Kris mengusap wajahnya frustasi. Seorang Zhang Yi Xing sangat sensitif.

"maafkan dia Kris... Setelah pulang dari rumah kami yang dulu, dia menjadi sangat pemarah. Besok moodnya pasti membaik dan senang seperti biasanya saat kau mengantarnya ke dokter Kim". Ucap Nyonya Zhang tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok Lay yang telah hilang dibalik pintu kayu diujung ruangan. "Apa kau lapar nak Kris? Kebetulan aku dan ayah Lay belum makan malam". Yeoja tua lliner tebal itu berbalik, menampilkan senyumnya pada Kris.

"Ah.. mianhee bibi. Malam ini saya ada janji dengan teman lama. Jeongmal mianhee bi.. lain waktu saja.." membual sedikit, tidak apa kan? Kris hanya tidak ingin wanita tua itu ceramah semalaman di meja makan nanti.

"hh.. aku maklum. Kau orang yang sibuk Kris.. sampaikan salamku pada Tuan dan Nyonya Wu" ucapnya menelan kekecewaan. Lagi lagi Kris menolak tawaran makan malamnya.

-o0o-

Malam semakin larut. Membisu diri menatap kosong segelas wine digenggamannya. Kris. Pikirnya melayang menerobos sekat-sekat memori masa lalu. Hari itu. Kris kecil masuk kelas 6 SD barunya setelah pindah dari Kanada. Matanya langsung tertuju pada namja bermata panda yang selalu tersenyum menatapnya, hingga ia sadar namja panda itu tersenyum karena kagum pada rambut pirangnya. Entah karena apa. Sesuatu menggelitik hati kecil Kris. Melihat namja panda itu tersenyum sangat menggemaskan dan menyenangkan.

Sayang sekali. Hari itu hari pertama sekaligus terakhir pertemuan mereka. Sejak saat itu Kris tidak pernah melihat namja panda itu masuk kelas lagi. Hati yang dulu bagaikan sebongkah es itu mengerang sakit. Kenapa Tao pergi begitu saja? Kenapa tidak memberi kesempatan Kris memperkenalkan dirinya? Kemana Tao selama ini?

Seolah cahaya matahari pagi yang menyingsing kegelapan. Seberkas cahaya kelegaan masuk ke celah perasaannya. Namja di toko tadi pasti Tao. Tao kecil si anak panda. Anak panda yang selalu tersenyum kagum pada surai pirangnya.

Sekelebat bayangan Tao menghilang diantara kabut hitam. Tergantikan seseorang. Lay. Dan malam itu berakhir dengan bayangan Lay dalam bingkai mimpi seorang Kris.

-o0o-

"Aku Luhan.."

"Ohh jadi kau yang namanya Luhan.. hahaha ku pikir kau sebaya dengan anak –anak itu. Wajahmu tidak meyakinkan untuk umurmu.. ahhaha" Sehun. Seperti biasa. Tidak sopan dengan sunbaenya sendiri, mengingat Luhan adalah salah satu senior guru pembimbing disini.

"huh.." mengambil nafas dalam mencoba menenangkan amarahnya, dan "Oh Sehun! Kau lupa? Aku sunbaemu dirumah bimbingan belajar in!" dalam sekali tarikan nafas.

"hah?.. mi-mian aku lupa Luhan hyung. Jeongmal mianhe" Sehun tertunduk malu. Sebenarnya tanpa Luhan ketahui Sehun masih terkikik geli.

"huh.. terserahmu! Kau masih dalam masa percobaan Oh Sehun! Jika kau masih tidak sopan dan cara mengajarmu menyedihkan, aku akan langsung menendangmu dari sini! Kau mengerti?" menggertak Sehun, berbanding terbalik dengan wajah babyfacenya.

"Oke Boss! Aku mengerti Luhan hyung!" hormat Sehun pada Luhan persis yang dilakukan Tao padanya kemarin malam.

-o0o-

"oh.. Tao kau sudah datang? Kenapa pagi sekali? Bos Kris belum datang.. kau akan lama menunggu.." berondong Xiumin pada Tao saat kakinya baru menginjak teras toko.

"uhmm... tidak apa-apa. Mungkin aku bisa membantu Xiumin hyung membereskan itu". Tunjuk Tao pada lap pembersih kaca di tangan Xiumin.

"oh? Tao kau masih belum menjadi pegawai disini. Jadi sangat jahat jika aku memperbolehkanmu melakukan pekerjaanku.." Xiumin terkekeh.

"tidak apa Xiumin hyung.. Ayolah.. kumohon.." dan akhirnya Xiumin luluh pada Tao. "ah.. Panda kau berhasil sekarang. Ini.. yang bersih ya.. haha aku masih ada pekerjaan dibelakang, makanya aku memperbolehkanmu". Xiumin satu-satunya pegawai toko ini, jelas saja ada setumpuk pekerjaan untukknya.

Dengan senyum manis khas seorang Huang Zi Tao, Tao mengelap kaca toko itu. Sesekali lengan bajunya juga ikut bekerja, mencoba memaksimalkan agar kaca itu benar- benar bersih.

Setelah hampir 15 menit membelah jalanan kota Seoul dengan deru mesinnya, mobil mewah itu memasuki parkiran toko itu. Menampakkan sang pengendara mobil yang bak pangeran berkuda putih dengan surai pirangnya. Berkutat sebentar dengan ponselnya lalu mengarahkan pandangannya pada sosok disana. Mengelap kaca dengan nafas dan lengan bajunya. Huh? Itu menggelikan, tapi menggemaskan baginya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah stoicnya.

"Mengelap kaca... apa agar aku menerimamu bekerja disini, Tao?" suara baritone khas seorang Wu menggema di ruangan yang penuh dengan lukisan itu. Menoleh dan sedikit terkejut Tao berucap "oh? Boss? I-ini karena aku membantu Xiumin hyung, dia banyak pekerjaan" Takut? Tao seperti tengah kepergok mencuri timun.

"hh.. Kau penakut Huang Zi Tao! Ikut aku keruanganku!" berlalu pergi dengan smirk seorang Wu Yi Fan.

"i-iya Bos" secepat yang ia bisa, Tao berjalan mengikuti Kris.

-o0o-

"Lay... apa perlu ibu menelfon Kris untuk menemanimu ke dokter Kim?" yeoja separuh baya itu meletakkan nampannya disisi meja ranjang putranya. Lay.

"huh.. bukannya Kris sedang sibuk dengan toko barunya itu eomma? Aku hanya tidak ingin melihatnya semakin semakin pusing.." menghembuskan nafas kasar, Lay ingat sifat dinginya pada Kris malam tadi. Salah satu alasan menghindari Kris.

"Aniyoo... Kris itu perhatian padamu. Kau ingat saat kau koma dirumah sakit dan saat itu Kris sedang ada di luar negeri bersama keluarganya, Kris langsung pulang ke Seoul dan menunggumu siuman!" mulut yeoja bereye liner tebal khas seorang Ny. Zhang memang sanggup meyakinkan sesuatu. Meskipun dengan bumbu disana-sini.

"emmm,.. biarkan aku sendiri yang menelfonnya kalau begitu. Eomma pergilah. Aku bisa makan sendiri.."

"baiklah Zhang Yi Xing... eomma ada didapur jika kau butuh sesuatu"

-o0o-

"Jinja? Aku diterima? Khamsahamnida Bos Kris!" Tao membungkuk berkali-kali, menyampaika rasa terima kasihnya pada Kris. "hn.. keluarlah dan segera bekerja!" Dengan nada memerintah, Kris masih berkutat dengan ponselnya.

"oke Bos!" sesegera mungkin Tao berlari keluar dari ruangan Kris, dan menerjang Xiumin yang sedang sibuk ditoko.

Mengalihkan perhatiannya pada pintu yang menelan Tao, denga seulas senyum tulus di wajahnya. Kris sedang dalam mood yang baik pagi ini. "Kau masih sama anak panda"

-o0o-

"kau sudah mau pulang, Luhan hyung?" mengimbangi langkah kaki Luhan, dengan tergesa.

"Bukan urusanmu. Sana! Pergilah! Kenapa mengikutiku?" berhenti, dan menatap tajam namja yang beberapa tahun lebih muda darinya.

"Kau masih marah hyung?.. oh ayolah! Aku tadi pagi tidak berniat mengejekkmu berwajah anak-anak hyung, aku hanya-" Oh Sehun kau melakukannya lagi.

"OH SEHUN! Aku membencimu! Kau mengatakannya lebih dari satu kali hari ini!" selesai dalam satu tarikan nafas, lalu berjalan secepat mungkin menuju mobil didepannya.

"Hanya berniat memuji wajahmu hyung...huh? tapi wajahnya sangat manis saat marah. Oke, Oh Sehun Fighting! Kau bisa! ahahha".

-o0o-

"sstt.. Xiumin hyung. Boss mau kemana?" bisik Tao saat Kris-atasannya-baru saja melintasi Xiumin dan Tao yang sedang membersihkan debu di tumpukan lukisan dari gudang.

"ehm.. Bos? Saat mengantar minumannya tadi, aku sempat mendengar dia bicara dengan seseorang yang akan diantarnya ke dokter. Mungkin kekasihnya, dari cara Bos bicara kelihatannya dia sangat perhatian Tao-ah.."

"O-ohh.. Bos sudah punya kekasih ternyata.." lirih Tao.

"Kajja Tao! Sebentar lagi lukisan-lukisan ini diambil!"

-o0o-

Membelai lembut daun-daun kering, seulas angin malam berlalu. Diantara gang sempit nan gelap, Tao melangkah. Menghiraukan sapaan sang bintang di ujung bumi. Mencampakan senyuman bulan yang merekah diantara kerlip bisu bintang.

Mempererat hoodienya, sambil sesekali meniup jari-jarinya yang terasa membeku. Dinginnya malam seolah meremehkan tubuh ringkihnya. Manik kelamnya mengedip indah. Senyum manis terukir kala rumah mungil yang Tao tinggali bersama Sehun tepat didepannya. Rumah sewa yang dulunya gudang ini cukup untuk berlindung dari sergapan angin malam yang menusuk tulang. Rumah kecil nan pengap yang dibayar dengan tetesan keringat berupa lembaran uang. Lampu menyala itu berarti Sehun sudah pulang, langkah kakinya makin lebar. Setelah itu terdengar suara gelak tawa dari dalam.

-o0o-

Masih disini. 2 jam berlalu. Angin malam seolah bersaksi diantara kedipan bintang. Membelai lembut 2 tubuh disana. Sungai Han memang mempesona saat malam hari. Riak air itu memantulkan sejuta warna lampu dari jalanan kota.

"Lay.. ayo pulang. Kita sudah lama disini". Suara baritone khas seorang Wu.

"berjanjilah kau tidak akan pergi dariku.. apa susahnya? Bukankah kita sudah lama begini? Dulu.. dulu sekali kau selalu mengatakan akan menjagaku selamanya. Tapi... akhir-akhir ini kau sepertinya bosan padaku? Begitukah?" menatap kosong Sungai Han tanpa mengalihkan perhatiannya pada sosok pirang disampingnya.

"..."

"Kris.. kau tau? Saat kau kembali ke Amerika 1 tahun yang lalu, aku berdoa agar kau selalu mengingatku dan tidak berpaling pada orang lain disana. Dan saat itu aku justru koma dirumah sakit. Ketika aku membuka mata, kau orang pertama yang kulihat. Dan saat itu kau berubah cuek dan dingin padaku. Apa kau bosan pada-hiks-ku? Hiks.. Jawab hiks.. aku Kris!" mencair sudah bongkahan es di pelupuk mata karamel itu. Menatap nyalang namja pirang didepannya.

GREB

"Lay! Kumohon jangan menangis.. Maaf-maafkan aku! Aku tidak pernah bosan padamu.. percayalah! Aku hanya sedang banyak masalah akhir-akhir ini. Kau taukan, ayah memaksaku masuk perusahaannya. Jujur aku masih belum siap Lay!" angin malam mendeteksi kalimat dusta dari ucapan barusan.

TBC

Gimana? Gaje? Makin mengecewakan?

Mianhe jeongmal mianhe. Author newbie ini masih butuh banyak saran dari author-author hebat disini^^,

Sedih banget rasanya yang ngereview turun drastis T_T. Dan dari jumlah views yang lumayan tinggi, yang review cuma sedikit :(

Tapi saya tetep seneng masih ada yang mau ngereview Fic ABAL ini dan ini balasannya

ajib4ff gomawo udah review^^

Shin Zi Tao gomawo udah review^^

Jin Ki Tao buat jawaban pertanyaan kamu silahkan ikuti Fic gaje ini aja ya ^^ *modus. Gomawo udah review :D

Sider Tobat salam kenal juga :). Iya ini Fic Taoris. Gomawo udah review^^

My Jonggie gomawo udah review^^

So.. jangan pelit buat review ya^^